Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN
A. Investasi
Investasi disebut juga dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal.
Dengan demikian investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pengeluaran
penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan
perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menembah kemampuan produksi barangbarang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Pertambahan jumlah barang
modal ini memungkinkan perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak barang dan
jasa di masa yang akan datang. Adakalanya penanaman modal dilakukan untuk
menggantikan barang-barang modal yang lamayang telah haus dan perlu didepresiasikan
Dalam praktiknya, dalam usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang
dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang digolongkan dalam investasi (atau
pembentukan modal atau penanaman modal) meliputi pengeluaranpeneluaran berikut :
1. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralartan
produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.
2. Pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal, bangunan kantor, bangunan
pabrik dan bangunan-bangunan lainnya.
3. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan
barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun penghitungan
pendapatan nasional.
Jumlah dari ketiga jenis komponin investasi tersebut dinamakan investasi bruto,
yaitu ia meliputi investasi untuk menambah kemampuan memproduksi dalam
perekonomian dan mengganti barang modal yang telah didepresiasikan. Apabila investasi
bruto dikurangi oleh nilai depresiasi maka akan didapat investasi neto.
B. Penentu-penentu tingkat investasi
berbeda dengan yang dilakukan oleh para konsumen (rumah tangga) yang
membelanjakan bagian terbesar dari pendapatan mereka untuk membeli barang dan jasa
yang mereka butuhkan, penanaman-penanaman modal melakukan investasi bukan untuk
memenuhi kebutuhan mereka tetapin untuk mencari keuntungan. Dengan demikian
banyaknya keuntungan yang akan diperoleh besar sekali peranannya dalam menentukan
tingkat investasi yang akan dilakukan oleh para penguasa. Disamping di tentukan oleh
1

harapan di masa depan untuk memperoleh untung , beberapa faktor lain juga penting
peranannya dalam menentukan tingkat investasi yang akan dilakukan dalam
perekonomian. Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah :
1. Tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh.
2. Suku bunga.
3. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan.
4. Kemajuan teknologi.
5. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.
6. Keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan.
Bagaimana berbagai faktor di atas akan mempengaruhi kegiatan investasi
dibicarakan dalam uraian-uraian berikut. Terlebih dahulu akan diperhatikan hubungan
di antara ramalan keuntungan yang akan diperoleh dengan suku bunga dan tingkat
investasi (faktor dalam 1 dan 2) sesudah itu akan diperhatikan faktor-faktor lain yang
menentukan investasi.
C. Tingkat pengambilan modal
Pendapatan yang diterimadari suatu kegiatan menanam modal biasanya akan
diterima dalam beberapa tahun. Mungkin dealam dua tahun peretama keuntungan
belum diperoleh, dean baru semenjak tahun ketiga hasil perjualan melebihi
pengeluaran. Seterusnya, walaupun keuntungan dalam tahun ketiga adalah sama
dengan tahun keenam (misalnya jumlahnya adalah seratus juta rupiah), dari segi
pandangan perusahaan nilai keuntungan sebenarnya adalah berbeda. Keuntungan di
tahun ketiga adalah lebih bernilai dari keuntungan keenam, oleh karena nilai sekarang
dari keuntungan tersebut berbeda.
1. Menghitung nilai sekarang dari pendapatan yang diperoleh di masa depan atau
menghitung tingkat pengambilan modal (keuntungan) merupakan cara yang
digunakan perusahaan-perusahaan untuk menilai kesesuaian dari suatu investasi
yang akan dilakukan.
Sesuatu kegiatan investasi dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila
nilai sekarang pendapatan di masa depan adalah lebih besar daripada nilai
sekarang modal yang diinvestasikan. Nilai sekarang pendapatan di masa depan
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
NS =

Y1
Y2
Y3
Yn
+
+
++
(1+r ) (1+r )2 ( 1+ r ) 3
(1+ r)n

Dalam persamaan di atas :

a. NS adalah nilai sekarang pendapatan yang diperoleh di antara tahun


1sehingga tahun n, apabila dimisalkan investasi tersebut didepresiasikan
pada tahun n.
b. Y1, Y2.Y, adalah pendapatan neto (keuntungan)yang diperoleh
perusahaan antara tahun 1hingga tahun n.
c. R adalah suku bunga.
Dengan demikian nilai sekarang modal yang diinvestasikan adalah M.
penanaman modal tersebut dikatakan menguntungkan apabila NS lebih besar
dari M.
2. Menentukan tingkat pengambilan modal, cara ini untuk menentukan apakah
sesuatu investasi merupakan kegiatan yang menguntungkan atau merugikan
dapat dilakukan dengan menghitung tingkat pengambilan modaldari investasi
tersebut. Tingkat pengambilan modal dinyatakan dalam persen, dan ia
menggambarkan tingkat keuntungan rata-rata per tahun dari modal yang
diinvestasikan. Untuk menghitung tingkat pengambilan modal digunakan
formula di bawah ini:
NS =

Y1
Y2
Y3
Yn
+
+
++
(1+r ) (1+r )2 ( 1+ r ) 3
(1+ r)n

Dalam persamaan tersebut:


a. M adalah nilai modal yang diinvestasikan.
b. Y1, Y2, Y3, Yn, adalah pendapatan neto (keuntungan) yang diperoleh
dari tahun 1hingga ke tahun n.
c. R adalah tingkat pengmbilan modal.
Dalam persamaan di atas nilai yang akan dihitung adalah R karena M dan
Y1 hingga Y sudah diketahui nilainya. Sesuatu investasi dipandang
menguntungkan apabila nilai R lebih besar daripada suku bunga.1
D. Efisiensi investasi marjinal
Di dalam suatu waktu tertentu, misalnya dalam tempo setahun, dalam perekonomian
akan terdapat banyak individu dan perusahaan yang mempertimbangkan untuk
melakukan investasi. Berbagai proyek investasi ini mempunyai tingkat pengambilan
modal yang berbeda, yaitu sebagai dari proyek investasi itu akan menghasilkan
keuntungan yang tinggi, dan ada proyek yang keuntungannya rendah. Berdasarkan
1 Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Tiga, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta 2012. Hal124-125
3

kepada jumlah modal yang akan ditanam dan tingkat pengambilan modal yang
diramalkan akan diperoleh, analisis makroekonomi membentuk suatu kurva yang
dinamakan efisiensi investasi marjinal (marginal efficiency of investment). Berdasarkan
hal-hal yang dihubungkannya, efisiensi investasi marjinal dapat didefinisikan sebagai:
suatu kurva yang menunjukkan hubungan di antara tingkat pengembalian dan jumlah
modal yang akan diinvestasikan. Untuk memperjelas arti konsepefisiensi

investasi

marjina, dalam gambar 4.2 ditunjukkaan satu contoh dsari kurva efisiensi investasi
marjinal (MEI).

Sumbu begak menunjukkan tingkat pengambilan modal dan sumbu datarv


menunjukkan jumlah investasiyang akan dilakukan. Pada kurva MEI titunjukkan tiga
buah titik: A,B dan C. Titik A menggambarkan bahwa tingkat pengambilan modal adalah
R0 dan investasi adalah I0 . ini berarti titik A menggambarkan bahwa dalam
perekonomian dapat dilakukan kegiatan investasi yang akan menghasilkan tingkat
pengambilan modal sebanyak R0 atau lebih tinggi, dan untuk mewujudkan investasi
tersebut modal modal yang diperlukan adalah sebanyak I 0 . Titik B dan C juga
memberikan gambaran yang sama. Titik B menggambarkan wujud kesempatan untuk
menginvestasikan dengan tingkat pengmbilan modal R 0 atau lebih, dan modal yang
diperlukan adalah I0 . Dan titik C menggambarkan, untuk mewujudkan usaha yang
menghasilkan tingkat pengmbilan modal sebanyak R0 atau lebih, diperlukan modal
sebanyak I0
E. Suku bunga dan tingkat investasi
Untuk menentukan besarnya

investasi

yang

harus

dlakukan

kita

perlu

menghubunhkan kurva MEI dengan suku bunga, yaitu seperti yang terdapat dalam
2 Ibid hal 126
4

Gambar 4.3. pada suku bunga sebesar r1 terdapat investasi I1yang mempunyai tingkat
pengambilan modal sebanyak r1 atau lebih. Maka pada suku bunga sebanyak r 1investasi
yang akan dilakukan perusahaan adalah I1 Apabila suku bunga adalah r1 diperlukan
modal sebanyak I1 untuk mewujudkan investasi yang mempunyai tingkat pengambilan
modal r1 atau lebih. Dengan demikian pada suku bunga sebanyak r1 investasi yang akan
dilakukan sebanyak I13
F. Bentuk dan hedudukan fungsi invetasi
Dalam analisis makroekonomi yang diperhatikan adalah investasi otonom. Investasi
otonom berarti pembentukan modal yang tidak dipengaruhi pendapatan nasional.
Dengan kata lain, tinggi rendahnya pedapatan nasional tidak menentukan jumlah
investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Berdasarkan pandangan ini maka
kurve investasi berbentuk sejajar dengan sumbu datar, yaitu seperti yang digambarkan
oleh kurve I I dan I dalam Gambar 4.4. 4

Analisis

makrekonomi

tidaklah

mengabaikan

pengaruh

tingkat

pendapatan

nasionalkepada investasi. Tetapi ahli-ahli ekonomi menganggap bahwa factor itu


bukanlah faktor yang paling penting yang menentukan tingkat investasi. Dalam analisis
itu telah diterangkan bahwa investasi terutama ditentukan oleh suku bunga. Apabila suku
bunga tinggi jumlah investasi akan berkurang, sebaliknya suku bunga yang rendah akan
mendorong lebih banyak investasi. Akibat dari perubahan suku bunga kepada investasi
digambarkan leh kurva I dan I Misalnya apabila suku bunga adalah r jumlah
investasi adalah I Seterusnya misalnya suku bunga turun ke r ini akan menyebabkan
pertambahan investasi,

misalnya menjadi I Sebaliknya apabila suku bunga naik

menjadi r akan menjadi kemerosotan invesyasi, yaitu menjadi I .


3 Ibid hal 127
4 Ibid hal 127
5

G. Ramalan keadaan perekonomian di masa depan


Apabila investasi itu sudah selesai dilaksanakan, yaitu pada waktu industri atau
perusahaan yang didirikan itu sudah mulai menghasilkan barang atau jasa, maka ia akan
terus melakukan kegiatannya selama beberapa tahun. Di dalam investasi-investasi yang
seerti itu biasanya modal baru diperoleh kembali apabila kegiata produksi sudah berjalan
selama beberapa tahun. Oleh sebab itu dalam menentukan apakah kegiatankegiatan yang
akan dikembangkan itu akan memperoleh untung atau akan menimbulkan kerugian, para
penguasa harus membuat ramalan-ramalan mengenai keadaan masa depan.
Dalam pembuatan ramalan mengenai nkeadaan masa depan pada hakikatnya para
pengusaha harus bertanya: apakah keadaan masa depan menunjukkan bahwa keuntungan
yang cukup besar akan diperleh dari pengembangan kegiatan ekonomiyang sedang
dibuaat atau direncanakan ? ramalan yang menunjukkan bahwa keadaan perekonomiantermasuk situasi politik dari keamanan- akan menjadi lebih baiklagi pada masa depan,
yaitu diramalkan bahwa harga-harga akan tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi maupun
pertambahan pendapatan

masyarakat akan berkembang dengan cepat, merupakan

keadaan yang akan mendorong pertumbuhan investasi. Makin baik keadaan masa depan,
makin besar tingkat keuntungan yang akan diperoleh para penguasa.oleh sebab itu
mereka akan lebih mendorong untuk melaksanakan investasi yang telah atau sedang
dirumuskan dan direncanakan.
H. Present Value
Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang
saat ini untuk nilai tertentu di masa yang akan datang. Present
value atau nilai sekarang bisa di cari dengan menggunakan rumus
future value atau dengan rumus berikut ini :
P = Fn/ ( 1 + r )

Keterangan :
Fn

= ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )

= ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )

= Suku bunga

= Jumlah Waktu ( tahun )

Rumus diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya


sekali dalam setahun, jika bunga digandakan setiap hari, maka
rumusnya menjadi:
PV = FV/ ( 1 + r / 360 )

-360.n

I. Future Value
Nilai yang akan datang atau future value adalah nilai uang di
massa yang akan datang dengan tingkat bunga tertentu.Future
value atau nilai yang akan datang dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
Fn = P ( 1 + r )

Keterangan:
Fn

= ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )

= ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )

= Suku bunga

= Jangka Waktu ( tahun )

Rumus diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya


sekali dalam setahun, jika bunga digandakan setiap hari , maka
rumusnya menjadi:
FV = PV ( 1 + r /360 )

360.n5

J. Kebijakan Moneter dan investasi


Kebijakan

moneter adalah

proses

mengatur persediaan

uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti


menahan inflasi,

mencapai pekerja penuh

atau lebih

sejahtera.

Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga


pinjaman,

"margin

requirement", kapitalisasi untuk bank atau

bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui


persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.
5 Eugene A. Diulio, Ph.D, Teori Makro Ekonomi, Erlangga, hal 85
7

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan


yang

bertujuan

untuk

mencapai

keseimbangan

internal

(pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan


pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni
menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan
kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang
seimbang.

Apabila

terganggu,

maka

kestabilan
kebijakan

dalam

kegiatan

moneter

dapat

perekonomian
dipakai

untuk

memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter


pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian
ditransfer pada sektor riil.
Kebijakan

moneter

adalah

upaya

untuk

mencapai

tingkat

pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan


tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan
tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur
keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang
agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan
kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter
dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada
instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum,
intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi
bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan
likuiditas.
Kebijakan

moneter

mengurangi/membatasi

ketat (tight
jumlah

uang

money

policy)

beredar.

untuk

Kebijakan

ini

dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi.


Kebijakan

moneter

longgar (easy

money

policy)

untuk

menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk


mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat
(permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami
resesi atau depresi.
8

Kebijakan moneter bertujuan untuk mencapai stablisasi


ekonomi yang dapat diukur dengan :
1. Kesempatan Kerja
Semakin besar

gairah

untuk

berusaha,

maka

akan

mengakibatkan peningkatan produksi. Peningkatan produksi ini


akan diikuti dengan kebutuhan tenaga kerja. Hal ini berarti akan
terjadinya peningkatan kesempatan kerja dan kesehjateraan
karyawan.
2. Kestabilan harga
Apabila kestablian harga tercapai maka akan menimbulkan
kepercyaan di masyarakat. Masyarakat percaya bahwa barang
yang mereka beli sekarang akan sama dengan harga yang akan
masa depan
3. Neraca Pembayaran Internasional
Neraca pembayaran internasional yang seimbang menunjukkan
stabilisasi ekonomi di suatu Negara. Agar neraca pembayaran
internasional seimbang, maka pemerintah sering melakukan
kebijakan-kebijakan moneter.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur
dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang
beredar.
Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah
suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar
Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang
edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan


instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :

Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar


terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan
menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government
securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah
akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah
uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat
berharga

pemerintah

kepada

masyarakat.

Surat

berharga

pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari


Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat
Berharga Pasar Uang.
Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas diskonto adalah
pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat
bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang
mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank
sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah
menurunkan

tingkat

bunga

bank

sentral,

serta

sebaliknya

menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar


berkurang.
Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan
memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan
pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah
menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang
beredar, pemerintah menaikkan rasio.
Himbauan Moral (Moral Persuasion) Himbauan moral adalah
kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan
jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti
menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam
mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan
menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk
memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

10

Kredit selektif
Politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar
dengan cara memperketat pemberian kredit
Politik sanering
Ini dilakukan bila sudah terjadi hiper inflasi, ini pernah dilakukan BI
pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan pemotongan uang
dari

Rp.1.000

menjadi

Rp.1

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara


kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU
No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia.
K. PAJAK DAN INVESTASI
Setiap negara yang melakukan pemungutan pajak pasti mempunyai tujuan,
yaitu untuk menjalankan pemerintahan dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat.
Oleh karena itu negara memerlukan dana dari rakyat, salah satunya adalah berupa
uang pembayaran pajak dari rakyat. Pelaksanaan pemungutan pajak diharapkan dapat
mencerminkan keadilan, dengan besarnya pajak yang dibebankan sesuai dengan objek
pajak yang dimiliki oleh rakyat. Sedangkan besarnya objek pajak dipengaruhi oleh
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu pelaksanaan pemungutan pajak
juga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, termasuk
didalamnya ekonomi rakyat secara individu. Jadi Pajak adalah pungutan oleh pejabat
pajak kepada wajib pajak tanpa tegen prestasi secara langsung dan bersifat memaksa
sehingga penagihannya dapat dipaksakan (Prof. Dr. Djafar Saidi, SH.,MH).
Pajak mempunyai beberapa fungsi, Berkaitan dengan fungsi pajak yang lebih
dominan, khususnya bagi fungsi pajak utama yaitu budgeter dan regulerend. Fungsi
regulerend, lebih berkaitan dengan Fiscal Policy, yaitu alat kebijaksanaan pemerintah
dalam menyelenggarakan politiknya dalam bidang ekonomi, moneter, sosial, kultural
maupun politik. Terdapat beberapa pendapat terkaitnya penerimaan negara dari sektor
pajak dengan kebijaksanaan di bidang penanaman modal karena penerimaan pajak
dipengaruhi oleh :

Materi dari undang-undang pajak yang bersangkutan, termasuk sistem pemungutannya.

11

Sikap masyarakat, baik masyrakat eksternal (wajib pajak) maupun masyarakat internal
(aparatur perpajakan).

Pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya pikul dan daya beli masyarakat sekaligus
meningkatkan kemampuan wajib pajak membayar pajak.
Fungsi regulerend adalah fungsi untuk mengatur yang digunakan pemerintah
dibidang ekonomi, moneter, sosial, budaya maupun politik agar tercapai tujuan yaitu
memperoleh dana-dana yang akan digunakan untuk investasi publik sehingga secara tidak
langsung dapat menyalurkan penghasilan swasta (private saving) ke arah sektor-sektor
yang produktif maupun digunakan untuk mencegah pengeluaran-pengeluaran yang
menghambat pembangunan. Jadi fungsi regulerend adalah fungsi pajak untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu pemerintah. Contohnya adalah pengaturan dalam bidang ekonomi,
misalnya pemerintah tidak menghendaki industri dalam negeri mengalami gulung tikar
karena kalah bersaing dengan industri luar negeri maka untuk mencegah hal tersebut
pemerintah lalu membuat peraturan berupa pengenaan tarif yang tinggi bagi hasil
produksi luar negeri yang akan masuk (impor) ke Indonesia. Dengan menerapkan tarif
tinggi maka tentu harga barang-barang dari luar akan lebih tinggi hargnya sehingga sulit
dijangkau oleh sebagian basar anggota masyarakat, dibanding dengan produksi dalam
negeri yang harganya lebih murah. Jadi tujuan yang ingin dicapai pemerintah dalam
lewat tarif yang tinggi ini adalah untuk melindungi industri dalam negeri. Namun ada
saat-saat tertentu pemerintah memberikan kebijakan mengenai tax holiday atau
pembebasan pajak dalam masa tertentu bagi investor asing. Dengan memberikan tax
holiday maka diharapkan banyak investor asing menanamkan modalnya yang sangat
dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Peraturan yang berhubungan dengan
penanaman modal adalah:

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 sebagaiman telah diubah dan ditambah


terakhir dengan UU tentang Penanaman Modal dalam Negeri.
Pengaturan dalam bidang sosial berkaitan dengan cara kehidupan beberapa

masyarakat yang cenderung untuk hidup mewah sehingga mungkin terjadi gangguan
sosial. Untuk itu terhadap barang mewah seperti seperti mobil dan barang-barang lain
yang dianggap mewah dikenakan tarif pajak yang tinggi, sehingga konsumen yang ingin
hidup mewah pasti memikul beban yang makin tinggi. Sehingga secara teorits terjadi
redistribusi pendapatan dalam masyarakat dan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk
12

hidup sederhana. Pengaturan dalam bidang moneter, pemerintah memberlakukan tarif


pajak tinggi bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan merendahkan tarif pajak
bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, seperti buruh atau kaum pekerja lainnya
dan bukan menaikkan upah mereka, sehingga dengan kebijakan ini dapat tercapai
redistirbusi pendapatan sehingga tidak terjadi kepincangan antara orang kaya dan orang
miskin. Pengaturan dalam bidang budaya, Misalnya tarif pajak yang sangat rendah atau
sama sekali memberikan pembebasan pajak untuk sementara bagi para penulis terhadap
penghasilan yang mereka peroleh sebagai penulis buku. Untuk menyukseskan
pemungutan pajak terutama dari segi fungsinya sebagai pengisi kas negara, maka perlu
menumbuhkan atau meningkatkan kesadaran wajib pajak hanya bisa dicapai dengan
menciptakan iklim perpajakan yang sangat sehat yang dapat menghilangkan hambatanhambatan psikologis yang masih melekat pada diri wajib pajak dewasa ini. Iklim yang
sehat berarti masyarakat wajib pajak ingin dan sadar akan kewajibannya untuk membayar
pajak. Jadi fungsi regulerend adalah fungsi untuk mengatur, dimana pajak sebagai alat
bisa memajukan produksi dalam negeri agar tidak kalah bersaing dengan produksi luar
negeri serta mengatur susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor swasta serta
bagiamana menarik para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Berdasarkan uraian fungsi regulerend diatas maka dapat dilihat tujuan akhir yaitu untuk
memperoleh pemasukan yang sebesar-besarnya bagi dana pembangunan Indonesia
sehingga

bisa

meningkatkan

pertumbuhan

ekonomi

sekaligus

meningkatkan

kesejahteraan rakyat.
Mengenai insentif pajak dan daya saing investasi, para investor sudah lama
merindukan paket kebjakan insentif dari pemerintah. Isinya, paket kebijakan yang bersifat
memberi kemudahan baik dalam soal perizinan, pajak, kepabeanan, suku bunga dan lainlain. Hal tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya produksi, biaya modal dan
meningkatkan daya saing. Pemikiran tersebut realistis, mengingat jika investasi berjalan
baik, industri berkembang, menyerap tenaga kerja, daya beli rakyat meningkat, dan dari
mereka akan mengalir pembayaran pajak. Secara tidak langsung penduduk miskin dapat
dikurangi, melalui pemanfaatan pajak oleh berbagai institusi/ departemen lain. Problem
daya saing investasi (penanaman modal) memang tidak dapat lagi dianggap remeh sebab
ada beragam keterkaitan yang melingkupinya, termasuk sektor perpajakan dan adanya
tuntutan koordinasi pusat-daerah dalam hal membuat regulasi. Untuk negara berkembang
pemberian insentif (pajak) harus selektif karena sangat mahal dan dapat menciptakan
13

distorsi dalam sistem perpajakan, mengurangi penerimaan pajak, dan mengekang


anggaran. Namun demikian, insentif pajak melalui UU PPh merupakan bagian dari
program reformasi di bidang perpajakan secara berkesinambungan, khususnya perubahan
perangkat organik seperti lembaga administrasi dan aparat pelaksana serta formulasi
kebijakan dalam bentuk peraturan. Ketika negara membutuhkan pajak untuk melanjutkan
pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, kesadaran dan kepatuhan seluruh
masyarakat untuk membayar pajak tidak dapat dihindarkan. Siapa pun tentu tidak ingin
dikatakan sebagai penumpang gelap (free rider) karena tidak mau bayar pajak. Begitu
juga, orang tidak mau dikatakan sebagai pengemplang pajak karena membayar pajak
tidak benar.
Daya saing investasi akhirnya akan bersandar pada seberapa kuat kepercayaan
investor kepada negeri ini dan seberapa besar prospek investasi jangka panjangnya.
Penanaman modal asing dapat memberikan keuntungan cukup besar terhadap
perekonomian nasional, misalnya menciptakan lowongan pekerjaan bagi penduduk tuan
rumah sehinga dapat meningkatkan penghasilan dan standar hidup, menciptakan
kesempatan bekerjasama dengan perusahaan lokal sehingga mereka dapat berbagi
manfaat, meningkatkan ekspor sehingga meningkatkan cadangan devisa negara dan
menghasilkan alih teknologi. Indonesia membuka diri kembali terhada modal asing
dengan diundangkannya UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.
Pendekatan terhadap modal asing yang digunakan Indonesia pada saat krisis ekonomi
lebih memfokuskan pada pembangunan institusi yang menjadi prasyarat untuk pemulihan
ekonomi. Penelitian mengenai penanaman modal asing di Indonesia berkaitan dengan
insentif dan pembatasan, ditinjau dari pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1967 tentang
Penanaman Modal Asing dan lahirnya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
menjadi penting, setidak-tidaknya karena empat alasan:

Legal Certainty (Kepastian Hukum)

Sistem Hukum yang terdiri dari substansi, aparatur dan legal culture.

Keanggotaan Indonesia dalam WTO telah menyebabkan terjadinya pembaruan


Undang-undang Penanaman Modal Indonesia

UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, substansi dan pelaksanaannya


harus sebanding dengan Undang-undang Penanaman Modal di negara-negara pesaing
Indonesia dalam menarik modal asing.

14

Lahirnya UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing mendapat


respon yang sangat mengesanan dari investor asing. Namun demikian, dalam
perkembangannya kehadiran modal asing di Indonesia telah menimbulkan kontroversi
dan dilema. Pada satu sisi modal asing diIndonesia telah membawa pengaruh positif
berupa terbukanya lapangan kerja dan alih teknologi. Pada sisi lain peningkatan investasi
asing ini ini telah menimbulkan pengaruh negatif berupa tuduhan lahirnya dominasi asing
atas perekonomian Indonesia dan ketergantungan Indonesia pada pasar internasional.
Untuk mengundang kembali modal asing pemerintah menyediakan insentif baru bagi
modal asing, diantaranya:
1). Penanaman modal asing menjadi penanaman modal dalam negeri dan perpanjangan
jangka waktu penanaman modal asing. Hal ini di lakukan dengan cara, pertama
pemerintah mengizinkan para investor asing memiliki saham sampai 95 persen dari
perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor. Kedua, akses yang lebih luas di bidang
keuangan untuk perusahaan patungan. Perusahaan patungan harus di perlakukan sama
seperti perusahaan domestik dan diizinkan untuk meminjamkan dari bank-bank negara
dan berpartisipasi dalam rencana kredit dengan syarat bahwa mitra asing paling sedikit
telah mendivestasi 75 sahamnya untuk di jual di bursa saham. Ketiga, penangguhan
pembayaran PPN (maksimal 5 tahun) sejak perusahaan dapat berproduksi secara
komersial atas impor. Keempat, terbukanya kesempatan bagi pengusaha kecil untuk
meminta dan memperoleh fasilitas penanaman modal meskipun mereka melakukan
proyek non-penanaman modal asing.
2). Peningkatan kepemilikan Saham Perusahaan Modal Asing. Untuk menarik modal
asing, pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan modal asing berupa
peningkatan kepemilikan saham. Hal ini diatur dalam PP No. 17 Tahun 1992. Untuk
mendirikan suatu perusahaan penanaman modal asing baru, sumber dana yang dapat
digunakan adalah laba yang di tanam kembali dan/atau sumber dana lain. Sedangkan
untuk membeli saham perusahaan yang sudah beroperasi, hanya di benarkan dengan
menggunakan laba yang di milikinya. Semua penyertaan laba perusahaan penanaman
modal asing itu akan tetap di anggap sebagai penyertaan asing yang tunduk pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
3). Perpanjangan dan pembaruan Hak Atas Tanah. Dalam rangka meningkatkan gairah
dan iklim investasi, Pemerintah memberikan fasilitas hak atas tanah kepada modal
asing. Halini di atur dalam Keppres No. 23 Tahun 1980 tentang Pemanfaatan Tanah

15

Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan untuk Usaha Patungan dalam rangka
Penanaman Modal Asing.
Dalam rangka mengatasi kendala-kendala mengenai penanaman modal dan selaras
dengan ikut sertanya Indonesia dalam GATT/WTO, maka Pemerintah mengajukan
Rancangan Undang-Undang Investasi yang baru ke Parlemen. Setelah mendapat
persetujuan Parlemen, Presiden menandatanganinya sebagai UU No. 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal yang sudah jauh lebih baik di bandingkan dengan undangundang sebelumnya. Substansi dalam undang-undang ini ada beberapa hal baru,
dimana ada yang tidak diatur seperti perlakuan yang sama terhadap penanam modal,
tanggung jawab penanam modal, sanksi bagi penanam modal, hak atas tanah,
larangan pemegang saham nominee, penyelanggaraan urusan penanaman modal,
koordinasi pelaksanaan kebijakan penanaman modal dan kawasan ekonomi khusus.
Selain memuat ketentuan yang bersifat memberi insentif, UU No. 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal juga menyebutkan beberapa ketentuan yang bersifat
pembatasan, yaitu penanaman modal asing harus memprioritaskan tenaga kerja
Indonesia dan pemegang saham nominee di larang. Larangan pemegang saham
nominee merupakan substansi baru dalam peraturan perundang-undangan
penanaman modal di Indonesia. Tujuan pengaturan larangan pemegang saham
nominee adalah untuk menghindari terjadinya perseroan yang secara normatif dimiliki
seseorang tetapi secara materi atau substansi pemilik perseroan tersebut adalah orang
lain. Secara teknis, praktek kepemilikan saham melalui nominee dilakukan oleh dua
pihak. Satu pihak karena sesuatu pertimbangan tidak dapat atau dapat menjadi pemilik
saham, tetapi tidak menjadi pemilik saham pada perseroan sehingga menggunakan
pihak lain sebagai nomineenya. Dalam keadaan lain, pihak-pihak tertentu sebenarnya
dapat menjadi pemegang saham PT Indonesia tertentu. Pada dasarnya yang
bersangkutan adalah warga negara Indonesia yang dapat menjadi pemilik saham.
Tetapi, karena berbagai pertimbangan (diantaranya menghindari public exposure yang
berlebihan) yang bersangkutan tidak memunculkan nama sendiri sebagai pemegang
saham pada perseroan namun memilih menggunakan nominee untuk mewakili
kepentingannya.Terlepas dari prokontra lahirnya UU No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman

Modal,

pada

kenyataannya

undang-undang

ini

telah

mampu

meningkatkan investasi asing. Sejak Undang-undang ini di sahkan, pertumbuhan


investasi sudah mencapai 31% melampaui capaian sebelum krisis ekonomi.

16

Untuk itu, dalam rangka pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2007 perlu di lakukan
sinkronisasi peraturan perundang-undangan agar lebih relevan.

Insentif dan

pembatasan terhadap penanaman modal asing tercermin dalam Undang-undang dan


peraturan pelaksanaannya. UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing
berisi pokok-pokok kebijakan penanaman modal asing. Perubahan kebijakan
mengenai insentif dan pembatasan tergantung kepada faktor-faktor perkembangan
sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri serta perkembangan perekonomian global.
Masalah insentif dan pembatasan, kontroversi ini terjadi lagi pada pembahasan dan
pelaksanaan UU No. 25 Tahun 2007. Modal asing akan mendapatkan insentif yang
prospektif, namun sebagan unsur masyarakat menganggapnya sebagai pengurangan
hak-hak bagi kepentingan lokal. Jadi ketentuan

penanaman modal yang tidak

produkif akan menghambat investasi,contohnya pemberatan pajak yang terlalu besar


karena lebih mengutamakan fungsi budgeter,dan pemberian pajak bea masuk yang
begitu besar kepada investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Maka
dapat disimpulkan bahwa kebijakan perpajakan sangat berpengaruh terhadap
investasi. 6

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

6 Thomas F. Dernburg, Makro-Ekonomi, Erlangga 1998, hal 30


17

Investasi adalah pengeluaran penanam modal atau perusahaan untuk membeli barangbarang modal dan perlengkapan produksi yang akan menambah kemampuan
memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi pada
hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana yang ada saat ini dengan harapan
untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang.
Pasar modal (capital modal) adalah pasar keuangan untuk dana-dana jangka
panjang dan merupakan pasar yang konkret. Dana jangka panjang adalah dana yang
jatuh temponya lebih dari satu tahun. Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu
tempat dalam pengertian fisik yang terorganisasi tempat efek-efek diperdagangkan
yang disebut bursa efek. Pengertian bursa efek (stock exchange) adalah suatu sistem
yang terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Pengertian efek adalah setiap surat berharga
(sekuritas) yang diterbitkan oleh perusahaan, misalnya: surat pengakuan utang, surat
berharga komersial (commercial paper), saham, obligasi, tanda bukti utang, bukti right
(right issue), dan waran (warrant).
Pengertian pasar modal berdasarkan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1976
tentang Pasar Modal menyebutkan bahwa Pasar Modal adalah Bursa Efek seperti yang
dimaksud dalam UU No. 15 Tahun 1952 (Lembaran Negara Tahun 1952 Nomor 67).
Menurut UU tersebut, bursa adalah gedung atau ruangan yang ditetapkan sebagai
kantor dan tempat kegiatan perdagangan efek, sedangkan surat berharga yang
dikategorikan sebagai efek adalah saham, obligasi, serta surat bukti lainnya yang lazim
dikenal sebagai efek.

DAFTAR PUSTAKA
Mukhtar karyawan, Thomas F. Dernburg, 2002 Makro Ekonomi,: Erlangga
Eugene A. Diulio, Ph.D, 2000 Teori Makro Ekonomi, Erlangga,
18

Sadono Sukirno, Jakarta 2012, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Tiga,
PT Raja Grafindo Persada,
https://www.google.com/search?
q=kesimpulan+modal+dan+investasi&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefoxb-ab

19