Anda di halaman 1dari 24

Kuliah Kerja Lapangan

di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah, Sawahlunto

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mata Kuliah
Kuliah Kerja Lapanan (TTA ) Pada Program Studi Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung

Oleh ;
KELOMPOK 2.1
1. Leo Kustian (10070113069)
2. Gita Ayu Puspita (10070113071)
3. Muhsabah Syarifah (10070113080)
4. Devi Anastasya Putri (10070113123)

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2015 M / 1437 H

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

: Kuliah Kerja Lapangan di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah,


Sawahlunto

Kelompok

: 2.1

Nama

: 1. Leo Kustian (10070113069)


2. Gita Ayu Puspita (10070113071)
3. Muhsabah Syarifah (10070113080)
4. Devi Anastasya Putri (10070113123)

Bandung, 15 Oktober 2015


Menyetujui,

...........................................................
Koordinator Kuliah Kerja Lapangan
Yuliadi, S.T., M.T
Mengetahui,

.
Ketua Program Studi Teknik Pertambangan
Sri Widayati S.T., M.T

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb,


Alhamdulillahirabbilalamin, Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah mencurahkan rahmat dan inayah Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan kegiatan kuliah kerja lapangan yang telah kami jalan pada
bulan Juni di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah Sawahlunto, Sumatera Barat.
Banyak hambatan yang kami terima dalam perjalanan menuju akhir pembuatan
laporan ini. Namun alangkah banyaknya nikmat yang diberi oleh Allah SWT sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Kami menyadari bahwa
laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik
Sang Pencipta.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk semua orang. Kami mengucapkan
banyak terimakasih dan mohon maaf jika terdapat kesalahan kata ataupun informasi
yang tercantum dalam laporan ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb,

Bandung, Oktober 2015

Kelompok 2.1

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR FOTO

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tambang bawah tanah merupakan suatu lokasi atau tempat penambangan yang

terletak dibawah permukaan bumi, untuk dapat bekerja di tambang bawah tanah perlu
diketahui hal hal yang bersangkutan dengan tambang bawah tanah seperti safety,
penyanggaan tambang bawah tanah, pembuatan lubang bor dan juga pembuatan
ventilasi tambang bawah tanah.
Untuk dapat membuat lubang bukaan dibawah tanah, diperlukan beberapa
persiapan seperti pengeboran. Pengeboran ini berfungsi untuk membuat lubang yang
kemudian dapat diledakkan hingga diperoleh lubang bukaan yang cukup besar untuk
dilakukan kegiatan penambangan didalamnya. Setelah dibuat lubang bukaan, maka
mulailah dipasangkan penyangga pada lubang bukaan agar lubang bukaan menjadi
lebih kokoh dan tidak mudah runtuk. Pembuatan penyangga ini mempertimbangkan
keseimbangan tegangan disekeliling terowongan sehingga memerlukan perhitungan
yang sangat mendetail.
Setelah melakukan penyanggaan pada terowongan, kemudian dilakukan
pemberian ventilasi pada tambang bawah tanah. Ventilasi ini merupakan sirkulasi
udara utama pada tambang bawah tanah sehingga harus dibuat dan dirancang sebaikbaiknya agar para pekerja di tambang bawah tanah dapat bekerja dengan aman dan
nyaman. Selain itu ventilasi juga perlu dikontrol secara rutin agar tidak membahayakan
kondisi lingkungan kerja di tambang bawah tanah.
Sebelum melakukan pekerjaan dibawah tanah juga perlu diketahui mengenai
keselamatan kerja dan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan di bawah tanah
oleh karena itu perlu dipelajari hal mengenai keselamatan kerja tambang bawah tanah.
Melalui diklat dib alai diklat tambang bawah ini mahasiswa dapat mempelajari simulasi
kondisi lapangan dari tambang bawah tanah sehingga diharapkan dapat memiliki ilmu
yang mencukupi untuk dapat bekerja di tambang bawah tanah.

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya diklat dib alai diklat tambang bawah tanah ini adalah untuk:

Mengetahui keamanan dan keselamatan kerja di tambang bawah tanah

Mengetahui sistem ventilasi tambang beserta pengukurannya

Mengetahui teknik pengeboran

Mengetahui cara pemasangan penyangga pada tambang bawah tanah

Mengetahui proses penambangan dan pengolahan baik di permukaan


maupun di bawah tanah

1.3 Metode Pengamatan


Metode pengamatan yang dilakukan selama kegiatan kuliah kerja lapang ini
dilakukan dengan melakukan praktik langsung pada lokasi yang telah disimulasikan
mirip dengan keadaan asli pada tambang bawah tanah seperti simulasi kegiatan
penyanggaan, simulasi perhitungan ventilasi pada tambang bawah tanah, simulasi
mine rescue dan juga kegiatan pembuatan lubang bor.
Simulasi penyanggaan, pengeboran dan mine rescue dilakukan dengan praktik
langsung di lokasi diklat, sementara untuk simulasi ventilasi dilakukan perhitungan
pada miniature tambang bawah tanah yang telah disediakan oleh balai diklat sehingga
diperoleh data yang kemudian diperiksa oleh instruktur diklat. Ada pula kegiatan
kunjungan ke tambang bawah tanah dan tambang permukaan untuk melihat kerja
sesungguhnya di dunia tambang baik tambang permukaan maupun tambang bawah
tanah.

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab I,dimuat latar belakang, tujuan, metode pengamatan, dan sistematika
penulisan laporan kuliah kerja lapang.
BAB II TINJAUAN UMUM
Pada bab ini dibahas mengenai faktor faktor yang berhubungan keadaan lokasi
kuliah kerja lapang, seperti ; (a) Lokasi dan Kesampaian Daerah; (b) Keadaan
Geografi; (c) Keadaan Iklim dan Cuaca; (d) Keadaan Topografi dan Morfologi; (e)
Keadaan Geologi; dan (f) Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya
BAB III KEGIATAN LAPANGAN

Dalam bab ini dijelaskan mengenai kegiatan kegiatan yang dilakukan selama
kuliah kerja lapangan seperti pengamatan dan cara atau tahapan pengukuran di
lapangan.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi tentang inti inti dari kegiatan lapangan.

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah


Kegiatan diklat tambang bawah tanah ini berlangsung di Balai Diklat Tambang
Bawah Tanah (BDTBT)

yang berlokasi di Jln. Soekarno Hatta, Sungai Durian II

Sawahlunto Barat, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat. Untuk menuju ke lokasi
pelatihan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan angkutan umum.
2.1.1 Lokasi
Sawahlunto adalah kota yang terletak di provinsi Sumatera Barat,
Indonesia. Kota ini terletak pada koordinat 1004159-1004960BT dan
03310-04833LS. Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 km yang terdiri dari
4 kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 54.000 jiwa. Pada zaman
Hindia-Belanda, kota Sawalunto dikenal sebagai kota tambang batu bara.
2.1.2 Kesampaian Daerah
Kota Sawahlunto terletak 95 km di sebelah timur laut kota Padang yang
dapat ditempuh sekitar + 1 jam dari kota Padang dengan menggunakan mobil.
(foto kesampaian daerah)

2.2 Keadaan Geografi


Kota Sawahlunto memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 250
meter sampai 650 meter di atas permukaan laut dan secara administratif berbatasan
dengan:

Kabupaten Tanah Datar di sebelah utara


Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung di sebelah timur

Kabupaten Solok di sebelah selatan dan barat


Kota Sawahlunto berada di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari

Bukit Barisan dengan luas wilayah 273,45 km yang sekitar 26,5% atau sekitar
72,47 km merupakan kawasan perbukitan yang ditutupi hutan lindung. Penggunaan

tanah yang dominan di kota ini adalah perkebunan sekitar 34%, dan danau yang
terbentuk dari bekas galian tambang batu bara sekitar 0,2%.

2.3 Keadaan Iklim dan Cuaca


2.3.1 Keadaan Iklim
Sama seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, kota Sawahlunto memiliki
iklim tropis dengan suhu 22,5 C - 27,5 C.
2.3.2 Keadaan Cuaca
Tingkat curah hujan kota Sawahlunto mencapai rata-rata 1.071,6 mm per
tahun dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember.

2.4 Topografi dan Morfologi


2.4.1 Topografi
Bagian utara kota ini memiliki topografi yang relatif datar, sementara itu
bagian timur dan selatan kota ini relatif lebih curam dengan persen lereng sekitari
40%.
2.4.2 Morfologi
Kota Sawahlunto memiliki bentang alam yang bervariasi, terdiri dari
perbukitan terjal, landai, dan dataran. Di Kota Lama (5,8km) terletak di plato
sempit yang dikelilingi perbukitan terjal. Sedangkan di Kecamatan Talawi,
terdapat kawasan datar yang relatif lebar yang terbentang dari utara ke selatan,
sementara di bagian utara memiliki morfologi bergelombang lemah dan relatif
datar.

2.5 Keadaan Geologi


Kota Sawahlunto terletak pada cekungan batuan yang terbentuk pada masa PraTersier Ombilin. Bentuknya berupa belah ketupat panjang dengan ujung yang bulat dan
memiliki lebar 22,5 km dengan panjang 47 km. Cekungan tersebut diperkirakan
memiliki kedalaman sampai 2km dan diisi oleh lapisan yang lebih muda, yang disebut
dengan formasi Brani, formasi Sangkarewang, formasi Sawahlunto, formasi Sawah
Tambang, dan formasi Ombilin. Formasi Ombilin tergolong lapisan paling muda yaitu
merupakan formasi batuan yang terbentuk pada jaman Tersier (lebih dari 2 juta tahun
yang lalu).

Kota Sawahlunto sendiri berdiri di atas formasi Sawahlunto, pada formasi ini,
batuan terbentuk pada jaman Eosen pada masa sekitar 4060 tahun yang lalu.
Menurut para ahli, wilayah sekitar kepulauan Nusantara yang dikenal saat ini terbentuk
sekitar 4 juta tahun yang lalu, sehingga diperkirakan ketika formasi Sawahlunto
terbentuk, Pulau Sumatera belum ada.
Di cekungan Ombilin telah ditambang batu bara sebanyak lebih kurang 30 juta
ton dan diperkirakan masih tersisa sekitar 132 juta ton. Lapisan tanah dan batuan tua
ini dapat menjadi beku atau keras sehingga sulit meloloskan atau menyimpan air
tanah. Kemungkinan air tanah hanya tersimpan di kulit bumi yang telah lapuk, berbeda
dengan formasi Sawahlunto. Tanahnya mengandung butiran pasir yang dapat
meloloskan air, tetapi dari gambar penampang geologi Ombilin, diduga air itu justru
lolos ke tempat lain.

2.6 Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya


2.6.1 Keadaan Sosial
Kota Sawahlunto merupakan kota multietnis yang terletak di Sumatera
Barat karena bukan hanya dihuni oleh beragam etnis dari nusantara namun juga
luar negeri. Hal inilah yang membedakan sejarah sosial kemasyarakatan
Sawahlunto dengan kota-kota lainnya di Sumatera Barat yang didominasi oleh
etnis suku bangsa Minangkabau. Di Kota Sawahlunto, selain etnis Minangkabau,
juga terdapat etnis Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Bugis-Makassar, Tionghoa, dan
bahkan bangsa Eropa terutama Belanda.
Berdasarkan data BPS Kota Sawahlunto tahun 2010, laju pertumbuhan
penduduk Kota Sawahlunto per tahun selama sepuluh tahun terakhir, yaitu dari
tahun 2000-2010, adalah sebesar 1,1%.
2.6.2 Keadaan Ekonomi
Penduduk

kota

Sawahlunto

memiliki

pekerjaan

yang

beragam.

Beradasarkan data BPS kota Sawahlunto tahun 2009 diketahui bahwa 24,52%
bergerak di bidang jasa, 19,25% di bidang pertanian dan 19,13% di sektor
perdagangan. Secara umum, perekonomian Kota Sawahlunto yang dahulunya
dihasilkan dari batubara, saat ini mulai bergeser ke industri jasa. Secara umum,
perkembangan perekonomian Sawahlunto mencapai angka 12.05%.

2.6.3 Keadaan Budaya


Adanya percampuran etnis di kota Sawahlunto tidak menghilangkan
keaslian budaya dari kota tersebut sehingga tidak mengherankan jika senibudaya berbagai etnis di Sawahlunto hidup dan berkembang dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Keragaman tersebut dapat dilihat pluralistiknya dalam
acara-acara besar seperti perayaan hari kemerdekaan nasional dan pekan
budaya Kota Sawahlunto. Bahkan di antara pelaku satu kesenian dengan
kesenian lainnya tidak harus selalu didukung oleh masyarakat pendukung utama
kebudayaan tersebut, akan tetapi juga terdapat etnis dari suku-suku bangsa lain.
Seperti contohnya pada pertunjukan kesenian kuda kepang yang aslinya
merupakan kebudayan Jawa, pada pertunjukan ini juga terdapat etnis Minang
atau China. Begitu juga dengan tabuik Pariaman, pada bagian-bagian tertentu
pemain musiknya adalah orang-orang beretnis Jawa dan etnis lainnya. Selain itu,
sebagian besar masyarakat masih menjunjung tinggi dan menjalankan nilai-nilai
dan norma-norma berdasarkan adat budaya Minang yang diturunkan dari leluhur
mereka.
Keunikan Kota Sawahlunto terkait kondisi sosial budayanya adalah
keberadaan Balairung (Balai Adat) yang merupakan tempat semua anggota
masyarakat

untuk

mediskusikan

dan

menyelesaikan

permasalahan-

permasalahan yang muncul di kalangan mereka. Balairung adalah bangunan


yang digunakan oleh para penghulu untuk mengadakan rapat tentang urusan
pemerintah nagari dan menyidangkan perkara atau pengadilan. Balairung ini
memiliki bentuk yang sama dengan rumah gadang, yaitu dibangun di atas tiang
dengan atap yang bergonjong-gonjong, tetapi kolongnya lebih rendah dari kolong
rumah gadang. Bangunannya tidak berdaun pintu dan berdaun jendela. Ada pula
balairung yang tidak memiliki dinding sehingga penghulu yang mengadakan rapat
dapat diikuti oleh masyarakat umum seluas-luasnya.

BAB III
KEGIATAN LAPANGAN

3.1 Ventilasi Tambang


Ventilasi didalam tambang sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan para pekerja
yang ada di dalam tambang. Fungsi dari ventilasi ini selain sebagai supplay oksigen ,
ventilasi ini juga berfungsi sebagai pembawa udara bersih dari permukaan dan
mengeluarkan sebagian gasgas yang beracun yang bisa membahayakan bagi para
pekerja tambang dibawahnya.
Didalam pelatihan itu sendiri para peserta diberikan kesempatan untuk mengenal
bagaimana ventilasi itu bekerja, bagaimana nantinya ventilasi tersebut dapat
digunakan sebaik mungkin sehingga manfaat dari ventilasi itu sendiri dapat terasa
manfaatnya bagi para pekerja di dalam tambang, dan bagaimana dampak buruknya
apabila terjadi sebuah kesalahan ataupun adanya penerapan sistem ventilasi yang
buruk yang dapat mengakibatkan timbulnya angka kecelakaan bahkan bisa
menyebabkan hilangnya nyawa para pekerja di dalamnya, dll.
Selama kegiatan pada pelatihan dan pendidikan pada ventilasi tambang bawah
tanah ini para peserta diperkenalkan dengan alatalat yang biasanya dipakai sebagai
alat untuk menunjang agar ventilasi udara dapat bekerja dengan maksimal. Alatalat
yang diperkenalkan yaitu diantaranya:

Anemometer
Anemometer ini berguna untuk menghitung kecepatan angin dari permukaan
yang masuk pada sistem ventilasi tambang tersebut. Didalam penggunaan
anemometer penggunaan metode yang benar dan tepat sangat diperlukan dalam
penggunaannya dengan tujuan nantinya dapat meminimalisir kesalahan data
yang mungkin terjadi.

Duct
Alat ini berfungsi sebagai saluran untuk mengalirkan udara baik itu secara
mekanis maupun udara yang tebentuk secara alami yang berasal dari
permukaan.

Fan

Penggunaan alat ini sebenarnya hanya membantu untuk memaksimalkan


pengaliran udara, karena udara yang diambil secara alamiah belum tentu
memenuhi persyaratan ataupun bisa saja udara yang diambil dari permukaan
tersebut tidak sampai ke dalam tambang dan tidak bisa dinikmati oleh para
pekerja. Untuk memaksimalkan dan agar tidak terjadi suatu kecelakaan di dalam
tambang alat mekanis seperti fan ini sangat dibutuhkan sekali.

Pitot tube
Alat ini berguna sebagai alat untuk menghitung tekanan aliran udara yang masuk
ke ventilasi tambang.

Smoke tube
Berbeda dengan pitot tube alat ini berfungsi sebagai alat untuk mengetahui arah
angin yang mengalir. Untukmengetahui arah angin yang masuk kedalam ventilasi
ini parameter yang digunakan yaitu pada asap yang dikeluarkan pada tabung
tersebut.
(Foto Kegiatan)
Pengukuran ventilasi ini dilakukan pada beberapa lokasi, hasil pengukuran
dikembalikan kepada balai diklat. Hasil pengukuran suhu dan kelembaban
ventilasi di plot kedalam grafik seperti pada Foto 3.3.

Sumber: Div. Dokumentasi KKL 2015

Foto 3.2
Contoh Perhitungan Ventilasi Udara Tambang

Sumber: Div. Dokumentasi KKL 2015

Foto 3.3
Pengeplottan Hasil Pengukuran Temperatur

3.2 Penyanggan Tambang


Penyanggaan pada tambang bawah tanah sangat diperlukan sekali sebagai
penopang atau sebagai penyangga agar kemungkinan batuan yang ada di dalam
tambang bawah tanah tersebut tidak runtuh dan meminimalisir kecelakaan kerja yang
akan mungkin terjadi. Dan berbagai metode yang digunakan adalah metode yang
sesuai dengan kondisi baik itu kondisi dari tambang itu sendiri maupun keadaan
ekonomi yang ada pada perusahaan tersebut.
Pada kegiatan ini para peserta dikenalkan berbagai macam metode dalam
penyanggaan yang diterapkan pada tambang bawah tanah. Bahkan para peserta juga
dapat melihat metode penyanggaan dengan menggunakan miniatur scenario
gambaran dari sebuah tambang bawah tanah yang menggunakan metodemetode
penyanggaan.
Pada umumnya jenis penyanggaan ini terbagi menjadi dua, ada yang pasif dan
ada juga yang aktif. Penyangga pasif merupakan penyangga yang nantinya dapat
memberikan reaksi tidak langsung hanya sebagai penahan batuan tersebut sedangkan
yang aktif yaitu bersifat mempunyai reaksi langsung untuk memperkuat batuan
tersebut. Penyangga pasif ini biasanya menggunakan bahan yang terbuat dari kayu
yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menahan beban dari batuan tersebut.
Sedangkan penyangga aktif berupa rock bolt dimana dengan metode ini nantinya akan
memberikan efek pada massa batuan itu sendiri.
Selanjutnya pada tambang bawah tanah yang memiliki metode long wall
penyanggaan yang digunakan dan diperkenalkan pada peserta yaitu Hidraulic Props
yang berbentuk seperti tiang untuk penyangga yang pada umumnya memiliki sistem
hidraulik yang biasanya pemakaiannya hanya sebagai penyangga sementara.
Penggunaan alat ini seperti yang sudah dijelaskan yaitu hanya penyangga yang

bersifat sementara biasanya untuk menggantikan penyangga yang lama dengan


penyangga yang baru.
Berbicara tentang metode dalam penambangan batubara pada tambang bawah
tanah, metode yang banyakdigunakan yaitu metode long wall. Selain metode long wall
juga dapat digunakan berbagai macam metode seperti room and pillar, square set, dll.
Penggunaan metode penambangan dengan sistemlong wall ini paling produktif dan
juga paling aman sehingga banyak perusahaan yang menggunakan sistem long wall
ini. Metode penambangan bawah tanah juga harus dikondisikan baik itu dari sisi
keuntungan dan kerugian yang nantinya akan dialami perusahaan tersebut.

3.3 Pengeboran
Hari ke dua, dilanjutkan dengan kegiatan pengeboran. Alat bor yang digunakan
adalah jenis jackleg atau jackdrill, yaitu jackhammer yang dilengkapi dengan
penyangga silinder pneumatik. Penyangga tersebut memiliki fungsi yaitu sebagai
penahan berat alat dan juga sebagai pemberi gaya feed pada saat memberi ke arah
horizontal atau ke atas. Sebelum melakukan pengeboran, alat bor tersebut harus
dioperasikan terlebih dahulu. Setelah alat siap baru kegiatan pengeboran dilakukan.
Terdapat dua jenis batuan yang dibor, yaitu batuan beku dan batuan sedimen. Kedua
batuan tersebut memiliki kekerasan yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi
kecepatan pengeborannya. Untuk batuan beku, akan lebih keras dari batuan sedimen
sehingga prosesnya lebih lama dibandingkan batuan sedimen.
Jackdrill atau jackleg dipilih karena alat bor tersebut relatif ringan dan bisa
dengan mudah dibawa ke lokasi kerja. Posisi pemboran juga bisa dilakukan bermacam
macam, mulai dari posisi rendah sampai dengan tinggi yaitu dengan cara mengatur
kaki alat bornya. Tekanan udara pada feed leg dapat mengatur kaki alat bor sehingga
dapat menyangga alat bor tersebut. Ketika batang bor menembus pada batuan
sedalam 125 mm sampai 150 mm atau kedalaman yang cukup untuk menggantung
batang bor, throttle di-off-kan dan matikan juga udara yang menuju feed leg, sehingga
posisi bisa berpindah. Jika saat proses pengeboran terdapat debu atau batuan kecil
yang menghalangi lubang untuk pengeboran, bisa dibersihkan dengan menggunakan

tuas yang dinamakan flashing. Tuas untuk flashing tersebut akan mengakibatkan
keluarnya angin dan air dari dalam alat bor yang nantinya akan membuat lubang
menjadi lebih bersih dari debu dan kerikil-kerikil sehingga kegiatan pengeboran pun
lebih efektif.

3.4 Mine Rescue


Pada hari keempat

kegiatan kuliah kerja lapangan (11/06/2015), dilakukan

pelatihan mengenai mine rescue. Pelatihan ini bertujuan agar mahasiswa yang
mengikuti diklat dapat meningkatkan kompetensi kerja dalam memahami pengertian
dan prinsip kerja alat batu pernapasan (SCBA), prosedur pemakaian serta
perawatannya.
Pelatihan mengenai mine rescue ini dilatar belakangi oleh kegiatan pada
tambang bawah tanah yang penuh resiko sangat tinggi, sehingga diperlukan usaha
untuk menghadapi keadaan tersebut, salah satunya dengan membentuk team rescue
(tim penyelamat) yang memiliki keterampilan penyelamatan korban kecelakaan. Salah
satu kelengkapan tim adalah SCBA (Self Contain Breathing Apparatus) yang
bermanfaat dalam aktivitas pernafasan pada saat penyelamatan korban.
SCBA yang digunakan adalah SCBA tipe PSS BG4, yang merupakan alat bantu
pernapasan dengan cara sirkulasi (tertutup) dengan prinsip oksigen yang dihirup
pengguna

merupakan

oksigen

yang

telah

dikeluarkan

sebelumnya

dengan

menghilangkan karbndioksida dan digabung dengan udara dari kantong pernapasan


dengan oksigen yang berasal dari tabung oksigen.
Pelatihan yang dilakukan berupa persiapan penggunaan alat dan tata cara
penggunaan alat SCBA yaitu sebagai berikut:
3.4.1

Persiapan Penggunaan Alat


Persiapan penggunaan alat mine rescue meliputi:

Pembukaan penutup bagian belakang

Pemasangan tabung pembersih

Pemasangan dan penggantian baterai

Pemasangan penutup

Persiapan pendingin

Pemeriksaan sebelum pemakaian

Pengetesan kapasitas baterai

Tes/ pengecekkan kebocoran tekanan tinggi

Tes/ pengecekkan fungsi bodyguard

3.4.2Tata Cara Penggunaan Alat


Setelah alat bagian dalam terpasang dengan baik, maka mulai dilakukan
pemasangan alat pada tubuh, berikut adalah tahapannya:
1. Membuka sabuk pinggang, membuka sabuk bahu
2. Kemudian PSS BG4 diposisikan menghadap ke atas dengan

posisi

selang udara di atas penutup


3. Dalam posisi penunduk pegang bagian samping bawah PSS BG4
dengan posisi tangangan melewati sabuk bahu
4. Angkat alat melewati kepala dan posisikan selang udara ke arah muka,
dan sabuk dada terpasang di bahu
5. Tarik kearah bawah ujung sabuk dada hingga posisi PSS BG 4 terasa
nyaman di punggung
6. Kaitkan plat penguni sabut pinggang hingga terasa nyaman, sisa ujung
sabuk pengaman dimasukkan ke dalam pengikaat sabuk pinggang
7. Pengeekan posisi penguat
8. Kenakan masker, setelah itu buka tutup selang udara. Sambung dengan
konektor masker, dan buka kran udara
9. Pengecekan kesiapan penggunaan
10. Jika terjadi kesalahan (di deteksi dengan sensor gerak), maka
bodyguard akan memberikan peringatan berupa alarm atau nyala
lampu.
Kemudian dilakukan simulasi penggunaan alat SCBA di area balai diklat, dimana
pada simulasi ini tekanan oksigen yang ada sangat penting diperhatikan, pemakaian
alat harus segera dihentika apabila tekanan telah mencapai 10 bar. Setelah simulasi
selesai, alat SCBA dilepaskan sesuai dengan prosedur yang ada.

3.5 Kunjungan ke PT Bukit Asam


Kegiatan kunjungan dilakukan pada hari ke tiga. Kegiatan ini bertujuan agar
mahasiswa mengenali secara langsung lingkungan tambang, khususnya tambang
bawah tanah. Kunjungan ini menjelaskan tentang kegiatan saat berada di BDTBT.
Metoda penambangan di PT. Bukit Asam UPO ini menggunakan metoda tambang
bawah tanah room and pillar. Tipe penyanggan yang digunakannya diantaranya tipe

archies. Tipe penyanggaan archies tersebut yang menggunakan archies baja dengan
kombinasi wire mesh yang berupa kayu. Selain archies, ada juga tipe penyanggaan
yang lainnya, yaitu cribbing dan lain sebagainya.
PT. BA UPO mengelompokkan batubara menjadi 3, yaitu :

Seam A, dengan tebal 6 meter dan kalori 6200 6500

Seam B, dengan tebal 0,5 meter (untuk saat ini masih belum ditambang)

Seam C, dengan tebal 12 meter dan kalori 7200 7500.

3.6 Kunjungan ke PT Semen Padang


Pada hari kelima kegiatan kuliah kerja lapangan (12/06/2015), dilakukan
kunjungan ke PT Semen Padang yang merupakan perusahaan yang menambang batu
kapur dan silika untuk bahan pembuatan semen. Kunjungan ini bertujuan untuk
mengenali kondisi tambang terbuka yang sebenarnya. Pada saat kunjungan,
mahasiswa diperlihatkan alat pengolahan yang digunakan untuk mengkominusi hasil
tambang yang disesuaikan dengan sifat batuan yang ditambang.
Selain itu, mahasiswa dapat melihat langsung proses peledakan yang sedang
dilakukan (dengan jarak cukup jauh dari titik peledakan). Dimana metode peledakan
yang digunakan PT Semen Padang tersebut merupkan metode peledakan non elektrik
(nonel).

Sumber: Div. Dokumentasi KKL 2015

Foto 3.
Kunjungan ke PT Semen Padang

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan kuliah kerja lapang selama 5 hari diharapkan mahasiswa
mampu mengaplikasikannya pada pembelajaran dan praktik baik di kampus maupun di
lapangan nantinya. Untuk dapat membuka tambang bawah tanah diperlukan lubang
bor yang kemudian dapat digunakan untuk kegiatan peledakan untuk membuat
terowongan. Pembuatan lubang bor ini dilakukan dengan menggunakan kegiatan
pemboran dengan alat jack leg dengan mata bor tertentu. Setelah membuat lubang
bukaan dapat dibuat penyangga bagi tambang bawah tanah agar umur tambang
bawah tanah lebih lama dan lebih aman untuk bekerja di tambang bawah tanah. Bahan
penyangga yang digunakan dapat berupa kayu ataupun besi, bentuk penyanggaan
disesuaikan dengan bentuk terowongan dan kondisi batuan. Setelah diberikan
penyangga, maka dibutuhkan udara bersih bagi para pekerja dan alat yang digunakan
sehingga ditambahkan ventilasi udara yang telah diperhitungkan sebelumnya
mengenai kebutuhan udara masuk. Adanya ventilasi udara ini tidak hanya berfungsi
untuk memasukkan udara tetapi juga untuk mengencerkan gas beracun juga untuk
mengontrol keadaan udara dalam tambang seperti kelembaban, suhu, kecepatan
udara, dll. Setelah semua persiapan dianggap aman maka dapat mulai dilakukan kerja
pada tambang bawah tanah. Untuk melihat contoh pekerjaan tambang bawah tanah,
dilakukan kunjungan ke PT Bukit Asam sehingga mahasiswa dapat melihat sendiri
proses peledakan, penambangan serta pengangkutan yang dilakukan dalam stope
kerja. Untuk melihat pekerjaan yang dilakukan di tambang permukaan dilakukan
kunjungan ke PT Semen Padang sehingga diketahui cara pengolahan bahan galian
yang telah ditambang.

4.2 Saran
Seharusnya hasil dari perhitungan ventilasi yang telah dilakukan saat diklat
dibagikan kembali kepada mahasiswa sehingga dapat digunakan sebagai acuan pada
kegiatan kuliah di kampus. Kemudian untuk kegiatan penyanggan juga harus lebih

mendetail karena pembelajarannya kurang lama dan tidak membahas terlalu rinci
hubungan bentuk penyangga dengan kondisi terowongan dan batuan.

DAFTAR PUSTAKA

Aden.2013.Profil Sawahlunto. http://palantabudaya.blogspot.co.id. Diakses pada 10


Oktober 2015 Pukul 20.12 WIB.
Anonymous.2001.Kota

Sawahlunto.https://id.wikipedia.org.

Diakses

pada

10

Oktober 2015 Pukul 15.45 WIB.


Jordan.2012.Tambang Batubara Bawah Tanah. http://jordanmalindo-penambangan.blogspot.co.id. Diakses pada 10 Oktober 2015 Pukul 18.35 WIB