Anda di halaman 1dari 6

Sistem Transportasi Nasional

Sistranas 2005
Pasal 1
Sistem Transportasai Nasional (Sistranas) sebagaimana ditetapkan dalam lampiran Peraturan
Menteri Perhubungan ini merupakan tatanantransportasi yang terorganisasi secara kesisteman
untuk dijadikan sebagai pedoman dan landasan dalam perencanaan, pembangunan,
penyelenggaraan transportasi guna mampu mewujudkan penyediaan jasa transportasi guna
mampu mewujudkan penyediaan jasa transportasi yang efektif dan efisien.
Pasal 2
Sistranas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 disusun secara terpadu
dan diwujudkan dalam :
a. Tataran Transportasi Nasional (Tatranas);
b. Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil);
c. Tataran Transportasi Lokal (Tatralok);
Pasal 3
Tatranas, Tatrawil dan Tatralok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
huruf (a), (b) dan (c) ditetapkan sebagai berikut:
a. Tatranas ditetapkan oleh Pemerintah Pusat;
b. Tatrawil ditetapkan oleh Pemerintah Propinsi;
c. Tatralok ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
Pasal 4
Pengembangan Sistranas dilakukan secara berkesinambungan, konsisten
dan terpadu baik intra maupun antar moda, dengan sektor
pembangunan lainnya serta memperhatikan eksistensi Pemerintah
Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota, sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.


Pasal 5
Dokumen Sistranas yang merupakan Lampiran sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1, merupakan satu kesatuan dengan Peraturan Menteri ini.
Pasal 6
Dengan ditetapkan keputusan ini, Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor 15 Tahun 1997 tentang Sistranas dinyatakan tidak berlaku lagi.
istem Transportasi Nasional
iv
Sistranas 2005
Pasal 7
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 12 Agustus 2005
MENTERI PERHUBUNGAN
ttd
M. HATTA RAJASA

SISLOGNAS
PERPRES NO. 26/2012 TENTANG CETAK BIRU PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK
NASIONAL (SISLOGNAS)
Kebijakan SISLOGNAS (Cetak Biru, Tim SISLOGNAS, dan Perbaikan Peraturan) merupakan
amanat dari Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2008 dan bagian dari RPJMN 2010-2014, khususnya
Prioritas Nasional No. 7 (Iklim Investasi dan Iklim Usaha) pada Substansi Inti No. 3 (Logistik
Nasional).
Cetak Biru Pengembangan SISLOGNAS telah ditetapkan melalui Perpres No.26/2012,
tanggal 5 Maret 2012, yang mensyaratkan agar pengembangannya dijabarkan dalam Rencana
Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L), Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana
Kerja K/L, serta Pemerintah Daerah terkait pada periode 2010-2015, dan periode selanjutnya
2016-2020, dan 2021-2025.
SISLOGNAS adalah Bagian dari PILAR II MP3EI (Konektivitas Nasional), karena itu:

Pelaksanaan Cetak Biru Pengembangan SISLOGNAS menjadi bagian dari tugas dan
tanggung jawab Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(KP3EI) 2011-2025 karena merupakan sub sistem dari kebijakan peningkatan
konektifitas nasional.
Tim Kerja Pengembangan SISLOGNAS yang susunan keanggotan dan tugasnya
ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI
merupakan bagian dari Pokja Konektifitas.

(1)Menetapkan Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional.


(2)Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional merupakan panduan dalam
pengembangan logistik bagi para pemangku kepentingan terkait serta koordinasi kebijakan dan
pengembangan Sistem Logistik Nasional.
(3)Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional terdiri dari 6 (enam) bagian, meliputi:

Bab1 : Pendahuluan;
Bab 2: Perkembangan dan Permasalahan Logistik Nasional;
Bab 3: Kondisi Yang Diharapkan dan Tantangannya;
Bab 4: Strategi dan Program;
Bab 5 :Peta Panduan (Road Map) dan Rencana Aksi; dan
Bab 6: Penutup dan Tindak Lanjut.

(4) Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional tercantum dalam lampiran yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

Peraturan Presiden No.26/2012 tentang Sistem Logistik Nasional tidak merujuk pasal tertentu
dari peraturan di bidang transportasi sebagai dasar pelaksanaan sehingga sulit terimplementasi.

Dhanang Widijawan, Pakar Hukum Supply Chain Indonesia (SCI) menjelaskan berdasarkan
Undang-undang (UU) No. 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
konstruksi hukum suatu peraturan perundang-undangan sangat menentukan efektivitas dari
produk hukum yang akan ditetapkan.

Konstruksi hukum tersebut, lanjutnya, terkait dengan materi muatan dan dasar pertimbangan atau
konsiderans yang menguraikan pokok filosofis, sosiologis dan yuridis sebagai dasar
pembentukan produk hukum.

Karakteristik materi muatan dibedakan dalam tiga jenis, berdasarkan perintah yakni UU,
kemudian pelaksanaan di atur dalam Peraturan Pemerintah (PP), atau pelaksanaan kekuasaan
pemerintahan, ujarnya, Minggu (14/9/2014).

Karena itu, menurutnya, merujuk kepada UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,


konstruksi hukum Perpres Sislognas perlu dilengkapi.

Jika diperlukan, perpres tersebut, katanya, dapat diupayakan peningkatan derajatnya menjadi UU
Logistik.

Upaya ini diperlukan, karena pada konsiderans Perpres Sislognas tidak mencantumkan ketentuan
atau pasal tertentu dari UU atau PP terkait dengan pelaksanaan aktivitas bisnis logistik, sebagai
dasar pembentukan Perpres.

Konsiderans dalam Perpres Sislognas bersifat umum karena tidak merujuk Pasal tertentu dari
UU atau PP di bidang transportasi yakni Perkeretaapian, Pelayaran, Penerbangan, Angkutan
Jalan, dan Angkutan Multimoda, ucapnya.

Sebagai dasar pelaksanaan, menurutnya, konsiderans Perpres Sislognas hanya merujuk Perpres
MP3EI (Perpres No. 32/201 yang diubah dengan Perpres No. 48/2014), sedangkan Perpres
MP3EI hanya merujuk RPJPN (UU No. 17/2007).

Dengan konstruksi hukum seperti itu, dapat dimengerti apabila law enforcement Perpres
Sislognas dianggap kurang efektif daya berlakunya yang bersifat mengikat dan memaksa
dibandingkan dengan regulasi-regulasi lain seperti UU dan PP yang terkait dengan proses
logistik, ujarnya.

Hal itu, lanjutnya, berbeda dengan PP Angkutan Multimoda yang dalam konsideransnya secara
tegas mencantumkan pasal 148 UU Perkeretaapian, Pasal 55 UU Pelayaran, Pasal 191 UU
Penerbangan, dan Pasal 165 ayat (4) UU LLAJ, sebagai dasar pembentukan PP Angkutan
Multimoda.

Dia juga menilai Perpres Sislognas kurang efektif karena derajat hukum yang berada setingkat di
bawah PP (Multimoda) dan dua tingkat di bawah empat UU di bidang transportasi.

Padahal, UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menegaskan kekuatan hukum


peraturan perundang-undangan sesuai dengan hierarkinya yang berarti kekuatan hukum Perpres
Sislognas berada di bawah UU dan PP.

Padahal, urainya, Perpres Sislognas merupakan roh yang mengakselerasi keseimbangan


koneksitas mata rantai proses logistik pada tataran lokal, domestik, regional, dan global.

Secara law enforcement, menurutnya roh tersebut seharusnya terkoneksi dengan regulasi terkait
(transportasi), sehingga terwujud feed back berupa pemerataan dan perluasan pembangunan
ekonomi berbasis daya saing secara solid.

Pada kenyataannya, yang terjadi adalah sebaliknya. Law enforcement Perpres Sislognas
terkesan kesepian, karena tidak terjadi koneksitas antar regulasi di bidang logistik, ucapnya.

TUGAS SEMINAR
SISTRANAS & SISLOGNAS

NAMA KELOMPOK :
- NITA PONCOWATI
- MOHAMAD FIRMANSYAH
- HANI ORYZA A.P
- ALFIAN ROBY
- VIRINA RUTH .T

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPORTASI


TRISAKTI