Anda di halaman 1dari 18

Hukum abadi : hukum yang berasal dari sang pencipta kebijaksanaan illahi.

Hukum alam : hukum fisika. Besi akan berkarat jika terkena bahan korosif seperti
air laut.
Hukum tuhan : al quran
Hukum positif : peraturan yang ada disuatu negara sperti uud ,uu, perda.

Pembukaan UUD 1945


Republik Indonesia
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka
penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan."
"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya."
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada :
Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab,
persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan,
serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

Cita-cita Bangsa Indonesia :


Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
negara Indonesia, yang 1. Merdeka, 2. Bersatu, 3. berdaulat, 4. adil dan 5. makmur.

1.
2.
3.
4.
5.

Jadi cita-cita leluhur bangsa Indonesia adalah


Merdeka
Bersatu
Berdaulat
Adil
Makmur

1.

2.

3.

4.

1.
2.

Menurut saya mungkin cita-cita leluhur bangsa Indonesia yang belum tercapai ada 4, yaitu :
Merdeka
Tapi Indonesia sudah merdeka tahun 1945 itu menurut defacto. Sebenarnya kemerdekaan
Indonesia belum tercapai sepenuhnya, karena masih banyak penduduk Indonesia yang masih
terjajah dalam suatu hal. Contohnya pembudakan, seperti yang diberitakan dimedia massa(Televisi)
masih banyak para pahlawan devisa Negara (TKW) yg dibudaki diluar sana. Saya harap pemerintah
bias membuat undang-undang untuk perlindungan TKW.
Bersatu
Menurut saya Indonesia belum bersatu dengan penuh karena masih banyak perpecahan diluar
sana. Dan juga semakin menjadi karena perkembangan zaman dan era globalisasi, seperti kemajuan
teknologi, dimana gadget semakin canggih yang membuat penggunanya tidak peduli satu sama lain,
dikarenakan penggunanya asik dengan gadgetnya. Oleh karena itu membuat manusia tidak
bersosialisasi
Adil
Dalam sebuah pemerintahan / Negara keadilan sangat penting. Di Indonesia ini saya masih
meragukan tentang keadilan. Karena masih banyak penegak hukum di Indonesia ini tidak adil.
Sepertinya di Indonesia ini mementingkan orang berduit, contohnya kasus koruptor Ratu Atut yg
korupsi bermilyaran rupiah hanya dijatuhkan hukuman / sanksi 4 tahun didalam jeruji penjara. Tetapi
beda dengan kisas anak SMK mencuri sandal jepit milik aparat, dia terancam kurungan penjara
sampai 5 tahun lama. Ini sangat mencolok bukan? Ratu Atut yg mengambil uang (korupsi)
bermilyaran dengan seorang anak SMK yang mencuri sandal jepit.
Makmur
Menurut saya negara kita belum makmur dikarenakan Negara yang makmur ialah negara yang
semua rakyatnya bekerja dan orang yang terlantar dipelihara oleh negara dalam satu sistim jaminan
sosial. Jadi tugas pemerintah itu sebenarnya sederhana sekali, yaitu menciptakan lapangan kerja dan
memberikan pemeliharaan orang-orang yang terlantar. Dengan demikian tugas negara, yang
merupakan tugas pemerintah itu adalah mengurus rakyatnya. Mengurus orang. Bukan mengurus
bangunan. Dan bukan mengurus benda-benda mati lainnya.
Masalah ekonomi Indonesia hari ini hanyalah dua saja, yaitu :
Pengangguran.
Kemiskinan.

Pandangan Terhadap Hukum Keadilan di Indonesia


Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik
menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat
kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf
politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue)
pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran". Tapi,
menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang
adil". Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan
banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi,
banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa
yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu
sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Bahwasanya di Indonesia keadilan belum bisa ditegakkan sesuai tuntutan negara
hukum, sudah tercermin di dalam praktek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tentunya
orang sudah bosan membaca, mendengar dan melihat keadaan tersebut. Tapi apa boleh buat,

kita harus berjuang terus demi tegaknya keadilan di Indonesia, sebab tanpa perjuangan
keadaan tersebut tidak akan berobah dengan sendirinya. Tanpa adanya perjuangan, si pelaku
ketidak adilan akan terus leha-leha dan senyum simpul meneruskan tindakannya.
Mari kilas balik sebentar, sekedar supaya tidak lupa akan adanya ketidak-adilan serius
di Indonesia. Belum ada yang bisa menjelaskan sampai sekarang dengan gamblang: mau
diapakan kasus korban pembunuhan massal 1965-66 dan korban kejahatan HAM lainnya
yang berkaitan dengan peristiwa G30S. Dan bagaimana dengan kasus Tanjung Priok, Trisakti,
Semanggi, Jl Diponegoro dll? Sebaliknya sudah gamblang dan terang benderang kasus Akbar
Tanjung tentang penggelapan 40 milyar rupiah uang Bulog,, yang oleh setiap orang diyakini
sebagai tindak kriminal yang memalukan, telah diloloskan oleh Mahkamah Agung.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari cukup norma-norma hukum, tapi ironisnya
sulit sekali mencari keadilan. Sebab di mana saja masih bertengger orang-orang yang jiwanya
hitam kelam yang tidak bisa ditembus sinar terang. Bahkan Kejagung dan Mahkamah Agung
yang seharusnya aktif menegakkan keadilan, ternyata seperti yang dikatakan Hendardi
(PBHI), hanya berfungsi sebagai mesin binatu: "Masuk barang kotor, keluar 'bersih''. Kasus
Akbar Tanjung tersebut di atas merupakan contoh yang tepat dan aktual.
Tampak masih berlanjutnya praktek di jaman Suharto dulu, di mana ketika menterimenterinya kedapatan melakukan korupsi, langsung kasusnya diselesaikan sendiri olehnya
(Suharto) dengan pernyataan: kesalahan prosedur administrasi. Hanya bedanya dengan
praktek di era reformasisekarang ini ialah Suharto dulu tanpa menggunakan ''mesin
binatu'', tapi dengan mesin sulap: barang kotor ditutup dengan selembar kain, dibuka jadi
bersih. Suharto memang punya keahlian menyulap seperti ilusionis David Coppervield.
Indonesia yang kaya raya oleh Suharto bisa disulap menjadi negara miskin dan banyak
hutangnya, apalagi masalah korupsi dari menteri-menterinya dan para kroninya.
Keadaan langka keadilan di atas terus berjalan di Indonesia sampai dewasa ini, seiring
dengan reformasi di bidang hukum dan keadilan yang tidak berjalan seperti yang
diharapkan. Bersamaan itu pula, mereka yang tergolong dalam kontra-reformasi, yang dahulu
pendukung atau kader Orde Baru terus mengadakan konsolidasi. Sungguh kita akan
terperangah sejenak ketika melihat tayangan programma diskusi/dialog interaktif di Liputan6
SCTV mengenai keputusan MA yang membebaskan Akbar Tanjung, di mana Ruhut Sitompul
(advokat, Golkar) dan ahli-ahli hukum semacamnya dengan emosional berteriak ''Setuju!!!''
Dan mereka berdalih dengan macam-macam referensi dan teori, tapi kosong melompong dari
rasa keadilan.
Tapi alhamdulillah, tampak ada celah-celah yang bisa ditembus dalam mencari
keadilan, yaitu pada Mahkamah Konstitusi. Dalam kasus Pasal 60/g UU Pemilu keadilan bisa
ditegakkan. Sehingga pasal diskriminatif terhadap para mantan anggota PKI dan ormasnya,
dinyatakan bertentangan dengan UUD 45 dan karenanya tidak punya kekuatan hukum. Ini
artinya telah berjalan proses penemuan jalan-jalan perjuangan yang realistis: mana yang
obyektif bisa ditempuh. Kalau tembok beton tidak bisa diterobos, janganlah membenturkan
kepala. Hancur kepala sendiri, temboknya tidak apa-apa. Tapi memang kita harus terus
menerus berusaha menyusun kekuatan tidak hanya untuk menerobos, tapi juga untuk
merobohkan tembok beton tersebut. Untuk itu semua kekuatan reformasi harus bersatu dan
menghindarkan politik pecah belah dari lawan.
Kenyataan dewasa ini di Indonesia belum ada persatuan ke arah perjuangan
menegakkan keadilan. Kesadaran untuk perjuangan bersama sangat tipis, semua mengarah
kepada kepentingan golongan dalam menegakkan keadilan/HAM. Contoh: di ST MPR 2003
mengenai kasus Pencabutan TAP-TAP MPRS yang bertujuan untuk mengoreksi fakta sejarah

sekitar perebutan kekuasaan oleh jenderal Suharto terhadap Presiden Soekarno (1965-1966),
ternyata hanya PDIP saja yang berjuang. Padahal semua orang meng-klaim Bung Karno milik
seluruh bangsa Indonesia. Mengenai Pasal 60/g RUU Pemilu ketika diperdebatkan di dalam
DPR,juga hanya PDIP saja yang berjuang menentangnya. Perlu dipertanyakan di mana suara
kekuatan kiri/kiri-baru disimpan dan disembunyikan.
Pencabutan TAP-TAP tersebutlah yang terpenting, bukannya pernyataan rehabilitasi.
Tanpa pencabutan TAP-TAP tersebut berarti berlangsungnya pembenaran secara yuridis
tindakan kudeta jenderal Suharto. Sedang nama besar Bung Karno yang telah diakui sebagai
bapak nation Indonesia, tidak akan ada yang bisa mereduksi apalagi menghapus, sehingga
tidak memerlukan adanya pernyataan rehabilitasi.
Di samping itu perlu disadari, bahwa usaha mencari keadilan harus dilancarkan ke
segala arah dan penjuru, ke semua lembaga negara dan masyarakat. Kalau usaha tersebut
hanya diarahkan ke Lembaga Eksekutif saja, niscaya akan menemukan hasil yang tidak
memuaskan, apalagi Kabinet sekarang ini seperti dikatakan Presiden Megawati sendiri adalah
sebagai kranjang sampah dalam system pemerintahan abu-abu.
Meskipun demikian pemerintah juga menampakkan satu langkah positif. Pemerintah
dengan Surat Setwapres (Sekretaris Wakil Presiden) No. B.3/3 tanggal 15 Maret 2004
(tentang Pelaksanaan Keppres No.58/1996 dan Inpres No.4/1999), yang ditujukan kepada
sejumlah instansi pemerintah (Jaksa Agung, Kapolri, Sekjen Kementerian Kabinet Gotong
Royong, para pimpinan lembaga pemerintahan non departemen, pimpinan lembaga tinggi
Negara, para gubernur dan bupati), meminta agar para pimpinan lembaga-lembaga negara
tersebut menertibkan atau menindak aparat bawahan mereka yang masih memberlakukan
SBKRI (Surat Bukti Keawarganegaraan Republik Indonesia) bagi warga Negara keturunan
Tionghoa, India dan lain-lainnya. Diharapkan dengan surat tersebut perlakuan yang tidak adil
dan diskriminatif terhadap warganegara keturunan Tionghoa dll akan berakhir.
Langkah pemerintah tersebut di atas selanjutnya haruslah didorong menuju kepada
penghapusan Instruksi Mendagri No.32 Tahun 1981 yang mengakibatkan para mantan tapol,
meskipun sudah bebas, tapi dalam praktek masih memikul penderitaan tindakan yang tidak
adil, diskriminatif dan bertentanagan dengan HAM. Maka mendorong pemerintah untuk bisa
melangkah ke arah itu adalah tugas kekuatan reformasi seluruhnya dan mantan tapol
bersangkutan pada khususnya. Pengalaman perjuangan di Mahkamah Konstitusi bisa dipakai
sebagai modus operandi untuk menuntut pencabutan Instruksi Mendagri tersebut di atas, ialah
langsung menuntut kepada Menteri Dalam Negeri dan juga Menteri PAN (Pendayagunaan
Aparatur Negara) agar aparat bawahan mentaatinya.
Dengan demikian pernyataan-pernyataan umum tentang ketidak-adaan kemauan
politik pemerintah, tidak akan membawa hasil riil tanpa adanya perjuangan konkrit langsung
kepada sasaran. Bahkan secara tidak sadar pernyataan-pernyataan umum demikian akan
membelokkan perjuangan ke arah jalan sesat penuh kabut, yang tidak bisa melihat peta
politik Indonesia dewasa ini secara jelas. Bahkan hal itu bisa diasumsikan sebagai
ketunggangan secara langsung atau tidak langsung oleh golongan tertentu yang
berkepentingan dalam pemilu untuk mendiskreditkan Megawati/PDIP.Tentu saja kekuatan
Orbalah yang gembira dan mengambil keuntungannya.
Di samping itu tentu perlu diingat bahwa kiprah PDIP di lembaga-lembaga tinggi
negara tersebut di atas, tidak dapat dipisahkan dengan nama Megawati yang Ketua Umum
PDIP dan juga presiden RI, yang Kabinetnya merupakan kranjang sampah. Sedang
Presiden RI sendiri bukanlah Presiden PDIP, yang dapat berbuat apa saja seperti yang
dilakukan fraksi PDIP di MPR dan DPR.

Dan juga perlu adanya pelurusan pandangan yang salah, bahwa presiden dalam
system pemerintahan presidensial seakan-akan dapat memutuskan apa saja. Hal itu memang
terjadi hanya dalam pemerintahan Orde Baru/Suharto, disebabkan seluruh Lembaga Tinggi
Negara (MPR, DPR, DPA, MA, BPK), Golkar dan ABRI praktis merupakan alat kekuasaan
rejim Orde Baru. Dengan demikian Suharto/Presiden dapat melakukan apa saja yang
dikehendaki dengan garansi dukungan lembaga-lembaga negara, Golkar dan ABRI.
Tapi keadaan tersebut mengalami perubahan di era reformasi ini, dimana lembagalembaga tinggi negara dan parpol-parpol tidak lagi di bawah komando dan pengawasan
eksekutif /Presiden (Ingat pada jaman Orba semua parpol di bawah pengawasan Pembina
Politik). Sebaliknya bahkan lembaga Eksekutif (Kepresidenan) saat ini (setelah Amandemen
UUD 45) kekuasaannya hampir menyerupai presiden dalam system parlementer (legislative
heavy), meskipun secara yuridis masih system presidensial. Maka dari itu Presiden Megawati
menyebut system pemerintahan dewasa ini abu-abu. Hal itu akan diperjelas dengan adanya
multy partai dalam DPR/MPR dan tidak adanya partai yang menang mutlak dalam pemilu,
yang berakibat Lembaga Eksekutif/Kabinet Presiden terbentuk dari koalisi bermacammacam partai politik beserta aneka ragam corak kepentingannya.
Pendiskreditan Megawati/PDIP yang seakan-akan tidak mempunyai kemauan politik
untuk membela HAM, membuktikan ketidak jelasan pandangan atas kondisi dan peta politik
Indonesia dewasa ini. Hal ini juga merupakan pencerminan bahwa pihak pemecah-belah telah
berhasil secara lihay melaksanakan politiknya. Pendiskreditan tersebut tidak akan punya nilai
resultatif yang positif, kecuali hanya pelampiasan ketidak puasan yang mubazir dan
menguntungkan bagi kekuatan orba.
Khusus mengenai kasus Korban pelanggaran HAM 1965-66, kita lihat bahwa dalam
KOMNASHAM akhirnya bisa dibentuk bagian yang menanganinya. Ini adalah sebuah celah
yang perlu dimanfaatkan seefektif mungkin, agar bisa membantu penegakan keadilan yang
dikehendaki dan bisa mendorong pembentukan pengadilan atas kasus kejahatan HAM 196566 di Indonesia. Sedang sosialisasi di level internasional (internasionalisasi) kasus tersebut di
Jenewa (Komisi HAM PBB) juga perlu dijalankan. Tapi berpengharapan yang berlebihan
untuk mendapatkan keadilan di sana adalah suatu ilusi besar. Kita akan kecele nanti. Juga
tentang usaha pengajuan kasus kejahatan HAM 1965-66 di sejumlah Mahkamah
Internasional di Den Haag (Belanda), sebaiknya kita tidak usah ngotot menghabiskan enerji.
Kita akan lebih kecele lagi, sebab tidak ada pintu terbuka untuk ke sana. Lebih baik kita
memanfaatkan celah-celah yang ada di tanah air dewasa ini dan berusaha mencari celah-celah
baru di semua lembaga negara, secara baik, cerdik, gigih dan kreatif. Ambillah juga hikmah
dari pengalaman perjuangan-perjuangan di Majelis Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Rakyat dan Mahkamah Konstitusi

5 Cara Memilih Pemimpin Yang Baik

1. Kenali Sosok Calon Pemimpin


Ini point pertama yang harus para muda lakukan sebelum menentukan pilihan. Kamu harus
gali sebanyak mungkin informasi tentang calon yang akan kamu pilih. Tujuannya adalah
agar kita mengenal lebih dekat siapa calon pemimpin kita. Media informasi sudah
berkembang sedemikian pesatnya maka tidak ada alasan jika para muda tidak

mendapatkan informasi tentang calon pemimpinnya. Yang perlu kamu perhatikan adalah
obyektifitas sumber informasi dari media yang kamu baca atau lihat. Mengapa? Karena
bukan rahasia lagi jika beberapa media besar di Indonesia adalah milik dari beberapa orang
yang notabene adalah politikus atau pengusaha yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.
Sedikit banyak pasti ada muatan kepentingan dari sang pemilik. Karenanya, ketika para
muda mencoba menggali informasi tentang sosok calon pemimpin, hendaklah melakukan
perbandingan dari berbagai sumber.

Informasi apa saja yang perlu kamu gali tentang sosok calon pemimpin ? Setidaknya ada
empat point yang harus kamu cari tahu yaitu: historinya, keluarganya, prestasinya dan visi
dia kedepannya. Dalam melakukan penilaian terhadap sosok tersebut, jangan pernah
terjebak pada penilaian media atau siapa pun. Misal, banyak media menulis bahwa calon
presiden ABCDE memiliki visi membela kepentingan rakyat. Usahakan jangan ikut-ikutan
mengamini penilaian tersebut. Mari kita belajar dari sejarah. Bukankah hampir semua
presiden dan mantan presiden Indonesia mengucapkan hal yang sama tapi, kenyataan yang
terjadi seperti apa? Ini tidak lebih dari sebuah retorika politik. Buatlah frame penilaian
sendiri sesuai pengetahuan yang kamu pahami. Seyogyanya, membela kepentingan rakyat
bukanlah visi tapi, merupakan kewajiban dari seorang pemimpin.

2. Pemimpin yang Amanah


Selanjutnya mari kita telaah lebih jauh lagi. Jabatan, bagi seorang pemimpin adalah
Amanah. Amanah sendiri adalah istilah dalam Islam yang berarti Meletakkan sesuatu
pada tempatnya yang pantas, tidak memberikan sebuah jabatan kecuali kepada
seseorang yang berhak, dan tidak menyerahkan suatu tugas kecuali kepada
seseorang yang selalu berusaha meningkatkan kemampuannya dengan tugas yang
diembannya. Untuk mengetahui seseorang itu Amanah atau tidak, kamu dapat
menilainya dengan melihat track record dia selama ini. Seseorang yang amanah pasti
mampu mengemban semua tugas yang dipercayakan dan menyelesaikannya dengan baik.
Seseorang dikatakan tidak mampu memegang Amanah jika tugas yang dipercayakan tidak
mampu dia emban dan diselesaikan dengan baik. Apalagi jika secara sengaja dia tinggalkan
untuk tujuan berikutnya.
Amanah mengharuskan memilih seseorang yang paling pantas untuk mengemban sebuah
jabatan. Jika kita menyimpang darinya dan memilih orang lain karena pertimbangan hawa
nafsu atau suka, pertimbangan money politic dan kekerabatan maka kita (dengan
mengenyampingkan orang yang mampu dan pantas kemudian mengangkat orang yang
lemah) telah melakukan sebuah pengkhianatan yang besar.

3. Adil

Kalau ngomongin soal adil dinegeri ini mungkin agak sedikit susah. Adil menjadi point wajib
karena sebenarnya ini adalah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu. Bahasa
yang paling mudah dimengerti untuk definisi adil adalah tidak berat sebelah. Semua yang
dipimpinnya haruslah disayangi dan diperlakukan dengan baik sesuai yang sudah
diamanahkan. Cakupan adil pada tataran ini tidak hanya adil pada para pemilihnya tapi,
juga adil terhadap masyarakat yang tidak memilihnya. Terus bagaimana kita bisa menilai
calon pemimpin tersebut adil? Parameter yang paling mudah adalah dengan melihat histori
dan kondisi keluarga sang calon pemimpin. Seperti apa track record kepemimpinan mereka
sebelumnya? Bagaimana respons orang-orang yang pernah merasakan kepemimpinannya?
Jika sang calon pemimpin tersebut sama sekali baru dan tidak pernah memimpin suatu
organisasi atau masyarakat, setidaknya lihatlah bagaimana kondisi keluarga dan penilaian
orang-orang yang pernah dekat dengan calon pemimpin tersebut. Jika calon pemimpin
kamu adalah laki-laki maka akan lebih mudah. Karena pada hakikatnya seorang laki-laki
adalah pemimpin dalam rumah tangga. Nah dari sanalah para muda bisa melakukan
penilaian. Apakah mereka adalah figur pemimpin keluarga yang baik? Jika dalam skala
keluarga mereka sudah acuh, cuek atau menjauh dari keluarga, jangan harap ketika diberi
amanah untuk memimpin dalam skala yang lebih besar mereka akan mampu mengemban
kepercayaan dengan baik.

4. Bervisi
Pemimpin yang bervisi adalah pemimpin yang mempunyai pandangan jauh ke depan
sehingga dapat membawa orang-orang yang dipimpinnya kearah yang diinginkan sesuai
dengan visinya. Mudahnya, Visi itu seperti sebuah payung yang akan menaungi kemanapun
kamu pergi. Seperti yang kita singgung dalam point 1 bahwa kita harus bisa membedakan
antara hak dan kewajiban. Antara Visi dan Misi. Hal ini bertujuan agar kita mampu berpikir
obyektif dan tidak termakan oleh pidato kampanye para calon pemimpin yang suka
mengobral janji. Berbicara soal Visi, menarik sekali mengutip ucapan Noe (Vokalis Letto,
anak dari Cak Nun) yang mengatakan bahwa: Pemimpin yang sebenarnya tidak
berangkat dari iklan-iklan yang membesarkan atau menawarkan dirinya. Pemimpin
yang sebenarnya berawal dari dia memang melakukan sesuatu. Orang-orang
disekitarnya punya mimpi yang sama tapi tidak mampu melakukannya. Dia
menitipkan mimpi pada orang ini (calon pemimpin) dan dia mendukung orang ini.
Orang ini didukung oleh sekitarnya bukan karena dia menawarkan diri tapi, karena
dia bisa dititipi mimpi oleh para pendukungnya.

5. Pertimbangan
Setelah kamu mendapatkan informasi dan pemahaman yang cukup dari empat point diatas,
coba kamu lakukan perbandingan diantara kandidat yang nantinya akan kamu pilih.
Langkah nomer lima ini juga penting agar para muda tidak terjebak pada fanatisme sesaat
seperti memilih Indonesian idol. Setidaknya timbang-timbang sendiri agar kamu
mendapatkan kriteria calon pemimpin yang benar-benar dapat mewakili suara kamu. Atau
kalau kita berbicara pahit, minimal dari para calon pemimpin tersebut ada beberapa kriteria
dari hasil penilaian kamu yang dimiliki oleh para calon pemimpin itu.

Penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai nilai yang terjabarkan
di dalam kaidah kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian
penjabaran nilai tahap terakhir, untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan
kedamaian pergaulan hidup (Soekanto,1979).
Faktor yang memengaruhi penegakan hukum adalah kelima faktor yang berkaitan erat dan
merupakan esensi dari penegakan hukum, yakni :
1.

Faktor hukum itu sendiri, yang mengacu kepada undang undang.

2.

Faktor penegak hukum, yakni pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3.

Faktor sarana dan fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4.

Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum itu berlaku dan diterapkan.

5.

Faktor kebudayaan, hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia dalam pergaulan hidupnya.

Contoh contoh yang dapat diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Undang-undang
Undang-undang dalam arti material adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh
penguasa pusat maupun daerah yang sah (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979).
2. Penegak Hukum
Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang hendaknya mempunyai
kemampuan-kemampuan tertentu sesuai dengan aspirasi masyarakat. Mereka harus dapat
berkomunikasi

dan

mendapat

pengertian

dari

golongan

sasaran,

disamping

mampu

menjalankan atau membawakan peranan yang dapat diterima oleh mereka.


3. Sarana atau Fasilitas
Sarana atau fasilitas mempunyai peran yang sangat penting dalam penegakan hukum. Tanpa
adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak akan mungkin penegak hukum menyerasikan
peranan yang seharusnya dengan peranan yang actual. Sarana atau fasilitas tersebut mencakup
tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, memiliki organisasi yang baik, peralatan yang
memadai, keuangan yang cukup, dan lain sebagainya.
4. Faktor Masyarakat
Dari sudut tertentu masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum karena hukum berasal
dari masyarakat yang mempunyai tujuan mencapai kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

5. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang
berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik
(sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari).
B.

Masalah Penegakan Hukum di Indonesia

Penegakan

hukum

di

Indonesia

masih

buruk.

Dari

data

yang

saya

baca

darihttp://metrotvnews.com, demokrasi di Indonesia dan kontrol terhadap korupsi tidak megalami


kemajuan berarti menurut Governance Indicator World Bank.
Sedangkan hasil penelitian dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) bahwa proporsi publik yang
menilai kondisi penegakan hukum di Indonesia buruk atau sangat buruk meningkat. Hal tersebut
dapat dibuktikan dari survey yang dilakukan LSI terhadap 1.220 koresponden pria dan wanita,
berusia 17 tahun atau lebih, dari data tersebut ditemukan bahwa sekitar 42,2 persen menilai
kondisi penegakan hukum nasional buruk atau sangat buruk. Hanya ada sekitar 32,6 persen
yang mengatakan baik atau baik sekali.
Menurut saya dari kasus yang sering terdengar di media dan data diatas benar menyatakan
bahwa penegakan hukum di Indonesia masih buruk bahkan dikatakan masih sangat buruk. Kita
bisa tahu begitu buruknya penegakan hukum di Indonesia dapat kita lihat dari kasus di bawah ini
:
Kasus Aulia Pohan (besan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono) dijerat hukuman penjara
karena dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang melanggar Pasal 33 UU
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengatur mengenai penyalahgunaan kewenangan
sehingga menyebabkan terjadinya korupsi. Ada info yang mengatakan kasus Aulia Pohan
merugikan negara hingga mencapai 100 miliar. Aulia Pohan mendapatkan hukuman dengan
empat tahun penjara lalu Mahkamah Agung mengurangi hukuman menjadi tiga tahun. Aulia
Pohan menjalani hukumannya sejak 27 November 2008 hingga 18 Agustus 2010 (sudah
termasuk dengan remisi yang diterimanya).
Setelah membahas kasus korupsi dari besan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, kita bisa
menyimak sebuah kasus lagi. Kasus ini mengenai seorang remaja berusia 15 tahun di Sulawesi
Tengah yang dinyatakan mencuri sandal jepit dan dikenai hukuman penjara lima tahun. Padahal
remaja tersebut hanya mencuri sandal jepit yang mungkin harganya kurang dari Rp 100. 000
dan tidak merugikan negara hingga 100 miliar (seperti Aulia Pohan) tapi remaja itu malah
mendapat hukuman yang lebih banyak dari pada Aulia Pohan. Petugas keamanan mengatakan
bahwa hal tersebut adalah sebuah unsur edukasi.
Menurut saya dari kasus kedua diatas benar benar mencerminkan ketidakadilan dan
menyatakan bahwa penegakan hukum di Indonesia sangatlah buruk. Mengapa saya bisa
mengatakan demikian? Karena remaja tersebut yang tidak merugikan negara hingga 100 miliar

dan mungkin hanya merugikan yang merasa kehilangan sandal jepitnya malah mendapatkan
hukuman yang lebih banyak dari pada Aulia Pohan (koruptor). Petugas keamanan berkilah hal
tersebut merupakan unsur edukasi bagi anak tersebut. Yah, memang kita perlu menghukum
anak tersebut bila benar anak tersebut mencuri sandal itu tetapi remaja tersebut seharusnya
mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari pada Aulia Pohan karena jelas Aulia Pohan dan
para koruptor lainnya merugikan negara hingga bermiliar miliar dan dapat menyengsarakan
kehidupan orang banyak tetapi mereka para koruptor malah mendapatkan hukuman yang
menurut saya termasuk ringan. Apakah koruptor juga tidak perlu unsur edukasi agar mereka
tahu mana yang bukan mencuri uang negara atau yang bukan?. Benar banyak orang berkata
hukum di Indonesia hanya masih berlaku terhadap mereka yang mempunyai kekuasaan,
jabatan, dan harta.
c. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulannya dalam penegakan hukum di Indonesia harus ada perubahan dan tidak bisa
hanya diserahkan pada oknum penegak hukum yang ada. Oleh sebab itu kesimpulannya adalah
:
1.

Dibentuk lembaga hukum yang menjalankan hukum dengan baik yang benar benar
independen dan berani melakukan kebenaran tanpa adanya campur tangan dari para
pejabat yang ada.

2.

Bagi mereka yang berani membongkar kasus yang bersangkutan dengan koneksi dan
uang, harus dilindungi penuh. Khususnya bagi mereka yang membongkar komunitasnya
sendiri, harus dilindungi penuh.

3.

Untuk masa reformasi hukum, janganlah bicara yang tidak ada solusinya, karena solusi
yang dikemukan saat ini di media hanya perlindungan diri demi kepentingan diri atau
golongan. Karena ada kemungkinan yang berbicara itu, bisa terlibat dalam koneksi dan
uang. Hanya saja masih memiliki kekuasan yang lebih leluasa untuk berbicara, dari pada
yang sudah dibungkam dalam tahanan, lebih leluasa mempermainkan hukum demi
menegakan hukum.

4.

Jika penguasa saat ini ada niat kuat untuk memberantas korupsi, mereka harus berani
mereformasi tanpa ragu-ragu.

KEARIFAN NILAI-NILAI BUDAYA &


PENDIDIKAN KARAKTER & PEKERTI BANGSA

Pendahuluan:
Kerusuhan, kekerasan, dan konflik yang banyak terjadi di Indonesia semakin memperkuat kondisi
keterpurukan bangsa dan negara Indonesia. Berbagai bentuk ketidak-adilan, ketidak-setaraan, ketidak-serasian,

dengan mudah kita saksikan dalam berbagai wujud di berbagai tempat. Dalam keadaan semacam itu, relasi
ataupun distribusi kuasa yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan semakin nyata, sebagaimana
dapat kita amati dari: tingginya tingkat kekerasan yang dialami oleh perempuan; tingginya angka buta aksara
pada perempuan; tingginya angka kematian ibu; beban kerja perempuan lebih berat, dan masih banyak lagi.
Apabila kelompok perempuan - yang sebenarnya merupakan sumber daya potensial - masih selalu dalam
kondisi termarginalkan, maka akan tetap sulit bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa
dan negara lain. Sebagaimana dapat kita lihat dari indeks pembangunan manusia (IPM) bangsa Indonesia yang
berada dalam posisi 111 dari 177 negara.

Bagaimana caranya agar bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa dan negara lain?
Dibutuhkan suatu terobosan cerdas membuat perubahan untuk masa depan bangsa dan negara Indonesia yang
lebih baik. Salah satu terobosan yang harus segera dilakukan adalah membangun dan merumuskan kembali
strategi kebudayaan Indonesia yang memperhatikan paradigma akal budi dalam kebijakan pembangunan,
utamanya dalam pembangunan manusia.

Paradigma akal budi selama ini telah mengalami proses penumpulan karena hegemoni kekuasaan.
Pembangunan manusia belum dianggap sebagai investasi penting dalam pembangunan bangsa dan negara.
Pendidikan yang semestinya mencerdaskan, mensejahterakan dan memberikan suatu pemahaman tentang
wawasan kebangsaan maupun wawasan kebudayaan, malahan melahirkan banyak permasalahan yang
mendasar.

Pendidikan selalu dikatakan sebagai hal yang sangat penting dalam pembangunan manusia sebagaimana
yang diamanahkan oleh UUD 1945. Namun kenyataan membuktikan bahwa pendidikan tidak pernah menjadi
tema besar dalam arti yang sebenarnya. Kurangnya perhatian dalam pendidikan tercermin antara lain dalam
minimnya alokasi anggaran pendidikan oleh negara, keluarga, dan pribadi. Sistem pendidikan belum
menunjukkan keberhasilan untuk menumbuhkan kesadaran sebagai bangsa, dimana wawasan kebangsaan dan
semangat multikultural cenderung semakin menurun dari waktu ke waktu.

Apa yang harus dilakukan agar segera terjadi perubahan yang positif? Langkah-langkah apa yang harus
dilakukan agar keluhuran budi dapat ditanamkan dan dipraktekkan dalam kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Bagaimana caranya agar nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender
dapat tersosialisasikan? Dibutuhkan suatu model pendidikan yang dapat meningkatkan kepekaan terhadap
nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai persatuan yang dibangun di atas perbedaan keanekaragaman budaya yang
dimiliki bangsa Indonesia.

Semua orang punya tanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Dengan menerapkan
paradigma pembangunan yang baru dimana desain pembangunan adalah Pembangunan Bersama Masyarakat,
maka semua orang dapat ikut terlibat sejak tahap perencanaan hingga melakukan pengawasan dalam proses
pembangunan. Masyarakat (termasuk kelompok perempuan) sebagai stakeholder pembangunan mempunyai
peran yang besar dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Proses mewujudkan Indonesia yang

lebih baik dapat dijalankan antara lain dengan melakukan proses revitalisasi nilai-nilai budaya dan kebangsaan
yang kiita miliki.

Salah satu stakeholder penting yang perlu dijadikan kelompok sasaran untuk mewujudkan Indonesia
kedepan yang lebih baik adalah Kelompok perempuan. Mengapa perempuan perlu dijadikan sebagai kelompok
sasaran khusus? Setidak nya ada dua alasan. Pertama, terkait dengan peran dan kedudukan perempuan yang
belum setara. Perempuan masih mengalami ketidak adilan dan diskriminasi, antara lain dapat dilihat dari
tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan antara
lain berupa kekerasan fisik, kekerasan seksual hingga kekerasan psikologis.

Kedua, terkait dengan peran rangkap tiga perempuan: (1) peran reproduktif (haid, hamil, melahirkan,
menyusui), (2) peran produktif (sebagai bagian dari income generating), dan (3) peran mengelola komunitas
social (community managing). Perempuan dapat menjadi sasaran utama sekaligus menjadi sasaran antara
untuk memberdayakan diri sendiri maupun masyarakat. Kelompok perempuan adalah kelompok potensial yang
dapat membuat perubahan, menuju masyarakat Indonesia yang egaliter, berlandaskan pada semangat
multikultural.

Pendidikan karakter dan pekerti bangsa merupakan salah satu strategi yang diusulkan dengan
mendasarkan pada semangat kemajemukan budaya bangsa. Kita tidak perlu jauh-jauh menengok pada nilai-nilai
budaya luar karena strategi baru dapat kita gali dan kembangkan dari nilai-nilai yang ada pada budaya
Indonesia. Bukankah kita sudah memiliki simbol yang telah disepakati bersama, yakni Bhinneka Tunggal Ika?
Bhineka Tunggal Ika merupakan suatu pengakuan terhadap heterogenitas etnik, budaya, agama, ras dan
gender, namun menuntut adanya persatuan dalam komitmen politik. Bhineka Tunggal sebagai simbol
persatuan harus dapat difungsikan sebagai roh penggerak perilaku masyarakat.Bukankah kearifan-kearifan yang
terkandung dalam ragam nilai-nilai budaya Indonesia dapat menjadi pedoman pembentukan karakter dan
pekerti bangsa? Cukup banyak tulisan tentang aspek sosial budaya yang dapat dijadikan referensi untuk
penyusunan strategi kebudayaan dan pedoman pendidikan karakter dan pekerti bangsa, antara lain dalam
bentuk folklore. Dalam folklore Indonesia dapat digali berbagai kearifan budaya lokal tentang nilai kebajikan,
kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan lain-lain. Apa yang yang telah dirintis dan dibukukan oleh James
Danajaya dalam Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain (1984) dapat terus digali dalam upaya
mengidentifikasi berbagai dongeng, cerita rakyat yang dapat memberikan gambaran karakter dan pekerti yang
positif, ternmasuk perihal nilai-nilai kesetaraan dan keadilan gender.

Dibutukan suatu upaya yang sungguh-sungguh dan dilakukan secara terus menerus yang melibatkan
seluruh komponen bangsa.Dengan cara semacam itu pendidikan penanaman kesadaran budaya akan terwujud.
Bukankah semestinya sistem pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran berbudaya? Suatu upaya yang
harus disegerakan dengan tekanan pada pengayaan akal budi yang menjadi dasar berpijak semua keputusan
bijak. Darimana kita dapat memperoleh kearifan nilai-nilai yang mampu menumbuhkan pengayaan akal budi
yang sering disebut dengan pendidikan budi pekerti?

Mempelajari berbagai kearifan budaya yang ada di dunia ini, baik kearifan budaya lokal maupun kearifan
global merupakan salah satu cara yang diharapkan dapat melahirkan kearifan yang bersifat lintas budaya dalam
menjalin keragaman budaya yang ada. Untuk mencapai hal itu yang terutama harus dilakukan adalah sosialisasi
tentang arti penting kesadaran budaya.

Apa yang dimaksud dengan kesadaran budaya? Yang dimaksud dengan kesadaran budaya adalah kesadaran
akan hadirnya berbagai perbedaan kebudayaan dan kesatuan sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Baik perbedaan yang berdasar pada ikatan etnisitas maupun kesatuan sosial lainnya. Banyak cara yang dapat
dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran budaya, melalui jalur pendidikan, melalui media massa, dan lainlain. Melalui jalur pendidikan dapat dilakukan melalui pendidikan formal, maupun pendidikan dalam
masyarakat.

Penanaman kesadaran budaya ini merupakan modal penting yang dapat diajarkan untuk meningkatkan wawasan
kebangsaan, kepekaan terhadap perbedaan, serta kekayaaan budaya, baik yang berupa kekayaan fisik maupun
kearifan-kearifan lokal yang ada. Dengan upaya penanaman kesadaran budaya diharapkan juga sekaligus terjadi
transformasi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender (KKG).

Penanaman kesadaran budaya dapat dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun
pendidikan dalam masyarakat, antara lain melalui media massa, pengembangan kesenian tradisional, pariwisata
budaya, dan lain-lain. Media Massa merupakan sarana yang terbukti sangat efektif dalam menanamkan
kesadaran budaya dan memperkenalkan keaneka-ragaman budaya Indonesia.

Berbagai potensi lokal beserta kearifan-kearifannya dapat digali dan dikembangkan sebagai film cerita, film
dokumenter, berbagai tulisan dalam berbagai macam media, sebagai bahan pendidikan multikultural. Potensi
nilai-nilai budaya lokal dengan latar etnosentrisme dapat dikemas menjadi bahan ajar, alat peraga, maupun studi
kasus yang mempunyai ciri-ciri dan karakter yang khas dan beragam. Keragaman budaya Indonesia inilah yang
merupakan kekayaan yang harus terus menerus digali dan dikembangkan sebagaimana wujud implementasi
Bhineka Tunggal Ika dalam masyarakat. Bhinneka Tunggal Ika merupakan komitmen multikulturalisme yang
amat luar biasa, yang mengakui adanya heterogenitas etnik, budaya, agama, gender, tetapi menuntut persatuan
dalam komitmen politik (Ignas Kleiden, 1990).

Multikulturalisme merupakan kebutuhan ketika kita semua mengakui realita heterogenitas yang ada pada
masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara yang tepat agar pendidikan multikultural dapat menjadi
bagian dari pemecahan masalah yang benar-benar dirasakan manfaatnya bagi seluruh masyarakat? Bagaimana
caranya agar pembangunan dilakukan atas dasar pijakan budaya yang kuat, yang dapat menjadi sarana untuk
menghargai budaya lokal? Yang dapat mengembangkan kearifan-kearifan lokal, maupun kearifan yang bersifat
lintas budaya? Salah satu strategi yang ditawarkan adalah dengan menggali kekayaan budaya lokal dalam
berbagai wujud yang pasti sangat banyak mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan luas yang memiliki
sekitar 17.000 pulau atau sekitar 300 etnik.

Penggalian kekayaan budaya lokal apapun wujudnya dapat menumbuhkan kesadaran budaya yang
merupakan modal yang amat berharga dalam upaya peningkatan wawasan budaya. Atasa dasar itu, sangat
penting dilakukan . kajian tentang beragamnya budaya lokal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat seperti
kesehatan, pendidikan, kesenian, organisasi, dan lain-lain.

Terdapat keberagaman yang berdasarkan pada perbedaan nilai-nilai budaya, sebagaimana tergambar
dalam tiga wujud kebudayaan sebagai berikut:
1.

Adat Istiadat atau tata kelakuan yang merupakan suatu jaringan dari sikap norma, kepercayaan, ide,
dan nilai, antara lain berupa nilai-nilai tentang kejujuran, kegotongroyongan, kepedulian sosial, dan
lain-lain;

2.

Proses-proses dan aktivitas bersama yang berhubungan dengan pemenuhan berbagai kebutuhan,
utamanya pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan tempat tinggal, makan, kesehatan,
pendidikan, dan lain-lain. Biasanya dilakukan dalam hubungannya dengan suatu aktivitas tertentu.
Untuk pemenuhan kebutuhan sehat berpusat pada penderita sakit, dalam upacara perkawinan berpusat
pada pengantin, dan seterusnya;

3.

Aspek hasil karya atau unsur-unsur kebudayaan materi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup.
Berupa kebutuhan rumah, kendaraan, makanan, minuman, obat, alat kesehatan, benda-benda sarana
religi, sarana rekreasi, seni, senjata, dan lain-lain.

Proses bagaimana individu, keluarga, masyarakat memenuhi kebutuhan hidup merupakan lingkaran dari
tiga wujud kebudayaan. Ada nilai-nilai dominan yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apabila nilai-nilai kebajikan, kebersamaan, gotong royong yang menjadi
landasan, maka bagaimanapun prosesnya, dan apapun yang akan dihasilkan merupakan cerminan dari nilainilai tersebut.
Melalui kajian-kajian tentang berbagai nilai budaya lokal, diketahui bahwa Indonesia

memiliki kekayaan

budaya yang amat luar biasa. Kita memiliki kearifan budaya untuk memenuhi hidup sehat, dengan meramu
tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obta tradisional. Kita juga punya kearifan untuk bersahabat dengan
lingkungan sebagaimana yang dimiliki oleh beberapa suku di Indonesia. Kita juga memiliki kearifan untuk
meningkatkan eksistensi dan kebanggaan sebagai suatu kelompok budaya, untuk saling peduli satu dengan yang
lain dengan ragam kesenian, tempat dan bangunan bernilai sejarah dan budaya yang tinggi, dan masih banyak
lagi. Kajian Etnografi pada berbagai budaya Indonesia memberikan informasi akan kekayaan kearifan nilai-nilai
budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup bagi upaya pengembangan wawasan
kebangsaan, cinta tanah air, keadilan dan kesetaraan gender, dan lain-lain.

Pemahaman tentang keragaman budaya dalam berbagai wujud perlu terus menerus dilakukan.
Rekonstruksi kemajemukan budaya harus dilakukan melalui banyak cara, antara lain melalui jalur pendidikan
dan pengorganisasian sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Etnosentrisme, relativisme dan unversalisme
budaya dalam setiap kebudayaan penting untuk dipelajari dan dianalisis untuk menggali kearifan-kearifan lokal
maupun kearifan-kearifan yang bersifat lintas budaya. Adanya etnosentrisme membuat masyarakat mengikatkan

diri pada cara-cara dan kepercayaan yang berlaku pada kebudayaan mereka dan sekaligus menganggap bahwa
cara itu lebih baik dibandingkan dengan cara-cara yang berlaku pada kebudayaan masyarakat lain. Atas dasar
itu, pola dan jenis makanan, cara memandang penyakit dan cara penyembuhannya, sistem kesehatan, sistem
religi, sistem kekerabatan, dan lain-lain sangat terkait dengan pandangan masyarakat pada alam sekitar, yang
dengan demikian dapat ditemukan perbedaannya pada berbagai bentuk masyarakat. Inilah yang disebut dengan
relativisme budaya, yang melahirkan keanekaragaman pandangan, cara dan produk-produk budaya. Selain
terdapat keragaman atas dasar etnosentrisme dan relativisme budaya, juga terdapat nilai-nilai yang bersifat
universal ada pada beberapa kebudayaan, misalnya nilai-nilai tentang hak-hak asasi manusia dapat disebutkan
sebagai nilai-nilai universal.

Bagaimana caranya agar kearifan yang ada dalam nilai-nilai budaya Indonesia mampu tampil menjadi
penguat bangsa? Bagaimana caranya agar kearifan budaya mampu menjadi dasar pijak keputusan yang bijaksana
di tingkat keluarga, masyarakat dan Negara? Di tingkat pembuat kebijakan perlu ditanamkan pemahaman
kesadaran budaya, bahwa budaya bukan hanya fisik, aspek hasil karya saja seperti tarian, patung, candi, dan
lain-lain. Kesadaran budaya diharapkan dapat menumbuhkan minat untuk menggali nilai-nilai kearifan budaya
yang sangat beragam, menjadi dasar pendidikan manusia Indonesia untuk memiliki kecerdasan secara utuh,
yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial, dan kecerdasan kepribadian. Bila hal ini disepakati, maka
pendidikan budi pekerti tidak lagi menjadi wacana yang hanya dikemukakan ketika kita semua prihatin dengan
berbagai permasalahan seperti merebaknya korupsi, narkoba, kriminalitas, namun menjadi kebutuhan nyata
untuk diaplikasikan secara sungguh-sungguh melalui berbagai cara.

Dalam penyusunan strategi kebudayaan untuk membangun nilai-nilai positif bangsa, terutama untuk
mendukung terwujudnya KKG, kelompok perempuan dapat berperan besar dalam dua hal:
(1) Sebagai kelompok sasaran utama program mengingat jumlah perempuan

lebih dari separuh penduduk

dan sebagian dari mereka dalam kondisi rentan.


(2) Sebagai kelompok sasaran antara, dimana kemampuan mereka menjalankan peran Prangkap tiga
(produktif, reproduktif dan mengelola komunitas sosial) membuat mereka mampu menjadiagent of change bagi
kerabat dan masyarakat sekitarnya.

Menempatkan perempuan sebagai kelompok sasaran utama maupun kelompok sasaran antara dalam
pendidikan nilai merupakan pilihan yang sangat strategis untuk melakukan upaya counterterhadap hegemoni
patriarki. Kuatnya nilai-nilai dari ideology patriarki yang selama ini telah menjadi ideology yang hegemonik
menjadikan kondisi yang tidak setara dan menyebabkan berbagai ketidak adilan yang dialami kaum perempuan,
yang dapat dilihat dari masih tingginya angka kematian ibu (AKI) serta terjadinya berbagai bentuk kekerasan
yang dialami perempuan.
Ideologi patriarki mendefinisikan gender yang berlaku dalam masyarakat. Ideologi gender dapat diartikan
sebagai bagaimana laki-laki dan perempuan didefinisikan, dinilai, dipersepsikan, dan diharapkan untuk
bertingkah laku. Secara lebih konkrit ideology gender adalah segala aturan, nilai-nilai, mitos, dan stereotype
yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan yang didahului pembentukan identitas feminine dan
maskulin (Saptari & Holzner, 1997).

Bagaimana ideology hegemoni dapat membentuk dan mempengaruhi alam pikiran masyarakat? Secara
sistematis ideology hegemoni mencekoki individu dan masyarakat dengan pikiran-pikiran tertentu, bias-bias
tertentu, system-sistem preferensi tertentu. Dimana kekuasaan cenderung melakukan hegemoni makna
terhadap kenyataan sosial (Ibrahim, dkk 1997). Secara Individu maupun sosial seringkali pola pikir kita lebih
banyak dipengaruhi atau dicekoki oleh pikiran-pikiran tertentu yang acapkali sangat bias. Kebanggaan dan
kecintaan kita terhadap tanah air dan berbagai hasilnya semakin lama semakin melemah karena adanya
dorongan yang sangat kuat dari kapitalisme global, Kita Akibatnya, kita lebih bangga menjadi konsumen barangbarang import daripada tampil sebagai bangsa yang memproduksi atau menggunakan produk-produk dalam
negeri. Dalam konteks inilah, pendidikan nilai melalui pendidikan karakter dan pekerti bangsa menjadi suatu
upaya dan langkah yang amat mendasar untuk melakukan counter hegemony.

Penyusunan strategi rekayasa sosial budaya dengan pendidikan karakter dan pekerti bangsa yang
dilewatkan pada kelompok sasaran perempuan hendaknya dilakukan sebagai suatu bagian yang utuh dari
gerakan kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberdayaan pada kelompok perempuan.
Adapun konsep pemberdayaan perempuan setidaknya harus mengandung tiga pokok pikiran:
(1) Bersifat holistik, karena mencakup pemberdayaan seutuhnya dalam hal ekonomi, sosial, budaya, politik,
dan psikologis.
(2) Diarahkan kepada penanggulangan hambatan struktural yang menghambat kemajuan perempuan dan
terwujudnya kesetaraan gender.
(3) Dilaksanakan bersama-sama dengan pemberdayaan laki-laki dan pemberdayaan masyarakat umumnya
(Jang A. Muttalib, 2000).

Dibutuhkan suatu Gerakan Kebudayaan dan Pemberdayaan Masyarakat ( termasuk pemberdayaan


perempuan) yang dapat dilakukan melalui dua jalur, yakni: (1) jalur pendidikan, dan (2) jalur
pengorganisasian. Melalui dua jalur tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan masyarakat,
termasuk kaum perempuan untuk mencari pemecahan persoalan dan mempunyai unsur meningkatkan
kesadaran.

Langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mewujudkan Strategi Kebudayaan Indonesia melalui
sentuhan kaum perempuan, adalah sebagai berikut:
(1) Pembangunan manusia yang menekankan pada peningkatan kualitas non-fisik,

seperti: kualitas

kepribadian; kualitas bermasyarakat; kualitas berbangsa; kualitas spiritual; kualitas kekaryaan; dan wawasan
lingkungan.
(2) Menggali berbagai kearifan dan nilai-nilai budaya bangsa yang dapat dikembangkan
sebagai strategi nasional (kearifan lokal, kearifan lintas budaya, nasional & global).
(3) Membongkar mitos, stereotype, mengangkat fakta-fakta keadilan dan kesetaraan.
(4) Menanamkan nilai-nilai mutualisme (kebajikan, kesetiakawanan, keadilan,
kesetaraan, dan seterusnya)

Pembangunan manusia seutuhnya merupakan bagian penting dari program pembangunan, namun sering
terabaikan karena berbagai alasan. Kurangnya komitmen politik untuk pembangunan manusia membuat
pembangunan karakter dan pekerti bangsa tidak mendapat prioritas penting dalam pembangunan nasional
maupun di daerah. Padahal tujuan pembangunan manusia menurut Masri Singarimbun (1996), adalah
memperluas pilihan-pilihan dan membuat pembangunan lebih demokratis dan partisipatoris. Ke dalam pilihanpilihan tersebut tercakup pendapatan dan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan, dan lingkungan fisik
yang bersih dan nyaman.Dibutuhkan adanya suatu kebijakan yang ketat untuk memadukan pertumbuhan
ekonomi dengan pembangunan manusia demi terciptanya kesejahteraan secara berkelanjutan.
Untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan manusia dan mendukung tujuan pembangunan
manusia dalam upaya memperluas pilihan dan membuat pembangunan lebih demokratis dan partisipatoris,
maka gagasan untuk penyusunan modul pendidikan karakter dan pekerti bangsa pantas mendapat dukungan
yang luas. Dari berbagai kajian, kegiatan seminar maupun kegiatan diskusi dirasakan bahwa sangat mendesak
untuk dilakukan pendidikan karakter dan pekerti bangsa dalam kerangka pembangunan manusia Indonesia.
Suatu hal yang tidak lagi dapat ditunda-tunda, bahkan harus dilakukan sesegera mungkin sebagai suatu gerakan
bersama pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.

Penutup
Sebagai penutup dari berbagai uraian di atas dapat ditarik rangkuman sebagai berikut:
-

Bahwa pengembangan Strategi Kebudayaan Indonesia tak dapat dilepaskan dari upaya pemberdayaan

masyarakat termasuk didalamnya adalah pemberdayaan kelompok perempuan.


-

Melalui peran serta masyarakat, termasuk kaum perempuan diharapkan dapat dikembangkan suatu

strategi kebudayaan yang dapat membuat bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang kembali diperhitungkan
oleh bangsa maupun negara lain.
-

Untuk mengembangkan Strategi Kebudayaan yang tepat dbutuhkan suatu instrumen yang dapat

mendukung terwujudnya strategi rekayasa sosial budaya yang tepat untuk mewujukan keadilan & kesetaraan
gender.
-

Membangun Gerakan Kebudayaan mewujudkan keluarga dan masyarakat KKG menjadi satu bagian yang

utuh dari pembangunan manusia, dimana didalamnya termasuk kelompok perempuan.


-

Kelompok perempuan merupakan kelompok sasaran strategis dalam strategi rekayasa sosial budaya

mewujudkan KKG, baik sebagai sasaran utama maupun sebagai sasaran antara (sebagaiagent of change) dalam
keluarga dan masyarakat.
-

Untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan manusia dan mendukung tujuan pembangunan

manusia termasuk kelompok perempuan, maka gagasan untuk menuyusun modul pendidikan karakter dan
pekerti bangsa melalui kelompok perempuan patut mendapat dukungan dari semua pihak.
-

Langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan melalui sentuhan kaum perempuan antara lain:

pembangunan kualitas non-fisik manusia; membongkar mitos & stereotipe, mengangkat fakta tentang keadilan
dan kesetaraan gender; menggali berbagai kearifan lokal, lintas budaya, nasional dan global; menanamkan nilainilai mutualisme.

Daftar Pustaka
Dananjaya James, Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain,

Jakarta: PT Grafiti

Pers,1984
Ibrahim Idy Subandy dan Dedy Djamaludin Malik (ed) Pengantar Editor : Mencerahkan Akal Budi dalam
Sangkar Hegemoni, dalam Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya,1997.
Moore, Henrietta L, Feminisme and Anthropology, UK: Polity Press in association with basil Blackwell,
1991
Muttalib, Jang Aisjah, Pemberdayaan Wanita: Antara Harapan dan Kenyataan,

dalam

Masinambow EKM (ed) Koentjaraningrat&Antropologi di Indonesia, Jakarta: AAI &Yayasan Obor


Indonesia, 2000.
Saptandari Pinky, TriJoko & Nurcahyo TA, Modul Pendidikan Karakter & Pekerti Bangsa bagi
Kelompok Perempuan, Jakarta: Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 2005.
Saptari Ratna dan Brigitte Holzner, Perempuan Kerja & Perubahan Sosial:
Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Grafiti Utama, 1997
Singarimbun, Masri, Penduduk dan Perubahan, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1996
Sobary Mohamad, Kang Sejo Melihat Tuhan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 1993

Suatu