Anda di halaman 1dari 16

HEMATOLOGI

DISUSUN OLEH:

ABDULLAH
ASMIATI
HAMDANA
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
PROGRAM STUDI D-III ANALIS
KESEHATAN
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur kehadirat Allah swt. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul (ANEMIA MIKROSITIK
HIPOKROM) ini dapat diselesaikan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah HEMATOLOGI III.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis mendapat
bantuan dari temen-teman Oleh sebab itu mengucapkan terimakasih.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih banyak
kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh
sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
khususnya bagi penulis umumnya bagi pembaca. Amin.

Penulis
Makassar, 13 Oktober 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................i


DAFTAR ISI .........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
1.1. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................ 4
1.3.Tujuan ................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 5
2.1. Defenisi anemia mikrositik hipokrom ................................................. 5
2.2. Gejala anemia mikrositik hipokrom ...................................................

2.3. Penyebab anemia mikrositik hipokrom ............................................... 6


2.4. Pencegahan anemia mikrositik hipokrom........................................ 9
2.5. Pengobatan anemia mikrositik hipokrom ............................................. 9
2.6. Pemeriksaan laboratorium anemia mikrositik hipokrom ..................... 10
BAB III PENUTUP ............................................................................................... 13
3.1. Kesimpulan ........................................................................................ 13
3.2. Saran .................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................

14

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya 1atau lebih parameter sel darah

merah: konsentrasi hemoglobin, hematokrit atau jumlah sel darah merah. Menurut
kriteria WHO anemia adalah kadar hemoglobin di bawah 13 g% pada pria dan di
bawah 12 g% pada wanita. Berdasarkan kriteria WHO yang direvisi/ criteria
National Cancer Institute, anemia adalah kadar hemoglobin di bawah 14 g% pada
pria dan di bawah 12 g% pada wanita. Kriteria ini digunakan untuk evaluasi anemia
pada penderita dengan keganasan. Anemia merupakan tanda adanya penyakit.
Anemia selalu merupakan keadaan tidak normal dan harus dicari penyebabnya.
Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium sederhana berguna
dalam evaluasi penderita anemia.
Gejala klinis
Gejala dan tanda anemia bergantung pada derajat dan kecepatan terjadinya
anemia,juga kebutuhan oksigen penderita. Gejala akan lebih ringan pada anemia
yang terjadi perlahan-lahan, karena ada kesempatan bagi mekanisme homeostatik
untuk

menyesuaikan

dengan

berkurangnya

kemampuan

darah

membawa

oksigen.Gejala anemia disebabkan oleh 2 faktor:


Berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan
Adanya hipovolemia (pada penderita dengan perdarahan akut dan masif )

Pasokan oksigen dapat dipertahankan pada keadaan istirahat dengan mekanisme


kompensasi peningkatan volume sekuncup,denyut jantung dan curah jantung pada
kadar Hb mencapai 5 g% (Ht 15%). Gejala timbul bila kadar Hb turun di bawah 5 g
%, pada kadar Hb lebih tinggi selama aktivitas atau ketika terjadi gangguan
mekanisme kompensasi jantung karena penyakit jantung yang mendasarinya.Gejala
utama adalah sesak napas saat beraktivitas,sesak pada saat istirahat, fatigue, gejala
dan tanda keadaan hiperdinamik (denyut nadi kuat, jantung berdebar, dan roaring in
the ears).Pada anemia yang lebih berat, dapat timbul letargi, konfusi, dan komplikasi
yang mengancam jiwa (gagal jantung, angina, aritmia dan/ atau infark
miokard).Anemia yang disebabkan perdarahan akut berhubungan dengan komplikasi
berkurangnya volume intraseluler dan ekstraseluler.Keadaan ini menimbulkan gejala
mudah lelah, lassitude (tidak bertenaga), dan kram otot. Gejala dapat berlanjut
menjadi postural dizzines, letargi, sinkop; pada keadaan berat,
dapat terjadi hipotensi persisten, syok, dan kematian.
Penyebab berkurangnya produksi sel darah merah:

Kekurangan nutrisi: Fe, B12, atau folat; dapat disebabkan oleh kekurangan

diet, malaborpsi
(Anemia pernisiosa, sprue) atau kehilangan darah (defisiensi Fe)
Kelainan sumsum tulang (anemia aplastik, pure red cell aplasia,

mielodisplasia, infl itrasi tumor)


Supresi sumsum tulang (obat, kemoterapi,radiasi)

Rendahnya trophic hormone untuk sti-mulasi produksi sel darah merah


(eritro-poietin pada gagal ginjal, hormon tiroid [hipotiroidisme] dan androgen

[hipogonadisme])
Anemia penyakit kronis/anemia infl amasi,yaitu anemia dengan karakteristik
berkurangnya Fe yang efektif untuk eritropoiesis karena berkurangnya
absorpsi Fe dari traktus gastrointestinal dan berkurangnya pelepasan Fe dari
ma-krofag, berkurangnya kadar eritropoietin (relatif ) dan sedikit
berkurangnya masa hidup erirosit.

Peningkatan destruksi sel darah merah


Anemia hemolitik merupakan anemia yang disebabkan karena berkurangnya
masa hidup sel darah merah (kurang dari 100 hari). Pada keadaan normal, umur sel
darah merah 110-120 hari.Anemia hemolitik terjadi bila sumsum tulang tidak dapat
mengatasi kebutuhan untuk menggganti lebih dari 5% sel darah merah/hari yang
berhubungan dengan masa hidup sel darah merah kira-kira 20 hari.

Berdasarkan pendekatan morfologi, anemia


diklasifi kasikan menjadi 3:

Anemia makrositik
Anemia mikrositik
Anemia normositik

1.2. Rumusan masalah


1. Apa itu anemia mikrositik hipokrom ?

2.
3.
4.
5.
6.

Apa gejala dari anemia mikrositik hipokrom ?


Apa penyebab dari anemia mikrositik hipokrom ?
Bagaimana pencegahan anemia mikrositik hipokrom ?
Bagaimana cara pengobatan anemia mikrositik hipokrom?
Berapa macam pemeriksaan anemia mikrositik hipokrom?

1.3. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Agar mengetahui apa itu anemia mikrositik hipokrom.


Agar mengetahui apa gejala dari anemia mikrositik hipokrom.
Agar mengetahui apa penyebab dari anemia mikrositik hipokrom.
Agar mengetahui cara pencegahan anemia mikrositik hipokrom.
Agar mengetahui cara pengobatan anemia mikrositik hipokrom.
Agar mengetahui berapa macam pemeriksaan anemia mikrositik hipokrom.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Mikrositik berarti kecil, hipokrom artinya mengandung hemoglobin dalam
jumlah yang kurang dari normal. Anemia mikrositik hipokrom adalah suatu keadaan
kekurangan besi (Fe) dalam tubuh yang mengakibatkan pembentukan eritrosit atau

sel darah merah mengalami ketidakmatangan (imatur). Sel darah merah yang
terbentuk ukurannya lebih kecil dari normal dan hemoglobin dalam sel darah merah
berjumlah sangat sedikit penyakit ini disebut juga defisiensi zat besi. Defisiensi besi
adalah penyebab anemia yang tersering terjadi di semua negara di dunia. Defisiensi
besi merupakan penyebab terpenting suatu anemia mikrositik hipokrom, dengan
ketiga indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) berkurang dan sediaan apus darah
menunjukkan eritrosit yang kecil (mikrositik) dan pucat (hipokrom).

Anemia mikrositik

2.2. Gejala anemia mikrositik hipokrom


Penderita anemia mikrositik akan mengalami tanda-tanda sebagai berikut:
1. Penurunan berat badan.
2. Mudah kelelahan.
3. Kulit wajah,ujung-ujung jari kaki dan tangan,lidah serta kelopak mata
berwarna pucat.
4. Sering mengalami pusing.
5. Terkadang mengalami sesak nafas.
6. Terjadi beberapa iritasi terutama dibagian lidah.

2.3. Penyebab Anemia mikrositik hipokrom


Faktor penyebab utama jenis anemia ini di pengaruhi oleh daya serap tubuh
terhadap zat besi. Biasanya penderita mengalami gejala anemia mikrositik
hipokromik karena memilki gangguan daya serat zat besi. Akibatnya kadar zat besi
yang di butuhkan untuk pembentukan darah tidak tercukupi. Inilah yang di sebut
faktor genetik. Sel darah merah yang terbentuk ukurannya akan lebih kecil dan tidak
matang (imatur) sementara volum hemglobinnya kurang dari batas normal. Selain itu
penyakit ini dapat di sebabkan karena kelalaian penderita dalam memenuhi asupan
gizi yang cukup mengandung zat besi, vitamin B12 dan folat. Aktifitas yang terlalu
padat namun waktu istirahat dan tidur lebih sedikit, dapat memicu penyakit anemia
jenis mikrositik hipokromik.
Kemungkinan yang terjadi pada anemia mikrositik hipokrom adalah:
MCV,MCH dan MCHC < N
Penyebab terjadinya anemia mikrositik hipokrom :
a. Anemia defisiensi besi (gangguan besi)
Anemia defisiensi besi terjadi karena:
a) Kehilangan besi (perdarahan menahun)
1. Pendarahan traktus gastrointestinal.
2. Pendarahan traktus urogenitalis
3. Hemoglobinuria
4. Hemosiderosis pulmonary idiopatik
5. Teleangiektasia hemoragik herediter
6. Gangguan hemostatis
7. Gagal ginjal kronik dan hemodialisa

b)
1.
2.
c)

Asupan yang tidak adekuat / absorbsi besi yang kurang


Malnutrisi
Gangguan absorpsi :operasi lambung aklorhidria,penyakit celiac.
Kebutuhan besi yang meningkat (pada masa kehamilan dan

prematuritas)
1. Anak-anak
2. Kehamilan
3. Laktasia
Anemia defisiensi besi terjadi dalam 3 tahap:

Tahap 1 (defisiensi Fe pre laten), dimana berkurangnya cadangan Fe tanpa

disertai berkurangnya kadar serum Fe.


Tahap 2 (defisiensi Fe laten), dimana Fe habis,tetapi kadar Hb masih di atas

batas terendah kadar Hb normal


Tahap 3 (Anemia defisiensi Fe), dimana kadar Hb di bawah batas terendah
kadar normal.

b. Anemia pada penyakit kronik (gangguan besi)


Anemia ini biasanya bersifat sekunder, dalam arti ada penyakit primer yang
mendasarinya. Perbedaan anemia ini dengan anemia defisiensi besi tampak
pada feritin yang tinggi dan TIBC yang rendah.
c. Thalasemia (gangguan globin)
Terjadi karena gangguan pada rantai globin. Thalasemia dapat terjadi karena
sintesis hb yang abnormal dan juga karena berkurangnya kecepatan sintesis
rantai alfa atau beta yang normal.
d. Anemia sideroblastik (gangguan protoporfirin)
Terjadi karena adanya gangguan pada rantai protoporfirin. Menyebabkan besi
yang ada di sumsum tulang meningkat sehingga besi masuk ke dalam eritrosit
yang baru terbentuk dan menumpuk pada mitokondria perinukleus.

2.4. Pencegahan Anemia Mikrositik Hipokromik


Bila anemia ini disebabkan karena kelainan genetik pada fungsi penyerapan zat
besi, maka penderita cukup mengatasi penyakit ini dengan cukup beristirahat dan
megurangi aktifitas yang terlalu berat agar tubuh tidak mengalami kelelahan.
Istirahat juga akan mengurangi efek letih pusing dan kekurangan tenaga. Bagi
seseorang yang normal, tetap harus mewaspadai gejala anemia mikrositik hipokrom
karena penyebabnya juga bisa dipengaruhi pola makan yang kurang baik. Oleh
karena itu cegah penyakit ini dengan mencukupi asupan gizi dan perbanyak makanan
kaya zat besi, asam folat serta Vitamin B. setiap kali beraktifitas, sempatkan untuk
istirahat

dan

cukupi

kebutuhan

tidur.

Jadi kesimpulannya, anemia mikrositik hiprokomik sulit disembuhkan bila


penyebabnya dipengaruhi oleh faktor genetik, namun dapat dicegah resikonya bagi
orang yang sehat dengan pola makan dan pola hidup yang baik.

2.5. Pengobatan Anemia Mikrositik Hipokrom


1. Anemia defisiensi besi
a) Terapi besi oral Ferro sulfat, mengandung 67mg besi Ferro glukonat,
mengandung 37 mg besi.
b) Terapi besi parenteral biasa digunakan untuk pasien yang tidak bisa
mentoleransi penggunaan besi oral. Besi-sorbitol-sitrat diberikan secara
injeksi intramuskular Ferri hidroksida-sukrosa diberikan secara injeksi
intravena lambat atau infus

c) Pengobatan Lain Diet, diberikan makanan bergizi tinggi protein terutama


yang berasal dari protein hewani Vitamin C diberikan 3 x 100mg per hari
untuk meningkatkan absorpsi besi Transfusi darah, pada anemia def. Besi
dan sideroblastik jarang dilakukan (untuk menghindari penumpukan besi
pada eritrosit)
2. Anemia pada penyakit kronik. Tidak ada pengobatan khusus yang mengobati
penyakit ini, sehingga pengobatan ditujukan untuk penyakit yang mendasarinya.
Jika anemia menjadi berat, dapat dilakukan transfusi darah dan pemberian
eritropoietin.
3. Anemia sideroblastik. Penatalaksanaan anemia ini dapat dilakukan dengan
veneseksi dan pemberian vit b6 (pyridoxal fosfat). Setiap unit darah yang hilang
pada veneseksi mengandung 200-250 mg besi.
4. Thalasemia. Transfusi darah dapat dilakukan untuk mempertahankan kadar Hb
>10 g/dL. Tetapi transfusi darah yang berulang kadang mengakibatkan
penimbunan besi, sehingga perlu dilakukan terapi kelasi besi

2.6. Pemeriksaan Laboratorium yang mendukung


Untuk anemia mikrositik hipokrom, dilakukan pemeriksaan NER (Nilai
eritrosit rata-rata) yang terdiri dari VER, HER, KHER
1. VER (Volume Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan nilai hematokrit
dengan jumlah eritrosit (dalam juta) x 10. Satuannya fL. Jika lebih kecil dari
pada normal : eritrositnya mikrositer.

10

2. HER (Hemoglobin Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan nilai hemoglobin


dengan jumlah eritrosit (dalam juta ) x 10 . Satuannya pg. Jika lebih kecil dari
normal biasanya eritrosit hipokrom
3. KHER (Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata). Yaitu perbandingan
nilai hemoglobin dengan nilai hematokrit x 100. Satuannya g/dL.Jika lebih
kecil dari normal biasanya eritrosit hipokrom. Kalau perhitungan sudah
menunjukan bahwa eritrosit mikrositik hipokrom, maka dilanjutkan dengan
pemeriksaan apus darah tepi untuk melihat morfologi darah tepi.
4. Apus darah tepi:
Eritrosit: hipokrom mikrositer
Leukosit: jumlahnya normal,granulositopenia ringan dan terdapat
mielosit.
Trombosit :biasanya meningkat sampai dua kali trombosit normal
5. Apus sumsum tulang:
Hyperplasia eritropoesis dengan kelompok-kelompok normoblas
basofil.

Bentuk

pronormoblas,normoblas

kecil-kecil,dengan

sitoplasma ireguler,sideroblas negatif.


6. Nilai absolut menurun.
7. Retikolosit menurun.
8. Fe serum rendah.
9. TIBC (Total Iron Binding Capasity) meningkat.
10. Feritin menurun.

11

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Anemia mikrositik hipokrom adalah suatu keadaan kekurangan besi (Fe) dalam
tubuh yang mengakibatkan pembentukan eritrosit atau sel darah merah mengalami
ketidakmatangan (imatur). Sel darah merah yang terbentuk ukurannya lebih kecil
dari normal dan hemoglobin dalam sel darah merah berjumlah sangat sedikit
penyakit ini disebut juga defisiensi zat besi. Defisiensi besi merupakan penyebab
terpenting suatu anemia mikrositik hipokrom, dengan ketiga indeks eritrosit (MCV,

12

MCH, MCHC) berkurang dan sediaan apus darah menunjukkan eritrosit yang kecil
(mikrositik) dan pucat (hipokrom).
3.2.

Saran
Di harapakan agar mahasiswa dapat mempelajari makalah ini agar dapat mengetahui
tentang penyakit anemia serta cara pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.drmuhammadriduan.com/index.php/anemia/a-hiporomik-mikrositik

Diakses Tanggal 13 Oktober 2016

Supandiman

I.,Sumatri,R.,Fadjari,TN.,Firanza,PI.,Oehadian,A.,2003. Pedoman

Diagnosis dan Terapi HEMATOLOGI ONKOLOGI MEDIK. Bandung : QCommunication.

Sudoyo,AW., et al.2006. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM Jilid II Edisi


IV.Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI.

OConnor,S.,Kaplan,S., Final Diagnosis-Anemia. Available at path.upmc.edl

13

Schick, P., 2007. Megaloblastic Anemia. Thomas Jefferson University Medical


College. Avalaible at www.emedicine.com

14