Anda di halaman 1dari 3

Genius Loci pada Pasar Gede Harjonagara

Genius loci dalam arsitektur, secara harfiah adalah jiwa dari ruang dan waktu,
lokalitas dan region-region di mana arsitektur tumbuh dan berkembang.
Spirit of Place (jiwa tempat) telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno, dengan
istilah genius loci. Istilah genius loci terdiri atas dua kata, yakni loci atau dalam
bahasa latin locus, yang berarti tempat, dan genius yang berasal dari bahasa
latin, yang mempunyai arti roh. Roh/ spirit tersebutlah yang ditempatkan
pada lokasi/ loci/ locus tertentu, sehingga genius loci dapat diartikan sebagai
roh tempat (spirit of place). (Adiyanto, 2011).
Salah satu penggagas Genius Loci (Spirit of Place), John Ruskin, seorang kritikus
XIX, dalam bukunya yang berjudul Seven Lamps of Architecture (1849)
menyatakan Bahwa sesungguhnya keagungngan dari sebuah bangunan tidak
terdapat pada batu batuan atau bahkan emas yang melapisinya, namun
keagungan tersebut adalah pada umur bangunan tersebut, serta rasa mendalam
yang terkandung didalamnya, dimana dinding bangunan tersebut telah menjadi
saksi dari perkembangan umat manusia. Dapat dipahami bahwa genius loci
merupakan makna suatu tempat yang menjadikannya berbeda dari identitas
tempat lain.
Dalam buku Genius Loci Towards a phenomenology of architecture, Christian
Norberg-Schuluz membagi struktur tempat (structure of place) menjadi dua,
yaitu Landscape dan Settlement, dengan elemen pembentuk terdiri atas space
dan character. Space merujuk pada segala bentuk tiga dimensional yang
membentuk ruang dan Character merujuk pada atmosfer sebagai elemen
komprehensif pada pembentukan ruang. Pada Landscape,seperti elemen space
seperti pepohonan; membentuk struktur tempat (landscape) secara tiga
dimensional yang didukung oleh kondisi alam. Pada Settlement, elemen space
yang membentuk ruang adalah dinding-dinding, rumah, jalan, pohon; yang
berkolaborasi
dengan
character
dari
lingkungan
itu
sendiri. Landscape dan Settlement merupakan pada pembentuk ruang.
Perpaduan
landscape
dan settlement yang
harmonis
menghasilkan space dan character yang kuat dari sebuah tempat (genius loci).
Ketika arsitektur dibangun melalui pemahaman space dan character yang baik,
arsitektur dapat berpartisipasi dan berkontribusi secara kreatif terhadap
peradaban dan sejarah.
Pasar Gede Hardjonegoro atau yang biasa dikenal dengan Pasar Gede Solo
adalah salah satu fragmen sejarah kota Solo. Berada di Jalan Jendral Sudirman
menuju Jalan Urip Sumohardjo kota Solo yang dirancang oleh arsitek Belanda
bernama Thomas Karsten pada tahun 1927 dan selesai pada 1930. Pasar gede
terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai
Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai.

Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang


kemudian diberi nama Pasar Gedh dalam bahasa Jawa.
Sebagai ruang sosial, pasar tradisional dilihat sebagai ruang bagi masyarakat
kota untuk saling berinteraksi. Fenomena sosial yang berlangsung pada pasar
tradisional dijelajahi untuk mengungkap genius loci dari pasar tradisional.
Interaksi sosial di pasar tradisional terutama terjadi di antara para penjual dan
para pembeli. Interaksi terjadi diantara penjual dan pembeli,antar pembeli, dan
antar penjual. Kegiatan berlangsung pada ruang yang didefinisikan oleh lapak
barang dagangan. Jika tidak ada transaksi antara penjual dan pembeli, lapak
menjadi elemen massa yang mendefinisikan ruang sirkulasi. Peran lapak berubah
dari massa menjadi ruang saat ada transaksi antara penjual dan pembeli:
sebuah spatio temporal. Keberlangsungan kegiatan dalam pasar Gede dilandasi
adanya interaksi sosial yang terus menerus dilakukan sebagai identitas diri dari
pasar tersebut.
Genius Loci dari pasar tradisional mempunyai akar tentang daya hidup
masyarakat kota tempat pasar itu berada. Di Pasar Gede Solo, pemeran utama
kegiatan adalah para wanita sebagai pelaku ekonomi di pasar ini yang
membentuk ruang melalui karakter dari Pasar Gede tersebut. Dalam hal ini
wanita
dianggap
sebagai
pemegang
peran
yang
penting
sebagai
keberlangsungan kegiatan dalam Pasar Gede. Pasar tradisional menjadi identitas
dari suatu masyarakat tergantung dari pengalaman interpersonal di dalam pasar
tersebut. Pasar Legi menjadi identitas kota Surakarta terutama karena skalanya
sebagai pasar induk kota.
Setiap pasar tradisional mempunyai makna, identitas, dan sejarahnya masingmasing, yang menjadikannya mempunyai karakter yang khas yang
membedakannya dengan pasar-pasar lainnya. Karakter khas ini yang menjadi
ruh dari pasar ini untuk terus bertahan hidup dalam perekonomian Kota Solo.

Sumber :http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/mengunjungi-pasar-gedesolo-pasar-tradisional-terbaik-di-jawa-tengah_552bd16f6ea834362b8b456c

Daftar Pustaka
http://www.girinarasoma.com/genius-loci-jiwa-tempat/
http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/mengunjungi-pasar-gede-solopasar-tradisional-terbaik-di-jawa-tengah_552bd16f6ea834362b8b456c
Ekomady, Agus S. Menelusuri Genius Loci Pasar Tradisional sebagai Ruang
Sosial Urban di Nusantara. Institut Teknologi Bandung. 2012