Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Latarbelakang
Kualitas dari produk pangan untuk konsumsi manusia pada dasarnya
dipengaruhi oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang dapat tumbuh padabahan
makanan diantaranya adalah bakteri dan kapang. Semua bakteri yangtumbuh pada makanan
bersifat heterotropik, yaitu membutuhkan zat organikuntuk pertumbuhannya (Faidan .
2011.).
MIkrob Pembentuk Toksin merupakan mikrob yang bersifat beracun
pada makanan dan minuman ,dapat pula menyebabkan penyakit, jika jumlah
nya banyak pada organisme yang memakannya,salah satu bakteri toksin yang
banyak di makanan dan minuman yang terkontaminasi yaitu Staphylococcus.
Staphylococcus

yang tumbuh pada

bahan pangan dan membentuk toksin

dengan menyebabkan intoksikasi (keracunan) bagi konsumennya. Toksin Staphylococcus


dapat menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti bisul,meningitis, osteomyelitis
pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan.Toksin yang dihasilkan tidak
akan termusnahkan walaupun bahan makanan yangtercemar toksin disimpan dalam lemari
es. Di dalam daging, Staphylococcus aureus dapat memperbanyak diri sampai pada
populasi yang sangat tinggi dan bakteri ini tidakakan mengubah warna, bau, maupun rasa
yang berarti (Hadioetomo, 1993)
Bakteri in merupakan gram positif dan ummunya memproduksi koagulasi
sehingga dapat di bedakan atas beberapa grup bedasarkan sifat imunitas koagulasenya.
Enterotoksin yang diperoduksi oleh S aureus bersifat panas dan masih aktif setelah di
panaskan pada suhu 100 C selama 30 menit. Dalam kasus keracunan makanan, perlu
dilakukan identifikasi sampai didapatkan tipe koagulase, tipe toksin dan tipe fage (Faidan .
2011.).
.Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan
pangan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk mengetahui adanya bakteri enteroksin , uji
S. aureus dapat dilakukan seara kualitatif dan kuantitatif dengan beberapa tahap dan
perlakuan media.( Syahidan 2010).
Berdasarkan Hal tesebut dilakukan lah praktikum mengenai Uji Mikroba Toksin
untuk mengetahui adanya bakteri S aureus dalam makanan dan minuman

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri S aureus dalam
makanan dan minuman

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 September
2016 bertempat di Laboratorium Mikrobiologi,Fakultas Pertanian Perikanan
dan Biologi,Universitas Bangka Belitung
Alat dan Bahan
Alat

yang digunakan dalam praktikum terdiri dari Cawan

Petri,Erlenmeyer,Tabung Reaksi dan Penangas Air. Sedangkan Bahan yang


digunakan yaitu Aquadesh, 4 Sampel Makan dan Minuman dan Media VJA
Cara Kerja
Pertama tama Alat dan Bahan yang digunakan dipersiapkan terlebih
dahulu. Lalu 1 ml makan dan minuman yang telah Homogen (untuk makanan
padat dibuat pengenceran terlebih dahulu), dituang dalam cawan petri ,
selanjutnya dimasukan ke media VJA dan SA ,kemudian diinkubasi pada suhu
35 C selama 24 jam,selanjutnya bakteri yang tumbuh dihitung dan
dideskripsikan penampakan koloni.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Berdasarkan hasil uji Mikroba Pembentuk Toksin di dapat berupa tabel
dengan hasil uji VJA dengan menggunakan 4 sampel makanan yang berupa
Pempek, Lepet, Kuah bakwan dan Kue
Tabel 1 Hasil uji Mikroba Pembentuk Toksin menggunakan 4 sampel berupa
Pempek, Lepet, Kuah bakwan dan Kue dan perlakuan berupa VJA
No

Sampel Makanan

Hasil perlakuan VJA

1.
2.
3.
4.

Pempek
Lepet
Kuah Bakwan
Kue

_
_
-

Pembahasan
Bedasarkan hasil tabel yang di dapat pada perlakuan VJA pada ke
empat sampel menghasilkan hasil yang Negatif bearti sampel ke empat
makanan tesebut tidak mengandung mikroba pembentuk Toksin, sehingga
tidak di perlukan uji lain untuk mengindetifikasi bakteri pembentuk toksin.
Sampel yang mengandung bakteri pembentuk toksin dapat melakukan uji
lanjut yaitu Media SA.Terdapat pula untuk menghitung jumlah koloni digu
nakan media selektif, seperti VJA, S 110 agar, BPA, MSA, CSM. Uji kualitatif
dapat dilakukan dalam beberapa tahap enrichment, seleksi dan isolasi,
identifikasi dan tipe koagulase dan fage.
A. Uji MIkroba Pembentukan Toksin dengan perlakuan VJA dan SA
Menurut Syahidan (2010) uji MIKroba Pembentuk Toksin dapat menggunakan
2 perlakuan yaitu
1. Vogel Johnson Agar Medium
Vogel Johnson Agar Medium mengandung mannitol, tellurite dan lithium
chloride yang berperan untuk mengisolasi bakteri yang bersifat koagulase
positip, karena semua yang bersifat koagulase positip akan tumbuh pada
media ini. S. aureus mempunyai koloni hitam sebagai akibat pengendapan
hasil reduksi tellurite. Media di sekitar koloni akan berubah menjadi kuning

akibat fermentasi mannitol. Adanya lithium chloride: sangat bermanfaat untuk


menghambat pertumbuhan bakteri lain termasuk E. coli. Namun demikian
media ini kurang mampu memilah S. aurrus karena semua koagulase positip
dapat tumbuh termasuk S. epidermidis dan Proteus
Uji Voges-Proskauer positif ditandai dengan warna biakan menjadi
merah muda sampai merah menyala setelah ditetesi larutan alfa naftol dan
KOH 40 % (3:1). Pada uji ini terjadi pembentukan asetimetilkarbinol dari
dekstrosa. Pada media VJA koloni Staphylococcus dapat mendegradasi
manitol membentuk asam yang ditandai oleh perubahan warna merah fenol
pada media menjadi kuning.
2. Media SA
Media SA adalah media khusus untuk mengidentifikasi bakteri yang
mengandung jenis bakteri Staphylococcus aureus pada pengamtan kali ini
tidak di temukan Staphylococcus aureus sehingga tidak dilakukan uji lanjut
,hasil pada media SA dapat bernilai positif maupun negatif. Nilai positif
menunjukan terdapat bakteri Staphylococcus aureus sedangkan negatif tidak
ditemukannya jenis bakteri Staphylococcus aureus,biasanya Media ini lanjutan
dari pengamatan VJA.
B. staphylococcus Aureus
Terdapat di semua jenis makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan,
baik dalam bentuk ataupun hasil olahannya. Juga banyak ditemukan pada
berbagai

jenis

sayuran.

Ada 23

spesies Staphylococcus

Aureus, tetapiStaphylococcus Aureus merupakan bakteri yang paling banyak


mengakibatkan keracunan pangan, Bakteri ini berbentuk bulat/kokus,
tergolong dalam bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak
membentuk spora. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas
sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal. Bakteri ini dapat
mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin dapat rusak secara bertahap
saat pendidihan minimal selama 30 menit(Suprihatin, 2004).
Sedangkan Menurut Syahidan (2010) Staphylococcus aureus merupakan
bakteri berbentuk bulat (coccus), yang bila diamati di bawah mikroskop tampak
berpasangan, membentuk rantai pendek,atau membentuk kelompok yang

tampak seperti tandan buah anggur. Organismeini Gram-positif. Beberapa strain


dapat menghasilkan racun protein yang sangattahan panas, yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia. Sebagian besar pencemar.
Staphylococcus aureus berasal dari susu murni. Staphylococcus aureus dapat
mencemari makanan dalam penyimpanan bersuhu40 o C sampai 60 o C dalam jangka
waktu yang lama, proses pasteurisasi,pemanasan ultra tinggi dan pemasakan normal
tidak mampu merusak enterotoksin Staphylococcus aureus, dikarenakan relatif stabil
dengan panas dan mampubertahan pada pemanasan suhu air mendidih 100 o C selama
10 menit (Widiyawati Ristiati 2004).
Pangan yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang
kaya protein misalnya daging, ikan, susu, dan daging unggas; produk pangan
matang yang ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti salad,
puding, dan sebagainya; produk pangan yang terpapar pada suhu hangat
selama beberapa jam; pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang
terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis
dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang. Staphylococcus Aureus dapat
menyebabkan penyakit staphylococcal. Staphylococcal adalah penyakit dari
usus-usus yang menyebabkan mual, muntah, diare, dan dehidrasi(Suprihatin,
2004).

KESIMPULAN

Adanya bakteri Staphylococcus dalam makanan dan minuman dapat


dilihat dengan dua uji media yaitu Media VJA dan Media SA. Hasil yang di
dapat benilai negative yang menunjukan ke 4 sampel tidak ditemukan bakteri
pembentuk toksin sehingga tidak dilakukan uji lanjut seperti uji SA,uji SA
menentukan adanya bakteri Staphylococcus aureus. Lebih spesifik. Pangan
yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya protein
misalnya daging, ikan, susu, dan daging unggas; produk pangan matang yang
ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti salad, puding, dan
sebagainya; produk pangan yang terpapar pada suhu hangat selama beberapa
jam.

DAFTAR PUSTAKA

Faidan F .2011. laporan mikrobiologi : uji cemaran


mikroba.http://www.academia.edu/9267634/laporan_mikrobiologi_uji_
cemaran_mikroba. (20 september 2016)
Hasriani Muhammad A, Umrah. 2013. Deteksi Bakteri Coliform Dan
Escherichia coli Pada Depot Air Minum Isi Ulang Di Kota Pasangkayu
Kabupaten Mamuju Utara
Sulawesi Barat. Jurnal Biocelebes.7(6) :40-48
Suprihatin, 2004, dalam Zuhri, Shofyan, 2009, Pemeriksaan Mikrobiologis
Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres. Surakarta.
Syahidan U. 2010. Makalah bakteri .
http://www.academia.edu/3653672/MAKALAH_BAKTERI(20
september 2016)
Widiyawati. Ristiati. 2004. Analaisi Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depot
Air Minum Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekolog Kesehatan.
3(1) : 64-73.