Anda di halaman 1dari 7

Senyawa Halogen Organik

Senyawa halogen organik adalah tiap senyawa organik yang mengandung ikatan
antara karbon dan halogen.
Halokarbon atau senyawa organik halida adalah sekelompok senyawa organik yang
mengadung fluor, klor, brom, dan iodo yang terikat secara kovalen. Senyawa ini memiliki
rumus umum R-X. Walaupun sangat sedikit halokarbon dijumpai alam, senyawa ini mudah
dibuat dan banyak dimanfaatkan sebagai anestetika dan insektisida (Willbraham dan Matta,
1992).
Senyawa yang mengandung hanya karbon, hidrogen, dan suatu atom halogen, dapat
dibagi dalam tiga kategori yaitu alkil halida, aril halida (dalam mana sebuah halogen terikat
pada sebuah karbon dari suatu cincin aromatik) dan halida vinilik (dalam mana sebuah
halogen terikat pada sebuah karbon berikatan rangkap). Berikut beberapa contoh (Fessenden
dan Fessenden, 1990).
Alkil halida (R-X):

CH3I

CH3CH2Cl

iodometana

kloroetana

Aril halida (ArX):


Br

bromobenzena

Cl

Cl
Cl

Cl

(PCB) polychlorinated biphenyl

Halida vinilik:

Br

CH2 CHCl
kloroetana

CH3CH

CCH3

2-bromo-2-butena

R telah difinisikan sebagai lambang umum untuk sebuah gugus alkil. Serupa pula, Ar ialah
lambang untuk sebuah gugus aromatik atau aril. Atom halogen (F, Cl, Br, atau I) dapat
diwakili oleh X. Dengan menggunakan lambang umum, maka alkil halida ialah RX, dan aril
halida seperti bromobenzeena (C6H5Br) ialah ArX.

Ikatan sigma karbon-karbon terbentuk oleh saling menindihnya satu orbital atom
halogen dan suatu orbital hibrida atom karbon. Tak dapat dipastikan
tidaknya hibrididasi atom halogen dalam suatu halida organik,

mengenai ada

karena sebuah halogen

hanya membentuk suatu ikatan kovalen dan karena tak terdapat sudut ikatan di sekitar atom
ini. Namun, karbon menggunakan orbital hibrida yang sama tipenya untuk mengikat halogen,
hidrogen maupun atom karbon

H
H

H
C

sp3
Cl

lain (Fessenden dan Fessenden, 1990).

Cl

H
C

sp2

sp2

Cl

H
H oleh jumlah atom karbon yang terikat pada
Alkil Hhalida
H (RX) dapat diklasifikasikan

atom karbon yang mengandung halogen. Kita akan menamai klasifikasi ini bila kita
membicarakan reaksi-reaksi dari alkil halida. Sebuah metil halida (CH3X) tidak mengandung

atom karbon lain yang terikat pada karbon C-X. Alkil halida primer (1 ) mengandung sebuah

karbon yang terikat pada karbon C-X. Alkil halida sekunder (2 ) mengandung dua karbon

yang terikat karbon C-X. Alkil halida tersier (3 ) mengandung tiga atom karbon terikat
karbon C-X. Klasifikasi ini sama seperti pada karbokation (Fessenden dan Fessenden, 1997).
Aril halida adalah zat antara sintetis yang memiliki banyak kegunaan dalam kimia
organik. Kegunaan dari aril halide ini, gugus fungsinya dapat dimanfaatkan dalam berbagai
reaksi seperti cross-coupling, digunakan untuk pembentukan reagen organologam atau
bertindak sebagai prekursor untuk generasi intermediet radikal bebas . Aril Halida sering
digunakan sebagai sintetis penting misalnyaobat-obatan dan bahan kimia pertanian Sintesis

regioselective dari turunan aril halida yang mengandung isotop radioaktif halogen juga
penting untuk aplikasi medis).

Sifat-sifat halida aril sangat tergantung pada atom

halogen. Kekuatan ikatan C-X menurun signifikan untuk ukuran atom halogen meningkat
dari atom F ke I (Sheppard, 2009).
Sifat fisik dari senyawa ini yaitu kecuali atom fluor, atom-atom halogen lainnya, lebih
berat dari pada atom-atom lain yang bisa ada dalam senyawa organik. Karena beratanya ini,
atom-atom halogen mempengaruhi berat jenis dari senyawa organik tersebut. Pelarut-pelarut
biasa yang mengandung halogen (CH2Cl2, CHCl3, CCl4, Cl2C=CHCl) lebih berat dari air
sehingga mengendap ke bawah bila dicampur dengan air. Sifat ini kebalikan dari alkana yang
lain, yang akan mengapung dalam air. Atom halogen yang besar mudah terpolarisasi.
Polarisasi ini akan menyebabkan penguraian dari muatannya sehingga terbentuk molekul
halogen organik dan ini akan menyebabkan gaya tarik-menarik intramolekul lebih besar.
Gaya tarik-menarik yang besar antara molekul halohen organik ini menyebabkan titik leleh
dan titik didihnya lebih besar dibandingkan haloalkana (Fessenden dan Fessenden, 1997).

R3C

Senyawa halogen organik tidak cukup polar untuk dapat larut dalam air, tetapi dapat larut
dalam pelarut organik yang sedikit polar seperti etanol dan benzena.
Aturan IUPAC dalam penamaan halokarbon serupa dengan alkana tersubtitusi, kecuali
bahwa gugus halogen harus ditambahkan dalam perbendaharaan subtituen seperti yang
ditunjukkan pada tabel 2.1. Nama biasa untuk beberapa halokarbon sederhana masih sering
digunakan. Nama biasa ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menamai bagian molekul
hidrokarbon sebagai gugus alkil, misalnya etil dan metal. Bagian kedua menamai
halogenseakan-akan unsur ini sebuah ion. Contohnya adalah metil klorida, CH 3Cl. Tetapi
perlu diingat, ikatan dalam halokarbon ialah kovalen, bukan ikatan ion (Willbraham dan
Matta, 1992).

Halogen
fluor
klor
brom
iod

Nama Subtituen
fluoroklorobromoiodo-

Tabel 2.1 Nama halogen sebagai subtituen

Senyawa organo halogen paling umum digunakan sebagai pereaksi untuk reaksi
subtitusi nukleofilik untuk sintesa berbagai golongan senyawa dengan reaksi umum sebagai
berikut (Sitorus, 2010).
R-X + Nu-/Nu:

R-Nu + X-

Nu-/Nu = nukleofil, gugus masuk


X-

= gugus pergi

Dengan demikian, maka reaksi subtitusi nuklefilik (Sn) adalah reaksi penggantian suatu
gugus negatif (nukleofil artinya suka nukleo/positif) dengan suatu nukleofil lain (spesi
bermuatan negatif atau yang mempunyai pasangan elektron bebas).
Persyaratan yang harus dipenuhi agar reaksi subtitusi nukleofilik dapat berlangsung
adalah kekuatan nukleofil dari gugus masuk (Nu-) lebih kuat dibandingkan dengan gugus
pergi (X-). Nukleofilitas adalah setara dengan sifat basa (basasitas) (konsep Lewis), namun
yag perlu dipahami bahwa nukleofilitas adalah aktivitas terhadap ion karbonium (C +)
sedangkan basasitas adalah aktivitas terhadap proton (H+). Urutan nukleofilitas dari beberapa
nukleofil berikut (Sitorus, 2010).
CH3COOH < H2O < CH3COO- < C6H5O- < HO-< CH3O
Asam lemah

Basa kuat
Kekuatan nukleofil

Nukleofilitas juga dipengaruhi oleh kesesakan (halangan) ruang atau lebih dikenal dengan
efek sterik. Halogen adalah gugus pergi yang sangat baik (nukleofilitas paling rendah) maka
alkil halide umum digunakan sebagai pereaksi Sn.

Reaksi subtitusi nuklofilik terdiri dari dua jenis yaitu subtitusi nukleofilik bimolekuler
(Sn-2) dan subtitusi nukleofilik unimolekuler (Sn-1). Reaktan yang

lazim digunakan untuk

reaksi subtitusi nukleofilik adalah organo halide karena ion halogen (X-) adalah merupakan
nukleofil yang sangat lemah (gugus pergi) yang

baik (Sitorus, 2010).

1. Subtitusi Nukleofilik Bimolekuler (Sn-2)


Reaksi umumnya dituliskan sebagai berikut
R-X + Nu-

R-Nu + X-

Mekanisme reaksinya adalah satu tahap atau merupakan reaksi serentak yaitu pemutusan
ikatan reaktan dan pembentukan ikatan pada produk berlangsung secara bersamaan
(simultan).

R-X + Nu-

R-Nu + X-

[Nu........R........X]

Digram (profil) energi reaksinya adalah sebagai berikut.

KP [Nu.R.X]
E
Ea

R-X + Nu

reaksi

R-Nu + X-

Koordinat reaksi

Kedua reaktan terlibat dalam keadaan peralihan, sehingga reaksi merupakan reaksi tingkat
dua (2), tanpa melalui intermediet/zat antara dan berlangsung satu tahap.
1. Subtitusi Nukleofilik Unimolekuler
Kecepatan (laju) reaksi Sn-1 hanya dipengaruhi oleh (R-X) sehingga reaksi berlangsung
dalam dua tahap atau orde satu (1) dengan persamaan laju reaksi yaitu r=k[R-X].
Reaksinya adalah sebagai berikut.
a. Pembentukan ion karbonium sebagai intermediet (I).

R-X

R+ + X-

Tahap ini berlangsung lambat karena membentuk spes yang tidak stabil (ion
karbonium) dan merupakan langkah penentu laju reaksi
b. Serangan nukleofil terhadap ion karbonium
Reaksi ini berlangsung cepat yang merupakan reaksi asam basa

R-Nu
R+ + NuDigram (profil) energi reaksinya adalah sebagai berikut.
Kp1
Kp2
Ea1

Ea2

R+ (l)

..

R-X + Nu

..

reaksi

R-Nu + X-

Koordinat reaksi

Jenis reaksi apakah berlangsung melalui Sn-2 atau Sn-1 tergantung dari halangan ruang (efek
sterik) dari alkil halide. Bila makin besar halangan steriknya maka reaksi subtitusi mengarah
ke mekanisme Sn-1.
Tidak semua senyawa organik dapat diperoleh secara isolasi langsung dari sumbernya,
sehingga untuk mendapatkan senyawa-senyawa tersebut harus dibuat secara sintesis seperti
asetil klorida, trifenil methanol dan trifenil metil klorida. Trifenil metil klorida adalah
senyawa organik termasuk golongan senyawa alkil halida tersier di mana ketiga gugus alkil
diganti oleh gugus fenil. Senyawa ini mudah terhidrolisis oleh air, sehingga tidak dapat
diperoleh dalam keadaan bebas di alam. Oleh karena itu jika akan diperlukan maka senyawa
tersebut harus dibuat secara sintesis (Widiyati, 2006).
Penyebaran senyawa organo logam di alam sangat terbatas misalkan senyawa organo
Iodium terdapat dalam sejenis ganggang laut. Beberapa

contoh dasar reaksi pembuatan

senyawa organo logam seperti reaksi radikal bebas terhadap hidrokarbon, subtitusi
nukleofilik, dan halogenasi benzena dan turunanya (Sitorus, 2010).

Sumber :
Fessenden R. J., dan Fessenden J. S., 1990, Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 1, Erlangga,
Jakarta.
Fessenden R. J., dan Fessenden J. S., 1997, Dasar-dasar Kimia Organik, Binarupa Aksara,
Jakarta.
Sheppard, T, D., 2009, Metal-Catalysed Halogen Exchange Reactions of Aryl Halides, The
Royal Society of Chemistry Journal; 10431052.
Sitorus, M., 2010, Kimia Organik Umum, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Widiyati, E., 2006, Kajian Pengaruh Suhu pada Sintesis Trifenil Metil Klorida dari Trifenil
Metanol dan Asetil Klorida, Jurnal Gradien, 2(2); 179-182.
Willbraham, A. C., dan Matta, M. S., 1992, Pengantar Kimia Organik dan Hayati, Penerbit
ITB, Bandung.