Anda di halaman 1dari 21

TUGAS

KELISTRIKAN OTOMOTIF

Disusun oleh :
I Wayan Rismawan

(ACE 114 032)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


JURUSAN PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI KEJURUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMUPENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2016

1. DAYA
Daya Listrik atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Electrical Power adalah jumlah energi
yang diserap atau dihasilkan dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber Energi seperti Tegangan
listrik akan menghasilkan daya listrik sedangkan beban yang terhubung dengannya akan
menyerap daya listrik tersebut. Dengan kata lain, Daya listrik adalah tingkat konsumsi energi
dalam sebuah sirkuit atau rangkaian listrik. Kita mengambil contoh Lampu Pijar dan Heater
(Pemanas), Lampu pijar menyerap daya listrik yang diterimanya dan mengubahnya menjadi
cahaya sedangkan Heater mengubah serapan daya listrik tersebut menjadi panas. Semakin tinggi
nilai Watt-nya semakin tinggi pula daya listrik yang dikonsumsinya.
Sedangkan berdasarkan konsep usaha, yang dimaksud dengan daya listrik adalah besarnya usaha
dalam memindahkan muatan per satuan waktu atau lebih singkatnya adalah Jumlah Energi
Listrik yang digunakan tiap detik. Berdasarkan definisi tersebut, perumusan daya listrik adalah
seperti dibawah ini :
P=E/t
Dimana :
P = Daya Listrik
E = Energi dengan satuan Joule
t = waktu dengan satuan detik
Dalam rumus perhitungan, Daya Listrik biasanya dilambangkan dengan huruf P yang
merupakan singkatan dari Power. Sedangkan Satuan Internasional (SI) Daya Listrik adalah Watt
yang disingkat dengan W. Watt adalah sama dengan satu joule per detik (Watt = Joule / detik)
Satuan turunan Watt yang sering dijumpai diantaranya adalah seperti dibawah ini :
1 miliWatt = 0,001 Watt
1 kiloWatt = 1.000 Watt
1 MegaWatt = 1.000.000 Watt
Rumus Daya Listrik
Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Daya Listrik dalam sebuah Rangkaian Listrik
adalah sebagai berikut :
P=VxI
Atau
P
P = V2/R

I2R

Dimana :
P = Daya Listrik dengan satuan Watt (W)
V = Tegangan Listrik dengan Satuan Volt (V)
I = Arus Listrik dengan satuan Ampere (A)
R = Hambatan dengan satuan Ohm ()

2. KUAT ARUS
Arus listrik adalah banyaknyamuatan listrikyang disebabkan dari pergerakan elektron elektron
mengalir melalui suatu titik dalam sirkulasi listrik tiap satu waktu.
Aliran muatan listrik disebut arus listrik. Arah arus listrik pada kawat dari kutub positif baterai
menuju kutub negatif baterai. Arah arus listrik dalam rangkaian tertutup diperlihatkan pada

(a) Arus listrik timbul pada rangkaian tertutup,


(b) Aliran muatan listrik tidak terjadi dalam rangkaian terbuka.
Besar arus listrik dinyatakan dengan kuat arus listrik, disimbolkan dengan I. Kuat arus listrik
adalah banyaknya muatan listrik yang melalui penampang penghantar setiap sekon.

dengan
q = muatan listrik .............................. coulomb (C)
t = waktu ........................................... sekon (s)
I = kuat arus ...................................... ampere (A)

Jadi, 1 A = 1 C/s. Perhatikan bahwa 1 mA = 0,001 A dan 1 mikroampere (A) = 0,000001 A.

Kuat arus listrik diukur dengan menggunakan amperemeter. Sedangkan untuk kuat arus yang
kecil, digunakan galvanometer sebagai alat untuk mengukurnya. Perhatikan cara merangkai
amperemeter untuk mengukur kuat arus listrik pada Gambar di bawah

3. HAMBATAN
Penghantar dari bahan metal mudah mengalirkan arus listrik, tembaga dan aluminium memiliki
daya hantar listrik yang tinggi. Bahan terdiri dari kumpulan atom, setiap atom terdiri proton dan
elektron. Aliran arus listrik merupakan aliran elektron. Elektron bebas yang mengalir ini
mendapat hambatan saat melewati atom sebelahnya. Akibatnya terjadi gesekan elektron
denganatom dan ini menyebabkan penghantar panas. Tahanan penghantar memiliki sifat
menghambat yang terjadi pada setiap bahan.
Tahanan didefinisikan sebagai berikut :
1 (satu Ohm) adalah tahanan satu kolom air raksa yang panjangnya 1063 mm dengan
penampang 1 mm pada temperatur 0 C"
Daya hantar didefinisikan sebagai berikut:
Kemampuan penghantar arus atau daya hantar arus sedangkan penyekat atau isolasi adalah
suatu bahan yang mempunyai tahanan yang besar sekali sehingga tidak mempunyai daya hantar
atau daya hantarnya kecil yang berarti sangat sulit dialiri arus listrik.
Rumus untuk menghitung besarnya tahanan listrik terhadap daya hantar arus:
R = 1/G
G = 1/R
Dimana :
R = Tahanan/resistansi [ /ohm]
G = Daya hantar arus /konduktivitas [Y/mho]

Gambar 3. Resistansi Konduktor


Tahanan penghantar besarnya berbanding terbalik terhadap luas penampangnya dan juga
besarnya tahanan konduktor sesuai hukum Ohm.
Bila suatu penghantar dengan panjang l , dan diameter penampang q serta tahanan jenis (rho),
maka tahanan penghantar tersebut adalah :
R = x l/q
Dimana :
R = tahanan kawat [ /ohm]
l = panjang kawat [meter/m] l
= tahanan jenis kawat [mm/meter]
q = penampang kawat [mm]
faktot-faktor yang mempengaruhi nilai resistant atau tahanan, karena tahanan suatu jenis material
sangat tergantung pada :
panjang penghantar.
luas penampang konduktor.
jenis konduktor .
temperatur.
"Tahanan penghantar dipengaruhi oleh temperatur, ketika temperatur meningkat ikatan atom
makin meningkat akibatnya aliran elektron terhambat. Dengan demikian kenaikan temperatur
menyebabkan kenaikan tahanan penghantar"

4. HUKUM OHM
Hubungan antara hambatan, arus dan tegangan dikenal sebagai hukum Ohm, dinamai fisikawan
Jerman Georg Ohm (1789-1854), yang mendapat penghargaan dengan menemukan efek dari
bahan, panjang dan ketebalan pada jumlah arus yang akan mengalir melalui itu pada tegangan
yang diberikan.
Satuan ohm juga dinamai menurut namanya. Hukum ohm, dalam bentuk biasa, menyatakan
bahwa arus listrik adalah sama dengan tegangan dibagi dengan hambatan. Persamaan fisika
biasanya menggunakan huruf dan simbol untuk mengekspresikan hubungan;
Pada suatu rangkaian tertutup, Besarnya arus I berubah sebanding dengan tegangan V dan
berbanding terbalik dengan beban tahanan R, atau dinyatakan dengan Rumus :
I = V/R

V=RxI
R = V/I
Dimana;
I = arus listrik, ampere
V = tegangan, volt
R = resistansi atau tahanan, ohm
Formula untuk menghtung Daya (P), dalam satuan watt adalah:
P=IxV
P=IxIxR
P = I x R

TEGANGAN

Tegangan listrik atau yang lebih dikenal sebagai beda potensial listrik adalah perbedaan potensial
listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik. Tegangan listrik merupakan ukuran beda potensial
yang mampu membangkitkan medan listrik sehingga menyebabkan timbulnya arus listrik dalam
sebuak konduktor listrik.
Berdasarkan ukuran perbedaan potensialnya, tegangan listrik memiliki empat tingkatan:
Tegangan ekstra rendah (extra low Voltage)
Tegangan rendah (low Voltage)
Tegangan tinggi (high Voltage)
Tegangan ekstra tinggi (extra high Voltage)
Simbol (rumus)
Sesuai dengan definisi di atas, bahwa tegangan merupakan perbedaan potensial antara dua titik,
yang bisa didefinisikan sebagai jumlah kerja yang diperlukan untuk memindahkan arus dari satu
titik ke titik lainnya, maka rumus dasar tegangan antara 2 titik adalah:
Va Vb = E . dI

Dimana Va = potensial di titik a; Vb = potensial di titik b; E = medan listrik, dan I = arus listrik.
Berdasarkan penerapannya, beda potensial ada pada arus listrik searah (DC) dan arus listrik
bolak- balik (AC). Pada arus searah:

V = (P.R)
V=I.R
dimana V = tegangan; P = daya; R = hambatan; dan I = arus.
Sedangkan pada arus bolak-balik:
dimana V = tegangan (Volt); I = arus (Ampere); P = daya (Watt); R = hambatan (Ohm); Z =
impedansi; dan adalah beda fase antara I dan V.
Satuan
(unit)
Tegangan listrik memiliki satuan Volt. Simbol untuk tegangan listrik adalah V. namun dalam
referensi-referensi akademis lebih sering digunakan simbol E untuk menyebutkan tegangan
listrik. Hal ini dilakukan agar tidak tertukar dengan simbol satuan tegangan (Volt) yang juga
disimbolkan dengan V.

5. SIMBOL-SIMBOL KELISTRIKAN

6. RANGKAIAN SERI
Rangkaian seri adalah salah satu model rangkaian listrik yang dikenal dewasa ini. Dalam
pelajaran kelistrikan, rangkaian seri adalah suatu rangkaian yang semua bagian-bagiannya
dihubungkan berurutan, sehingga setiap bagian dialiri oleh arus listrik yang sama. Rangkaian ini
disebut juga dengan rangkaian tunggal, membiarkan listrik mengalir keluar dari sumber
tegangan, melalui setiap bagian, dan kembali lagi ke sumber tegangan. Kuat arus yang mengalir
selalu sama di setiap titik sepanjang rangkaian. Hambatan yang dirangkai secara seri akan
semakin besar nilai hambatannya. Sedangkan, lampu yang dirangkai secara seri nyalanya
menjadi semakin redup. Apabila satu lampu mati, maka lampu yang lain juga akan mati.
Ciri-ciri Rangkaian Seri
Ciri-ciri rangkaian seri adalah semua komponen listrik yang akan dipasang disusun secara
berderet atau berurutan. Kabel penghubung semua komponen tersebut tidak memiliki
percabangan sepanjang rangkaian, sehingga hanya ada satu jalan yang dilalui oleh arus.
Akibatnya, arus listrik (I) yang mengalir di berbagai titik dalam rangkaian sama besarnya,
sedangkan beda potensialnya berbeda. Artinya semua komponen yang terpasang akan mendapat
arus yang sama pula. Rangkaian seri memiliki hambatan total yang lebih besar daripada
hambatan penyusunnya. Hambatan total (Rtotal) ini disebut hambatan pengganti. Beda potensial
atau tegangan total (Vtotal) dari rangkaian seri adalah hasil jumlah antara beda potensial pada
tiap resistor. Semua pernyataan ini dapat dirumuskan menjadi:

7. RANGKAIAN PARALEL
Rangkaian paralel adalah salah satu model rangkaian yang dikenal dalam kelistrikan. Secara
sederhana, rangkaian paralel diartikan sebagai rangkaian listrik yang semua bagian-bagiannya
dihubungkan secara bersusun. Akibatnya, pada rangkaian paralel terbentuk cabang di antara
sumber arus listrik. Olehnya itu, rangkaian ini disebut juga dengan rangkaian bercabang. Dalam
rangkaian ini, semua percabangan yang ada dapat dilalui oleh arus listrik. Di setiap cabang itulah
komponen listrik terpasang, sehingga masing-masing komponen itu memiliki cabang dan arus
tersendiri. Arus tersebut mengaliri semua komponen listrik yang terpasang secara bersamaan.
Rangkaian paralel diperlukan jika kita akan melakukan pengaturan arus listrik, dengan membagi
arus listrik dengan cara merubah beban yang lewat di tiap percabangan.
Ciri-ciri Rangkaian Paralel
Ciri-ciri dari rangkaian paralel adalah semua komponen listrik terpasang secara bersusun atau
sejajar. Pada rangkaian paralel arus yang mengalir pada setiap cabang berbeda besarnya. Setiap
komponen terhubung dengan kutub positif dan kutub negatif dari sumber tegangan, artinya
semua komponen mendapat tegangan yang sama besar. Sedangkan, hambatan totalnya menjadi
lebih kecil dari hambatan tiap-tiap komponen listriknya. Semuanya dapat ditulis dalam bentuk
rumus matematis:

Kelebihan menggunakan rangkaian paralel adalah apabila saklar dimatikan, maka tidak
semua komponen mati kecuali komponen yang dihubungkan dengan saklar yang dimatikan,
misalnya lampu. Selain itu, Jika ada salah satu cabang atau komponen listrik yang putus atau
rusak, maka komponen yang lain tetap berfungsi. Sebab masih ada cabang lain yang dapat dialiri
arus listrik dan komponen yang tidak rusak itu masih mempunyai hubungan dengan kedua kutub
sumber tegangan. Sedangkan, kelemahan rangkaian paralel adalah dibutuhkan lebih banyak
kabel atau penghantar listrik untuk menyusun seluruh rangkaian.