Anda di halaman 1dari 5

SEMEN PEMBORAN

SIFAT FISIK SEMEN


Adapun beberapa yang menjadi sifat dasar semen dan merupakan bagian yang penting untuk
sebuah proses penyemenan yaitu :
a.

Thi
ckening Time
Thickening time ialah waktu yang diperlukan bubur semen untuk mencapai harga
konsistensi 100 Bc. Persamaan umum :
Bc = (T - 78 x 2)/20
Keterangan :
Bc = konsistensi suspensi semen, (Uc)
T = harga torsi pada pembacaan alat, (g-cm)

b. Densitas
Rapat jenis dari bubur semen ( slurry) ditentukan oleh perbandingan campuran air
dan bubuk semen, dimana makin tinggi kadar air maka makin kecil harga kerapatan bubur
semen. Dapat dirumuskandengan persamaan :

Dbs = Gbk + Gw + Ga / Vbk + Vw + Va

Keterangan :
o Dbs = densitas suspensi semen
o Gbk = berat bubuk semen
o Ga = berat aditif
o Gw = berat air
o Vbk = volume suspensi semen
o Vw = volume air
o Va = volume aditif
c. Filtration Loss
Filtration loss adalah peristiwa hilangnya cairan dan suspensi semen kedalam formasi
permeable yang dilaluinya. Ciran ini disebut dengan filtrat, filtrate kehilangan filtrate ini
tidak boleh terlalu banyak, karena akan menyebabkan suspensi semen kekurangan air.

d.

Water Cement Ratio (WCR)


Water cement ratio ialah perbandingan air yang dicampur dengan bubuk semen
sewaktu suspensi semen dibuat. Jumlah air yang dicampurkan tidak boleh lebih atau kurang,
karena akan mempengaruhi baik buruknya ikatan semen nantinya.

e.

Waiting On Cement
Waiting On Cement atau waktu menunggu pengerasan suspensi semen yaitu waktu
yang dihitung dari saat viper plug diturunkan kemudian plug dibor kembali untuk operasi
selanjutnya. WOC ditentukan oleh berbagai faktor seperti tekanan dan temperatur sumur,
WCR, kuat tekan dan aditif-aditif yang dicampur kedalam bubur semen yang pada umumnya
sekitar 24 jam.

f.

Shear Bond Strength


Shear bond strength didefinisikan kekuatan semen dalam menahan berat casing.
Harga shear bond strength ini dapat dihitung dengan cara mengukur gaya tekan (compressive
strengt)

g.

Compressive Strength
Kekuatan pada semen dapat dibagi menjadi dua, yaitu compressive strength dan
shear bond strength. Compressive strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam
menahan tekanan-tekanan horizontal. Shear bond strength didefinisikan sebagai kemampuan
semen untuk menahan tekanan/beban dari arah vertical.Pada temperatur tinggi akan terjadi
gangguan pada kekuatan semen seiring dengan bertambahnya suhu, hal ini lebih dikenal
dengan strength retrogetion. Hal ini mengubah komposisi komponen semen dan
menyebabkan kekuatan dari semen hilang.

h.

Viskositas
Pengukuran viskositas pada bubur semen menggunakan istilah konsistensi karena
bubur semen merupakan fluida non-newtoian. Harga konsistensi ini dapat dipengaruhi oleh
kadar air dalam bubur semen dan dapat pula diubah dengan menggunakan bahan adiktiv

i.

Hidrasi Semen
Hidrasi semen Portland adalah suatu reaksi kimia yang berurutan antara clinker,
kalsium sulfat dan air sampai akhirnya suspensi semen mengeras. Akan Tetapi ada beberapa

parameter yang perlu ditambahkan. Hidrasi dapat di kelompokan menjadai 2 kelompok


yaitu :
1. Hidrasi dengan temperatur rendah
2. Hidrasi dengan temperatur tinggi.
j.

Permeabilitas
Permeabilitas diukur pada semen yang mengeras, maksudnya sama dengan
permeabilitas batuan formasi yang berarti kemampuan suatu media untuk
mengalirkan fluida. Semakin besar permeabilitas semen akan semakin banyak fluida
yang melalui semen tersebut. Dalam hasil penyemenan permeabilitas yang
diinginkan adalah tidak ada atau sekecil mungkin. Menurut rekomendasi dari API
permeabilitas batuan semen adalah tidak boleh lebih dari 0,01 md.

Komposisi Kimia Pembuatan Semen


Semen yang digunakan dalam industry perminyakan adalah semen Portland, kemudian
dikembangkan oleh joseph aspdin tahun 1824. Disebut Portland karena asal mula bahannya
berasal dari pulau Portland Inggris. Semen ini termasuk semen hidrolis dalam arti akan
mengeras apabila bertemu atau bercampur dengan air. Semen Portland mempunyai 4
komponen mineral utama, yaitu :
Tricalcium silicate (3CaO SiO2 )
Dinotasikan sebagai C3S yang dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO2 da merupakan
komponen terbanyak dalam Portland semen, sekitar 40-45% untuk semen yang lambat proses
pengerasannya, dan 60-65% untuk semen yang cepat proses pengerasannya. Komposisi ini
memberikan strength yang terbesar pada awal pengerasan.
Dicalcium Silicate (2CaO SiO2)
Dinotasikan sebagai C2S yang juga dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO 2,
memberi pengaruh terhadap strength semen akhir. C 2S menghidrasi sangat lambat sehingga
tidak berpengaruh dengan setting time semen, tetapi sangat berpengaruh dalam kekuatan
semen lanjut dan kadarnya tidak lebih dari 20%.

Tricalcium Aluminate (3CaO Al2 O3 )


Dinotasikan sebagai C3A yang terbentuk dari reaksi CaO dan AL 2O3 kadarnya 15%
untuk high early Strength dan 3% untuk terhadap kandungan sulfate, namun berpengaruh
terhadap rheologi suspense dan membantu proses pengerasan awal semen.
Tetracalcium Aluminoferrite (4CaO AL2O3 Fe2o3)
Dinotasikan sebagai C3AF yang terbentuk dari reaksi CaO 2Al2O3 dan Fe2O3.
Kadarnya tidak boleh lebih dari 24% untuk semen yang tahan terhadap kandungan sulfate
tinggi. Penambahan oksida besi yang berlebihan akan menaikan kadar C 4AF dan menurunkan
kadar C3A dan menurunkan panas hasil reaksi /hidrasi C2S dan C3S.
3.5

Klasifikasi Semen
API telah melakukan pengklasifikasian semen kedalam beberapa kelas guna

mempermudah pemilihan dan penggolongan semen yang akan digunakan, pengklasifikasian


ini berdasarkan pada kondisi sumur, temperature, tekanan dan kandungan yang terdapat pada
fluida formasi.
Klasifikasi semen yang dilakukan API terdiri dari:
Kelas A
Semen kelas A ini digunakan dari kedalaman 0 (permukaan) sampai 6.000 ft. semen ini
terdapat dalam tipe biasa (ordinary type) saja, dan mirip dengan semen ASTM C-150 tipe I.
Kelas B
Semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan tersedia dalam jenis yang
tahan terhadap kandungan sulfat menengah dan tinggi (moderate dan high sulfate resistant)
Kelas C
Semen kelas C digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan mempunyai sifat highearly strength (proses pengerasannya cepat) semen ini tersedia dalam jenis moderate dan
high sulfate resistant.
Kelas D
Semen kelas D digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 12.000 ft, dan untuk kondisi
sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia juga dalam jenis
moderate dan high sulfate resistant

Kelas E
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 14.000 ft, dan untuk kondisi
sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia juga dalam jenis
moderate dan high sulfate resistant
Kelas F
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 10.000 ft sampai 16.000 ft, dan untuk
kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia dalam
jenis high sulfate resistant.
Kelas G
Semen kelas G digunakan dari kedalaman 0 sampai 8.000 ft, dan merupakan semen dasar.
Bila ditambahkan retarder semen ini dapat dipakai untuk sumur