Anda di halaman 1dari 20

PENYALURAN ZAKAT PRODUKTIF DENGAN SISTEM PIUTANG

Mata Kuliah : Fiqih Muamalah


Dosen Pengampu : Drs. Asmuni, MA

Yang disusun oleh:


M.Mujib Baidhowi

15913026

MAGISTER STUDI ISLAM


UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2016
1

PENYALURAN ZAKAT PRODUKTIF DENGAN SISTEM PIUTANG


I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Permasalahan tentang perekonomian merupakan permasalahan
yang sudah menjadi hal yang mutlak dan itu sudah mengakar di setiap
negara. Permasalahan tentang perekonomian yang menimbulkan berbagai
dampak seperti kemiskinan dan kebodohan yang sudah menjadi masalah
universal umat manusia, walaupun tingkatnya berbeda- beda. Dari
dampak tersebut dapat melahirkan keterbelakangan, kesenjangan sosisal,
keterpurukan, kriminalitas dan lain sebagainya. Dan itulah masalah
kompleks yang saat ini terjadi dinegara kita.
Penunaian

zakat

merupakan

salah

satu

solusi

yang

dapat

mengurangi atas permasalahan yang ada dan dapat membangun sinergi


sosial yang dapat diterapkan pada konteks kehidupan modern. Misalnya
orang yang memiliki banyak harta dapat menyalurkan hartanya melalui
badan amil zakat untuk dikelola dan disalurkan kepada pihak yang
membutuhkan dalam berbagai bentuk.
Zakat dapat berfungsi sebagai salah satu sumber dana sosialekonomi bagi umat Islam. Artinya pendayagunaan zakat yang dikelola oleh
Badan Amil Zakat tidak hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu
saja yang berdasarkan pada orientasi konvensional, tetapi dapat pula
dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan ekonomi umat, seperti dalam
program pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan memberikan
zakat produktif kepada mereka yang memerlukan sebagai modal usaha.
Pengembangan zakat bersifat produktif dengan cara dijadikannya
dana

zakat

sebagai

modal

usaha,

untuk

pemberdayaan

ekonomi

penerimanya, dan supaya fakir miskin dapat menjalankan atau membiayai


kehidupannya secara konsisten. Dengan dana zakat tersebut fakir miskin
2

akan

mendapatkan

penghasilan

tetap,

meningkatkan

usaha,

mengembangkan usaha serta mereka dapat menyisihkan penghasilannya


untuk menabung. Sehigga zakat yang diberikan kepada mustahiq akan
berperan sebagai pendukung peningkatan ekonomi mereka apabila
digunakan pada kegiatan produktif.
Pendayagunaan zakat produktif sesungguhnya mempunyai konsep
perencanaan dan pelaksanaan yang cermat seperti mengkaji penyebab
kemiskinan, ketidakadaan modal kerja, dan kekurangan lapangan kerja,
dengan adanya masalah tersebut maka perlu adanya perencanaan yang
dapat mengembangkan zakat bersifat produktif tersebut.
Dalam Islam salah satu dari usaha untuk mengurangi serta
mengentaskan kemiskinan adalah dengan adanya syariat zakat yang
berfungsi sebagai pemerataan kekayaan. Pendistribusian zakat bagi
masyarakat miskin tidak hanya untuk menutupi kebutuhan konsumtif saja
melainkan lebih dari itu. Dari sinilah pola pemberian zakat kepada para
mustahiq tidak hanya bersifat konsumtif saja, namun dapat pula bersifat
produktif.
Meskipun

tujuan

akan

zakat

produktif

diantaranya

adalah

memotivasi seorang mustahiq agar menjadi muzakki pada suatu saat


nanti. Akan tetapi didalam pengaplikasiannya penyaluran zakat produktif
menurut pakar hukum islam ada beberapa pendapat yang mendukung
akan hal tersebut dan ada pula yang menentang.
II.

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ZAKAT PRODUKTIF


Definisi zakat produktif akan menjadi lebih mudah dipahami jika
diartikan berdasarkan suku kata yang membentuknya. Zakat adalah isim
masdar dari kata zaka-yazku-zakah. Oleh karena kata dasar zakat adalah
zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, baik, dan bertambah. 1Secara
1 Fakhruddin, Fiqih dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Malang: UIN-Malang Press, 2008),
cet.1, h. 13

terminologi zakat adalah pemilikan harta yang dikhususkan kepada


penerimanya dengan syarat-syarat tertentu.2 Sedangkan kata produktif
adalah berasal dari bahasa Inggris yaitu productive yang berarti
menghasilkan atau memberikan banyak hasil.3
Penggunaan kata produktif dalam pembahasan zakat berfungsi
sebagai kata sifat yang menjelaskan tentang sifat dari kata yang
disifatinya, dalam hal ini adalah zakat. Kata produktif juga sebagai lawan
dari kata konsumtif dalam pembahasan zakat yang berarti bersifat
konsumsi; memakai; tidak menghasilkan sendiri. Kata konsumtif sendiri
merupakan kata sifat yang lahir dari kata konsumsi yang berarti
pemakaian hasil produksi; pemakaian barang yang langsung memenuhi
kebutuhan hidup.4 Sehingga dalam kata konsumsi mengandung pengertian
bahwa pemberian komsumtif adalah pemberian sesuatu untuk memenuhi
kebutuhan hidup seseorang, sesuatu tersebut berhenti dan habis untuk
dipakai, sehingga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baru untuk
dimanfaatkan kembali.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian produktif merupakan kata
yang disifati oleh kata zakat. Sehingga yang dimaksud zakat produktif
adalah pengelolaan dan penyaluran dana zakat yang bersifat produktif,
yang mempunyai efek jangka panjang bagi para penerima zakat.
Penyaluran dana zakat produktif ini dilakukan dalam rangka mewujudkan
salah satu tujuan disyariatkannya zakat, yaitu mengentaskan kemiskinan
umat secara bertahap dan berkesinambungan.
Asnaini mendefinisikan zakat produktif sebagai pemberian zakat
yang dapat membuat para penerimannya menghasilkan sesuatu secara
2 Ibid., h. 16
3 M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2003) h. 41
4 Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 3 cetakan ke
2 (Jakarta: Balai Pustaka, 2002) hl. 603.
4

terus

menerus

dengan

harta

zakat

yang

diterimanya. 5

Menurut

Abduracchman Qadir, zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada


Mustahik sebagai modal untuk menjalankan suatu kegiatan ekonomi yaitu
untuk menumbuhkembangkan tingkat ekonomi dan potensi produktifitas
Mustahik.6 Harta zakat yang diberikan kepada para mustahik tidak
dihabiskan akan tetapi di kembangkan dan digunakan untuk membantu
usaha mereka. Dari hasil usaha tersebut mereka dapat memenuhi
kebutuhan hidup secara terus menerus.
Dalam perkembangannya istilah zakat produktif ini dipakai untuk
menyebutkan pola pemberian zakat untuk mustahik dalam bentuk modal
untuk usaha produktif mustahik. Dalam Undang-Undang No. 23 tahun
2011

tentang

Pengelolaan

Zakat,

dijelaskan

mengenai

mekanisme

pendayagunaan zakat adalah:


1)

Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka


penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat.

2)

Pendayagunaan

zakat

untuk

usaha

produktif

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila kebutuhan dasar


mustahik telah terpenuhi.
Zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada fakir miskin
berupa modal usaha atau yang lainnya yang digunakan untuk usaha
produktif yang mana hal ini akan meningkatkan taraf hidupnya, dengan
harapan seorang mustahiq akan bisa menjadi muzakki jika dapat
menggunakan harta zakat tersebut untuk usahanya. Hal ini juga pernah
dilakukan oleh Nabi, dimana beliau memberikan harta zakat untuk
5 Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2008. Buku ini semula adalah tesis penulis pada program Magister
Syariah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta kemudian dikembangkan
dan dipublikasikan dalam bentuk buku ini.
6 Abduracchman Qadir. Zakat Dalam Dimensi Mahdah dan Sosial. Cet. 2 (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 165
5

digunakan shahabatnya sebagai modal usaha. Hal ini seperti yang


disebutkan oleh Didin Hafidhuddin7 yang berdalil dengan hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim yaitu ketika Rasulullah memberikan uang zakat
kepada Umar bin Al-Khatab yang bertindak sebagai amil zakat seraya
bersabda :
,

"












,
,















."
,

Ambilah dahulu, setelah itu milikilah (berdayakanlah) dan


sedekahkan kepada orang lain dan apa yang datang kepadamu dari harta
semacam ini sedang engkau tidak membutukannya dan bukan engkau
minta, maka ambilah. Dan mana-mana yang tidak demikian maka
janganlah engkau turutkan nafsumu. (HR Muslim).8
Kalimat


( fatamawalhu)

berarti

mengembangkan

dan

mengusahakannya sehingga dapat diberdayakan, hal ini sebagai satu


indikasi

bahwa

kebutuhan

harta

konsumtif,

zakat

dapat

semisal

digunakan

usaha

yang

untuk
dapat

hal-hal

selain

menghasilkan

keuntungan. Hadits lain berkenaan dengan zakat yang didistribusikan


untuk usaha produktif adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik,
katanya :

,





: , , :
:
!
Bahwasanya Rasulallah tidak pernah menolak jika diminta sesuatu
atas nama Islam, maka Anas berkata "Suatu ketika datanglah seorang
7 Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Cet. II. Gema Insani Press,
Jakarta. hal. 133
8 Abu Bakar Muhammad (Penerjemah) Terjemahan Subulus Salam II. hal. 588

lelaki dan meminta sesuatu pada beliau, maka beliau memerintahkan


untuk memberikan kepadanya domba (kambing) yang jumlahnya sangat
banyak yang terletak antara dua gunung dari harta shadaqah, lalu laki-laki
itu kembali kepada kaumnya seraya berkata " Wahai kaumku masuklah
kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu
pemberian yang dia tidak takut jadi kekurangan !" HR. Ahmad dengan
sanad shahih.9
Lebih tegasnya zakat produktif disini adalah pendayagunaan zakat
secara produktif, yang pemahamannya lebih kepada bagaimana cara atau
metode menyampaikan dana zakat kepada sasaran dalam pengertian
yang lebih luas, sesuai dengan ruh dan tujuan syara. Zakat produktif
dengan demikian adalah pemberian zakat yang dapat membuat para
penerimanya menghasilkan sesuatu dengan cara terus menerus, dengan
harta zakat yang telah diterimanya. Zakat produktif dengan demikian
adalah zakat di mana harta atau dana zakat yang diberikan kepada para
mustahiq tidak dihabiskan tetapi dikembangkan dan digunakan untuk
membantu usaha mereka, sehingga dengan usaha tersebut mereka dapat
memenuhi kebutuhan hidup secara terus menerus.10
B. HUKUM ZAKAT PRODUKTIF
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan
zakat produktif disini adalah pendayagunaan zakat dengan cara produktif.
Hukum zakat produktif dapat dipahami sebagai hukum mendistribusikan
atau memberikan dana zakat kepada mustahiq secara produktif. Dan dana
zakat diberikan dan dipinjamkan untuk dijadikan modal usaha bagi orang
fakir, miskin dan orang- orang lemah.

9 Imam Asy-Syaukani, Nailul AutharJuz III, Darul Kalam Ath-Thayib, Damaskus.tahun 1999,
Hal. 77

10 Asnaini, Zakat Produktif dalam prespektif Hukum Islam, Pustaka Pelajar, 2008,
hlm. 64
7

Al-Quran, al- Hadist dan Ijma tidak menyebutkan secara tegas


tentang cara pemberian zakat apakah dengan cara konsumtif atau
produktif. Dapat dikatakan tidak ada dalil naqli dan sharih yang mengatur
tentang bagaimana pemberian zakat itu kepada mustahiq. Ayat 60 surat
At-Taubah,

oleh

sebagian

ulama

dijadikan

dasar

hukum

dalam

pendistribusian zakat. Namun ayat tersebut hanya menyebutkan pos-pos


di mana zakat harus diberikan. Dan tidak menyebutkan cara pemberian
zakat kepada para mustahiq tersebut.
Zakat merupakan sarana, bukan tujuan karenanya dalam penerapan
rumusan-rumusan tentang zakat harus maqulatul mana, ia termasuk
bidang fiqh yang dalam penerapannya harus dipertimbangkan kondisi dan
situasi serta senafas dengan tuntukan dan perkembangan zaman. Dengan
demikian berarti bahwa teknik pelaksanaan pembagian zakat bukan
sesuatu yang mutlak, akan tetapi dinamis dapat disesuaikan dengan
kebutuhan disuatu tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dalam
pembagian zakat tidaklah dilarang dalam islam karena tidak ada dasar
hukum yang secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.11
C. PENDAPAT ULAMA TENTANG ZAKAT PRODUKTIF
Dari beberapa literature, zakat mempunyai arti suci, berkembang,
berkah, tumbuh, bersih dan baik.Zakat merupakan salah satu rukun Islam
yang bersifat ibadah dan sosial, yang kewajibannya sering digandengkan
dengan kewajiban shalat. Namun Zakat secara syariah terdapat beberapa
definisi zakat yang dikemukakan oleh ulama mazhab, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.

Ulama mazhab Maliki mendefinisikan zakat adalah mengeluarkan


bagian tertentu dari harta tertentu yang telah mencapai satu
nisab bagi orang yang berhak menerimanya, dengan ketentuan
harta itu milik sempurna, telah haul, dan bukan merupakan barang
tambang.

11 Ibid, hal.78-79
8

2.

Ulama Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat adalah pemilikan


bagian tertentu yang dimiliki seseorang berdasarkan ketetapan

3.

Allah SWT.
Ulama Mazhab Syafii mendefinisikan zakat adalah sesuatu yang

4.

dikeluarkan dari harta atau jiwa dengan cara tertentu.


Ulama Mazhab Hambali mendefinisikan zakat adalah hak wajib
pada harta tertentu pada waktu yang tertentu pula .
Dari beberapa definisi zakat yang diberikan oleh para Imam Mazhab,

tentunya antara satu definisi dengan definisi lainnya tidak terjadi


perbedaan yang sangat jauh. Namun dapat ditarik garis tengah bahwa
zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mempunyai kelebihan
harta

untuk

menyalurkannya

kepada

asnaf

zakat

yang

delapan

sebagaimana yang terdapat di dalam surat at-Taubah: 60.


Dalam sejarah, rukun zakat dikerjakan oleh umat Islam setelah
mengerti dengan benar tentang arti shalat lima waktu secara berjamaah,
dimana dua kalimah syahadat telah benar-benar meresap ke dalam hati
dan mewujudkan amal shaleh. Perintah mengeluarkan zakat ini mulai
berlangsung pada tahun ke II Hijriah, dimana Muslimin dan kesatuan
sosialnya telah kokoh dan kuat. Kekuatan kaum Muslimin yang telah
menegakkan satu kebenaran dalam masyarakat telah di atur terikat dalam
rasa persatuan yang amat kokoh dan kuat terkemas rapi dalam shalat lima
waktu, hidup dalam persamaan dan persaudaraan yang mesra di masjid.
Diantara iman yang menjadi sifat dan sikap seorang mukmin dengan
ikhlas

melaksanakan zakat adalah berkat ajaran dan didikan shalat

berjamaah. Dari keterangan di atas, menunjukkan bahwa kedudukan


sistem zakat dalam Islam sangatlah penting dalam hidup matinya umat
Islam itu sendiri. Sebagai individu, tentunya tidak akan lahir ke dunia
hanya membawa roh semata, demikian juga Islam tidak akan dapat lahir
dan tumbuh kuat dan kuasa, apabila di dalam perjalanannya tidak
memperoleh pelajaran dan pendidikan ilmu tentang zakat yang secara
nyata menjadi dasar dalam kehidupan ekonomi Islam.

Begitu

seriusnya

kedudukan

zakat

ini,

sehingga

pada

awal

kekhalifahan Abu Bakar dimana telah muncul orang-orang yang melakukan


pembangkangan untuk menunaikan zakat, oleh sebab itu khalifah
melakukan ijtihad dengan memerangi mereka. Khalifah Abu Bakar
menyatakan: "Demi Allah, Saya akan perangi orang yang membedakan
antara shalat dan zakat, karena zakat itu karena zakat itu hak harta; Demi
Allah! kalau sekiranya mereka itu tidak menyerahkan anak-anak unta yang
dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah saw, saya akan perangi
mereka berdasarkan keengganan tersebut." (HR. Abu Daud) .
Begitu seriusnya komitmen Islam dalam menanggulangi kaum
dhuafa secara continue dan sistematis. Untuk mengakomodir jumlah kaum
dhuafa yang jumlahnya sangat banyak, pada saat sekarang ini para amilin
menempuh upaya dengan menyalurkan zakat dalam bentuk Produktif. 12
Pendayagunaan zakat untuk kebutuhan konsumtif dan kebutuhan
usaha

produktif,

saat

ini

hampir

dilakukan

oleh

seluruh

lembaga

pengelolaan zakat. Secara umum kedua kategori zakat ini dibedakan


berdasarkan bentuk pemberian zakat dan penggunaan dana zakat itu oleh
mustahik. Masing-masing dari kebutuhan konsumtif dan produktif tersebut
kemudian dibagi dua, yaitu konsumtif tradisional dan konsumtif kreatif,
sedangkan

yang

berbentuk

produktif

dibagi

menjadi

produktif

konvensional dan produktif kreatif.13


1.

Bersifat konsumtif tradisional yaitu proses dimana pembagian

2.

langsung kepada para mustahiq.


Bersifat konsumtif kreatif yaitu proses pengkonsumsian dalam
bentuk lain dari barangnya semula, seperti di berikan dalam

3.

bentuk beasiswa, gerabah, cangkul dan sebagainya.


Bersifat produktif tradisional yaitu proses pemberian

zakat

diberikan dalam bentuk benda atau barang yang diketahui


12 Sudirman, Zakat Dalam Pusaran Modernitas, Malang, UIN-Malang Press, 2007.
Hlm.78
13 Nasution, et al, Indonesia Zakat and Development Report 2009. (Depok: CID,
2008), hlm. 27
10

produktif untuk satuan daerah yang mengelola zakat. Seperti


4.

pemberian kambing, sapi, becak dan sebagainya.


Bersifat produktif kreatif yaitu proses perwujudan pemberian zakat
dalam bentuk permodalan bergulir baik untuk usaha program
sosial, home industri atau pemberian tambahan modal usaha
kecil.

Penyaluran zakat secara produktif ini pernah terjadi di zaman


Rasulullah SAW. Dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim
dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw telah
memberikan zakat kepadanya lalu menyuruhnya untuk dikembangkan
atau disedekahkan lagi.
Menurut Didin Hafiduddin dalam buku Panduan Zakat, dana zakat
bukan pemberian sesuap nasi dalam jangka sehari dua hari, kemudian
para mustahiq menjadi miskin kembali, tapi dana zakat itu harus
memenuhi kebutuhan hidup secara lebih baik dalam jangka waktu yang
relatif lama.14
Sejalan dengan pendapat Didin Hafiduddin di atas, Yusuf Qardhawi
berpendapat, zakat merupakan ibadah maaliyah ijtimaiyah yang memiliki
posisi yang sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dari sisi
ajaran maupun sisi pembangunan dan kesejahteraan ummat. Dalam buku
yang

lain,

memberikan

Yusuf
solusi

Qardhawi

juga

menyatakan

dalam

masalah

kemiskinan,

bahwa

zakat

pengangguran

dapat
dan

pemerataan ekonomi, apabila dilakukan secara optimal.


Penjelasan Didin Hafiduddin dan Yusuf Qardhawi di atas telah
menunjukkan kepada kita bahwa zakat harus dikelola dengan baik, karena
zakat merupakan salah satu sumber pemasukan dana yang sangat
potensial untuk menjadi alternatif bagi pemberdayaan ekonomi umat. Oleh
sebab itu, melalui pemberdayaan ekonomi produktif ini diharapkan
nantinya akan lahir muzakki-muzakki baru. Para mustahiq didorong untuk
menggunakan dana zakat selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
14 Didin Hafidhuddin dan Heri Tanjung. 2003. Manajemen Syariah Dalam Praktek
Jakarta: Gema Insani Press. Hlm.103
11

(konsumtif) juga berorientasi produktif, dengan mengembangkan potensi


usaha yang dimilikinya agar terus berkembang.15
Dengan pola produktif ini, tentunya tidak akan mustahil zakat dapat
mempunyai peranan yang sangat penting dalam membuka lapangan
pekerjaan baru, meningkatkan derajat hidup orang-orang miskin untuk
selalu kekurangan dan meningkatkan tali persaudaraan si kaya dan si
miskin.
Landasan awal pengelolaan zakat produktif ini adalah bagaimana
dana zakat tidak habis dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi
lebih bermakna karena digunakan untuk melancarkan usahanya. Bukankah
Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita sebagaimana terdapat
dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Tidak ada
sesuatu makanan yang lebih baik bagi seseorang, melainkan apa yang
dihasilkan dari karya tangannya sendiri." Disamping itu ada Pepatah
mengatakan, Berikanlah kail, bukan ikannya. Oleh sebab itu, Modal usaha
yang digulirkan dari dana zakat diharapkan menjadi kail yang mampu
menangkap ikan-ikan yang tersedia di alam. Dengan demikian ia akan
dapat berusaha sendiri dalam meningkatkan tingkat perekonomiannya
sehari-hari.
Kemudian, kewajiban lain yang harus dilakukan pengelola zakat
setelah menyalurkan zakat secara produktif adalah melakukan pembinaan
dan pendampingan kepada para mustahiq agar kegiatan usahanya dapat
berjalan

dengan

baik.

Pembinaan

dan

pendampingan

tidak

hanya

diberikan untuk memperkuat sisi rohani mustahiq, tetapi juga sisi


manajerial

dan

kemampuan

wirausahanya.

Harapannya,

dengan

kemampuan tersebut kehidupannya akan lebih sejahtera.


Fakta yang berkembang di lapangan menunjukkan, pengentasan
kemiskinan seakan-akan menjadi tanggung jawab negara sepenuhnya.
Berkaca pada sejarah, melalui instrumen zakat, kita melihat alternatif lain
yang

teruji

dalam

mensejahterakan

masyarakat.

Tentu

saja

butuh

kapasitas lebih dari pengelola zakat untuk mengimplementasikan konsep


15 Ibid. Hlm. 105
12

pemberdayaan ini, baik dari segi sumber daya manusia (SDM) maupun
sistem yang dimilikinya.
Dalam penyaluran zakat produktif, ketrampilan khusus mustahiq
merupakan faktor yang penting disamping ada faktor yang paling penting
yaitu kejujuran. Orang yang memiliki ketrampilan khusus

ataupun

mempunyai bakat berdagang, berhak mendapatkan bagian dari zakat


yang ada, agar ia mampu menjalankan profesinya. Diharapkan pada
akhirnya,
mencukupi

ia

mampu

mendapatkan

kebutuhan

hidupnya.

penghasilan
Bahkan

tetap

mencukupi

yang

dapat

kebutuhan

keluarganya dengan teratur dan untuk selamanya. Imam Nawawi yang


merupakan ahli tasawuf pada zamannya menjabarkan dalam sebuah
hadits:

"Sesungguhnya

Allah

mencintai

mukmin

yang

profesional

(mempunyai keahlian). Sedangkan bagi orang yang lemah dan tidak


mampu untuk menjalankan ketrampilan, profesi ataupun bekerja untuk
mencari nafkah bagi kehidupannya, Islam telah mempunyai suatu hukum
yang khusus."16
Dalam hal ini, Imam An Nawawi menjelaskan dalam Majmu pada
pembahasan tentang kadar dan ukuran zakat yang disalurkan kepada fakir
miskin yang ia nuqil dari fiqh mazhab Syafii: Apabila ia terbiasa dalam
melakukan suatu ketrampilan tertentu, maka ia diberikan zakat untuk
dapat membeli semua keperluan yang dibutuhkan agar dapat menunjang
ketrampilannya tersebut ataupun untuk membeli alat-alatnya, baik dalam
harga

murah maupun mahal,

dengan ukuran tersebut ia

mampu

mendapatkan keuntungan dari hasil usahanya. Karena itu, ukuran ini


berbeda disetiap profesi, ketrampilan, daerah, zaman dan juga orang yang
menerimanya. Para Sahabat kami pun telah memberikan pendekatanpendekatan dalam hal ini dengan ungkapan mereka; Apabila seseorang
berprofesi sebagai pedagang jeruk, maka ia mendapatkan zakatnya
sebesar lima sampai sepuluh dirham; bila ia berprofesi sebagai pedagang
16 Nurul Huda dan Mohammad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis dan
Praktis, Jakarta, Kencana, 2010

13

perhiasan, maka ia diberikan zakatnya sepuluh ribu dirham, jika dianggap


ia tidak akan mencapai keuntungan kurang darinya atau semisal ia adalah
seorang yang berprofesi sebagai money changer, maka ia diberikan uang
sesuai dengan kebutuhannya tersebut. Dan, apabila seseorang adalah
tukang jahit, tukang kayu, tukang daging, atau lainnya, maka ia diberikan
uang zakat yang cukup untuk dibelikan barang-barang penunjangnya.
Apabila seseorang berprofesi sebagai ahli pertanian, maka ia diberikan
zakatnya berupa dana awal yang dapat digunakan membeli alat-alat
pertanian secara permanen. Namun apabila seseorang belum menguasai
suatu keahlian dan ketrampilan yang dapat menopang dalam memenuhi
kehidupan sesuai dengan kebutuhan hidup orang-orang seumurannya dan
daerah di mana ia hidup, namun kebutuhannya tersebut tidak hanya
diukur dalam setahun.17
Pendayagunaan zakat produktif telah dilaksanakan di beberapa
negara misalnya Malaysia yang telah menyalurkan zakat produktif dalam
bentuk modal usaha, pendidikan, home industri, perusahaan, catering,
taylor dan lain sebagainya yang kesemuanya ditujukan dalam rangka
untuk lebih cepat meningkatkan tingkat perekonomian kaum dhuafa. Hal
ini disampaikan dalam Tuan Haji Sharir bin Mukhtar. Bahkan zakat
produktif ini

disampaikan hampir

seluruh Nara Sumber yang ada

diantaranya terdiri dari pakar-pakar zakat se Asia Tenggara.18


D. TUJUAN ZAKAT PRODUKTIF
Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat adalah adalah sebagai salah
satu tambahan pemasukan baru. Hal ini akan menyebabkan adanya
peningkatan pada permintaan terhadap barang. Sedangkan pada sektor
17 Ahmad Husnan, Zakat menurut Sunnah dan Zakat Model Baru,( Jakarta Timur: Pustaka
Al-Kautsar, 1996) hlm. 58

18 Eri Sadewo.2004. Manajemen Zakat Tanggalkan 15 Tradisi, Terapkan 4 prinsip Dasar


Ciputat; Institut Manajemen Zakat.hlm.97

14

produksi

akan

menyebabkan

bertambahnya

produktivitas,

sehingga

perusahaan-perusahaan yang telah ada semakin bergerak maju, bahkan


memunculkan berdirinya perusahaan-perusahaan baru untuk menghadapi
permintaan tersebut. Di lain pihak, modal yang masuk ke perusahaan
tersebut semakin bertambah banyak. Setiap suatu barang sangat penting
dan merupakan kebutuhan yang mendasar, setiap itu pula permintaan
tidak akan berubah. Hal inilah yang menyebabkan terus-menerusnya
produktivitas

perusahaan

dan

terjaminnya

modal-modal

yang

diinvestasikan.19
Timbulnya peningkatan pada permintaan dapat dibuktikan ketika
harta zakat dibagikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Dan
peningkatan pembelian tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan adanya
penambahan pemasukan, salah satunya adalah zakat.20
Dalam fatwa dapat menjawab pertanyaan yang sering bermunculan
di tengah-tengah masyarakat terkait pemanfaatan zakat. Salah satunya
ialah penggunaan dana zakat di sektor produktif. Sesuai dengan fatwa
MUI, dana zakat yang diberikan kepada fakir miskin dapat bersifat
produktif. Di bagian fatwa lainnya, salah satu bentuk zakat produktif itu
ialah

yang

diinvestasikan.

Hukum

menginvestasikan

dana

zakat

diperbolehkan dengan beberapa catatan. Syaratnya, investasi dana zakat


disalurkan pada usaha yang dihalalkan syariat dan peraturan yang
berlaku, usaha itu di yakini memberi keuntungan berdasarkan studi
kelaikan, pembinaan dan pengawasan oleh pihak berkompeten termasuk
lembaga yang mengelola dana investasi itu. Juga tidak terdapat fakir

19 Abdul Al-Hamid Mahmud Al-Baly, Ekonomi Zakat Sebuah Kajian Moneter dan
Keuangan Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 126
20 Ibid. Hal.127
15

miskin yang kelaparan dan memerlukan biaya serta tak bisa ditunda saat
zakat diinvestasikan.21
Fatwa MUI nomor 14 tahun 2011 tentang penyaluran harta zakat
dalam bentuk aset kelolaan memutuskan bahwa yang dimaksud dengan
aset kelolaan adalah sara atau prasarana yang diadakan dari harta zakat
dan secara fisik masih dalam pengelolaan pengelola zakat sebagai wakil
mustahiq zakat, sementara manfaatnya diperuntukkan bagi mustahik
zakat. Jadi pada hal tersebut dapat menjadi dasar bahwasanya dana zakat
dapat dikelola dengan cara produktif bisa dengan menginvestasikan dana
tersebut ataupun dengan memberikan kepada mustahik dengan cara
dipiutangkan. Sehingga membuat generasi selanjutnya akan lebih baik
dari sebelumnya dengan pemanfaatan dana zakat tersebut.
Dalam ayat Al- Quran Allah SWT memerintahkan kita agar
memeprsiapkan generasi yang kuat lahir batin sebagaimana termaktub
dalam surat al Nisa', ayat 4 :
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar."
Dari ayat diatas jelas dikatakan bahwa kita sebagai umat muslim
memiliki larangan agar tidak meninggal generasi kedepan dalam keadaan
yang lemah. Hal tersebut menjelaskan bahwa zakat produktif merupakan
salah satu cara untuk menyiapkan generasi masa yang akan datang agar
dapat hidup mandiri tanpa selalu bergantung dari uluran tangan muslim
lainnya. Karena dengan zakat produktif seorang mustahik dibina, dididik
21 Mukhtar Sadili, amru (ed).2003.Problematika Zakat Kontemporer: Artikulasi
Proses Sosial Politik Bangsa.Jakarta: Forum Zakat. hal. 45
16

serta diberikan modal usaha agar dapat mengembangkan suatu usaha


dengan motivasi mengembalikan dana yang diberikan kepada lembaga
pengelola zakat.
III.

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa zakat produktif

merupakan zakat yang diberikan kepada fakir miskin berupa modal usaha
atau yang lainnya yang digunakan untuk usaha produktif yang mana hal
ini akan meningkatkan taraf hidupnya, dengan harapan seorang mustahiq
akan bisa menjadi muzakki jika dapat menggunakan harta zakat tersebut
untuk usahanya.
Dalam pendistribusian dana zakat tersebut tidak ada ayat atau
perintah yang menyebutkan secara tegas tentang cara pemberian zakat
apakah dengan cara konsumtif atau produktif. Dapat dikatakan tidak ada
dalil naqli dan sharih yang mengatur tentang bagaimana pemberian zakat
itu kepada mustahiq. Ayat 60 surat At-Taubah, oleh sebagian ulama
dijadikan dasar hukum dalam pendistribusian zakat. Namun ayat tersebut
hanya menyebutkan pos-pos di mana zakat harus diberikan. Dan tidak
menyebutkan cara pemberian zakat kepada para mustahiq tersebut.
Penyaluran dana zakat dengan model pinjaman atau hutang kepada
mustahik yang sudah umum dilaksanakan oleh lembaga-lembaga amil
zakat perlu dikaji lebih dalam menggunakan pendekatan maqosid syariah
dan pendekatan sosiologis. Karena dana yang bersumber dari zakat
seharusnya telah menjadi milik mustahik yang semestinya dihibahkan
bukan

dihutangkan

atau

dipinjamkan

dengan

kewajiban

untuk

mengembalikannya. Dan di sisi lain, penyaluran zakat dengan model


pinjaman untuk usaha produktif ini dirasakan kemanfaatannya dan dapat
melatih jiwa wirausaha yang mandiri mustahik.

17

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Al-Hamid Mahmud Al-Baly, Ekonomi Zakat Sebuah Kajian
Moneter dan Keuangan Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2006), hal. 126
Abduracchman Qadir. Zakat Dalam Dimensi Mahdah dan Sosial. Cet.
2 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001).
Abu Bakar Muhammad (Penerjemah) Terjemahan Subulus Salam II.
hal. 588
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, PT. Raja
Grafindo Persada, 2004.
Ahmad Husnan, Zakat menurut Sunnah dan Zakat Model Baru,(
Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 1996)
Ahmad Muhammad Al Assal dan Fathi Ahmad abdul karim.. Syistem,
Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam,
Cet. I, Terj. H. Imam
Saefudin, Bandung ; Pustaka Setia, Tahun. 1999
Ahmad Muhammad Al Assal dan Fathi Ahmad abdul karim.. Syistem,
Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam,
Cet. I, Terj. H. Imam
Saefudin, Bandung ; Pustaka Setia, Tahun. 1999
Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2008. Buku ini semula adalah tesis penulis
pada program Magister Syariah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatulloh
Jakarta
kemudian
dikembangkan
dan
dipublikasikan dalam bentuk buku ini.
Didin Hafidhuddin dan Heri Tanjung. 2003. Manajemen Syariah Dalam
Praktek Jakarta: Gema Insani Press.
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Cet. II. Gema
Insani Press, Jakarta.
18

Eri Sadewo.2004. Manajemen Zakat Tanggalkan 15 Tradisi, Terapkan


4 prinsip Dasar Ciputat; Institut Manajemen Zakat.
Fakhruddin, Fiqih dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Malang: UINMalang Press, 2008), cet.1.
Imam Asy-Syaukani, Nailul AutharJuz III, Darul Kalam Ath-Thayib,
Damaskus.tahun 1999.
M.

Ali

Hasan,

Masail

Fiqhiyah,

(Jakarta:

PT

Raja

Grafindo

Persada,2003)
Mukhtar Sadili, amru (ed).2003.Problematika Zakat Kontemporer:
Artikulasi Proses Sosial Politik Bangsa.Jakarta: Forum Zakat.
hal. 45
Nasution, et al, Indonesia Zakat and Development Report 2009.
(Depok: CID, 2008),
Nurul Huda dan Mohammad Heykal, Lembaga Keuangan Islam:
Tinjauan Teoritis dan Praktis, Jakarta, Kencana, 2010
Sudirman, Zakat Dalam Pusaran Modernitas, Malang, UIN-Malang
Press, 2007.
Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 3
cetakan ke 2 (Jakarta: Balai Pustaka, 2002) .
Wibowo, Manajemen Perubahan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2006)
Yusuf al- Qardhawi. 1991. Hukum Zakat, (terjemahan) , Jakarta;
Lentera Antar Nusa.
Yusuf Qardhawi 2001, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian
Islam, Jakarta; Robbani Press.

19

20