Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Segenap puji syukur kami sampaikan kepada Allah SWT.


karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan lancar. Makalah ini disusun salah satunya
untuk memenuhi tugas Makro Ekonomi yang dibimbing oleh
Dosen Dr. Hj. Khoirunisa Musari., M.MT
Kesuksesan ini dapat kami dapatkan tentunya karena
bantuan banyak pihak. Kami ucapkan banyak terimakasih kepada
Dosen kami yang sudah membimbing kami dan segenap
Mahasiswa

IAIN

jember

khususnya

kelas

ES4

yang

juga

membantu penyelesaian makalah ini serta tidak lupa pada tim


penyusun makalah.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan
yang ada dalam makalah ini. Kami akan menampung segala
kritik dan saran dari pembaca untuk selanjutnya akan kami
jadikan bahan pertimbangan untuk menyempurnakan makalah
kami.
Akhirnya kami selaku penyusun makalah berharap semoga
makalah ini dapat menjadi tambahan ilmu dan bermanfaat bagi
pembaca.

Jember , 30 September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..........................................................................1
Daftar Isi....................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................3
B. Rumusan Masalah................................................................3
C. Tujuan..................................................................................3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konsumsi..........................................................4
B. Fungsi Konsumsi .................................................................5
1. Fungsi Konsumsi Keynes.............................................8
2. Fungsi Konsumsi Kuznet.............................................9
C. Teori-teori Konsumsi...........................................................10
D. Faktor yang mempengaruhi Konsumsi...............................13
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan..............................................................................18
Daftar Pustaka.........................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata "Ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani yaitu Oikos
yang berarti Keluarga atau Rumah tangga dan Nomos

atau

Peraturan, Aturan, atau Hukum, dan secara garis besar diartikan


sebagai Aturan Rumah Tangga atau Manajemen Rumah Tangga.
Dalam ekonomi kita akan mengenal istilah produksi, distribusi
dan konsumsi. Dalam hal ini akan dibahas tentang teori
konsumsi. Konsumsi adalah penggunaan barang atau jasa secara
langsung untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Konsumsi
haruslah dianggap sebagai maksud serta tujuan yang essensial
dari produksi.
Sebuah produksi akan dilakukan jika ada yang mengkonsumsi.
Kalaupun tidak ada konsumsi, maka tidak akan ada produksi.
Akan tetapi hal itu mustahil untuk terjadi. Maka dari itu akan
dibahas tentang teori-teori konsumsi.
B. Rumusan masalah
1. Apakah yang di maksud konsumsi ?
2. Bagaimana fungsi konsumsi Keynes dan fungsi konsumsi
Kuznet ?
3. Bagaimanakah teori-teori konsumsi ?
4. Faktor apa saja yang mempengaruhi konsumsi ?
C. Tujuan
Tujuan makalah ini dibuat adalah untuk memberi informasi
kepada pembaca tentang teori konsumsi secara makro. Dalam

teori-teori tersebut terdapat banyak pendapat tentang konsumsi


yang akan menambah pengetahuan pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KONSUMSI
Dilihat dari arti ekonomi,

konsumsi

merupakan

tindakan untuk mengurangi atau menghabiskan nilai guna


ekonomi

suatu

Bannoch

benda.

dalam

pengertian

Sedangkan

bukunya

tentang

menurut

Economics

konsumsi

yaitu

Draham

memberikan
merupakan

pengeluaran total untuk memperoleh barang dan jasa


dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu
(dalam satu tahun) pengeluaran.1
Konsumsi berasal dari bahasa
Comsumption.

Konsumsi

adalah

inggris

pembelanjaan

yaitu
atas

barang-barang dan jasa yang dilakukan oleh rumah tangga


dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang
melakukan pembelanjaan tersebut.
Di dalam ekonomi, konsumsi di artikan penggunaan
barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan manusiawi
(the use of goods and services in the satisfaction of human
wants). Konsumsi haruslah dianggap sebagai maksud serta
tujuan yang esensial dari produksi. Atau dengan kata lain,
produksi merupakan alat bagi konsumsi.2
1 http://aabshare.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-teori-konsumsimakro.html di Unduh Oleh Aprilia S.P pada hari Senin 3 Oktober 2016
2 Rosyidi, Suherman (2009, Pengantar Teori Ekonomi (pendekatan teori
ekonomi Mikro dan Makro) Jakarta: Rajawali Pers. Hlm:

Jadi konsumsi adalah usaha untuk menghabiskan


atau menggunakan barang-barang produksi. Konsumsi
akan

selalu

ada

dalam

setiap

kehidupan

manusia.

Konsumsi dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan


dan keinginannya. Oleh karena itu konsumsi tidak akan
pernah berhenti dalam kehidupan manusia.
Adapun pembagian konsumsi, yaitu

konsumsi

produkti dan komsumsi akhir. Konsumsi produktif adalah


konsumsi

barang

yang

digunakan

sebagai

penghasil

barang lain. Misalnya pada mesin-mesin pembuat barang


yang di gunakan pabrik, itu adalah konsumsi produktif.
Sedangkan konsumsi akhir adalah konsumsi yang langsung
dapat memuaskan kebutuhan manusia. Misalnya manusia
memakan makanan yang sudah jadi dan merasa kenyang.
Meskipun dalam konsumsi produktif dan konsumsi akhir
terdapat perbedaan yang tajam, akan tetapi jika tiada
ketentuan apapun yang dimaksud dengan istilah konsumsi
pada uraian-uraian sesudah ini adalah konsumsi akhir
yakni konsumsi yang langsung memberikepuasan.
B. FUNGSI KONSUMSI
Fungsi
konsumsi
menghubungkan
seluruh
pengeluaran konsumsi yang diinginkan oleh seluruh rumah
tangga dalam suatu perekonomian dengan faktor yang
menentukannya. Fungsi konsumsi merupakan salah satu
hubungan pokok yang ada dalam makro ekonomi3
Pengeluaran Konsumsi dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga yang dalam
literatur ekonomi diberi simbol C sebagai singkatan dari
Consumptian

Expenditure

dan

pengeluaran

konsumsi

3 Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner dan Douglas D. Purvis. Pengantar


makro ekonomi edisi ke8 . Jakarta. Erlangga 1993. Hlm :51

pemerintah

yang

diberi

simbol

yang

merupakan

singkatan dari Goverment Expenditure. Dalam hal ini


pengeluaran yang akan menjadi pokok pembahasan hanya
pengeluaran konsumsi rumah tangga.4
Hubungan

antara

besarnya

konsumsi

dengan

pendapatan nasional dapat dilihat dari bentuk fungsi


konsumsinya itu sendiri. Fungsi konsumsi adalah suatu
fungsi yang menggambarkan sifat hubungan diantara
tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dan
pendapatan

nasional

(atau

pendapatan

disposibel)

perekonomian tersebut.
Dalam

bentuknya

yang

umum,

fungsi

konsumsi

mempunyai persamaan:
C = a + bY
Keterangan:
a : konsumsi pada saat pendapatan nol
b : MPC (Marginal Propensity to Consume)
C : tingkat konsumsi
Y : tingkat pendapatan
MPC atau Marginal Propensity to Consume adalah
angka perbandingan antara besarnya perubahan konsumsi
dengan besarnya perubahan pendapatan nasional yang

4 Soediono Reksoprayitno. Ekonomi makro: pengantar analisis


pendapatan nasional edisi ke 5. Yogyakarta, Liberty Yogyakarta 1992.
Hlm. 42

mengakibatkan adanya perubahan konsumsi. Marginal


Propensity to Consume (MPC) mempunyai persamaan:
MPC = C / Y
Keterangan:
C : besarnya perubahan konsumsi
Y : besarnya perubahan dalam pendapatan nasional yang
mengakibatkan perubahan besarnya konsumsi
Angka

Marginal Propensity to Consume (MPC) ini

pada umumnya lebih kecil dari pada satu dan lebih besar
dari pada setengah. Lebih pastinya Marginal Propensity to
Consume ini mempunyai tanda positif. Positifnya MPC ini
mempunyai arti bahwa bertambahnya pendapatan akan
mengakibatkan bertambahnya konsumsi.
Apabila

diketahui

besarnya

konsumsi

pada

dua

tingkat pendapatan nasional yang berbeda, maka selama


fungsi konsumsi mempunyai bentuk persamaan garis lurus
dengan menggunakan persamaan berikut maka akan dapat
menemukan persamaan fungsinya. Persamaannya adalah:
C = (APCn MPC) Yn + MPC.Y
Dimana

APC

menunjukkan

besarnya

Average

Propensity to Consome pada tingkat pendapatan nasional


sebesar n. APC ( Average Propensity to Consume) adalah
perbandingan antara besarnya konsumsi pada tingkat
pendapatan nasional dengan besarnya tingkat pendapatan
nasional itu sendiri. Untuk dapat mengetahui APC terdapat
persamaan sebagai berikut:

APC = Cn / Yn
Keterangan :
Cn : konsumsi pada pendapatan sebesar n
Yn : pendapatan sebesar n

Contoh Menemukan Fungsi Konsumsi:5


Diketahui:
a. Pada tingkat pendapatan nasional per tahunnya sebesar Rp
100,- milyar; besarnya konsumsi Rp 95,- milyar per tahun.
b. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar Rp 120,- milyar
per tahun, besarnya konsumsi Rp 110,- milyar
Ditanya: fungsi konsumsinya!
Jawab : APC100 = C100 / Y100 = 95/100 = 0,95
APC120 = C120 / Y120 = 110/120
Besarnya MPC:
MPC : C / Y = (C120 C100) : (Y120 Y 100)
= (110 95) : (120 100) =15/20 = 0,75
Dengan menggunakan rumus:
C

= (APCn MPC) Yn + MPC.Y

= ( 0,95 0,75). 100 + 0,75Y


= 0,20 x 100 + 0,75Y
5 Ibid., Hlm. 42-46.

= 20 + 0,75Y

1. FUNGSI KONSUMSI KEYNES


Teori konsumsi menurut Keynes
Pengeluaran konsumsi sangat ditentukan oleh besar
kecilnya

pendapatan,

dimana

antara

pendapatan

dengan konsumsi memiliki hubungan yang positif.


Keynes mengatakan bahwa ada pengeluaran konsumsi
minimum

yang

harus

dilakukan

oleh

masyarakat

(outonomous consumtion) dan pengeluaran konsumsi


akan meningkat dengan bertambahnya penghasilan.
Fungsi konsumsi menurut Keynes sebagai berikut:
C = f (Y), dimana bentuk fungsinya
C=a+cY
C : Merupakan konsumsi masyarakat riil
A : Besarnya konsumsi pada tingkat Y = 0
c = MPC (hasrat konsumsi marginal = delta C / delta Y)
Y : Besarnya pendapatan riil6
Satu faktor yang berpengaruh pada pengeluaran
konsumsi

yang

diinginkan

adalah

pendapatan

disposebel rumah tangga yang dinyatakan denga Yd.


Begitu

pendapatan

disposebel

meningkat,

rumah

tangga memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan


pada

konsumsi.maka

kita

perlakukan

pengeluaran

konsumsi yang diinginkan sebagai pengeluaran yang


diinginkan sebagai pengeluaran yang bereaksi secara
positif terhadap pendapatan disposebel.7
Adapun rumus konsumsi dan pendapatan menurut
keynes
C=Co+cYd
6 Dwi Eko Waluyo, Uci Yuliati, Ekonomika Makro, Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang, 2013, hlm. 60-61.
7 Ibid., hlm. 51

Co adalah konsumsi subsidi yaitu sejumlah konsumsi


yang diterima oleh konsumen apabila pendapatan
mereka tidak ada, atau Y = 0.
Yd = pendapatan disposable atau pendapatan yang siap
dikonsumsi Yd = Y Tx + Tr
Tx = Pajak
Tr = Subsidi atau transfer
2. FUNGSI KONSUMSI KUZNET
Menurut Simon Kuznets yang menggunakan ratarata dari data untuk preode yang panjang yakni 10-30
tahun, dan menyimpulkan bahwa hubungan antara
konsumsi

dan

pendapatan

adalah

mendekati

proporsional. Hal ini sesuai apabila titik potong pada


fungsi konsumsi standart menjadi 0. Kecenderungan
mengkonsumsi rata-rata yang dikemukakannya untuk
tiga periode 30 tahun yang paling bertautan. Pada
kesimpulan

Kuznets

menunjukkan

bahwa

dengan

menggunakan rata-rata jangka panjang, terdapat fariasi


yang kecil dalam rasio konsumsi terhadap pendapatan
dan

terutama

bahwa

tidak

ada

tanda-tanda

bagi

kecenderungan menghonsumsi rata-rata untuk menurun


apabila pendapatan disposebel meningkat.8
Apabila Keynes hanya mengeluarkan fungsi konsumsi
jangka pendek saja, Simon Kuznets menemukan fungsi
konsumsi jangka panjang yaitu C = MPC*Y.9
Menurut Kuznets, tidak ada perubahan
signifikan

terhadap

proporsi

tabungan

yang

terhadap

pendapatan ketika pendapatan semakin meningkat,


8 Rudiger dornbusch, Stanley Fischer dan J.Mulyadi. Makro Ekonomi
edisi ke 4. Jakarta: Erlangga. 1992. Hlm. 237.
9 https://n2cs.wordpress.com/2013/03/12/teori-konsumsi-dan-teori-investasi/
di Unduh Oleh Aprilia S.P pada hari Senin 3 Oktober 2016

10

sehingga

dalam

jangka

panjang,

fungsi

konsumsi

berbentuk stabil.
Asumsi dasar Studi Kuznets
a) Pajak perorangan dan pembayaran transfer adalah kecil
(dalam periode ini)
b) Oleh karena itu adalah masuk akal jika menggunakan
pendapatan total (GNP) sebagai proxy untuk pendapatan
disposal (Yd)
c) Jika terdapat hubungan antara konsumsi dan pendapatan
disposable,

maka

juga

harus

ada

hubungan

antara

konsumsi dan GNP


C. TEORI-TEORI KONSUMSI
1. Teori Konsumsi John Maynard Keynes
Dalam teorinya Keynes mengandalkan
statistik,

dan

juga

membuat

dugaan-dugaan

analisis
tentang

konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi casual.


Pertama

dan

kecenderungan

terpenting

Keynes

mengkonsumsi

menduga
marginal

bahwa,
(marginal

propensity of consume) jumlah yang di konsumsi dalam


setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu.
Kedua,
terhadap

Keynes

menyatakan

pendapatan,

mengkonsumsi

yang

rata-rata

bahwa
disebut

(avarange

rasio

konsumsi

kecenderungan
prospensity

to

consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa


tabungan adalah kemewahan, sehingga ia berharap orang
kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dapat
pendapatan mereka ketimbang yang miskin.
Ketiga, Keynes berpendapat bahwa

pendapatan

merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat


bunga tidak memiliki peranan penting. Keynes menyatakan
bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya
sebatas teori. Berdasrkan tiga dugaan ini, fungsi konsumsi

11

keynes sering ditulis sebagai : C = C + cY, C > 0, 0 < c <


1.
Keterangan :
c = konsumsi
Y = pendapatan disposebel
C = konstanta
c = kecenderungan mengkonsumsi marginal
Beberapa catatan mengenai fungsi konsumsi Keynes:
Variabel nyata adalah bahwa fungsi konsumsi Keynes
menunjukkan

hubungan

antara

pendapatan

nasional

dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya dinyatakan


dengan menggunakan tingkat harga konstan. Pendapatan
yang terjadi disebutkan bahwa pendapatan nasional yang
menentukan besar kecilnya pengeluaran konsumsi adalah
pendapatan nasional yang terjadi atau current national
income.
Bentuk

fungsi

konsumsi

menggunakan

fungsi

konsumsi dengan bentuk garis lurus. Keynes berpendapat


bahwa fungsi konsumsi berbentuk lengkung.
2. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen
(Milton Friedman)
Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat
digolongkan

menjadi

yaitu

pendapatan

permanen

(permanent income) dan pendapatan sementara (transitory


income). Pengertian dari pendapatan permanen adalah
pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode
tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya
pendapatan

dari

gaji,

upah.

Pengertian

pendapatan

sementara adalah pendapat yang tidak bisa diperkirakan


sebelumnya.
Friedman
hubungan

menganggap

antara

pula

pendapatan

bahwa

tidak

sementara

ada

dengan

pendapatan permanen, juga antara konsumsi sementara


dengan konsumsi permanen, maupun konsumsi sementara

12

dengan

pendapatan

sementara.

Sehingga

MPC

dari

pendapatan sementara sama dengan nol yang berarti bila


konsumen menerima pendapatan sementara positif maka
tidak akan mempengaruhi konsumsi dan sebaliknya bila
konsumen menerima pendapatan sementara yang negatif
maka tidak akan mengurangi konsumsi.
3. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup
Teori dengan hipotesis siklus hidup dikemukakan oleh
Franco Modigliani. Franco Modigliani menerangkan bahwa
pola

pengeluaran

konsumsi

masyarakat

mendasarkan

kepada kenyataan bahwa pola penerimaan dan pola


pengeluaran

konsumsi

seseorang

pada

umumnya

dipengaruhi oleh masa dalam siklus hidupnya.


Karena
orang
cenderung

menerima

penghasilan/pendapatan yang rendah pada usia muda,


tinggi pada usia menengah dan rendah pada usia tua,
maka rasio tabungan akan berfluktasi sejalan dengan
perkembangan umur mereka yaitu orang muda akan
mempunyai tabungan negatif (dissaving), orang berumur
menengah menabung dan membayar kembali pinjaman
pada masa muda mereka, dan orang usia tua akan
mengambil

tabungan

yang

dibuatnya

di

masa

usia

menengah.
Selanjutnya Modigliani menganggap penting peranan
kekayaan (assets) sebagai penentu tingkah laku konsumsi.
Konsumsi akan meningkat apabila terjadi kenaikan nilai
kekayaan seperti karena adanya inflasi maka nilai rumah
dan tanah meningkat, karena adanya kenaikan harga suratsurat berharga, atau karena peningkatan dalam jumlah
uang beredar. Sesungguhnya dalam kenyataan orang
menumpuk kekayaan sepanjang hidup mereka, dan tidak
hanya orang yang sudah pensiun saja. Apabila terjadi

13

kenaikan dalam nilai kekayaan, maka konsumsi akan


meningkat atau dapat dipertahankan lebih lama. Akhirnya
hipotesis siklus kehidupan ini akan berarti menekan hasrat
konsumsi, menekan koefisien pengganda, dan melindungi
perekonomian

dari

perubahan-perubahan

yang

tidak

diharapkan, seperti perubahan dalam investasi, ekspor


maupun pengeluaran-pengeluaran lain.
4. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif.
James
Dusenberry
mengemukakan
bahwa
pengeluaran

konsumsi

suatu

masyarakat

ditentukan

terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah


dicapainya.Pendapatan berkurang, konsumen tidak akan
banyak mengurangi pengeluaran untuk konsumsi. Untuk
mempertahankan tingkat konsumsi yang tinggi, terpaksa
mengurangi

besarnya

saving.

Apabila

pendapatan

bertambah maka konsumsi mereka juga akan bertambah,


tetapi bertambahnya tidak terlalu besar. Sedangkan saving
akan bertambah besar dengan pesatnya.
Dalam teorinya, Dusenberry menggunakan

dua

asumsi yaitu :
a) Selera rumah tangga atas barang konsumsi adalah
interdependen. Artinya pengeluaran konsumsi rumah
tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan
oleh orang sekitarnya.
b) Pengeluaran konsumsi adalah irrevesibel. Artinya
pola pengeluaran seorang pada saat penghasilan
naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat
penghasilan mengalami penurunan.
D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI
Urain seperti itu didasarkan kepada pandang Keynes
yang berpendapat tingkat kosumsi dan tabungan terutama
ditentukan

oleh

tingkat

pendapatan

rumah

tangga.

Walaupun pendapatan rumah tangga penting peranannya

14

dalam menentukan konsumsi, peranan faktor-faktor lain


tidak dapat diabaikan. Di bawah ini diterangkan beberapa
faktor lain yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan
tabungan.
a. Kekayaan yang Telah Terkumpul
Sebagai akibat dari mendapat harta warisan, atau
tabungan yang banyak sebagai akibat usaha di masa lalu,
maka

seseorang

berhasil

mempuyai

kekayaan

yang

mencukupi. Dalam keadaan seperti itu ia sudah tidak


terdorong lagi untuk menabung lebih banyak. Maka lebih
besar bagian dari pendapatannya yang digunakan untuk
konsumsi di masa sekarang. Sebaliknya, untuk orang yang
tidak memperoleh warisan atau kekayaan; mereka akan
lebih

bertekad

untuk

menabung

untuk

memperoleh

kekayaan yang lebih banyak di masa yang akan datang,


atau untuk memenuhi kebutuhan masa depan keluarganya
seperti membeli rumah, membiayai pendidikan anak atau
membuat tabungan untuk persiapan di hari tua.
b. Suku Bunga
Suku
bunga
dapatlah
di
pandang

sebagai

pendapatan yang diperoleh dari memlakukan tabungan.


Rumah tangga akan membuat lebih banyak tabungan
apabila suku bunga tinggi karena lebih banyak pendapatan
dari penabungan akan diperoleh. Pada suku bunga yang
rendah orang tidak begitu suka membuat tabungan karena
mereka

merasa

lebih

baik

melakukan

pengeluaran

konsumsi dari dari menabung. Dengan demikian pada


tingkat

bunga

yang

rendah

masyarakat

cenderung

menambah pengeluaran kosumsinya.


c. Sikap Berhemat
Berbagai masyarakat mempuyai sikap yang berbeda
dalam menabung dan belanja. Ada masyarakat yang tidak

15

suka berbelanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan


tabungan. Dalam masyarakat seperti itu APC dan MPCnya
adalah

rendah.

Tetapi

ada

pula

masyarakat

yang

mempuyai kecenderungan mengkonsumsi yang tinggi,


yang berarti APC dan MPCnya adalah tinggi.
d. Keadaan Perekonomian
Dalam perekonomian yang tumbuh dengan teguh
dan

tidak

banyak

pengangguran,

masyarakat

berkecenderungan melakukan pengeluaran yang lebih


aktif. Mereka mempuyai kecenderungan berbelnaja lebih
banyak pada masa kini dan kurang menabung. Tetapi
dalam

keadaan

kegiatan

perkembangannya,
tendensi

perekonomian

tingkat

meningkat,

dan

yang

pengangguran
sikap

lambat

menunjukan

masyarakat

dalam

menggunakan uang dan pendapatannya menjadi makin


berhati-hati.
e. Distribusi Pendapatan
Dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya
tidak

merata,

lebih

banyak

tabungan

aakan

dapat

diperoleh. Dalam masyarakat yang demikian (a) sebagian


besar pendapatan nasional dinikmati oleh segolongan kecil
penduduk yang sangat kaya, dan (b) golongan masyarakat
ini mempuyai kecenderungan menabung yang tinggi. Maka
mereka

dapat

menciptakan

tabungan

yang

banyak.

Segolongan besar penduduk mempuyai pendapatan yang


hanya cukup membiyai konsumsinya dan tabunganannya
adalah

kecil.

Dalam

masyarakat

yang

distribusi

pendapatannya lebih seimbang tingkat tabunganannya


relatif sedikit karena mereka mempuyai kecondongan
mengkonsumsi yang tinggi.
f. Tersedia Tidaknya Dana Pesiun yang Mencukupi

16

Progam dana pensiun dijalankan di berbagai negara.


Ada negara yang memberikan pensiun yang cukup tingi
kepada golongan penduduknya yang lebih tua. Apabila
pendapatan dari pensiun besar jumlahnya, para pekerja
tidak terdorong untuk melakukan tabungan yang banyak
pada masa bekerja dan ini menaikan tingkat konsumsi.
Sebaliknya, apabila pendapatan pensiun sebagai jaminan
hidup di hari tua sangat tidak mengcukupi, masyarakat
cenderung

menabung

lebih

banyak

ketika

mereka

bekerja.10
Adapun faktor lain yang mempengaruhi konsumsi:
a. Pendapatan
Faktor yang pertama adalah besar pendapatan
seseorang. Dimana semakin besar pendapatan seseorang
maka akan semakin banyak jumlah dan barang yang akan
dikonsumsi, dan begitu juga dengan sebaliknya semakin
kecil pendapatan seseorang maka semakin sedikit pula
barang atau jasa yang dikonsumsi. Sehingga konsumsi
yang dilakukan oleh seorang pejabat akan berbeda dengan
konsumsi yang dilakukan oleh petani.
b. Harga barang dan jasa
Faktor yang mempengaruhi

konsumsi

selanjutnya

adalah harga barang dan jasa. Yang mana semakin mahal


(tinggi) harga suatu barang atau jasa maka akan semakin
sedikit jumlah dan macam barang yang dikonsumsi, dan
begitu juga sebaliknya. Sebagai contoh, tidak semua orang
bisa memiliki mobil-mobil sport yang harganya milyaran
rupiah, sehingga yang mampu membeli mobil tersebut
adalah orang-orang yang sangat kaya raya.
10 Sadono Sukirno, MakroekonomiTeori Pengantar, (Jkarta:Rajawali
Pers:2013), hal 119-121

17

c. Tingkat pendidikan
Faktor yang mempengaruhi konsumsi yang ke tiga
adalah tingkat pendidikan, dimana semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang biasanya semakin banyak barang
atau jasa yang dikonsumsi, dan juga sebaliknya. Tentunya
ini juga tergantung dari besar pendapatan dari seseorang
tersebut, akan tetapi pada umumnya seseorang yang
memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, akan lebih mudah
dalam meraih kesuksesan dan memiliki pendapatan besar,
walaupun tidak semua yang memiliki tingkat pendidikan
tinggi memiliki pendapatan besar.
d. Jumlah keluarga
Faktor yang mempengaruhi konsumsi yang ke empat
adalah jumlah anggota keluarga. Semakin banyak jumlah
anggota keluarga tentu konsumsinya akan semakin banyak
pula, dan semakin sedikit jumlah anggota keluarga maka
baranng/jasa yang dibutuhkan juga semakin sedikit.
e. Jenis kelamin
Faktor yang mempengaruhi konsumsi yang ke lima
adalah jenis kelamin, barang atau jasa yang dibutuhkan
antara pria dan wanita pasti berbeda, sebagai contoh
adalah wanita akan lebih banyak membutuhkan kosmetik
daripada pria, dan lain sebagainya.
f. Selera
Faktor yang mempengaruhi konsumsi yang ke enam
adalah

selera.

Seseorang

yang

ingin

selalu

terlihat

berpenampilan menarik, tentu akan membutuhan pakaian


dan

perlengkapannya

untuk

membuatnya

semakin

menarik. Sementara itu, orang yang cenderung cuek


dengan penampilannya, pasti akan berpenampilan apa
adanya.

18

g. Adat istiadat
Faktor yang mempengaruhi konsumsi yang ke tujuah
adalah

adat

istiadat.

Adanya

adat

mempengaruhi jumlah atau jenis

istiadat

akan

barang yang akan

dikonsumsi. Sebagai contoh, misalnya dalam upacara


ritual,

dibutuhkan

digunakan

untuk

barang-barang
pelaksanaan

tertentu

upacara.

yang

akan

Jumlah

atau

macam barang yang digunakan ini tentunya tergantung


dari daerah yang mempunyai adat tersebut.11

BAB III
11 http://www.kitapunya.net/2015/08/faktor-faktor-yang-mempengaruhikonsumsi.html di Unduh Oleh Aprilia S.P pada hari Senin 3 Oktober 2016

19

PENUTUP
Kesimpulan
konsumsi adalah usaha untuk menghabiskan atau
menggunakan barang-barang produksi. Konsumsi akan
selalu ada dalam setiap kehidupan manusia. Konsumsi
dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginannya. Oleh karena itu konsumsi tidak akan pernah
berhenti dalam kehidupan manusia.
Fungsi konsumsi secara umum

menghubungkan

seluruh

diinginkan

pengeluaran

konsumsi

yang

oleh

seluruh rumah tangga dalam suatu perekonomian dengan


faktor yang menentukannya.
Dalam

bentuknya

yang

umum,

fungsi

konsumsi

mempunyai persamaan:
C = a + bY
Keterangan:
a : konsumsi pada saat pendapatan nol
b : MPC (Marginal Propensity to Consume)
C : tingkat konsumsi
Y : tingkat pendapatan
Fungsi konsumsi menurut Keynes yang mengatakan
bahwa ada pengeluaran konsumsi minimum yang harus
dilakukan oleh masyarakat (outonomous consumtion)
dan pengeluaran konsumsi akan meningkat dengan
bertambahnya penghasilan.
Fungsi konsumsi menurut Keynes sebagai berikut:
C = f (Y), dimana bentuk fungsinya
20

C=a+cY
C : Merupakan konsumsi masyarakat riil
A : Besarnya konsumsi pada tingkat Y = 0
c = MPC (hasrat konsumsi marginal = delta C / delta Y)
Y : Besarnya pendapatan riil
Fungsi konsumsi menurut
Simon Kuznets yang
menggunakan rata-rata dari data untuk periode yang
panjang yakni 10-30 tahun, dan menyimpulkan bahwa
hubungan antara konsumsi dan pendapatan adalah
mendekati proporsional. Simon Kuznets menemukan
fungsi konsumsi jangka panjang yaitu C = MPC*Y.
Adapun beberapa teori-teori konsumsi, yakni :
a. Teori Konsumsi John Maynard Keynes
Pertama dan terpenting Keynes menduga bahwa,
kecenderungan

mengkonsumsi

marginal

(marginal

propensity of consume) jumlah yang di konsumsi dalam


setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu.
Kedua,
terhadap

Keynes

menyatakan

pendapatan,

mengkonsumsi

yang

rata-rata

bahwa
disebut

(avarange

rasio

konsumsi

kecenderungan
prospensity

to

consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa


tabungan adalah kemewahan, sehingga ia berharap orang
kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dapat
pendapatan
Keynes

mereka

berpendapat

ketimbang
bahwa

yang

miskin.

pendapatan

Ketiga,

merupakan

determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak


memiliki peranan penting. Keynes menyatakan bahwa
pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas
teori. Berdasrkan tiga dugaan ini, fungsi konsumsi keynes
sering ditulis sebagai : C = C + cY, C > 0, 0 < c < 1
b. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen
(Milton Friedman)

21

Menurut
digolongkan

teori

ini

menjadi

pendapatan
2

yaitu

masyarakat

pendapatan

dapat

permanen

(permanent income) dan pendapatan sementara (transitory


income).
c. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup
Franco
Modigliani
menerangkan
bahwa

pola

pengeluaran konsumsi masyarakat mendasarkan kepada


kenyataan bahwa pola penerimaan dan pola pengeluaran
konsumsi seseorang pada umumnya dipengaruhi oleh
masa dalam siklus hidupnya.
d. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif.
James
Dusenberry
mengemukakan
bahwa
pengeluaran

konsumsi

suatu

masyarakat

ditentukan

terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah


dicapainya.Pendapatan berkurang, konsumen tidak akan
banyak mengurangi pengeluaran untuk konsumsi.
Faktor yang mempengaruhi konsumsi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kekayaan yang telah terkumpul


Suku bunga
Sikap hemat
Keadaan perekonomian
Distribusi pendapatan
Tersedia tidaknya dana pensiun yang mencukupi

22

DAFTAR PUSTAKA
Dwi Eko Waluyo dan Uci Yuliati, Ekonomika Makro, Malang:
Universitas Muhammadiyah Malang, 2013.
http://aabshare.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-teorikonsumsi-makro.html
https://n2cs.wordpress.com/2013/03/12/teori-konsumsi-dan-teoriinvestasi/
http://www.kitapunya.net/2015/08/faktor-faktor-yangmempengaruhi-konsumsi.html
Reksoprayitno, Soediono. Ekonomi makro: pengantar analisis
pendapatan nasional edisi ke 5. Yogyakarta, Liberty
Yogyakarta 1992.
Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner dan Douglas D. Purvis.
Pengantar makro ekonomi edisi ke8 . Jakarta. Erlangga 1993.
Rosyidi, Suherman (2009, Pengantar Teori Ekonomi (pendekatan
teori ekonomi Mikro dan Makro) Jakarta: Rajawali Pers.
Rudiger dornbusch, Stanley Fischer dan J.Mulyadi. Makro Ekonomi
edisi ke 4. Jakarta: Erlangga. 1992.
Sukirno, Sadono (2013, Makro Ekonomi Teori Pengantar) Jakarta:
Rajawali Pers.

23