Anda di halaman 1dari 6

TEKNOLOGI DAN INOVASI PADA SISTEM

HORMON
1. Sistem KB (Keluarga Berencana)
KB adalah program pemerintah yang bertujuan menciptakan
keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang dilaksanakan melalui
pengaturan jumlah anak dan jarak kelahiran. Banyak macam teknik
KB, ada yang permanent, ada yang sementara, dan ada yang secara
mekanik, kimia ataupun dengan menggunakan hormon. Teknik
penggunaan hormone pada dasarnya adalah upaya mencegah
terjadinya ovulasi. Dalam hal ini menggunakan hormone estrogen
dan progesterone sintetik. Hormon hormon tersebut ada yang
dikemas dalam bentuk pil, suntikan, ataupun susuk. Jika seorang
wanita menelan pil KB setiap hari maka dia telah memasukkan
hormon estrogen dan progesterone sintetik ke dalam tubuhnya.
Akibatnya, kelenjar hipofisis tidak akan menghasilkan FSH dan LH.
Tidak adanya FSH dan LH menyebabkan wanita tersebut tidak akan
hamil, karena FSH dan LH berfungsi merangsang terjadinya ovulasi
yang jika dibuahi akan terjadi kehamilan. Selain itu, progesterone
juga berperan merangsang penebalan dinding rahim, sehingga
menolak terjadinya implantasi (penempelan embrio pada dinding
rahim).
Cara kerja suntik KB :
a. Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga menekan
pvulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur wanita dari
indung telur.
b. Mengendalikan lendir mulut rahim menjadi lebih kental
sehingga sel mania tau spermatozoa sukar dapat masuk ke
dalam rahim.
c. Perubahan peristaltic tuba falopi, sehingga konsepsi dihambat.
d. Menipiskan lapisan endometrium, sehingga tidak siap untuk
kehamilan.
2. Pemijahan Ikan
Pemijahan sebagai salah satu bagian reproduksi merupakan
mata rantai daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup
spesies. Ikan berkembang biak secara seksual, yaitu terjadinya
persatuan sel telur ikan betina dan spermatozoa ikan jantan. Faktor
perangsang pemijahan terdiri dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yang utama adalah kematangan gonad ikan,
sedangkan faktor eksternal
merupakan lingkungan
termasuk
faktor fisika (cahaya, suhu, arus), faktor kimia (pH, kelarutan
oksigen, feromon), dan faktor biologis (adanya lawan jenis, dan
hormon). Untuk mempercepat pemijahan dapat pula diberikan
rangsangan buatan
berupa manipulasi lingkungan, suntikan

hormon atau imbas. Rangsangan imbas ditemukan oleh Balai Benih


Ikan Sentral Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara teknis, ikan mas yang memijah akan merangsang ikan tawes
baik yang berada di dalam maupun di luar hapa untuk ikut memijah.
Umumnya pemijahan ikan tawes mengikuti pemijahan ikan mas
dengan selang waktu antara 10 menit sampai dengan 1 jam 45
menit (Zairin, 2005).
Perkembangan budidaya telah meningkat pesat sejak teknologi
pembenihannya telah sepenuhnya dikuasai, berbagai teknologi
telah diterapkan dan dikembangkan pada pembenihan ikan patin,
yang antara lain melalui kawin suntik (induced spawning) yaitu
pemijahan yang dilakukan dengan pemberian rangsangan hormon
untuk mempercepat proses pematangan gonad, pembuahan telur
dan sperma dilakukan dengan teknik pengurutan (stripping) pada
induk jantan dan betina yang telah matang gonad. Larva hasil
penetasan telur kemudian dideder pada akuarium atau bak selama
2 -3 minggu sebelum kemudian dilakukan pendederan tahap
selanjutnya serta tahap pembesaran di Kolam, Keramba Tancap
maupun Keramba Jaring Apung (Satyani, 2008).
Teknologi stimulasi untuk pemijahan ikan menggunakan
hormon, khususnya hormon gonadotropin untuk merangsang indukinduk ikan agar dapat ovulasi dan spermiasi. Teknologi ini banyak
digunakan orang, terutama bagi ikan-ikan yang sulit dipijahkan
secara alami. Keberhasilan dalam penggunaan teknologi tersebut
sangat baik, namun kegagalan juga masih banyak ditemukan oleh
para pembudidaya. Hal ini disebabkan karena ketidak tepatan atau
krang akurasi dalam setiap proses atau tahapan dalam
penerapannya. Mulai dari pemilihan indk, penentuan kadar
hormon,cara penyuntikan, pengeluaran telur sampai kepemijahan
atau pembuahan telurnya memang memerlukan kecermatan dalam
aplikasinya. Kriteria atau standar yang benar dari setiap proses
harus dipatuhi agar teknologi stimulasi dapat memberikan hasil
yang maksimal seperti induk harus benar-benar matang gonad,
kadar hormon, harus tepat, serta cara pemijahan harus disesuaikan
dengan jenis ikannya (Satyani, 2008).
Penerapan teknologi stimulasi untuk pemijahan ikan dengan
cara suntik hormon baik itu pada ikan konsumsi maupun ikan hias
sudah banyak dilakukan orang. Ikan-ikan yang baru didomestikkan
maupun ikan lain yang sulit untuk memijah secara alami, teknologi
ini sangat membantu dan bermanfaat. Keberhasilan dari teknologi
ini ckup baik tetapi dalam prakteknya sering hasilnya tidak
maksimal dan kadang masih sering ditemui banyak kegagalan.
Proses pemijahan dimulai dari pemilihan induk, cara penyuntikan
atau stimulasi, pengeluaran telur dan sperma sampai pada
pemijahan atau pembuahan memerlukan ketelitian yang tinggi agar

hasilnya dapat maksimal. Apabila salah satu dari urutan proses di


atas tidak dilakukan dengan baik maka akan mengalami kegagalan
kegagalan (Lehninger, 2003).
Induk ikan yang akan diperlukan dengan suntikan hormon
harus benar-benar sudah siap atau matang gonad. Secara visual
induk matang gonad pada yang betina adalah yang perutnya
gendut karena mengandung telur. Agar tidak rancu dengan ikan
yang amat kenyang, maka seleksi akan baik dignakan pada ikan
yang dipuasakan dahulu selama 24 jam. Dengan melakukan
perabaan pada perut ikan betina yang telah matang gonad adalah
terasa lembek dan gendutnya sudah agak turun kebawah kearah
lubang genital atau lubang kelamin. Beberapa ikan ditandai pula
dengan lubang kelamin yang berwarna lebih cerah (merah) dan
melebar serta membengkak. Bagi induk jantan lebih mudah
menentukannya karena dengan pengurutan perut biasanya sperma
sebagai tanda matang gonad akan keluar dari lubang genital.
Sperma yang keluar dari lubang genital berupa cairan kental
umumnya berwarna putih seperti susu (Satyani, 2008).
Hormon gonadotropin untuk stimulasi pemijahan yaitu hormon
untk merangsang keluarnya telur dan sperma ikan. Kadar hormon
biasa dihitung dengan satuan perbobot ikannya. Kadar yang kurang
tidak akan direspon oleh tubuh ikan sementara kadar yang
berlebihan dapat membahayakan kesehatan ikan. Efek samping dari
hormon berlebih itu adalah arteriosclerosis atau penyempitan
pembuluh darah yang dapat menyebabkan kematian ikan
(Lehninger, 2003).
Waktu penyuntikan ikan umumnya sore hari atau malam hari
mulai pukul 15.00-21.00. Pada beberapa ikan penyuntikan induk
betina dilakukan dua kali tetapi ada pula yang satu kali. Apabila
dikerjakan da kali maka suntikan pertama adalah sepertiga, sisanya
dimasukkan pada suntikan kedua, dengan interval waktu sekitar
enam jam. Untuk ikan jantan penyuntikan hanya satu kali saja
dengan kadar 2/3 atau dapat juga sama dengan kadar betinanya.
Waktunya sama dengan saat suntik pertama betina (Satyani, 2008).
Cara penyuntikan atau memasukkan hormon merupakan
proses yang sangat penting. Walaupun ikan sudah diperlakukan
dengan suntikan tetapi sering terjadi ikan tidak mau ovulasi atau
spermiasi yang kemungkinan adalah salah dalam cara penyuntikan.
Hormon mungkin tidak masuk kedalam jaringan atau masuk hanya
sebagian saja. Oleh karenanya harus dilakukan dengan hati-hati
(Lehninger, 2003).
Telur yang dikeluarkan oleh ikan bentuknya tidak teratur,
setelah masuk kedalam air akan menjadi bulat dan mengemmbang
dalam waktu yang cepat. Air akan masuk kedalamnya diantara

chorion (kulit telur) dan isi telur membentuk ruang yang disebut
ruang perivitellina. Mycropile dimana sperma akan lewat masuk
kedalam untuk membuahi inti telur akan tertutup dalam waktu
singkat. Penutupan ini akan mengisolasi telur dalam lingkungan
khusus yang terpisah dari lingkungan luar ntuk perkembangan
embrio supaya aman. Sperma ikan terdiri atas spermatozoa dan
cairan sperma. Apabila masih dalam cairan sperma dan dalam
tubuh ikan, maka spermatozoa masuk kedalam air akan bergerak
kearah telur untuk membuahinya. Pergerakan atau motilitas
spermatozoa dalam air juga sangat singkat (Billard & Cosson, 2009).
Pembuahan atau fertilisasi secara awam adalah bercampurnya
telur dan sperma. Secara biologis merupakan proses masuknya
spermatozoa kedalam sel telur dan terjadinya fusi antara inti sel
telur dan inti spermatozoa. Akhir dari proses pembuahan ini adalah
terjadinya zygot yang akan berkembang menjadi embrio. Pada ikan
pembuahan dapat terjadi secara alami yaitu induk ikan betina akan
mengeluarkan telurnya sendiri dan segera diikuti oleh jantan yang
mengeluarkan sperma didekatnya. Pembuahan akan terjadi di
dalam air, dengan demikian induk-induk harus ditempatkan
berpasangan (Satyani, 2008).
Pembahan buatan yaitu dengan cara mencampurkan telur dan
sperma yang dikeluarkan dari induk dengan cara stripping
dikerjakan pada ikan-ikan yang lain. Karena dikerjakan dengan
bantuan tangan manusia maka harus dikerjakan sesuai dengan sifat
ikannya (Satyani, 2008).
Cara pemijahan ikan dengan suntik hormon :
Penyuntikan dengan hormon perangsang lebih praktis dilakukan
karena tidak memerlukan ikan donor dan tidak ada resiko kegagalan
dalam mengekstrak hipofisa. Hormon untuk penyuntikan yang
banyak dijual antara lain ovaprim dan Chorulon. Hormon akan
mempengaruhi kelenjar hipofisa yang berfungsi merangsang
pertumbuhan dan pematangan sel telur.
Sama seperti metode lainnya, kondisi calon induk ikan lele harus
sudah matang gonad. Induk yang disuntik adalah jantan dan betina.
Dosis penyuntikan dengan hormon perangsang ovaprim adalah 0,30,5 ml per kg bobot induk atau sesuaikan dengan petunjuk
pemakaian. Sebelum disuntikan, hormon perangsang seperti
ovaprim harus diencerkan dengan akuadestilata 3 kali lipatnya.
Proses penyuntikan dengan hormon perangsang sama dengan
proses penyuntikan dengan kelenjar hipofisa. Dan, proses
pemijahannya sama dengan pemijahan ikan lele secara alami.

3. Tes Yodium Pada Kelenjar Tiroid


Dokter menyebut tes yodium pada kelenjar thyroid sebagai tes
penyerapan yodium radioaktif digunkaan untuk mengevaluasi
kelenjar thyroid. Kelenjar yang penting ini, terletak di leher,
menghasilkan dua hormon utama pada system metabolisme tubuh.
Pada saat awal tes yodium pada kelenjar thyroid, Anda meminum
kapsul atau cairan yang mengandung sejumlah kecil yodium
radioaktif. Setelah anda menelan yodium tersebut, sejumlah
tertentu yodium radioaktif terakumulasi dalam kelenjar thyroid,
mengidentifikasikan kemampuan thyroid untuk menyerap dan
menahan yodium.
Tes yodium pada kelenjar thyroid digunakan untuk mendiagnosa
dengan akurat adanya hipertiroidisme, suatu kondisi dimana thyroid
terlalu aktif sehingga membebaskan hormonnya dalam jumlah yang
terlalu banyak. Walau demikian, tes yodium pada kelenjar thyroid
agak kurang akurat bagi diagnosa hipotiroidisme, suatu kondisi
diamana thyroid kurang aktif dan membebaskan hormon dalam
jumlah yang terlalu sedikit.
Tes penyerapan yodium radioaktif dapat dilakukan dengan alasan
sebagai berikut:
1. Untuk memeriksa fungsi kelenjar thyroid.
2. Untuk membantu diagnosa hipertiroidisme atau hipotiroidisme
3.
Untuk membantu membedakan antara penyakit Grave dan
tumor yang menghasilkan hormon thyroid.
Sebelum proses pemeriksaan ini dilakukan, ada beberapa hal yang
harus diketahui penderita, yang diantaranya adalah :
a. Pendrita harus berpuasa pada saat tengah malam sebelum
keesokan harinya akan dilakukan pemeriksaan. Penderita juga
akan diberikan yodium radioaktif dalam bentuk kapsul atau
cairan.
b. Pemeriksaan ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan
hasilnya biasanya akan diperoleh selama 24 jam.
c. Penderita akan ditanya oleh team medis apakah pernah
diinjeksikan yodium, misalnya seperti pada pemeriksaan sinar
x yang pernah dilakukan sebelumnya. Penderita juga akan
diinjeksikan cairan khusus dan menjalani scaning yang
menggunakan yodium atau menjalani pengobatan yang
berhubungan dengan thyroid.
d. Setelah penderita mengkonsumsi yodium radioaktif, kelenjar
thyroid penderita akan discan, yang selama scaning bagian
depan leher penderita akan ditempatkan di depan lat yang
endektesi disertai upaya untuk mengukur kadar radioaktif
dalam kelenjar thyroid.

Proses tes yodium pada kelenjar thyroid :


1. Setelah Anda meminum yodium radioaktif, kelenjar thyroid discan
setelah 6 jam dan kemudian setelah 24 jam.
2. Selama scanning, bagian depan leher Anda ditempatkan di depan
lat yang endeteksi dan mengukur jumlah radioaktif dalam kelenjar
thyroid.
Hasil normal
: Setelah 6 jam, 3-16% dari jmlah yodium
radioaktif terakumulasi dalam thyroid. Setelah 24 jam,
akumulasi menjadi 8-29 %. Sisa yodium diekskresikan
dalam urine.
Hasil
abnormal
:
Di
bawah
jumlah
normal
yodium
mengidentifikasikan hipotiroidisme, thyroidisitis subakut atau
kelebihan yodium. Di atas kadar normal mengidentifikasikan
hipertiroidisme, thyroidisitis Hashimoto awal, hypoalbumnemia,
pencernaan lithium, gondok kekurangan yodium.
Setelah selesai melaksanakan proses tes yodium, anda dapat maka
dalam jumlah kecil makanan setelah minum yodium. Ketika
prosedurnya selesai dilaksanakan Anda dapat kembali
melaksanakan pola makan sehari-hari. Tes yodium pada kelenjar
thyroid sebaiknya tidak dilakan sebelum masa kehamilan dan
menyusui katrena radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada
perkembangan bayi atau janin.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://yusnia-bio.blogspot.co.id/2009/04/sistem-hormonhormon-adalah-zat-kimia.html
2. http://www.slideshare.net/annasanshorie/keluarga-berencana
3. https://www.academia.edu/11249444/Sistem_Hormon
4. http://alamtani.com/cara-pemijahan-ikan-lele.html
5. http://dokterbelalank.blogspot.co.id/2013/09/tes-yodium-padakelenjar-thyroid.html
6. http://www.inijalanku.info/tes-yodium-pada-kelenjarthyroid.html