Anda di halaman 1dari 14

LABORATORIUM PERENCANAAN DAN

SIMULASI TAMBANG
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN
No. Tugas : 2A

LAPORAN AWAL
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TAMBANG
Nama

: Titoe Dhoni Valent

NPM

: 10070113070

Shift/Waktu

: IV (Empat)/18.00 21.00

WIB
Hari/Tanggal Praktikum

: Jumat/7 Oktober 2016

Hari/Tanggal Laporan : Jumat/7 Oktober 2016


Asisten

: 1. Ir. Yuliadi, M.T


2. Muhammad Atik Bawazier
3. Dicky Boyan Permana
4. Norman Adi Pamungkas
5. Rendy Saputera K
6. Ridho Qurniawan
7. Shendy Bayu W

Paraf Pemeriksa

Nilai

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS1 TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1437 H/2016 M

KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan
rahmat dan karunianya, sehingga laporan awal mengenai Perencanaan dan
Perancangan Tambang ini selesai dibuat.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada orang tua kami yang telah
memberikan dukungan baik dari segi moril maupun materil, serta kepada temanteman seangkatan yang telah memberikan penjelasannya dan semua pihak yang
telah membantu pengerjaan laporan ini secara langsung maupun tidak langsung.
Laporan awal ini masih jauh dari kata sempurna. Maka penulis memohon
maaf serta meminta kritik dan sarannya untuk memperbaiki tugas ini. Semoga
laporan awal ini berguna khususnya untuk saya selaku penulis dan umumnya
bagi masyarakat mahasiswa program studi teknik pertambangan Universitas
Islam Bandung.

Bandung,

Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
1.1
1.2

Latar Belakang.............................................................................................
Maksud dan Tujuan......................................................................................
1.2.1 Maksud...............................................................................................
1.2.2 Tujuan.................................................................................................

BAB II LANDASAN TEORI......................................................................................


2.1
2.2

Definisi Perencanaan Tambang....................................................................


Definisi Perancangan Tambang....................................................................

BAB III KESIMPULAN..............................................................................................


DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah industri pertambangan dapat dibangun apabila perencanaan dan
perancangan tambang dilakukan secara benar dan sistematis. Perencanaan
desain tambang yang baik dapat menjadi nilai tambah dalam memproduksi
bahan galian yang hendak ditambang. Dengan mempertimbangkan beberapa
aspek seperti faktor geologi, teknis, sosial, ekonomi, budaya, politik, teknologi
dan lingkungan, seorang perencana desain tambang dapat merancang desain
tambang yang efektif dan efisien.
Beberapa aspek di atas merupakan aspek-aspek yang mempengaruhi
desain tambang yang hendak dirancang. Aspek-aspek tersebut di dapat oleh
seorang mine panjer dalam bentuk data-data. Oleh karena itu, dibutuhkan
pengenalan data-data yang dapat membantu dan memudahkan perencanaan
dan perancangan desain tambang yang efektif dan efisien.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1

Maksud
Maksud dari dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengenal data-data

pendukung dalam merencanakan suatu tambang.


1.2.2

Tujuan

Dapat mengetahui definisi perencanaan tambang.

Dapat mengetahui definisi perancangan tambang.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Perencanaan Tambang


Perencanaan tambang merupakan sebuah kegiatan merencanakan
pembangunan industri pertambangan berdasarkan urutan pelaksanaan kegiatan
yang sistematis dengan dukungan data-data yang valid untuk untuk mencapai
tujuan industri pertambangan yang menguntungkan. Perencanaan tambang yang
efektif dan efisien akan menguntungkan bagi industri pertambangan. Keuntungan
tersebut di antaranya menghasilkan tonase komoditi tambang pada tingkat
produksi yang telah ditentukan oleh perencana tambang dengan biaya yang
seminimal mungkin. Selain itu, perencanaan tambang tidak hanya
merencanakan hal teknis, hal-hal non-teknis juga harus dipertimbangkan seperti
ekonomi, sosial budaya, politik dan lingkungan. Karena adanya sebuah industri
pertambangan akan berdampak pada daerah sekitarnya. Hal-hal tersebut apabila
tidak dapat ditangani maka akan berdampak pada kelangsungan industri
pertambangan tersebut.
Secara umum, perencanaan tambang memiliki tahapan-tahapan di
antaranya tahap persiapan penambangan, penambangan, serta pasca
penambangan. Dalam tahapan persiapan penambangan, perencanaan yang
disiapkan seperti permodelan geologi, permodelan pit, penambangan bertahap,
target produksi, perancangan jalan angkut, perancangan penimbunan waste/over
burden, perhitungan biaya, analisis dampak lingkungan, dan sebagainya
Dalam aplikasinya sendiri perencanaan memiliki beberapa fungsi. Fungsi
perencanaan itu sendiri tergantung dari perencanaan yang digunakan dalam
sasaran yang akan dituju. Adapun secara global fungsi perencanaan itu sendiri
adalah suatu alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian
tambang, penyusunan urutan kepentingan tujuan, usaha untuk mengurangi
ketidakpastian, pengarahan kegiatan karena adanya pedoman bagi pelaksanaan
kegiatan dalam pencapaian tujuan, cara penggunaan dan penempatan sumber

daya secara berdaya guna dan berdaya hasil, perkiraan terhadap masalah
pelaksanaan, kemampuan, hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.

Gambar 2.1
Bagan Perencanaan Tambang

Pada tahapan awal perencanaan, diperlukan data awal yang akurat agar
proses kedepannya dapat berjalan dengan baik. Pada tahapan ini terdapat
berbagai macam aspek yang telah dipertimbangkan berdasarkan keuntungan
dan kerugiannya. Dari beberapa faktor tersebut ada yang mudah diperoleh,
sedangkan beberapa faktor lain dapat diperoleh dengan melakukan studi
kelayakan terlebih dahulu. Berikut ini faktor-faktor tersebut, antara lain Berikut
data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan tambang, di antaranya:

Kondisi Topografi

Kondisi Iklim

Kondisi Geologi

Kondisi Air Tanah

Kondisi Vegetasi

Kondisi Ekonomi

Kondisi Sosial dan Hukum

Kondisi Akses Jalan

Ketersediaan Listrik

2.2 Definisi Perancangan Tambang


Perancangan tambang umumnya lebih ditujukan sebagai bagian dari
proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan berbagai masalah
geometrik. Di dalamnya termasuk perancangan batas akhir penambangan,
tahapan, urutan penambangan bulanan sampai dengan tahunan, penjadwalan
produksi dan waste dump dan bagaimana menentukan ultimate pit limit.
Secara umum rancangan tambang ialah penentuan kriteria teknik, dan
spesifikasi teknik rinci, yang akan digunakan dalam kegiatan penambangan
dalam rangka mecapai sasaran produksi yang telah direncanakan. Ada dua
tahap dalam perancangan tambang yang perlu dilaksanakan, seperti :
1

Rancangan konsep
Suatu rancangan awal yang perlu dilakukan dalam merancang tambang,

dimana rancangan ini didasarkan pada beberapa data secara umum, yang mana
data tersebut diambil dari beberapa hal penting saja, lalu kemudian di analisis
lebih lanjut untuk disesuaikan di lapangan.
1.

Rancangan rekayasa
Rancangan ini merupakan tahap rancangan lanjutan dari rancangan

konsep. Dasar dari rancangan ini ialah data yang diperoleh dari hasil uji
laboratorium dan data sesungguhnya di lapangan.
Perbedaan antara kedua rancangan tersebut ialah terletak pada
kegunaannya, dimana rancangan konsep biasa digunakan untuk urutan
pelaksanaan teknis hingga pada tahap studi kelayakan, sedangkan rancangan
rekayasa biasa digunakan untuk pedoman pelaksanaan di lapangan yang

meliputi penentuan batas pit, penentuan operasi penambangan, penjadwalan


produksi, hingga penentuan buangan tanah penutup, rancangan rekayasa ini
biasanya diperjelas dengan membagi kedalam beberapa periode waktu tertentu
seperti, rancangan harian, mingguan, hingga bulanan.

BAB III
KESIMPULAN

Perencanaan tambang merupakan sebuah kegiatan merencanakan


pembangunan industri pertambangan berdasarkan urutan pelaksanaan kegiatan
yang sistematis dengan dukungan data-data yang valid untuk untuk mencapai
tujuan industri pertambangan yang menguntungkan. Perencanaan tambang yang
efektif dan efisien akan menguntungkan bagi industri pertambangan. Keuntungan
tersebut di antaranya menghasilkan tonase komoditi tambang pada tingkat
produksi yang telah ditentukan oleh perencana tambang dengan biaya yang
seminimal mungkin.
Perancangan tambang umumnya lebih ditujukan sebagai bagian dari
proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan berbagai masalah
geometrik. Di dalamnya termasuk perancangan batas akhir penambangan,
tahapan, urutan penambangan bulanan sampai dengan tahunan, penjadwalan
produksi dan waste dump dan bagaimana menentukan ultimate pit limit

DAFTAR PUSTAKA

Aulizar, 2010, Mine Planning (Perencanaan Tambang). https://aulizar.


wordpress.com/2010/04/20/mine-plan/. Diakses pada tanggal 3 Oktober
2016
Ncenk, Mia. 2010. Konsep Dasar Perencanaan Tambang. http://mheeanck.blogspot.com/2010/04/konsep-dasar-perencanaan-tambang.html. Diakses pada tanggal 3 Oktober 2016.
Rachmat, 2013, Perencanaan Tambang (mine Plan) http://rachmatrisejet.blog
spot.co.id/2013/09/perencanaan-tambang-mine-plan.html. Diakses pada
tanggal 3 Oktober 2016.

LAMPIRAN

TUGAS AWAL

Berikut data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan tambang, di


antaranya:
1

Kondisi Topografi
Data kondisi topografi dapat mempengaruhi perancangan wilayah tambang

seperti menentukan lokasi infrastruktur, lokasi kantor, lokasi pengolahan, lokasi


land clearing yang seluruhnya membutuhkan kondisi topografi yang relatif tidak
curam/landai
1. Kondisi Iklim
Data kondisi iklim seperti suhu, kelembaban udara dan curah hujan akan
mempengaruhi kelangsungan kegiatan penambangan. Suhu yang ekstrim serta
kelembaban udara akan mempengaruhi kinerja pekerja tambang serta alat
mekanis. Sedangkan curah hujan akan mempengaruhi banyak air yang
tertampung pada sump yang terdapat dalam suatu pit tambang
2. Kondisi Geologi
Data-data kondisi geologi merupakan data primer yang berhubungan
langsung dengan kondisi bahan galian yang hendak ditambang. Seperti kondisi
geologi batuan penutup pada batubara maupun kondisi geologi pada host rock
suatu bahan galian bijih. Data-data tersebut biasanya didapat dari data drill hole.
Yang didapat adalah data elevasi serta kadar bahan galian tersebut. Kondisi
Struktur geologi seperti arah dip lapisan batubara serta kekar yang terdapat pada
daerah tersebut juga dapat berpengaruh pada kemantapan lereng yang
dibangun.
Sifat fisik batuan-batuan yang terdapat pada daerah tersebut juga harus
diuji seperti berat jenis dan kekerasannya. Hal ini dapat mempengaruhi
pengupas tanah penutup apakah dapat langsung digali, digaru atau harus
diberaikan terlebih dahulu melalui kegiatan peledakan.
3. Kondisi Air Tanah
Kondisi air tanah yang terdapat pada daerah yang akan dibangun industri
pertambangan seperti apa. Apakah terdapat mata air, sungai ataupun danau.
Karena kondisi air ini akan mempengaruhi kegiatan penirisan sebelum pit

tambang dibangun. Banyaknya air yang berada di bawah permukaan tanah akan
mempengaruhi kemantapan lereng-lereng yang dibangun nantinya.
4. Kondisi Vegetasi
Kondisi vegetasi akan mempengaruhi kesulitan dalam kegiatan land
clearing dan kegiatan rehabilitasi tambang. Kegiatan land clearing membutuhkan
alat mekanis seperti dozer yang mampu memangkas vegetasi tergantung dari
besar atau kecilnya diameter pohon pada daerah tersebut. Pada tahap
rehabilitasi yang terdiri dari tahap reklamasi dan revegetasi juga akan
membutuhkan vegetasi asal suatu daerah tersebut. Untuk tahapan revegetasi,
kebanyakan kasus sering kali tanaman yang dapat ditanam di daerah tersebut
adalah tanaman asal atau tanaman yang dahulu dapat ditanam pada daerah
tersebut.
5. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi seperti ketersediaan industri yang sudah ada pada daerah
yang dipilih akan memudahkan pembuatan infrastruktur seperti jalan angkut.
Data mata pencaharian penduduk pada daerah tersebut juga akan
mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja, apakah daerah tersebut memiliki
angka pengangguran tinggi ataupun kondisi masyarakatnya yang pra sejahtera
dapat diberdayakan oleh adanya industri pertambangan. Daerah yang kurang
memiliki fasilitas sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan pemukiman layak huni,
hal tersebut juga dapat ditanggulangi oleh adanya industri pertambangan.
6. Kondisi Sosial dan Hukum
Kondisi hukum terkait undang-undang tentang usaha pertambangan yang
berlaku pada daerah tersebut juga mempengaruhi perencanaan tambang yang
hendak dilaksanakan. Sehingga para perencana tambang mau tidak mau harus
mengikuti hukum-hukum yang ada. Adanya hukum adat pada suatu daerah juga
dapat mengganggu rencana usaha tambang yang telah dibuat. Adanya hal ini
harus dilakukan pendekatan yang baik antara masyarakat pribumi dengan pihak
industri pertambangan sehingga menciptakan Win-win Solution bagi kedua belah
pihak.
7. Kondisi Akses Jalan
Kondisi akses jalan dan infrastruktur yang sudah ada dapat memudahkan
pengembangan wilayah industri pertambangan yang hendak dibangun.

Sebaliknya, apabila akses jalan dan infrastruktur pada daerah tersebut belum
ada, maka industri pertambangan harus membuatnya sendiri.
8. Ketersediaan Listrik
Ketersediaan listrik yang sudah ada pada daerah tersebut dapat
memudahkan pengembangan industri pertambangan. Sebaliknya, apabila belum
ada maka industri pertambangan harus membuat stasiun/trafo listrik sendiri.