Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Air merupakan sumber daya alam yang paling penting yang
diperlukan untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup yang ada
di muka bumi ini. sumber-sumber air yang ada di permukaan bumi
berasal dari siklus hidrologi yang berlangsung secaara terus menerus.
Salah satu sumber air tersebut adalah air yang berasal dari hujan.
Hujan yang jatuh ke permukaan bumi, sebagian akan merembers ke
bawah permukaan tanah dan sebagian akan mengalir di permukaan
bumi sebagai aliran permukaan. Kelembaban, keadaan meteorologi
dan letak geografis adalah faktor-faktor yang memperngaruhi jumlah
hujan yang turun di suatu daerah.
Wilayah perumahan matani, merupakan bagian daerah penfui yang
secara geografis terletak m dari pemukaan laut. Kondisi sistem
jaringan drainase di Perumahan Matani keseluruhan dianggap tidak
memadahi, keadaan ini menyebabkan genangan air tidak tersalurkan
dengan baik sampai ke pembuangan terakhir.
Karena pentingnya fungsi drainase maka banyak penelitian
mengenai sistem drainase serta penemuan-penemuan baru untuk
pembuatan sistem drainase yang lebih baik dan ramah lingkungan.
Ada beberapa sistem ramah lingkungan anata lain sumur resapan, bak
resapan, dan biopori. Dalam tugas ini akan dilakukan perhitungan
drainase dengan teknologi biopori. Biopori merupakan ruang atau pori
dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, seperti
mikroorganisme tanah dan akar tanaman. Bentuk biopori menyerupai
liang (terowongan kecil) di dalam tanah. liang pori terbentuk oleh
adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, serta aktivitas
fauna tanah seperti cacing tanah, rayap, dan semut di dalam tanah.
Penerapan sistem drainase dengan teknologi biopori akan sangat
berpengaruh pada debit limpasan air pada saluran drainase, dimana
air yang mengalir pada saluran drainase akan berkurang karena
sebagian air yang mengalir akan meresap pada lubang biopori. Hal ini
akan membuat dimensi saluran drainase lebih kecil.

1.2

Perumusan masalah

Dari latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah :


a. Berapa besar debit limpasan yang terjadi pada sistem jaringan
drainase Perumahan Matani kala ulang 2 tahun dan 5 tahun
sebelum diterapkan teknologi biopori ?
b. Berapa besar debit limpasan yang terjadi pada sistem jaringan
drainase Perumahan Matani kala ulang 2 tahun dan 5 tahun setelah
diterapkan teknologi biopori ?

c. Berapa besar dimensi saluran yang akan direncanakan


Perumahan Matani setelah diterapkan teknoloogi biopori ?

di

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Drainase
Drainase awalnya timbul dari kemampuan manusia mengenai lembahlembah sungai yang mampu mendukung kebutuhan pokok hidupnya.
Kebutuhan pokok tersebut berupa ketersediaan air bsgi kebutuhan rumah
tangga , pertanian, petenakan, perikanan, transportasi dan kebutuhan
lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari terjadi buangan air dari penggunaan air
berlebih yang menggangu lingkungan. Berangkat dari kesadaran akan arti
kenyamann hidup sanggat tergantung pada kondisi lingkungan, maka
manusia mulai mengatur lingkungan . Untuk mewujudkan hal itu maka
salah satunya yaitu dengan perencanaan dan pembuatan sistem yang
baik.
2.1.1 Definisi Drainase
Drainanse didefinisikan sebagai prasarana yang berfungsi mengalirkan
air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan resapan buatan
(Depertemen PU).
Menurut H. Haasmar drainase diidentifikasikan seebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang
berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu.
Jadi drainase dapat diidentifikasikan sebagainusaha mengalirkan air
permukaan yang berlebih melalui sarana yang berfungsi megalirkan air ke
badan air atau tempat pembuangan akhir air.
2.1.2 Jenis Saluran Drainase
Ada beberapa jenis saluran drainase yang dapat dibagi menjadi :
1. Menurut Sejarah Terbentuknya
A. Drainase Alamiah (Natural drainage)
Drainase yang terbentuk secara alami dan tidak terdapat
bangunan-bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah
(Spillway), pasangan batu/beton, gorong-gorong dan lain-lain.
Saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena

grafitasi yang lambat laun membentuk jalan air yang permanen


seperti sungai.
B. Drainase Buatan (Africal Drainage)
Drainase yang di buat dengan maksud dan tujuan tartantu
sehingga memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti
selokan pasangan batu/beton, gorong-gorong, pipa-pipa dan
sebagainya.

2. Menurut Letak Bangunan


A. Drainase Permukaan tanah (surface Drainage)
Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang
berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya
merupakan analisa open chanel flow.
B. Drainase Bawah Permukaan Tanah (Subsurface Drainage)
Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan
permukaaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipapipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu.
3. Menurut Fungsi
A. Single Purpose
Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan,
misalnya air hujan saja atau jenis air buangan yang lain seperti
limbah domestik, air limbah industri dan lain-lain
B. Multi purpose
Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air
buangan baik secara bercampur maupun secara bergantian.
4. Menurut Konstruksi
A. Saluran Terbuka
Yaitu saluran yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang
terletak di daerah yang mempunyai luasan yang cukup, ataupun
untuk drainase air non-hujan yang tidak membahayakan
kesehatan/mengaggu lingkungan.
B. Saluran Tertutup
Yaitu saluran yang umumnya sering dipakai untuk aliran kotor (Air
yang menggangu kesehatan/linhkungan) atau untuk saluran yang
terleta di tengah kota.
5. Menurut Segi Fisik (hirarki Susunan Saluran)
A. Saluran Primer
Saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai. Saluran
primer adalah saluran utama yang menerima aliran dari saluran
sekunder.
B. Saluran sekunder
Saluran yang mengubungkan saluran tersier dengan saluran
primer (Dibangun dengan beton/plesteran beton.
C. Saluran Tersier

Saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran


sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
D. Saluran Kwarter
Saluran kolektor jaringan drainase lokal.

2.1.3 Pola Jaringan Drainase


Menurut Halim Hasmar (2012) tata letak saluran di bagi atas enam
macam yaitu :
1. Pola Alamiah
Letak siluran utama ad di bagian terendah yang berfungsi sebagai
pengumpul dari saluran cabang.
Saluran Cabang
Saluran Cabang

Saluran Cabang

Saluran Utama
Saluran Cabang
Saluran Cabang
Gambar 2.1 Pola Jaringan Drainase Bentuk Lamiah
2. Pola Siku
Saluran utama terletak di lembah dan di buat tegak lurus dengan
saluran cabang.

Saluran Cabang
Saluran Cabang

Saluran Cabang

Saluran Utama
Saluran Cabang
Cabang
3. Pola paralel

Saluran

Saluran cabang yang menampung debit dari sungai-sungai yang


lebih kecil, di buat seajar satu sama lain dan kemudian masuk ke
saluran utama.

saluran Cabang

Saluran

Saluran Cabang
Gambar 2.3 pola jaringan drainase bentuk paralel
4. Pola Grid Iron
Beberapa saluran pengumpul di buat sejajar satu sama lain,
kemudian di tampungdi saluran cabang untuk selanjutnya masuk ke
saluran utama.
Saluran

Saluran cabang

Saluran
Gambar 2.4 Pola jaringan drainase bentuk Grid Iron
5. Pla Radial
Suatu daerah genangan dikeringkan melalui beberapa saluran
cabang dari satu titik menyebar ke segala arah (sesuai daerah
topografi)

Gambar 2.5 Pola jaringan drainase bentuk Radial

6. Pola Jaring-Jaring
Untuk mencegah pembebebanan saluran aliran dari suatu daerah
terhadap daerah lainnya, maka di buatbeberapa saluran pengumpul
yanng kemudian di tampung kesaluran cabang, selanjutnya menuju
saluran utama.
Saluran pengumpul
Saluran Cabang

Saluran pengumpul
Saluran cabang

Saluran utama
Saluran pengumpul
Saluran Cabang
Gambar 2.6 pola jaringan drainase bentuk jaring-jaring
2.1.4 perencanaan sistim drainase
Langkah yang perlu diperhatikan adalah mengetahui secara pasti
dan rinci penyebab terjadinya genangan. Berdasarkan kondisi saat
ini dan data genangan, dapat disusun usaha-usaha pemakaian
drainase yang memungkinkan yang dapat dipilih dari beberapa
alternatif berikut :
1. Penurunan debit dengan pembuatan resapan air dan daerah
simpanan air di daerah hulu dan tengah
2. Pembuatan saluran tambahan untuk mengurangi daerah
tangkapan

3. Perbaikan atau normalisasi saluran drainase


4. Pembuatan pintu klep untuk mengatasi air tinggi di saluran
drainase
5. Pengurungan daerah-daerah rendah
6. Pembuatan stasin pompa dalam kolam penampungan
Dari berberapa alternatif penyelesaian diartas, dapat dipilih satu
atau lebih alternatif yang sesuai dengan kondisi setempat.
2.1.5 survey dan investigasi yang diperlukan
Kondisi lokasi sistemdrainase yang ada saat ini harus diketahui
secara detail untuk perencanaan sistem drainase. Survey dan
investigasi yang diperlukan meliputi :
1. Topografi
Informasi umum pada lokasi harus diketahui secara rinci. Informasi
yang diperlukan meliputi :
a. Lokasi sistem drainase
b. Elevasi permukaan tanah
c. Batas-batas administrasi
2. Iklim dan hidrologi
Kondisi lokasi sitem drainase dipelajari berdasarkancatatan data
yang lalu. Data meteorologi, seperti suhu udara, kelembaban relatif,
penyinaran matahari, kecepatan angin, evaporasi, dll dapat
dikumpulkan dari beberapa yang ada di sekitar lokasi.
Data hidrologi yang diperlukan meliputi :
a. Data aliran
b. Data hujan
c. Data sedimen dan kualitas air
d. Data pasang surut
3. Daerah genangan
Daerah genangan banjir yang terjadi pada masa lalu sangat penting
artinya dalam merumuskan sistem drainase. Data genangan ini
meliputi :
a. Tinggi muka air maksimum dan kedalaman genangan
b. Luas dan persebaran daerah genangan
c. Lamanya genangan
d. Sumber air dan arah aliran air
e. Frekuensi terjadinya genangan air
f. Penyebab terjadinya genangan air
4. Tata guna lahan dan rencana penggunaan masa mendatang
Tata guna lahan merupakan peta yang dapat menggambarkan
tentang pola penggunaan lahan di daerah rencana. Informasi
tersebut diperlukan untuk menentukan lingkup sistemdrainase yang
diperlukan dan untuk merencanakan drainase yang tingkatnya
sesuai dengan kategori tata guna lahan dari daerah yang
bersangkutan. Perencanaan dan pembuatan sistem drainase, harus
meliputi kondisi tata guna lahan serta harus sejalan dengan
penggunaan lahan di masa mendatang.

2.2 Hidrologi
2.2.1 Analisis curah hujan
Analisis curah hujan adalah suatu analisis terhadap data hujan
yang telah dikumpulkan dari po-pos pencatat curah hujan dengan
;lama pengamatan minimum 10 tahun. Hal ini diperlukan untuk
mengetahui besarnya hujan rencana dengan kala ulang tertentu.
Hasil dari analisis curah hujan ini digunakan untuk menentukan
besarnya debit banjir rencana dengan kala ulang yang ditinjau pada
analisis ini adalah : 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 25 tahun,
50 tahun, 100 tahun.

1. Cara rasio normal


Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakaran hujan
mempunyai pengaruh yang setara. Cara ini cocok untuk kawasan
dengan topografi rata atau datar. Secara matematis dapat
dirumuskan (suripin,2004:27) :
...........................................................................
......(2.1)
Dimana :
R
= curah hujan dari stasiun yang dcari (mm)
n
= jumlah stasiun referensi
R1,R2....Rn =curah hujan stasiun referensi (mm)
2. Cara poligon Thiessen
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa variasi hujan antara pos
yang satu dan pos lainnya adalah linear dan bahwa sembarang pos
sianggap dapat mewakili kawasan terdekat. Secara matematis
dapat ditulis dengan rumus (suripin,2004:28) :
3. Cara isohet
Metode ini memperhitungkan secara aktual pengaruh tiap-tiap pos
penakaran hujan atau denga menganggap bahwa tiap-tiap pos
penakaran hujan mencatat kedalaman yang sama untuk di daerah
sekitarntya dapat dikoreksi. Secara matematis dapat ditulis dengan
rumus (suripin,2004:30) :
2.2.2 Analisa Frekuensi Data Hujan
Frekuensi data hujan adalah besarnya kemungkinan suatu
besaran hujan di samai atau dilampaui. Tujuan analisi frekuensi data
hidologi adalah berkaitan dengan kejadian-kejadian ekstrim yang
berkaitan degan frekuensi kejadiannya melalui penerapan distribusi
kemungkinan. Data hidrologi yang dianalisis diasumsikan tidak

bergantung dan tidak terdistribusi secara acak dan bersifat


stokastik.
Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan yang diperoleh pospos penakaran hujan, baik manual maupun yang otomatis. Analisis
frekuensi ini didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah
lalu untuk memperoleh probabilitas besaran hujan di mkasa yang
akan datang.
2.3 Limpasam
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan dapat
dikelompokan menjadi 2, (Suripin,2004;74) yaitu :
1. Elemen meteorologi
a. Jenis presipitasi tergantung pada jenis presipitasi yakni hujan
atau salju.
b. Intensitasa curah hujan yang berpengaruh pada debit maupun
volume limpasan.
c. Lamanya curah hujan total limpasan dari suatu hujan berkaitan
langsugn dengan durasi hujan dengan intensitas tertentu.
d. Distribusi curah hujan dalam daerah pengaliran
Laju dan volume limpasan dipengaruhi oleh distribusi dan
intensitas hujan di seluruh daerah tangkapan. Umumnya laju dan
volume limpasan maksimum terjadi jika seluruh daerah
tangkapan telah memberikan kontribusi aliran. Namun demikian
hujan dengan intensitas tinggi pada sebagian daerah tangkapan
dapat menghasilkan limpasan yang lebih besar dibandingkan
dengan hujan biasa yang meliputi seluruh daerah.
2. Elemen daerah pengaliran
a. Kondisi penggunaanlahan atau tanah
Dinyatakan dalam koefisien aliran permukaan (C) yaitu bilangan
yang menunjukkan besarnya aliran permukaan dan besarnya
aliran permukaan. Koefisien ini juga merupakan salah satu
indikator untuk menentukan kondisi fisik suatu daerah
b. Daerah pengaliran (semakin besar daerah pengaliran, semakin
lama limpasan itu mencapai titik pengamatan)
c. Jenis tanah
d. Kondisi topografi
Rupa muka bumi atau topografi seperti kemiringan lahan,
keadaan dan kerapatan parit atau saluran dan bentuk-bentuk
cekungan lainnya yang mempunyai pengaruh pada laju dan
volum aliran permukaan.
2.4

Teknologi Biopri

2.4.1 definisi tekniologi biopori

Biopori merupakan ruang atau pori dalam tanah yang


dibentuk oleh makhluk hidup, seperti mikroorganisme tanah dan
akar tanaman. Bentuk biopori menyerupai liang kecil dan
bercabang-cabang, sangat efektif menyerap air kedalam tanah.
teknologi biopori salah satu teknologi yang mengadopsi konsep
biopori. Secara umum tujuan utama dibuatnya lubang resapan
biopori adalah untuk mencegah adanya genagan air. Kehadiran
lubang reasapan biopori secra langsung menambah bidang
resapan air, setidaknya sebesar luas kolom atau dinding lubang.
Melihat fungsi utama biopori sebagai alternatif pencegahan
genangan air, maka tempat yang dianjurkan untuk pemasangan
biopori adalah di saluran pembuangan air hujan sekeliling pohon,
kontur taman, pada sisi pagar, dan tempat lain yang dianggap
sesuai.
Konsep dasar teknologi biopori pada hakekeatnya sama
dengan sumur resapan. Konsep dasar sumur resapan pada
hakekatnya adalah memberikan kesempatan pada air hujan yang
jatuh ke atap atau lahan yang kedap air untuk meresap ke dalam
tanah dengan cara menampung air tersebut pada suatu sistem
resapan (Suripin,2003;299).

2.4.2 struktur lubang resapan biopori


lubang resapan biopori (LRB) ini dengan membuat suatu
lubang yang digali secara vertikal dengan diameter 10 cm dan
kedalaman kurang lebih 1 meter. Penggalian lubang resapan
biopori ini dapat dilakukan dengan menggunakan bor biopori
yang bertujuan khusus untuk membuat LRB yang seragam. Bor
biopori setipe dengan alat bor tangan untuk mengambil sampel
tanah secara manual untuk pengujian laboraturium, dengan
diameter 10-20 cm dan panjang tongkat gali 1-2 m apat
menggali tanah pada kedalaman rencana.
Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan
menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom
atau dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan
diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan
akan bertambah sebanyaki 3140 cm2 atau hampir 1/3 m2
dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran
dengan diameter 10 cm, yang semulamempunyai bidang
resapan 78,5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan
kedalaman 100 cm luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2.
2.4.3 perencanaan lubang resapan biopori
perencanaan luubang resapan biopori sebagian besar sama
dengan sumur resapan yang mana berdasarkan konsep tersebut,
maka ukuran atau dimensi lubang resapan biopori yang

diperlukan untuk suatu lahan atau kapling sangat bergantung


dari beberapa faktor antara lain (Suripin,2003;299) :
a. karateristik hujan meliputi intensitas hujan, lama hujan,
selang waktu hujan, makin lama berlangsungnya hujan
memerlukan volume resapan yang semakin besar.
Sementara selang waktu hujan yang besar dapat
mengurangi volume parit yang diperlukan
b. koefisien permeabilitas tanah, yaitu kemampuan tanah
dalam melewatkan air per saatuan waktu. Tanah berpasir
mempunyai koefisien permeabilitas lebih tinggi
dibandingkan tanah berlempung. Nilai koefisien
permeabilitas tanah akan dipergunakan dalam perhitungan
kecepatan dan debit air yang melalui lubang resapan
biopori.
Kecepaatan aliran
Kecepatan aliran dihitung dengan persamaan :
V
=K*I..................................................................................
.....(2.18)
Dimana :
V = kecepatan aliran (m/dtk)
K = koefisien permeabilitas tanah
I = gradien hidrolik (h/L)
Debit aliran
Debit aliran dihitung dengan persamaan :
Qr =
V*Ar..............................................................................
....(2.19)

2.5

Dimana :
Qr = debit aliran (m3/dtk)
V = kecepatan aliran (m/dtk)
Ar = luas tampang tanah yang dialiri air (m2)
c. Tinggi muka air tanah
Pada kondisi muka air tanah yang dalam, parit resapan
perlu dibuat secara besar-besaran karena tanah benarbenar memerlukan pengisian air melalui lubang resapan
biopori.
Analisa Debit Rencana
Debit rencana adalah debit dengan periode ulang tertentu (T)
yang diperkirakan akan melaui suatu sungai atau bangunan air.
Periode ulang adalah waktu hipotik dimana suatu kejadian
dengan nilai tertentu akan disamai atau dilampaui dalam jangka
waktu hipotik tersebut (kamiana,2011;7).
Analisa debit banjir rencana dengan metode rasional biasanya
dipergunakan pada data hidrologi yang kurang lengkap diman

dengan ketidaklengkapan data ini didekati dengan persamaan


tersebut. Rumus ini banyak digunakan untuk sungai-sungai biasa
dengan daerah pengaliran yang luas, dan juga untuk
perencanaan drainase daerah yang relatif sempit, bentuk umum
dari perhitungan dengan metode rasional adalah sebagai berikut
(Suripin,2004;79).
Qp = 0,002778 x C . I .
A.............................................................................(2.20)
Diamana :
Qp = debit banjir rencana (m3/dtk)
C = koefisien pengaliran atau limapasan
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas daerah pengaliran (ha)
Besaran-besaran atau nilai koefisien pengaliran (C) dapat
dilihat pada tabel 2.5 lampiran 5
1. Intensitas
Untuk menentukan intensitas curah hujan digunakan rumus
Dr. Mononobe yaitu (Suripin,2004;68).
I=
..........................................................................................
(2.21)
Dimana :
I = intesitas hujan selama konsentrasi Tc (mm/jam)
R24 = curah hujan maksimum dalam waktu 24 jam (mm)
Tc = waktu konsentrasi (jam)
2. Waktu konsentrasi
Waktu konsentrasi aliran adalah waktu yang dibutuhkan
untuk suatu hujan dihampir seluruh daerah tangkapan
untuk dapat mengalir sehingga seluruh aliran daerah
tangkapan mengalir pada suatu titik yang ditinjau atau
waktu yang dibutuhkan oleh air yang jatuh pada titik
terjauh dari titik yang ditinjau.
Untuk menghitung waktu waktu konsentrasi (Tc) dengan
rumus :
Tc = T1 +
T2..........................................................................................
(2.22)
Dimana :
Tc = waktu konsentrasi (menit)
T1 = waktu aliran masuk saluran (menit)
T2 = waktu aliran (menit)
Waktu aliran masuk saluran (Suripi, 2004:82) dihitung dengan
rumus :

...................................................................
........(2.23)
Dimana :
t1

= waktu aliran masuk saluran (menit)

L0

= Jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m)

nd

= Koefidien hambatan

= Kemiringan daerah pengliran

Waktu aliran dihitung dengan rumus


..............................................................................................
...............(2.24)
Dimana :
t2

= Waktu aliran (menit)

= Panjang saluran (m)

= Kecepatan rata rata air di selokan (m/det)

3. Koefisien Pengaliran
Koefisien pengliran adalah suatu faktor koreksi yang sangat
di pengaruhi oleh kondisi dan situasi daerah tangkapan
hujan seperti kemiringan, kondisi vegetasi dan lain lain.
Koefisien
pengaliran
(run
off)
dihitung
dengan
memperhatikan faktor iklim fisiografi yaitu dengan
menjumlahkan beberapa koefisien (C) : (Departement
Pekerjaan Umum, 2006:9).
..................................................................
........(2.25)
Dimana :
C
C1,C2,C3,...Cn
tipe kondisi

= Harga koefisien pengaliran


= Koefisien pengaliran yang sesuai dengan

permukaan
A1,A2,A3,...An
= Luas daerah pengliran yang sesuai
dengan tipe kondisi
permukaan batas
2.6Perhitungan Dimensi Saluran
Dimensi saluran yang akan dipilih adalah dimensi saluran
berpenampang ekonomis. Saluran bepenampang ekonomis adalah

saluran yang dapat melewatkan debit maksimum untuk


penampang basah, kekasaran dan kemiringan dasar tertentu.

luas

2.6.1 Jenis Saluran


Berikut diuraikan beberapa jenis saluran menurut pedoman
perencanaan drainase jalan departement pekerjaan umum yaitu :
a) Saluran bentuk segi empat
Menurut Kodoatie R. J (2005). Saluran drainase bentuk segi
empat tidak membutuhkan banyak ruang. Saluran ini
berfungsi untuk menampung dan mnyalurankan debit
limpasan yang besar
Gambar 2.12 Penampang bentuk segi empat
Sumber : Departement Pekerjaan Umum, 2006:19
Pada penampang melintang saluran segiempat dimensinya
dinyatakan sebagai berikut. (Suripin, 2003:149).
b
=
2
h ................................................................................................
........(2.26)
Dimana :
b

= Lebar saluran (m)

= Tinggi muka air rencana (m)

Jari jari hidrolis dihitung dengan rumus :

Dimana :
R

= Jari jari hidrolis (m)

= Tinggi muka air rencana (m)

Luas penampang basah dihitung dengan rumus :


A=b*h
Dimana :
A

= Luas penampang basah saluran (m2)

= Lebar saluran (m)

= Tinggi muka air rencana (m)

b) Saluran bentuk trapesium

Menurut Kodoatie R. J (2005). Saluran drainase bentuk


trapesium merupakan saluran drainase yang berfungsi untuk
menampung debit limpasan dalam skala besar. Bentuk
saluran ini dapat digunakan pada daerah yang masih tersedia
lahan
Gambar 2.13 Penampang bentuk trapesium
Sumber : Departement Pekerjaan Umum, 2006:19
Pada penampang melintang saluran trapesium dimensinya
dinyatakan sebagai berikut (Suripin, 2003:149).
A
=
(
b
+
mh
)
*
h ......................................................................................(2.29)
Dimana :
A

= Luas penampang basah saluran (m2)

= Lebar dasar saluran (m)

= Tinggi muka air rencana (m)

= Kemiringan talud = 1 : m

keliling basah saluran dihiutng dengan rumus :


.............................................................
......(2.30)
Dimana :
P

= Keliling basah saluran (m)

= Lebar dasar saluran (m)

= Tinggi muka air rencana (m)

= Kemiringan talud = 1 : m

Jari jari hidrolis dihitung dengan rumus :


...........................................................................................
..............(2.31)
R

= Jari jari hidrolis (m)

= Luas penampang basah saluran (m2)

= Keliling basah saluran (m)

c) Saluran bentuk lingkaran atau gorong gorong


Gorong gorong adalah saluran tertutup yang mengalirkan air
melewati jalan raya, jalur kreta api atau timbunan lainnya

(Suripin 2004). Hal hal yang perlu diperhatikan dalam


pembutan gorong gorong yaitu :
a. Ditempatkan melintang di jalan yang berfungsi untuk
menapung air dari saluran atau selokan samping dan
membuangnya.
b. Dibuat dengan tipe permanen dan harus cukup besar
untuk melewatkan debit air maksimum dari daerah
pengliran secara efisien.
c. Kemiringan gorong gorong 0.5% - 2% dengan
pertimbangan faktor faktor lain yang mengakibatkan
terjadinya pengendapan, erosi ditempat air masuk dan
pada bagian pengeluaran.
d. Jarakgorong gorong pada daerah datar maksimum 100
meter, di daerah pegunungan 2 kali lebih banyak.
e. Dimensi minimum gorong gorong dengan diameter 80
cm
Gambar 2.14 Penampang bentuk lingkaran
Sumber Departement Pekerjaan Umum, 2006:20
Pada penampang melintang dimnesi gorong gorong
dinyatakan sebgai berikut (Departement Pekerjaan Umum, :
18)
d
=
0.80
*
D ...............................................................................................
(2.32)
........................................................................
..........(2.33)
.................................................................................
............(2.34)
...............................................................................
...........(2.35)
..........................................................................................
..............(2.36)
Dimana :
d

= Tinggi selokan yang tergenang air (m)

D
(m)

= Garis tengah saluran atau selokan bentuk lingkaran

= Luas penampang basah (m2)

= Keliling basah (m)

= Jari jari lingkaran (m)


= Besarnya sudut dalam radian
= Jari jari hidrolis

Untuk gorong-gorong yang berbentuk metal


gelombang,
hanya di perhintungkan debit air dan penentuan penampang
basah disesuaikan dengan spesifikasi yang telah ditentukan.
d) Saluran setangah lingkaran
Dari semua bentuk tampang lintang yang ada, bentuk
setangah lingkaran mempunyai keliling basah terkecil untung
luas tampang tertentu. Jadi saluran dengan bentuk lingkaran
akan dapat melewatkan debit aliran lebih besar dari bentuk
aliran lain, untuk luas tampang basah, kemiringan dan
kekasaran diding yang sama.
Gambar 2.15 Penampang bentuk setengah lingkaran
Sumber : Triadmojo, 2003:121
Pada penampang melintang saluran stengah lingkaran
dimnesinya di nyatakan sebagai berikut : (Triadmojo,
2003:121).
.....................................................................................
.............(2.37)
........................................................................................
..............(2.38)
.........................................................................................
...............(2.39)
2.6.2 Kemiringan Tanah
Kemiringan tanah ditempat dibuatnya fasilitas saluran atau selokan
dan gorong gorong ditentukan dari hasil pengukuran dilapangan,
dihitung dengan rumus : Departement Pekerjaan Umum, 2006:14.

.....................................................................................
.............(2.40)
Dimana :
i
= Kemiringan tanah
h1
= Tinggi tanah dibagian tertinggi (m)
h2
= Tinggi tanah dibagian terendah (m)
L
= Jartak antara titik yang satu dengan titik yang lain (m)
Gambar 2.16 Kemiringan tanah
Sumber : Departement Pekerjaan Umum, 2006:14
2.6.3 Tinggi Jagaan
Tinggi jagaan berfungsi untuk mencegah kerusakan tanggul di
saluran dan meluapnya air keluar dari saluran. Menurut pedoman
drainase jalan (Departement Pekerjaan Umum, 2006:21). Tinggi
jagaan (W) untuk saluran berbentuk persegi dan trapesium yaitu :
...........................................................................................
...............(2.41)
Dimana :
W
= Tinggi jagaan (m)
h
= Kedalaman air yang tergenang (m)

Tinggi jagaan untuk gorong gorong yaitu :


.............................................................................................
................(2.42)
..................................................................................................
.................(2.43)
Dimana :
W
= Tinggi jagaan (m)
h
= Kedalaman air yang tergenang (m)

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada kawasan Perumahan Indah Matanai pada


blok tertentu yang terletak di jalan Adi Sucipto, Penfui. Perencanaan
jaringan drainase mencakup saluran pada bangunan-bangunan utama
(Rumah) dan saluran drainase jalan. Perumahan Indah Matani memiliki
luas sekitar 5,7 Ha dengan kondisi permukaan tanah bervariasi.
Dalam perncanaan ekstiting, debit air hujan akan dialirkan kedalam
tiga saluran pembuang antara lain :
a. Saluran air satu akan menerima debit air hujan dari saluran :
b. Saluran air satu akan menerima debit air hujan dari saluran :
c. Saluran air satu akan menerima debit air hujan dari saluran :
Detail penempatan saluran dan pola aliran air pada saluran dapat
dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 2.1 pola aliran dan pernecanaan saluran primer dan sekunder

3.2 Perhitungan curah hujan rencana


3.2.1 Perhitungan curah hujan harian rata-rata
Perhitungan data hujan maksimum rata-rata harus dilakukan
secara benar untuk analisis frekuensi data hujan. Cara yang
seharusnya ditempuh untuk mendapatkan hujan maksimum harian
rata-rata DAS adalah sebagai berikut (Suripin, 2004.59) :
a.
Tentukan hujan harian maksimum pada tahun tertentu di
salah satu pos
hujan.
b. Cari besarnya curah hujan pada tanggal-bulan-tahun yang
sama untuk pos hujan yang lain.
c. Hitung hujan DAS dengan salah satu cara yang dipilih (dalam
hal ini dipakai rata-rata aljabar)
d. Tentukan hujan maksimum hujan harian (seperti langkah a)
pada tahun yang sama untuk pos hujan yang lain.
e.
Ulangi langkah b dan c untuk setiap tahun.
Data curah hujan yang terkumpul adalah data curah hujan dari
tahun.......... dari 1 stasiun hujan yaitu stasiun hujan Lasiana. Dari
hasil rata-rata yang diperoleh (sesuai dengan jumlah pos hujan)
dipilih yang tertinggi tiap tahun. Data hujan yang terpelih setiap
tahun merupakan hujan maksimum harian DAS untuk tahun yang
bersangkutan.
Contoh perhitungan :
Tahun bla bla bla
R1 = (Stasiun Lasiana) =
N =1
Berdasarkan persamaan 2.1 diperoleh

Dari kedua hujan harian rata-rata (R) yang diperoleh, curah hujan
maksimum harian rata rata diambil nilai yang paling maksimum
yaitu pada tanggal ....-....-..... sebesar .....

Hasil perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.1


Tabel 2.1 Perhitungan hujan maksimum harian rata rata
3.2.2 Perhitungan Curah Hujan Maksimum Rencana Metode
Gumbel Tipe 1
Hujan maksimum rencana untuk menentukan debit banjir
rencana adalah curah hujan maksimum yang terjadi selama periode
pengamatan tertentu berdasarkan data hujan harian dari stasiun

hujan lasiana. Data hujan harian yang digunakan adalah data hujan
harian dengan periode pengamatan dengan tahun......... . Data
curah hujan tersebut kemudian dicari data curah hujan maksimum.
Perhitungan curah hujan maksimum rencana dengan metode
gumbel tipe 1 dapat dilihat pada urutan perhitungan di bawah ini :
a. Menghitung hujan maksimmum harian rerata daerah tahun..........
Curah hujan maksimum pada tahun...... yang terjadi pada stasiun
lasiana terjadi pada tanggal....
Hujan harian rata rata pada tanggal...... = ...........mmHujan
maksimum harian rata rata di ambil nilai maksimum yaitu,
...........mm
Rekapitulasi data hujan maksimum harian rata rata dapat di lihat
pada tabel 2.2
Tabel 2.2 Rekapitulasi hujan maksimum harian rata- rata
b. Perhitungan curah hujan rencana
- Menghitung curah hujan rerata daerah
Berdasarkan data pada tabel 2.2 di atas maka dapat dihitung
curah hujan rerata daerah sesuai dengan persamaan (2.5)

Tabel 2.3 Hasil perhitungan curah hujan maksimum rerata


daerah
-

Menghitung standar deviasi dari tabel 2.3 di peroleh jumlah data


(n) = ....
Maka dari persamaan (2.7) di dapat nilai standar deviasi

Menghitung nilai K
Dari tabel pada lampiran ..... di peroleh nilai yang dikehendaki,
misalnya untuk kala ulang 10 tahun dengan jumlah data 20 data
di dapat :
Yt =
Yn =
Sn =
Maka dari persamaan (2.6) diperoleh :
K = ( Yt Yn ) / Sn

K = (... - ....) / ......


K = ....
-

Menghitung nilai hujan rencana ( XT ) untuk kala ulang yang


dikehendaki, untuk kala ulang 10 tahun maka dari persamaan
(2.4) didapat :

Untuk menghitung curah hujan rencana pada periode ulang 2


tahun, 5 tahun dihitung dengan cara yang sama seperti diatas.
Hasil perhitungan nilai curah hujan rencana untuk setiap kala
ulang ditampilkan dalam tabel (2.4).
Tabel 2.4 Curah hujan rencana berbagai kala ulang metode
gumbel.
3.2.3 Perhitungan curah hujan maksimum Metode Log Pearson
III

Untuk menghitung curah hujan rencana Metode Log Pearson III


adalah sebagai berikut :
1. Menghitung harga rata-rata
Jumlah data mulai tahun = data
Data untuk perhitungan hujan rerata daerah disajikan pada tabel
Tabel. Curah hujan rencana Metode Log Pearson Tipe III
Dari persamaan diperoleh :
=
2. Menghitung harga standar deviasi
Julah data (n) =
Maka dari persamaan (2.9) didapat :
Sx =
3. Menghitung Coefisien Skew (Cs)
Dari hasil perhitungan pada Tabel , maka diperoleh persamaan
(2.10) diperoleh :
Cs =

Berdasarkan tabel faktor frekuensi G pada lampiran 5 untuk


distribusi log pearson tipe III, dimana nilai Cs = (%) dengan
periode ulang 2 tahun didapat G =
Maka dengan persamaan (2.13) diperoleh :
=
+ G. Sx
= +(x)
=
4. Menghitung besarnya hujan rencana pada periode ulang 2 tahun
maka dapat dihitung dengan menghitung antilog dari Log Q.
Perhitunggannya dapat dilihat dibawah ini :
Xt = antilog ()
Xt =
Xt = mm
Untuk menghitung curah hujan rencana pada periode 5 tahun
dapat dihitung dengan cara yang sama dan hasilnya dapat dilihat
pada tabel
Tabel. Curah Hujan Rencana Kala Ulang 2 Tahun Dan 5 Tahun
Metode Log Pearson III
Hasil perhitungan curah hujan maksimum rencana untuk Metode
Gumbel tipe I dan Log Pearson III disajikan pada tabel. Dibawah
ini
Tabel. Rekapitulasi Hujan Rencana Metode Gumbel Tipe I dan Log
Pearson Tipe III
Berdasarkan Tabel. Diketahui bahwa hasil perhitungan curah
hujan maksimum dengan Metode Gumbel Tipe I lebih besar dari
Metode Log Pearson Tipe III, sehingga dalam perencanaan
saluran drainase akan dipakai curah hujan yang paling
maksimum dari kedua metode tersebut yaitu metode Gumbel
Tipe I

3.3Analisa Debit Aliran


3.3.1 Debit Air Hujan
1. Analisa Intensitas Curah Hujan
a. Kemiringan Lahan
Dalam pekerjaan ini kemiringan lahan dapat dihitung
berdasarkan gambar kontur yang ada. Kemiringan lahan untuk
daerah pengaliran menuju ke sungai atau saluran yang ada di
lokasi yang ditinjau.

Limpasan permukaan dari permukaan pada saluran tersier


terbagi atas dua kondisi yaitu limpasan permukaan dari
permukaan tanah dan limpasan permukaan dari atap bangunan.
Untuk limpasan permukaan dari atap bangunan nilai lahan yang
digunakan adalah 30%, dan kemiringan lahan untuk limpasan
permukaan tanah dihitung menggunakan persamaan (2.40)
contoh perhitungan kemiringan lahan di daerah
Diketahui :
Tinggi tanah di bagian tertinggi, h1 = m
Tinggi tanah di bagian terendah, h2 = m
L=m
I=
i=%
tabel . perhitungan laha pada area

b. Perhitungan waktu konsentrasi


Waktu konsentrasi (tc) adalah waktu yang dibutuhkan aliran
ari titik terjauh ke suatu tempat tertentu . Hasil perhitungan
waktu konsentrasi kemudian digunakan untuk menghitung
intensitas curah hujan
Perhitungan waktu aliran masuk ke saluran (t1)
Perhitungan waktu inlet harus memperhatikan kondisi
permukaan, koefisien hambatan, kemiringan lahan, jarak dari
titik terjauh ke fasilitas drainase. Perhitungan waktu inlet
untuk saluran
Diketahui :
Nd = 0.020
Lo = m
S = % (diambil dari kemiringan lahan)
t1

= menit
Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel.
Perhitungan waktu aliran (t2)
Perhitungan waktu aliran (t2) menggunakan persamaan
(2.24), kecepatan aliran air untuk jenis saluran yang terbuat
dari material beton adalah 1,5000 m/dtk (lampiran
kecepatanaliran berdasarkan jenis material)
Contoh perhitungan waktu aliran masuk saluran
Diketahui :

L
V

=m
= 1,5000 m/ dtk

t2

=
=

= menit
Hasil perhitungan waktu aliran selengkapnya disajikan pada
tabel
Waktu konsentrasi aliran adalah waktu yang dibutuhkan untuk
suatu hujan dihampir seluruh daerah tangkapan untuk dapat
mengalir sehingga seluruh aliran di daerah tangkapan
mengalir pada satu titik yang ditinjau atau waktu yang
dibutuhkan oleh air yang jatuh pada titik terjauh dari titik
yang ditinjau. Perhitungan waktu konsentrasi menggunakan
persamaan (2.22)
Contoh perhitungan waktu konsentrasi untuk saluran
Diketahui :
Waktu inlet, t1 = menit
Waktu aliran, t2 = menit
Tc
= t1 + t2
= +
= menit
Hasil perhitungan waktu selengkapnya dapat dilhat pada tabel
Tabel Perhitungan Waktu Konsentrasi untuk Area
Hasil perhitungan waktu konsentrasi untuk area lainnya
ditampilkan pada lampiran

c. Intensitas Curah Hujan


Intensitas curah hujan ditentukan berdasarkan penyelidikan
Van Breen, dengan jumlah hujan sebesar 22,5 % dari jumlah
hujan rata-rata dari hasil perhitungan curah hujan maksimum.
Intensitas hujan dihitung dengan rumus Monobe (2.21). Data
yang digunakan untuk perhitungan intensitas curah hujan
yaitu data curah hujan hasil analisis drngan Metode Gumbel
Tipe I (tabel) dengan ketentuan :
Saluran Tersier
Untuk saluran tersier dipakai periode ulang rencana 2 tahun,
dan berdasarkan hasil perhitungan curah hujan maksimum
rencana diperoleh nilai Xt untuk kala ulang 2 tahun sebesar
mm, sehingga nilai curah hujan maksimum untuk 24 jam
adalah :
R24

= 22,50% x Xt
= 22,50% x
= mm
Saluran Sekunder

Untuk saluran sekunder dipakai periode ulang rencana 5


tahun, dan berdasarkan hasil perhitungan curah hujan
maksimum rencana diperoleh nilai Xt untuk kala ulang 5 tahun
sebesar mm, sehingga nilai curah hujan maksimum untuk 24
jam adalah :
R24 = 22,50% x Xt
= 22,50% x
= mm
Saluran Primer
Untuk saluran sekunder dipakai periode ulang rencana 5
tahun, dan berdasarkan hasil perhitungan curah hujan
maksimum rencana diperoleh nilai Xt untuk kala ulang 5 tahun
sebesar mm, sehingga nilai curah hujan maksimum untuk 24
jam adalah :
R24 = 22,50% x Xt
= 22,50% x
= mm
Contoh perhitungan intensitas curah hujan pada saluran
Jenis saluran
= saluran tersier
R24
= mm
tc
= menit = jam
maka,
perhitungan intensitas menggunakan persamaan (2.21)
I

= mm/jam
Rekapitulasi hasil perhitungan intensitasi curah hujan untuk
area selengkapnya dapat dilihat pada tabel
Tabel Perhitungan Intensitas Curah Hujan Untuk areal
Hasil perhitungan intensitas curah hujan untuk area lainnya
dapat dilihat pada lampiran
2. Perhitungan koefisienpengaliran/run off
Koefisien pengaliran (run off) merupakan nilai banding antara
bagian hujan yang run off di permukaan bumi dengan hujan
total yang terjadi. Bila daerah pengaliran terdiri dari beberapa
tipe kondisi permukaan yang mempunyai nilai C yang
berbeda. Dari penentuan pemberi tugas maka ilai C yang
dipakai adalah
3. Perhitungan debit banjir air hujan
Debit banjir dihitung dengan menggunakan persamaan (2.20)
Contoh perhitungan debit hujan untuk saluran
A = ha
C=
I = mm/jam lihat tabel
Qp = * * *
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel

Tabel Perhitungan Debit Akibat Intensitas Curah Hujan Area


Hasil perhitungan akibat intensitas curah hujan untuk area
lainnya dapat dilihat pada lampiran
3.3.2 perencanaan Biopori
Lubang resapan biopori dibuat dengan menggali luubang kecil ke
dalam tanah dengan diameter 10 cm, dan kedalaman 100 cm
untuk memudahkan pemasukan air, oksigen, dan sampah
organik
gambar Penampang lubang resapan biopori
1. Permeabilitas tanah
Nilai permeabilitas tanah diperoleh dengan melakukan pengujian
laboraturium. Nilai permeabilitas tanah kemudian akan
digunakan dalam menentukan nilai debit air yang meresap pada
saluran.
Tabel 4.14 Perhitungan nilai permeabilitas tanah

2. Perhitungan jumlah lubang resapan biopori


a. Menghitung kecepatan aliran dalam tanah
Kecepatan aliran air dalam tanah dihitung dengan persamaan
(2.18)
Contoh perhitungan kecepatan aliran air
h = cm
L = cm
K = cm/dtk
V = cm/dtk
Hasil perhitungan selengkapnya dapat dillihat pada tabel
Tabel 4.15 Perhitungan Kecepatan Aliran Air Dalam Tanah

b. Menghitung luas tampang tanah lubang resapan


Luas tampang tanah yang diperhitungkan adalah luas tampang
tanah dalam luang resapan,dimensi lubang resapan biopori yang
direncakanan memiliki diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm,
maka luas tampang tanah dalam lubang resapan dapat dihitung
dengan persamaan

= r2 + 2rt
= (3,14 x 52) + (2 x 3,14 x 5 x 100)
= cm2

c. Menghitung debit resapan perlubang


Berdasarkan hasil perhitungan luas tampang tanah lubang resapan
dan kecepatan aliran dalam tanah, maka dengan persamaan (2.19)
dapat dihitung debit aliran air yang meresap kedalam tanah untuk
tiap lubang.
Contoh perhitungan debit aliran untuk area
Ar

= cm2

= cm/dtk

Qi

=x
= cm3/dtk
=m3/dtk

d. Menghitung jumlah lubang resapan biopori


Jarak antara lubang resapan biopori direncanakan berjarak 2 meter
untuk saluran tersier dan sepanjang 5 meter untuk saluran sekunder
dan primer, jumlah lubang resapanbiopori dihitung dengan
persamaan :
n

= L/I

dimana :
L

= Panjang saluran

= Jarak Antara Lubang

Contoh perhitungan jumlah lubang resapan biopori saluran ... pada


area ...
L

= m (panjang saluran)

= m (jarak antar lubang)

= lubang

perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel ....


3. Perhitungan debit resapan

Debit resapan merupakan akumulasi dari debit air pada lubang


resapan biopori sepanjang saluran.
Contoh perhitungan debit air resapan untuk saluran
n

= lubang

Qperlubang
Qi

= m3/dtk
=m3/detik

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel


Tabel 4.16 Perhitungan jumlah LRB dan Debit Air Resapan Area
Hasil perhitungan area lainnya dapat dilihat pada lampiran
3.3.3 perhitungan debit rencana
Besar debit rencana yang terjadi adalah selisih dari jumalh debit
akibat curah hujan dengan debit air yang meresap dalam lubang
resapan biopori
contoh perhitungan debit rencana untuk saluran
Qi

= m3/dtk

Qh

= m3/dtk

Qr

=
= m3/dtk

Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel


Tabel 4.17 Perhitungan debit rencana pada area ....
Hasil perhitungan intensitas curah hujan untuk area lainnya
ditampilkan pada lampiran
3.4

Perhitungan dimensi saluran


Dimensi saluran drainase dihitung dengan menggunakan rumus
pengaliran yaitu :
Q

= V.A

= 1/n x R2/3 x I1/2

Dimana :
Q = debit rencana (m3/dtk)
A

= luas penampang basah (m2)

= kecepatan aliran (m/dtk)

= angka kekasaran saluran (manning)

= jari-jari hidolis (m), (A/P)

= keliling basah saluran (m)

Ada beberapa jenis bentuk penampang saluran drainase


diantaranya bentuk persegi, trapesium, segitiga, setengah
lingkasran, dan lingkaran penuh. Saluran yang didesain adalah
saluran beton dengan bentuk setengah lingkaran pada saluran
terier dan persegi pada saluran primer dan sekunder.
3.4.1 Saluran berbentuk setengah lingkaran
Suatu penampang menjadi efisien apabila keliling basahnya
mencapai nilai minimum, atau secara matematis dapat ditulis dp/dh
= 0, sehingga saluran tersebut dapat menampung debit (Q)
maksimum.
Gambar penampang berbentuk setengah lingkaran
Contoh perhitungan dimensi saluran untuk saluran
Diketahui
Qr

= m3/dtk (lampiran)

= (lampiran)

= 0,5 % (direncanakan)

maka :
A

= 0,5 x x r2
= 0,5 x 3,14 x r2
= 1,5700 x r2

Keliling basah (P)


P

=xr
= 3,14 x r

Jari-jari basah (R)


R

= A/P
= 1,5700 x r2/3,14 x r
= 0,5000 r

Sehingga kecepatan aliran dengan rumus Robert Manning :


V

= 1/n x R2/3 x I1/2

=
= r2/3
Debit aliran :
Q

=AxV

0,

= 1,5700 r2 x r2/3

0,

= r8/3

=
=m

Sehingga didapat :
r

=m

= 3,14 r
= 3,14 x
=m

= 0,5 r
= 0,5 x
=m

w = (0,5h)0,5
= (0,5 x ) 0,5
=m
V

= 3, r2/3
= 3, (0, 2/3)
= m2/dtk

Hasil perhitungan selengkapnya ditampilkan pada tabel


Tabel 4.18 Perhitungan Dimensi Saluran Drainase
Hasil perhitungan lainnya dapat dilihat pada lampiran

Dimensi rencana saluran yang tertera pada tabel diatas yaitu


berupa dimensi jari-jari penampang basah saluran rencana harus
ditambah dengan tinggi jagaan air (w).
Data dimensi perencanaan saluran drainase selengkapnya dapat
dilihat pada tabel
Tabel 4.19 Masterplan Saluran Drainase

3.4.2 saluran berbentuk persegi panjang


Suatu penampang menjadi efisien apabila keliling basahnya
mencapai nilai minimum, atau secara matematis dapat ditulis dp/dh
= 0, sehingga saluran tersebut dapat menampung debit (Q)
maksimum.
Contoh perhitungan dimensi saluran
Qr

= m3/dtk (lampiran)

= (lampiran)

= 0,5 % (direncanakan)

dengan persamaan prinsip tampang lintang ekonomis


b

= 2h

maka :
luas penampang (A)
A

=bxh
= 2h x h
= h2

Keliling basah (P)


P

= b +2h
= 2h + 2h
= 4h

Jari-jari basah (R)


R

= A/P
= 0,5 h

Sehingga kecepatan aliran dengan rumus Robert Manning :


= 1/n x R2/3 x I1/2

V
=

= r2/3
Debit aliran
Q

=AxV

0,

= 2h2 x h2/3

0,

= h8/3

=m
Sehingga didapat :
b

= 2h
=2x
=m

= 4h
=4x
=m

= 0,5 h
= 0,5 x
=m

= (0,5h)0,5
= (0,5 x ) 0,5
=m

= 3, h2/3
= 3, (0, 2/3)
= m2/dtk
Hasil perhitungan lainnya dapat dilihat pada lampiran