Anda di halaman 1dari 25

BAB II

PEMBUATAN PETA TOPOGRAFI DENGAN AUTOCAD


Oleh : Lakas Zein

2.1.

Pengertian Peta
Peta merupakan gambaran keadaan permukaan bumi pada bidang

kertas/horisontal dengan skala tertentu, meliputi unsur alamiah (sungai, lembah


dan gunung, dll) dan unsur buatan manusia (gedung, jalan, saluran, batas
pemilikan lahan tambang, dll) dengan konfigurasi tertentu sesuai dengan bentuk
permukaan tanahnya.
2.2.

UnsurUnsur Pokok Peta


- Arah
- Sudut
- Jarak
- Ketinggian

Pemetaan secara terestris merupakan pemetaan dimana seluruh data yang


digunakan diperoleh dengan melakukan pengukuran-pengukuran dilapangan
(theodolite). Pemetaan Extra Terestris merupakan pemetaan tidak secara langsung
dipermukaan bumi, melainkan menggunakan benda-benda angkasa (satelit-GPS).
Sedangkan, pemetaan yang sebagian datanya diperoleh dari photo hasil
pemotretan dari udara disebut fotogrametri.
Pada pekerjaan pengukuran topografi, obyek dipermukaan bumi dinyatakan
dengan titik. Berdasarkan perannya titik dipermukaan bumi dibedakan menjadi 2
yakni : Titik Kerangka dasar peta dan Titik Detil.
Titik Kerangka Dasar Peta merupakan sejumlah titik yang dibuat dan dipasang
dilapangan (dengan tanda pengenal patok kayu, beton) yang berfungsi sebagai
titik pengikat pengukuran titik titik lainnya. Titik Detil merupakan titik-titik
yang ada di lapangan yang merupakan relif ataupun lekukan, seperti : pojok
bangunan, tikungan jalan, batas tanah, lembah ataupun dasar sungai. Pengukuran

II-1

titik-titik kerangka peta disebut sebagai Pengukuran Titik Kontrol, sedangkan


pengukuran titik detil disebut Pengukuran Situasi.
2.3.

Macam-Macam Peta

2.3.1. Pembagian Peta Menurut Isinya


a.

Peta Hidrografi, peta yang memuat informasi tentang keadaan dasar


lautan, kedalaman air serta keterangan-keterangan lain yang
diperlukan untuk pelayaran (navigasi).

b.

Peta Geologi, peta yang memuat informasi tentang keadaan geologi


suatu daerah, macam litologi, struktur dan disajikan dengan warna
tertentu.

c.

Peta Kadaster, peta yang memuat tentang batas-batas pemilikan tanah,


kelas tanah dan keterangan yang berhubungan dengan status tanah.

d.

Peta Irigasi, peta yang memuat informasi tentang jaringan irigasi suatu
wilayah

pengairan, bangunan irigasi, saluran pembawa, saluran

pembuang.
e.

Peta Jalan, peta yang memuat informasi tentang jaringan jalan-jalan di


suatu wilayah untuk keperluan perhubungan.

f.

Peta Kota, peta yang memuat tentang informasi jaringan jalan,


gedung-gedung dan keterangan lain di wilayah perkotaan.

g.

Peta Kemajuan Tambang, peta tentang kemajuan penambangan


(material yang telah ditambang) dengan target produksi tertentu dalam
periode waktu tertentu sebagai kontrol kegiatan penambangan suatu
bahan galian.

2.3.2. Pembagian Peta Menurut Skala


a. Peta Teknis
Peta ini menyajikan informasi umum tentang keadaan permukaan bumi
yang mencakup wilayah tidak luas, dibuat dengan skala 1:10.000 dibuat
untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sipil,
seperti : jalan kereta api, jalan raya, jembatan, saluran irigasi, dan lainlain.
b. Peta Topografi

II-2

Menyajikan informasi umum tentang keadaan permukaan bumi dalam


wilayah yang luas. Dikenal sebagai peta dasar untuk pengembangan
wilayah. Dibuat dengan skala 1:10.000 sampai 1:100.000.
c. Peta Geografi
Merupakan peta ikhtisar, dibuat dengan skala lebih kecil dari 1:100.000,
contoh Atlas.
2.4.

Skala Peta
Untuk menyatakan skala peta, dikenal 3 macam skala yang digunakan,

antara lain :
a. Skala Teknis, dengan menuliskan hubungan antara jarak peta dan jarak
sebenarnya dalam bentuk persamaan, seperti : 1 cm = 100 m.
b. Skala Numerik, dengan menuliskan angka perbandingan, seperti 1:5000;
1:500; 1:50.
c. Skala Grafis
0

100

200

300

400

500

Berdasarkan skalanya peta dikelompokkan menjadi :


a. Skala Besar, 1 : 10.000 sampai 1 : 500
b. Skala Menengah, 1: 10.000 s/d 1 : 100.000
c. Skala Kecil, 1 : 100.000 dan lebih kecil lagi
Contoh Aplikasi :
Skala
1 : 500
1 : 500 s/d 1 : 2.500
1 : 5.000 s/d 1 : 10.000
1 : 25.000 s/d 1 : 100.000

2.5.

Kegunaan
Perencanaan lokasi, dam , bangunan
Perencanaan lokasi, jalan, irigasi
Perencanaan kota
Perencanaan umum

Legenda & Orientasi Peta

II-3

Supaya peta mudah dibaca, maka materi di dalam peta dilengkapi dengan
simbol-simbol dan disertai warna. Daftar simbul dengan keterangannya disebut
Legenda.
Simbol-simbol untuk membedakan misalnya antara :
- Jalan raya, jalan kereta api, jalan desa
- Sungai, saluran irigasi, selokan
- Laut, danau
- Sawah, ladang, padang rumput, hutan, tanaman
- Bangunan, seperti perkantoran, pemukiman, jembatan, gorong2
Warna-warna digunakan untuk membedakan :
- Kampung, kota
- Garis kontur, indek kontur
- Sungai, laut, danau
Pada peta harus digambarkan garis yang menunjukkan arah utara. Garis
tersebut biasanya dibuat variasi merupakan orientasi dari Peta.
Dalam pemetaan dikenal 3 macam arah utara :
a. Utara peta didasarkan kepada arah utara geografidi titik awal/titik nol
sistem proyeksi peta (sistem umum).
b. Utara peta didasarkan kepada arah utara geografi disuatu titik kerangka
dasar tertentu (sistem lokal).
c. Utara peta didasarkan kepada utara magnetik di suatu titik kerangka
dasar tertentu (sistem lokal).
Kutub utara geografi dan kutub utara magnet tidak berimpit, maka arah
utara magnet menyerong terhadap arah utara geografi. Besarnya sudut
penyimpangan disebut deklinasi magnet.
Dalam pengukuran pemetaan utara yang digunakan adalah azimuth
magnetis yang diperoleh dengan menggunakan kompas yang dipasangkan diatas
theodolite. Azimuth suatu titik merupakan sudut horizontal yang diukur searah
dengan perputaran jarum jam dengan arah utara sebagai acuannya (North-East) ke
suatu titik tertentu. Besarnya azimuth antara 00 3600.
2.6.

Klasifikasi Pengukuran

II-4

2.6.1. Berdasarkan alam :


a. Pengukuran Daratan (Land Surveying)
1. Pengukuran topografi, untuk memperoleh gambaran unsur-unsur
alam & buatan manusia, serta gambar topografis permukaan tanah.
2. Pengukuran kadaster, untuk memperoleh gambar batas pemilikan
lahan, luas pemilikan lahan.
3. Pengukuran teknik sipil.
4. Pengukuran kota.
b. Pengukuran Perairan (Marine of Hydrographic Surveying)
Pengukuran untuk memperoleh gambaran permukaan dasar laut, danau
dan lain-lain.
c. Pengukuran Astronomi
Pengukuran

menggunakan

benda

langit

sebagai

sarana

untuk

menentukan posisi absolut tempat-tempat di muka bumi (lintang,


bujur), serta menentukan azimuth.
2.6.2. Berdasarkan tujuannya :
Pengukuran Tambang
Pengukuran untuk keperluan militer
Pengukuran Teknik Sipil
Pengukuran Geologi
Pengukuran Arkheologi
2.6.3. Berdasarkan Metoda & Alat yang Digunakan

Pengukuran Triangulasi

Pengukuran Trilaterasi

Pengukuran Polygon

Pengukuran Offset

Pengukuran Tachymetri

Plane table survey

Aerial survey.

II-5

Metode a, b dan c digunakan untuk pengukuran titik-titik kerangka dasar geodesi.


Metode d, e dan f digunakan untuk pengukuran titik-titik detil. Metode g
digunakan untuk pengukuran cara fotogrametris.
2.6.3.1. Metoda Polygon
Salah satu cara penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu
dengan lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran jarak, azimuth
dan sudut sehingga membentuk rangkaian titik-titik (polygon).
Ditjinjau dari cara menyambungkan titik satu dengan lainnya, maka polygon
dibedakan :
a. Polygon tertutup (loop)
b. Polygon terikat sempurna
c. Polygon terikat sebagian
d. Polygon lepas
e. Polygon cabang

II-6

2.6.4. Berdasarkan Luas Areal yang Diukur


a. Plane Surveying
Pengukuran untuk daerah yang relatif sempit (dimensi terpanjang < 55
km), permukaan bumi dianggap sebagai bidang datar.
b. Geodetic Surveying
Pengukuran untuk daerah yang luas (dimensi terkecil > 55 km),
permukaan bumi harus diperhitungkan sebagai permukaan

yang

melengkung (ellipsoid).
2.7.

Kerangka Dasar Pemetaan


a. Kerangka Dasar Horisontal (KDH)
Posisi lateral titik-titik Kerangka Peta [Mempunyai koordinat bidang datar
(X, Y)], Metode pengukurannya : Triangulasi, Polygon.
b. Kerangka Dasar Vertikal (KDV)
Posisi vertikal/ketinggian (Z) titik-titik kerangka peta, umumnya sebagai
bidang datum permukaan air laut rata-rata.
Metode pengukurannya : Sipat datar memanjang

Penentuan Titik Kerangka Dasar :

Luas daerah yang dipetakan

II-7

Bentuk daerah yang dipetakan

Kondisi daerah yang dipetakan (tertutup/terbuka/relief)

Mengingat fungsi dari Titik Kerangka Dasar, maka pemasangannya :

Ditempatkan menyebar merata di seluruh daerah yang dipetakan dengan


kerapatan tertentu.

Terbuat dari bahan yang tahan lama (beton, kayu).

Pemasangannya cukup kuat dilokasi yang stabil & aman.

Diberi kode tertentu supaya mudah dikenal.

Pada prakteknya di lapangan titik-titik KDH dan titik-titik KDV tidak dibuat
sendiri-sendiri, akan tetapi menjadi satu titik. Pada pemetaan yang mencakup
daerah yang luas, penyelenggaraan titik kerangka dasar dilakukan secara
bertingkat.

II-8

2.8.

Contoh Perhitungan Poligon Tertutup

DATA LAPANGAN PEMETAAN


POLIGON TERTUTUP
Inst
.

Titik
Obye
k

Pembacaan

Pembacaan Skala

Pembacaan Skala

benang silang

Vertikal

Horizontal

0.84
Ti

I
1.4
5

0.69

0.84

0.54
2.05
V

1.61

1.61

1.45

1.45

II
1.4
8

1.64

1.64

0.64

0.64

III
1.5
3

1.04

1.04

1.74

1.74

IV
1.4
6

1.80

1.80

0.90

0.90

V
1.4
9

1.80

1.80

1.75

290o38'00"

89o56'10"

270o03'50"

207o16'10"

27o19'10"

89o59'20"

269o19'30"

27o00'00"

206o58'10"

91o05'50"

268o57'10"

106o02'20"

286o\00'00"

89o57'00"

270o02'40"

286o19'30"

106o\34'10"

89o37'10"

270o22'40"

35o57'00"

215o\58'00"

89o52'30"

270o07'10"

215o23'10"

35o\27'30"

90o42'40"

269o16'20"

25o14'30"

205o\17'10"

89o36'50"

270o21'50"

205o00'00"

25o\06'10"

89o43'50"

270o16'10"

290o00'00"

110o\46'10"

1.62
2.19
1.75

1.31

110o35'40"

0.72
1.98

1.62
2.19
I'

269o02'40"

1.46
1.08

0.72
1.98
IV

89o56'10"

1.40
2.14

1.46
1.08
V

Z=181

0.69
2.08

1.40
2.14
III

Y=9141896

0.29
1.39

0.69
2.08
IV

96 48'00"

1.15
0.99

0.29
1.39
II

276 48'00"

0.96
2.13

1.15
0.99
III

269 43'20"

1.17
1.94

0.96
2.13
I

89 43'20"

0.54
2.05

1.17
1.94
II

X=434893
o

0.69

Ket.

1.31

II-9

PERHITUNGAN POLIGON
I.

PENGHITUNGAN JARAK
Dt =100 (Ba-Bb) cos2, dimana = sudut elevasi
1. I Ti

= 100 (0.84-0.54) cos2 0o1640

LB = 100 (0.84-0.54) cos2 -0o1640


29.9993 29.9993
2
Koreksi =

2. I II
II I

= 29.9993 m
= 29.9993 m
= 29.9993 m

= 100 (1.94-0.96) cos2 0o0350

= 97.9999 m

LB = 100 (1.94-0.96) cos2 0o0350

= 97.9999 m

= 100 (2.13-1.15) cos2 0o0040

= 97.9999 m

B
B

LB = 100 (2.13-1.15) cos2 -0o4030


97.9999 97.9999 97.9999 97.9864
4
Koreksi =

= 97.9864 m
= 97.9965 m

= 100 (0.99-0.29) cos2 -1o0550

= 69.9743 m

LB = 100 (0.99-0.29) cos2 -1o0550

= 69.9743 m

3. II III B

= 100 (1.39-0.69) cos2 0o0300

= 69.9999 m

LB = 100 (2.13-1.15) cos2 0o0240

= 69.9999 m

III II B

69.9743 69.9743 69.9999 69.9999


4
Koreksi =

= 69.9871 m

= 100 (2.08-1.4) cos2 0o2250

= 67.9970 m

LB = 100 (2.08-1.4) cos2 0o2240

= 67.9970 m

4. II III B

= 100 (2.14-1.46) cos2 0o0730

= 67.9997 m

LB = 100 (2.14-1.46) cos2 0o0710

= 67.9997 m

III II B

67.9970 67.9970 67.9997 67.9997


4
Koreksi =

= 69.9984 m

= 100 (1.08-0.72) cos2 -0o4240

= 35.9945 m

LB = 100 (1.08-0.72) cos2 -0o4340

= 35.9942 m

5. III IV B

= 100 (1.98-1.62) cos2 0o2310

= 35.9984 m

LB = 100 (1.98-1.62) cos2 0o2150

= 35.9985 m

IV III B

35.9945 35.9942 35.9984 35.9985


4
Koreksi =

= 35.9964 m

II-10

6. V I

= 100 (2.19-1.31) cos2 0o1610

= 87.9981 m

LB = 100 (2.19-1.31) cos2 0o1610

= 87.9981 m

= 100 (2.05-1.17) cos2 0o0350

= 87.9999 m

LB = 100 (2.05-1.17) cos2 0o0240

= 87.9999 m

IV

35.9945 35.9942 35.9984 35.9985


4
Koreksi =

= 87.9990 m

Dt = 97.9965+69.9871+67.9984+35.9964+87.9990 = 359.9774 m
II.

PERHITUNGAN AZIMUTH

B p1 p 2 ( LB p1 p 2 180) ( B p1 p 2 180) LB p1 p 2
4

K=

Ditambah (+) 180o bila B/LB<180o


Ditambah (-) 180o bila B/LB>180o

1.

I Ti

= 276o48'00"

LB = 96o48'00"
K

276 o 48'00"180 o 96 o 48 ' 00"


2
=
=0o

2.

I II

= 207o1630

LB = 27o1920
KI - II

II I

= 27o0000

LB

= 206o5810

207 o16'30"+(27 o19'20"+180 o ) + (27 o 00'00" + 180 o ) + 206 o 58'10"


4
=
=207o0830

KII - I = 207o0830- 180o


=27o0830
3.

II III B

= 106o0220

LB = 286o

III II B
LB

= 286o1930
= 106o3410

II-11

KII - III

106 o 02'20"+(28 6 o - 180 o ) + (286 o19'30" - 180 o ) + 106 o 34'10"


4
=
=106o1400

KIII - II = 106o1400+ 180o


=286o1400
4.

III IV B

= 35o5700

LB = 215o5800
KIII-IV

IV III B
LB

= 215o2310
= 35o2730

35 o 57'00"+(21 5 o 58'00"-180 o ) + (215 o 23'10" - 180 o ) + 35 o 27'30"


4
=
=35o4125

KIV-III = 35o4125+ 180o


=215o4125
5.

IV V B

= 25o1430

LB = 205o1710
KIV-V

V IV B
LB

= 205o0000
= 25o0610

25 o14'30"+(20 5 o17'10"180 o ) + (205 o 00'00" 180 o ) + 25 o 06'10"


4
=
=25o0927.5

KV-IV = 25o0927.5+ 180o


=205o0927.5
6.

VI

= 290o0000

LB = 110o4610

IV B
LB

= 110o3540
= 290o3800

290 o 00'00"+(11 0 o 46'10"180 o ) + (110 o 35'40" 180 o ) + 290 o 38'00"


4
KV-I =
=290o2957.5
KI-V

= 290o2957.5- 180o
=110o2957.5

III. PERHITUNGAN BEDA TINGGI


h = Dt tan + (Ti - Bt)

II-12

1.

I Ti

= 29.9993 tan 0o1640 + (1.45-0.69)

= 0.9064 m

LB = 29.9993 tan -0o1640 + (1.45-0.69) = 0.6146 m


h1-Ti
2.

I II
II I

0.9064 0.6146
2
=
= 0.76 m

= 97.9999 tan 0o0350 + (1.45-1.45)

= 0.1093 m

LB = 97.9999 tan 0o0350 + (1.45-1.45)

= 0.1093 m

B
B

= 97.9999 tan 0o0040 + (1.48-1.64)

= -0.1409 m

LB = 97.9864 tan -0o4030 + (1.48-1.64) = -1.3144 m


K

0.1093 0.1093 0.1409 1.3144


4
=
= 0.4185 m

hI-II = 0.4185 m
hI-II = -0.4185 m
3.

II III B

= 69.9743 tan -1o0550 + (1.48-0.64) = -0.5002 m

LB = 69.9743 tan -1o0550 + (1.48-0.64) = -0.5002 m


= 69.9999 tan 0o0300 + (1.53-1.04)

= 0.5511 m

LB = 69.9999 tan 0o0240 + (1.53-1.04)

= 0.5443 m

III II B

0.5002 0.5002 0.5511 0.5443


4
=
= 0.5239 m

hII-III = -0.5239 m
hIII-II = 0.5239 m
4.

= 67.9970 tan 0o2250 + (1.53-1.74)

= 0.2416 m

LB = 67.9970 tan 0o2240 + (1.53-1.74)

= 0.2383 m

III IV B

= 67.9997 tan 0o0730 + (1.46-1.80)

= -0.1916 m

LB = 67.9997 tan 0o0710 + (1.46-1.80)

= -0.1982 m

IV III B

0.2416 0.2383 0.1916 0.1982


4
=
= 0.2174 m

hIII-IV = 0.2174 m
hIV-III = -0.2174 m
5.

IV V

= 35.9945 tan -0o4240 + (1.46-0.9)

= 0.1132 m

LB = 35.9942 tan -0o4340 + (1.46-0.9)

= 0.1027 m

II-13

= 35.9984 tan 0o2310 + (1.49-1.80)

= -0.0674 m

LB = 35.9984 tan 0o2150 + (1.49-1.80)

= -0.0814 m

V IV B

0.1132 0.1027 0.0674 0.0814


4
=
= 0.0912 m

hIV-V = 0.0912 m
hV-IV = -0.0912 m
6.

V I
IV

= 87.9981 tan 0o1610 + (1.49-1.75)

= 0.1538 m

LB = 87.9981 tan 0o1610 + (1.49-1.75)

= 0.1538 m

= 87.9990 tan 0o0350 + (1.44-1.61)

= -0.0619 m

LB = 87.9990 tan 0o0240 + (1.44-1.61)

= -0.0917 m

0.1538 0.1538 0.0619 0.0917


4
=
= 0.1153 m

hV-I = 0.1153 m
hI-V = -0.1153 m
Catatan : bila beda tinggi dari I ke II positif (+), maka beda tinggi dari II ke I harus
negative (-) baik sebelum maupun sesudah dikoreksi, begitupun titik
selanjutnya.

IV.

PERHITUNGAN KETINGGIAN

1. HTi
hTi-I
2. HI
h1-II
3. HII
hII-III
4. HIII
hIII-IV
5. HIV
hIV-V
6. HV
hV-I

= 181 m
= 0.76 m, maka HI = 181-0.76 = 180.24 m
= 180.24 m
= 0.4185 m, maka HII = 180.24+0.4185 = 180.6585 m
= 180.6585 m
= -0.5239 m, maka HIII = 180.6585-0.5239 = 180.1346 m
= 180.1346 m
= 0.2174m, maka HIV = 180.1346+0.2174 = 180.3520 m
= 180.3520 m
= 0.0912m, maka HV = 180.3520+0.0912 = 180.4432 m
= 180.4432 m
= 0.1153 m, maka HI = 180.4432+0.1153 = 180.5585 m

II-14

Jadi kesalahan beda tinggi (f(h)) = 180.5585-180.24 = 0.3185 m


V.

PERHITUNGAN KOREKSI KETINGGIAN


=

97.995
x 0,3185
359.9774

= 0.0867 m

K2

(97.995 + 69.9871)
x 0,3185
359.9774

= 0.1486 m

K3

(97.995 + 69.9871 + 67.9984)


x 0,3185
359.9774
=

= 0.2088 m

K4

(97.995 + 69.9871 + 67.9984 + 35.9964)


x 0,3185
359.9774
=

= 0.2406 m

K5

(97.995 + 69.9871 + 67.9984 + 35.9964 + 87.9990)


x 0,3185
359.9774
=
= 0.3815 m

VI.

PERHITUNGAN KETINGGIAN TERKOREKSI

K1

= 180.24 m

II

= 180.6585-0.0867 = 180.5718 m

III

= 180.1346-0.1486 = 179.9860 m

IV

= 180.3520-0.2088 = 180.1432 m

= 180.4432-0.2406 = 180.2026 m

= 180.5585-0.3185 = 180.24 m (cocok)

Catatan :
1. Untuk mengecek kebenaran hasil koreksi ketinggian dengan cara
menjumlahkan/mengurangkan

hasil

koreksi

ketinggian

kedalam

ketinggian terkoreksi.
2. 0.3185 adalah kesalahan penutup beda tinggi. Untuk menutup kesalahan
beda tinggi diperlukan nilai 0.3185 yang didistribusikan pada semu titik
polygon berdasarkan elatif jarak antar titik.
3. Tanda positif (+) pada kesalahan penutup beda tinggi artinya kelebihan,
maka untuk mencari ketinggian terkoreksi dengan cara mengurangkan
nilai ketinggian titik dengan nilai hasil koreksi ketinggian, dan apabila
tanda pada kesalahan penutup beda tinggi adalah negatif (-), maka berlaku
sebaliknya.

II-15

VII. PERHITUNGAN SUDUT DALAM


Penghitungan sudut dalam bertujuan untuk mengoreksi besarnya azimuth
masing-masing titik poligon, rumus besar kesalahan sudut dalam
f() = (n-2) x 180-
1
2
5
4

dimana: = sudut dalam


n = jumlah titik polion tertutup
1 = 12- 15 = 2070830 - 1102957.5

= 963832.5

2 = 23- 21 = 1061400 - 270830

= 790530

3 = 34- 32 + 360 = 354125 - 2861400 + 360

= 1092725

4 = 45- 43 + 360 = 250927.5 - 2154125 + 360

= 169282.5

5 = 51- 54 = 2902957.5 - 2050927.5

= 852030

= 540

f() = (n-2) x 180-


= (5-2) x 180 - 540
= 0 (maka tidak ada koreksi azimuth)
VIII. PERHITUNGAN ABSIS dan ORDINAT
Kesalahan linier Absis f(x) = (Dt sin )
Kesalahan linier Ordinat f(y) = (Dt cos )
Titik II
Titik III
Titik IV
Titik V

X2

= 97.9965 sin 2070830

= -44.7053

Y2

= 97.9965 cos 2070830

= -87.2053

X3

= 69.9871 sin 1061400

= 67.1968

Y3

= 69.9871 cos 1061400

= -19.5649

X4

= 67.9984 sin 354125

= 39.6705

Y4

= 67.9984 cos 354125

= 55.2271

X5

= 35.9964 sin 250927.5

= 15.3024

II-16

Titik I

Y5

= 35.9964 cos 250927.5

= 32.5818

X1

= 87.9990 sin 2902957.5

= -82.4266

Y1

= 87.9990 cos 2902957.5

= 30.8169

f(x)

= -44.7053+67.1968+39.6705+15.3024-82.4266 = -4.9621

f(y)

= -87.2053-19.5649+55.2271+32.5818+30.8169 = 11.8556

Koreksi Absis dan Ordinat


Kxn

Dt
Dt

x f(x)

Kyn

Dt
Dt

f(y)
Titik II

Titik III

Titik VI

Titik V

Titik I

Kx2

97.9965
= 359.9774 x -4.9621

= -1.3508

Ky2

97.9965
= 359.9774 x 11.8556

= 3.2274

Kx3

69.9871
= 359.9774 x 4.9621

= -0.9647

Ky3

69.9871
= 359.9774 x 11.8556

= 2.3049

Kx4

67.9984
= 359.9774 x 4.9621

= -0.9373

Ky4

67.9984
= 359.9774 x 11.8556

= 2.2395

Kx5

35.9964
= 359.9774 x 4.9621

= -0.4962

Ky5

35.9964
= 359.9774 x 11.8556

= 1.1855

Kx1

87.9990
= 359.9774 x 4.9621

= -1.2130

Ky1

87.9990
= 359.9774 x 11.8556

= 2.8982

Absis terkoreksi (x) dan Ordinat Terkoreksi (y)


xn = (Dt sin ) Kxn

yn = (Dt cos ) Kyn

II-17

Titik II
Titik III

x2 = -44.7053+1.3508

= -43.3544

y2 = -87.2053-3.2274

= -90.4327

x3 = 67.1968+0.9647= 68.1616
y3 = -19.5649-2.3049

Titik VI

x4 = 39.6705+0.9373= 40.6078
y4 = 55.2271-2.2395

Titik V

= -21.8699
= 52.9876

x5 = 15.3024+0.4962= 15.7986

Titik I

y5 = 32.5818-1.1855

= 31.3963

x1 = -82.4266+1.2130

= -81.2136

y1 = 30.8169-2.8982

= 27.9187

Catatan :

Karena hasil f(x) adalah negatif (-) atau menunjukan kekurangan, maka
untuk menghitung absis terkoreksi (xn) harus ditambahkan, sedangkan
untuk hasil f(y) adalah positif (+) atau menunjukan kelebihan, maka untuk
menghitung ordinat terkoreksi (yn) harus dikurangkan, begitu pula
sebaliknya.

Jumlah absis teroreksi xn maupun jumlah ordoinat terkoreksi yn


harus sama dengan nol (0).

Koordinat Titik Poligon


Ti (0434893; 9141896; 181)
Ti-I

xTi-I = DtnTi-I sin Ti-I = 29.993 sin 964800 = 29.7883


yTi-I = DtnTi-I cos Ti-I = 29.993 cos 964800 = -3.5520

Titik I

X = 434893+29.7883 = 434922,7883
Y = 9141896-3,5520 = 9141892,448

Titik II

X = 434922,7883-43.3544 = 434879,4339
Y = 9141892,448-90.4327 = 9141802,015

Titik III

X = 434879,4339+68.1616 = 434947,5995
Y = 9141802,015-21.8699 = 9141780,145

Titik IV

X = 434947,5995+40.6078 = 434988,2033
Y = 9141780,145+52.9876 = 9141833,133

II-18

Titik V

X = 434988,2033+15.7986 = 435004,0019
Y = 9141833,133+31.3963 = 9141864,529

Titik I

X = 435004,0019-81.2136 = 434922,7883 (cocok)


Y = 9141864,529+27.9187 = 9141892,448

(cocok)

Jadi Koordinat dan Ketinggian tiap titik adalah :


Titik I

= (434922,7883; 9141892,448; 180.24)

Titik II

= (434879,4339; 9141802,015; 180.5718)

Titik III

= (434947,5995; 9141780,145; 179.989)

Titik IV

= (434988,2033; 9141833,133; 180.1432)

Titik V

= (435004,0019; 9141864,529; 180.2026)

II-19

2.9.

Contoh Perhitungan Poligon Terikat Sebagian

DATA LAPANGAN PRAKTIKUM PERPETAAN


POLIGON TERIKAT SEBAGIAN
Pemb. Benang

Nomor
BS

IS
HI

BM

BM2

1,45

BM

1,42

II

Silang
FS
I

II

III

1,42
II

III
1,44

I.

BS

IV

1,242
1,000
0,758
1,565
1,400
1,235
1,560
1,300
1,040

FS

Pemb. Skala Lingaran


Horisontal/Sudut Lurus
FS
PT
PG
Koreksi

1,050
0,800
96o37'30" 193o15'00" 96o37'30"
0,550
1,070
0,900 216o55'50" 73o51'40" 216o55'50"
0,730
1,660
1,410 233o03'40" 106o05'00" 233o02'30"
1,160
1,220
1,000 270o43'10" 181o27'00" 270o43'30"
0,780

Pemb. Skala Lingk.


Vertikal
BS

FS
91o01'40"

90o14'20"

90o47'00"

90o03'30"

89o28'10"

90o36'50"

90o23'00"

Perhitungan Azimuth Awal dan Azimuth Akhir


BM1
BM2

X
435005
434986

Y
9141871
9141867

Z
177
177

II-20

Rumus menghitung bearing


Bearing = tan-1
= tan-1

X
Y
X 2X 1
Y 2Y 1

Menentukan kuadran dari bearing

N
Kuadran IV

Kuadran I

x = ( - )

x = ( + )

y = ( + )

y = ( + )

Azimuth = 360o - Bearing

Azimuth = Bearing

W
Kuadran III

Kuadran II

x = ( - )

x = ( + )

y = ( - )

y = ( - )

Azimuth = 180o + Bearing

Azimuth = 180o - Bearing

S
BM1 BM2
x = 434986 435005 = - 19 m
y = 9141867 9141871 = - 4 m
19
4
Bearing =

tan 1
= 78o 6 41 78o 6 41 SW
Karena x = ( - ) dan y = ( - ), maka bearing terletak pada kuadran III dengan
notasi SW. (lihat gambar diatas)
Azimuth = 180o + Bearing

II-21

= 180o + 78o 6 41
= N 258o 6 41 E
II.

Perhitungan Koreksi Sudut Lurus dan Azimuth


Sudut lurus didapat dari pembacaan sudut horisontal pada alat.
Muncul koreksi terhadap sudut lurus karena pembacaan sudut lurus
dilakukan 2 kali, yaitu pembacaan tunggal dan pembacaan ganda. Untuk
perhitungan kedepan digunakan sudut lurus yang sudah terkoreksi. Nilai
sudut lurus pada pembacaan tunggal adalah pembacaan sudut horisontal
itu sendiri, sedangkan untuk pembacaan ganda, sudut lurus diperoleh
dengan rumus:
-Jika Sudut horisontal pembacaan tunggal 180o
Sudut lurus pembacaan ganda = Sudut horisontal pembacaan ganda
Sudut horisontal pembacaan tunggal
-Jika Sudut horisontal pembacaaan tunggal >180o
Sudut lurus pembacaan ganda = Sudut horisontal pembacaan ganda +
360o Sudut horisontal pembacaan tunggal
Perhitungan Azimuth
Azimuth berikutnya = Azimuth awal + Sudut lurus 180o
Azimuth berikutnya = Azimuth awal + Sudut lurus 180o 360o (jika
setelah dikurangi 180o hasilnya lebih dari 360o)
Azimuth berikutnya = Azimuth awal + Sudut lurus 180o + 360o (jika
setelah dikurangi 180o hasilnya minus)
Menghitung Sudut Lurus Terkoreksi

BM1 BM2 1
PT = 96o 37 30
PG = 193o 15 0 - 96o 37 30 = 96o 37 30
Sudut lurus terkoreksi = (96o 37 30 + 96o 37 30)/2 = N 96o 37 30 E
Azimuth BM2 - 1 = 258o 6 41 + 96o 37 30 180o = N 174o 44 11 E

BM2 1 2

II-22

PT = 216o 55 50
PG = 73o 51 40 + 360o - 216o 55 50 = 216o 55 50
Sudut lurus terkoreksi =(216o 55 50 + 216o 55 50)/2 =N 216o 55 50E
Azimuth 1 - 2 = 174o 44 11 + 216o 55 50 180o = N 211o 40 1 E

123
PT = 233o 3 40
PG = 106o 5 0 + 360o - 233o 3 40 = 233o 1 20
Sudut lurus terkoreksi = (233o 3 40 + 233o 1 20)/2 = N 233o 2 30 E
Azimuth 2 - 3 = 211o 40 1 + 233o 2 30 180o = N 264o 42 31 E

234
PT = 270o 43 10
PG = 181o 27 0 + 360o - 270o 43 10= 270o 43 50
Sudut lurus terkoreksi =(270o 43 10 + 270o 43 50)/2 = N 270o 43 30E
Azimuth 3 4 = 264o 42 31 + 270o 43 30 180o = N 355o 26 1 E

III.

Perhitungan Jarak

BM2 - 1 = 100 ( 1.05 0.55 ) cos2 ( 90 - 91 1 40 ) = 49.9839 m


1 - BM2 = 100 ( 1.242 0.758 ) cos2 ( 90 - 90 14 20 ) = 48.3991 m
Koreksi = ( 49.9839 + 48.3991 ) : 2 = 49.1915 m

1 - 2 = 100 ( 1.07 0.73 ) cos2 ( 90 - 90 47 0 ) = 33.9936 m


2 - 1 = 100 ( 1.565 1.235 ) cos2 ( 90 - 90 3 30 ) = 33.0000 m
Koreksi = ( 33.9936 + 33.0000 ) : 2 = 33.4968 m

2 - 3 = 100 ( 1.66 1.16 ) cos2 ( 90 - 89 28 10 ) = 49.9957 m


3 - 2 = 100 ( 1.56 1.04 ) cos2 ( 90 - 90 36 50 ) = 51.9940 m
Koreksi = ( 49.9957 + 51.9940 ) : 2 = 50.9948 m

3 4 = 100 ( 1.22 0.78 ) cos2 ( 90 - 90 23 0 ) = 43.9980 m


4 - 3 = 100 ( 1.645 1.195 ) cos2 ( 90 - 90 12 20 ) = 44.9994 m
Koreksi = ( 43.9980 + 44.9994 ) : 2 = 44.4987 m

IV.

Perhitungan Beda Tinggi

BM2 1
1 BM2

= 49,9839 tan (-1140) + (1,45 0,8) = -0,2467 m


= 48,3991 tan (-01420) + (1,42-1) = 0,2182 m

II-23

Koreksi

= (0,2467+0,2182) : 2 = 0,2325 m

h BM21 = -0,2325 m
h 1BM2 = 0,2325 m

V.

12

= 33,9936 tan (-0470) + (1,42-0,9) = 0,0552 m

21

= 33,00 tan (-0330) + (1,42-1,4) = -0,0136 m

Koreksi

= (0,0552 + 0,0136) : 2 = 0,0344 m

h 1 2

= 0,0344 m

h 2 1

= -0,0344 m

23

= 49,9957 tan (03150) + (1,42-1,41)= 0,4730 m

32

= 51,9940 tan (-03650) + (1,44-1,3)= -0,4171 m

Koreksi

= (0,4730 + 0,4171) : 2= 0,4451 m

h 2 3

= 0,4451 m

h 3 2

= -0,4451 m

34

= 43,9988 tan (-0230) + (1,44-1)= 0,1456 m

43

= 44,9994 tan (-01220) + (1,42-1,42)= -0,1614 m

Koreksi

= (0,1456 + 0,1614) : 2 = 0,1535 m

h 3BM3

= 0,1535 m

h BM33

= -0,1535 m

Perhitungan Ketinggian
BM2

= 177 m

= 177 0,2325

= 176,7675 m

= 176,7675 + 0,0344

= 176,8019 m

= 176,8019 + 0,4451

= 177,247 m

= 177,247 + 0,1535

= 177,4005 m

Perhitungan Absis Dan Ordinat


BM2

X = 434986
Y = 9141867

II-24

BM2 1, X = 49.1915 Sin 174o 44 11


1 2,
2 3,
34

VI.

= 4.5127

Y = 49.1915 Cos 174o 44 11

= -48.9841

X = 33.4968 Sin 211o 40 1

= -17.5852

Y = 33.4968 Cos 211o 40 1

= -28.5096

X = 50.9948 Sin 264o 42 31

= -50.7775

Y = 50.9948 Cos 264o 42 31

= -4.7028

X = 44.4987 Sin 355o 26 1

= -3.5427

Y = 44.4987 Cos 355o 26 1

= 44.3575

Perhitungan Koordinat Titik Poligon


BM2 X = 434986
Y = 9141867
1
2

X = 434986 + 4.5127

= 434990.5127

Y = 9141867 - 48.9841

= 9141818.016

X = 435034.8630 - 17.5852

= 434972.9275

Y = 9141861.3250 - 28.5096 = 9141789.506


3
4

X = 435054.9894 - 50.7775

= 434922.15

Y = 9141888.1010 - 4.7028

= 9141784.804

X = 435095.7380 - 3.5427

= 434918.6073

Y = 9141918.7610 + 44.3575 = 9141829.161


VII.

Koordinat Dan Ketinggian Tiap Titik


BM1

= (435005 ; 9141871 ; 177)

BM2

= (434986 ; 9141867 ; 177)

= (434990.5127 ; 9141818.016 ; 176,7675)

= (434972.9275 ; 9141789.506 ; 176,8019)

= (434922.15 ; 9141784.804 ; 177,247)


4

= (434918.6073 ; 9141829.161 ; 177,4005)

II-25