Anda di halaman 1dari 1

Godaan Lari dari Tanggung Jawab

Melakukan tanggung jawab bukan hal yang mudah. Sering kali kita
tergoda untuk menghindari tanggung jawab kita. Godaan itu ternyata bisa
datang dari dalam diri kita sendiri, berupa ketiadaan orientasi (tujuan)
hidup. Tanpa adanya orientasi hidup, kita tidak tahu ke mana kita harus
mengarahkan jalan hidup kita. Sebagai contoh, apabila ada seseorang
yang tidak tahu pentingnya ia memperoleh pendidikan demi masa
depannya, maka besar kemungkinan orang itu akan menyepelekan proses
pendidikan di sekolah (malas-malasan, bolos sekolah, tidak mengerjakan
tugas,
dll)
yang
sedang
ia
jalani.
Godaan lain bisa datang dari luar diri kita, yaitu lingkungan sekitar kita.
Kita bisa saja menghindar dari tanggung jawab kita karena adanya
pengaruh dari orang-orang di sekitar kita. Sebagai contoh, ketika banyak
teman kita bersepakat untuk bolos sekolah dan malah berjalan-jalan di
mall, maka atas dasar setia kawan dan tidak mau dimusuhi oleh temanteman, bisa saja kita terpengaruh untuk ikut bolos sekolah.
Menghindari tanggung jawab jelas bukan merupakan tindakan yang baik,
karena dengan melakukannya, kita bisa tumbuh menjadi pribadi dengan
karakter yang tidak tangguh, tidak peka terhadap situasi, dan tidak
mandiri (selalu bergantung kepada belas kasihan orang lain). Dalam Surat
Roma 5:3-4, Rasul Paulus seperti mengingatkan betapa orang Kristen
harus tetap melaksanakan sikap hidup yang baik (termasuk menjadi
pribadi-pribadi yang dengan tekun dan setia melaksanakan tanggung
jawabnya) sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri. Ia mengatakan
bahwa dengan bertekun dalam tanggung jawabnya, mereka akan menjadi
orang-orang yang tahan uji, dan pada akhirnya sikap itu akan membawa
penghiburan dan pengharapan bagi banyak orang lain. Demikianlah Tuhan
menghendaki setiap anak-Nya tidak lari atau menghindar dari tanggung
jawab yang dipercayakan kepadanya (bnd. kisah Perumpamaan tentang
Talenta: Mat. 25:24-25.)