Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Seorang muslim yang paripurna adalah nalar dan hatinya bersinar, pandangan akal
dan hatinya tajam, akal pikir dan nuraninya berpadu dalam berinteraksi dengan Allah dan
manusia, sehingga sulit diterka mana lebih dulu berperan kejujuran jiwanya atau
kebenaran akalnya. Sifat kesempurnaan ini merupakan karakter Islam, yaitu agama yang
membangun kemurnian aqidah atas dasar kejernihan akal dan membentuk pola pikir
teologis yang menyerupai bidang-bidang ilmu eksakta, karena dalam segi aqidah, Islam
hanya menerima hal-hal yang menurut ukuran akal sehat dapat diterima sebagai ajaran
aqidah yang benar dan lurus.
Konsep ketuhanan dalam islam mulai muncul setelah wafat-Nya Rasulullah
Muhammad SAW. Karena muncul beberapa aliran yang sifatnya tradisional dan modern.
Sering sekali terjadi pendapat dan tafsiran terhadap Al-quran dan Hadits. Ada yang
melihat secara tekstual dan ada yang melihat secara kontekstual.
Dalam islam konsep ketuhanan merupakan hal utama dan paling awal yang harus
diperbaiki karena itu merupakan pondasi yang menopang kehidupan keislamannya nanti.
Pondasi itu harus benar-benar kuat dan kokoh karena kalau tidak itu akan mengurangi
hakekat keislaman seorang manusia.
Pembuktian wujud tuhan seorang islam atau pembuktian wujud Allah sangatlah
susah karena tidak ada yang pernah dan bisa melihat Allah tapi hal yang harus kita
ketahui bahwa manusia tidak mungkin bisa ada tanpa pencipta, dunia dan alam ini tidak
mungkin bisa ada tanpa pencipta.Tidak mungkin semua hal itu bisa ada tanpa adanya
sang pencipta. Dan penciptanya itu adalah Allah. Manusia, hewan, dan alam ini adalah
akibat sedangkan akibatnya adalah Allah SWT.
Keimanan seseorang tumbuh dari lingkungan, seorang anak yang lahir dari
keluarga yang bagus ibadahnya kemungkinan besar ibadahnya juga bagus, keimanan
akan tumbuh dengan baik ketika kita pelihara, harus ada pembiasaan dalam melakukan
ibadah.

Beriman kepada Allah tidak hanya sekedar mengucapkan tapi harus dikuatkan
dalam hati dan dibuktikan lewat perbuatan. Perbuatan yang kami maksud adalah
perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A. FILSAFAT KETUHANAN DALAM ISLAM
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi,
maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis. Bagi orang yang menganut agama
tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi) akan menambahkan pendekatan wahyu
di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia
dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah
untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan
kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.
Meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap
manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka
disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada
jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan
padam.
Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para ahli marifat
berkata, Jalan-jalan menuju marifatullah sebanyak nafas makhluk. Salah satu jalan
marifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli Hadis
(Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan.
Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al
Quran dan Hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat dan riwayat yang
secara lahiriah melarang menggunakan akal (rayu). Padahal kalau kita perhatikan,
ternyata Al Quran dan Hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan
menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah.
Perkataan Illah, yang selalu diterjemahkan "Tuhan" Dalam bahasa Alquran dipakai untuk
menyatakan berbagai objek yang dibesarkan dan dipentingkan oleh manusia, misalnya
dalam QS.Al jatsiyah (45) ; 23.
Ayat diatas menunjukkan bahwa perkataan illah bisa mengandung arti berbagai
benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Firaun atau

penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau
Illah yang tepat, berdasarkan logika Alquran sebagai berikut :
Tuhan (Ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.
Dalam ajaran islam diajarkan la ilaaha illa Allah. Susunan kalimat tersebut dimulai
dengan peniadaan, yaitu tidak ada Tuhan, kemudian baru diikuti dengan
penegasan melainkan Allah. Hal itu berarti seorang muslim harus membersihkan diri
dari segala macam tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada
satu Tuhan yaitu Allah.

B. PEMBUKTIAN WUJUD TUHAN


Adanya alam organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak
boleh memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya,
suatu akal yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa
dirinya ada dan percaya pula bahwa alam ini ada. Dengan dasar itu dan dengan
kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang
adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan: percaya adanya makhluk, tetapi
menolak adanya Khaliq adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah
diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu
bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan
percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa
pencipta ?
Dalam al-Quran, penggambaran tentang pengakuan akan eksistensi Tuhan dapat
ditemukan dalamQ.S al-Ankabut, 29: 61-63. Dalam ayat 61-63 dijelaskan bahwa:
bangsa arab yang penyembah berhala tidak menolak eksistensi pencipta langit dan
bumi".
Berdasarkan kandungan ayat ini, dapat dipahami bahwa bangsa arab
sesungguhnya telah memahami dan meyakini akan eksistensi tuhan sebagai pencipta
langit dan bumi serta pengaturnya. Namun menurut al-Quran, ada segelintir anak

manusia yang menolak eksistensi tuhan, seperti penggambaran al-Quran dalam Q.S. alJasyiah (45): 24. Ayat ini menegaskan bahwa:
mereka berkata: kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja, kita mati
dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Penolakan akan
eksistensi Tuhan oleh sebagian kecil manusia itu hanya didasarkan pada dugaan semata
dan tidak didasarkan pada pengetahuan yang meyakinkan seperti ditegaskan
dalam klausa penutup ayat 24 tersebut, yaitu:"mereka sekali kali tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."
Banyak sekali ayat yang terkandung dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang
keberadaan Allah sebagai tuhan semesta alam seperti yang terkandung dalam surah AliImran ayat 62 yang artinyasesungguhnya ini adalah kisah yang benar. Tidak ada Tuhan
selain Allah dan sungguh Allah MahaPerkasa, Mahabijaksana."
Ke-Esaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan
dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat "La ilaaha
illa Allah" harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan
ucapannya.

C. PROSES TERBENTUKNYA IMAN


Benih iman yang dibawah sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang intensif,
besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih iman. Berbagai
pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang, baik yang
datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, maupun lingkungan termasuk
benda-benda mati seperti cuaca, tanah , air dan lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang
disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah
laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi anakanak. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda: setiap anak, lahir membawa fitrah, Orang
tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau majusi.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan proses
perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah

adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal
ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.
Disamping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena
tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. Seorang
anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi
hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang dan terampil dalam
melaksanakan ajaran-ajaran Allah.

D. KEIMANAN DAN KETAKWAAN


Iman atau kepercayaan merupakan dasar utama dalam memeluk suatu agama
karena dengan keyakinan dapat membuat orang untuk melakukan apa yang diperintahkan
dan apa yang dilarang oleh keyakinannya tersebut atau dengan kata lain iman dapat
membentuk orang jadi bertaqwa.
Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 dikatakan bahwa orang beriman adalah orang
yang amat sangat cinta kepada Allah. Oleh karena itu beriman kepada Allah berarti amat
sangat cinta dan yakin terhadap ajaran Allah yaitu Al-Quran. Jika kita ibaratkan dengan
sebuah bangunan, keimanan adalahpondasi yang menopang segala sesuatu yang berada
diatasnya, yang kokoh tidaknya bangunan itu sangat tergantung pada kuat tidaknya
pondasi tersebut. Meskipun demikian keimanan saja tidak cukup ia harus diwujudkan
dengan amal perbuatan yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama yang kita anut.
Keimanan tidaklah sempurna jika hanya diyakini dalam hati tapi juga harus diwujudkan
dengan diikrarkan oleh lisan dan dibuktikan dengan tindakan dalam kehidupan seharihari.
Keimanan adalah perbuatan yang bila diibaratkan pohon, mempunyai pokok dan
cabang. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong
seorang muslim berbuat amal shaleh.seseorang dikatakan beriman bukan hanya percaya
terhadap sesuatu, melainkan mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu
sesuai keyakinannya
Berbicara masalah keimanan, kita bisa melihat takaran keimanan seseorang dari
tanda-tandanya seperti :
1. Jika menyebut atau mendengar nama Allah hatinya bergetar, dan berusaha agar Allah
tidak lepas dari ingatannya.

2. Senantiasa tawakkal, yaitu bekerja keras berdasarkan keimanan


3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu melaksanakan perintahnya
4. Menafkahkan rizky yang diperolehnya di jalan Allah
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan
6. Memelihara amanah dan menepati janji
Manfaat dan pengaruh Iman dalam kehidupan manusia :
1. Iman melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda
2. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
3. Iman memberikan ketentramann jiwa
4. Iman mewujudkan kehidupan yang baik
5. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Takwa berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah yang berarti takut, menjaga,
memelihara dan melindungi, maka secara etimologi taqwa dapat diartikan sikap
memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara
utuh dan konsisten (istiqomah). Hakikat takwa sebagaimana yang disampaikan oleh
Thalq bin Hubaib Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan
nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya Dan engkau
meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan
siksa-Nya."
Kata takwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi halhal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu
ketika ditanya tentang takwa, beliau mengatakan:
Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?
Si penanya menjawab, Ya.
Beliau balik bertanya, Lalu apa yang kamu lakukan?
Orang itu menjawab, Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku
melompatinya atau aku tahan langkah.
Maka berkata Abu Hurairah, Seperti itulah takwa".
Karakteristik orang yang bertakwa secara umum dapat dikelompokkan ke dalam 5
kategori/ indikator ketaqwaan:
1. Iman kepada Allah,iman kepada Malaikat, Kitab-kitab dan para nabi, dengan kata lain
instrumen ketaqwaan yang pertama ini dikatakan dengan memelihara Fitrah Iman.

2. Mengeluarkan harta yang dikasihnya kepada kerabat, anak yatim, orang0orang miskin,
orang-orang yang putus di perjalanan, Atau dengan kata lain mencintai umat manusia.
3. Mendirikan shalat dan zakat
4. Menepati janji
5. Sabar disaat kepayahan, dan memiliki semangat perjuangan

Hubungan Takwa dengan Allah SWT


Seseorang yang bertakwa (muttaqin) adalah orang yang menghambakan dirinya
kepada Allah dan selalu menjaga hubungan dengan-Nya setiap saat. Memelihara
hubungan dengan Allah terus menerus akan menjadi kendali dirinya sehingga dapat
menghindari dari kejahatan dan kemungkaran dan membuatnya konsisten terhadap
aturan-aturan Allah. Karena itu inti ketaqwaan adalah melaksanakan perintah Allah dan
menjauhi larangannya.
Memelihara hubungan dengan Allah SWT dimulai dengan melaksanakan tugas
(ibadah) secara sungguh-sungguh dan ikhlas, dan memelihara hubungan dengan Allah
dilakukan juga dengan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah.
Hubungan Takwa dengan sesama manusia
Hubungan dengan Allah menjadi dasar bagi sesama manusia yang bertakwa akan
dapat dilihat dari peranannya ditengah-tengah masyarakat. Sikap takwa tercermin dalam
bentuk kesediaan untuk mendorong orang lain, melindungi yang lemah dan berpihak
pada kebenaran dan keadilan.
Hubungan Takwa dengan Diri sendiri
1. Sabar, yaitu sikap diri menerima apa saja yang datang kepada dirinya, baik perintah,
larangan, maupun musibah yang menimpanya. Sabar terhadap perintah adalah menerima
dan melaksanakan perintah dengan ikhlas. Dalam melaksanakan perintah terhadap upaya
untuk mengendalikan diri agar perintah itu dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Tawakal, yaitu menyerahkan keputusan segala sesuatu, ikhtiar dan usaha kepada Allah.
Tawakal bukanlah menyerah, tetapi sebaliknya usaha maksimal tetapi hasilnya
diserahkan seluruhnya kepada Allah yang menentukan.

3. Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas apa saja yang diberikan Allah atau sesame
manusia. Bersyukur kepada Allah adalah sikap berterima kasih terhadap apa saja yang
telah diberikan Allah, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Bersyukur dengan
perbuatan adalah mengucapkan hamdalah sedangkan bersyukur dengan perbuatan adalah
menggunakan nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan keharusannya.
4. Berani, yaitu sikap diri yang mampu menghadapi resiko sebagai konsekuensinya dari
komitmen dirinya terhadap kebenaran. Jadi berani berkaitan dengan nilai nilai
kebenaran. Kebenaran lahir dari hubungan seseorang dengan dirinya terutama berkaitan
dengan pengendalian dari sifat sifat buruk yang datang dari dorongan hawa nafsunya.

E. GOLONGAN GOLONGAN DALAM ISLAM


Dalam perkembangannya, golongan golongan dalam Islam yang berlainan
aqidah semakin banyak bermunculan. Berikut adalah golongan golongannya:
1) Ahlussunnah wal Jamaah
Ahlussunnah adalah satu satunya aliran yang meyakini aqidah Islam secara
lurus sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nama Ahlussunnah wal
Jamaah sendiri memiliki arti pengikut sunnah Nabi Muhammad saw dan para Khulafa ur
Rasyidin sahabat beliau. Ahlussunnah adalah golongan yang disebutkan dalam hadits
sebagai satu satunya aliran yang pengikutnya akan masuk surga.
Golongan Ahlussunnah dirumuskan oleh Syeikh Abu Hasan Ali Al-Asyari pada abad III
Hijriyah sebagai reaksi terhadap kemunculan paham paham aqidah yang sesat pada
masa itu. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Basrah, Iraq pada tahun 260
H. Tokoh besar Ahlussunnah lainnya adalah Syeikh Abu Manshur Muhammad bin
Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Beliau lahir di Desa Maturid, Samarkand pada
tahun 333 H. Beliau adalah ulama yang memperinci aqidah Ahlussunnah.

2) Mutazilah
Mutazilah dalam bahasa Arab berarti orang orang yang memisahkan diri.
Nama Mutazilah mengacu pada sebutan untuk pendirinya, Washil bin Atha. Washil bin
Atha lahir pada tahun 80 H, beliau adalah murid dari ulama besar di Baghdad, Imam

Hasan Bashri. Washil bin Atha menentang pelajaran yang diberikan gurunya berdasarkan
Al-Quran dan hadits, serta membuat ajaran baru berdasarkan logika.
Golongan Mutazilah adalah orang orang yang lebih mempercayai rasionalitas
mereka daripada Al-Quran dan hadits. Sehingga apabila ada ayat Al-Quran maupun
hadits yang menurut mereka tidak masuk akal, mereka akan memutar mutar maknanya
sehingga sesuai dengan akal mereka. Ajaran ajaran Mutazilah yang bertentangan
dengan paham Ahlussunnah adalah:
a) Baik dan buruk adalah berdasarkan akal, bukan Al-Quran dan Hadits. Sehingga
penilaian benar dan salah menjadi relatif karena akal manusia terus berkembang dan
berubah seiring perkembangan budaya dan zaman.
b) Allah tidak memiliki sifat apapun, karena kalau Allah memiliki sifat maka Allah tidak
Maha Esa karena akan ada Allah itu sendiri dan sifatNya secara terpisah (contoh Allah
Ar-Rahman berarti artinya adalah ada Allah dan ada Sang Maha Pengasih, keduanya
terpisah. Berarti Allah tidak Maha Esa, karena ada Tuhan Allah dan Tuhan Maha
Pengasih).
c) Al-Quran adalah makhluk, diciptakan Tuhan. Padahal Al-Quran adalah firman
Allah swt, bukan makhlukNya.
d) Orang mumin yang berbuat dosa besar akan dimasukkan ke neraka untuk selama
lamanya karena dosa besarnya, namun siksaan diperingan karena orang tersebut
beriman sewaktu di dunia. Maka tempat orang itu kelak adalah bukan di neraka, yg
siksaannya beratm tapi bukan juga di surga, yang bebas dari siksaan. Tempat mereka
adalah di antara surga dan neraka. Ahlussunnah berkeyakinan hanya ada dua tempat di
akhirat, yaitu surga dan neraka, tidak ada tempat antara. Sehingga orang mumin yang
berbuat dosa bisa saja mendapat ampunan total atas rahmat Allah swt, mendapat
pengurangan siksa di neraka karena syafaat rasul saw, atau disiksa sesuai masa
hukumannya di neraka kemudian setelah masa hukuman habis orang tersebut
dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga.
e) Nabi Muhammad saw tidak pernah melakukan perjalanan miraj, yang lokasi
tujuannya adalah Sidratul Muntaha, dan hanya ditempuh dalam 1 malam, karena ini
adalah sesuatu yang irasional. Padahal dalam hadits diterangkan bahwa rasul saw

benar benar menempuh perjalanan itu dengan jasad dan ruhnya dalam alam sadar
serta bukan mimpi.
3) Qadariyah
Arti Qadariyah adalah paham kuasa. Golongan Qadariyah adalah golongan
yang memiliki pahamseluruh aktivitas manusia adalah hasil keinginan manusia itu
sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan. Golongan ini merupakan cabang dari
Mutazilah, karena paham Qadariyah lahir dari pemikiran Mutazilah.
Paham Qadariyah amat bertentangan dengan keyakinan aqidah Ahlussunnah.
Qadariyah meyakini bahwa Allah swt menciptakan manusia, kemudian berlepas tangan
setelah itu. Sehingga Allah swt tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Allah
swt hanya akan melihat dan memperhatikan apa yang diperbuat oleh ciptaanNya tersebut.
Hal ini amat berlawanan dengan keyakinan Ahlussunnah, dimana Allah swt adalah Maha
Tahu akan semua perbuatan manusia, baik yang sudah, sedang, maupun belum
dikerjakan.
4) Jabariyah
Jabariyah dalam bahasa Arab memiliki arti keterpaksaan. Golongan Jabariyah
adalah golongan yang memiliki keyakinan Seluruh aktivitas manusia merupakan
kemauan Tuhan. Manusia tidak dapat melakukan apa apa dan hanya bergerak secara
terpaksa mengikuti kehendak Tuhan. Tidak ada konsep ikhtiar dalam keyakinan
Jabariyah.
Golongan Jabariyah didirikan oleh Jaham bin Safwan, sekretaris Harits bin
Sureih, pejabat daerah Khurasan pada era pemerintahan Bani Umayyah. Popularitas
Jaham semakin meningkat karena ia giat melakukan orasi menentang paham Qadariyah.
Ia menyuarakan keyakinan Ahlussunnah akan seluruh perbuatan manusia pada
hakikatnya dijadikan Tuhan karena Tuhan Maha Kuasa. Namun pemikirannya terlalu
radikal hingga mencapai kesimpulan bahwa manusia sama sekali tidak melakukan apa
apa dan hanya Tuhan yang menggerakkannya.

Keyakinan Jabariyah yang menyimpang adalah sebagai berikut:


a) Tidak ada usaha dan ikhtiar manusia. Semua perbuatan manusia adalah dikendalikan
Tuhan. Kalau manusia ibadah maka sebenarnya Tuhan-lah yang menggerakkannya,

begitu pula kalau manusia berbuat dosa, berarti Tuhan-lah yang berdosa. Maka tidak
apa apa manusia berbuat maksiat karena sebenarnya Tuhan-lah yang
menggerakkannya.
b) Iman cukup hanya dengan diakui dalam hati. Padahal menurut keyakinan
Ahlussunnah iman adalah pengakuan dalam hati dan ucapan yang didukung dengan
tindakan nyata untuk membuktikannya.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, maka
dipakai pendekatan yang disebut filosofis.
1) Manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh alam semesta ini lahir pasti ada
penyebabnya, pasti ada penciptanya, dan penciptanya itu adalah Allah tuhan bagi
seluruh makhluk.
2) Keimanan tidka hanya diucapkan lewat bibir, tapi juga harus diyakini dalam hati, dan
dibuktikan lewat perbuatan
3) Iman atau kepercayaan merupakan dasar utama seseorang dalam memeluk sesuatu
agama karena dengan keyakinan dapat membuat orang untuk melakukan apa yang
diperintahkan dan apa yang dilarang oleh keyakinannya tersebut atau dengan kata lain
iman dapat membentuk orang jadi bertaqwa.
4) Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan larangannya.
5) Iman adalah percaya pada pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah, yaitu alQuran menurut Sunnah Rasul, atau dengan selain ajaran Allah, yang terwujud ke dalam
ucapan dan perbuatan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, dkk. 1991. Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Bumi Aksara.
Azra, Azyumardi, dkk. 2002. Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi umum. Jakarta, Departemen
Agama RI.
Iskandar, Arief B. 2011. Materi Dasar Islam. Bogor, Al Azhar Press.