Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

AGUSTUS 2016

PNEUMONIA BERAT

Disusun Oleh :
WINDY MENTARI
N 111 14 026

Pembimbing : dr. Indah P. Kiay Demak, M.Med

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Pneumonia adalah pembunuh anak paling utama yang terlupakan. Pneumonia
merupakan penyebab kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan total kematian
akibat AIDS, malaria dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak meninggal
karena pneumonia, berarti 1 dari 5 balita meninggal di dunia. Di kawasan AsiaPasifik diperkirakan sebanyak 860.000 balita meninggal setiap tahunnya atau sekitar
98 anak meninggal setiap jam. Di negara berkembang 60% kasus pneumonia
disebabkan oleh bakteri, menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia menduduki
tempat ke-2 sebagai penyebab kematian bayi dan balita setelah diare dan menduduki
tempat ke-3 sebagai penyebab kematian pada neonatus. Sedangkan SKRT 2004
proporsi kematian Balita karena pneumonia menempati urutan pertama sementara di
negara maju umumnya disebabkan oleh virus.1
Di Indonesia, angka kematian pneumonia pada balita diperkirakan mencapai
18,81%. Pada tahun 2008 menunjukkan angka kesakitan pneumonia pada bayi di
Indonesia 2,1% dan balita 3%. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga
menunjukkan prevalensi penumonia yang tinggi, antara lain Nusa Tenggara Barat,
Gorontalo, Sumatera Barat dan Jawa Barat. Angka kematian pneumonia pada bayi
29,8% dan balita 15,5%.2
Berdasarkan bukti bahwa faktor risiko pneumonia adalah kurangnya
pemberian ASI eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan (indoor air
pollution), BBLR, kepadatan penduduk dan kurangnya imunisasi campak. Kematian
Balita karena Pneumonia mencakup 19% dari seluruh kematian Balita dimana sekitar
70% terjadi di Sub Sahara Afrika dan Asia Tenggara. Walaupun data yang tersedia
terbatas, studi terkini masih menunjukkan Streptococcus pneumonia, Haemophilus
influenza dan Respiratory Synctial Virus sebagai penyebab utama pneumonia pada
anak.2

Berdasarkan profil Puskesmas Mabelopura pada tahun 2015 ditemukan bahwa


pola penyakit utama yang menyerang bayi yang datang berobat adalah infeksi akut
lain pada saluran pernafasan atas (402 kasus atau 39,68%), penyakit lain pada saluran
pernafasan bagian atas (247 kasus atau 24,38%), tonsilitis (164 kasus atau 16,20%),
pneumonia (125 kasus atau 12,43%)3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru dan menyebabkan peradangan pada paru-paru diserta
eksudasi dan konsolidasi jaringan, sedangkan bronkus adalah saluran udara yang
membawa dari saluran pernapasan atas dan sampai ke segmen paru, jadi
bronkopneumonia adalah peradangan paru yang biasanya terjadi di bronkhioli
terminal. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi :
1) Pneumonia lobaris
2) Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
3) Bronkopneumonia
Perbedaan anatomik antara pneumonia lobaris dan bronkopneumonia tidak
terlalu jelas karena banyaknya organisme yang menyebabkan kedua pola distribusi

kedua penyakit ini, sehingga dengan gambaran radiologis bronkopneumonia dapat


dibedakan dari pneumonia lobaris. Oleh karena itu, pneumonia sebaiknya
diklasifikasikan berdasarkan etiologi yang spesifik, maupun dengan mengisolasi
patogen penyebab infeksi berdasarkan kondisi klinis yang muncul.4
2.2 EPIDEMIOLOGI
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa pneumonia
merupakan penyakit yang menjadi masalah diberbagai negara, terutama di negara
maju adalah sebanyak 2-4 kasus/100 anak/tahun, sedangkan di negara berkembang
10-20 kasus/100 anak/tahun. Pneumonia menyebebabkan lebih dari 5 juta kematian
pertahun pada anak balita di negara berkembang.5
Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumococcus
dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih dari
80%, sedangkan pada anak ditemukan tipe 1, 6, 9 dan 14. Angka kejadian tertinggi
ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan berkurang seiring dengan meningkatnya
umur,. Bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.1,2
2.3 ETIOLOGI
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri)
dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi, dan lain-lain). Pada
pneumonia, penyebab tersering adalah bakteri, namun seringkali diawali oleh infeksi
virus yang kemudian mengalami komplikasi infeksi bakteri. Pola kuman penyebab
pneumonia biasanya berbeda sesuai dengan distribusi umur pasien. Secara umum
bakteri yang paling berperan penting dalam pneumonia adalah Streptococcus
pneumoniae, haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, streptokokus grup B,
serta kuman atipik klamidia dan mikoplasma. Beberapa keadaan seperti gangguan
nutrisi (malnutrisi), usia muda, kelengkapan imunisasi, kepadatan hunian, defisiensi
vitamin A, defisiensi Zinc (Zn), dan faktor lingkungan (polusi udara) merupakan
faktor risiko untuk IRBA. Pada keadaan malnutrisi selain terjadinya penurunan

imunitas seluler, defisiensi Zn merupakan hal utama sebagai faktor risiko pneumonia.
Penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian vitamin A pada anak dapat
menurunkan risiko kematian karena pneumonia. Kejadian IRBA meningkat pada
anak dengan riwayat merokok atau perokok pasif.6
2.4 PATOGENESIS
Pneumococcus yang masuk ke dalam paru melalui jalan pernapasan karena
percikan (droplet). Proses peradangan pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu :
1) Stadium kongesti : kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus
terdapat eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa ditemukan
neutrofil dan makrofag.
2) Stadium hepatisasi merah : lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan
tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perbaan seperti
hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit neutrofil dan banyak sekali
eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.
3) Stadium hepatisasi kelabu : lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi
pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus
terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis Pneumococcus. Kapiler
tidak lagi kongestif.
4) Stadium resolusi : eksudat berkurang dan degenerasi lemak. Fibrin diresorbsi
dan menghilang
Secara patologi anatomis bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris
dalam hal lokalisasi sebagai bercak-bercak dengan distribusi yang tidak teratur.
Dengan pengobatan antibiotika urutan stadium khas ini tidak terlihat.5,6
2.5 FAKTOR RESIKO
a. Faktor risiko yang terjadi pada balita
Salah satu faktor yang berpengaruh pada timbulnya pneumonia dan berat
ringannya penyakit adalah daya tahan tubuh balita. Daya tahan tubuh tersebut
dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

a. Status gizi
Keadaan gizi adalah faktor yang sangat penting bagi timbulnya
pneumonia. Tingkat pertumbuhan fisik dan kemampuan imunologik
seseorang dapat dipengaruhi adanya persediaan gizi dalam tubuh dan
kekurangan zat gizi akan meningkatkan kerentanan dan beratnya infeksi
suatu penyakit seperti pneumonia.
b. Status imunisasi
Kekebalan dapat dibawa secara bawaan, keadaan ini dapat dijumpai
pada balita umur 5-9 bulan dengan adanya kekebalan ini balita terhindar
dari penyakit. Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat sementara,
maka diperlukan imunisasi untuk tetap mempertahankan kekebalan yang
ada pada balita. Salah satu strategi pencegahan untuk mengurangi kesakitan
dan kematian akibat pneumonia adalah dengan pemberian imunisasi.
Melalui imunisasi diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan
kematian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
c. Pemberian ASI (Air Susu Ibu)
ASI yang diberikan pada bayi hingga usia 6 bulan selain sebagai bahan
makanan bayi juga berfungsi sebagai pelindung dari penyakit dan infeksi,
karena dapat mencegah pneumonia oleh bakteri dan virus. Riwayat
pemberian ASI yang buruk menjadi salah satu faktor risiko yang dapat
meningkatkan kejadian pneumonia pada balita
d. Umur Anak
Umur merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian
pneumonia. Risiko untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak dengan
usia dibawah 2 tahun dibandingkan yang lebih tua dikarenakan status
kerentanan anak di bawah 2 tahun belum semourna dan lumen saluran napas
yang masih sempit.
b. Faktor Lingkungan
6

Lingkungan khususnya perumahan sangat berpengaruh pada peningkatan


risiko terjadinya pneumonia. Perumahan yang padat dan sempit, kotor dan tidak
mempunyai sarana air bersih menyebabkan balita sering berhubungan dengan
berbagai kuman penyakit menular dan terinfeksi oleh berbagai kuman yang
berasal dari tempat yang kotor tersebut, yang berpengaruh adalah :
1. Ventilasi
Ventilasi berguna untuk penyediaan udara ke dalam dan pengeluaran
udara kotor dari ruangan yang tertutup. Termasuk ventilasi adalah jendela dan
penghawaan dengan persyaratan minimal 10% dari luas lantai. Kurangnya
ventilasi akan menyebabkan naiknya kelembaban udara. Kelembaban yang
tinggi merupakan media untuk berkembangnya bakteri terutama bakteri
patogen.
2. Polusi udara
Pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah umumnya disebabkan
oleh polusi di dalam dapur. Asap dari bahan bakar kayu merupakan faktor
risiko terhadap kejadian pneumonia pada balita. Polusi udara di dalam rumah
juga dapat disebabkan oleh karena asap rokok, kompor gas, alat pemanas
ruangan dan juga akibat pembakaran yang tidak sempurna dari dan kendaraan
bermotor.
2.6 MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada beratringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:
-

Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan

nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare.


Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak nafas, retraksi dada, takipnea,
nafas cuping hidung, air hunger, merintih dan sianosis.1

Klasifikasi bayi muda umur kurang dari 2 bulan5


Gejala
-

Klasifikasi
Tidak mau minum atau memuntahkan Penyakit sangat berat atau infeksi

bakteri berat
semua atau
Riwayat kejang atau
Bergerak hanya jika dirangsang atau
Nafas cepat (60 kali/menit) atau
Nafas lambat (<30 kali/menit) atau
Tarikan dinding dada ke dalam yang

sangat kuat atau


Merintih atau
Demam 37,5oC atau
Hiptermia berat < 35,5oC atau
Nanah yang banyak di mata atau
Pusar kemerahan meluas ke dinding

perut
Pustul kulit atau
Mata bernanah atau
Pusar kemerahan atau bernanah
Tidak terdapat salah satu tanda di atas

Infeksi bakteri lokal


Mungkin bukan infeksi

2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis pneumonia yang terbaik adalah berdasarkan etiologi, yaitu dengan
pemeriksaan mikrobiologik. Sayangnya pemeriksaan ini banyak sekali kendalanya,
baik dari segi teknis maupun biaya. Bahkan dalam penelitianpun kuman penyebab
spesifik hanya dapat diidentifikasi pada kurang dari 50% kasus. Dengan demikian
diagnosis pneumonia terutama berdasarkan manifestasi klinis, dibantu pemeriksaan
penunjang lain. Tanpa pemeriksaan mikrobiologik, kesulitan yang lebih besar adalah
membedakan kuman penyebab; bakteri, virus, atau kuman lain. Pneumonia bakterial
lebih sering mengenai bayi dan balita dibanding anak yang lebih besar. Pneumonia
bakterial biasanya timbul mendadak, pasien tampak toksik, demam tinggi disertai
menggigil, dan sesak memburuk dengan cepat. Pneumonia viral biasanya timbul
perlahan, pasien tidak tampak sakit berat, demam tidak tinggi, gejala batuk dan sesak
8

bertambah secara bertahap. Infeksi virus biasanya melibatkan banyak organ


bermukosa (mata, mulut, tenggorok, usus). Semakin banyak organ tersebut terlibat
makin besar kemungkinan virus sebagai penyebabnya. Pneumonia bakterial bersifat
khas yaitu hanya organ paru yang terkena. 2,3

Pemeriksaan
Anamnesis :
- Umur
- Awitan
- Sakit serumah
- Batuk
- Gejala penyerta

Bakteri
Berapapun, bayi

Virus
Berapapun perlahan ya,

Mikoplasma
Usia sekolah tidak

mendadak tidak

bersamaan non

nyata ya, berselang

produktif toksik

produktif, mialgia,

kering, nyeri kepala,

ruam, organ bermukosa

otot, tenggorok

Fisis :
- Keadaan umum
- Demam
- Auskultasi

Klinis > temuan

Klinis temuan

Klinis < temuan

umumnya 39oC,

umumnya <39oC,

umumnya < 39oC,

ronkhi kadang-kadang

ronkhi bilateral, difus,

ronkhi unilateral,

tidak terdengar suara

mengi

mengi

napas melemah
Akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas pneumonia pada balita,
maka dalam upaya penanggulangannya, WHO mengembangkan pedoman diagnosis
dan tatalaksana sederhana. Pedoman ini ditujukan untuk Pelayanan Kesehatan Primer
dan sebagai pendidikan kesehatan untuk masyarakat di negara berkembang.
Tujuannya ialah menyederhanakan kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinis yang
dapat langsung di deteksi; menetapkan klasifikasi penyakit, dan menentukan dasar
pemakaian berbagai tanda bahaya agar anak dirujuk ke pelayanan kesehatan. Napas
cepat dinilai dengan menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh ketika bayi
dalam keadaan tenang. Sesak napas dinilai denhan melihat adanya ntarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam ketika menarik napas (retraksi epigastrium). Tanda

bahaya pada anak berusia 2 bulan 5 tahun adalah tidak dapat minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk; tanda bahaya untuk bayi berusia di bawah
2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, mengi, dan
demam/badan terasa dingin.7
Klasifikasi pneumonia pada bayi dan anak usia 2 bulan sampai 5 tahun adalah
sebagai berikut:3,4
-

Pneumonia berat
o Bila ada sesak nafas
o Harus dirawat dan diberikan antibiotik
- Pneumonia
o Bila tidak ada sesak nafas
o Ada nafas cepat dengan laju nafas:
50 kali/menit untuk anak usia 2 bulan sampai 1 tahun.
> 40 kali/menit untuk anak usia >1 tahun sampai 5 tahun.
o Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
-

Bukan pneumonia
o Bila tidak ada nafas cepat dan sesak nafas
o Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan
simtomatis seperti penurun panas.

Klasifikasi pneumonia bayi berusia dibawah usia 2 bulan adalah sebagai berikut:
-

Pneumonia
o Bila ada nafas cepat atau sesak nafas.
o Harus dirawat dan diberikan antibiotik.
- Bukan pneumonia
o Tidak ada nafas cepat atau sesak nafas.
o Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis.
2.8 PENATALAKSANAAN
Pasien pneumonia mempunyai indikasi untuk perawatan di rumah sakit. Sesak
yang terjadi harus ditangani dengan segera. Pneumonia pada bayi di bawah 2 bulan
biasanya menunjukkan gejala yang cukup berat. Tata laksana pasien meliputi terapi

10

suportif dan terapi etiologik. Terapi suportif berupa pemberian makanan atau cairan
sesuai kebutuhan serta koreksi asam-basa dan elektrolit sesuai kebutuhan. Terapi
oksigen diberikan secara rutin. Jika penyakitnya berat dan sarana tersedia, alat bantu
napas mungkin diperlukan terutama dalam 24-48 jam pertama. Bagian yang sangat
penting dari tata laksana pneumonia adalah pemberian antibiotik. Idealnya tata
laksana pneumonia sesuai dengan kuman penyebabnya. Namun karena berbagai
kendala diagnostik etiologi, untuk semua pasien pneumonia diberikan antibiotik
secara empiris. Pneumonia viral seharusnya tidak diberikan antibiotik, namun pasien
dapat diberi antibiotik apabila terdapat kesulitan membedakan infeksi virus dengan
bakteri; di samping kemungkinan infeksi bakteri sekunder tidak dapat disingkirkan.
Streptokokus dan pneumokokus sebagai kuman Gram positif dapat dicakup oleh
ampisilin, sedangkan hemofilus suatu kuman gram negatif dapat dicakup oleh
kloramfenikol. Dengan demikian keduanya dapat dipakai sebagai antibiotik lini
pertama untuk pneumonia anak tanpa komplikasi. Secara umum pengobatan
antibiotik untuk pneumonia diberikan dalam 5-10 hari, namun dapat sampai 14 hari.
Pedoman lain pemberian antibiotik sampai 2-3 hari bebas demam. Pada pasien
pneumonia community acquired, umumnya ampisilin dan kloramfenikol masih
sensitif. Pilihan berikutnya adalah obat golongan sefalosporin atau makrolid.
Mengenai penggunaan makrolid pada pneumonia telah banyak dilaporkan.
Penggunaan azitromisin dan klaritromisin pada IRBA sama efektifnya dengan
pemberian co-amoksiklav. Pemberian azitromisin tolerabilitasnya cukup baik serta
efek sampingnya minimal bila dibandingkan dengan co-amoksiklav. Pemberian
azitromisin sekali sehari selama 3 hari efektifitasnya setara dengan pemberian coamoksiklav selama 10 hari. Penggunaan klaritromisin secara multisenter pada
pneumonia mendapatkan hasil yang cukup baik dalam hal efektifitas dan efek
sampingnya. Efek samping gangguan gastrointestinal seperti mual, nyeri abdomen
didapatkan pada sebagian kecil pasien yang tidak berbeda bermakna dengan
antibiotik lain.7

11

Acuan yang mudah untuk mengenal tanda bahaya pada anak dapat dilakukan
berdasarkan buku Manajemen Terpadu Balita Sakit, khususnya dalam hal ini dengan
gejala batuk pada anak.

BAB III
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
12

II.

Nama Pasien

: An. Zafran

Umur

: 5 bulan

Tanggal lahir

: 02 Februari 2016

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl. Basuki Rahmat, Lrg. Zoya

Tanggal Pemeriksaan

: Agustus 2016

HETEROANAMNESIS
Keluhan utama: Sesak
Riwayat Penyakit Sekarang:
Sesak dialami sejak 1 hari sebelum ke puskesmas. Saat sesak bibir dan kulit tidak
berubah menjadi kebiruan. Saat sesak pasien menjadi rewel dan akan sedikit
membaik jika di gendok. Sesak disertai batuk yang di alami sejak 1 minggu yang
lalu, dengan lendir berwarna putih. Batuk berlangsung sepanjang hari. Batuk
disertai flu. Batuk memberat sejak pasien dicekok dengan daun pariya dan
tersedak. Demam (+) 2 hari sebelum ke puskesmas, kejang (-), mimisan (-), gusi
berdarah (-), muntah (-). Buang air besar biasa warna kuning coklat, konsistensi
padat. Buang air kecil biasa.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini

Riwayat Penyakit Keluarga:


a. Di keluarga pasien terdapat 3 orang dewasa mengalami batuk dan flu sejak 1
minggu. Tidak ada orang dewasa yang batuk 6 bulan di rumah pasien
b. Ibu pasien alergi terhadap makanan laut

13

Riwayat kebiasaan dan lingkungan :


- Tidak ada yang merokok di lingkungan keluarga
- Di rumah menggunakan obat nyamuk bakar
- Saat malam hari, jendela di kamar pasien dibuka lebar karena pasien sulit
tidur jika kepanasan.
- Pasien menyangkal ada kontak dengan orang dewasa yang batuk 6 bulan.
Riwayat pengobatan:
Tidak pernah berobat sebelumnya
Riwayat sosial, ekonomi dan lingkungan:
a. Pasien merupakan anak pertama
b. Keluarga pasien merupakan keluarga ekonomi menengah
c. Sumber air bersih keluarga dari PDAM.
d. Air minum dari gallon yang di beli
e. Keluarga pasien memiliki fasilitas MCK di rumahnya.
f. Untuk memasak, keluarga pasien menggunakan kompor gas.
g. Ventilasi udara rumah pasien baik namun berdebu, lantai tegel hingga ruang
menonton dan di plafon. Pada bagian dapur lantai semen kasar. tidak ada
plafon, dinding tembok
Riwayat kehamilan dan persalinan:
Pasien merupakan anak pertama. Lahir dengan persalinan normal. Berat
badan bayi lahir adalah 2900 gram. Panjang bayi baru lahir adalah 48 cm. Saat
hamil, ibu pasien melakukan antenatal care secara teratur dan tidak pernah
mengalami sakit selama hamil.
Anamnesis makanan:
ASI tidak lagi eksklusif, karena usia 3 bulan pasien pernah diberi susu formula.
14

Riwayat imunisasi
o
o
o
o
o

Hepatitis B
Polio
BCG
DPT 2
Hib 2

III. PEMERIKSAAN FISIK


a.
b.
c.
d.
e.

Keadaan umum
Kesadaran
Berat badan
Panjang badan
Status gizi

: Sakit sedang.
: Compos mentis.
: 10 kg.
: 72 cm.
: Baik (Z score -1 sampai -2 SD)

Tanda vital:
a. Denyut nadi : 100 kali/menit.
b. Suhu
: 39 o C.
c. Respirasi
: 50 kali/menit.
Status Generalis
Kepala Leher:
Kepala

: Normocephale, deformitas (-)

Rambut

: Hitam, lurus

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Telinga

: Liang telinga normal, ottorhea (-)

Hidung

: Deformitas (-), sekret (+), Pernapasan cuping hidung (+)

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Paru-paru:
Inspeksi

: inspeksi pergerakan dinding dada simetris bilateral, retraksi


dinding dada substernal (+), ekspansi dada simetris bilateral
15

Palpasi

: palpasi vokal fremitus meningkat

Perkusi

: redup kedua lapang paru

Auskultasi

: ronki (+/+), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: iktus kordis tidak tampak

Palpasi

: iktus kordis teraba pada ICS V linea midclavicula sinistra

Perkusi

: pekak
- Batas jantung atas

: SIC II linea parasternal dextra

- Batas jantung kanan

: SIC V linea parasternal dextra

- Batas jantung kiri

: SIC V linea midclavicula

sinistra
Auskultasi

: bunyi jantung S1/S2 murni reguler, murmur (-)

Abdomen:
Inspeksi

: bentuk simetris, permukaan datar

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani pada seluruh lapang abdomen

Palpasi

: pembesaran organ (-)

d. PEMERIKSAAN PENUNJANG
(Tidak dilakukan)
Skoring Tuberkulosis Anak

16

Untuk skoring TB pada pasien hanya ditegakkan dari heteroanamnesa dan klinis.
Skoring Tuberkulosis pada pasien adalah 0
Parameter
e.

Kontak TB
Berat badan (status gizi)
Demam yang tidak diketahui penyebabnya
Batuk kronik
Pembesaran kelenjar limfe
Pembengkakan tulang/sendi

: Tidak jelas (0)


: Gizi baik (0)
: Demam 2 hari (0)
: Batuk 1 minggu (0)
: Tidak ada (0)
: Tidak ada (0)

RESUME
Anak laki-laki berusia 5 bulan batuk sesak sejak sehari sebelum dibawa ke
puskesmas. Sesak disertai batuk berdahak di alami sejak 1 minggu yang lalu,
dengan lendir berwarna putih. Batuk disertai flu. Sebelumnya pasien diceko
dengan daun pariya kemudian tersedak. Sejak saat itu batuk dan flu menjadi lebih

17

parah. Demam (+) sejak 2 hari. Di keluarga pasien terdapat 3 orang dewasa
mengalami batuk dan flu, ibu alergi makanan laut, jendela kamar selalu dibuka
pada malam hari dan di rumah pasien biasanya masih menggunakan obat nyamuk
bakar.
Hasil pemeriksaan fisik yaitu keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos
mentis, berat badan 10 kg, panjang badan 72 cm, status gizi baik (Z score -1
sampai -2 SD). Tanda vital denyut nadi 100 kali/menit, suhu 39 C, respirasi 50
kali/menit. Pernapasan cuping hidung (+). Paru-paru: inspeksi pergerakan
dinding dada simetris bilateral, retraksi dinding dada substernal (+); palpasi
vokal fremitus simetris bilateral, ekspansi dada simetris bilateral; perkusi sonor;
auskultasi ronki (+/+), wheezing (-/-).
f.

DIAGNOSIS KERJA
Pneumonia Berat

g.

DIAGNOSIS BANDING
-

h.

Tuberkulosis
Asma Bronkhial
Bronkiolitis
PENATALAKSANAAN
Pasien diberikan O2
Pemberian Medikamentosa
Paracetamol syrup 100-150 mg/kali
Amoxicillin syrup 300 500 mg/hari;
Edukasi:
Penyakit yang diderita adalah batuk kronis yakni pneumonia

18

Menjelaskan kepada ibu pasien mengenai gejala-gejala pada penyakit


pneumonia, cara penularannya dan faktor risiko yang ada pada pasien
Menjelaskan kepada ibu pasien untuk menjauhkan anak dari asap rokok,
asap pembakaran dan warga yang batuk
Menjaga kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela
setiap hari pagi dan siang hari.
Menjelaskan kepada ibu pasien untuk memberikan ASI sesuai
kebutuhan anak dan lebih sering
Menyiapkan obat penurun demam dan mengajari ibu mengenal tanda
bahaya pada anak untuk melakukan tindakan yang tepat. Dengan tandatanda sebagai berikut :

i.

Gerakan bayi berkurang atau tidak normal.


Napas cepat
Sesak napas
Perubahan warna kulit (kebiruan, kuning)
Malas / tidak bisa menyusu atau minum
Badan teraba dingin atau panas
Kulit bertambah kuning
Bertambah parah.

PROGNOSIS
Dubia ad bonam

j.

ANJURAN
Rujuk Rumah Sakit
Melakukan pemeriksaan darah, foto thoraks

19

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien adalah

seorang anak berusia 5 bulan yang menurut ibu, anak

mengalami batuk sejak 1 minggu yang lalu, dengan lendir berwarna putih.. Batuk
disertai flu. Sebelumnya pasien dicekok oleh neneknya dengan daun pariya kemudian
sempat tersedak. Sejak saat itu batuk dan flu menjadi lebih parah. Demam (+) sejak 2
hari Di keluarga pasien terdapat 3 orang dewasa mengalami batuk dan flu
Hasil pemeriksaan fisik yaitu keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos
mentis, berat badan 10 kg, panjang badan 72 cm, status gizi baik (Z score -1 sampai
-2 SD). Tanda vital denyut nadi 100 kali/menit, suhu 38 C, respirasi 50 kali/menit.
20

Pernapasan cuping hidung (+). Paru-paru: inspeksi pergerakan dinding dada simetris
bilateral, retraksi dinding dada substernal (+); palpasi vokal fremitus melemah &
simetris bilateral, ekspansi dada simetris bilateral; perkusi sonor; auskultasi ronki (+/
+), wheezing (-/-). Dari anamnesa dan hasil pemeriksaan fisik berdasarkan MTBS
maka pasien masuk ke dalam kelompok Pneumonia Berat.
Pada anak, penyebab tersering batuk kronik adalah asma, IRA
(infeksi respiratorik akut) berulang baik atas atau bawah, serta RGE.
Penyebab yang lebih jarang adalah anomali kongenital, aspirasi
kronik berulang, atau pajanan dengan polutan lingkungan termasuk
asap rokok. Penyakit yang sama bisa memberi gejala yang berbeda
antara anak dengan dewasa. Sebaliknya gejala yang sama bisa
mengarah ke penyakit yang berbeda. Pada kasus ini, pasien di
diagnosis dengan bronkopneumonia. Dengan melihat manifestasi
klinis yang ada dan dengan mengukuti acuan diagnosis WHO.
Faktor resiko yang ditemukan pada pasien ini adalah fakor umur pasien < 2
tahun dan faktor lingkungan yakni terdapat 3 orang dewasa di dalam rumah yang
sedang batuk dan flu, ventilasi rumah yang berdebu dan ada riwayat tersedak.
Risiko untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak dengan usia dibawah 2
tahun dibandingkan yang lebih tua dikarenakan status kerentanan anak di bawah 2
tahun belum sempurna dan lumen saluran napas yang masih sempit. Pasien tersedak
karena kepercayaan dari nenek pasien untuk mengeluarkan lendir diceko dengan daun
pariya. Hal yang dikhawatirkan adalah aspirasi ke paru-paru. Setelah dicekok pasien
tersedak lalu gejala batuk berlendir nya makin bertambah parah. Tatalaksana
berdasarkan manajemen terpadu balita sakit

21

DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization & The United Nations Childrens Emergency
Fund. 2009. Global Action Plan For Prevention and Control of Pneumonia
(GAPP). WHO (Geneva).
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Pedoman Pengendalian
Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta : Kementerian RI.
3. UPTD Puskesmas Birobuli. 2015. Profil Kesehatan Puskesmas Mabelopura.
Depkes RI : Palu.
4. V. Kumar., R.S, Cotran., S. L, Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Robins,
Edisi 7, Vol.2. EGC : Jakarta.
5. Rahajoe, N.N., Supriyatno, B., Setyanto, D. B. 2013. Buku Ajar Respirologi
Anak Edisi Pertama. Jakarta ; Ikatan Dokter Anak Indonesia.
6. Tim Adaptasi Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
Jakarta : WHO Indonesia.
7. Bambang Supriyatno. Infeksi Respiratorik Bawah Akut pada Anak. Sari
Pediatri, Vol.8, No.2, September 2006.

22

8. B Setyanto, Dermawan. Batuk Kronik pada Anak : masalah dan tatalaksana.


Sari Pediatri, Vol.6, No.2. September 2004.
9. Departemen Kesehatan RI. 2008. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita
Sakit. Jakarta : Depkes RI.

LAMPIRAN

23

Gambar 1.Rumah Pasien (tampak depan)

Gambar 2. Ruang Tamu (Plafon dan ventilasi

24

Gambar 3. Kamar Tidur Pasien

Gambar 4. Ventilasi Rumah (Berdebu)

25