Anda di halaman 1dari 9

Eksisi Kapsul Tenon Pada Trabekulektomi Pediatrik

Sebuah Studi Kontrol


Tujuan

: Untuk membandingkan hasil dari trabekulektomi sendiri dan kombinasi

dengan tenonektomi parsial pada pasien glaukoma anak-anak.


Metode

: Ini adalah sebuah studi kohort, kontrol, prospektif, meliputi 64 mata dari 46

anak-anak yang berusia dibawah 12 tahun dengan glaukoma yang tidak terkontrol, yang
menjalani trabekulektomi dengan mitomicyn C dalam sebuah latar institusi. Pasien diacak
untuk menjalani trabekulektomi baik dengan (Kelompok A) atau tanpa tenonektomi
(Kelompok B). Anak-anak diikuti secara prospektif selama 24 bulan. Analisis survival
Kaplan-Meier dan mean survival times dengan interval kepercayaan 95 % (CIs) dihitung.
Hasil paska operasi dibandingkan pada bulan ke 3,6,12 24 selama pengamatan. Hasil
pengukuran utama adalah : tekanan intraokular (IOP), keberhasilan operasi, intervensi paska
operasi dan komplikasi pada kedua kelompok.
Hasil

: Rata-rata tekanan intraokular paska operasi adalah lebih rendah pada

kelompok A pada semua kunjungan paska operasi (19.2mm Hg dalam kelompok A vs.
22.1mm Hg dalam kelompok Bpada 24 mo, P=0.05). Terdapat kecenderungan ke arah yang
lebih besar terhadap penggunaan obat glaukoma pada kelompok B (P<0.001). Probabilitas
kumulatif dari survivalpada24 bulan adalah 70%(Interval Kepercayaan 95%, 48%-86%)
untuk kelompok A, dan 45% (Interval Kepercayaan 95%, 28%-63%) untuk kelompok
B(P=0.09).Mean survival time secara signifikan lebih lama (P=0.04) pada kelompok A (16.6
mo) dibandingkan pada kelompok B (11.6 mo). Enkapsulasi muncul lebih sering (P=0.03)
pada kelompok B (25%) dibandingkan pada kelompok A (3%).
Kesimpulan : Eksisi dari kapsul tenon dapat membantu mendapatkan kontrol tekanan
intraokular yang lebih baik pada operasi glaukoma anak-anak.
Pada anak-anak dengan glaukoma yang telah gagal dilakukan goniotomi atau
trabekulektomi atau pada mereka

dengan angle operation yang tidak mungkin untuk

berhasil, prosedur pilihan selanjutnya biasanya adalah trabekoloktomi atau valve surgery.
Filtering Surgery pada anak-anak memiliki tantangan tertentu dan telah terbukti kurang
sukses dibandingkan pada orang dewasa. Ini telah banyak dikaitkan dengan respon
penyembuhan yang kuat pada mata anak-anak.

Fibroblas dalam kapsul tenon telah terlibat sebagai penyebab langsung dari
fibrosis paska operasi yang mengikuti trabekoloktomi, dan modulasi penyembuhan luka
melalui pengurangan jumlah fibroblas dan aktivitas mereka telah menjadi target dari banyak
studi. Tenonektomi, baik parsial atau komplit, dapat membantu meenurunkan fibrosis dan
enkapsulasi bleb dan membantu meningkatkan keberhasilan. Eksisi pada kapsusl tenon telah
dijelaskan sebagai sebuah tambahan pada trabekulektomi dalam beberapa studi, khususnya di
Afrika, dan telah menunjukkan peningkatan hasil dalam kasus tersebut. Namun, manfaat
yang potensial dan kemungkinan komplikasi untuk eksisi pada kapsul tenon pada operasi
glaukoma anak-anak masih belum jelas.
Pada studi ini, kami secara prospektif membandingkan hasil trabekulektomi
sendiri dan yang dikombinasikan dengan tenonektomi parsial pada pasien glaukoma anakanak.
Pasien dan Metode
Studi ini telah disetuji oleh Komite Etik Penelitian Universitas Kairo dan
mengikuti prinsip-prinsip Deklarasi dari Helsinki. Penelitian Institusi Intervensi Prospektif
dilakukan pada anak-anak yang berusia dibawah 12 tahun dengan glaukoma yang tidak
terkontrol yang membutuhkan trabekulektomi. Kriteria eksklusi adalah mata yang
membutuhkan kombinasi prosedur atau mata yang telah dilakukan trabekulektomi
sebelumnya.
Perhitungan Besar Sampel
Estimasi ukuran sampel dilakukan mengingat kekuatan studi minimal 0.8
dengan eror 0.05 bertujuan untuk mendeteksi perbedaan 4 mm Hg dalam rata-rata tekanan
intraokular pada bulan ke 24 paska operasi diantara 2 kelompok, dengan asumsi SD 5mm Hg.
Pada dasar estimasi ini, total 52 mata ditemukan tidak adekuat dan dipertimbangkan total 20
% keluar selama pengamatan, ditargetkan pengambilan minimal 62 subyek penelitian.
Data pre operasi dan paska operasi meliputi jenis glaukoma, riwayat operasi
sebelumnya, jumlah pengobatan glaukoma, pengukuran tekanan intraokular dengan
tenometer Perkins, ketajaman pengelihatan yang tidak dapat dikoreksi atau koreksi
terbaiknya jika mungkin, diameter kornea, slit lamp, dan pemeriksaan fundus. Ultrasonografi
okular dilakukan jika dibutuhkan. Pada anak yang lebih muda dimana pemeriksaan sulit
dilakukan, tekanan intraokular diukur selama sedasi hidrat (50 mg/kg diberikan per oral).
Sebuah surat persetujuan diperoleh dari orang tua pasien. Pada mereka dengan
unilateral glaukoma, pasien diacak untuk menjalani trabelukoltomi baik dengan (kelompok
A) atau tanpa (kelompok B) tennnektomi menggunakan tabel acak. Pada meraka dengan

bilateral glaukoma, sebuah desain penelitian mata-berpasangan digunakan sehingga 1 mata


selalu dilakukan tenonektomi, dimama mata yang lain mendapat trabekulektomi tanpa
tenonektomi. Keputusan tentang mata mana yang menjalani tenonektomi ditentukan
menggunakan tabel acak.
Tekhnik Operasi
Semua operasi dilakukan oleh 1 dari 2 dokter bedah (A.A atau Y.M.E.S). Sebuah
jahitan traksi kornea superior ditempatkan menggunakan poliglaktin 7/0 atau 8/0 (Vicryl:
Ethicon, Somerville, NJ). Sebuah fornix-based flapdari konjungtiva dan kapsul tenon
dibentuk dan diseksi diperluas sejauh mungkin ke arah posterior. Hemostasis dipertahankan
menggunakan diathermy terbatas. Spon sellulos yang di celupkan dalam mitoycin-C
diaplikasikan pada sklera, disebarkan luar dibawah area diseksi dari konjungtiva. MitomycinC digunakan pada konsentrasi 0.4 mg.ml untuk durasi 3 menit, kemudian spon dihilangkan
dan area secara berulang-ulang diirigasi dengan solusi saline yang seimbang. A

rectangular,

half to threequarterthickness scleral flap was fashioned and dissectedinto clear cornea
using a crescent blade.Dua

jahitan nilon 10/0 yang akan ditempatkan dibentuk pada sudut

dari flap. Parasintesis temporal dilakukan. Ostium trabekulektomi internal dihilangkan


menggunakan Kelly punch 1mm (Katena Products Inc., Denville, NJ) diikuti dengan
iridektomi perifer. Jahitan yang akan ditempatkan kemudian diikat dan 1 atau 2 jahitan
ditambahkan untuk menutup flap sklera. Pada kelompok tenonektomi, tenonektomi parsial
dilakukan sebelum penutupan konjungtiva. Tenon yang terpotong dihilangkan dari area yang
mendasari flap sklera dan bleb yang diharapkan, menggunakan gunting untuk daerah yang
mendekati ukuran ganda dari flap sklera ( diameter sekitar 8mm ). Kapsul tenon diambil dari
bawah permukaan konjungtiva menggunakan forsep, ditarik ketengah dan secara lembut
dipotong dari atas konjungtiva menggunakan gunting untuk meninggalkan konjungtiva
setipis mungkin, tetapi tanpa menyebabkan lubang pada konjungtiba. Pada kedua kelompok,
konjungtiba ditutup dengan dua jahitan purse stringpada bagian samping dan 1 atau 2 jahitan
matras pada limbus menggunakan nilon 10/0.
Rejimen paska operasi meliputi antibiotik tetes (Tobramisin) yang diaplikasikan 4
sampai 6 kali sehari untuk satu bulan, dan steroid tetes (prednisolon 1%) yang diberikan
setiap 2 jam untuk 3 sampai 4 minggu pertama, dan kemudian diturunkan bertahap selama 3
bulan. Pengobatan antiglaukoma ditambahkan pada resep untuk pasien dengan tekanan
intraokular > 21 mmHg atau pada mereka dengan tanda-tanda glaukoma yang progresi
( peningkatan diameter atau cup sampaidisc ratio). B-Blocker topikal awalnya diresepkan. Ini
telah digantikan dengan kombinasi pasti dari b-blocker dan penghambat anhidrase karbonik

(dorzolamide 2% dan timolol 0.5%) jika penurunan tekanan intraokular cukup. Jika
penurunan tekanan intraokular tidak terpenuhi dengan kombinasi ini, sebuah analog
prostaglandin topikal ditambahkan. Pasien di amati secara umum pada hari ke 1, setiap
minggu pada satu bulan, setiap bulan pada 6 bulan dan kemudian setiap 3 bula. Kunjungan
yang lebih sering dibutuhkan dalam kasus dengan komplikasi atau kontol tekanan intraokular
yang tidak adekuat.
Sebuah encysted bleb didefinisikan sebagai perkembangan dari sebuah elevasi,
regangan dan penebalan dome-shapeddari bleb diatasnya pada trabekulektomi. Mata yang
mengembangkan sebuah encysted bleb, mengakibatkan peningkatan tekanan intraokular
dalam 2 bulan pertama setelah operasi dan membutuhkan sebuah jahitan pada bleb dengan
injeksi 5-fluourasil (5F-FU). Perbaikan dari blep dilakukan dibawah anestesi umu.
Konjungtiva yang mengelilingi bleb dielevasi dengan lidokain 1% berisi 1:100.000 epinefrin
untuk hemostasis, diinjeksi memalui jarum 30G dimasukkan dalam konjungtiva 12 sampai 15
mm dari bleb. 5-FU (0.1 ml dari 59 mg/ml) diinjeksikan subkonjungtiva pada kuadran
superior sekitar 10mm dari limbus. Jahitan dilakukan dengan memasukkan sebuah jaruh 25G
pada lokasi yang sama dan kemudian lewat melalui kasul fibrous dari bleb. Jarum
dipindahkan kebelakang dan kedepan memotong jaringan luka subkonjungtiva dalam area
bleb. Jarum kemudian melewati bleb, menginsisi dinding yang berlawanan dan diluaskan ke
arah superior untuk membuka bleb superior menuju ke area subkonjungtiva. Jahitan
dilanjutkan sampai globe teraba halus pada palpasi digital dan/atau bleb mulai meningkat
apada daerah permukaan atau jika perdarahan subkonjungtiva muncul pada area bleb. Pada
kasus fibrosis subskleral, jarum bevel digunakan untuk mengelevasi flap sklera.
Keberhasilan komplit didefinisikan sebagai tekanan intraokular 5 sampai 21 mmHg
pada kunjungan pengamatan terakhir dengan tidak adanya tanda-tanda progresi glaukoma
( peningkatan diameter kornea, panjang aksis, atau cup sampai disc ratio ). Penggunaan obat
glaukoma atau penjahitan bleb dianggap sebagai sukses jika mencapai tekanan tersebut dan
dianggap gagal jika tekanan tersebut tidak dicapai, meskipun pengobatan medis ditoleransi
maksimum, atau jika prosedur glaukoma berikutnya diperlukan untuk mengontrol tekanan
intraokular, atau jika sebuah komplikasi yang membahayakan terjadi ( misalnya, ablasi retina
atau endoftalmitis atau perdarahan suprakoroidal ). Pada pasien yang membutuhkan prosedur
glaukoma yang lain, kunjungan pengamatan terakhir dipertimbangkan menjadi keputusan
sebelum operasi glaukoma berikutnya.
Populasi Pasien

Total 64 mata dari 45 pasien dimasukkan dalam penelitian ini (Tabel 1). Sebagian dari
mereka, 18 pasien menjalani operasi bilateral ( dengan tenonektomi pada satu mata dan tanpa
tenonektomi pada mata yang lain ). Sisanya 28 pasien menjalani operasi glaukoma hanya
pada satu mata.
Analisis Statistik
Analisis statistic dilakukan dengan SPSS untuk Windows versi 15 0.1 SPSS Inc.,
Chicago III, IL). Data demografis dan data pre operasi untuk kedua kelompok dianalisis
dengan tes t independen atau tes Fisher. Tekanan intraokular yang membandingkan dua
kelompok dianalisis dengan tes t independen. Tingkat kesuksesan operasi, intervensi paska
operasi dan komplikasi paska operasi dianalisis dengan tes Fisher. Analisis survival KaplanMeier untuk keberhasilan ( komplit dan terkualifikasi ) dihitung dengan tes log-rank. Mean
survival times

dengan interval kepercayaan 95% dilaporkan. Analisis univariat dan

multivariat dilakukan untuk mendeteksi faktor resiko untuk kegagalan. Hasil paska operasi
dibandingkan pada bulan ke 3, 6, 12 dan 24 kunjungan.
Hasil
Rata-rata usia pada pasien adalah 11.1 12.2 bulan ( berkisar, 4 sampai 49 bulan ).
Pada pasien, 20 adalah perempuan ( 43%). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara
statistic antara dua kelompok sehubungan dengan usia (P=0,87) atau glaukoma sebelum
operasi (P=0.98)/
Penurunan Tekanan Intraokular
Terdapat penurunan yang signifikan secara statistik pada tekanan intraokular setelah
trabekulektomi dalam dua kelompok tersebut (P<0.001) . Rata-rata tekanan intraokular paska
operasi adalah lebih rendah pada semua kunjungan paska operasi pada mereka yang
menjalani tenonektomi (Tabel 2). Perbedaan mulai menjadi signifikan secara statistik setelah
1 bulan (P=0.005) dan tetap signifikan secara statistik sampai akhir tahun kedua (P=0.005).
Terapi Medis
Jumlah obat glaukoma tidak berkurang signifikan secara statistik pada kedua
kelompok selama pengamatan. Pasien yang menjalani operasi glaukoma tambahan
dieksklusikan dari analisis setelah waktu operasi ulang. Rata-rata jumlah obat glaukoma
menurun dari 2.50.5 pada awalnya menjadi 1.41.1 pada kunjungan pengamatan dua tahun
(P<0/001) dalam kelompok A, dan dari 2.60.5 pada awalnya menjadi 1.80.9 pada
kunjungan pengamatan dua tahun dalam kelompok B. Terdapat kecenderungan penggunaan
terapi medis glaukom yang lebih besae pada kelompok B dibandingkan dengan kelompok A

(Tabel 2) yang mulai signifikan secara statistic setelah 3 bulan (P<0.001), dan tetapi
signifikan secara statistic sampai akhir tahun kedua (P<0.001).
Kegagalan Pengobatan
Jumlah pasien yang memenuhi kriteria keberhasilan penuh atau keberhasilan
terkualifikasi lebih tinggi pada kelompok A dibandingkan pada kelompok B selama periode
pengamatan. Bagaimanapun, perbedaan tetap tidak signifikan secara statistik sampai akhir
tahun kedua untuk keduanya baik yang dengan keberhasilan penuh (P=0.76) dan keberhasilan
terkualifikasi (P=0.07). Pada akhir tahun kedua, kegagalan pengobatan muncul pada 9 dari 30
pasien (30%) pada kelompok A dan 16 dari 29 pasien (55%) pada kelompok B (Tabel 3).
Perbedaan pada tingkat kegagalan pada tahun ke 1 diantara 2 kelompok pengobatan secara
statistik tidak signifikan (P=0.07).
Analisis Kaplan-Meier dilakukan untuk membandingkan survival rates

pada 2

kelompok pengobatan (Gambar 1). Probabiliti kumulatif dari survival adalah 71% pada akhir
tahun pertama (Interval kepercayaan 95%, 50-84%) dan 70% pada akhir tahun kedua
9Interval kepercayaan 95%, 48%-86%) untuk kelompok A, dan 52% pada akhir tahun
pertama ( Intervak Kepercayaan 95%, 30%-64%) dan 45% pada akhir tahun keda (Interval
kepercayaan 95%, 28%-63%) untuk kelompok B. Perbedaan tidak signifikan secara statistic
(P=0.09). Mean survival time secara signifkan memanjang (P=0.04) pada kelompok A (16.6
bulan; Interval Kepercayaan 95%, 13.2-20.2 bulan) dibandingkan pada kelompok B ( 11.6
bulan; Interval Kepercayaan 95%, 7.7-15.6 bulan ).
Analsisis univariat dan multivariat dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan
prediktor kegagalan pengobatan. Dalam analisis univariat, tanpa tenonektomi, sebuah nilai
dasar tekanan intraokular yang lebih tinggi dan >2 operasi glaukoma sebelumnya merupakan
prediktor untuk kegagalan pengobatan. Dalam analisis multivariat, hanya jumlah operasi
glaukoma sebelumnya yang lebih banyak yang tetap menjadi prediktor untuk kegagalan
pengobatan.
Operasi Ulang Untuk Glaukoma
Karena dokter bedah tidak terlatih terhadap tugas pengobatan, sebuah bias potensial
terdapat dalam keputusan untuk operasi ulang untuk kontrol tekanan intraokular. Oleh karena
itu, diputuskan bahwa semua pasien dengan kegagalan penuh terhadap kontrol tekanan
intraokular diobati dengan baik implantasi katup glaukoma atau siklophotokoagulasi laser
diode untuk meminimalkan bias pada seleksi. Untuk mengevaluasi bias paska operasi ulang.
tingkat tekanan intraokular sebelum operasi ulang dibandingkan antara kedua kelompok
pengobatan. Rata-rata tekanan intraokular sebelum operasi ulang adalah 27.14.9mm Hg

pada kelompok A dan 28.24.6 pada kelompok B. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan
antara kedua kelompok (P=0.61).
Morfologi Bleb dan Komplikasi Paska Operasi
Komplikasi paska operasi tercantum pada Tabel 4. Kejadian enkapsulasi lebih tinggi
pada kelompok B ( 8 pasien, 25%) dibandingkan pada kelompok A 91 pasien,3%)/ Terdapat
perbedaan yang signifikan secara statistic (P=0.03) . Selain itu, bleb cenderung memiliki
dinding yang lebih tipis pada kelompok A. Tidak terdapat perbedaan penting lainnya dalam
morfologi bleb antara kedua kelompok.
Insiden dari pendangkalan chamber anterior dan efusi koroid sedikit lebih tinggi pada
kelompok A ( masing-masing 22% dan 16%). Perbedaan secara statistik tidak signifikan
(masing-masing P=0.75 dan 0.70). Semua kasus pendangkalan chamber anterior disebabkan
oleh bleb yang lebih tipis. Tidak ada pasien yang berkembang menjadi kebocoran bleb pada
kedua kelompok. Perbedaan pada tingkat komplikasi yang lain diantara kedua kelompok
tidak signifikan secara statistik.
Intervensi Paska Operasi
Jumlah dan frekuensi pasien yang membutuhkan intervensi paska operasi selama
periode pengamatan tercantum dalam tabel 4. Intervensi yang paling umum dilakukan adalah
reformaso chamber anterior untuk hipotoni dan penjahitan dan injeksi 5-FU untuk
enkapsulasi bleb. Jumlah pasien yang membutuhkan penjahitan untuk enkapsulasi bleb lebih
tinggi pada kelompok B dibandingkan kelompok A (P=0.03) (Gambar 2).
Diskusi
Keberhasilan dari trabekulektomi bleb sebagian besar tergantung pada respon
penyembuhan alami paska operasi yang muncul pada jaringan subkonjungtiva. Human Tenon
Fibroblast menjalani sebuah kaskade selular dan kejadian biokemikal meliputi aktivasi,
migrasi dan proliferasi sel ini, bersamaan dengan pengendapan matriks ektraselular baru dan
pembentukan bekas luka. Respon penyembuhan ini mungkin lebih agresif pada anak-anak
dan dewasa muda.
Hasil bedah trabekulektomi pada kelompok usia anak-anak sering mengecewakan.
Trabekulektomi sering dikaitkan dengan kegagalan dini atau terlambat. Kegagalan dini sering
disebabkan oleh enkapsulasi atau jaringan parut yang progresif pada bleb. Sebuah
encapsulated filtering bleb sering muncul pada minggu ke dua atau keempat paska operasi.,
muncul sebagai elevasi seperti kubah pada bleb yang berdinding terpisah dari jaringan
konjungtiva. Kejadiannya mungkin setinggi 9% sampai 15% setelah trabekulektomi dan
mungkin dapat lebih tinggi pada proses penyembuhan luka. Bleb tetap vascular dan sebara

bertahap menebal dan tekanan perlahan meningkat. Penggunaan antimetabolit dipercaya


berguna untuk menurunkan frekuensi pembentukan luka pada bleb. Jika bleb terus
membentuk luka atau enkapsulasi sehingga terdapat hilangnya control tekanan intraokular
secara bertahap, meskipun terapi medis, manipulasi jahitan, dan/atau revisi dari bleb mungkin
diperlukan.
Pada anak-anak, kapsul tenon lebih tebal daripada orang dewasa dan terbentuk secara
baik. Ini bercampur dengan sclera pada garis Chen yang terletak sekitar 1.5mm posterior
terhadap limbus. Aktivasi dari fibroblast kapsul tenon dalam pembentukan sebuah kapsul
fibrous dan enkapsulasi dari bleb atau pembentukan luka yang progresif dari bleb yang tipis.
Dengan eksisi dari kapsul tenon, menurut teori dapat menurunkan aktivitas fibroblast dalam
bleb setidaknya pada periode dini paska operasi. Selain itu, eksisi dari kapsul tenon
menurunkan pertahaan untuk aqueous untuk mencapai ruang subkonjungtiva dan pembuluh
darah konjungtiva.
Eksisi kapsul tenon, bagaimanapun, dapat mengurangi ketebalan dinding bleb dan
dapat meningkatkan kemungkinan trauma dan infeksi pada bleb, terutama ketika operasi
dikombinasikan dengan anti metabolit. Namun, dalam penelitian ini, tidak ada pasien yang
menjalani pembedahan eksisi dari bleb yang mengalami komplikasi tersebut.
Pada studi prospektif kami, sebuah desain studi mata-berpasangan digunakan untuk
anak-anak dengan glaukoma bilateral. Jadi 1 mata selalu menjalani tenonektomi sedangkan
mata yang lainnya selalu menjalani trabekulektomi tanpa tenonektomi. Desain seperti itu
memungkinkan evaluasi statistik yang lebih baik, karena setiap pasien berfungsi sebagai
kontrol dirinya sendiri dan mengurangi variabilitas antar individu.
Kebanyakan pasien kami membutuhkan obat antiglaukoma Z1 pada akhir periode
studi untuk mengontrol tekanan mereka, sehingga tingkat keberhasilan lengkap turun ke 27%
pada tahun kedua dalam kelompok A dan 21% dalam kelompok B. Temuan tersebut
menunjukkan., walapun tekanan pada glaukoma anak-anak awalnya dapat dikontrol denga
trabekulektomi sendiri, terapi medis atau bedah lebih lanjut mungkin akhirnya diperlukan
untuk sebagian besar pasien pada jangka yang panjang. Namun, mata yang menjalani
tenonektomi membutuhkan rata-rata jumlah obat yang lebih sedikit pada semua kunjungan
paska operasi serta menunjukkan mean survival time

yang lebih panjang dibandingkan

dengan mereka yang tidak menjalani tenonektomi.


Penelitian ini menunjukkan bahwa eksisi dari kapsul tenon selama trabekulektomi
dapat membantu mencapai control tekanan intraokular yang lebih baik pada kelompok usia

anak-anak dan menurunkan jumlah pengobatan glaukoma yang dibutuhkan. Selain itu, ini
menurunkan kejadian enkapsulasi pada bleb dan jumlah intervensi paska operasi.
Meskipun jumlah pasien dengan kegagalan pengobatan lebih rendah dalam kelompok
A pada semua periode pengamatan (30% dalam kelompok A vs 55% dalam kelompok B pada
akhir tahun kedua ), perbedaannya secara statistik tidak signifikan (P=0.07). Meskipun desain
penelitian telah cukup kuat untuk mendeteksi perbedaan 4mm Hg pada rata-rata tekanan
intraokular 24 bulan paska operasi antara dua kelompok (kekuatan=0.883), ini tidak cukup
kuat (kekuatan=0.422) untuk mendeteksi 25% perbedaan pada tingkat keberhasilan antara
kedua kelompok. Untuk mendeteksi perbedaan seperti itu pertimbangkan kekuatan studi
setidaknya 0.8 dengan sebuah eror 0.05, jumlah 68 pasien yang dibutuhkan dalam setiap
kelompok penelitian untuk direktut. Karena ini adalah studi pendahuluan dengan data tingkat
keberhasilan yang diharapkan tidak tersedia dalam literature pada setiap kelompok, ini tidak
mungkin bagi kami untuk menentukan hal tersebut sebelum merekrut pasien.
Meskipun kami memasukkan pasien dengan penyebab glaukoma pediatrik yang
berbeda, jumlah pasien dengan glaukoma pediatrik yang disebabkan selain karena kongenital
dan aphakik, jumlah tersebut masih terlalu kecil untuk memungkinkan analisis statistik yang
memadai. Selain itu, masa pengamatan 2 tahun dianggap sebagai periode yang pendek pada
pasien dengan penyakit seumur hidup seperti pada glaukoma pediatrik ini; sebuah
pengamatan yang lebih panjang dibutuhkan untuk meperoleh hasil jangka panjang yang dapat
dipercaya.