Anda di halaman 1dari 11

REFRESHING

PNEUMONIA PADA ANAK

Pembimbing :
dr. Jauhari Triwasisto, Sp.A
Disusun Oleh :
Annisa Ratnaningtyas (2012730006)

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


KEPANITERAAN KLINIK RSUD CIANJUR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

PNEUMONIA

DEFINISI
Pneumonia adalah inflamasi akut pada parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan
interstitial. Walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia merupakan suatu
keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk membuat suatu definisi tunggal yang universal.
Peneumonia didefiniskan berdasarkan gejala dan tanda klinis, serta perjalanan penyakitnya.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan pneumonia hanya berdasarkan penemuan
klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan. (Buku PPM)

ETIOLOGI
Etiologi pneumonia yang tersering pada neonatus dan bayi kecil adalah Streptokokus grup B
dan bakteri gram negative seperti Escherichia coli, Pseudomonas sp, atau Klabsiella sp. Pada
bayi yang lebih besar dan anak balita pneumonia lebih sering disebabkan oleh infeksi
Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza tipe B dan Staphylococcus aureus.
Sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja selain bakteri tsb ditemukan juga infeksi
Mycoplasma pneumonia. (IDAI)
Virus penyebab utama pneumonia pada anak lebih muda
Bakteri penyebab sebagian besar pneumonia pada anak yang lebih tua. (pedoman
diagnosis dan terapi)
Usia
<1 bulan

Bakteri
Streptokokus grup B

Virus
Cytomegalovirus

Escherichia coli
Bakteri enteric gram-negatif lainnya
2 bulan- 1 tahun

2-5 tahun

Listeria monocytogenes
Streptococcus pneumoniae

Respiratory syncytial virus

Haemophilus influenzae

Virus influenza

Staphylococcus aureus

Virus parainfluenza

Pseudomonas aeruginosa

Adenovirus

Chlamydia trachomatis
Streptococcus pneumonia

Human metapneumovirus
Respiratory syncytial virus

Haemophilus influenzae

Virus influenza

Mycoplasma pneumonia

Virus parainfluenza

Mycobacterium tuberculosis

Adenovirus
Human metapn\eumovirus

6-18 tahun

Haemophilus influenza

Rhinovirus
Virus influenza

Mycoplasma pneumonia
Chlamydia pneumonia
Mycobacterium tuberculosis
EPIDEMIOLOGI
Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia <5 tahun di seluruh dunia termasuk
di negara berkembang. Estimasi insden pneumonia pada anak <5 tahun di negara berkembang
0,28 episode di bandingkan dengan 0,05 episode/anak/tahun di negara maju.
Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian per tahun pada anak balita di negara
berkembang.
Menurut survey kesehatan nasional tahun 2001, 26,7% kematian bayi dan 22,8% kematian
balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit system respiratory, terutama pneumonia.
PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadaan ini
disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru
merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh sehingga mikroorganisme dapat
berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke
alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Setelah itu
mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat
stadium, yaitu :
1. Stadium Hiperemia (4 12 jam pertama/kongesti)
Pada stadium I, disebut hiperemia karena mengacu pada respon peradangan
permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai
dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi.
Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast
setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut
mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur
komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk
melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal
ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga
terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di
antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan

karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering
mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.
2. Stadium Hepatisasi Merah (48 jam berikutnya)
Pada stadium II, disebut hepatisasi merah karena terjadi sewaktu alveolus terisi oleh
sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai
bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya
penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan sehingga warna paru menjadi merah dan
pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat
minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat,
yaitu selama 48 jam.
3. Stadium Hepatisasi Kelabu (3 8 hari)
Pada stadium III/hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi
di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini
eritrosit di alveoli mulai di reabsorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan
leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami
kongesti.
4. Stadium Resolusi (7 11 hari)
Pada stadium IV/resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda,
sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan
kembali ke strukturnya semula.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala infeksi umum : demam, sakit kepala, gelisah, malaise, nafsu makan , keluhan GI
seperti mual, muntah atau diare, menggigil,
Gejala gangguan respiratory : takipneu, batuk, sesak napas, nyeri dada akibat pleuritis,
retraksi dinding dada, napas cuping hidung, air hunger, merintih dan sianosis.
Pneumonia viral lebih sering berasosiasi dengan batuk, mengi, stridor dan gejala demam
tidak menonjol dibanding pneumonia bakterial.
Pneumonia bacterial secara tipikal berasosiasi dengan demam tinggi, menggigil, batuk,
dispneu dan pada auskultasi ditemukan tanda adaya konsolidasi paru.
Pneumonia atipikal pada bayi kecil di tandai dengan gejala yang khas seperti takipneu, batuk,
ronki kering (crackles) pada asukultasi.

Semua jenis pneumonia memiliki ronki kering yang terlokalisir dan penurunan suara
respiratori.
DIAGNOSIS
1. Anamnesis

Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak


purulen bahkan bisa berdarah

Sesak napas

Demam

Kesulitan makan/minum

Tampak lemah

Serangan pertama atau berulang, untuk membedakan dengan kondisi


imunokompromais, kelainan anatomi bronkus, atau asma

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : terdapat retraksi dinding dada, napas cuping hidung
Palpasi : konsolidasi paru yang kecil tidak menghilangkan vocal fremitus
Perkusi : pekak
Auskultasi : suara napas melemah, ronki
Neonatus : sering dijumpai takipneu, grunting, napas cuping hidung, retraksi dinding
dada, sianosis dan malas menetek.
Bayi yang lebih tua : jarang ditemukan grunting. Gejala lainnya yang sering terlihat
adalah batuk, panas dan iritabel.
Anak prasekolah : selain gejala di atas, dapat ditemukan juga nyeri dada, nyeri kepala,
dehidrasi dan letargi.
Takipneu berdasarkan WHO :
Usia <2 bulan 60 x/menit
Usia 2- <12 bulan 50x/menit
Usia 1-5 tahun 40x/menit

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologis
Foto toraks proyeksi antero posterior (AP) merupakan dasar diagnosis utama
pneumonia.
Indikasi foto toraks adalah pneumonia sangat berat, dugaan komplikasi (co: efusi
pleura) atau tidak repon terhadap terapi dan kecurigaan TB.
Gambaran radiologis berdasarkan lokasi lesi berupa :

Pneumonia lobaris: gambaran konsolidasi lobar maupun segmental

Pneumonia

interstisial,

ditandai

dengan

meningkatnya

corakan

bronkovaskular, peribronchial cuffing dan hiperaerasi

Bronkopneumonia: gambaran difus merata pada kedua paru, berupa


bercak-bercak infiltrate yang dapat meluas hingga daerah perifer paru,
disertai dengan peningkatan corak bronchial

Gambaran radiologi berdasarkan mikroorganisme penyebab:

Pneumonia bakteri: gambaran patchy infiltrate, etelektasis, adenopati hilar


atau efusi pleura, konsolidasi lobar

Pneumonia virus: corakan interstitial bertambah, peribronkial cuffing

Pneumonia mikoplasma: konsolidasi lobar, efusi pleura

Pneumonia jamur: kalsifikasi, kavitasi, kelainan lobus atas, adenopati hilar

b. Pemeriksaan Laboratorium

Darah perifer lengkap


Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya leukosit dalam batas
normal atau sedikit meningkat.
Pada pneumonia bacterial didapatkan leukosit > 15.000/mm3 dengan
dominasi neutrofil .

CRP
Untuk evaluasi respons antibiotic.

Pem. Mikrobiologis
Untuk anak dengan pneumonia berat. Spesimen dari usap tenggorok,
secret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura atau aspirasi paru.

Uji serologis
Untuk deteksi bakteri atipik seperti mikoplasma dan klamidia serta
beberapa virus seperti RSV, sitomegalovirus, campak, parainfluenza 1,2,3,

influenza A & B, dan adeno, peningkatan antibody IgM dan IgG dapat
mengkonfirmasi diagnosis.
KLASIFIKASI DERAJAT PNEUMONIA
1. Bayi <2 bulan
a. Pneumonia

Bila ada napas cepat (>60x/menit) atau sesak napas

Harus dirawat dan diberikan antibiotik

b. Bukan pneumonia

Tidak ada napas cepat atau sesak napas

Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengoatan simptomatis

2. Bayi dan anak usia 2 bulan 5 tahun


a. Pneumonia sangat berat
Tidak dapat makan, atau distress pernapasan berat atau sianosis sentral atau
kesadaran atau kejang
b. Pneumonia berat
Tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada tanda pneumonia sangat berat.
Bila ada sesak napas dan harus dirawat dan diberikan antibiotic.
c. Bukan pneumonia berat
Napas cepat dan tidak ada tanda pneumonia berat atau sangat berat. Bila tidak ada
sesak napas tidak perlu dirawat dan diberikan antibiotic oral.
d. Bukan pneumonia
Tidak ada tanda pneumonia atau pneumonia sangat berat. Hanya dilakukan
pengobatan simptomatis.
TATALAKSANA
1. Indikasi rawat inap pada bayi
a. saturasi O2 92%
b. sianosis
c. frekuensi napas >70x/menit
d. kesukaran bernapas
e. apnea intermitten, grunting
f. tidak dapat makan/minum
g. keluarga tidak dapat memantau anak dengan baik

2. Indikasi rawat inap pada anak


a. saturasi O2 92%
b. sianosis
c. frekuensi napas >50x/menit
d. kesukaran bernapas
e. grunting
f. tanda dehidrasi
g. keluarga tidak dapat memantau anak dengan baik
Tatalaksana Rawat Jalan
1. Diberikan antibiotic lini pertama oral misal amoksisilin atau kotrimoksazol.
2. Dosis amoksisilin 25 mg/kgbb diberikan 2 kali sehari
3. Dosis kotrimoksazol 40 mg/kgBB TMP-20 mg/kgBB sulfametoksazol diberikan 2
kali sehari
Perawatan di RS
1. Terapi oksigen
Diberikan pada penderita dengan saturasi oksigen <92% pada udara kamar untuk
mempertahankan saturasi oksigen 92% dan pada penderita distress napas.
2. Analgetik antipiretik
Untuk kenyamanan pasien, menghilangkan gejala-gejala umum.
3. Terapi cairan.
Pada pneumonia berat asupan cairan berkurang, diberikan cairan intravena dan
dilakukan balans cairan.
4. Pemberian antibiotic

Amoksisilin oral terutama pada anak <5 tahun.


Alternative co-amoxiclav, cefaclor, eritromisin, klaritromisin, azitromisin

Makrolid lini pertama untuk anak 5 tahun untuk infeksi M. pneumonia dan
C. pneumonia

Amoksisilin lini pertama jika penyebabnya S. pneumonia

Makrolid (eriromisin, klaritromisin, azitromisin) atau kombinasi flukloksasin


dengan amoksisilin untuk S. aureus

Antibiotic intravena untuk pasien yang tidak bisa oral (muntah) dan untuk
pneumonia berat. Ampisilin dan kloramfenikol, co-amoksiclav, ceftriaxone,
cefuroxime dan cefoaxime.

Jika alergi penisilin berikan makrolid atau sefalosporin (cefaclor, ceftriaxone,


cefotaxime, cefuroxime)

Jika resisten penisilin atau makrolid berikan sefalosporin

Makrolid bisa untuk M. pneumonia, C. pneumonia, S. pneumonia

Pada neonatus dan bayi kecil sering terjadi sepsis dan meningitis maka
direkomendasikan

antibiotic

spectrum

luas

seperti

kombinasi

beta

laktam/klavulanat (penisilin dan sefalosporin) dengan aminoglikosida


(gentamisin, amikasin)

atau sefalosporin generasi ketiga (cefotaxim,

ceftriaxon). Bila keadaan sudah stabil dapat diganti dengan antibiotic oral
selama 10 hari

Pada balita dan anak yang lebih besar diberikan antibiotic beta laktam dengan
atau tanpa klavulanat

Untuk kasus yang berat diberikan beta laktam/klavulanat dikombinasikan


dengan makrolid baru intravena, atau sefalosporin generasi ketiga

Bila pasien sudah tidak demam atau sudah stabil antibiotic diganti dengan
antibiotic oral dan berobat jalan.

Kriteria Pulang
Perbaikan secara klinis, nafsu makan membaik, bebas demam 12-24 jam, stabil, saturasi O 2
>92% dalam udara ruangan selama 12-24 jam (tanpa O 2), orang tua sudah mengerti untuk
melanjutkan pemberian antibiotic oral.
KOMPLIKASI
Pneumonia sering kali menyebabkan cairan inflamasi terkumpul diruang pleura yang disebut
efusi para pneumonik dan jika cairan tersebut purulen disebut empiema. Pneumonia
menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan paru yang dapat menyebabkan terjadinya abses
paru.
Komplikasi dari pneumonia yaitu empiema torasis, perikarditis purulenta, pneumotoraks,
atauinfeksi ekstrapulmonar seperti meningitis purulenta. Empiema torasis merupakan
komplikasi tersering pada pneumonia bakteri.
DIAGNOSIS BANDING
1. Pneumonia non-bakterial
Pneumonia pada masa neonatus bisa terjadi sebagai akibat infeksi congenital atau
infeksi yang diperoleh pada saat proses kelahiran misalnya rubella, toksoplasmosis, herpes
simplex, Sifilis. Pada anak usia 2 minggu - 6 bulan, C.trachomatis merupakan penyebab

penting dari sindrom afebrile pneumonia. Selama masa kanak, kebanyakan pneumonia
disebabkan oleh viral respiratorik misalnya adenovirus, virus influenza, virus parainfluenza,
virus coxsackie A dan B. Mycoplasma pneumoniae merupakan penyebab yang jarang pada
anak masa prasekolah, tetapi merupakan penyebab penting pneumonia pada masa sekolah,
remaja, dan dewasa muda.
2. Penyakit paru penyebab bukan infeksi

Pneumonia aspirasi isi lambung

Pneumonia aspirasi benda asing

Sekuestrasi lobus paru

Atelektasis, dan lain-lain

KOMPLIKASI

Efusi pleura

Empiema

Abses paru

Pneumotoraks

Gagal napas

Sepsis

PROGNOSIS
Umumnya anak akan sembuh dari pneumonia dengan cepat dan sembuh sempurna, walaupun
kelainan radiologi dapat bertahan selama 6-8 minggu sebelum kembali ke kondisi normal.
Pada beberapa anak pneumonia dapat berlangsung lebih dari 1 bulan atau dapat berulang.
PENCEGAHAN

Vaksinasi dengan vaksin pertusis, H. Influenza.

Vaksin influenza pada bayi usia >6 bulan dan usia remaja.

Untuk orang tua atau pengasuh bayi <6 bulan disarankan untuk diberikan vaksin
influenza dan pertussis

DAFTAR PUSTAKA

Garna, Herry & Heda Melinda (Editor). 2012. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu
Kesehatan Anak. Bandung: FK Univ. Padjajaran
Marcdante, Karen J, Kliegman, Robert et. al. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial ed. 6.
Jakarta : Elsevier (Singapore)
Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: IDAI
Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009. Pedoman Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta: IDAI