Anda di halaman 1dari 16

I.

LATAR BELAKANG

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia. Sebagian besar wilayahnya adalah
wilayah perairan. Dengan begitu sumberdaya alamnya pun ikut melimpah. Salah satu
keanekaragaman spesiesnya adalah ikan. Ikan terdiri dari ikan air laut dan ikar air tawar.
Di Indonesia, sistem budidaya ikan air laut maupun air tawar sudah digeluti sejak
dahulu.
Bila dibandingkan dengan budidaya ikan air tawar, budidaya ikan laut dalam hal ini
budidaya ikan kerapu saat sekarang prospeknya sangat baik, karena komoditi ini
merupakan komuditi ekspor dengan tujuan ekspor utamanya adalah Hongkong.
Dari lima negara pemasok ikan kerapu hidup keHongkong, Indonesia memegang bangsa
pasar nomor dua (20 % pangsa pasar) setelah Thailand. Sekarang ini harga pasaran ikan
kerapu lumpur hidup ditingkat produsen sekitar Rp 150.000 ~ Rp 350.000,-/kg.
Ikan Kerapu merupakan jenis ikan laut yang banyak diminati konsumen karena tekstur
dagingnya yang lembut dan gurih. Ikan Kerapu merupakan ikan demersal yang bersifat
nocturnal (aktif pada malamhari). Habitat alaminya adalah perairan laut dengan dasar
berbatu karang, kedalaman antara 40-60 meter atau daerah dangkal berbatu koral. Ikanikan

muda

biasanya

hidup

pada

kedalaman

0,5

sampai

m((Mursitorini,Ellis&Ramdhani,Putri 2008). Bahasa internasional ikan kerapu adalah


grouper, banyak restoran menghidangkan ikan kerapu sebagai menu utama mereka. Ikan
Kerapu ini bisa mencapai berat ratusan kilogram, seperti pernah di tangkap nelayan di
perairan australia yang punya berat 275 Kg. Di Indonesia sendiri jenis ikan kerapu
sangat banyak, dan jenis yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis kerapu lumpur
Bila potensi dan peluang pasar yang ada ini dimanfaatkan secara optimal dan benar,
niscaya akan dapat meningkatkan pendapatan nelayan khususnya dan pendapatan daerah
umumnya. Disamping itu dengan kondisi ekonomi sekarang ini, dimana naiknya harga
Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan semakin meningkatnya biaya produksi
dalam penangkapan dan semakin berkurangnya hasil tangkapan nelayan, semuanya ini
mengakibatkan hasil pendapatan nelayan sangat rendah sekali bahkan hasil tangkapan
tidak dapat menutupi biaya operasi yang telah digunakan. Akhir semuanya ini tentunya
menyebabkan para nelayan akan semakin terpuruk dalam jurang kemiskinan.
1

Dengan adanya potensi sumberdaya alam (budidaya laut) yang cukup besar ini,
merupakan peluang besar bagi masyarakat dalam melakukan diversifikasi usaha,
diantaranya adalah usaha budidaya ikan kerapu Lumpur (Epinephelus coioides) dalam
Karamba Jaring Apung. Dengan kata lain, usaha ini dapat dijadikan sebagai mata
pencaharian alternatif yang sangat menguntungkan.
Keberhasilan usaha budidaya ikan kerapu lumpur dengan menggunakan Karamba Jaring
Apung (KJA), sangat tergantung kepada penguasaan teknologi yang menyeluruh
mengenai budidaya ikan kerapu tersebut, sehingga hal ini merupakan kunci dari
keberhasilan usaha itu sendiri. Disamping masalah teknis yang tidak kalah pentingnya
adalah masalah sosial ekonomis, seperti keamanan dan pemasaran.

II.

PEMILIHAN LOKASI

Tidak semua perairan pantai dapat dijadikan tempat usaha budidaya ikan kerapu. Hal ini
dikarenakan adanya faktor-faktor yang harus dipenuhi sebelum usaha budidaya ikan
kerapu tersebut dimulai. Faktor-faktor tersebut adalah:
2.1. Faktor Resiko
Faktor resiko sangat ditakuti oleh para pembudidaya ikan kerapu, karena faktor ini dapat
menjadi kegagalan total dalam usaha budidaya ikan kerapu. Namun demikian
perhitungan dan pertimbangan secara cermat atas faktor ini akan dapat membawa
keberhasilan operasional budidaya. Adapun yang termasuk ke dalam faktor resiko ini
adalah :

A. Pencemaraan. Lokasi hendaknya terhindar atau jauh dari sumber


pencemar, seperti limbah rumah tangga, pertanian dan industri.
Limbah rumah tangga dapat berupa buangan detergen, berbagai zat
racun (pesticida atau insektisida) dan bahan padat seperti kaleng,
pla stik dan lain-lain yang dapat menyebabkan berbagai gangguan
pada ikan kerapu yang kita pelihara. Kemudian limbah dari pertanian
misalnya herbisida, insektisida dan kotoran hewan. Sedangkan dari
2

limbah industri dapat berupa minyak, logam-logam berat dan limbah


industri lainnya yang bersipat racun.
B. Manusia. Faktor yang berhubungan dengan manusia ini adalah
keamanan, yang mana kalau suatu lokasi tempat usaha budidaya tidak
aman, maka para investor akan lari atau tidak mau menanamkan
modalnya untuk usaha ini. Masalah yang sering terjadi dalam hal ini
adalah pencurian dan sabotase yang dilakukan oleh manusia-manusia
yang tidak bertanggung jawab. Tetapi dengan pendekatan sosialkultural yang baik biasanya masalah ini dapat diatasi atau dihindari.
C. Konflik penggunaan lahan. Dalam menentukan lokasi tempat usaha
budidaya ikan kerapu, lahan tempat usaha haruslah berbas dari konflik
atau masalah penggunaan lahan, dimana lokasi haruslah bebas dari
jalur lalu lintas kapal, dan juga haruslah memperhatikan perkembangan kota atau daerah (dalam arti kata sesuai dengan pola tata ruang
yang telah disusun oleh pem erintah).
D. Gangguan alam (badai dan gelombang besar). Badai dan
gelombang besar akan merusak kontruksi keramba. Disamping itu
badai dan gelombang yang terus menerus juga mengakibatkan akan
terjadinya pengadukan dasar perairan, sehingga menyebabkan zat-zat
organic dan anorganik yang mengendap didasarkan perairan akan naik
keatas, dan ini tertentunya akan menimbulkan dampak buruk terhadap
perairan

tersebut

seperti

menurunnya

(buruknya)

kualitas

ai r. Semuanya ini tentunya akan menyebabkan ikan menjadi stress


dan selera makannya berkurang, sehingga dapat menurunkan produksi
yang dapat dipanen nantinya. Tinggi gelombang tidak lebih dari 0,5
meter.
E. Pasang surut. Kondisi pasang surut yang terlalu besar juga akan
menyebabkan terjadinya gangguan terhadap kehidupan ikan kerapu
yang dibudidayakan. Hal ini terjadi terutama pada lokasi perairan
yang dekat dengan sumber air tawar (misalnya didepan muara sungai),
yang mana pada waktu surut, air tawar akan terbawa jauh ketengah
3

laut, sehingga kondisi ini menyebabkan turunnya kualitas air, terutama


menurunnya salinitas dengan drastis dan pH (derajat keasaman).
Lokasi seperti itu kurang baik untuk dijadikan tempat usaha budidaya
ikan kerapu ma can, karena fluktuasi salinitasnya sangat besar sekali,
sehingga mempengaruhi nafsu makan, ikan menjadi stress dan
pertumbuhannya terganggu dan bahkan dapat menyebabkan kematian
pada ikan kerapu lumpur peliharaan.
2.2. Faktor Kemudahan
Disamping faktor di atas, kemudahan dalam penyediaan sarana dan prasarana
yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu juga harus kita perhatikan,
diantaranya :

A. Sarana dan prasarana transportasi. Lokasi untuk usaha budidaya


ikan kerapu ini haruslah memiliki transportasi yang lancar, sebab
sarana dan prasarana transportasi yang minim akan mengakibatkan
membesarnya biaya produksi, sehingga akan mengakibatkan harga
jual menjadi tinggi, dan akibatnya tidak mampu bersa ing di pasaran.
Disamping itu dengan minimnya sarana dan prasarana tranportasi juga
akan mengakibatkan sulitnya dalam memasarkan hasil panen nantinya.
Jadi dengan terjamin sarana dan prasarana transportasi maka akan
memudahkan dal am mendapatkan saprodi (sarana produksi) seperti
benih dan pakan.
B. Ketersediaan benih. Lokasi yang akan dijadikan tempat usaha
budidaya ikan kerapu juga harus memperhatikan mudah atau tidaknya
mendapatkan benih, sebab ketersediaan benih yang berkualitas baik
dan kontinyu juga merupakan faktor mutlak dalam menentukan
keberhasilan suatu usaha budidaya ikan kerapu.
C. Ketersediaan pakan. Daerah yang dekat dengan sumber pakan
merupakan lokasi yang diharapkan, karena pakan merupakan kunci
keberhasilan dalam budidaya ikan kerapu. Apabila lokasi suatu usaha
budidaya ikan kerapu jauh dari sumber pakan, maka ketersediaan
pakan yang berkualitas baik dan kontinyu sukar didapatkan, sehingga
4

hal ini mengakibatkan biaya produksi juga meningkat, dan akhirnya


keuntungan yang diperoleh akan lebih kecil atau rendah.
D. Pemasaran, yang mana lokasi usaha haruslah daerah yang mudah
untuk memasarkan hasil panen, dan ini tentunya juga tidak lepas dari
sarana dan prasarana transportasi ke lokasi usaha.
2.3. Faktor Hidrologi
A. Faktor Fisika, meliputi :
Suhu atau temperatur perairan,

yaitu 27-32 oC, dengan

fluktuasi harian kurang dari 5 oC.


Kedalaman perairan, minimal 5 meter (3m tinggi jaring
keramba, 2 m jarak antara dasar jaring dengan dasar perairan ).
Kecerahan, perairan harus jernih yaitu minimal kecerahannya 5
meter.
Kecepatan arus, yaitu idealnya 15-30 cm / det.
B. Faktor Kimia, meliputi :
Salinitas (kadar garam), yaitu 30-33 o/oo. Lokasi yang dekat
dengan muara sungai tidak dianjurkan untuk lokasi pemeliharaan
ikan kerapu lumpur,, karena pada daerah seperti itu fluktuasi
salinitasnya sangat besar sekali sehingga dapat mempengaruhi
nafsu makan dan pertumbuhan ikan kerapu.
Derajat keasaman (pH), Kondisi perairan dengan pH netral
sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan kerapu
lumpur. Suatu perairan yang ber-pH rendah dapat mengakibatkan
aktivitas pertumbuhan menurun atau ikan menjadi lemah serta
lebih

mudah

terserang

penyakit

sehingga

mengakibatkan

tingginya angka kematian (mortalitas). PH perairan yang baik


untuk ikan kerapu lumpur adalah 8,0-8,2.
Oksigen terlarut, Ketersediaan oksigen terlarut dalam perairan
sangat dibutuhkan oleh ikan kerapu yang dipelihara untuk hidup.
Rendahnya konsentrasi oksigen dalam perairan akan meyebabkan
kurangnya nafus makan dan rendahnya pertumbuhan ikan kerapu
yang kita pelihara dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
5

Kandungan oksigen teralarut yang ideal untuk pemeliharaan ikan


kerapu adalah diatas 5 ppm.
Biological Ocxygen Demand (BOD), yang mana parameter ini
menunjukan aktivitas biologi yang ada dalam suatu perairan.
Batas ideal BOD untuk pemeliharaan ikan kerapu lumpur adalah
tidak melebih 5 ppm selama 5 hari.
Amoniak (NH3), Kandungan amoniak tinggi biasanya terdapat
pada perairan yang tercemar dengan bahan-bahan organik. Untuk
pemeliharaan ikan kerapu, kandungan amoniak di perairan tempat
pemeliharaan tidak boleh lebih dari 1,0 ppm.
C. Faktor Biologi, meliputi :
Predator, dalam menentukan lokasi juga harus diperhatikan
keberadaan hewan-hewan predator, sebab hal ini juga akan
mengganggu tingkat keberhasilan dalam melakukan usaha
pemeliharaan ikan kerapu. Adapun hewan-hewan predator yang
harus menjadi perhatian disini diantaranya adalah hewan-hewan
laut buas, seperti anjing laut, ikan-ikan besar, ikan buntal, dan juga
hewan-hewan darat seperti burung.
Total koloni bakteri, parameter ini biasanya terjadi pada perairan
yang tercemar bahan organik. Total koloni bakteri untuk budidaya
ikan kerapu tidak boleh melebihi 3.000 sel / m3.
Menurut Tim Perikanan WWF Indonesia (2011) syarat pemilihan lokasi yang baik untuk
budidaya ikan kerapu lumpur ini adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Perairan terlindung dari ombak dan angin yang besar.


Lokasi mudah dijangkau.
Mendapat ijin dari instasi terkait (desa,dinas perikanan).
Penempatan lokasi budidaya sesuai dengan tata ruang dan jumlahnya dikontrol

5.
6.
7.
8.

oleh Pemerintah Daerah.


Bebas pencemaran terutama logam berat.
Dekat dengan sumber pakan.
Kecerahan air lebih dari 5 meter.
Kecepatan arus berkisar 0,1-0,3 m/detik.

9. Keramba apung memiliki jarak minimal 1 meter antar dasar jaring dan dasar
laut.
10. Lokasi mempunyai topografi yang landai dengan dasar bepasir atau lumpur
berpasir
11. Salinitas berada pada kisaran 27 ppt-33 ppt. Dengan fluktuas i maksimal 3 ppt.
12. PH berada pada kisaran lebih dari 7.
13. Kisaran suhu 27oC-30oC ,dengan fluktuasi maksimal 3oC.
14. Oksigen terlarut (DO) lebih dari 5 ppm.
15. Perbedaan pasang dan surut sebaiknya 100-200 cm.
16. Penempatan karamba tidak mengganggu alur pelayaran.
III.

PEMBUATAN KERAMBA JARING APUNG


a. Kerangka
Kerangka Keramba Jaring Apung (KJA) dibuat dari kayu rasak
dengan ukuran 8 m x 10 m setiap unitnya. Setiap unit KJA terdiri
dari 4 petak (lubang) pemeliharaan dengan ukuran 3 m x 3 m, yaitu 3
petak yang digunakan untuk pemeliharaan dan 1 petak untuk
cadangan. Pada bahagian tengah KJA terdapat juga 2 petak (lubang)
dengan ukuran masing-masingnya 3 m x 1,5 m, yaitu 1 petak untuk
rumah jaga dan pelatarannya serta 1 petak lagi untuk tempat
pemeliharaan ikan yang sakit.
b. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka keramba jaring
apung. Bahan pelampung yang akan digunakan adalah drum plastik
volume 200 liter yaitu sebanyak 35 buah. Sebelum digunakan,
kedalam drum plampung dimasukan sedikit karbit. Penggunaan
karbit ini bertujuan untuk mengisi udara didalam pelampung,
sehingga dengan demikian daya apungnya akan lebih bagus.
c.

Waring / Jaring
Dalam KJA ini ada 3 (tiga) tingkat ukuran mata waring/jaring, yaitu
(a) Waring bagan dengan ukuran mata (mesh size) sekitar 0,5 cm, (b)
Jaring polyethylene ukuran mata (mesh size) 1,0 inchi, dan (c) Jaring
polyethylene ukuran mata (mesh size) 1,5 inchi. Setiap unit KJA
mempunyai 6 buah waring bagan (3 buah dipakai dan 3 buah untuk
waring pengganti), 6 buah jaring polyethylene mesh size 1,0 inchi (3
7

buah dipakai dan 3 buah untuk jaring pengganti), dan 6 buah jaring
polyethylene mesh size 1,5 inchi (3 buah dipakai dan 3 buah untuk
jaring pengganti).
d. Jangkar
Jangkar berfungsi sebagai penahan KJA agar tidak hanyut terbawa
arus. Jangkar terbuat dari besi yang mana setiap unit KJA
membutuhkan 4 (empat) buah jangkar. Berat masing-masing jangkar
adalah 50 kg.
e. Penyangga dan Pemberat
Supaya posisi waring/jaring simetris seperti kubus, maka pada
bahagian luar bawah jaring dipasang kayu penyangga sebanyak dua
buah masing-masing waring/jaring yang dipasang secara diagonal.
Kemudian pada masing-masingujung kayu penyangga tersebut
diikatkan pemberat yang terbuat dari beton atau batu dengan berat
antara 5 ~ 10 kg/buah. Setiap unit waring / jaring mempunyai 4 buah
pemberat.
f.

Rumah Jaga
Rumah jaga berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan KJA dan
tempat berteduh penjaga dari hujan dan panas. Rumah jaga
berukuran 2,5 m x 2,0 m yang dilengkapi pelataran (teras) ukuran 2,5
m x 1,25 m, dengan atap terbuat dari seng. Setiap unit KJA
mempunyai 1 (satu) buah rumah jaga.

IV.
IV.1

PEMELIHARAAN IKAN KERAPU


Penebaran Benih

Benih yang datang dari Bali atau Lampung biasanya berukuran 5 ~ 8 cm. Jumlah benih
yang ditebarkan adalah 350 ekor perpetak waring/jaring. Penebaran sebaiknya dilakukan
pada pagi atau sore hari. Sebelum benih ditebarkan kedalam waring, terlebih dahulu
dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian diri, yaitu dengan jalan memasukkan benih
bersama kantong yang masih tertutup ke dalam waring. Setelah suhu air dalam kantong
sesuai dengan suhu air dalam waring, maka dilakukan penebaran benih dengan cara
8

membuka kantong platik dan kemudian masukkan air laut dari waring sedikit demi
sedikit, dan setalah itu baru kantong plastik tersebut dimiringkan perlahan-lahan
kedalam waring dan biarkan ikan keluar dengan sendirinya.
Pemeliharan benih (gelondongan) di dalam waring ini dilakukan selama 1,5 bulan,
yang mana setelah pemeliharaan selama 1,5 bulan tersebut, ikan kerapu telah mencapai
ukuran 10 ~ 13 cm dengan berat 50 ~ 75 gram/ekor. Selanjutnya ikan kerapu dipelihara
dalam kantong jaring mesh size 1,0 inchi yaitu selama 3,5 bulan. Selama pemeliharaan
3,5 bulan ini, ikan kerapu akan berukuran 18 22 cm dengan berat 150 200
gram/ekor. Setelah itu ikan kerapu dipelihara dalam kantong jaring mesh size 1,5 inchi,
yaitu selama 4 bulan atau sampai panen.
IV.2

Pemberian Pakan

Jenis pakan yang diberikan adalah ikan-ikan kecil seperti ikan bada atau teri. Apabila
pakan berasal dari ikan-ikan besar, maka yang diambil dan diberikan kepada ikan kerapu
hanya dagingnya saja. Dalam pemberian pakan ini, sebaiknya jenis pakan yang
diberikan beragam, jadi tidak hanya berasal dari ikan saja, tetapi dapat juga cumi-cumi
dan udang. Hal ini berhubungan dengan memenuhi kebutuhan gizi ikan kerapu, sebab
dengan jenis pakan yang berragam ini, kebutuhan gizi (asam-asam amino, asam-asam
lemak, vitamin dan mineral) ikan kerapu akan lebih komplit (lengkap).
Sebelum diberikan, pakan ikan tersebut terlebih dahulu dibersihkan dan kemudian
digiling halus dengan menggunakan penggiling daging. Pada bulan pemeliharan ke tiga,
pakan yang berasal dari ikan-ikan kecil dihaluskan dengan cara digunting kecil-kecil.
Demikian seteruskan, dimana semakin besar ikan kerapu peliharaan, maka ukuran pakan
yang dapat dimakan oleh ikan kerapu akan semakin besar pula.
Pemberian pakan dilakukan 2 (dua) kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pemberian
dialukan secara ad-libitum (atau sekitar 5,0-7,5 % dari berat biomas ikan kerapu
peliharaan). Pemberikan pakan dilakukan sedikit demi sedikit dengan cermat, sehingga
tidak ada pakan yang terbuang percuma kedalam air. Sebab hal ini dapat menyebabkan
buruknya kualitas air dalam KJA akibat dari pembusukan sisa makanan tersebut.
Pemberian pakan dihentikan setelah melihat benih ikan kerapu tersebut tidak mau
makan lagi. Kedalam pakan ikan sebaiknya dilakukan penambahan multivitamin dan
mineral, karena penambahan vitamin dan mineral ini dapat menambah kekebalan tubuh
9

ikan terhadap serangan penyakit, menambah nafsu makan ikan, menambah kinerja atau
kesegaran tubuh ikan sehingga terlihat lebih aggresif, dan dapat menurunkan angka
kematian (mortalitas). Pemberian multivitamin ini dapat dilakukan melalui pakan
dengan selang waktu 2 (dua) kali seminggu. Pada waktu pemeliharaan memasuki bulan
ke 2 (dua) sampai bulan ke 3 (tiga), adalah merupakan saat kritik, dimana ikan mudah
stress dan mati sehingga mortalitasnya meningkat. Pada waktu kondisi ini sebaiknya
pemberian multivitamin dan mineral dilakukan setiap pemberian pakan dengan dosis
0,25 % dari berat pakan. Salah satu jenis multivitamin yang dapat diberikan adalah
vitastress. Adapun jenis vitamin yang dapat menekan mortalitas ini adalah vitamin B 6,
sedangkan vitamin C untuk mencegah stress pada ikan.
IV.3

Pencucian / Memandikan Ikan

Memandikan ikan dengan air tawar bertujuan untuk memutus rantai penyebaran parasit
atau menghilangkan parasit-parasit yang menempel pada tubuh ikan kerapu peliharaan.
Memandikan ikan dilakukan paling lambat sekali dalam 15 hari atau tergantung pada
kondisi ikan kerapu peliharaan, misalnya nafsu makannya mulai berkurang atau gerakan
ikan kurang lincah dari biasanya. Berdasarkan pengalaman dilapangan, ternyata untuk di
Kawasan Mandeh ikan kerapu dimandikan paling lambat sekali dalam 10 hari, atau
kurang dari 10 hari yaitu apabila terlihat tanda-tanda yang tidak normal pada ikan, yang
biasanya terjadi pada kondisi kualitas air yang menurun. Ikan kerapu dimandikan
dengan jalan merendam ikan tersebut dalam air tawar selama 2 ~ 3 menit
4.3 Gradding Ikan
Gradding ikan atau pemisahan ukuran ikan kerapu peliharaan perlu dilakukan, yaitu
dengan tujuan untuk menghindari kanibalisme ikan kerapu yang ukuran besar terhadap
ikan kerapu yang ukuran kecil. Disamping itu juga untuk menghindari persaingan
berebut pakan, yang mana biasanya yang besar akan mengalahkan yang kecil dalam
berebut pakan. Pemisahan ukuran ini dilakukan bersamaan waktunya dengan
pencucian/memandikan ikan.
4.4 Penggantian waring/jaring
Penggantian waring/jaring dilakukan bersamaan dengan waktu memandikan ikan
kerapu. Pada kenyataannya, di kawasan Mandeh waring/jaring lebih cepat kotor apalagi
10

pada musim hujan, sehingga pada kenyataannya waring diganti sekali dalam 10 hari dan
bahkan kadang-kadang bisa sekali dalam seminggu, yaitu apabila terlihat waring telah
kotor dan sirkulasi air tidak dapat berjalan dengan baik. Waring/jarring yang kotor tidak
hanya menghambat surkulasi air, tetapi juga merupakan sumber sarang penyakit bagi
ikan kerapu peliharaan. Waring/jaring yang kotor ini dicuci didarat dengan
menggunakan air tawar dan setelah itu dijemur sampai kering.
4.5 Pembersihan pelambung
Sekali dalam sebulan perlu dilakukan pemeriksaan dan pembersihan drum/pelampung.
Sebab dalam waktu sebulan drum telah banyak ditumbuhan oleh algae dan tritip.
Kondisi yang kotor ini juga merupakan media yang baik bagi perkembangan parasit dan
penyakit yang akan menyerang ikan kerapu nantinya. Pembersihan drum plampung
dilakukan dengan jalan membalikan drum dan dibiarkan kering terjemur matahari
beberapa hari, dan setelah itu dikikis dengan parang untuk membersihkan drum
pelampung tersebut. Sedangkan apabila ada drum yang kempes, maka drum plempung
tersebut dibuka dari ikatannya dan diperbaiki, sehingga kondisi drum tersebut bulat
normal kembali.
4.6 Pengamatan kondisi ikan
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mengamati apakah terjadi perubahan-perubahan
terhadap kondisi ikan. Pengamatan tidak hanya dilakukan pada siang hari saja tetapi
juga pada malam hari, bahkan pada malam hari akan lebih mudah mengamati
perubahan-perubahan tingkah laku yang terjadi pada ikan kerapu. Kalau hasil
pengamatan ditemukan ikan yang tingkah lakunya tidak normal, maka dengan segera
harus ditangani dan memisahkan ikan tersebut dari kelompoknya.

V. PENYAKIT IKAN KERAPU


Salah satu kendala yang sering dihadapi dalam pembesaran ikan kerapu lumpur dalam
karamba jaring apung adalah penyakit. Penyakit timbul akibat adanya interaksi antara
ikan, patogen dan lingkungan. Adapun penyakit yang pada umumnya menyerang ikan
kerapu lumpur peliharaan dapat dikelompokan atas 6 (enam) kelompok, yaitu : (a)
Penyakit Parasiter, (b) Penyakit Bakterial, (c) Penyakit Mikal, (d) Penyakit Viral, (e)
Penyakit Malnutrisi, dan (f) Penyakit lingkungan.
11

5.1. Penyakit Parasiter


a. Trematoda
Trematoda merupakan cacing pipih

Diplectinum sp. yang banyak

menyerang ikan kerapu. Parasit ini menyerang insang, hati dan mata.
Adapun gejalanya adalah : nafsu makan berkurang, warna tubuh dan
insang pucat, produksi lendir dipermukaan tubuh banyak, ikan selalu
berenang di bahagian permukaan air dengan kondisi megap-megap
dengan tutup insang terbuka. Penanggulangan penyakit ini menurut
(Dewi.,dkk 2011)

terdapat ada 4 cara. Pertama dengan perendaman

larutan 30-50 ppm selama 1 jam. Kedua dengan perendaman dengan


formalin 30-50 ppm ditambah dengan acriflavine 10 ppm selam 1 jam.
Ketiga perendaman dengan formalin 100-200 ppm selama 30-60 menit
terutama untuk ikan berukuran besar. Dan yang terakhir adalah
perendaman dengan larutan H2O2 200 ppm selama 1 jam.

b. Cryptocaryon
Penyakit ini disebabkan oleh serangan protozoa Cryptocaryon sp. yang
lebih dikenal dengan nama penyakit bintik putih. Bagaian tubuh yang
diserang adalah permukaan tubuh, ekor, insang dan mata. Gejala dari
penyakit ini adalah mata ikan kerapu membengkak, insang dan mata
ditumbuhi semacam kista sebesar kepala jarum pentul dan berwarna putih
terjadi pendarahan pada bagaian sirip, produksi lendir tubuh meningkat,
dan nafsu makan ikan hilang. Menurut (Dewi.,dkk 2011) penyakit ini bisa
diobati dengan 3 cara yaitu yang pertama perendaman larutan formalin 25
ppm selama 1 jam,diulang selama tiga hari berturut-turut. Yang kedua,
perendama dengan air tawar selama 15 menit diulang selama tiga hari
berturut-turut. Yang terakhir dengan larutan CuSO4 0,5 ppm selama 5-7
hari. Sewaktu perendaman dilakukan, setiap hari setengah bagian air
perendaman harus diganti dengan air segar, dan larutan CuSO 4

12

ditambahkan kembali kemudian dipindahkan ke bak lain sebanyak tiga


kalii dengan interval/selang waktu tiga hari.
c. Tricodiniasis
Penyakit ini disebabkan oleh serangan protozoa Tricodina sp. Protozoa
ini akan banyak menenpel pada insang, permukaan tubuh dan sirip ikan
kerapu. Gejala yang timbul akibat dari serangan protozoa ini adalah
produksi lendir meningkat, nafsu makan hilang, terdapat peradangan pada
kulit luar, dan berenang tidak normal. Pada serangan yang sudah parah
dapat menyebabkan siripnya sobek-sobek. Menurut (Dewi.,dkk 2011)
penanggulangan penyakit ini ada 3 cara. Yaitu yang pertama adalah
perendaman dengan formalin 25-30 ppm selama 1-2 hari. Yang kedua
yaitu perendaman dengan larutan formalin 30 ppm ditambah acriflavine
10 ppm selama 1 jam,diulangi selama tiga hari berturut-turut. Yang ketiga
adalah perendaman dengan air tawar selama setengah jam (tergantung
ketahanan ikan),diulang selama 3 hari.

5.2. Penyakit Bakterial


Jenis penyakit bacterial yang sering menyerang ikan kerapu lumpur
adalah penyakit vibriosis. Pemnyakit ini disebabkan oleh serangan
bakteri Vibrio sp. Bakteri ini biasanya bertindak sebagai patogen
sekunder yang timbul akibat infeksi primer dari parasit. Gejala yang
timbul akibat serangan penyakit ini adalah nafsu makan berkurang, lesu,
terdapat pembusukan pada sirip, mata menonjol, terjadi pengumpalan
pada perut (perut kembung), anus berwarna merah akibat peradangan.
Penyakit ini bisa dicegah dengan beberapa cara. Menurut (Dewi.,dkk
2011) ada 4 cara. Pertama adalah menghindari stress karena pakan. Pakan
ikan harus segar dan pakan buatan tersimpan dengan baik. Kedua
mengatur padat penebaran. Ketiga dengan mengatuur sirkulasi dalam
KJA dengan membersihkan jaring dari organisme penempel secara rutin.
Terakhir dengan vaksinasi (dengan dosis yang disesuaikan serta vaksin
13

yang dipakai telah teregistrasi di Kementrian Kelautan dan Perikanan).


Pengobatan ikan yang sakit akibat dari serangan penyakit ini dapat
dilakukan dengan jalan merendam ikan yang sakit dengan oksitetrasiklin
25 ppm selama 1 jam. Kemudian diukuti dengan pemberian
oksitetrasiklin melalui pakan, yaitu dengan dosisi 2 ~ 3 gram / kg pakan.
Pengobatan dilakukan selama seminggu berturut-turut.
5.3. Penyakit Mikal
Penyakit mikal adalah penyakit yang timbul akibat serangan jamur.
Penyakit ini akan menyerang ikan yang sedang stress ataupun luka.
Disamping itu, penyakit ini juga dapat masuk melalui makanan yang
telah terinfeksi jamur (pakan yang kotor). Secara fisik luar, ikan tidak
menunjukan gejala sakit, tetapi apabila dilihat dari dalam akan ditemukan
pembengkakan pada organ limpa, hati dan ginjal yang disertai dengan
benjolan berwarna putih. Cuma kadang-kadang terlihat gerakan ikan
tidak menentu dan kadang-kadang disertai dengan pembengkakan perut.
Penyakit ini dapat dicegah dengan jalan: menghidari luka fisik pada ikan,
memberikan pakan yang segar dan bersih, dan memisahkan ikan yang
sakit dari wadah pemeliharaan. Untuk pengobatan luar dapat dilakukan
dengan merendam ikan yang sakit dalam larutan methylene blue 0,1 ppm
selama 15- 45 menit. Sedangkan untuk pengobatan dari dalam belum ada
obatnya.
5.4. Penyakit viral
Menurut Koesharyani et.al (2001) dalam Johnny daan Des Roza (2009)
Penyakit infeksi yang sering menimbulkan kematian massal pada benih
ikan kerapu dari jenis viral adalah iridovirus( family iridoviridae) dan
viral nervous necrosis (VNN). Penyakit ini menyerang ikan kerapu pada
stadia larva. Larva yang terserang mula-mula tenggelam didasar wadah
pemeliharaan kemudian akan mengapung dipermukaan air dengan
kondisi perut mengembung. Yang kedua adalah penyakit Sleepy Grouper
Disease yang disebabkan oleh Iridovirus. Penyakit ini sering menyerang
ikan kerapu pada stadia juvenil atau gelondongan. Ikan yang terserang
14

penyakit ini akan nampak lemah dan berdiam didasar waring seperti tidur.
Gejala ikan yang terinfeksi penyakit ini akan mengalami anemia dan
pembesaran pada organ limpa, warna gelap, insang pucat dan berenang
berputar. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini, belum ada obatnya,
tetapi dapat dicegah dengan memberikan pakan yang nilai gizinya
seimbang, menjaga sanitasi lingkungan dan menggunakan benih yang
berasal dari induk yang bebas virus.
5.5. Penyakit Malnutrisi
Penyakit ini disebabkan oleh karena ikan kekurangan zat gizi (protein,
lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral). Gejala dari penyakit ini adalah
hati pucat, ikan kelihatan lesu dan lemah, mata bengkak, pertumbuhan
lambat dan mortalitas tinggi. Penyakit ini dapat diatasi dengan
permberian pakan yang cukup gizi dan berimbang.

5.6. Penyakit Lingkungan


Penyakit yang disebabkan oleh terjadinya perubahan factor lingkungan
Swim Blader Syndrome. Penyakit ini sering kali menyerang ikan kerapu,
apabila kondisi lingkungan (kualitas air) jelek, misalnya pada waktu
musim hujan dan badai. Ikan kerapu yang terserang p0enyakit ini tidak
bias berenang dentgan normal, jadi ikan akan berenang dengan posisi
terbalik dan perutnya kelihatan kembung. Penyakit ini dapat dobati
dengan jalan mengeluarkan udara dari dalam perut ikan yang sakit.
Caranya adalah : masukkan jarum suntik kedalam perut lewat daerah
dekat anus, dan setelah itu lakukan pengurutan perut ikan yang sakit
secara perlahan-lahan sampai perut ikan kemps. Setelah kemps, jarum
dicabut, dan bekas luka tusukan jarum tersebut diolesi dengan antiseptik
seperti obat merah/betadin.

15

Daftar Pustaka
Dewi,Dkk. 2011. Penanganan Penyakit Ikan Budidaya Laut. Juknis Seri Budidaya Laut
No: 12 Edisi Revisi Isbn : 979-98017-1-0. Kementrian Kelautan Dan
Perikanan

Direktorat

Jenderal

Perikanan

Budidaya

Balai

Besar

Pengembangan Budidaya Laut Lampung.


Mursitorini,Dkk. 2008. Penyakit Ikan Kerapu. Kementrian Kelautan Dan Perikanan
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Loka Pemeriksaan Penyakit Dan
Lingkungan : Serang.
Tim Perikanan WWF Indonesia. 2011. Budidaya Ikan Kerapu-Sistem Keramba Jaring
Apung&Tancap Versi 1. WWF Indonesia .

16