Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kanker leher rahim merupakan jenis penyakit kanker paling banyak
kedua di dunia yang diderita wanita di atas usia 15 tahun.Sekitar 500.000
wanita di seluruh dunia didiagnosa menderita kanker leher rahim dan rata-rata
270.000 meninggal tiap tahunnya.Untuk Indonesia, kanker leher rahim atau
yang juga disebut kanker serviks merupakan jenis kanker paling banyak yang
terjadi pada perempuan.Tanpa memandang usia dan latar belakang, setiap
perempuan beresiko terkena penyakit yang disebabkan virus Human
Papilloma (HPV) ini. Bahkan kanker ini sering menjangkiti dan membunuh
wanita usia produktif (30 sampai 50 tahun). Data yang didapat dari Yayasan
Kanker Indonesia (tahun 2007) menyebutkan setiap tahunnya sekitar 500.000
perempuan didiagnosa menderita kanker serviks dan lebih dari 250.000
meninggal dunia. Melihat tingginya faktor risiko penderita penyakit ini, sudah
seharusnya kaum perempuan melakukan screening atau deteksi dini.
Biasanya wanita usia subur melakukan pemeriksaan ketika ada
keluhan dan virus HPV sudah menjalar. Wanita yang telah terinfeksi HPV
sebaiknya dilakukan penapisan untuk menentukan apakah mereka mengalami
lesi prakanker awal, yang mudah diobati sebelum berkembang menjadi
kanker, melalui deteksi dini dengan metode Inspeksi Visual Asam asetat (IVA)
(Pokja Ginekologi Onkologi, 2009). Pelaksanaan deteksi dini bisa menjadi
jalan keluar yang efektif untuk menekan
1 angka kejadian kanker leher rahim.

Banyaknya kasus kanker leher rahim disebabkan pengetahuan yang


kurang tentang kanker leher rahim dan rendahnya kesadaran masyarakat
dalam deteksi dini

(Indrayana,2007). Masalah lain dalam usaha skrining

kanker serviks ialah keengganan wanita diperiksa karena malu. Penyebab lain
ialah kerepotan, keraguan akan pentingnya pemeriksaan, takut terhadap
kenyataan hasil pemeriksaan yang akan dihadapi, ketakutan merasa sakit pada
pemeriksaan, rasa segan diperiksa oleh dokter pria atau pun bidan dan
kurangnya dorongan keluarga terutama suami.
Salah satu metode pendeteksian dini terhadap kanker serviks tersebut
yakni metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Metode ini
tergolong sederhana, nyaman dan praktis. Dengan mengoleskan asam cuka
(asam asetat) pada leher rahim dan melihat reaksi perubahan, prakanker dapat
dideteksi. Metode ini sekarang banyak dikembangkan di fasilitas kesehatan
primer terutama di negara-negara berkembang, agar dapat dijangkau oleh
banyak wanita usia subur di lingkungan fasilitas kesehatan tersebut (Depkes
RI, 2007).
Pada tahun 1999, sebuah penelitian terhadap lebih dari 10.000 wanita
di Zimbabwe menjawab pertanyaan apakah IVA secara efektif dapat
membedakan leher rahim yang berpenyakit dan yang tidak. Pada tahap kedua
penelitian tersebut, dimana perkiraan kualitas pengujian langsung dikalkulasi,
sensitifitas IVA dilaporkan sebesar (77%) lebih tinggi dari pada Pap Smear,
sementara tingkat spesifik sebesar (64%) lebih rendah (University of
Zimbabwe, JHPIEGO Cervical Cancer Project, 1999). Sebuah temuan

penting dari penelitian di Zimbabwe adalah bahwa bidan, perawat dapat


dengan cepat belajar melakukan IVA di fasilitas kesehatan primer dan dapat
mengidentifikasi dengan benar wanita yang tidak berpenyakit, wanita yang
perlu segera mendapat pengobatan dan wanita yang perlu dirujuk karena
penyakit yang telah lanjut (Depkes RI, 2008).
Data terkini menunjukan bahwa pemeriksaan visual leher rahim
menggunakan asam asetat (visual inspecsi of the cervix using acetic acid-VIA)
paling tidak sama efektifitasnya dengan Pap smear dalam mendeteksi penyakit
kanker leher rahim. Di Indonesia tahun 2004 pada pertemuan Yayasan Kanker
Indonesia (YKI) ke-30, pernah dicetuskan penapisan kanker leher rahim
dengan metode IVA belum berkembang. Metode IVA mulai berkembang di
Indonesia tahun 2007 atas kerjasama antara Departemen Kesehatan dan
profesi terkait menyelenggarakan pilot project deteksi dini kanker leher rahim
di 6 kabupaten yaitu di Deli Serdang (Sumatera Utara), Kabupaten Gersik
(Jawa Timur), Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah), Kabupaten Guning Kidul
(Jogjakarta), Kabupaten Karawang (Jawa Barat) dan Kabupaten Gowa
(Sulawesi Selatan) dengan melatih tenaga kesehatan dan melaksanakan
deteksi kanker leher rahim dengan metode IVA. (Rasjidi 2009).
Di Jawa Tengah pada tahun 2008, pelaksanaan metode IVA sudah
dilaksanakan di berbagai kota, salah satunya di Kota Solo bekerjasama dengan
Rotary Club dan Palang Merah Indonesia (PMI) mengadakan bhakti sosial
dengan pemeriksaan gratis deteksi kanker leher rahim dengan metode IVA.

Sedangkan di Kota Semarang pada tahun 2009 diadakan pelatihan


tenaga kesehatan (dokter dan bidan) Puskesmas. Dari 37 puskesmas di kota
Semarang diambil 10 puskesmas untuk mensosialisasikan dan pelaksanaan
pemeriksaan kanker serviks dengan metode IVA. Data di Kotamadya
Semarang menempati urutan pertama,5939 kasus. (Profil Kesehatan Kota
Semarang, 2009).
Puskesmas Karang Ayu adalah salah satu dari 10 Puskesmas di kota
Semarang yang telah mengirim tenaga untuk mengikuti pelatihan deteksi dini
kanker leher rahim dengan metode IVA. dan telah dilakukan sosialisasi deteksi
dini kanker leher rahim dengan metode IVA sejak awal tahun 2010 melalui
kader kesehatan, tokoh agama, dan melalui kegiatan pertemuan Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga ( PKK ). Puskesmas Karang Ayu mempunyai jumlah
WUS ( wanita usia subur ) sebanyak 3186 orang dan baru 1,6% ( 50 wanita
usia subur) yang melakukan deteksi dini kanker leher rahim dengan metode
IVA ( Data puskesmas Karang Ayu Semarang 2009 ). Data dari kelurahan
Karangayu diperoleh data jumlah WUS sebanyak 2.136 orang, jumlah WUS
usia 30-45 tahun sebanyak 124 orang di RW 05. Jumlah klien yang melakukan
pemeriksaan IVA 34 orang, dan yang dinyatakan positif ada 4 orang (11,7% )
di RW 05.
Perilaku adalah hasil hubungan antara rangsangan (stimulus) dan
tanggapan (respon). Lawrence Green mencoba menganalisis perilaku manusia
dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyrakat dipengaruhi oleh

2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar
perilaku (non-behaviour causes).
Perilaku WUS dalam melakukan kunjungan IVA dipengaruhi oleh
pengetahuan, pendidikan, sikap, status bekerja, tingkat pendapatan, usia,
paritas.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti
Analisa faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku WUS (wanita
usia subur)

melakukan kunjungan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) di

Kelurahan Karang Ayu RW 05 Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.


B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan
permasalahan Apakah ada hubungan faktor faktor

yang berhubungan

dengan perilaku wus (wanita usia subur) dalam melakukan kunjungan IVA
(Inspeksi Visual Asam asetat) di Kelurahan Karang Ayu RW 05 Kecamatan
Semarang Barat, Kota Semarang?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum.
Untuk mengetahui hubungan faktor faktor yang mempengaruhi perilaku
WUS (wanita usia subur) melakukan deteksi dini dengan kunjungan IVA
(Inspeksi Visual Asam asetat) di Kelurahan Karang Ayu
Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

2. Tujuan Khusus

RW 05

a. Menggambarkan

berdasarkan

tingkat

pengetahuan

,sikap,status bekerja , pendapatan ,usia,


mempengaruhi

,pendidikan

dan paritas

yang

perilaku WUS ( Wanita Usia Subur ) melakukan

deteksi dini dengan kunjungan IVA


b. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan yang mempengaruhi
perilaku WUS ( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan
kunjungan IVA
c. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan yang mempengaruhi
perilaku WUS ( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan
kunjungan IVA
d. Mengetahui hubungan sikap yang mempengaruhi perilaku WUS
( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan kunjungan IVA
e. Mengetahui hubungan status bekerja yang mempengaruhi perilaku
WUS ( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini

melakukan

kunjungan IVA
f. Mengetahui hubungan pendapatan yang mempengaruhi perilaku WUS
( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan kunjungan IVA
g. Mengetahui hubungan usia yang mempengaruhi perilaku WUS
( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan kunjungan IVA
h. Mengetahui hubungan paritas yang mempengaruhi perilaku WUS
( Wanita Usia Subur ) melakukan deteksi dini dengan kunjungan IVA

i. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, sikap,


pekerjaan, pendapatan, usia, paritas dengan perilaku kunjungan IVA
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini kanker leher
rahim, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menemukan

secara

dini kanker leher rahim, Dapat meningkatkan peran serta masyarakat


dalam mencegah terjadinya kanker leher rahim, meningkatkan minat
masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim dengan
metode IVA, Dengan diadakannya pemeriksaan IVA masyarakat akan
mengetahui lebih dini gejala/tanda-tanda kanker leher rahim.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi maupun referensi
untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
a. Dapat menambah pengetahuan tentang deteksi dini kanker leher rahim
metode Infeksi Visual Asam asetat (IVA).
b. Dapat menjadi sarana bagi peneliti untuk menerapkan ilmu
pengetahuan yang telah didapatkan.
4. Bagi IPTEK
Dapat menambah informasi tentang deteksi dini kanker leher rahim
dengan metode Infeksi Visual Asam asetat (IVA).
5. Bagi Dinas Kesehatan

Diharapkan Program deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA
akan berjalan dengan baik.
E. KEASLIAN PENELITIAN
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No
1

Nama peneliti
Umbaraasih
(2009)

Judul penelitian
Studi Deskriptif
Tingkat
Pengetahuan Ibu
Tentang Deteksi
Dini Kanker
Leher Rahim
Dengan Metode
IVA (Inspeksi
Visual Asetat) di
Wilayah Kerja
Puskesmas
Wiradesa
Kabupaten
Pekalongan
Tahun 2009

Variabel
Variabel tunggal
adalah Tingkat
pengetahuan ibu
tentang deteksi
dini kanker
leher rahim
dengan metode
IVA (Inspeksi
Visual Asetat)

Desain
Jenis
penelitian
deskriptif
dengan
pendekatan
cross sectional
dengan
metode survey

Hasil
Ada
hubungan
antara
Tingkat
Pengetahuan
Ibu dengan
Deteksi Dini
Kanker
Leher Rahim
dengan
Metode IVA.

Perbedaan
Judul
Umbaraasih
Studi
Deskriptif
Tingkat
Pengetahuan
Ibu Tentang
Deteksi Dini
Kanker Leher
Rahim
Dengan
Metode IVA
(Inspeksi
Visual Asetat)
di Wilayah
Kerja
Puskesmas
Wiradesa
Kabupaten
Pekalongan
Tahun 2009.
Judul Endang
P (2012)
Analisa
Determinasi
yang
berhubungan
dengan
perilaku WUS
(wanita usia
subur) dalam
melakukan
kunjungan
IVA (Inspeksi
Visual Asam
asetat)
di RW 05
Kelurahan
Karang Ayu
Variabel
Umbaraasih
(2009)
Variabel
tunggal adalah

Tingkat
pengetahuan
ibu tentang
deteksi dini
kanker leher
rahim dengan
metode IVA
(Inspeksi
Visual Asetat).
Variabel
Endang P
(2012)
Pengetahuan
wanita usia
subur dan
perilaku
kunjungan
pemeriksaan
IVA
Desain
Umbaraasih
(2009) Jenis
penelitian
deskriptif.
Desain
Endang P
(2012)
Kuantitatif

Siti Sholekhah

Hubungan
antara
Karakteristik
wanita terhadap
kesadaran IVA
di wilayah kerja
puskesmas
Jekulo Kudus.

Karakteristik
wanita umur,
pendidikan,
pekerjaan, dan
kesadaran IVA.

kuantitatif

Ada
hubungan
antara
Karakteristik
wanita
terhadap
kesadaran
IVA.

Judul Siti
Sholekhah
Hubungan
antara
Karakteristik
wanita
terhadap
kesadaran IVA
di wilayah
kerja
puskesmas
Jekulo Kudus.
Judul Endang
P (2012)
Analisa
Determinasi
yang
berhubungan
dengan
perilaku WUS
(wanita usia
subur) dalam
melakukan
kunjungan

10

IVA (Inspeksi
Visual Asam
asetat)
di RW 05
Kelurahan
Karang Ayu.
Variabel Siti
Sholekhah
Karakteristik
wanita umur,
pendidikan,
pekerjaan, dan
kesadaran
IVA.
Variabel
Endang P
(2012)
Pengetahuan
wanita usia
subur dan
perilaku
kunjungan
pemeriksaan
IVA.
Desain Siti
Sholekhah
Kuantitatif.
Desain
Endang P
(2012)
Kuantitatif
3

Endang P
(2012)

Analisa
Determinasi
yang
berhubungan
dengan perilaku
WUS (wanita
usia subur)
dalam
melakukan
kunjungan IVA
(Inspeksi Visual
Asam asetat)
di RW 05
Kelurahan
Karang Ayu.

Pengetahuan
wanita usia
subur dan
perilaku
kunjungan
pemeriksaan
IVA.

Kuantitatif

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Metode Inspeksi Asam Asetat (IVA)
a.

Pengertian
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) adalah cara sederhana untuk
mendeteksi pra kanker atau HPV tipe resiko rendah atau tinggi yang
menyebabkan kelainan (Sukaca, 2009).

b. Sasaran
Tes kanker atau pra-kanker IVA dianjurkan bagi semua wanita
berusia 30-45 tahun. Kanker ini menempati angka tertinggi diantara
wanita berusia antara 40 dan 50 tahun, sehingga tes harus dilakukan
pada usia dimana lesi pra-kenker lebih mungkin terdeteksi, biasanya
10 sampai 20 tahun lebih awal (Pokja Ginekologi Onkologi, 2009).
c. Faktor Resiko
1) Usia muda saat pertama kali melakukan hubungan seksual
(usia< 20 tahun)
2) Memiliki banyak pasangan seksual
3) Riwayat pernah mengalami IMS, seperti Khlamedia atau
gonorrheadan khususnya HIV/ AIDS

11

12

4) Ibu atau saudara perempuan yang memiliki kanker servik


5) Hasil papsmear yang sebelumnya tidak normal
6) merokok
d. Waktu pelaksanaan
Tes IVA dapat dilakukan kapan saja dalam siklus menstruasi,
termasuk saat menstruasi, pada masa kehamilan dan saat asuhan
nifas atau paska keguguran. Tes tersebut dapat dilakukan pada wanita
yang dicurigai atau diketahui memiliki IMS atau HIV/AIDS (Pokja
Ginekologi Onkologi, 2009).
e. Penilaian klien
Tanyakan riwayat singkat kesehatan reproduksinya, antara lain :
1) Riwayat menstruasi (usia < 12 tahun)
2) Pola perdarahan (misal paska koitus atau menstruasi tidak teratur)
3) Paritas
4) Usia pertama kali berhubungan seksual
5) Penggunaan alat kontrasepsi, terutama pil (kombinasi estrogen
dan progesteron) dalam jangka waktu lama, yakni 5 tahun atau
lebih.
f. Pelaksanaan Skrining Iva
Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA, dibutuhkan
tempat dan alat sebagai berikut:
1) Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.

13

2) Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada


pada posisi litotomi.
3) Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
4) Spekulum vagina
5) Larutan cairan Asam asetat (3-5%)
6) Swab-lidi berkapas
7) Sarung tangan
8) Larutan klorin 0,5 % untuk dekontaminasi peralatan dan sarung
tangan
9) Formulir IVA
g. Cara Penggunaan Tes IVA
1) Sebelum

dilakukan

pemeriksaan,

pasien

akan

mendapat

penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalankan. Privasi dan


kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
2) Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi (berbaring dengan
dengkul ditekuk dan kaki melebar).
3) Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dengan
bantuan pencahayaan yang cukup.
4) Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan
dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup, lalu dibuka untuk
melihat leher rahim.

14

5) Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril


basah untuk menyerapnya.
6) Dengan menggunakan kapas swab yang dicelupkan ke dalam
larutan asam asetat 3-5%. Dalam waktu kurang lebih satu menit,
reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat.
7) Bila warna leher rahim berubah menjadi keputih-putihan,
kemungkinan positif terdapat kanker. Asam asetat berfungsi
menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan protein,
sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah
warna menjadi putih.
8) Bila tidak didapatkan gambaran epitel putih pada daerah
transformasi bearti hasilnya negatif
Cara penggunaan IVA (Infeksi visual Asam Asetat) menurut Sukaca
(2009) adalah sebagai berikut:
1) Test IVA dilakukan dengan cara mengoleskan asam asetat 3-5%
pada permukaan mulut rahim. Pada lesi prakanker akan
menampilkan warna bercak putih yang disebut aseto white
epithelium.
2) Hasil dari pemeriksaan ini akan tampak bercak putih dan dapat
disimpulkan bahwa test IVA positif. Jika terjadi hal itu, maka
dapat dilakukan biopsi.

15

3) Untuk mengetahui hasilnya langsung pada saat pemeriksaan.


4) Pemeriksaan dengan metode ini dilakukan oleh bidan atau
dokter.
h. Kategori IVA
Menurut Sukaca (2009) ada beberapa kategori yang dapat
dipergunakan untuk pemeriksaan IVA adalah sebagai berikut :
1) IVA negatif, hasilnya akan menunjukkan leher rahim normal.
2) IVA radang, adalah serviks dengan radang (servisitis) atau polip
serviks.
3) IVA positif adalah ditemukannya bercak putih (aceto white
epitelium). Inilah gejala pra kanker yang menjadi sasaran
temuan screning kanker serviks dengan metode IVA.
Pada hasil pemeriksaan ini terdapat tanda adanya gejala kanker,
pemeriksaan

ini

sebaiknya

dilanjutkan

dengan

pap

smear

dilaboratorium oleh dokter ahli kandungan. Setiap wanita yang sudah


pernah menikah, apalagi yang beresiko terkena kanker serviks,
seperti perokok menikah muda, sering berganti pasangan memiliki
banyak anak, dan mengidap penyakit infeksi menular seksual
sebaiknya dilakukan pemeriksaan sedini mungkin (Suryo, 2009).
i. Keunggulan metode IVA (Pokja Ginekologi Onkologi, 2009)
1) Dapat efektif mengidentifikasi sebagian besar lesi pra-kanker
2) Bersifat non-invasif, mudah dilakukan dan tidak mahal

16

3) Dapat dilakukan oleh semua tenaga kesehatan difasilitas


manapun
4) Dapat segera memberi hasil sehingga dapat digunakan untuk
membuat keputusan dan tindakan untuk pengobatan
5) Memerlukan sarana dan perlengkapan yang sudah tersedia di
tempat pelayanan.
j. Manfaat metode IVA (Pokja Ginekologi Onkologi,2009)
1) Memenuhi kriteria tes penapisan yang baik.
2) Penilaian ganda untuk sensitifitas dan spesifisitas menunjukan
tes dengan Pap Smear dan HVP atau Colposcopy.
3) Berpotensi untuk pendekatan kunjungan tunggal.
4) Tidak memerlukan alat selain asam asetat,speculum dan sumber
cahaya.
5) Dapat dilakukan di semua tingkat system pelayanan kesehatan
oleh petugas yang terlatih
k. Pemeriksaan lanjutan
Apabila ditemukan hasil tes IVA positif belum tentu dapat
dinyatakan positif kanker servik karena akan dilakukan rujukan
kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dikter SPOG
antara lain:
Cryotherapy

17

Metode cryotherapy adalah membekukan serviks yang terdapat


lesi prakanker pada suhu yang amat dingin (dengan gas CO2)
sehingga sel-sel pada area tersebut mati dan luruh, dan
selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yang sehat (Samadi
Priyanto. H, 2010)
LEEP
Eksisi lesi serviks menggunakan LEEP dilakukan dengan
menggunakan listrik bervoltase rendah dan arus bolak balik
berfrekuensi tinggi pada elektroda tipis dan perlahan-lahan
melewati servik. Kemudian area servik yang mati di kauterisasi
menggunakan elektroda jenis bola. Teknik ini relatif baru, masih
sedikti penelitian yang mencatat kesuksesan jangka panjang
lebih dari 1 tahun.
Electrocoutery
Electrocoutery pada servik dilakukan dengan pemberian transfer
panas pada probe panas ke jaringan ikat. Unit Electrocoutery
yang lebih lama menggunakan elektroda jenis celah busi
untuk membakar dan menghancurkan jaringan ikat servik.
Tindakan tersebut menyebabkan kram kuat pada uterus dan
panas pada vagina sehingga membutuhkan anastesilokal dan
analgetik. Tingkat kesuksesan keseluruhan teknik ini lebbih
besar dari 90%.

18

Kolposcopy
Prosedur yang dilakukan dengan menggunakan alat yang di
lengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang
terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah lesi atau
jaringan yang abnormal pada servik dengan biopsi (pengambilan
sejumlah kecil jaringan dari tubuh).
l. Tempat Pelayanan
IVA bisa dilakukan di tempat-tempat pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan

pemeriksaan

dan

yang

bisa

melakukan

pemeriksaan IVA diantaranya oleh Perawat terlatih, Bidan, Dokter


Umum, Dokter Spesialis Obgyn.
2. Perilaku Kesehatan
a.

Definisi
Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau
aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada
hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab
itu, perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas,
mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian dan sebagainya.
Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berfikir, persepsi dan
emosi juga merupakan perilaku manusia. (Wawan dan Dewi 2010)

b. Pembentukan perilaku

19

Siknner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku


merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapa
(respon) dan respons.

Ia membedakan adanya 2 respon, yaitu :


1)

Respondent respons atau reflexive respons


Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu.
Perangsangan-perangsangan semacam ini disebut eliciting stimuli
karena menimbulakan respon-respon yang relative menetap.

2)

Operant respons atau instrumental respons


Respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang
tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau
reinforce karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat
respons yang telah dilakukan oleh organisme.

c. Bentuk perilaku
Bentuk perilku menurut Notoatmodjo (2005) juga dilihat dari
bentuk respons terhadap stimulus, maka perilaku dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
1) Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup. Respon ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,

20

pengetahuan/kesadaran dan sikap pada penerima stimulasi dan


belum bisa diamati jelas oleh orang lain.
2) Perilaku terbuka
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata
atau terbuka, sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek dan
dengan mudah dapat diamati oleh orang lain.
Meskipun perilaku adalah respon atau reaksi rangsangan dari luar,
namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada
karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan.
Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang
berbeda disebut determinan perilaku.
d. Determinasi perilaku
Determinan perilaku menurut Notoatmodjo (2010) dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu :
1) Determinan atau faktor internal
Determinan atau faktor internal yaitu karakteristik orang yang
bersangkutan sifat bawaan atau given, misalnya tingkat
kecerdasan, jenis kelamin dan sebagainya.
2) Determinan atau faktor eksternal
Determinan atau faktor eksternal yaitu lingkungan, baik
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain
sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang
dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

21

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku


Perilaku dapat dibina dan ditingkatkan melalui pendidikan
kesehatan agar berpengaruh positif terhadap pemeliharaan dan
peingkatan kesehatan. Maka sebelumnya akan dianalisa terhadap
masalah perilaku dengan menggunakan konsep dari Lawrence
Green, dimana perilaku dipengaruhi oleh :
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, system nilai
yang dianut masyarakat, usia, tingkat pendidikan, tingkat sosial
ekonomi dan sebagainya. Faktor-faktor ini sering disebut faktor
pemudah.
2) Faktor-faktor pemungkin (enabling factor)
Faktor-faktor ini mencakup : kesediaan sarana dan prasarana
atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Termasuk juga fasilitas
pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik,
posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek
swasta

dan

mendukung

sebagainya.
atau

Fasilitas

memungkinkan

ini

pada

terwujudnya

hakikatnya
perilaku

kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung atau


pemungkin.
3) Faktor-faktor penguat (reinforcing factor)

22

Faktor-faktor ini meliputi : sikap dan perilaku tokoh masyarakat,


tokoh agama, para petugas kesehatan. Termasuk juga di sini
undang-undang peraturan-peraturan baik dari pusat maupun dari
pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk
berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu
pengetahuan, sikap positif dan dukungan fasilitas saja,
melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh
masyarakat, tokoh agama, para petugas kesehatan. Disamping
itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku
masyarakat tersebut.
f. Proses Adopsi Perilaku
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang di
dasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang
tidak di dasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) yang
dikutip oleh Syarifudin (2009) menggungkapkan bahwa sebelum
orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1) Awareness ( kesadaran ), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus ( obyek ) terlebih dahulu.
2)Interest, yakni orang mulai tertarik pada stimulus
3) Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih
baik lagi.

23

4) Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru


5) Adaption,

subjek

telah

berperilaku

baru

sesuai

dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.


Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses seperti ini didasari oleh pengetahuan kesadaran, dan sikap
yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long
lestiry) dan sebaliknya.
Perilaku dapat diukur secara tidak langsung yakni dengan
wawancara terhadap kegiatan- kegiatan yang telah dilakukan
beberapa jam, hari atau bulan yang lalu. Juga dapat secara langsung
yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
Pada penelitian terhadap perilaku dimana skala ukur Baik
jika nilainya 50% sedangkan Kurang baik jika nilainya < 50%.(
Azwar, 2010; h.91 )
3. Pengetahuan
a. Definisi
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang
sekadar menjawab pertanyaan what. Pengetahuan hanya dapat
menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Apabila pengetahuan itu
mempunyai sasaran yang tertentu, mempunyai metode atau pendekatan
untuk mengkaji obyek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat
disusun secara sistematis dan diakui secara universal, maka
terbentuklah ilmu, atau lebih sering disebut ilmu pengetahuan. Dengan

24

perkataan lain, pengetahuan itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila


memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu mempunyai obyek kajian,
metode pendekatan, disusun secara sistematis, bersifat universal
(mendapat pengakuan secara umum). (Notoatmodjo 2010).

b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan tercakup dalam domain
cognitive mempunyai 6 tingkatan yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu
tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata
kerja untuk mengukur pada bahwa orang tahu apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan, mengurangi, mendefinisikan, menyatakan
dan sebagainya.
2) Memahami (comprehensif)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara

benar

tentang

objek

yang

diketahui

dan

dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah


paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

25

menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek


yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengguakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (reall).
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum, rumus, metode. Prinsip dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain. Misalnya dpat menggunakan rumus statistik dalam
perhitungan hasil penelitian dapat menggunakan prinsip-prinsip dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Analisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
sesuatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti dapat menggambarkan (membuat bagian), membedakan
memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
5) Sintesis (syntesis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat
merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan terhadap suatu
teori atau rumusan-rumusan yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)

26

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan


justifikasi atau penilaian terhadap sesuatu materi atau objek.

c. Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2010) cara untuk memperoleh pengetahuan
dibedakan menjadi:
1) Cara non ilmiah (tanpa melalui penelitian)
Cara kuno atau tradisional ini dipakai untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau
metode penemuan secara sistematik dan logis adalah dengan cara
non

ilmiah,

tanpa

melalui

penelitian.

Cara-cara

penemuan

pengetahuan pada periode ini meliputi :


(a) Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara
berfikir manusiapun ikut berkembang. Dari sini manusia telah
mampu

menggunakan

penalaranya

dalam

pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam

memperoleh
memperoleh

kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan


pikiranya, baik melalui induksi (khusus-umum) maupun
deduksi (umum- khusus)

27

(b) Berdasarkan pengalaman pribadi


Pengalaman adalah guru yang terbaik, demikian bunyi pepatah.
Pepatah ini mengandung maksud

bahwa

merupakan sumber pengetahuan, atau


merupakan

suatu

cara

untuk

pengalaman itu
pengalaman itu

memperoleh

kebenaran

pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat


digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.
(c) Cara coba salah (trial and error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa
kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila
kemungkinan ini tidak berhasil, dicoba dengan kemungkinan
yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal maka dicoba
dengan kemungkinan yang ketiga, dan apabila kemungkianan
ketiga ini gagal maka digunakan kemungkinan keempat dan
seterusnya, sampai masalah tersebut dapat diselesaikan. Itulah
sebabnya cara ini disebut metode trial (coba) dan error (gagal
atau salah) atau metode coba salah (coba-coba).
2) Cara ilmiah (modern)
Cara baru

atau

modern dalam memperoleh pengetahuan pada

dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut
metode penelitian

ilmiah, atau lebih popular disebut metodologi

penelitian (research methodology)


d. Cara pengukuran pengetahuan

28

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau


angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin
diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuan
(Notoatmodjo 2005).
Kategori dari tingkat pengetahuan menurut Arikunto (2006) dalam
Wawan dan Dewi (2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan
diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
1) Baik, bila skor

: 76% - 100%

2) Cukup, bila skor : 56% 75%


3) Kurang, bila skor : < 56%
e. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
1) Faktor Internal
(a) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang
terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita
tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi
kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pada
umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi (Wawan dan Dewi 2010).
(b) Pekerjaan
Menurut Thomas dalam Nursalam yang dikutip oleh Wawan dan
Dewi (2010) pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan

29

terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan


keluarga.
(c) Umur
Menurut Elisabeth BH dalam Nursalam yang dikutip oleh
Wawan dan Dewi (2010) usia adalah umur individu yang
terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin
cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan
masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang
yang belum tinggi kedewasaannya.
2) Faktor Eksternal
(a) Lingkungan
Menurut Ann.Mariner dalam Nursalam yang dikutip oleh
Wawan dan Dewi (2010) lingkungan merupakan seluruh kondisi
yang ada di sekitar dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi
perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
(b) Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi (Wawan
dan Dewi 2010).
4. Pendidikan
a. Definisi

30

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk


mempengaruhi orang lain dibagi individu, kelompok, atau masyarakat
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan.
b. Tingkatan Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2010) pendidikan dibagi menjadi 3 tingkatan
yaitu :
1) Pendidikan Dasar/Rendah
Pendidikan dasar merupakan sebuah lembaga pendidikan dari
pemerintah yang mewajibkan anak-anak lanjutan dari pendidikan
anak usia dini ke sekolah dasar ini, dan merupakan jenjang yang
paling mendasar dalam dunia pendidikan yang ditempuh selama 6
tahun.
2) Pendidikan Menengah
Sekolah menengah pertama (disingkat SMP) adalah jenjang
pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus
sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah Menengah Atas (disingkat
SMA) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di
Indonesia setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP).
3) Pendidikan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan

31

profesional

yang

dapat

menerapkan,

mengembangkan

dan

menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.


Tingkat pendidikan seseorang dapat mendukung atau mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang dan taraf pendidikan yang rendah selalu
bergandeng dengan informasi dan pengetahuan yang terbatas. Semakin
tinggi pengetahuan seseorang semakin tinggi pula seseorang terhadap
informasi yang didapat dan pengetahuannya akan semakin tinggi pula.
5. Sikap
a. Definisi
Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian
reaksi terhadap stimulus tertentu. Sikap merupakan reaksi yang
bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksanaan motif
tertentu. Pandangan masyarakat tentang IVA rata- rata masih tabu
dimana pemeriksaan IVA masih tergolong baru. Cara ukur sikap di
kategorikan setuju = skor > 50% dan tidak setuju < 50%
b. Komponen Dasar Sikap
1. Kognitif, terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang
mengenai objek sikap tertentu, fakta, pengetahuan dan keyakinan
tentang objek.

32

2. Afektif, terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap


objek terutama penilaian.
3. Konatif (perilaku), terdiri dari persiapan seseorang untuk bereaksi
atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
a) Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi
haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan
lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi
dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.
Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang
yang dianggap penting tersebut.
c) Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap
kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap

33

anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi


corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
d) Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media
komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan
secara obyektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya,
akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
e) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga
agama

sangat

menentukan

sistem

kepercayaan

tidaklah

mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep tersebut


mempengaruhi sikap.

f) Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang
didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi
atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
d. Cara pengukuran sikap

34

Beberapa teknik pengukuran sikap: antara lain: Skala Thrustone,


Likert, Unobstrusive Measures, Analisis Skalogram dan Skala
Kumulatif, dan Multidimensional Scaling.
1) Skala Thurstone (Method of Equel-Appearing Intervals)
Metode ini mencoba menempatkan sikap seseorang pada rentangan
kontinum dari yang sangat unfavorabel hingga sangat favorabel
terhadap suatu obyek sikap. Caranya dengan memberikan orang
tersebut sejumlah aitem sikap yang telah ditentukan derajad
favorabilitasnya. Derajat (ukuran) favorabilitas ini disebut nilai
skala.
Dalam penelitian, skala yang telah dibuat ini kemudian diberikan
pada responden. Responden diminta untuk menunjukkan seberapa
besar kesetujuan atau ketidaksetujuannya pada masing-masing
aitem sikap tersebut.
2) Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Masing-masing responden diminta melakukan egreement atau
disegreemenn-nya untuk masing-masing aitem dalam skala yang
terdiri dari 5 point ( Sangat seuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju,
Sangat Tidak Setuju). Semua aitem yang favorabel kemudian
diubah nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5
sedangkan untuk yang Sangat Tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya,

35

untuk aitem yang unfavorabel nilai skala Sangat Setuju adalah 1


sedangkan untuk yang sangat tidak setuju nilainya 5. Seperti halnya
skala Thurstone, skala Likert disusun dan diberi skor sesuai dengan
skala interval sama (equal-interval scale).
3) Unobstrusive Measures.
Metode ini berakar dari suatu situasi dimana seseorang dapat
mencatat aspek-aspek perilakunya sendiri atau yang berhubungan
sikapnya dalam pertanyaan.
4) Multidimensional Scaling.
Teknik ini memberikan deskripsi seseorang lebih kaya bila
dibandingkan

dengan

pengukuran

sikap

yang

bersifat

unidimensional. Namun demikian, pengukuran ini kadangkala


menyebabkan

asumsi-asumsi

mengenai

stabilitas

struktur

dimensinal kurang valid terutama apabila diterapkan pada lain


orang, lain isu, dan lain skala item.
6. Pekerjaan
a. Definisi
Dengan adanya pekerjaan seseorang memerlukan banyak waktu untuk
menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting memerlukan perhatian
masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk

36

memperoleh informasi, sehingga tingkat pengetahuan yang mereka


miliki jadi berkurang (Notoadmodjo 2005).
b. Pembagian pekerjaan
1) Bekerja
Ibu atau istri bekerja adalah ibu yang bekerja atau melaksanakan
kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan, misalnya:
(a) Buruh
Orang yang bekerja dibawah perintah orang lain dan orang
tersebut menerima upah sebagai imbalannya.
(b) Petani
Orang yang mengusahakan atau mengelola usaha pertanian baik
perkebunan, peternakan, kehutanan, pemburuan dan perikanan.
(c) Wiraswasta
Suatu bentuk badan usaha dimana pemilik adalah perseorangan,
serta modal perusahaan itu.
(d) Pegawai Negeri Sipil
Menurut pasal 1 ayat 1 UU 43/1999, pegawai negeri adalah
warga negara RI yang telah memenuhi syarat yang telah
memenuhi syarat yang telah ditentukan, diangkat oleh pejabat
yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negara,
atau disertai tugas negara lain dan digaji berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

37

2) Tidak bekerja
Ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga (IRT) adalah ibu yang
tidak memiliki penghasilan dan menjalankan pekerjaan
rumah tangga seperti mencuci, memasak, mengurus anak, dan lainlain.
7. Pendapatan
a. Definisi
Penghasilan meliputi pendapatan maupun keuntungan. Pendapatan
adalah penghasilan yang timbul selama dalam aktivitas normal entitas
dan dikenal dengan bermacam-macam sebutan yang berbeda seperti
penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen dan royalti.
b. Pengukuran pendapatan
Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat
diterima.
Tingkat pendapatan keluarga berpengaruh terhadap perilaku
masyarakat khususnya dalam perilaku kesehatan seperti melakukan
pemeriksaan IVA yang dianggap masyarakat mahal. Status ekonomi
terbagi menjadi kurang dan baik dilihat dari UMR Kota Semarang Rp.
800.000,00. Orang yang memiliki ekonomi kurang akan berpikir bahwa
pemeriksaan IVA itu mahal, jadi mereka jarang yang melakukan
Pemeriksaan IVA. Sebaliknya orang yang memiliki status ekonomi baik

38

diharapkan mau untuk melakukan Pemeriksaan IVA karena mereka


mampu untuk membiayainya
8. Usia
a. Pengertian
Menurut Wawan dan Dewi (2010) usia individu yang terhitung
mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup
umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang
dalam berfikir dan bekerja. Sedangkan menurut Prawirohardjo (2006)
bahwa usia untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Usia
yang dimaksud disini adalah usia responden.
a. Klasifikasi usia
1. Masa dewasa dini
Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira 40
tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai
berkurangnya kemampuan reproduksi.
2. Masa dewasa madya
Masa dewasa madya masa dimulai pada umur 41 tahun sampai pada
umur 60 tahun, yakni saat baik menurutnya kemampuan fisik dan
psikologis yang jelas nampak pada setiap orang.

39

3. Masa dewasa lanjut


Masa dewasa lanjut atau usia lanjut dimulai pada umur 61 tahun
sampai kematian.
Usia menikah yang dianjurkan ialah sekurang-kurangnya 20 tahun
untuk wanita dan 25 tahun bagi laki-laki. Anjuran ini didasarkan bahwa
usia wanita dan pria tersebut sudah memiliki kesiapan batin untuk
hidup berkeluarga, selain kesiapan untuk melaksanakan proses
reproduksi

sehat,

istri

juga

dapat

berfikir

tentang

kesehatan

reproduksinya terutama untuk melakukan pemeriksaan pap smear.


Diharapkan kematangan usia akan membuat seorang wanita mampu
berfikir tentang kesehatan reproduksinya dibandingkan wanita yang
usianya masih muda. Pada usia reproduktif antara 20 sampai 35 tahun
sudah menikah dan sebelum menapause wanita sebaiknya melakukan
pemeriksaan IVA.
9. Paritas
a. Pengertian
Paritas para adalah jumlah yang diakhiri dengan kelahiran janin
yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan (28 minggu
atau 1000 gram). Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan
bayi yang dapat hidup.

40

b. Klasifikasi Paritas
1. Primipara
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang
cukup besar untuk hidup di dunia.
2. Multipara
Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak lebih
dari satu kali.

3. Grandemultipara
Wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya
mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan.
c. Faktor yang mempengaruhi paritas
1. Pendidikan
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin udah dalam
menerima informasi, sehingga kemampuan ibu dalam berfikir lebih
rasional bahwa jumlah anak yang ideal adalah 2 orang.
2. Pekerjaan
Pekerjaan adalah simbol status seseorang dimasyarakat. Pekerjaan
jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan

41

kesehatan yang diinginkan. Banyak anggapan bahwa status


pekerjaan seseorang yang tinggi, maka boleh mempunyai anak
banyak karena mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup seharihari.
3. Keadaan ekonomi
Kondisi ekonomi keluarga yang tinggi mendorong ibu untuk
mempunyai anak lebih karena keluarga merasa mampu dalam
memenuhi kebutuhan hidup.

4. Latar belakang budaya


Latar belakang budaya yang mempengaruhi paritas antara lain
adanya anggapan bahwa semakin banyak jumlah anak semakin
banyak rejeki.
5. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan domain dari perilaku. Semakin tinggi
tingkat pengetahuan seseorang, maka perilaku akan lebih bersifat
langgeng. Dengan kata lain ibu yang tahu dan paham tentang jumlah
anak yang ideal, maka ibu akan berperilaku sesuai dengan apa yang
ia ketahui.
Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi
dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Perempuan yang sering
melahirkan termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit
kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka
akan

berdampak

pada

seringnya

terjadi

perlukaan

di

organ

reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan

42

memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai


penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim. Dengan adanya factor
risiko ini diharapkan wania melakukan pemeriksaan IVA.

B. KERANGKA TEORI
Faktor Predisposi
1.
Pengetahuan
2.
Pendidikan
3.
Sikap
4.
Status bekerja
5. Pendapatan
6. Usia
7. Paritas

Faktor Pendukung
1. Fasilitas dan Petugas
Kesehatan
2. Keterjangkauan Pelayanan
Kesehatan bagi Masyarakat

Faktor pendorong
1. Dukungan sosial
2. Dukungan Petugas Kesehatan

Keterangan :
: diteliti

Perilaku dalam
melakukan
kunjungan IVA

43

: tidak diteliti

Green dalam Notoatmodjo 2007 tentang Faktor - Faktor yang


Mempengaruhi Perilaku

C. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep adalah sesuatu yang abstrak logical secara arti
harfiah dan akan membantu peneliti dalam menghubungkan hasil
penelitian dengan body of knowledge (Nursalam dan Pariani, 2001).
Berdasarkan uraian pada tinjauan teori maka dapat disusun kerangka
konsep dari Analisa Determinan yang berhubungan dengan rendahnya
kunjungan wus dalam melakukan pemeriksaan IVA adalah sebagai berikut:
Bagan 2.4 Kerangka Konsep
Variabel Independen

Variabel Dependen

Tingkat Pengetahuan
Tingkat Pendidikan
Sikap
Status Bekerja
Tingkat pendapatan
keluarga
Usia
Paritas

Perilaku melakukan
kunjungan IVA

44

D. VARIABEL PENELITIAN
Variabel adalah suatu ukuran atau ciri yang diwakili oleh anggota suatu
kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok tersebut
(Nursalam dan Pariani, 2001).
Variabel Independen
Variabel independen (variabel bebas) adalah variabel yang menjadi
sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (terkait jadi
variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi) (Nursalam
dan Pariani, 2001).
Dalam penelitian ini yang merupakan variabel independennya adalah
Tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan IVA, tingkat pendidikan,
sikap tentang pemeriksaan IVA, status bekerja, tingkat pendapatan
keluarga, usia dan paritas wanita usia subur (WUS) tentang metode
IVA.
Variabel Dependent
Variabel dependen (Variabel terikat) adalah variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena variabel bebas (Nursalam dan Pariani,
2001). Dalam penelitian ini yang merupakan variabel dependen adalah
perilaku melakukan kunjungan IVA.

45

E. HIPOTESIS
Hipotesis adalah suatu kesimpulan sementara atau jawaban sementara
dari suatu penelitian (Notoatmodjo, 2005).
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah Ha (Hipotesis Kerja).
Hipotesis kerja atau Ha adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan
untuk membuat ramalan tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu gejala
muncul (Notoatmodjo, 2005).
Dalam penelitian ini yang merupakan Ha atau hipotesis kerja adalah :
Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan minat untuk
melaksanakan metode Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) pada wanita usia
subur (WUS) di Kelurahan karangayu wilayah Puskesmas Karang Ayu
Semarang tahun 2012.
Ha :
1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan
IVA dengan perilaku melakukan kunjungan IVA
2. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku
melakukan kunjungan IVA
3. Ada hubungan antara sikap tentang pemeriksaan IVA dengan
perilaku melakukan kunjungan IVA
4. Ada hubungan antara status bekerja dengan perilaku melakukan
kunjungan IVA

46

5. Ada hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan perilaku


melakukan kunjungan IVA
6. Ada hubungan antara usia dengan perilaku melakukan kunjungan
IVA
7. Ada hubungan antara paritas dengan perilaku melakukan
kunjungan IVA