Anda di halaman 1dari 4

Perkembangan Teori - Teori Tentang Proses Proses Geologi

Secara keseluruhan dari dahulu hingga sekarang, terdapat sekitar 10 teori yang berkembang.
1. Katatrophisma
George
Cavier (1810)
dari
Prancis
yang
mengungkapkan
konsepkatatrophisma (malapetaka/bencana). Konsep katatrophisme menyatakan bahwa
gejala-gejala geologi terjadi dengan perubahan yang revolusioner. Dalam hal ini
terjadi law of faunal succession, yaitu kejadian malapetaka yang telah melanda bumi
beberapa kali serta memusnahkan kehidupan dan kemudian menghasilkan kehidupan
baru.
2. Uniformitarianisma
James Hutton (1726-1797), bapak geologi modern seorang ahli fisika
skotlandia, pada tahun 1795 menerbitkan bukunya yang berjudul Theory of the Earth,
dimana ia mencetuskan doktrinnya yang terkenal tentang Uniformitarianism.
Uniformitarianisme merupakan konsep dasar geologi modern. Hutton mengatakan bahwa
segala gejala alam besar yang sekarang, terjadi dengan jalan yang lambat dan prosesnya
berhubungan dengan proses-proses yang terjadi sekarang. Doktrin ini lebih terkenal
sebagai The present is the key to the past. Dengan demikian jelaslah bahwa geologi
sangat erat hubungannya dengan waktu. Dalam ajaran geologi modern dikatakan bahwa
rangkaian pegunungan besar, lembah-lembah, serta dataran yang curam tidak terjadi oleh
sebuah malapetaka melainkan oleh proses alam yang terjadi secara lambat.Generelli
mengemukakan bahwa sejarah bumi tidak berlaku dengan kekerasan, tetapi apa yang
terjadi pada jaman dahulu dapat diterangkan dengan kejadian pada zaman sekarang.
3. Hukum Datar Asal
Teori ini menyatakan bahwa pada mulanya endapan sedimen dalam air terdiri atas
pelapisan yang kedudukannya hampir mendatar. Namun secara lengkapnya sebagai
berikut sedimen dalam air kedudukannya hampir datar atau sejajar dengan bentuk
permukaan dan cekungannya.
4. Hukum Superposisi
Hukum superposisi juga dikemukakan oleh Nicholas Steno (1669) secara dasar
dinyatakan bahwa dalam suatu batuan sedimen yang belum mengalami deformasi,
batuan yang terletak paling bawah
berumur lebih tua dibandingkan umur
batuan yang berada diatasnya. Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa didaerah
pegunungan lipatan, pelapisan endapan sedimen telah miring atau terbalik sehingga
setelah dipertimbangkan hukum ini menjadi dalam keadaan yang belum terganggu oleh
gaya pelapisan atau pembalikan, maka lapisan yang dibawah lebih tua daripada lapisan
diatasnya, kecuali pada lapisan yang telah mengalami pembalikan seperti pada
pegunungan.

5. Asas Korelasi
Asas korelasi memiliki 2 metode yaitu korelasi batuan dengan berdasarkan pada
kesamaan kandungan fosil dan korelasi batuan dengan berdasarkan pada kesamaan ciri
fisiknya. Hukum korelasi menyatakan apabila terdapat suatu lapisan batuan mengandung
fosil fauna atau flora di suatu tempat dan tempat lain yang berbeda dengan fosil yang
sama maka kemungkinan besar batuan dikedua tempat tersebut memiliki umur geologi
yang sama.
6. Hukum Pemotongan
Hukum pemotongan atau yang biasa di sebut cutting-cross relationship ini
dikemukakan oleh A.W.R Potter dan H. Robinson. Hukum pemotongan ini menyatakan
hubunganantara batuan yang memotong dan batuan yang dipotong. Batuan yang
dipotong adalah batuan sedimen dan batuan tersebut dipotong oleh dike batuan beku.
Suatu seri batuan sedimen dipotong oleh patahan, suatu seri batuan sedimen dipotong
oleh dike batuan beku. Dalam hal demikian dapat ditentukan mana yang terjadi lebih
dahulu dengan bertitik tolak pada Hukum Hubungan Potong Menyilang. Umur batuan
yang memotong lebih muda daripada segala massa batuan yang dipotongnya.

7. Daur geologi
Daur geologi adalah suatu siklus yang terjadi pada proses geologi secara berulangulang dan membentuk suatu lingkaran. Daur geologi ini terjadi menjadi 3 bagian,
yaitu Orogenesis, Glyptogenesis, dan Litogenesis.
a. Orogenesis adalah proses terbentuknya bentang alam seperti pegunungan,
samudera, dan lain-lain.
b. Glyptogenesis adalah proses dimana batuan dan mineral akan
mengalami penghancuran dan denudasi. Hasil tersebut terendapkan di suatu
cekungan atau di suatu tempat, lalu semua material tersebut terkumpul
menjadi satu dan memadat.
c. Litogenesis adalah proses pembentukan sedimen dari material yang
terendapkan tersebut.

8. Isostasi
Jika terdapat suatu pegunungan maka dapat dikatakan bahwa massa lempeng benua
di daerah tersebut akan lebih berat dibandingkan massa lempeng benua disekitarnya.
Dengan demikian kelainan gravitasi dari rumus standar akan terjadi di daerah tersebut,
namun kenyataannya tidak demikian. Gaya penarik di bumi di tempat ini biasanya adalah
normal. Gejala ini disebut dengan isostasi yaitu bahwa kelebihan massa di benua-benua
atau pegunungan dikompensasikan oleh material yang berat jenisnya relatif terlalu
rendah untuk daerah tersebut, lalu benua-benua juga terdiri dari batuan yang lebih ringan
dibandingkan dengan batuan yang terdapat di samudra yakni di benua batuannya bersifat
granit dan di samudra batuannya bersifat basalt.
9. Teori Geosinklin
Teori geosinklin dikemukakan oleh Hall(1859). Teori ini menyatakan bahwa
geosinklin merupakan pengendapan sedimen yang sangat tebal dalam lekuk-lekuk atau
cekungan yang sangat besar yang bahkan cekungan itu bisa mencapai ribuan meter,
cekungan lama-kelamaan akan mengalami depresi terus menerus. Endapan sedimen yang
tebal tersebut berasal dari sedimen akibat proses orogenesis, selama proses ini endapan
sedimen yang telah terbentuk akan mengalami perubahan.

10. Konsep Tektonik Lempeng


Konsep-konsep ini dibagi jadi 3 menurut perkembangannya (Van Krevelen, 1993) :
1. Konsep yang menerangkan bahwa terpisahnya benua disebabkan oleh peristiwa
yang katastrofik dalam sejarah bumi.
2. Konsep apungan benua atau continental drift yang mengemukakan bahwa benuabenua bergerak secara lambat melalui dasar samudera, dikemukakan oleh Alfred
Wegener(1912). Akan tetapi teori ini tidak bisa menerangkan adanya dua sabuk
gunung api di bumi.
3. Konsep paling mutakhir yang dianut oleh para ilmuwan sekarang yaitu Teori
TektonikLempeng.
Teori tektonik lempeng (plate tectonic) adalah teori yang menjelaskan pergerakan
yang terjadi di kulit bumi sehingga memunculkan bentuk permukaan bumi seperti yang
sekarang. Teori ini merupakan turunan teori-teori yang dikemukakan sebelumnya
tentang pembentukan benua yang berkembang sekitar 1960an, terutama sekali
hipotesis pergeseran benua (Continental Drift ) yang dikemukan Alfred Wegener pada
1912. Inti dari teori tektonik lempeng adalah bahwa kulit bumi (litosfer) tidak berupa
padatan yang menyatu keseluruhannya, melainkan terpecah-pecah dalam lempengan.
Masing-masing lempeng bergerak dengan kecepatan rata-rata 50-100 mm per tahun, dan
gerak lempeng tersebut menjadi alasan kenapa muncul fenomena gempa dan adanya
gunung.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyo, Agung. 2008. Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung : CV Pustaka
Setia.
Manullang, Sahala. 2014. Konsep-Konsep dan Perkembangan Geologi.
Diakses pada http://sahalageologist.blogspot.co.id/2014/05/konsep-konsep-danperkembangan-geologi.html.
Nuraini, Annisa Dwi . 2013. Konsep-konsep Dasar Geologi.
https://id.scribd.com/doc/130644387/Konsep-Dasar-Geologi.
https://wingmanarrows.wordpress.com/2012/10/08/konsep-konsep-danhukum-hukum-dalam-ilmu-geologi/