Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH BERPRESTASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kewiirausahaan atau kegiatan berwirausaha dapat dikatakan membantu perkembangan
perekonomian Negara dengan menyediakan pekerjaan dan memproduksi barang dan jasa bagi
konsumen dalam negeri maupun di luar negeri (Ade,2009a). kewirausahaan di pandang sebagai
fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Proses kewirausahaan
diawali oleh inovasi yang dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal misalnya Locus of Control, toleransi nilai-nilai, pendidikan, pengalaman.
Sedangkan faktor eksternal berupa peran, aktivitas, peluang, organisasi, dan keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang menafsirkan dan memandang
bahwa kewirausahaan adalah identik dengan apa yang dimiliki dan dilakukan oleh usahawan
atau wiraswasta. Pandangan tersebut kurang tepat karena jiwa dan sikap kewirausahaan tidak
hanya dimiliki oleh usahawan namun juga oleh setiap orang yang berfikir kreatif dan bertindak
inovatif.
Seorang wirausahawan yang berhasil selalu mampu dan memiliki kompetensi untuk
menghadapi setiap resiko atau peluang yang muncul. Beberapa karakteristik yang harus dimiliki
wirausahawan agar dapat menjalankan kegiatan wirausaha dengan baik menurut (Ade,2009b)
antara lain: 1) percaya diri, 2) berorientasikan tugas dan hasil, 3) sikap pengambil resiko,4)
kepemimpinan, 5) keorisinilan, 6) berorientasi ke masa depan, 7) jujurdan tekun. Keseluruhan
karakteristik tersebut dapat dicapai hanya bila wirausahawan memiliki motivasi untuk
menjadikan usahanya berhasil. Oleh sebab itu, penulis ingin mengungkapkan keterkaitan antara
motivasi berprestasi dengan kewirausahaan dalam makalah ini yang berjudul Motivasi
Berprestasi dalam Berwirausaha
B. Rumusan Masalah
Rumusan maslah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian motivasi berprestasi?
2. Bagaimana menjelaskan teori motivasi berprestasi?
3. Bagaimana menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter pekerja keras?

4. Bagaimana memahami dan dapat menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter yang tidak
pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dan masalah?
5. Bagaimana memahami dan menjelaskan wirausaha yang memeiliki karakter semangat yang
tinggi?
6. Bagaimana memahami dan menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter komitmen yang
tinggi terhadap pekerjaannya?
C.

1.
2.
3.
4.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
Mengetahui pengertian motivasi berprestasi?
Mengetahui menjelaskan teori motivasi berprestasi?
Memahami dan menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter pekerja keras?
Memahami dan dapat menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter yang tidak pantang

menyerah dalam menghadapi tantangan dan masalah?


5. Memahami dan menjelaskan wirausaha yang memeiliki karakter semangat yang tinggi?
6. Memahami dan menjelaskan wirausaha yang memiliki karakter komitmen yang tinggi terhadap
pekerjaannya?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi Berprestasi
Motivasi merupakan proses psikologis yang mendasar, dan merupakan salah satu
unsur yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi merupakan salah satu faktor penentu
dalam mencapai tujuan. Motivasi berhubungan dengan dorongan atau kekuatan yang berada
dalam diri manusia. Motivasi berda dalam diri manusia untuk menampilkan tingkah laku ke arah
pencapaian suatu tujuan tertentu. Ada beberapa pendapat ahli yang berpendapat tentang
pengertian motivasi, antara lain:

Abu Ahmadi (2004), motivasi merupakan dorongan yang telah terikat pada suatu tujuan.

Gerungan (1966), menyatakan bahwa motivasi merupakan dorongan dalam diri manusia yang
menyebabkan ia berbuat sesuatu.

Lindzey, Hal, dan Thompson (1975) menyatakan bahwa motivasi merupakan sesuatu yang
menimbulkan tingkah laku.

Sedangkan Prestasi, menurut Sardiman A.M (2001:46) Prestasi adalah kemampuan nyata yang
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun
dari luar individu dalam belajar. Sedangkan pengertian prestasi menurut A. Tabrani (1991:22)
Prestasi adalah kemampuan nyata (actual ability) yang dicapai individu dari satu kegiatan atau
usaha.Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996:186) Prestasi adalah hasil yang telah
dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Sedangkan menurut W.S Winkel (1996:165)
Prestasi adalah bukti usaha yang telah dicapai.
Jadi motivasi berprestasi adalah dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan
hal-hal yang terbaik dalam hidup dan lingkungannya. Suatu kehidupan seseorang akan
ditemukan adanya reaksi yang berbeda terhadap berbagai tugas dan tanggung jawabnya.
McClelland dalam bukunya Memacu Masyarakat Berprestasi (1983) membedakan
tiga kebutuhan yang ada pada manusia, yaitu : kebutuhan berprestasi atau n-Ach, kebutuhan
untuk berkuasa n-Afiliation, dan kebutuhan untuk berafiliasi atau n-Afiliation. Ia mengatakan
bahwa motivasi berprestasi di dalam menyeleksi suatu aktivitas atau pekerjaan yaitu dengan
usaha aktif, sehingga memberikan hasil yang terbaik. n-Ach, ini akan mencerminkan dalam
perilaku individu yang selalu mengarah pada suatu keunggulan. Seseorang yang memiliki
motivasi berprestasi yang tinggi akan menyukai tugas-tugas yang menantang, bertanggung
jawab, dan terbuka untuk umpan balik yang memperbaiki prestasi inovatif-kreatif.
McClelland (Myron Weiner, 1984) menyatakan bahwa motivasi berprestasi diberi
nama Virus mental yaitu n-Ach ("Need for Achievement"). Virus mental terjadi pada diri
seseorang, cenderung orang itu akan bertingkah laku secara giat. Dengan menambah n-Ach
seseorang akan menjadi bertamah giat dan tekun dalam berupaya, tidak hanya sekedar mencari
keuntungan, namun berupaya lebih keras agar mencintai pekerjaan, untuk mendapat kepuasan
dalam hidup.
B. Teori Motivasi Berprestasi
Banyak teori untuk memahami motivasi. Salah satu teori yaitu proses, yang berusaha
menjelaskan proses munculnya hasrat seseorang untuk menampilkan tingkah laku tertentu.
Equity Theory; teori ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan

yang adil. Expanctancy Theory; besar kecilnya usaha kerja yang akan diperlihatkan oleh
seseorang, tergantung pada bagaimana orang ini memandang kemungkinan berhasil dari tingkah
lakunya itu dalam mencapai atau menghindari.
Wirausahawan yang berhasil ialah mereka yang mempunyai motif berprestasi tinggi
(High n ach person). Sifat khas motif berprestasi tinggi yaitu.
1. Mempunyai komitmen dan tanggung jawab terhadap pekerjaan
2. Cenderung memilih tantangan
3. Selalu jeli melihat dan memanfaatkan peluang
4. Objektif dalam setiap penilaian
5. Selalu memerlukan umpan balik
6. Selalu optimis dalam situasi kurang menguntungkan
7. Beriorentasi laba
8. Mempunyai kemampuan mengelola secara proaktif.
Sikap dan motivasi merupakan bagian yang saling berkaitan dalam keseluruhan
organisasi kepribadian individu. Sikap dan motivasi memiliki hubungan yang timbal balik dan
akan menunjukkan kecenderungan berprilaku untuk memenuhi tercapainya pemuas kebutuhan.
Dalam motivasi untuk memenuhi kebutuhan karakter yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha
yaitu:
1. Pekerja Keras (Hard Worker)
2. Tidak Pernah Menyerah (Never Surrender)
3. Memiliki Semangat (Spirit)
4. Memiliki Komitmen (Comitted) yang tinggi
C. Pekerja Keras (Hard Worker)
Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Rasulullah sangat
marah melihat orang pemalas dan suka berpangku tangan. Bahkan, beliau secara simbolik
memberi hadiah kampak dan tali kepada seseorang lelaki agar mau bekerja keras mencari kayu
dan menjualnya ke pasar. Demikian pula, jika mau berusaha, mulailah berusaha sejak subuh.
Jangan tidur sesudah subuh, cepatlah bangun dan mulailah kegiatan untuk hari itu. Akhirnya,
laki-laki itu sukses dalam hidupnya.
Demikian juga, setiap pengusaha yang sukses selalu menempuh saat-saat ia harus
bekerja keras membanting tulang dalam merintis perusahaannya. Seorang pengusaha taksi

mungkin tadinya ia hanya seorang sopir angkutan umum, seorang pengusaha tekstil mungkin
tadinya seorang pedagang kredit tekstil atau tukang jahit, dan banyak lagi contoh yang dapat kita
jumpai dalam riwayat hidup pengusaha yang sukses.
Kerja keras atau etos kerja sering dianggap sebagai mimpi kuno, dan seharusnya
diganti, tetapi hard-work dan smart-work tidaklah dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua
succesful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada
saat tidur pun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya. Melamunkan dan memimpikan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

kerjanya. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan etos kerja wirausaha yaitu:
Kerja itu suci, kerja merupakan panggilanku, aku sanggup bekerja benar
Kerja itu sehat, kerja yaitu merupakan aktualisasiku, aku sanggup bekerja keras
Kerja itu rahmat, kerja merupakan terima kasihku, aku snggup bekerja tulus
Kerja itu amanah, kerja merupakan tanggung jawabku, aku sanggup bekerja tuntas
Kerja itu ibadah, kerja merupakan kesuakaanku, aku sanggup bekerja kreatif
Kerja itu ibadah, kerja merupakan pengabdianku, aku sanggup bekerja serius
Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja sempurna.
Kerja itu kehormatan, kerja merupakan kewajibanku, aku sanggup bekerja unggul.
Sikap kerja keras harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Dalam hal ini, unsur
disiplin memainkan peran penting. Sebab, bagaimana orang mau bekerja keras jika disiplin tidak
ada. Dia harus mengatur waktu, sesuai irama kehidupan. Ada satu lagi elemen penting dalam
keberhasilan kerja keras, yaitu berserah diri kepada Allah SWT, dengan selalu berdoa kepadaNya.

D. Tidak Pernah Menyerah (Never surrender)


Aspek dari komitmen tinggi, yakni sikap bertahan untuk tetap ingin mencapai apa
yang diinginkan kendati mengalami kegagalan, mendapat hambatan dan rintangan.
Pada Hakikatnya sikap pantang menyerah merupakan perjuangan wirausahawan yang
tangguh, penuh semangat, tidak putus asa, kuat kerja keras dan tidak menyerah. Seorang
wirausaha mempunyai cita-cita tinggi untuk sukses didalam mengelolah kegiatan usahanya/
bisnisnya, cita-cita wirausahawan yang sangat tinggi untuk sukses didalam mengelola kegiatan
usaha/ bisnisnya akan menjadi pendorong dan daya tahan dalam menghadapi segala rintangan,
hambatan, cobaan dan kendala dalam berwirausaha. Para wirausahawan harus berambisi ingin
maju (ambitition drive) didalam melaksanakan kegiatan usaha bisnisnya. Akan tetapi, tentu saja
sikap kerja pantang menyerah dalam mengelola kegiatan usaha/bisnisnya harus ditunjang oleh
pengorbanan, perjuangan, semangat, dan kepercayaan pada diri para wirausahawan sendiri.
Sikap kerja pantang menyerah dalam berwirausaha pada hakikatnya merupakan sinar terang

keberhasilan dalam menjalankan kehidupan usahanya baik untuk diri wirausaha, keluarganya
maupun untuk masyarakat. Seorang wirausahawan yang memiliki sikap kerja pantang menyerah
didalam usahanya pada hakekatnya adalah orang yang tidak mengenal lelah didalam
berwirausaha. Adapun faktor-faktor yang dapat mendukung sikap kerja pantang menyerah dan
ulet dalam kegiatan usaha atau bisnis para wirausahawan yaitu :
1.

Bekerja dengan penuh keyakinan, penuh semangat, pantang menyerah dan ulet dalam
berwirausaha.

2. Bekerja dengan penuh ketekunan dan memiliki tekad yang terarah dalam berwirausaha
3. Bekerja berdasarkan kemampuan, bakat, minat, pengalaman, pendidikan dan kesanggupandalam
berwirausaha.
4. Bekerja penuh semangat, penuh kegairahan dan penuh ketabahan dalam berwirausaha.
Teruslah berusaha, terkamlah segala kesempatan yang ada, karena kesempatan itu tak
datang untuk kedua kalinya, tidak ada pendobrak kegagalan yg sekuat nilai "kegigihan" .
Ingatlah filsofi air yang bisa melubangi batu dengan tetesan yang terus terus-menerus. Beranilah
mengambil risiko namun dengan perhitungan yg mantap , Hadapi dan alamilah pengalaman dan
petualangan baru. Keberanian yg benar bukan berarti seperti orang yg terjun bebas ke jurang,
tapi seperti orang yg menuruninya setahap demi setahap dengan persiapan yg matang.Kalau
Anda tidak berani mengambil resiko, tentu saja Anda berada pada tempat yang aman namun
Anda tidak akan berkembang.
Hadapi kegagalan, karena kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan
dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagalan itu tidak
mematikan. Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bilamana itu sampai
terjadi, bersiaplah dan hadapilah!
Belajar dari kegagalan itu penting, jika persepsi danj sikap kita tepat mengenainya.
Kekeliruan terbesar yang membuat kita sulit bangkit dari kegagalan adalah salah kapra dalam
memandang dan sesat asumsi menafsirkannya. Banyak yang berpikir, orang-orang yang berhasil
yaitu mereka yang selalu berhasil. Orang-orang gagal apalagi beruntun tidak mungkin behasil.
E.

Memiliki Semangat
Seorang wirausaha harus berani tampil beda, kita memiliki kualitas prima dan telah
mempersiapkan para pemain kita, sekarang kunci peran ada pada diri kita, sebelum kita beranjak
untuk berjalan maju, maka kunci peran kita harus dimantapkan lebih dahulu.

Sebagai seorang wiraswasta, kita harus sering bernyanyi dan barangkali hanya dengan
bersiul. Ingat, kita sedang jatuh cinta. Hati kita berbunga-bunga, wajah kita berseri-seri.
Pertahankanlah itu, tunjukkanlah dalam hidup kita saat ini. Artinya, kita haruslah selalu gembira.
Kegembiraan ini merupakan obat untuk semangat kita, dan semangat kita merupakan obat
mujarab untuk mendukung kekuatan kita. Dengan semangat dan kekuatan akan menumbuhkan
keberanian yang mendukung kepada keberhasilan kita. Ingat, gembiralah karena kita akan segera
bertemu dengan si dia.
Semangat kewirausahaan yang perlu sekali dimasyarakatkan dan dibudidayakan pada
dan oleh para peemimpin pada umumnya dan para pengusaha (Indonesia) pada khususnya
sebagai berikut:
1. Kemauan kuat untuk berkarya (terutama dalam bidang ekonomi) dengan semangat mandiri;
2. Mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko;
3. Kreatif dan inovatif;
4. Tekun, teliti, dan produktif; dan
5. Berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.
F. Memiliki Komitmen (Comitted)
Porter (Mowday, dkk, 1982:27) mendefinisikan komitmen sebagai kekuatan yang
bersifat relatif dari individu dalam mengedentifikasikan keterlibatan dirinya. Hal ini dapat
ditandai dengan tiga hal, yaitu:
1. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
2. Kesiapan dan kesediaan untuki berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi.
3. Keinginan untuk mempertahankan usahanya.
Adapun Richard M. Steers (1985: 50) mendefinisikan komitmen sebagai rasa
identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik
mungkin demi kepentingan perusahaan) dan loyalitas yang dinyatakan oleh seorang wirausaha
terhadap perusahaannya. Steers berpendapat bahwa komitmen merupakan kondisi di mana
wirausaha sangat tertarik terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran perusahaan. Komitmen
terhadap perusahaan artinya lebih sekedar keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai
usahanya dan kesediaan untuk mengushakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan
perusahaan demi pencapaian tujuan. Berdasarkan definisi ini, dalam komitmen tercakup unsur

loyalitas, keterlibatan dalam pekerjaan, dan identifikasi terhadap nilai-nilai dan tujuan
1.

perusahaan. Jenis-jenis komitmen sebagai berikut:


Jenis komitmen menurut Allen dan Meyer (Dunham.1994:370) terbagi atas tiga komponen,

yaitu :
a) Komponen afektif berkaitan dengan emosional, identifikasi, dan keterlibatan wirausaha di dalam
b)

suatu pengembangan usaha.. organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi.
Komponen normatif merupakan perasaan wirausaha tentang kewajiban yang harus diberikan
kepada perusahaan. Komponen normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi,
tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimiliki wirausaha. Komponen normatif
menimbulkan perasaan kewajiban kepada wirausaha untuk memberikan balasan atas apa yang

c)

pernah diterimanya dari perusahaan.


Komponen continuance berarti komponen yang berdasarkan persepsi wirausaha tentang
kerugian yang akan dihadapinya jika meninggalkan perusahaannya.

2. Jenis komitmen dari Mowday, Porter, dan Steers


Komitmen dari Mowday, Porter, dan Steers lebih dikenal sebagai
pendekatan sikap terhadap organisasi. Komitmen organisasi ini memiliki dua komponen yaitu
sikap dan kehendak untuk bertingkah laku. Sikap mencankup:
a) Identifikasi terhadap perusahaan yaitu penerimaan tujuan organisasi, bahwa penerimaan ini
b)

merupakan dasar komitmen wirausaha.


Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab pekerjaan di perusahaan tersebut. Wirausaha yang
memiliki komitmen yang tinggi akan menerima hampir semua tugas dan tanggung jawab

c)

pekerjaan.
Kehangatan, afeksi, dan loyalitas terhadap perusahaan merupakan evaluasi terhadap komitmen,
serta adanya ikatan emosional dan keterikatan antara perusahaan dengan wirausaha. Wirausaha
dengan komitmen yang tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap
perusahaan.
Keunggulan utama yang harus terlebih dahulu dimiliki organisasi ialah keunggulan
dalam manajemen sumber daya manusia. Oleh karena itu, dunia usaha dalam menghadapi
persaingan global perlu memiliki karyawan yang mempunyai kompetensi dan komitmen
terhadap perusahaan. Sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan komitmen terhadap
perusahaan menurut Ulrich (1997:28) merupakan Intelectual capital yang sangat diperlukan
perusahaan dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
1. motivasi berprestasi adalah dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan hal-hal yang
terbaik dalam hidup dan lingkungannya. Suatu kehidupan seseorang akan ditemukan adanya
reaksi yang berbeda terhadap berbagai tugas dan tanggung jawabnya.
2. Equity Theory; teori ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan
yang adil. Expanctancy Theory; besar kecilnya usaha kerja yang akan diperlihatkan oleh
seseorang, tergantung pada bagaimana orang ini memandang kemungkinan berhasil dari tingkah
lakunya itu dalam mencapai atau menghindari.
Setiap pengusaha yang sukses selalu menempuh saat-saat ia harus bekerja keras membanting
tulang dalam merintis perusahaannya. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada
saat tidur pun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya.
4. Sikap pantang menyerah merupakan perjuangan wirausahawan yang tangguh, penuh semangat,
3.

tidak putus asa, kuat kerja keras dan tidak menyerah. Seorang wirausaha mempunyai cita-cita
tinggi untuk sukses didalam mengelolah kegiatan usahanya/ bisnisnya, cita-cita wirausahawan
yang sangat tinggi untuk sukses didalam mengelola kegiatan usaha/ bisnisnya akan menjadi
pendorong dan daya tahan dalam menghadapi segala rintangan, hambatan, cobaan dan kendala
dalam berwirausaha.
5. Semangat kewirausahaan yang perlu sekali dimasyarakatkan dan dibudidayakan pada dan oleh
para peemimpin pada umumnya dan para pengusaha, semangat kita merupakan obat mujarab
untuk mendukung kekuatan kita.

6.

Steers berpendapat bahwa komitmen merupakan kondisi di mana wirausaha sangat tertarik
terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran perusahaan. Komitmen terhadap perusahaan artinya lebih
sekedar keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai usahanya dan kesediaan untuk
mengushakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan perusahaan demi pencapaian tujuan.

B. Saran
Seperti kita ketahui bahwa motivasi berprestasi ini sangat penting dalam pembentukan
sikap berwirausaha. Karena seperti sudah diketahui, bahwa seorang wirausahawan harus mampu
berfikir kreatif, dan inovatif, serta memiliki semangat juang yang tinggi, sehingga mampu
menanggung segala resiko dalam pengambilan keputusan. Maka kami dari penulis menyarankan,
kita sebagai manusia hendaknya mengetahui potensi dalam berwirausaha yang ada dalam diri
kita, karena jika seseorang dapat memahami potensi yang ada dalam dirinya maka itu akan
mendorongnya untuk memperbaiki kinerjanya dan berupaya untuk meningkatkan lebih tinggi
lagi.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.galeripustaka.com/2013/03/pengertian-motivasi-berprestasi.html (Diakses tanggal 23 Maret
2014)
http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-motivas-berprestasi.html (Diakses tanggal 23 Maret
2014)
Suryana, Yuyus dan Kartib Bayu. Kewirausahaan: Pendekatan Karakteristik Wirausahawan Sukses.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group