Anda di halaman 1dari 4

GENERAL ANESTESIA PADA

OPERASI MATA :
I. Problem bagi Anestetist :
a. Peningkatan Tekanan Intra Okular
(TIO) harus dihindari, terutama pada
kasus trauma mata. Bola mata bersifat
lunak, oki TIO bisa rendah bila anterior chamber terbuka. TIO Normal :
15 21 mmHg. General Anestesi tidak menyebabkan peningkatan TIO.
Faktor-faktor yang menyebabkan TIO
meningkat :
- Batuk, tahanan pada ETT.
- Hipoksia
- Hipercarbia
- suxamethonium ( scholin )
- Atropin pada px. dengan Close Angle
Gloucoma, walaupun keadaan ini ja
rang menjadi masalah.
- Kegelisahan dan muntah post-op.
Faktor-faktor yang menyebabkan TIO
menurun :
- Hipocarbia.
- Hipotensi.
- Diamox ( Diuretic : Acetazolamide ), te
tapi dapat menyebabkan acidosis Meta
bolic dan hipokalemia sehingga resiko
untuk terjadinya aritmia meningkat.
- Manitol.
- Anestesi IV dan Analgetik.
- Relaksan non-depol.

untuk mendeteksi aritmia dan terapi sege


ra dengan SA sangat di perlukan.
Cardiac arrest pernah di laporkan.
Tabel : 38-3. The effect of anestetic
agents on Intraocular Pressure (IOP).
Drug
Effect on IOP
Inhaled anesthetics
Volatile agents

Nitrous oxide

------------------------------------------------Intravenous anesthetics
Barbiturates

Benzodiazepines

Ketamine
?
Narcotic

------------------------------------------------Muscle relaxants
Depolarizers (scholin)

Nondepolarizers
0/
Sumber : Morgan 2002.p.763
c. Kontrol Airway.
Gunakan tube dengan kemungkinan kink
paling kecil. Tube dihubungkan dengan
konector. Pharyngeal pack kadang-kadang
diperlukan pada operasi tertentu.
misal : Dacrocystorhynostomy.
d. Monitoring secara hati-hati sangat
diperlukan.

Lihat table : 34-3.

e. Proteksi terhadap mata yang sehat


sangat diperlukan. Gunakan ointment dan /
atau plester.

b. Oculocardiac reflex.
Yaitu Bradycardia yang disebabkan ok
tekanan atau tarikan pada bola mata,
khususnya tarikan pada musculus rectus
medial dan lateral. Monitor yg.adequate

f. Obat-obatan yg. sering digunakan :


1. Atropin.
Kadang-kadang menyebabkan peningkatan
TIO pada px. Dengan closed angle
gloucama. Closed angle glaucoma dapat

terjadi selama GA pada pasien glaucoma


yang tidak mendapat terapi. Anggap acute
gloucama bila di dapatkan mata merah,
pandangan berkurang dan nyeri, sampai
terbukti bukan acute glaucoma.
2. Suxamethonium.
Dapat menyebabkan peningkatan TIO 7 8
mmHg atau lebih, onsetnya 30 detik setelah
penyuntikan, durasinya biasanya bersamaan
dengan periodic apnea ( 6 menit.
Peningkatan TIO ini dapat di minimalkan
dengan :
a. Gunakan non-depol dosis kecil 3 5
menit sebelum pemberia scholin.
b. Diamox 500 mg sebelum induksi.
3. Relaxant non-depol, IV agent (misal :
Penthotal) dan agent inhalasi semuanya
menyebabkan penurunan TIO, kecuali
Ketamine.
4. Ketemine sedikit meningkatkan TIO.
5. Echothiopate Iodide ( Phopholine
Iodide ) merupakan suatu organoposphate
yang kadan-kadang di gunakan untuk terapi
Gloucoma. Scholin bila di gunakan pada
px. Ini harus diberikan dalam dosis yang
sangat kecil ok. dapat menyebabkan
prolonge apnea.
g. Problem medis yang berhubungan
dengan operasi mata.
1. Dystropia myotonica mungkin
bergabungan dengan Congenital cataract
2. DM dapat bergabungan dengan
Congenital cataracts.
3. MH dihubungkan dengan px. Dengan
kelainan otot, seperti squint / strabismus,
Dystropia myotonica, cataracts.

4. Px. Dengan exopthalmus yang


merupakan akibat sekunder dari
thyrotoxicosis dapat dilakukan Tarsorraphy.
5. Banyak pasien dengan status kesehatan
yang rendah, khususnya pada pasien
cataracts.
II. Management Anestesi.
Banyak operasi lebih aman dan efisien bila
di lakukan dengan Lokal Anestesia.
General Anestesia :
A. Pre-operatif Management :
- Assesment rutine dari B1 s/d B6.
- Jelaskan kemungkinan-kemungkinan
post-op.
- Premedikasi :
- Sedasi.
Diazepam tidak merubah TIO bila
diberikan peroral, tetapi bila diberi
IV dapat menyebabkan pe TIO.
- Anti-emetic ( Misal : Phenergan ),
untuk mengurangi mual/muntah post
operatif.
- Analgetik : Pethidine atau Morphine.
Opioid dapat menyebabkan penurunan sedang dari TIO
- Atropine : dapat diberikan IM 30 menit sebelum induksi atau IV menjelang induksi. SA menyebabkan dilata
si pupil terutama pada pemberian
topical.
B. Indiksi / Intubasi :
- Induksi :
Penthotal : 3 5 mg/kg/IV.
Penthotal dapat menyebabkan penuru
nan TIO sementara. Keadaan yang sa
ma juga didapatkan pada pemberian
obat IV anestesi lain kec. Ketamin.

Ketamine :
- Efek ketamin dalam meningkatkan
TIO masih controversial.
- Menyebabkan pe TIO pada anak.
- Peningkatan TIO mungkin disebabkan karena peningkatan systemic BP
dan kurang relaksasi dari otot extra
ocular.
- Intubasi :
- Hindari batuk dengan mendalamkan
anestesi dan pemberian relaxants.
- Spray cord dengan Lidocain 10 %.
- Gunakan long-acting relaxants nondepol.
- Pilih tube yang dapat mengurangi resiko obstrksi ( missal : oxford atau
armaured ).
3. Maintanance :
- Halothane, Enflurane, Isoflurane,
N2O, O2.
Hampir semua agent inhalasi menye
babkan penurunan TIO, kec. N2O.
Diethyl ether juga me kan TIO.
Halothane dan Enflurane menyebab
kan penurunan TIO dan berhubung
an dengan konsentrasi agents.
Halothane menyebabkan penurunan
TIO lebih besar. Keadaan ini mungkin karena obat-obat inhalasi menye
babkan relaksasi otot extraocular &
depresi ocular center di otak.
Bila menggunakan Ether + O2 + re
laksan : monitor secara hati-hati.
- Suplement :
Fentanyl, Pethidine, Morfin, Muscle
Relaksan.
Muscle relaksants :
Succinylcholine :
- Masih dalam penelitian.
- Menyebabkan peningkatan TIO se

gera setelah injeksi. Onset : 1 mnt


setelah injeksi, Peak : 2 4 menit
dan menurun setelah 6 menit.
Oki operasi bari dapat di mulai setelah 6 menit pemberian Scholin.
- Mekanisme di duga karena kontrak
tur dari otot extraocular.
- Walaupun masih controversial,
scholin lebih baik di hindari bila
peningkatan TIO tidak di inginkan
- Obat-obat non-depol hanya tubocura
rine yang menyebabkan penurunan
TIO secara signifikan. Sementara
obat-obat non-depol yang lain tidak
mempunyai efek yang signifikan ter
hadap TIO.
- 30 menit sebelum akhir operasi berikan :
- Metoclopramide 10 mg/IV (Dws)
- Droperidol 20 g/kg.
- Ondancetron pada px. dengan riwayat mual dan muntah (oleh kare
na mahal ).
- Cairan diberikan sesuai keperluan.
4. Post-Operatif :
- Extubasi dalam ( Moderately deep
level anesthesia ). K/p sebelum extu
basi berikan :
- Lidocain : 1,5 mg/kg/IV ( 12 mnt
sebelum extubasi ).
- Penthotal : 1 mg/kg/IV.
- Reversal : SA 1,25 mg dan Neostig
mine 2,5 mg ( Dewasa )
- Cegah kecemasan dan kegelisahan,
batuk, mual dan muntah.
- Scleral Bucling, enukleasi, rupture
repair, merupakan operasi dengan
nyeri kuat, oki narcotic small dose
dapat diberikan, missal : Pethidine
15 25 mg/IV pada px. dewasa.

II. Problem yang sering berhubungan


Dengan operasi mata :
1. Trauma tembus bola mata.
Problem utamanya pasien datang dengan
lambung penuh. Diperlukan crush
intubation dengan penekanan cricoid dan
pemberian Scholin. Bagaimanapun scholin
akan menaikkan TIO. Pertimbangan
pemberian scholin dan criciod pressure
disini adalah untuk lebih mengutamakan
keselamatan px. dari pada ketakutan
kehilangan funsi mata.
Tindakan pencegahan yang dapat
mengantisipasi peningkatan TIO :
a. Dahulukan pemberian scolin dosis
kecil, dan berikan secara pelan
( > 4 5 menit ).
b. Gunakan Diamox 3 5 mg/kg/IV sebe
lum pemberian scholin.
2. Strabismus atau Squint.
- Perhatikan Oculocardiac Reflex.
- Perhatikan tanda-tanda awal MH.
3. Pemeriksaan Ductus Naso-Lacrimal.
Pemeriksaan ini merupakan suatu prosedur
singkat. Dilakukan dengan menggunakan
masker Halothane dan N2O / O2. Ketamin
juga sering digunakan untuk prosedure ini.
4. Eksraksi Cataracts dapat dilakukan
dengan Local Anestesi.

Teknik Anestesi untuk mendapatkan


TIO rendah :
1. Smooth Induction.
2. Moderate hyperventilation.
3. Moderate hypotention.
4. Head up tilt : 15 20
5. Gunakan relaksan tubocurarine.
6. Agent inhalasi seperti : Halothane
dan Enflurane.
7. Gunakan osmotic agent seperti
Manitol atau Sucrosa.
8. Gunakan Carbonic anhydrase inhibitor ( Acetazolamide ), misal : Diamox.