Anda di halaman 1dari 9

Nama

Kelas
B. Study

: HERTI SIMANJUNTAK
: X-TKJ-1
: K3LH

REVOLUSI INDUSTRI
A. SEJARAH REVOLUSI INDUSTRI
Revolusi Industri, yang berlangsung dari abad 18 ke abad ke-19, adalah periode di mana
mayoritas pertanian, masyarakat yang tinggal di pedesaan di Eropa dan Amerika beralih menjadi
industri dan perkotaan. Sejarah Revolusi Industri dimulai di Inggris pada akhir 1700-an.
Industrialisasi ini membawa dampak terhadap meningkatnya taraf hidup bagi sebagian
masyarakat, namun disisi lain juga mengakibatkan kondisi kehidupan masyarakat kelas miskin
dan pekerja semakin suram.
Lahirnya Revolusi Industri di Inggris
Sebelum munculnya Revolusi Industri, kebanyakan masyarakat yang tinggal di pedesaan
mereka sehari-hari bekerja dibidang pertanian. Kondisi hidup bagi kebanyakan orang sulit,
karena pendapatan yang tidak mencukupi, dan kekurangan gizi dan penyakit. Sebagian besar
pendapatan mereka hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah faktor ikut berkontribusi menjadikan Inggris sebagai tempat kelahiran Revolusi
Industri. Keberadaan tambang batubara dan bijih besi, terbukti penting untuk industrialisasi.
Selain itu, secara umum masyarakat Inggris adalah masyarakat yang stabil secara politik, serta
menjadi kekuatan kolonial terkemuka di dunia, yang berarti koloninya bisa berfungsi sebagai
sumber bahan baku, serta pasar untuk barang-barang manufaktur.
Karena permintaan untuk barang dari Inggris meningkat, diperlukan metode pedagangan
yang lebih efektif dari segi biaya produksi, itulah yang menyebabkan munculnya mekanisasi dan
sistem pabrik.
Inovasi dan Industrialisasi
Industri tekstil berubah oleh adanya industrialisasi. Sebelum adanya mekanisasi dan
pabrik, tekstil dibuat terutama di rumah-rumah penduduk (sehingga timbuk adanya industri
rumahan), dengan pedagang sering menyediakan bahan baku dan dasar, dan kemudian
menjadikannya produk jadi. Pekerja mengatur jadwal mereka sendiri di bawah sistem ini, yang
terbukti sulit bagi pedagang untuk mengatur dan mengakibatkan banyak inefisiensi.
Pada tahun 1700-an, serangkaian inovasi menyebabkan semakin meningkat produktivitas,
sementara disisi lain membutuhkan sedikit energi manusia. Misalnya, sekitar tahun 1764,
seseorang berkebangsaan Inggris bernama James Hargreaves (1722-1778) menemukan pemintal
jenny ( jenny adalah singkatan awal kata mesin), sebuah mesin yang memungkinkan
seseorang untuk menghasilkan beberapa gulungan benang secara bersamaan.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN K3 DI INDONESIA
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan
sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik
jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan
konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko
kecelakaan di lingkungan kerja. Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang
lebih tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis
kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut
maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang
selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral
dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundanganundangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya

yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai
menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.
Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang
ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air,
di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari
perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian,
penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi
yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan, sumber daya manusia
K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk memberdayakan
lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan
mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan baik
C. KESIMPULAN HUBUNGAN REVOLUSI INDUSTRI DENGAN
PERKEMBANGAN K3
Pada akhir tahun 1700an, sistem pabrik memperkenalkan pekerja bahaya baru dan tidak
diketahui. Perusahaan tekstil dijalankan dengan mesin pintal, gulungan kapas dan tumpukan
benang, bersama dengan resiko yang berhubungan dengan mesin, kebisingan dan debu.
Manajemen diperhadapkan dengan keuntungan dan kerugian. Kematian dan cidera diterima
sebagai bagian dari bidang industri. Sekarang, mungkin rasa sakit dan kesakitan mungkin
diperhatikan sebagai norma dan diterima dalam beberapa pekerjaan industri. Kemudian
manajemen keselamatan dan kesehatan, tidak dipertimbangkan atau diperlukan. Buruh sangat
banyak dan pekerja senang dengan hanya memperoleh pekerjaan.
Pada awal tahun 1800an, Revolusi Industri melanda Amerika Serikat, menekankan
pngurangan biaya, dan tenaga kerja menjadi makin banyak dengan buruh imigran dan buruh
anak-anak. Undang-undang yang umum pada saat itu menguntungkan para pengusaha dan
manajer, dan nyatanya tidak ada kompensasi untuk penyakit atau cidera serta tidak ada standard
yang disetujui untuk keselamatan tempat kerja. Namun demikian, ketika cidera semakin
meningkat, usaha pertama terhadap kompensasi dimulai di Massachusetts dengan Employers
Liability Law pada tahun 1887. Namun demikian pada banyak kasus, usaha kompensasi ditolak
dengan berbagai alasan legal jika pengusaha dapat menunjukkan bahwa pekerja lalai atau
memberikan kontribusi terhadap penyebab kecelakaan.
Abad duapuluh merupakan awal perhatian keselamatan kerja pada arena politik. Pada
tahun 1908, Theodore Roosevelt mengatakan : Jumlah kecelakaan yang menyebabkan
kematian pekerja . semakin meningkat. Dalam beberapa tahun, ini meningkat dengan cepat
dengan menyebabkan kematian yang lebih besar daripada perang besar. Ini diikuti dengan
penetapan persyaratan Workers Compensation secara federal serta di seluruh negara bagian. Pada
saat yang sama, standard-standard keselamatan mengenai pelindung mesin dan perusahaan baja
serta rel kereta api memulai apa yang kita kenal sekarang sebagai program manajemen
keselamatan kerja. Kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist yang terkenal pada tahun 1911, yang
menyebabkan kematian pekerja garmen sebanyak 146 orang, membantu untuk menggabungkan
usaha-usaha
ini.
National
Safety
Council
dibentuk
pada
saat
itu.
Sampai tahun 1931, sebagian besar dari usaha-usaha intervensi keselamatan dan kesehatan
diarahkan langsung untuk meningkatkan kondisi pabrik. Kemudian H.W. Heinrich menerbitkan
buku yang berjudul Industrial Accident Prevention. Dia mengusulkan konsep bahwa tindakantindakan orang lebih besar menyebabkan kecelakaan daripada kondisi tempat kerja. Dia kadangkadang disebut sebagai Bapak Safety Modern karena dia yang pertama mengusulkan prinsipprinsip keselamatan kerja yang terorganisasi.
Prinsip-prinsip ini revolusioner pada saat itu. Prinsip-prinsip ini mencakup konsep bahwa
kecelakaan disebabkan terutama karena unsafe acts dari pekerja, dan bahwa unsafe act yang

sama mungkin terjadi lebih dari 300 kali. Dia juga mengusulkan beberapa alasan mengapa
orang-orang bertindak unsafe, metodologi dasar untuk mencegah kecelakaan, serta mengusulkan
bahwa manajemen bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan kecelakaan kerja.

SAAT INI
Dalam tahun 1970, Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang bersejarah disahkan dan
menjadi undang-undang federal yang efektif pada tahun 1971. Ini diikuti dengan beberapa kejadian,
termasuk pembaharuan pada keselamatan kendaraan dengan buku Ralph Nader yang berjudul Unsafe at
Any Speed. Keselamatan dan kesehatan kerja menjadi elemen penting pada sebagian besar industri
manufakturing. Standard-standard telah dimulai dan manajemen telah mengetahui bahwa keuntungan
operasi secara langsung terpengaruh ketika pekerja mengalami lost time karena cidera yang disebabkan
kerja.
Beberapa orang akan membantah bahwa OSHA Act mengubah perhatian manajemen dari
pencegahan cidera menjadi mematuhi undang-undang. Namun demikian dengan maksud baik, regulasi
pertama keselamatan kerja diadopsi dari dokumen-dokumen lain yang ditetapkan oleh standard yang
dihasilkan berbagai organisasi. Dalam banyak kasus, standard-standard tersebut dimaksud untuk
digunakan sebagai panduan. Tanggung jawab penerapan dari panduan keselamatan kerja diganti dengan
perilaku bagaimana kita sesuai sampai beberapa tingkatan. Selain itu, karena undang-undang
difokuskan pada kondisi tempat kerja, mungkin akan menghambat perkembangan perangkat manajemen
keselamatan kerja berdasarkan intervensi perilaku. Pendekatan kondisi tempat kerja ini bertentangan
dengan prinsip yang diusulkan oleh Heinrich yang mengatakan bahwa sebagian besar kecelakaan
disebabkan oleh tindakan manusia.
Pada beberapa kejadian, Occupational Safety and Health Act, bersama dengan partner
penelitiannya, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dan komite penasehatnya
National Advisory Committee on Occupational Safety and Health (NACOSH), menciptakan perhatian
baru dan era baru dalam bidang keselamatan dan kesehatan. Undang-undang yang memberikan sanksi
terhadap ketidaksesuaian dengan persyaratan menyediakan tempat kerja yang bebas dari bahaya yang
diketahui cenderung berorientasi pada spesifikasi dan diberikan secara terperinci apa yang perlu
dilakukan. Banyak kesenangan yang dibuat sehubungan dengan persyaratan rancangan tempat duduk
toilet serta ketinggian letak alat pemadam kebakaran. Peraturan yang baru telah berubah berdasarkan
orientasi kinerja, yang dapat mendorong pengesahan alasan dan penerapan tanggung jawab terhadap
persyaratan. Suatu contoh mengenai pendekatan ini ditemukan dalam Standard Manajemen Keselamatan
Proses, yang mempersyaratkan penakaran resiko sekitar keselamatan pabrik kimia.
Sementara sebagian besar perusahaan besar telah mengikuti persyaratan OSHA Act dalam sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerjanya, perusahaan-perusahaan yang progresif telah bergerak
lebih maju daripada sekedar kepatuhan. Mereka mengetahui bahwa sekedar mematuhi peraturan safety
tidak cukup. Mereka mengetahui bahwa kondisi tempat kerja, yang menjadi fokus utama peraturan ini,
hanya satu aspek dari program yang dikelola secara baik. Peraturan mewakili kriteria minimal dan
pendekatan tingkat awal. Off-the-job safety programming oleh beberapa perusahaan mengambil pelajaran
dari tempat kerja ke dalam rumah dan keluarga para pekerja.
Teknologi keselamatan dan kesehatan sebagian besar telah berkembang menjadi ilmu yang
matang. Standard telah tersedia dan metodologi telah dikembangkan untuk keselamatan kerja mekanis,
penakaran resiko bahaya kimia, standard keselamatan listrik, standard perlindungan kebakaran, serta
standard perlengkapan pelindung perorangan. Teknologi-teknologi ini akan dibahas Bab-bab berikut.
Standard sekitar ergonomi tempat kerja menjadi bidang yang berkembang secara cepat. Walaupun awal
peraturan dalam bidang ini tidak sukses, sebagian besar perusahaan besar melihat keuntungan dari
program ergonomi sebagai bagian dari keseluruhan usaha keselamatan dan kesehatan mereka.

Beberapa orang mungkin membantah bahwa kinerja safety aktual telah tercampur karena
ditetapkannya OSHA. Statistik dari Bureau of Labor memperlihatkan bahwa tingkat cedera total yang
tercatat telah menurun secara perlahan selama 20 tahun terakhir dari 13.2 cidera dan penyakit per 100
pekerja menjadi 11.6 dalam sektor manufaktur. Cidera dan penyakit yang mengakibatkan lost working
time telah menurun pada periode yang sama dari 4.4 menjadi 2.9 persen. Namun demikian sangat sulit
dibantah bahwa kondisi tempat kerja aktual telah meningkat secara substansial dari awal industrialisasi.
Di dunia Barat, bahaya dari manufaktur berat telah berganti dengan bahaya lain yang tidak segera tampak.
Sebagai contoh, perusahaan manufaktur sekarang telah mengalami peningkatan cacat kronis sehubungan
dengan trauma kumulatif, penyakit kulit, dan penyakit saluran pernafasan. Beban dari cidera akut
sekarang telah muncul pada industri manufakturing di negara Dunia Ketiga. Selama waktu ini, satu dari
para penulis yang produktif dalam bidang keselamatan dan kesehatan adalah Dan Petersen. Dia menulis
sejumlah buku dan artikel mengenai manajemen keselamatan dan kesehatan. Dia mengembangkan teori
Heinrich. Dia mengemukakan lima prinsip keselamatan pada buku Techniques of Safety Management
yang diterbitkan pada tahun 1978, yang pertama adalah Unsafe act, unsafe condition dan kecelakaan
adalah gejala mengenai kesalahan dalam sistem manajemen. Bukunya Challenge of Change: Creating a
New Safety Culture pada tahun 1993, menggambarkan suatu proses untuk menciptakan perubahan dalam
sistem manajemen yang mendorong kinerja keselamatan yang diinginkan.

Istilah revolusi industri diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Friedrich Engels dan LouisAuguste Blanqui pada pertengahan abad ke-19. Tidak jelas penanggalan secara pasti tentang
kapan dimulainya revolusi industri. Tetapi T.S. Ashton mencatat permulaan revolusi industri
terjadi kira-kira antara tahun 1760-1830. Revolusi ini kemudian terus berkembang dan
mengalami puncaknya pada pertengahan abad ke-19 , sekitar tahun 1850, ketika kemajuan
teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan mesin tenaga-uap, rel,
dan kemudian di akhir abad tersebut berkembang mesin kombusi dalam serta mesin pembangkit
tenaga listrik.
Revolusi Industri terjadi pada pertengahan abad ke-18. Awalnya didahului oleh revolusi agraria.
Ada dua tahap revolusi agraria. Revolusi Agraria I adalah tahapan terjadinya perubahan
penggunaan tanah yang semula hanya untuk pertanian menjadi usaha pertanian, perkebunan, dan
peternakan yang terpadu. Revolusi Agraria II mengubah cara mengerjakan tanah yang semula
tradisional dengan penggunaan mesin-mesin atau mekanisasi. Revolusi Industri terjadi di Inggris
karena sebab-sebab berikut.
1. Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Glorius tahun 1688 yang mengharuskan raja
bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan
hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
2. Inggris kaya bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping
itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.
3. Adanya penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan
meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan
sebagainya.
4. Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat
menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga
tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan
yang menghasilkan bahan mentah tersebut.
5. Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak
paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya
lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan
teknologi dan industri bertambah maju.

6. Arus urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah
Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.
D. PROSES REVOLUSI INDUSTRI
Pada akhir abad Pertengahan kota-kota di Eropa berkembang sebagai pusat kerajinan dan
perdagangan. Warga kota (kaum Borjuis) yang merupakan warga berjiwa bebas menjadi tulang
punggung perekonomian kota. Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam
perekonomian. Pertumbuhan kerajinan menjadi industri melalui beberapa tahapan, seperti
berikut.
1. Domestic System
Tahap ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan rumah (home industri). Para pekerja
bekerja di rumah masing-masing dengan alat yang mereka miliki sendiri. Bahkan,
kerajinan diperoleh dari pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya.
Upah diperoleh berdasarkan jumlah barang yang dikerjakan. Dengan cara kerja yang
demikian, majikan yang memiliki usaha hanya membayar tenaga kerja atas dasar prestasi
atau hasil. Para majikan tidak direpotkan soal tempat kerja dan gaji.
2. Manufactur
Setelah kerajinan industri makin berkembang diperlukan tempat khusus untuk bekerja
agar majikan dapat mengawasi dengan baik cara mengerjakan dan mutu produksinya.
Sebuah manufactur (pabrik) dengan puluhan tenaga kerja didirikan dan biasanya berada
di bagian belakang rumah majikan. Rumah bagian tengah untuk tempat tinggal dan
bagian depan sebagai toko untuk menjual produknya. Hubungan majikan dengan pekerja
(buruh) lebih akrab karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih sedikit.
Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan pesanan.
Factory System
Tahap factory system sudah merupakan industri yang menggunakan mesin. Tempatnya di daerah
industri yang telah ditentukan, bisa di dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk untuk
tempat kerja, sedangkan majikan tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran
hasil industri diadakah di tempat lain. Jumlah tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah puluhan,
bahkan ratusan. Barang-barang produksinya untuk dipasarkan.
Adanya penemuan teknologi baru, besar peranannya dalam proses industrialisasi sebab teknologi
baru dapat mempermudah dan mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan
menghemat biaya. Penemuan-penemuan yang penting, antara lain sebagai berikut.
1. Kumparan terbang (flying shuttle) cipataan John Kay (1733). Dengan alat ini proses
pemintalan dapat berjalan secara cepat.
2. Mesin pemintal benang (spinning jenny) ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard
Arkwright (1769). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
3. Mesin tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund
Cartwight (1785). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
4. Cottongin, alat pemisah biji kapas dari serabutnya cipataan Whitney (1794). Dengan alat
ini maka kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.
5. Cap selinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan alat ini kain putih dapat dilukisi pola
kembang 200 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pola cap balok dengan tenaga
manusia.
6. Mesin uap, ciptaan James Watt (1769). Dari mesin uap ini dapat diciptakan berbagai
peralatan besar yang menakjubkan, seperti lokomotif ciptaan Richard Trevethiek (1804)

yang kemudian disempurnakan oleh George Stepenson menjadi kereta api penumpang.
Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap diciptakan olehRobert Fulton (1814).
Mesin uap merupakan inti dari Revolusi Industri sehingga James Watt sering dianggap sebagai
Bapak Revolusi Industri I'. Penemuan-penemuan baru selanjutnya, semakin lengkap dan
menyempurnakan. Hal ini merupakan hasil Revolusi Industri II dan III, seperti mobil, pesawat
terbang, industri kimia dan sebagainya.
E. DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI
Revolusi industri telah menimbulkan perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat
Inggris. Revolusi Industri memberikan bermacam dampak positif dalam bidang ekonomi, sosial,
politik dan ilmu pengetahuan. Secara umum, dampak revolusi industri bagi kehidupan penduduk
Inggris antara lain sebagai berikut.
1. Bidang Sosial
Akibat berkembangnya industri, pusat pekerjaan berpindah ke kota. Terjadilah urbanisasi
besar-besaran ke kota. Para buruh tani pergi ke kota untuk menjadi buruh pabrik. Kotakota besar pun menjadi padat dan semakin sesak. Para buruh hidup berjejal-jejal di
tempat tinggal yang kumuh dan kotor. Tidak hanya itu, dalam pekerjaan, mereka menjadi
objek pemerasan majikan. Buruh bekerja rata-rata 12 jam dalam sehari, namun tetap
miskin. Kemiskinan berakibat langsung pada meningkatnya kejahatan dan
ketergantungan pada minuman keras. Dampak lain adalah pengangguran, wanita dan
anak ikut bekerja, dan kurangnya jaminan kesejahteraan.
2. Bidang Ekonomi
Pengaruh Revolusi Industri dalam bidang ekonomi ditandai dengan pembangunan
daerah-daerah industri dilakukan secara besar-besaran. Revolusi industri juga
berpengaruh terhadap munculnya kota-kota industri seperti Manchester, Liverpool, dan
Birmingham. Kemunculan kota-kota industri tersebut merupakan satu keniscayaan ketika
industri berkembang. Perkembangan pesat dalam bidang industri ternyata tidak hanya
bersifat kuantitas melainkan juga berpengaruh terhadap kualitas barang industri yang
meningkat tajam. Revolusi industri telah banar-benar mendorong warga Inggris untuk
memperbaiki segala sesuatu berhubungan dengan hasil pekerjaan mereka.
3. Bidang Politik
Dampak Revolusi Industri dalam bidang politik antara lain, (1) munculnya kaum borjuis
sebab kemajuan industri melahirkan orang-orang kaya baru yang merupakan penguasa
industri. (2) Tumbuhnya demokrasi dan nasionalisme. (3) Munculnya imperialisme
modern, yaitu upaya mengembangkan imperialisme yang berlandaskan kekuatan
ekonomi, mencari tanah jajahan, bahan mentah serta mengembangkan pasar bagi
industrinya. (4) Berkembangnya liberalisme yang awalnya hanya berkembang di Inggris
ketika berlangsung Revolusi Agraria dan Revolusi Industri. Dalam menentukan kebijakan
politik dan ekonomi, partai liberal sangat berpengaruh.
Bagi Indonesia, revolusi induestri memiliki dampak tersendiri. Revolusi Industri menimbulkan
adanya imperialisme modern yang bertujuan mencari bahan mentah, tenaga kerja murah, dan
pasar bagi hasil-hasil produksi. Perdagangan bebas melahirkan konsep liberalisme. Hal ini
mengimbas pada negara-negara koloni, seperti juga wilayah-wilayah di Asia yang menjadi
jajahan bangsa Eropa. Termasuk Indonesia.
Ketika Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal dari Inggris, berkuasa di Indonesia (1811
1816), ia berupaya memperkenalkan prinsip-prinsip liberalisme di Indonesia. Kebijakan yang
diberlakukannya, antara lain, memperkenalkan sistem ekonomi uang, memberlakukan pajak
sewa tanah untuk memberi kepastian siapa pemilik tanah, menghapus penyerahan wajib,
menghapus kerja rodi, serta menghapus perbudakan. Ketika Inggris menyerahkan Indonesia ke
tangan Belanda, dibuat perjanjian bahwa Belanda akan tetap memberlakukan perdagangan bebas.
F. REVOLUSI INDUSTRI DAN DAMPAKNYA DENGAN K3
Pada akhir tahun 1700an, sistem pabrik memperkenalkan pekerja bahaya baru dan tidak
diketahui. Perusahaan tekstil dijalankan dengan mesin pintal, gulungan kapas dan tumpukan
benang, bersama dengan resiko yang berhubungan dengan mesin, kebisingan dan debu.

Manajemen diperhadapkan dengan keuntungan dan kerugian. Kematian dan cidera diterima
sebagai bagian dari bidang industri. Sekarang, mungkin rasa sakit dan kesakitan mungkin
diperhatikan sebagai norma dan diterima dalam beberapa pekerjaan industri. Kemudian
manajemen keselamatan dan kesehatan, tidak dipertimbangkan atau diperlukan. Buruh sangat
banyak dan pekerja senang dengan hanya memperoleh pekerjaan.
Pada awal tahun 1800an, Revolusi Industri melanda Amerika Serikat, menekankan
pngurangan biaya, dan tenaga kerja menjadi makin banyak dengan buruh imigran dan buruh
anak-anak. Undang-undang yang umum pada saat itu menguntungkan para pengusaha dan
manajer, dan nyatanya tidak ada kompensasi untuk penyakit atau cidera serta tidak ada standard
yang disetujui untuk keselamatan tempat kerja. Namun demikian, ketika cidera semakin
meningkat, usaha pertama terhadap kompensasi dimulai di Massachusetts dengan Employers
Liability Law pada tahun 1887. Namun demikian pada banyak kasus, usaha kompensasi ditolak
dengan berbagai alasan legal jika pengusaha dapat menunjukkan bahwa pekerja lalai atau
memberikan kontribusi terhadap penyebab kecelakaan.
Abad duapuluh merupakan awal perhatian keselamatan kerja pada arena politik. Pada
tahun 1908, Theodore Roosevelt mengatakan : Jumlah kecelakaan yang menyebabkan
kematian pekerja . semakin meningkat. Dalam beberapa tahun, ini meningkat dengan cepat
dengan menyebabkan kematian yang lebih besar daripada perang besar. Ini diikuti dengan
penetapan persyaratan Workers Compensation secara federal serta di seluruh negara bagian. Pada
saat yang sama, standard-standard keselamatan mengenai pelindung mesin dan perusahaan baja
serta rel kereta api memulai apa yang kita kenal sekarang sebagai program manajemen
keselamatan kerja. Kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist yang terkenal pada tahun 1911, yang
menyebabkan kematian pekerja garmen sebanyak 146 orang, membantu untuk menggabungkan
usaha-usaha
ini.
National
Safety
Council
dibentuk
pada
saat
itu.
Sampai tahun 1931, sebagian besar dari usaha-usaha intervensi keselamatan dan kesehatan
diarahkan langsung untuk meningkatkan kondisi pabrik. Kemudian H.W. Heinrich menerbitkan
buku yang berjudul Industrial Accident Prevention. Dia mengusulkan konsep bahwa tindakantindakan orang lebih besar menyebabkan kecelakaan daripada kondisi tempat kerja. Dia kadangkadang disebut sebagai Bapak Safety Modern karena dia yang pertama mengusulkan prinsipprinsip keselamatan kerja yang terorganisasi.
Prinsip-prinsip ini revolusioner pada saat itu. Prinsip-prinsip ini mencakup konsep bahwa
kecelakaan disebabkan terutama karena unsafe acts dari pekerja, dan bahwa unsafe act yang
sama mungkin terjadi lebih dari 300 kali. Dia juga mengusulkan beberapa alasan mengapa
orang-orang bertindak unsafe, metodologi dasar untuk mencegah kecelakaan, serta mengusulkan
bahwa manajemen bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan kecelakaan kerja.
SAAT INI
Dalam tahun 1970, Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang bersejarah
disahkan dan menjadi undang-undang federal yang efektif pada tahun 1971. Ini diikuti dengan
beberapa kejadian, termasuk pembaharuan pada keselamatan kendaraan dengan buku Ralph
Nader yang berjudul Unsafe at Any Speed. Keselamatan dan kesehatan kerja menjadi elemen
penting pada sebagian besar industri manufakturing. Standard-standard telah dimulai dan
manajemen telah mengetahui bahwa keuntungan operasi secara langsung terpengaruh ketika
pekerja
mengalami
lost
time
karena
cidera
yang
disebabkan
kerja.
Beberapa orang akan membantah bahwa OSHA Act mengubah perhatian manajemen dari
pencegahan cidera menjadi mematuhi undang-undang. Namun demikian dengan maksud baik,
regulasi pertama keselamatan kerja diadopsi dari dokumen-dokumen lain yang ditetapkan oleh
standard yang dihasilkan berbagai organisasi. Dalam banyak kasus, standard-standard tersebut
dimaksud untuk digunakan sebagai panduan. Tanggung jawab penerapan dari panduan
keselamatan kerja diganti dengan perilaku bagaimana kita sesuai sampai beberapa tingkatan.

Selain itu, karena undang-undang difokuskan pada kondisi tempat kerja, mungkin akan
menghambat perkembangan perangkat manajemen keselamatan kerja berdasarkan intervensi
perilaku. Pendekatan kondisi tempat kerja ini bertentangan dengan prinsip yang diusulkan oleh
Heinrich yang mengatakan bahwa sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh tindakan manusia.
Pada beberapa kejadian, Occupational Safety and Health Act, bersama dengan partner
penelitiannya, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dan komite
penasehatnya National Advisory Committee on Occupational Safety and Health (NACOSH),
menciptakan perhatian baru dan era baru dalam bidang keselamatan dan kesehatan. Undangundang yang memberikan sanksi terhadap ketidaksesuaian dengan persyaratan menyediakan
tempat kerja yang bebas dari bahaya yang diketahui cenderung berorientasi pada spesifikasi dan
diberikan secara terperinci apa yang perlu dilakukan. Banyak kesenangan yang dibuat
sehubungan dengan persyaratan rancangan tempat duduk toilet serta ketinggian letak alat
pemadam kebakaran. Peraturan yang baru telah berubah berdasarkan orientasi kinerja, yang
dapat mendorong pengesahan alasan dan penerapan tanggung jawab terhadap persyaratan. Suatu
contoh mengenai pendekatan ini ditemukan dalam Standard Manajemen Keselamatan Proses,
yang mempersyaratkan penakaran resiko sekitar keselamatan pabrik kimia.
Sementara sebagian besar perusahaan besar telah mengikuti persyaratan OSHA Act
dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerjanya, perusahaan-perusahaan yang
progresif telah bergerak lebih maju daripada sekedar kepatuhan. Mereka mengetahui bahwa
sekedar mematuhi peraturan safety tidak cukup. Mereka mengetahui bahwa kondisi tempat kerja,
yang menjadi fokus utama peraturan ini, hanya satu aspek dari program yang dikelola secara
baik. Peraturan mewakili kriteria minimal dan pendekatan tingkat awal. Off-the-job safety
programming oleh beberapa perusahaan mengambil pelajaran dari tempat kerja ke dalam rumah
dan keluarga para pekerja.
Teknologi keselamatan dan kesehatan sebagian besar telah berkembang menjadi ilmu
yang matang. Standard telah tersedia dan metodologi telah dikembangkan untuk keselamatan
kerja mekanis, penakaran resiko bahaya kimia, standard keselamatan listrik, standard
perlindungan kebakaran, serta standard perlengkapan pelindung perorangan. Teknologi-teknologi
ini akan dibahas Bab-bab berikut. Standard sekitar ergonomi tempat kerja menjadi bidang yang
berkembang secara cepat. Walaupun awal peraturan dalam bidang ini tidak sukses, sebagian
besar perusahaan besar melihat keuntungan dari program ergonomi sebagai bagian dari
keseluruhan usaha keselamatan dan kesehatan mereka.
Beberapa orang mungkin membantah bahwa kinerja safety aktual telah tercampur karena
ditetapkannya OSHA. Statistik dari Bureau of Labor memperlihatkan bahwa tingkat cedera total
yang tercatat telah menurun secara perlahan selama 20 tahun terakhir dari 13.2 cidera dan
penyakit per 100 pekerja menjadi 11.6 dalam sektor manufaktur. Cidera dan penyakit yang
mengakibatkan lost working time telah menurun pada periode yang sama dari 4.4 menjadi 2.9
persen. Namun demikian sangat sulit dibantah bahwa kondisi tempat kerja aktual telah
meningkat secara substansial dari awal industrialisasi. Di dunia Barat, bahaya dari manufaktur
berat telah berganti dengan bahaya lain yang tidak segera tampak. Sebagai contoh, perusahaan
manufaktur sekarang telah mengalami peningkatan cacat kronis sehubungan dengan trauma
kumulatif, penyakit kulit, dan penyakit saluran pernafasan. Beban dari cidera akut sekarang telah
muncul pada industri manufakturing di negara Dunia Ketiga. Selama waktu ini, satu dari para
penulis yang produktif dalam bidang keselamatan dan kesehatan adalah Dan Petersen. Dia
menulis sejumlah buku dan artikel mengenai manajemen keselamatan dan kesehatan. Dia
mengembangkan teori Heinrich. Dia mengemukakan lima prinsip keselamatan pada buku
Techniques of Safety Management yang diterbitkan pada tahun 1978, yang pertama adalah
Unsafe act, unsafe condition dan kecelakaan adalah gejala mengenai kesalahan dalam sistem
manajemen. Bukunya Challenge of Change: Creating a New Safety Culture pada tahun 1993,

menggambarkan suatu proses untuk menciptakan perubahan dalam sistem manajemen yang
mendorong kinerja keselamatan yang diinginkan.