Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

TENTANG
ASKEP USAHA KESEHATAN SEKOLAH

HILMAN FAHRUZI
713.6.2.0461

UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN

2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Tujuan pembangunan bidang kesehatan adalah terwujudnya derajat
kesehatan masyarakat yang optimal. Dalam kehidupan sosial yang
beragam di masyarakat, keluarga adalah unit sosial terkecil, oleh karena
itu diperlukan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga
terutama kesehatan ibu dan anak. Masa anak merupakan waktu yang
tepat untuk meletakkan landasan yang kokoh bagi terwujudnya manusia
yang berkualitas.
Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia
anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini
didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan
kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut meliputi
kesehatan umum, gangguan perkembangan, gangguan perilaku dan
gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada umumnya akan
menghambat

pencapaian

prestasi

pada

peserta

didik

di

sekolah.

Kesempatan belajar tersebut membutuhkan kondisi fisik prima yaitu tubuh


yang sehat, oleh karena itu diperlukan suatu upaya kesehatan untuk anak
sekolah agar anak dapat tumbuh menjadi manusia yang berkualitas
dibutuhkan pendidikan di sekolah, salah satunya melalui UKS.
Oleh karena itu kami tertarik untuk membaha lebih lanjut mengenai
peranan UKS dalam anak yang sehat.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan UKS?
Bagaimana pengendalian penyakit pada usia anak-anak?
Bagaiman perkembangan UKS?
Bagaimana dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit pada usia
anak-anak?

C.
1.
2.
3.

Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan UKS.
Untuk mengetahui pengendalian penyakit pada usia anak-anak.
Untuk mengetahui perkembangan UKS.

4.

Untuk mengetahui dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit


pada usia anak-anak.

D.
1.
2.
3.
4.

Manfaat
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
anak-anak.

apa yang dimaksud dengan UKS.


pengendalian penyakit pada usia anak-anak.
perkembangan UKS.
dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit pada usia

BAB II
PEMBAHASAN
A.
1.

UKS
Pengertian
Usaha kesehatan sekolah (UKS) upaya pelayanan kesehatan yang
terdapat di sekolah, guna menolong murid dan juga warga sekolah yang
sakit di kawasan lingkungan sekolah. UKS biasanya dilakukan di ruang
kesehatan suatu sekolah.
UKS tidak hanya menangani murid yang mengalami kecelakaan
ringan di

sekolah

(upaya

pertolongan

pertama

pada

kecelakaan),

melayani kesehatan dasar bagi murid selama sekolah (pemberian


imunisasi), pemantauan pertumbuhan anak. Tetapi juga mengajarkan halhal kecil namun penting bagi siswa, seperti menanamkan mencuci tangan
sebelum dan sesudah makan, pengenalan makanan empat sehat lima
sempurna, perilaku menggosok gigi setelah makan, dan perilaku-perilaku
lain yang dapat membentuk kebiasaan sehat bagi anak.
Hal tersebut perlu dilakukan karena UKS merupakan upaya terpadu
lintas program dan lintas sektoral untuk meningkatkan kemampuan hidup
sehat dan selanjutnya terbentuk perilaku hidup sehat dan bersih baik bagi
peserta didik, warga sekolah maupun warga masyarakat yang telah
dikukuhkan pada tanggal 23 Juli 2003, usaha kesehatan sekolah telah
dikukuhkan pelaksanaannya secara

terpadu lintas sektor dan lintas

program dalam surat keputusan bersama Menteri Pendidikan, Menteri


Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor : 0408/U/1984, Nomor : 74/Tn/1984, Nomor : 60 Tahun 1984
tanggal 3 September 1984 tentang Pokok Kebijaksaan Usaha Kesehatan
Sekolah (Wahyuni, 2008).
Inilah mengapa UKS menjadi salah satu upaya terpenting di sekolah
dalam meningkatkan dan menjaga kesehatan anak. Mantan Menkes Siti
Fadilah Supari sepertinya sependapat, beliau mengatakan bahwa UKS
merupakan strategi penting untuk meningkatkan kesehatan anak usia

prasekolah dan sekolah, serta

memiliki daya

memenuhi hak dan kebutuhan generasi muda.

ungkit tinggi

untuk

2.

Makna Simbol UKS

a.

Segitiga Sama Sisi


Menggambarkan 3 program pokok UKS (Trias UKS)

1)
2)
3)
b.

Pendidikan Kesehatan.
Pelayanan Kesehatan.
Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
Lingkaran
Menggambarkan bahwa program UKS dilaksanakan secara terpadu

oleh seluruh sektor terkait.


c.
Tulisan Uks (Ditulis Secara Vertikal & Horizontal)
Menggambarkan bahwa UKS dilaksanakan mulai dari TKA/RA sampai
SLTA/MA, serta dilaksanakan secara berjenjang dari sekolah/ Madrasah
sampai pusat secara terkoordinasi baik antara sekolah dengan Tim
Pembina, Tim Pembina UKS dibawahnya dengan yang diatasnya maupun
antar sesama TIM Pembina UKS yang sejajar.
3.

Tujuan

a.

Umum
Tujuan usaha kesehatan sekolah secara umum adalah untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta
didik sedini mungkin serta menciptakan lingkungan sekolah yang sehat
sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang
harmonis dan optimal dalam rangka pembentukkan manusia Indonesia
yang berkualitas (Suliha, 2002).
Atau dapat dikatakan

tujuan

UKS

secara

umum

adalah

mempertinggi nilai kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta


rehabilitasi anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga didapatkan
anak-anak yang sehat jasmani, rohani, dan sosialnya.
b.

Khusus
Secara khusus tujuan usaha kesehatan sekolah adalah untuk
memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan
peserta

didik

yang

mencakup

memiliki

pengetahuan,

sikap,

dan

ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat, serta berpartisipasi


aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan. Sehat fisik, mental, sosial
maupun lingkungan, serta memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap
pengaruh

buruk,

penyalahgunaan

narkoba,

alkohol

dan

kebiasaan

merokok serta hal-hal yang berkaitan dengan masalah pornografi dan


masalah sosial lainnya (Komang, 2008).
Secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan UKS secara khusus
ialah mencapai keadaan sehat anak-anak sekolah, keluarganya dan
lingkungannya sehingga dapat memberikan kesempatan tumbuh dan
berkembang secara harmonis serta belajar secara efisien dan optimal. Bila
dijabarkan, seperti berikut:
1)

Penajaman masalah kesehatan pada dirinya sendiri, keluarga dan


lingkungannya dan mempunyai kemampuan untuk berperilaku hidup

2)

sehat.
Meningkatkan kemampuan anggota keluarga, khususnya orang tua/ibu
dalam melaksanakan pengasuhan anak yang mendorong terbentuknya

3)

perilaku hidup sehat dari anak usia sekolah di keluarga tersebut.


Meningkatkan peran serta dari unsur di luar lingkungan keluarga yang
mempunyai nilai strategik dalam upaya pembinaan anak usia sekolah,
diantaranya guru, pembina organisasi pemuda, tokoh masyarakat, kader
bidang kesehatan.

1)
2)

Pembiasaan perilaku hidup sehat yang dimaksud mencakup:


Peningkatan produktivitas belajar peserta didik;
Peningkatan dan pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan
peserta didik dalam menjalankan prinsip hidup sehat serta berpartisipasi
aktif di dalam upaya meningkatkan kesehatan di sekolah, rumah maupun

3)

masyarakat;
Peningkatan daya hayat dan daya tangkap terhadap pengaruh buruk
penyalahgunaan narkoba, obat dan berbahaya lainnya.

B.

Pengendalian Penyakit pada Usia Anak-Anak


Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang
manusia dewasa nantinya. Saat ini masih terdapat perbedaan dalam
penentuan usia anak, berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial,
perkembangan anak, dan karakteristik kesehatannya, antara lain:

a.

Menurut UU no 20 tahun 2002 tentang Perlindungan anak dan WHO


yang dikatakan masuk usia anak adalah sebelum usia 18 tahun dan yang
belum menikah.

b.

American Academic of Pediatric tahun 1998, batasan usia anak yaitu


mulai dari fetus (janin) hingga usia 21 tahun.
Usia anak sekolah dibagi dalam usia prasekolah, usia sekolah,
remaja, awal usia dewasa hingga mencapai tahap proses perkembangan
sudah lengkap. Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas adalah suatu
masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam
periode ini didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang sangat
menentukan kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut
meliputi kesehatan umum, gangguan perkembangan, gangguan perilaku
dan gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada umumnya
akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah.
Sayangnya permasalahan tersebut kurang begitu diperhatikan baik oleh
orang tua atau para klinisi serta profesional kesehatan lainnya.
Sasaran pelayanan usaha kesehatan sekolah adalah seluruh peserta
didik dari tingkat pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar,
pendidikan

menengah,

pendidikan

agama,

pendidikan

kejuruan,

pendidikan khusus atau pendidikan sekolah luar biasa (Depkes, 2001).


Di tingkat sekolah dasar usaha kesehatan sekolah diprioritaskan
pada Kelas I, III dan Kelasa VI dengan alasan bahwa, kelas I merupakan
fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah yang baru dan lepas dari
pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan berbagai penyebab
penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertiannya
tentang kesehatan. Disamping itu kelas I adalah saat yang baik untuk
diberikan imunisasi ulangan. Pada kelas I ini dilakukan penjaringan untuk
mendeteksi kemungkinan adanya kelainan yang mungkin timbul sehingga
mempermudah pengawasan untuk jenjang berikutnya.
Pelaksanaan program UKS pada kelas III

bertujuan

untuk

mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS di kelas I dahulu dan langkahlangkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam program pembinaan
usaha kesehatan sekolah. Kelas VI, dalam rangka mempersiapkan
kesehatan peserta didik kejenjang pendidikan selanjutnya, sehingga
memerlukan pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan yang cukup
(Effendi, 1998).

Pertumbuhan dan Perkembangan anak usia pra sekolah dan Sekolah


dasar:
Jasmani

: Periode ini disebut periode memanjang secara fisik fungsi

organ otak
mulai terbentuk mantap sehingga perkembangan kecerdasannya cukup
pesat.
Jiwani: Anak mulai banyak melihat dan bertanya, fantasinya berkurang
karena
melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin
berinisiatif dan bertanggung jawab.
Rohani
: Anak mulai memasukkan dalam pikirannya tentang Tuhan
mulai
memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya.
Sosial: Kegiatan anak mulai berkelompok dan mengarah pada tujuan
tetapi
masih egosentris, kegiatannya hanya satu jenis dan mulai membuat
Gang dengan kompetisi tinggi.
Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya
berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok
gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan
diri.
Pada anak usia SLTP dan SMU (remaja), masalah kesehatan yang
dihadapi biasanya berkaitan dengan perilaku berisiko seperti merokok,
perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya), kehamilan yang tak diingini, abortus yang tidak
aman, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.
Pertumbuhan dan Perkembangan anak usia sekolah menengah dan
sekolah lanjutan:
Jasmani
: Adanya perubahan jasmani yang mendadak dan cepat
iramanya
sehingga menimbulkan kebingungan dalam diri anak. Secara biologis
remaja telah matang dan siap untuk berperan sebagai pria atau wanita.
Jiwani: Perkembangan kecerdasan berkembang secara pesat, berpikirnya
makin
logis dan kritis, fantasi makin kuat sehingga seringkali terjadi konflik
sendiri, penuh dengan cita-cita, mencari realita, kebenaran dan tujuan
hidup.

Rohani

: Kehidupan agamanya berada dalam persimpangan jalan, ada

perasaan
tidak aman karena terjadi perubahan fisik, emosi dan juga berpengaruh
pada imannya kadang-kadang kekuasaan tradisi kepercayaan dianggap
mempersempit kebebasan dirinya yang banyak menuruti keinginan diri
sendiri (suara hatinya).
Sosial: Pengaruh yang besar datang dari kelompoknya (teman sebaya),
perubahan perilaku berhubungan dengan kehidupan bersama, suka
berkelompok ada usaha untuk diterima dalam kelompok dan masyarakat,
ingin maju, suka membantu, sopan dan memperhatikan orang lain, dsb.
C.

Perkembangan UKS
1. Kegiatan UKS sebelum Tahun 1990

a.

Pemantauan Pertumbuhan dan Status Gizi


Ilustrasi kegiatan UKS sebelum tahun 1990 dapat dijadikan cermin
atau evaluasi kegiatan pada institusi sekolah untuk anak usia 6-12 tahun.
Banyak kegiatan yang berhubungan dengan antropometri anak yang telah
dilakukan

di

UKS

namun

semuanya

hampir

tidak

ada

tindak

lanjutnya. Kegiatan pemantauan pertumbuhan dan status gizi yang


dilakukan sebelum tahun 1990an dapat digambarkan sebagai berikut :
1)

pengukuran tinggi badan lebih banyak menggunakan meteran dinding;


sementara pengukuran berat badan sudah menggunakan Timbangan
injak. Semua data hasil pengukuran dicatat dalam buku besar panjang
karena belum ada KMS untuk anak sekolah (KMS-AS).

2)

Minimnya alat antropometri pada waktu itu membuat guru UKS


berimprovisasi

dalam

menentukan

status

gizi

anak.

Selain

itu

pemantauan pertumbuhan belum jalan karena masih banyak TK-SD yang


belum memiliki KMS anak sekolah.

Akibatnya status kesehatan yang

terdeteksi tidak mencerminkan status kesehatan yang sebenarnya namun


hanya merupakan status gizi dan status kesehatan saat dilakukan
pengukuran.
3) Kelainan status gizi anak usia sekolah tidak dapat diketahui secara pasti
apalagi dipantau terus menerus. Akibatnya tindakan promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif anak tidak dapat dilakukan sedini mungkin.

UKS adalah kegiatan yang sangat bagus dan relevan dari sekolah
yang akan berhasil guna baik dalam jangka waktu dekat maupun jangka
waktu

panjang.

Upaya

penanggulangan

gizi

salah

(malnutrisi

malnutrition) adalah upaya lintas sektor, dimana melibatkan banyak


institusi, termasuk lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sangat
berperan dalam upaya pencegahan (preventif) dan peningkatan (promotif)
melalui upaya-upaya pendidikan gizi, pemantauan yang telah ada dan
telah dilaksanakan melalui kegiatan UKS. Status Gizi adalah suatu
keadaan / kondisi / state yang bersifat dinamis, dimana merupakan suatu
akibat dari faktor ganda (multifactorial) yang terutama hasil dari suatu
keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi. Oleh karena status
gizi ini merupakan suatu proses yang selalu berlangsung dan berubah dari
waktu ke waktu, maka upaya-upaya pemantauannya perlu dilakukan
secara sinambung dan tepat (Purwoko, 2001).
b.

Pendidikan Kesehatan dan Olah Raga


Begitu padatnya kurikulum Sekolah Dasar (SD), sehingga guru UKS
juga bertanggungjawab terhadap materi pendidikan kesehatan dan
praktek olahraga. Dahulu guru olahraga kita selalu menyebut tentang
men sana in korporisano yang diartikan sebagai dalam tubuh yang
sehat terdapat jiwa yang kuat. Sampai sekarang motto tersebut masih
relevan, namun sudah jarang dikumandangkan oleh para guru UKS yang
biasanya merangkap sebagai guru olahraga dan kesehatan. Akan tetapi
guru UKS tahun 1970-1990 lebih banyak menghubungkan faktor gizi,
kesehatan dan olahraga dengan motto empat sehat lima sempurna.

c.

Pembinaan warung / Kantin Sekolah


Integrasi pembinaan UKS dengan warung / kantin sekolah sangatlah
tepat, namun sampai sekarang belum ada laporan tentang hasil evaluasi
pelaksanaan

pengintegrasian

tersebut.

Pembinaan

warung

/kantin

sekolah di beberapa kecamatan ternyata banyak warung/kantin sekolah


yang pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada penjaga sekolah
(Pak Bon). Namun ada beberapa SD yang warung/kantin sekolah telah
dikelola oleh koperasi PKK desa, oleh guru PKK,b ada yang sudah dikelola
antara koperasi guru sekolah dengan perkumpulan orangtua murid. Hal

ini terjadi karena belum ada pedoman penyelenggaraan warung / kantin


sekolah.

Sejak tahun 1993 Depkes, RI telah mengeluarkan pedoman

penyelenggaran

warung

sehat

di

sekolah,

dengan

falsafah

penyelenggaraannya adalah :
1)

Warung Sekolah adalah Tempat Penjualan Makanan yang berada di


lingkungan Sekolah.

2)

Warung Sekolah sebagai wahana pendidikan gizi dan Kesehatan.

3)

Makanan Warung Sekolah adalah aneka ragam makanan bergizi dan


sehat dari berbagai golongan bahan makanan, mengandung 50-300
kalori.

4)

Warung Sekolah melayani murid pada waktu istirahat dan dibuka


selama hari sekolah.

5)

Pengawasan dan penanggung jawab Warung Sekolah adalah Kepala


Sekolah / guru sekolah.

6)

Harga makanan di Warung Sekolah disesuaikan dengan kemampuan


murid.
Selanjutnya

Menurut

Depkes

(1993)

ada

beberapa

tujuan

penyelenggaraan Warung Sekolah / Kantin, yaitu:


1)

Warung Sekolah atau kantin merupakan tempat penjualan


makanan dan minuman yang diorganisir oleh masyarakat sekolah,
berada dalam pekarangan sekolah dan dibuka selama hari sekolah.

2)

Pengelolaan Warung Sekolah. Pengelolaan makanan sekolah adalah


serangkaian kegiatan yang saling berkaitan mulai dari perencanaan menu
hingga evaluasi makanan Warung Sekolah dalam rangka pelaksanaan
penyediaan makanan bagi anak sekolah.
Ditinjau dari aspek kesehatan, tujuan penyelenggaraan makanan di
Warung Sekolah adalah :

1)

Mendidik anak untuk dapat memilih makanan yang bergizi baik,


sehigga lambat laun tercipta pola makan yang sehat.

2)

Memperkenalkan makanan yang beraneka ragam sebagai variasi


hidangan dan motivasi anak untuk memilih makanan bergizi.

3)

Menanamkan kebiasaan yang baik dan menurut syarat kesehatan,


termasuk perilaku sebelum, pada saat dan sesudah makan.

4)

Menambah dan melengkapi makanan murid baik dalam kuantitas


maupun kualitas.

5)

Meningkatkan selera makan, menimbulkan rasa akrab antar teman,


dan pertemuan sosial yang menyenangkan.

6)

Melatih anak untuk disiplin, sabar, tertib pada pekerjaan yang praktis
secara bergilir.

7)

Menerapkan cara belajar sambil berbuat dan membina suatu bentuk


koperasi sekolah.
Untuk melaksanakan seluruh proses pengelolaan Warung Sekolah,
mulai dari perencanaan menu hingga evaluasi penyediaan makanan
pelayanan atau penjualan, termasuk kebersihan dan sanitasi diperlukan
tenaga pelaksana terampil.
Tenaga Warung Sekolah harus berbadan sehat, bebas dari penyakit
menular, bersih dan rapi, mengerti tentang gizi, kesehatan dan memiliki
disiplin kerja yang tinggi. Dengan demikian warung/kantin sekolah yang
belum memiliki sarana air bersih perlu segera bekerjasama dengan
Dewan Sekolah untuk melaksanakan pembangunan sarana air bersih
secara serentak (Tim Pekan Sanitasi, 1999).
Modal pertama yang diperlukan dalam penyelenggaaan makanan di
Warung / Kantin Sekolah adalah dana untuk sarana fisik, penyelenggaraan
makanan dan bahan makanan.

Dana dapat bersumber dari sekolah

sepenuhnya, dari sekolah dengan orang tua murid, pihak swasta yang
ditunjuk atau koperasi sekolah, tabungan guru dan OSIS. Perputaran dana
selanjutnya diperoleh dan dimanfaatkan melalui penjualan di Warung
/Kantin Sekolah.
Lokasi Warung Sekolah harus dalam pekarangan sekolah dan
sedapat mungkin di lingkungan gedung sekolah, tidak berdekatan dengan
jamban, kamar mandi dan tempat pembuangan sampah. Ruangan harus
cukup luas, bersih, nyaman dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang
baik.

Lantai terbuat dari bahan kedap air dan mudah dibersihkan.

Dinding dan langit-langit selalu bersih dan dicat terang. Jendela yang
dipergunakan sebagai ventilasi hendaknya berkasa untuk menghindari
lalat masuk. Ruang makan dilengkapi dengan tempat cuci tangan yang

letaknya mudah dijangkau oleh anak sekolah.

Namun kondisi ideal

warung sekolah seperti anjuran depkes (1999) tersebut hampir belum ada
yang dapat memenuhinya.

2. Kegiatan UKS sesudah Tahun 1990


a)

Pemantauan Pertumbuhan dan Status Gizi


Ada beberapa cara menilai status gizi dalam rangka pemantuan
maupun dalam rangka pendidikan gizi. Penilaian status gizi ada dua
macam yaitu : Penilaian status gizi masyarakat dan penilaian status gizi
individu. Untuk keperluan kegiatan UKS maka yang lazim digunakan
adalah penilaian status gizi individu murid. Pada penilaian status gizi
murid sekolah, dapat dilakukan pengukuran-pengukuran tolok ukur yang
sudah lazim digunakan dalam langkah-langkah penilaian status gizi.
Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun secara
tidak langsung. Pada kegiatan UKS penilaian status gizi dapat atau
mungkin digunakan dan dilaksanakan penilaian status gizi anak sekolah
secara langsung antara lain :

1)

antropometri,

2)

gejala klinis,

3)

pemeriksaan laboratoris.
Dalam pengertian bahwa pada kegiatan UKS pengukuran tolok ukur
status

gizi

tersebut

dipilih

dengan

mempertimbangkan

faktor

kemudahan, dapat dilakukan secara massal, sederhana tetapi dapat


dipercaya (valid dan reliabel). Sesuai dengan tujuan penilaian status gizi
anak usia sekolah pada kegiatan UKS, maka pengukuran antropometri
adalah salah satu yang penting untuk diketahui oleh para penanggung
jawab dan pelaksana UKS. Antropometri adalah :

suatu bagian dari

cabang ilmu yang mempelajari tentang ukuran (dimension) dari tubuh


manusia

beserta

ciri

dan

sifat-sifatnya.

Antropometri

ini

dapat

dimanfaatkan dan diterapkan pada banyak bidang kehidupan, salah


satunya adalah diterapkan pada bidang gizi. Pada ilmu gizi lazim disebut
dengan antropometri gizi. Pada antropometri gizi banyak sekali dimensi

tubuh manusia yang dapat dijadikan tolok ukur pada penilaian status gizi
individu. Tetapi pemilihan dimensi tubuh tergantung pada banyak faktor
antara lain :
1)

tujuan umum, dan masalah yang akan diselidiki,

2)

grup / kelompok umur,

3)

ciri biologis tolok ukur,

4)

sifat epidemiologis

5)

kepraktisan.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut maka hanya
beberapa cara / metode antropometri saja yang dapat dilakukan di UKS.
Beberapa metode antropometri yang praktis dan mudah, tetapi cukup
valid dan reliabel, sesuai dengan tujuan penilaian status gizi di UKS yaitu
deteksi dini gizi salah, dapat dipilih dan dilakukan dengan melakukan
evaluasi secara sinambung (Purwoko, 2001).
Selain pengenalan beberapa gejala klinis sederhana pada beberapa
kasus gizi salah, maka beberapa metode antropometri gizi dapat
dilakukan secara rutin di UKS. Dengan mengingat keterbatasan tenaga,
waktu, pendanaan dan kebijakan yang ada di setiap sekolah maka hanya
beberapa metode antropometri saja yang dapat dipilih dan dilaksanakan
sekolah pada kegiatan UKS. Sedangkan untuk tujuan lain, misalkan untuk
penelitian atau pelaksanaan program kesehatan dan gizi yang lebih
serius, maka sekolah dapat bekerjasama atau meminta bantuan pada
instansi lain yang mampu dan berkompeten. Maka dalam kaitan ini, cukup
dengan melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan secara
berkala saja, maka sudah cukup memadai untuk melakukan deteksi dini
kasus gizi salah di UKS. Dengan menggunakan kedua dimensi tubuh
tersebut maka sudah dapat dipergunakan seperlunya untuk menilai status
gizi anak, asal dilakukan dengan teliti dan tepat.
Sejak tahun 2000an mulai dipikirkan oleh banyak pakar gizi
masyarakat, bahwa kegiatan pemantauan pertumbuhan di UKS dapat
digunakan

sebagai

upaya

pencegahan

terjadinya

growth

(khususnya pencegahan stunted) dikalangan anak usia sekolah.

faltering

Strategi

yang

diperlukan

secara

langsung

untuk

mendukung

kegiatan pendayagunaan KMS-AS di UKS adalah:


1)

Pelatihan petugas UKS dan guru UKS agar lebih terampil dalam
pengukuran antropometri dan pemeriksaan kesehatan dasar pada fisik
anak usia sekolah.

2)

Pelatihan petugas UKS dan guru UKS tentang pengisian KMS-AS yang
akurat

3)

Perbaikan

semua

alat

pendukung

pengukuran

antropometri

(Timbangan, Mikrotoise, mit-line lingkar lengan / lingkar kepala, dllnya)


4)

Memberikan pelatihan non-kurikuler kepada anak didik tentang


bagaimana melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan yang
benar.

b)

Pendidikan Gizi, Kesehatan dan Olah Raga


Gizi salah dapat dialami oleh semua golongan umur dan keadaan ini
dapat mengakibatkan cacat baik fisik maupun psikik yang kadangkala
bersifat menetap. Di Indonesia telah disepakati ada 4 (empat) masalah
gizi utama yaitu : Kekurangan Energi Protein (KEP), Kekurangan Vitamin A
(KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
(GAKI). Masalah gizi utama tersebut hampir merata diderita oleh semua
golongan umur. Tetapi untuk golongan umur anak usia sekolah lebih
memberikan gambaran yang spesifik karena sifat-sifat fisiologik dan
psikologik mereka yang sangat berhubungan dengan keadaan / ciri-ciri
mereka antara lain :

1)

Anak usia sekolah dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan.

2)

Adanya perubahan pola dan selera makan.

3)

Adanya perubahan atau menurunnya perhatian orang tua mereka.

4)

Adanya penyakit infestasi parasit yang diderita sejak usia dini.

5)

Kelainan-kelainan keadaan gizi atau status gizi mereka mempunyai


gambaran yang sangat khas untuk anak-anak usia sekolah tersebut.

c)

Pembinaan warung / Kantin Sekolah


Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan pengelolaan sekolah,
maka pembinaan warung /kantin di sekolah sejak tahun 1999 telah
mengalami perubahan yang cukup nyata.

Hal ini disebabkan adanya

Dewan Sekolah yang terdiri dari tokoh masyarakat setempat, orangtua


murid, dan donatur sekolah (Dewan Penyantun Sekolah) yang didukung
oleh pemerintah setempat.

Menurut Depkes (1999) Warung /Kantin

Sekolah hendaknya memiliki persyaratan sebagai berikut :


1)

Tenaga Pengelola
Pengelolaan warung sekolah memerlukan seorang penanggung
jawab yang mempunyai tugas sebagai penanggung jawab kelangsungan
Warung Sekolah secara keseluruhan, baik ke dalam sekolah maupun
keluar yaitu kepada orang tua murid dan instansi terkait terutama bila
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau tak terduga. Misalnya terjadi
keracunan

makanan

yang

dijual

di

warung

sekolah,

maka

penanggungjawab warung yang harus mampu memberikan penjelasan


dan bertindak untuk penyelamatan murid. Sebaiknya penanggungjawan
warung

sekolah

adalah

kepala

sekolah,

namun

tidak

menutup

kemungkinan dapat dilakukan oleh guru / pamong/ PKK desa, dll.


Kepala

Sekolah,

sebagai

penanggung

jawab

seluruh

kegiatan

akademik dan administrasi sekolah dapat merangkap sebagai pengelola


dan

penyelenggara

Warung

Sekolah.

Sementara

Guru

Sekolah

mempunyai tugas membina dan mengawasi langsung pelaksanaan


Warung

Sekolah,

jenis

makanan

dan

minuman

yang

disediakan,

kebersihan Warung Sekolah dan lingkungannya (termasuk pengadaan dan


jaminan adanya air bersih).
2)

Mitra Pengelola
Orang tua peserta didik bersama tokoh masyarakat dapat menjadi
mitra dan melakukan perencanaan peningkatan kualitas atau perbaikan
warung/kantin sekolah, dengan cara :

a) Berpartisipasi membantu modal Warung Sekolah.


b)

Ikut menyediakan makanan dan minuman bergizi yang memenuhi


persyaratan kesehatan.

c)

Ikut membantu mengawasi kebersihan Warung Sekolah dan cara


pemasakan / pengolahan makanan dan minuman di Warung Sekolah.

D.

Dukungan UKS Terhadap Pengendalian Penyakit pada Usia


Anak-Anak
Periode anak-anak disebut periode memanjang secara fisik fungsi
organ

otak

mulai

kecerdasannya cukup

terbentuk

mantap

sehingga

perkembangan

pesat. Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya

agar anak mampu menjaga kesehatannya sehingga perkembangan


kecerdasan dapat maksimal.
Nemir (1990, dalam

Effendi

1998)

mengelompokkan

usaha

kesehatan sekolah menjadi tiga kegiatan pokok, yaitu :


1.

Pendidikan Kesehatan di Sekolah (Health Education in School)


Pendidikan kesehatan di sekolah dasar dapat dilakukan berupa
kegiatan

intrakurikuler,

kegiatan

ekstrakurikuler

dan

penyuluhan

kesehatan dari petugas kesehatan Puskesmas. Maksud dari kegiatan


intrakurikuler

yaitu

pendidikan

kesehatan

merupakan

bagian

dari

kurikulum sekolah, dapat berupa mata pelajaran yang berdiri sendiri


seperti mata pelajaran ilmu kesehatan atau disisipkan dalam ilmuilmu
lain seperti olah raga dan kesehatan, ilmu pengetahuan alam dan
sebagainya. Kegiatan ekstrakurikuler disini adalah pendidikan kesehatan
dimasukkan

dalam

kegiatan-kegiatan

ekstrakurikuler

dalam

rangka

menanamkan perilaku sehat peserta didik. Penyuluhan kesehatan dari


petugas puskesmas yang berkaitan dengan higiene personal yang
meliputi pemeliharaan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan kuku, mata,
telinga, lomba poster sehat dan perlombaan kebersihan kelas.

Pendidikan ini meliputi :


a.
b.
c.
d.

Pengetahuan tentang dasar dasar hidup sehat.


Sikap tanggap terhadap persoalan kesehatan.
Latihan atau demonstrasi cara hidup sehat.
Penanaman kebiasaan hidup sehat dan upaya peningkatan daya
tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar
Tujuan pendidikan kesehatan adalah:

a.

Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan termasuk cara hidup

sehat dan teratur.


b.
Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat.
c.
Memiliki ketrampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan
pemeliharaan pertolongan dan perawatan kesehatan.
d.
Memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk berlaku hidup sehat dalam
kehidupan sehari hari.
e.
Memiliki kebiasaan hidup sehari hari yang sesuai dengan syarat
f.

kesehatan.
Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat

g.

badan yang proporsional.


Mengerti dan dapat
pencegahan

h.

penyakit

menerapkan

dalam

prinsip-prinsip

kaitannya

dengan

pengutamaan

kesehatan

dan

keselamatan dalam kehidupan sehari hari.


Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar (narkoba, arus

informasi).
i.
Memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal serta
mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit.
.
2.

Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)


Pemeliharaan kesehatan sekolah untuk tingkat sekolah dasar,
dimaksudkan untuk memelihara, meningkatkan dan menemukan secara
dini gangguan kesehatan yang mungkin terjadi terhadap peserta didik
maupun gurunya. Pemeliharaan kesehatan di sekolah dilakukan oleh
petugas puskesmas yang merupakan tim yang dibentuk dibawah seorang
koordinator usaha kesehatan sekolah yang terdiri dari dokter, perawat,
juru imunisasi dan sebagainya. Untuk koordinasi pada tingkat kecamatan
dibentuk tim pembina usaha kesehatan sekolah dengan kegiatan yang
dilakukan meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan perkembangan
kecerdasan, pemberian imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang

mungkin terjadi, pengobatan sederhana, pertolongan pertama serta


rujukan bila menemukan kasus yang tidak dapat ditanggulangi di sekolah.
Pelayanan kesehatan ini dilaksanakan dengan kegiatan komprehensif
yang meliputi ;
a.

Kegiatan Peningkatan Kesehatan ( Promotif )


Kegiatan promotif kesehatan tersebut berupa latihan ketrampilan teknis
dalam rangka pemeliharaan kesehatan, dan pembentukan peran serta

1)
2)
3)
4)
5)

aktif peserta didik dalam pelajaran kesehatan, antara lain:


Dokter Kecil
Kader Kesehatan Remaja
Palang Merah Remaja
Pembinaan warung sekolah sehat.
Pembinaan lingkungan sekolah yang terpelihara dan bebas dari vektor

pembawa penyakit.
6)
Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat.
b.
Kegiatan pencegahan (Preventif )
Berupa kegiatan peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan
rantai penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada
tahap dini sebelum timbul kelainan. Kegiatan preventif ini berupa :
1)
Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang bersifat
2)
3)
4)
5)

khusus untuk penyakit penyakit tertentu.


Penjaringan kesehatan anak sekolah.
Memonitor/ memantau pertumbuhan peserta didik.
Imunisasi peserta didik.
Usaha pencegahan penularan penyakitdengan jalan memberantas

sumber infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah.


6)
Konseling kesehatan di sekolah .
c.
Kegiatan penyembuhan dan pemulihan ( Kuratif dan rehabilitatif)
Berupa kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses
penyakit atau untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat
berfungsi optimal. Kegiatan kuratif dan rehabilitatif ini adalah :
1)
Diagnosa dini.
2)
Pengobatan ringan.
3)
Pertolongan pertama pada kecelakaan, pertolongan pertama pada
4)

penyakit.
Rujukan medik.
Pelakasanaan pelayanan kesehatan dilakukan secara terpadu, baik
secara antar kegiatan pokok dari puskesmas, maupun secara terpadu
dengan para tenaga kependidikan, dengan peran serta peserta didik dan
orang tua mereka. Puskesmas adalah kesatuan unit organisasi kesehatan

yang

langsung

memberi

pelayanan

kepada

masyarakat

secara

menyeluruh dan terintegrasi di wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha


usaha kesehatan. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pembinaan
kesehatan dalam rangka usaha-usaha kesehatan sekolah merupakan
salah satu kegiatan pokok puskesmas.
Tugas

dan

fungsi

puskesmas

dalam

melaksanakan

kegiatan

pembinaan kesehatan dalam rangka usaha kesehatan sekolah mencakup :


a.

Memberikan pencegahan terhadap suatu penyakit dengan immunisasi

dan lainnya yang dianggap perlu.


b.
Merencanakan pelaksanaan kegiatan dengan pihak yang berhubungan
dengan peserta didik.
c.
Memberikan bimbingan tekhnis medis kepada kepala sekolah dan guru
d.

dalam rangka pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah.


Memberikan penyuluhan tentang kesehatan pada umumnya dan UKS
pada khususnya kepada kepala sekolah, guru, dan pihak lain dalam

e.

rangka meningkatkan peran serta dalam pelaksanaan UKS.


Memberikan pelatihan/penataran kepada guru UKS dan kader UKS

f.

( dokter kecil dan kader kesehatan remaja)


Melakukan penjaringan dan rujukan terhadap kasus- kasus tertentu

yang memerlukan.
g.
Memberikan pembinaan dan pelaksanaan konseling.
h.
Menginformasikan kepada kepala sekolah tentang derajat kesehatan
i.

dan tingkat kesegaran jasmani peserta didik dan cara peningkatannya.


Menginformasikan secara teratur kepada tim pembina UKS setempat

meliputi :
1)
Segala kegiatan pembinaan kesehatan yang telah, sedang, dan akan
dilakukan.
2)
Permasalahan yang dialami dan saran untuk penanggulangannya.
Tujuan pelayanan kesehatan :
a.

Supaya peserta didik memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk


menjalankan tindakan hidup sehat dan terdorong untuk melaksanakan

b.

perilaku hidup sehat.


Supaya peserta didik memiliki daya tahan serta tercegahnya kelainan/

kecacatan.
c.
Supaya proses penyakit berhenti dan tercegahnya komplikasi penyakit,
sehingga kemampuan peserta didik dapat pulih kembali dan berfungsi
secara optimal.

d.

Supaya peserta didik sehat baik mental, fisik maupun sosial.

3.

Lingkungan Sekolah yang Sehat


Lingkungan sekolah yang dimaksud dalam program usaha kesehatan
sekolah untuk tingkat sekolah dasar meliputi lingkungan fisik, psikis dan
sosial.

Kegiatan

yang

termasuk

dalam

lingkungan

fisik

berupa

pengawasan terhadap sumber air bersih, sampah, air limbah, tempat


pembuangan tinja, dan kebersihan lingkungan sekolah. Kantin sekolah,
bangunan yang sehat, binatang serangga dan pengerat yang ada
dilingkungan sekolah, pencemaran lingkungan tanah, air dan udara di
sekitar sekolah juga merupakan bagian dari lingkungan fisik sekolah.
Kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan lingkungan psikis sekolah
antara lain memberikan perhatian terhadap perkembangan peserta didik,
memberikan perhatian khusus terhadap anak didik yang bermasalah,
serta membina hubungan kejiwaan antara guru dengan peserta didik.
Sedangkan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sosial meliputi
membina hubungan yang harmonis antara guru dengan guru, guru
dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, serta membina
hubungan yang harmonis antara guru, murid, karyawan sekolah serta
masyarakat sekolah.
Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat dilaksanakan dalam
rangka menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan yang dapat
menjamin

berlangsungnya

proses

belajar

mengajar

yang

mampu

menumbuhkan kesadaran, kesanggupan dan ketrampilan peserta didik


untuk menjalankan prinsip hidup sehat, kegiatan ini meliputi:
a.
Program pembinaan lingkungan sekolah
1)
Lingkungan fisik sekolah meliputi :
a)
Penyediaan air bersih
b)
Pemeliharaan penampungan air bersih
c)
Pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah
d)
Pengadaan dan pemeliharaan air limbah
e)
Pemeliharaan WC/kakus
f)
Pemeliharaan kamar mandi
g)
Pemeliharaan kebersihan dan kerapihan ruang kelas, perpustakaan,
laboratorium dan tempat ibadah
h)
Pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan kebun sekolah
i)
Pengadaan dan pemeliharaan warung/kantin sekolah.

2)
Lingkungan mental dan sosial
Program pembinaan lingkungan mental dan sosial ini dilakukan dalam
bentuk kegiatan :
a)
Konseling kesehatan
b)
Bakti sosial masyarakat sekolah terhadap lingkungan
c)
PMR, dokter kecil, kader kesehatan remaja

b.

Pembinaan lingkungan keluarga


Pembinaan lingkungan keluarga ini bertujuan :

1)

Meningkatan pengetahuan orang tua peserta didik tentang hal hal

yang berhubungan dengan kesehatan.


2)
Meningkatkan kemampuan dan partisipasi orang tua peserta didik
dalam pelaksanaan hidup sehat.
Pembinaan lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan:
1)
2)
c.

Kunjungan rumah yang dilakukan oleh pelaksana UKS.


Ceramah kesehatan yang dilakukan di sekolah
Pembinaan masyarakat sekitar
Pembinaan masyarakat sekitar dengan cara :

1)

Penyelenggaraan ceramah kesehatan dan pentingnya arti pembinaan

lingkungan sekolah sebagai lingkungan sekolah yang sehat.


2)
Penyuluhan baik melalui media cetak dan audio visual.
Dilihat dari tujuan yang ingin dicapai pada setiap kegiatan UKS,
maka jelas terlihat peran dan hubungan UKS dalam mengendalikan
kesehatan anak. Ketiga program utama UKS telah mencerminkan upaya
dari pihak sekolah untuk menjaga bahkan meningkatkan kesehatan
peserta didik.
Pengamatan dan pemantauan keadaan gizi anak usia sekolah
merepukan tanggung jawab kita semua. Karena sekolah merupakan salah
satu tempat yang strategis dalam kehidupan anak, maka sekolah dapat
difungsikan secara tepat sebagai salah satu institusi yang dapat
membantu atau berperan dalam upaya optimalisasi tumbuh kembang
anak usia sekolah. Paling tidak UKS dapat berperan sebagai institusi yang
dapat melakukan kerjasama dalam upaya promotif dan preventif pada
kelainan gizi (Graeff, Elder, Booth; 1996). Oleh karena itu, UKS menjadi
salah satu hal penting di dunia pendidikan dalam kaitannya dengan
kesehatan peserta didik, baik disekolah ataupun kebiasaan hidup sehat
siswa di rumah.
Dengan melakukan kerjasama yang erat dengan institusi yang
berwenang

dan

mampu

menangani

masalah

gizi

dan

kesehatan

masyarakat, maka upaya tersebut perlu dilakukan secara efisien dan


efektif (Gillespie; McLachlan; Shrimpton; 2003).

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Usaha kesehatan sekolah (UKS) upaya pelayanan kesehatan yang
terdapat di sekolah, guna menolong murid dan juga warga sekolah yang
sakit di kawasan lingkungan sekolah. UKS memiliki 3 program pokok (Trias
UKS), yaitu:

1.

Pendidikan Kesehatan.

2.

Pelayanan Kesehatan.

3.

Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.


Tujuan

UKS

secara

umum

adalah

mempertinggi

nilai

kesehatan,

mencegah dan mengobati penyakit serta rehabilitasi anak-anak sekolah


dan lingkungannya sehingga didapatkan anak-anak yang sehat jasmani,
rohani, dan sosialnya. Sedangkan tujuan UKS secara khusus ialah
mencapai

keadaan

sehat

anak-anak

sekolah,

keluarganya

dan

lingkungannya sehingga dapat memberikan kesempatan tumbuh dan


berkembang secara harmonis serta belajar secara efisien dan optimal.
Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang
manusia dewasa nantinya.
Pertumbuhan dan Perkembangan anak usia pra sekolah dan Sekolah
dasar:
Jasmani

: Periode ini disebut periode memanjang secara fisik fungsi

organ otak
mulai terbentuk mantap sehingga perkembangan kecerdasannya cukup
pesat.
Jiwani: Anak mulai banyak melihat dan bertanya, fantasinya berkurang
karena
melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin
berinisiatif dan bertanggung jawab.
Rohani
: Anak mulai memasukkan dalam pikirannya tentang Tuhan
mulai
memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya.
Sosial: Kegiatan anak mulai berkelompok dan mengarah pada tujuan
tetapi
masih egosentris, kegiatannya hanya satu jenis dan mulai membuat
Gang dengan kompetisi tinggi.

Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya


berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok
gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan
diri.
Ketiga program utama UKS telah mencerminkan upaya dari pihak
sekolah untuk menjaga bahkan meningkatkan kesehatan peserta didik.
Sekolah merupakan salah satu tempat yang strategis dalam kehidupan
anak, maka sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu
institusi yang dapat membantu atau berperan dalam upaya optimalisasi
tumbuh kembang anak usia sekolah. Paling tidak UKS dapat berperan
sebagai institusi yang dapat melakukan kerjasama dalam upaya promotif
dan preventif pada kelainan gizi (Graeff, Elder, Booth; 1996). Dengan
melakukan kerjasama yang erat dengan institusi yang berwenang dan
mampu menangani masalah gizi dan kesehatan masyarakat, maka upaya
tersebut perlu dilakukan secara efisien dan efektif (Gillespie; McLachlan;
Shrimpton; 2003).
B.

Saran
Saat ini fungsi UKS si sekolah, terutama sekolah dasar belumlah
maksimal. Diharapkan dengan adanya pengetahuan tentang UKS, pihak
sekolah dapat memaksimalkan fungsi UKS agar mampu menciptakan
pribadi siswa yang sehat sehingga siswa dapat mengoptimalkan proses
belajar mereka.

DAFTAR PUSTAKA

http://anugerah.hendra.or.id/pasca-nikah/3-anak-anak/permasalahan-umumkesehatan-anak-usiasekolah/
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/10/usaha-kesehatan-sekolahuks.html
http://eprints.undip.ac.id/15868/1/Sri_Ratna_Rahayu.pdf
http://grandmall10.wordpress.com/2010/09/29/usaha-kesehatan-sekolah/
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17281/4/Chapter%20II.pdf
http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/diffah_hanim.htm
http://uks017.blogspot.com/2009/07/profil-uks-sdn-017.html
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=153097