Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sekian banyak permasalahan pada perempuan, salah satunya

kekerasan

terhadap perempuan menjadi sorotan penting, karena kasus kekerasan ini terjadi
secara berulang dan ada setiap tahunnya. Kekerasan merupakan cerminan adanya
dominasi relasi yang tidak setara dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam kehidupan
sehari-hari perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut dan budaya
patriarki yang masih sangat kuat di dalam masyarakat bahwa laki-laki itu suporior
atau kuat sedangkan perempuan itu hanya suborninat atau lemah. Rueda (2007)
menyatakan bahwa patriarki adalah penindasan terhadap perempuan. Kultur patriarki
ini secara turun-temurun membentuk perbedaan perilaku, status dan orientasi laki-laki
dan perempuan di masyarakat yang kemudian menjadi hirarki gender.
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan
jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik,
seksual atau psikologis,

termasuk ancaman tindakan tertentu. Pemaksaan atau

perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ranah publik


atau dalam kehidupan pribadi (Dekralasi anti kekerasan terhadap perempuan, pasal 1
dalam komnas Perempuan). Dari berbagai macam isu tentang kekerasan, kekerasan
dalam pacaran atau Dating Violence seringkali masih terdengar asing ditelinga kita,
banyak diantara kita yang belum menyadari fenomena kekerasan dalam pacaran,
karena kekerasan dalam pacaran belum begitu mendapat perhatian jika dibandingkan
dengan kekerasan dalam rumah tangga sehingga terkadang masih terabaikan oleh
korban dan pelakunya. Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah
mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang
penuh dengan hal-hal yang indah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002), pacar adalah
kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan
cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan
atau berkasih-kasihan dengan sang pacar.
1
Hal yang menjadi motif untuk berpacaran adalah proses interaksi personal antara dua
jenis kelamin, trend status sosial, tempat untuk mencurahkan isi hati, mencari sosok
pelindung, dan memilih pasangan hidup.

Pada dasarnya hubungan pacaran merupakan proses dua lawan jenis untuk
mengenal, memahami, dan belajar membina hubungan sebagai persiapan sebelum
menikah. Sehingga dapat menghindari ketidakcocokkan dan permasalahan pada saat
setelah menikah. Masing-masing berusaha untuk mengenal kebiasaan, karakter atau
sifat, melatih individu dalam kepekaan, empati dan

kemampuan untuk

mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik, serta kemampuan untuk


mempertahankan komitmen.
Indahnya romantika pacaran sudah menghipnotis sehingga banyak yang tidak
menyadari bahwa dibalik indahnya pacaran, kalau tidak hati-hati justru akan terjebak
dalam situasi yang tidak menyenangkan atau bahkan akan menjadi cerita yang tidak
akan terlupakan seumur hidup. Ketertarikan pada lawan jenis merupakan hal yang
normal terjadi, sehingga banyak yang ingin mengetahui lebih jauh tentang
kepribadian pasangannya dengan menjalin hubungan yang berkomitmen antara kedua
belah pihak yaitu pacaran. Memang tidak semua pasangan yang menjalin hubungan
pacaran mengalami kekerasan dalam pacaran, tetapi dalam hubungan yang belum
resmi ini rentan mengalami konflik yang tidak diharapkan salah satunya yaitu
kekerasan dalam pacaran.
Kekerasan dalam pacaran atau Dating Vioence adalah tindakan kekerasan yang
belum terikat pernikahan yang mencakupi kekerasan fisik, psikologi dan ekonomi.
Pelaku yang melakukan kekerasan ini meliputi semua kekerasan yang dilakukan di
luar hubungan pernikahan yang sah yang tertuang dalam UU perkawinan No 1 tahun
1974 pasal 2 ayat 2 mencakup kekerasan yang dilakukan oleh mantan suami, mantan
pacar dan pasangan/pacar (Rifka Annisa, 2012).
Dalam relasi personal dimana pelaku dan korban berada dalam hubungan cinta
atau asmara. Laki-laki umumnya lebih dominan dari pada perempuan, mengingat
masyarakat kita yang umumnya masih terpengaruh patriarkisme. Menurut Tommy
Awuy (1999) kekuasaan ada ditangan laki-laki. Hal ini yang membuat laki-laki
menjadi mahluk yang aktif (subjek) sementara perempuan menjadi pasif (objek) dari
kekuasaan (subordinat). Selain itu Warkentin (2008) menyebutkan bahwa kekerasan
dalam pacaran adalah kekerasan psikologis dan fisik yang dilakukan oleh salah satu
pihak yang mana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan dan
kekuatan atas pasangannya. Semakin tinggi tingkat ketakutan perempuan maka
semakin besar pula peluang dominasi laki-laki sehingga semakin besar pula kekerasan
terhadap perempuan dalam hubungan pacaran akan terjadi. Dalam relasi pacaran yang

di dalamnya laki-laki mendapatkan posisi superior maka laki-laki merasa mempunyai


hak untuk mengontrol, maka dengan mudah laki-laki mengendalikan perempuan.
Kekerasan yang terjadi dalam relasi personal perempuan ini biasanya terjadi
dari beberapa jenis, misalnya serangan terhadap fisik, mental/psikis, ekonomi dan
seksual. Dalam segi fisik, kekerasan yang dilakukan seperti memukul, meninju,
menendang, menjabak, mencubit dan lain sebagainya. Sedangkan kekerasan terhadap
mental seseorang biasanya seperti cemburu yang berlebihan, pemaksaan, memakimaki di depan umum dan lain sebagainya. Kekerasan dalam pacaran berkaitan erat
dengan kesahatan baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang meliputi
perubahan fisik, gangguan pencernaan, sindroma nyeri kronik, dan perilaku depresi
atau ancaman bunuh diri.
Kekerasan apapun bentuknya adalah suatu hal yang akan mengakar dan akan
terjadi berulang. Sebenarnya kekerasan ini tidak hanya dialami oleh perempuan, lakilaki pun ada yang mengalami kekerasan yang dilakukan pasangannya. Menurut Taylor
(2009), laki-laki mendominasi peran kekerasan dalam pacaran yang berujung pada
konflik, dimana perempuan sering menjadi korban. Sikap menyesal dan permintaan
maaf yang dilakukan pelaku adalah fase reda dari suatu siklus. Biasanya di fase ini,
pelaku akan tampak tenang, seolah-olah telah berubah dan kembali bersikap baik. Jika
pada suatu saat timbul konflik yang menyulut emosi pelaku, maka kekerasan akan
terjadi lagi.
Secara umum dampak dari kekerasan dalam pacaran sangat banyak, seperti
kekerasan fisik yaitu luka fisik dari kekerasan yang dilakukan pasangan bisa meliputi
luka ringan hingga berat. Kekerasan psikis yaitu perasaan cemas, murung, prestasi
menurun, gangguan pola makan hingga depresi bahkan melakukan tindakan yang
menyakiti dirinya sendiri atau bunuh diri. Untuk kasus kekerasan seksual (pemaksaan
hubungan seksual) implikasi bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan
yang berujung pada tindakan aborsi yang tidak aman. Aborsi dilakukan karena
kehamilan dianggap menyebabkan masalah sosial seperti dikucilkan oleh keluarga,
teman dan masyarakat, serta harus menjadi orang tua tunggal jika pasangan tidak mau
bertanggung jawab.
Fenomena kekerasan dalam pacaran seperti fenomena gunung es yang tampak
di permukaan hanya sedikit dari sekian banyak kasus yang terjadi di masyarakat.
Data-data mengenai kekerasan dalam pacaran ternyata cukup mencengangkan. Di
Provinsi Bengkulu sendiri pengaduan korban ke lembaga yang menangani masalah
kekerasan dalam pacaran cukup banyak. Data persentasi dan jumlah pelaku kekerasan

terhadap perempuan dan anak menurut hubungan dengan korban di Provinsi


Bengkulu dari tahun 2010 sampai dengan 2015 dilihat dari kumpulan data dari Badan
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bengkulu (BPPPA) dan
Keluarga Berencana yang bersumber dari berbagai lembaga yang menangani kasus
kekerasan terhadap perempuan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat Cahaya
Perempuan Womens Crisis Center (WCC) dan RSUD.
Tabel 1.1 Data Persentasi dan Jumlah Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan
Anak Menurut Hubungan Dengan Korban Di Provinsi Bengkulu Tahun 2012 s/d
2015
No

Kategori

Jumlah Persentase Kasus Pertahun


2012
%
Jumla

Kasus

Orang Tua

11,3%

h
43

Keluarga

39,5%

151

Suami/Istr

i
Tetangga

23,5%

90

Pacar

25,7%

98

2013
%
Jumla
8,1%

h
53

18,9%

2014
%
jumla

2015
%
jumlah

6%

h
25

3,9%

11

124

13%

56

7,3%

21

26,5%

174

35%

150

33,8%

97

46,5%

305

46%

194

55%

158

Sumber: database BPP-KB kab/Kota Bengkulu


Berdasarkan data diatas dapat kita ketahui bahwa kekerasan terhadap
perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu pada tahun 2012 sampai dengan tahun
2015 yaitu dari sekian banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, persentase kasus
kekerasan dalam pacaran dapat dikatagorikan sebagai kasus yang banyak disetiap
tahunnya di Provinsi Bengkulu yaitu pada tahun 2012 sebanyak 25,7% ada 98 kasus,
tahun 2013 sebanyak 46,5% ada 305 kasus, tahun 2014 sebanyak 46% ada 194 kasus
dan pada tahun 2015 sebanyak 55% ada 158 kasus.

Tabel 1.2 Data Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Provinsi Bengkulu


Berdasarkan Jenis Kasus Periode Januari s/d Desember 2014 dan 2015
No
1

Kategori Kasus
Kekerasan Terhadap Istri

Jumlah Persentase Kasus Pertahun


2014
29

2015
51

Incest

Kekerasan Dalam Pacaran

Pelecehan Seksual

Percobaan Pemerkosaan

Pemerkosaan

Pencabulan

11

Perdagangan Perempuan

Penganyayaan Fisik

10

Penganyayaan Psikologi

11

KTA

12

Penelantaraan Ekonomi

12

55
Total
Sumber: WCC Cahaya Perempuan Bengkulu, 2015

94

Berdasarkan data diatas kasus yang ditangani Lembaga Swadaya Masyarakat


Cahaya Perempuan Womens Crisis Center (WCC) di Provinsi Bengkulu pada tahun
2014 dan tahun 2015 mengalami peningkatan. Kekerasan terhadap perempuan pada
tahun 2014 sebanyak 55 kasus diantaranya 4 kasus merupakan kekerasan dalam
pacaran. Pada tahun 2015 dari 94 kasus kekerasan terhadap perempuan ada 3 kasus
merupakan kekerasan dalam pacaran.
Dalam

hubungan

berpacaran

proses

komunikasi

yang

dilakukan

mempengaruhi kualitas hubungan tersebut. Di dalamnya terdapat komunikasi


interpersonal yang terjalin, karena komunikasi interpersonal adalah pusat dari
hubungan. Konteks interpersonal banyak membahas tentang bagaimana suatu
hubungan dimulai, bagaimana mempertahankan hubungan dan keretakan suatu
hubungan (Dainton dan Stafford, 2000). Komunikasi interpersonal adalah interaksi
antara dua orang, dua arah, verbal dan non verbal, saling berbagi informasi dan
perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil
(Febrina, 2008).
Efektifitas komunikasi interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang
dipertimbangkan yaitu keterbukaan (opennes), empati (empathy), sikap mendukung
(supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). De vito
(dalam Suciati, 2015). Dalam menjalin sebuah hubungan interpersonal, konflik adalah
salah satu hal yang sangat alamiah terjadi. Begitu juga dalam hubungan pacaran, hal
ini dikarenakan setiap manusia memiliki tujuan dan pendapat yang berbeda.

Dimana pengertian dari konflik itu sendiri adalah sebuah pertentangan yang
muncul antara individu-individu yang saling berhubungan. De vito (dalam Suciati,
2015). Setiap konflik interpersonal memiliki penyelesaian dengan cara memanage
konflik sesuai dengan karakter konflik. Komunikasi interpersonal mempunyai efek
yang berlainan pada hubungan interpersonal, karena konflik yang terjadi bukanlah
berapa kali komunikasi dilakukan tetapi bagaimana proses komunikasi itu dilakukan.
Apabila penyelesaian konflik tidak dilakukan dengan positif maka tidak menutup
kemungkinan kekerasan dalam pacaran akan terjadi.
Menurut De Vito (dalam Suciati, 2015) perbedaan antara laki-laki dan
perempuan dalam percintaan sangat besar. Perempuan dan laki-laki digambarkan
sangat berbeda saat bertemu, jatuh cinta dan mengakhiri hubungan. Perempuan
digambarkan bertindak cenderung sensitif dan emosional, sedangkan laki-laki adalah
logis. De vito (dalam Suciati, 2015) menjelaskan laki-laki lebih romantis dalam
percintaan dari pada perempuan, laki-laki mempunyai inisiatif lebih dulu dalam
mengungkapkan perasaan, laki-laki lebih suka menyentuh dan perempuan lebih suka
disentuh dan perempuan cenderung meminta maaf lebih dulu ketika ada konflik.
Wardhaugh (2006) mengemukakan klaim yang berkaitan dengan gender dan
variasi bahasa. Klaim yang pertama menyebutkan bahwa secara biologis laki-laki dan
perempuan berbeda. Perempuan biasanya memiliki karakter non-kompetitif dan
mementingkan hubungan/relasi, sedangkan laki-laki cenderung mengutamakan
kemandirian. Klaim kedua adalah bahwa organisasi sosial diasumsikan sebagai
hubungan kekuatan (power relationship).
Menurut Wardhaugh (2006) tingkah laku bahasa menunjukan dominasi lakilaki. Laki-laki menggunakan kekuatan untuk mendominasi. Laki-laki mencoba
mengambil kontrol, menginterupsi, memilah-milah topik. Mereka menggunakan hal
tersebut dalam hubungannya dengan sesama laki-laki maupun perempuan. Sebagai
konsekuensi, perempuan lebih teliti dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang
prestigious untuk menjaga dirinya dalam hubungannya dengan orang yang lebih kuat
karena perempuan relatif memiliki kekuatan yang lebih lemah daripada laki-laki dan
perempuan cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih dikit dari pada laki-laki,
akan tetapi perempuan memiliki sensitivitas lebih besar pada bentuk-bentuk bahasa.
Klaim ketiga adalah bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk sosial yang harus
belajar untuk bertindak dengan cara tertentu. Wardhaugh (2006) menjelaskan bahwa
tingkah laku bahasa dipelajari dari tingkah laku. Laki-laki belajar untuk menjadi laki-

laki dan perempuan belajar untuk menjadi perempuan yaitu berbicara secara
linguistik.
Dari hasil pra penelitian yang peneliti lakukan berdasarkan penuturan
informan, peneliti menarik kesimpulan bahwa dia adalah seorang perempuan yang
menjadi korban kekerasan dalam pacaran. Informan mengatakan:
aku sudah berpacaran sekitar 5 tahun, ya aku sangat tau gimana karakter
pacar aku apalagi kalo dia sedang marah. Selama pacaran aku gak boleh terlalu
dekat sama teman-teman cowok, apalagi yang gak dia sukai. Selama ini aku menuruti
keinginan dia untuk saling jaga perasaan masing-masing. Aku sayang sama dia,
hubungan kami sudah berkomitmen untuk menikah. Tapi tindakan dia semakin
menjadi-jadi, dia seolah sudah mempunyai aku seutuhnya. Kalo aku tidak menuruti
kehendak dia, dia malah mengancam untuk mengakhiri hubungan pacaran kami,
kalau dia sudah terbawa emosi aku sudah berapa kali ditampar, bahkan aku
diturunkan dijalan kalo lagi jalan sama dia. Sebenarnya aku sangat takut kalo dia
marah tapi disisi lain aku gak mau kehilangan dia (Bella, 2 Maret 2016).
Berdasarkan pra penelitian yang dilakukan, perempuan yang mengalami
kekerasan dalam pacaran ini awalnya cenderung menutupi bahwa ia telah mengalami
kekerasan oleh pacarnya. Si perempuan menganggap bahwa pacarnya telah
melakukan kekhilafan dan cenderung bertahan dengan hubungannya yang sebenarnya
sudah tidak sehat lagi. Sikap menyalahkan diri sendiri apabila sang pacar marah dan
beranggapan kalau sang pacar kasar kepadanya karena sayang kepada dirinya, akan
tetapi tindakan mengancam apabila kehendak sang pacar tidak dipenuhi terus
dilakukan secara berulang-ulang. Rasa takut kehilangan menyebabkan apapun yang
dikehendaki pasangan sebisa mungkin dapat dia penuhi dan patuhi, walaupun
terkadang sampai membahayakan diri si perempuan.
Pada umumnya orang berpendapat bahwa kekerasan dalam pacaran
merupakan urusan internal pada suatu hubungan seseorang. Jadi hal tersebut besifat
tabu apabila sampai ada campur tangan dari pihak di luar hubungan yang kemudian
ikut dalam masalah yang sedang terjadi pada hubungan tersebut. Akan tetapi banyak
yang tidak menyadari bahwa kekerasan secara verbal maupun secara non verbal
sangat banyak dampaknya.
Dari data yang telah dijabarkan menunjukan bahwa dari sekian banyak kasus
kekerasan terhadap perempuan, kasus kekerasan dalam pacaran tetap ada disetiap
tahunnya. Hal ini membuktikan bahwa fenomena kekerasan yang dilakukan oleh

pacar sudah menjadi permasalahan yang menarik untuk dicari tahu akar
permasalahan, bentuk kekerasan yang dialami, serta solusinya. Dalam penelitian ini
peneliti ingin melihat proses relasi interpersonal yang dijalin oleh laki-laki dan
perempuan yang berpacaran sehingga timbul kekerasan serta bagaimana mereka
memanage konflik yang terjadi. Kekerasan dalam pacaran bukan saja merupakan
masalah perempuan itu sendiri ataupun masalah bagi korban itu sendiri. Kekerasan
dalam pacaran merupakan masalah kita bersama yang tidak hanya dicarikan solusinya
pada satu orang saja.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan peneliti, maka telah
diterapkan rumusan masalah dalam penelitian, yaitu:

Bagaimana relasi interpersonal dalam hubungan pacaran yang


mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan di Kota Bengkulu?

1.3

Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui bagaimana relasi interpersonal dalam hubungan
pacaran yang mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan di Kota
Bengkulu

1.4

Manfaat Penelitan
1. Teori:
Kegunaan penelitian ini secara teoritis

yaitu diharapkan dapat

memberi sumbangan terhadap penelitian dan studi-studi yang berkaitan


dengan permasalahan kekerasan terhadap perempuan khususnya
kekerasan dalam pacaran.

2. Praktis:
Kegunaan penelitian ini secara praktis yaitu untuk memberikan
gambaran

umum

tentang

kekerasan

dalam

pacaran

sehingga

diharapkan dapat memberikan pemahaman dan empati atas kasus


kekerasan dalam pacaran di dalam masyarakat.