Anda di halaman 1dari 5

1. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme kesulitan bernafas pada kasus ?

Penyebab Awi mengalami kesulitan bernafas disebabkan infeksi saluran nafas atas yang kemudian
menyebar dan menyebabkan laringitis dan kemudian turun lagi hingga ke trakea (terkadang sampai
bronkus), menyebabkan inflamasi pada permukaan mukosa (mucosal lining) dan mengakibatkan
penyempitan jalan nafas. Terjadinya edema dinding mukosa pada saluran nafas, hal ini kemudian
dapat mengawali terjadinya obstruksi jalan nafas sehingga anak akan mengalami kesulitan bernafas.
2. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan khusus jantung ?
NORMAL
3. Definisi ?
Respiratory Distress : Suatu masalah paru yang terjadi ketika cairan tertumpuk di dalam paru yang
menyebabkan kegagalan bernafas dan kedar oksigen rendah dalam darah
Croup : Laringotrakeobronkitis adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan peradangan dan
pembengkakan pada saluran nafas bagian atas (laring, trakea, bronkus) sehingga menyebabkan
obstruksi / sumbatan jalan napas yang ditandai dengan batuk dan sesak nafas.
4. KIE ?
Saran dan edukasi yang seharusnya diberikan kepada orangtua pasien dengan croup secara umum
setelah menjalani perawatan adalah sebagai berikut :
1. Promotif : sebagai promotif menganjurkan memberikan makanan yang mengandung gizi yang
cukup yang meliputi karbohidrat, protein, lemak, kemudian buah-buahan dan sayuran sebagai
sumber vitamin dan mineral untuk penderita.dan menasehatkan supaya selalu menjaga kebersihan
diri dan lingkungan terutama lingkungan rumah.
2. Preventif : sebagai usaha preventif mengajarkan kepada orang tua untuk mencuci tangan yang
lebih sering, menghindarkan anak dari berdekatan dengan keluarga atau orang lain yang menderita
infeksi saluran nafas. Jika terdapat batuk yang keras dan kering berikan banyak minum dan dekatkan
pada udara yang lembap dan hangat. Mengedukasikan kepada orang tua tentang kepentingan asi dan
kegunaannya. Bayi yang mendapat asi akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih optimal. Jika
terdapat tanda-tanda croup berulang segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
3. Memberikan nasehat kepada orang tua penderita untuk secara optimal berusaha mencukupi
kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang meliputi :
Asuh : memenuhi kebutuhan akan pangan/gizi, papan/pemukiman yang layak, perawatan kesehatan
dasar antara lain : imunisasi, penimbangan anak yang teratur dan pengobatan kalau sakit.
Asih : memberikan kasih sayang dan perhatian pada penderita supaya pengobatan berjalan sampai
tuntas dan mencegah berulangnya penyakit.
Asah : memberikan stimulasi mental psikososial dengan alat pengasah edukatif yang dapat berupa
gambar dan suara.
Orang tua harus tetap diberi edukasi agar memperhatikan adanya gejala croup yang berulang dan
untuk mencari pertolongan dokter secepatnya jika terjadi.

Sindrom croup
Definisi
Croup (laryngotracheitis,laryngotracheobronchitis) adalah penyakit peradangan akut di daerah
subglotis larings, trakea,dan bronkus. Biasanya ditandai dengan suara serak, batuk kering seperti
menggonggong, dan stridor inspirasi
Etiologi
Penyakit ini biasanya menyebar melalui pernafasan dari percikan yang mengandung virus di udara
atau berhubungan langsung dengan penderita yang terjangkit melalui percikan dahak.
A. Virus
1. Parainfluenza virus tipe I,II,III (50-75% kasus).
2. Virus influenza tipe A dan B.
3. Adenovirus.
4. Enterovirus.
5. Respiratory syncytial virus (RSV).
6. Measles.
7. Coxsackievirus.
8. Rhinovirus.
9. Echovirus.
10. Reovirus.
11. Metapneumovirus.
B. Bakteri (jika terjadi infeksi sekunder)
1. Streptococcus pyogenes.
2. Streptococcus pneumoniae.
3. Staphylococcus aureus.
4. Haemophilus influenzae.
5. Moraxella catarrhalis.
6. Mycoplasma pneumoniae.
Epidemiologi
Puncak insidensi croup kurang lebih 4,6 kasus per 100 anak usia 1sampai 2 tahun; dan kurang lebih
1,3%-5% anak penderita croup diharuskan rawat inap
Faktor risiko
sangat sering terjadi terjadi pada musim gugur dan musim dingin
lahir prematur
Croup terutama berpengaruh pada anak usia 6 bulan sampai 3 tahun, meskipun begitu adakalanya
berpengaruh pada anak yang lebih muda ataupun lebih tua
Anak laki-laki lebih sering daripada perempuan
Tipe croup
A. Croup virus merupakan penyakit yang paling umum .Penyakit ini merupakan akibat dari infeksi virus
pada laring dan trakea.Croup jenis ini sering didahului dengan adanya demam kemudian berlanjut
menjadi batuk yang menggonggong.Jika gejala semakin parah akan terdengar stridor.Anak yang
terinfeksi virus biasanya mengalami demam yang tidak terlalu tinggi, namun ada yang bisa mencapai
1040F.
B. Croup Spasmodic ,biasanya disebabakan oleh infeksi saluran nafas bagian atas atau reaksi alergi.
Gejala biasanya timbul pada malam hari. Tiba tiba anak mengalami sesak nafas, diikuti stridor, dan
batuk menggonggong. Anak yang menderita croup spasmodik biasanya tidak didahului dengan demam.
Derajat keparahan penyakit
Menurut westley scale

Inspiratory stridor
None - 0 points
Upon agitation - 1 point
At rest - 2 points
Retractions
Mild - 1 point
Moderate - 2 points
Severe - 3 points
Air entry
Normal - 0 points
Mild decrease - 1 point
Marked decrease - 2 points
Cyanosis
None - 0 points
Upon agitation - 4 points
At rest - 5 points
Level of consciousness
Normal - 0 points
Depressed - 5 points

Menurut Westley scale, nilai< 3 = penyakit ringan , nilai 3-6 = penyakit sedang ,nilai > 6 = penyakit berat.
Atau dengan klasifikasi sebagai berikut :
Ringan
Sedang
Berat
Mengacu pada
gagal nafas
Terkadang disertai
Batuk
Batuk menggonggong
Batuk
batuk
menggonggong
yang sering, terdapat
menggonggong
menggonggong,
yang sering ,
stridor inspirasi yang
(sering tapi tidak
tidak terdengar
stridor saat istirahat menetap dan terkadang
menonjol), stridor
stridor saat istirahat,
musah terdengar,
disertai stridor
yang terdengar saat
tidak / disertai
retraksi dinding
ekspirasi, ditandai
istirahat ( pada
retraksi ringan dari
dada suprasternal
dengan adanya retraksi
umumnya sulit
otot suprasternal dan dan sternal ada saat
dinding dada, timbul
untk didengar),
/ atau tarikan
istirahat, tetapi
distress dan agitasi
tarikan dinding
intercostae
tidak ada atau
yang signifikan.
dada (mungkin
sedikit distress atau
tidak menjadi
agitasi
tanda), letargi dan
penurunan level
kesadaran.

Manifestasi klinis
Biasanya dimulai dengan gejala pernafasan non spesific seperti :
a. Demam (biasanya 38-390C)
b. Batuk
c. Rhinorhea
d. sore throat
Dalam 1-2 hari gejalanya berkembang menjadi :
a. Suara serak
b. Barking cough
c. Stridor inspiratory
Gejala-gejala ini akan memburuk pada malam hari

Ketika usaha untuk bernafasnya mulai meningkat maka anak akan mulai stop untuk makan
Terapi
Terapi pada Croup tergantung derajat sakitnya :
A. Pada Croup Berat
1. Tenangkan anak pada posisi yang nyaman
2. Terapi Oksigen
Pada anak dengan kondisi respiratori distress yang sangat parah, harus segera diberikan oksigen
100% melalui bag-valve-mask device. jika ada lendir jalan nafas harus dibersihkan dangan
penghisapan.

Intubasi ETT diindikasikan setelah resusitasi emergency tersebut atau jika terdapat penyempitan
jalan napas (stridor). ETT yang digunakan berukuran 0,5 1mm lebih kecil dari perkiraan (pada
anak ). Cara memperkirakan ukuran ETT yang sesuai dengan umur anak dapat menggunakan rumus :

Internal diameter (mm) = (Age/4) + 4


Length (cm) = (Age/2) + 12 for an oral tube
Length (cm) = (Age/2) + 15 for nasal tube
Maka pada kasus ini, dapat digunakan ETT berukuran diameter 4,5 mm dengan panjang 16 cm.
Hanya 5% pasien anak dengan croup dilakukan intubasi trakea. Keputusan melakukan intubasi ini bila
terjadi takikardia, takipnea, retraksi dinding dada, atau adanya gambaran sianosis, kelelahan, kebingungan.
Semua anak yang diintubasi harus dimonitoring kadar CO2 dan SaO2 nya.
1. Monitoring, secondary survey, dan pencarian key featrure (gambaran klinis utama)
Monitoring dengan seksama HR, RR, kerja nafas, ABG, dan tanda klinis lain untuk menegakan
diagnosis.
2. Emergency Treatment
Nebulized racemic atau L-epinephrine diberikan pada kasus respiratory distress berat atau menengah.
Obat ini bekerja dengan stimulasi adrenergic, yang menyebabkan konstriksi dari precapillary arterioles
sehingga menurunkan tekanan hydrostatic kapiler. Mekanisme ini menyebabkan resorbsi cairan dari
intrestitium mukosa laring dan menekan edema. Aktivitas beta-2-adrenergic menyebabkan relaksasi otot
polos bronchial (bronkodilator). Nebulised adrenaline empat vial 1 mL (total 4 mL) dari 1:1000 larutan
3. Medicamentosa (definitive treatment)
Oral prednisolone 1 mg/kg BB
Dexamethasone IM 0,6 mg/kgBB
Corticosteroid, dengan mekanisme kerja anti-inflamasi, bekerja menekan edema pada mukosa laring
sehingga akan mengurangi obstruksi, Obat pilihan yang digunakan adalah dexamethason 0.15 mg/kg (pada
kondisi respiratory distress) atau 0,3 0,6 mg/kg pada kasus mild-to-moderate croup. Dapat diberikan
peroral, IV, IM tanpa mengurangi efektivitas obat.

Obat lain yang dapat digunakan adalah prednisolone dan nebulised budesonid (2 mg). Dexamethason
dapat diberikan untuk 2 3 hari jika simtom menetap.
Dexamethasone IM
Child's weight

Dose

Preparation

5-10 kg

5 mg

5 mg/ml

11-20 kg

8 mg

8 mg/2 ml

21-30 kg

10 mg

5 mg/ml

Oral prednisolone suspension


Child's weight

Dose

Preparation (5mg/ml)

5-10 kg

25 mg

5 ml

11-20 kg

50 mg

10 ml

21-30 kg

75 mg

15 ml

Golongan corticosteroid ini dikontraindikasikan pada kasus anak dengan varicella atau tuberculosis
yang tak tertangani.Antibiotik tidak diindikasikan pada kasus ini, kecuali bila telah terjadi kondisi
laryngotrakeoronkitis atau laringotrakeobronkopneumonitis yang disertai infeksi bakteri.

4. Follow up
Biarkan anak terletak pada posisi yang nyaman.Setelah itu kita pantau kondisi anak setelah diberikan
terapi.