Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah atas rahmat dan ridlo Allah, kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Organisasi dan Manajemen Program Kesehatan Keselamatan Kerja di Rumah
Sakit.. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Program Kesehatan Kerja yang dibimbing oleh
bapak Amroni S.KM. Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah yang kami buat ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................................................

i
ii

B. Rumusan Masalah.................................................................................................

C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................

D. Manfaat Penulisan ................................................................................................

A.

BAB II PEMBAHASAN
Organisasi ............................................................................................................

B.

Organisasi Kesehatan ...........................................................................................

C.

Manajemen ...........................................................................................................

D.

Manajemen Kesehatan .........................................................................................

E.

Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja (k3)...............................................

10

F.

Ruang lingkup kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah sakit........................

10

G.

Struktur organisasi K3 di Rumah sakit.................................................................

H.

Sistem manajemen K3 Rumah sakit.....................................................................

19

A.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan ..........................................................................................................

23

B.

Saran

........................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang termasuk dalam suatu wadah hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes) terkadang terlupakan oleh para pengusaha atau
manajemen. Keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya untuk industry tetapi untuk
seluruh pegawai disetiap tempat kerja, begitu juga di sektor pelayanan kesehatan. Di
Indonesia, sampai saat ini belum banyak peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di
laksanakan dirumah sakit. Adanya asumsi bahwa tenaga kerja dirumah sakit dianggap sudah
tahu dan dapat mempertahankan kesehatan dan melindungi dirinya serta di anggap lebih
mudah melakukan konsultasi dengan dokter dan mendapatkan fasilitas perawatan secara
informal, menjadikan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit seolah-olah
di pinggirkan. Mengingat besarnya paparan dirumah sakit maka rumah sakit sebagai tempat
pelayanan kesehatan sangat perlu untuk diterapkan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (MK3) untuk memberikan perlindungan kepada para pegawai.
Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan
pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian. Rumah sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan dengan berbagai fasilitas dan peralatan
kesehatannya. Rumah sakit sebagai tempat kerja yang unik dan kompleks tidak saja
menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan tempat
pendidikan dan penelitian kedokteran. Semakin luas pelayanan kesehatan dan fungsi suatu
rumah sakit maka semakin kompleks peralatan dan fasilitasnya.
Keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja di rumahsakit dan fasilitas medis
lainnya perlu di perhatikan. Demikian pula penanganan faktor potensi berbahaya yang ada di
rumah sakit serta metode pengembangan program keselamatan dan kesehatan kerja disana
perlu dilaksanakan, seperti misalnya perlindungan baik terhadap penyakit infeksi maupun
non-infeksi, penanganan limbah medis, penggunaan alat pelindung diri dan lain sebagainya.
Selain terhadap pekerja di fasilitas medis/klinik maupun rumah sakit, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di rumah sakit juga concern keselamatan dan hak-hak pasien, yang masuk
kedalam program patient safety.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar belakang diatas yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa itu organisasi dan organisasi kesehatan ?


Apa itu manajemen dan manajemen kesehatan ?
Apa pengertian keselamatan dan kesehatan kerja (k3) ?
Bagaimana ruang lingkup kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit ?
Bagaimana struktur organisasi k3 di rumah sakit ?
Bagaimana sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (k3) rumah sakit ?

C. Tujuan
Dengan melihat latar belakang diatas maka yang menjadi tujuan penulis adalah untuk
mengetahui tentang organisasi dan manajemen program kesehatan keselamatan kerja di
Rumah Sakit.
D. Manfaat penulisan
1. Untuk menambah pengetahuan penulis dalam upaya untuk mengembangkan dan menerapkan
ilmu pengetahuan.
2. Makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penulis dan bahan
perbandingan bagi pembaca atau pihak lainnya.
3. Sebagai dasar ataupun acuan dalam pendalaman materi serta untuk kelanjutan penulisan yang
relevan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Organisasi
Organisasi berasal

dari

kata organon dalam

bahasa

Yunani

yang

berarti

alat.Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada
perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa
pendapat sebagai berikut :
1.

Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya The Executive Functions mengemukakan bahwa

2.

Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih


James D. Mooney mengatakan bahwa Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk

mencapai tujuan bersama.


3. Menurut Dimock, organisasi adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian-bagian
yang saling ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui
kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
Dari beberapa pengertian organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap organisasi harus
memiliki tiga unsur dasar, yaitu :
1. Orang-orang (sekumpulan orang)
2. Kerjasama
3. Tujuan yang ingin dicapai,
Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orangorang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang
dimiliki.
B. Organisasi Kesehatan
1. Definisi Organisasi Kesehatan
Organisasi kesehatan adalah perpaduan secara sistematis dari pada bagian- bagian yang
saling ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui
kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
2. Tujuan Organisasi Kesehatan
Tujuan umum dari suatu organisasi kesehatan adalah untuk menyusun dan
melaksanakan suatu program atau kebijakan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
3. Jenis Organisasi Kesehatan
Sangat banyak organisasi kesehatan yang sudah terbentuk di indonesia, beberapa
diantaranya adalah:

a.
b.
c.
d.
e.
4.

Organisasi kesehatan pemerintah pusat


Organisasi kesehatan pemerintah daerah
Rumah sakit
Unit pelaksana teknik
Organisasi kesehatan swasta
Fungsi Organisasi Kesehatan
Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa bayak sekali organisasi kesehatan yang
sudah terbentuk di Indonesia, namun semuanya mempunyai tujuan umum yang sama yaitu
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Yang akan dijelaskan disini hanyalah organisasi
kesehatan milik pemerintah Provinsi (Dinas Kesehatan Provinsi) dan kabupaten (Dinas

Kesehatan Kabupaten).
a. Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi
1) Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a) Bimbingan dan Pengendalian (Bimdal) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Dasar. Dalam
bimdal penyelenggaraan upaya kesehatan dasar termasuk kesehatan komunitas.
b) Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Rujukan meliputi
bimdal kesehatan
c)

rujukan/spesialistik, dan sistem rujukan.


Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Khusus. Dalam bimdal penyelenggraan upaya
kesehatan khusus meliputi : bimdal kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja,

kesehatan haji, kesehatan gigi dan mulut.


2) Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan
a) Bimdal Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit. Dalam bimdal penyelenggaraan
pengendalian dan pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian
penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian
penyakit tidak menular, imunisasi dan kesehatan matra.
b)
Bimdal Penyelenggaraan Pengendalian Wabah

dan

Bencana.

Dalam

bimdal

penyelenggaraan pengendalian wabah dan bencana meliputi bimdal kesiapsiagaan, mitigasi


c)

dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.


Bimdal Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan. Dalam bimdal penyelenggaraan
penyehatan lingkungan meliputi: penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan,
penyehatan kawasan dan sanitasi darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta

pengamanan limbah.
3) Bidang Bina Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan
a) Bimdal Perencanaan dan Pendayagunaan.
b) Bimdal Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan.
c) Bimdal Penyelenggaraan Registrasi dan Akreditasi. Dalam bimdal penyelenggaraan
registrasi dan akreditasi meliputi registrasi, perizinan dan akreditasi tenaga medis, tenaga
para medis dan tenaga non medis/tradisional terlatih.
4) Bidang Bina Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :
a) Bimdal Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan. Dalam bimdal penyelenggaraan jaminan
kesehatan meliputi bimdal kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.

b)

Bimdal Pelayanan Sarana dan Peralatan Kesehatan. Dalam bimdal pelayanan sarana dan
peralatan kesehatan meliputi: monitoring dan evaluasi, registrasi, akreditasi dan sertifikasi

sarana dan peralatan kesehatan.


c) Bimdal Penyelenggaraan kefarmasian. Dalam bimdal penyelenggaraan kefarmasian meliputi
obat, makanan dan minuman, napza, kosmetika dan alat kesehatan.
5) Sekretariat, mempunyai fungsi:
a) Penyusunan Program. Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi penyusunan
program dan anggaran.
b) Penyelenggaraan Urusan Ketatausahaan. Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan
c)

meliputi: urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan. Dalam penyelenggaraan urusan
keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti rugi,

tindak lanjut LHP dan perlengkapan.


b. Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten
1) Bidang Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a) Penyelenggaraan upaya kesehatan dasar. Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar
termasuk kesehatan komunitas.
b) Penyelenggaraan upaya kesehatan rujukan meliputi kesehatan rujukan/ spesialistik, dan
c)

sistem rujukan.
Penyelenggaraan upaya kesehatan khusus. Dalam penyelenggraan upaya kesehatan khusus
meliputi : kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja, kesehatan haji, kesehatan gigi dan

mulut.
2) Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan
a) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit. Dalam penyelenggaraan pengendalian dan
pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian penyakit menular
langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular,
imunisasi dan kesehatan matra.
b) Pengendalian Wabah dan Bencana. Dalam penyelenggaraan pengendalian wabah dan
c)

bencana meliputi kesiapsiagaan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.
Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan. Dalam penyelenggaraan penyehatan lingkungan
meliputi : penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi

3)
a)
b)
c)

darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta pengamanan limbah.


Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan
Perencanaan dan Pendayagunaan.
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan.
Penyelenggaraan Registrasi dan Akreditasi. Dalam penyelenggaraan registrasi dan akreditasi
meliputi registrasi, perizinan dan akreditasi tenaga medis, tenaga para medis dan tenaga non

medis/tradisional terlatih.
4) Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :

a) Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan. Dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan meliputi


kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.
b) Pelayanan Sarana dan Peralatan Kesehatan. Dalam pelayanan sarana dan peralatan
kesehatan meliputi : monitoring dan evaluasi, registrasi, akreditasi dan sertifikasi sarana dan
peralatan kesehatan.
c) Penyelenggaraan kefarmasian.
d) Dalam penyelenggaraan kefarmasian meliputi obat, makanan dan minuman, napza,
kosmetika dan alat kesehatan.
5) Sekretariat, mempunyai fungsi:
a) Penyusunan Program. Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi

penyusunan

program dan anggaran.


b) Penyelenggaraan Ketatausahaan. Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan meliputi :
urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
c) Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan. Dalam penyelenggaraan urusan
keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti
rugi, tindak lanjut LHP dan perlengkapan.
C. Manajemen
Secara etimologis kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno mnagement,
yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sedangkan secara terminologis para pakar
mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya:
Schein (2008: 2) memberi definisi manajemen sebagai profesi. Menurutnya
manajemen merupakan suatu profesi yang dituntut untuk bekerja secara profesional,
karakteristiknya adalah para profesional membuat keputusan berdsarkan prinsip-prinsip
umum, para profesional mendapatkan status mereka karena mereka mencapai standar prestasi
kerja tertentu, dan para profesional harus ditentukan suatu kode etik yang kuat.
Terry (2005: 1) memberi pengertian mssssanajemen yaitu suatu proses atau kerangka
kerja, yang melibatkan bimbingan atau pebgarahan suatu kelompok orang-orang kearah
tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata. Hal tersebut meliputi
pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya,
memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usahausaha yang telah dilakukan.
Dari beberapa definisi yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen
merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk menentukan dan mencapai
tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling).

Manajemen merupakan sebuah kegiatan; pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang
melakukannya disebut manajer. Manajemen dibutuhkan setidaknya untuk mencapai tujuan,
menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, dan untuk mencapai
efisiensi dan efektivitas. Manajemen terdiri dari berbagai unsur, yakni
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Man : Sumber daya manusia;


Money : Uang yang diperlukan untuk mencapai tujuan;
Method : Cara atau sistem untuk mencapai tujuan;
Machine : Mesin atau alat untuk berproduksi;
Material : Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan;
Market : Pasaran atau tempat untuk melemparkan hasil produksi;
Information : Hal-hal yang dapat membantu untuk mencapai tujuan.

D. Manajemen Kesehatan
1. Definisi Manajemen Kesehatan
Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu
tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang
kesehatan

masyarakat

dapat

dikatakan

sebagai

berikut

Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas
kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui
program kesehatan. Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan
manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi
objek dan sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat.
2. Fungsi Manajemen Kesehatan
Pada umumnya, fungsi manajemen dalam suatu organisasi meliputi:
a) Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan
organisasi sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk pencapaiannya.
b) Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen untuk menghimpun
semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara
c)

efisien untuk mencapai tujuan organisasi.


Actuating (directing, commanding, motivating, staffing, coordinating) atau fungsi
penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada staff agar mereka mampu bekerja
secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan ketrampilan yang telah

dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia.


d) Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk
mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang
sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan.
3. Penerapan Manajemen Dibidang Kesehatan
Sehat adalah suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak
hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Tujuan sehat yang

ingin dicapai oleh sistem kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan tersebut, administrasi (manajemen)
kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang
lebih banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit oriented).
Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public
administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian
kesejahteraan masyarakat umum.
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi kesehatan di
Indonesia seperti Kantor Depkes, Dinas Kesehatan di daerah, Rumah Sakit dan Puskesmas
dan jajarannya. Untuk memahami penerapan manajemen kesehatan di RS, Dinas Kesehatan
dan Puskesmas perlu dilakukan kajian proses penyusunan rencana tahunan Depkes dan Dinas
Kesehatan di daerah. Khusus untuk tingkat Puskesmas, penerapan manajemen dapat
dipelajari melalui perencanaan yang disusun setiap lima tahun (micro planning), pembagian
4.
a.
b.
c.
d.
e.

dan uraian tugas staf Puskesmas sesuai dengan masing-masing tugas pokoknya.
Ruang Lingkup Manajemen Kesehatan
Manajemen personalia (mengurusi SDM)
Manajemen keuangan
Manajemen
Logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen (mengurusi pelayanan
kesehatan).

E. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan perhatian dan perlindungan yang
diberikan perusahaan kepada seluruh karyawannya. Sutrisno (2010) menyatakan keselamatan
kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
tempat kerja, dan lingkungannya, serta cara-cara karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
Husni (2005) menyatakan bahwa kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan
yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik,
mental, maupun sosialnya sehingga memungkinkan karyawan dapat bekerja secara optimal.
F. Ruang Lingkup Kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23
dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di
semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan,
mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Maka Rumah

Sakit (RS) juga termasuk dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang
dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang
bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya
pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. Segala hal yang menyangkut
penyelenggaraan K3 di rumah sakit diatur di dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
432 tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit termasuk
pengertian dan ruang lingkup kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit.
1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a) Kesehatan Kerja Menurut WHO / ILO (1995)
Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan
fisik, mental, dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan,
pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan;
perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan
kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan
penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya.
b) Kesehatan dan keselamatan kerja
Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan
para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi.
c) Konsep Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit
Konsep Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit adalah upaya
terpadu seluruh pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung atau pengantar orang sakit untuk
menciptakan lingkungan kerja, tempat kerja rumah sakit yang sehat, aman dan nyaman baik
bagi pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung/pengantar orang sakit, maupun bagi masyarakat
dan lingkungan sekitar rumah sakit.
2. Ruang Lingkup
a) Prinsip, Kebijakan Pelaksanaan dan Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Rumah Sakit (K3RS)
1) Prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS)
Agar Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dapat dipahami secara utuh,
perlu diketahui pengertian 3 komponen yang saling berinteraksi, yaitu :
(a) Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik
yang prima setiap pekerja agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.
(b) Beban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus ditanggung oleh pekerja dalam
melaksankan tugasnya.
(c) Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja
2) Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS)

Program K3 di rumah sakit bertujuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan


serta meningkatkan produktifitas pekerja, melindungi keselamatan pasien, pengunjung, dan
masyarakat serta lingkungan sekitar Rumah Sakit. Kinerja setiap petugas kesehatan dan non
kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen yaitu kapasitas kerja, beban kerja, dan
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)
(h)
(i)
(j)
(k)
(l)
3)

lingkungan kerja. Program K3RS yang harus diterapkan adalah:


Pengembangan kebijakan K3RS
Pembudayaan perilaku K3RS
Pengembangan Sumber Daya Manusia K3RS
Pengembangan Pedoman dan Standard Operational Procedure (SOP) K3RS
Pemantauan dan evaluasi kesehatan lingkungan tempat kerja
Pelayanan kesehatan kerja
Pelayanan keselamatan kerja
Pengembangan program pemeliharaan pengelolaan limbah padat, cair, gas
Pengelolaan jasa, bahan beracun berbahaya dan barang berbahaya
Pengembangan manajemen tanggap darurat
Pengumpulan, pengolahan, dokumentasi data dan pelaporan kegiatan K3
Review program tahunan
Kebijakan pelaksanaan K3
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang padat karya, pakar,
modal, dan teknologi, namun keberadaan rumah sakit juga memiliki dampak negatif terhadap
timbulnya penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bila rumah sakit tersebut tidak melaksanakan

prosedur K3. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan kebijakan sebagai berikut :
(1) Membuat kebijakan tertulis dari pimpinan rumah sakit
(2) Menyediakan Organisasi K3 di Rumah Sakit sesuai dengan Kepmenkes Nomor
432/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit
(3) Melakukan sosialisasi K3 di rumah sakit pada seluruh jajaran rumah sakit
(4) Membudayakan perilaku k3 di rumah sakit
(5) Meningkatkan SDM yang professional dalam bidang K3 di masing-masing unit kerja di
rumah sakit
(6) Meningkatkan Sistem Informasi K3 di rumah sakit
b) Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit
Pelayanan K3RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai
komponen yang ada di rumah sakit. Pelayanan K3 di rumah sakit sampai saat ini dirasakan
belum maksimal. Hal ini dikarenakan masih banyak rumah sakit yang belum menerapkan
a.

Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja (SMK3).


Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit
Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti
tercantum pada pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009 dan peraturan Menteri tenaga kerja
dan Transmigrasi RI No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja. Adapun bentuk

(a)

pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut :


Melakukan pemeriksaan kesehatan sebekum kerja bagi pekerja

(b)

Melakukan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan memberikan


bantuan kepada pekerja di rumah sakit dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental

(c)

terhadap pekerjanya.
Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pajanan di rumah

sakit
(d) Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik pekerja
(e) Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang menderita sakit
(f)
Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja rumah sakit yang akan pension
(g)

atau pindah kerja


Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi mengenai

penularan infeksi terhadap pekerja dan pasien


(h) Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja
(i)
Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan
kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi, psikososial,
(j)

dan ergonomi)
Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja yang disampaikan

kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit
b. Standar pelayanan Keselamatan kerja di Rumah Sakit
Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana, prasarana,
(a)

dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan :


Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana, prasarana, dan peralatan

(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)

kesehatan
Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap pekerja
Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitair
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja
Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja
Member rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan tempat kerja dan

(h)
(i)
(j)

pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan/keamanan


Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan Kebakaran (MSPK)
Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan keselamatan kerja yang
disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja kerja

Rumah Sakit
c) Standar K3 Sarana, Prasarana, dan Peralatan di Rumah Sakit
Sarana didefinisikan sebagai segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi oleh
mata maupun teraba panca indera dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan
umumnya merupakan bagian dari suatu bangunan gedung (pintu, lantai, dinding, tiang,
kolong gedung, jendela) ataupun bangunan itu sendiri. Sedangakan prasarana adalah seluruh
jaringan/instansi yang membuat suatu sarana bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang

diharapkan, antara lain : instalasi air bersih dan air kotor, instalasi listrik, gas medis,
komunikasi, dan pengkondisian udara, dan lain-lain.
d) Pengelolaan Jasa dan Barang Berbahaya
Barang Berbahaya dan Beracun (B3) adalah bahan yang karena sifat dan atau
konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
(1) Kategori barang berbahaya dan beracun (B3)
Memancarkan radiasi, Mudah meledak, Mudah menyala atau terbakar, Oksidator, Racun,
Korosif, Karsinogenik, Iritasi, Teratogenik, Mutagenic, Arus listrik.
(2) Prinsip dasar pencegahan dan pengendalian B3
(a) Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk mengenal ciri-ciri dan
karakteristiknya.
(b) Evaluasi, untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan yang diperlukan sesuai sifat dan
karakteristik dari bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus memprediksi risiko yang
mungkin terjadi apabila kecelakaan terjadi
(c) Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan evaluasi yang dilakukan
meliputi pengendalian operasional, pengendalian organisasi administrasi, inspeksi dan
pemeliharaan sarana prosedur dan proses kerja yang aman, pembatasan keberadaan B3 di
tempat kerja sesuai jumlah ambang.
(d) Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya
e) Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya
Rumah sakit harus melakukan seleksi rekanan berdasarkan barang yang diperlukan.
Rekanan yang akan diseleksi diminta memberikan proposal berikut company profile.
Informasi yang diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material atau produk,
kapabilitas rekanan, harga, pelayanan, persyaratan K3 dan lingkungan serta informasi lain
yang dibutuhkan oleh rumah sakit.
Setiap unit kerja/instalasi/satker yang menggunakan, menyimpan, mengelola B3 harus
menginformasikan kepada instalasi logistic sebagai unit pengadaan barang setiap kali
mengajukan permintaan bahwa barang yang diminta termasuk jenis B3. Untuk memudahkan
melakukan proses seleksi, dibuat form seleksi yang memuat kriteria wajib yang harus
dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk masing-masing criteria yang ditentukan.
Standar SDM K3 di Rumah Sakit
Kriteria tenaga K3 terdiri dari:
(1) Rumah Sakit Kelas A
(a) S3/S2 K3 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
f)

RS
(b) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai
K3 RS

(c) Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran Okupasi minimal 1 orang
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(d) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 2 orang yang mendapat pelatihan
khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(e) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi
K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(f) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang mendapat pelatihan
khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(g) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
minimal 2 orang
(h) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat pelatihan khusus
terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(i) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 2
orang
(2) Rumah Sakit Kelas B
(a) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3
RS
(b) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan
khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(c) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi
K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(d) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang mendapat pelatihan
khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(e) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(f)

minimal 1 orang
Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat pelatihan khusus

terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang


(g) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1
orang
(3) Rumah Sakit kelas C
(a) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan
khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(b) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi
K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
(c) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
minimal 1 orang
(d) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1
orang
g) Pembinaan, Pengawasan, Pencatatan, dan Pelaporan
(1) Pembinaan dan pengawasan

Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang. Pembinaan dan


pengawasan tertinggi dilakukan oleh Departemen Kesehatan. Pembinaan dapat dilaksanakan
antara lain dengan melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, dan temu konsultasi.
Pengawasan pelaksanaan Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah sakit
dibedakan dalam dua macam, yakni pengawasan internal, yang dilakukan oleh pimpinan
langsung rumah sakit yang bersangkutan, dan pengawasan eksternal, yang dilakukan oleh
Menteri kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan fungsi dan tugasnya
masing-masing.
(2) Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan adalah pendokumentasian kegiatan K3 secara tertulis dari
masing-masing unit kerja rumah sakit dan kegiatan K3RS secara keseluruhan yang dilakukan
oleh organisasi K3RS, yang dikumpulkan dan dilaporkan /diinformasikan oleh organisasi
K3RS, ke Direktur Rumah Sakit dan unit teknis terkait di wilayah Rumah Sakit. Tujuan
kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3 adalah menghimpun dan menyediakan data
dan informasi kegiatan K3, mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan K3;
mencatat dan melaporkan setiap kejadian/kasus K3, dan menyusun dan melaksanakan
pelaporan kegiatan K3.
Pelaporan terdiri dari; pelaporan berkala (bulanan, semester, dan tahunan) dilakukan
sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan dan pelaporan sesaat/insidentil, yaitu pelaporan
yang dilakukan sewaktu-waktu pada saat kejadian atau terjadi kasus yang berkaitan dengan
K3. Sasaran kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3 adalah mencatat dan melaporkan
pelaksanaan seluruh kegiatan K3, yang tercakup di dalam :
(a) Program K3, termasuk penanggulangan kebakaran dan kesehatan lingkungan rumah sakit.
(b) Kejadian/kasus yang berkaitan dengan K3 serta upaya penanggulangan dan tindak lanjutnya.
G. Struktur Organisasi K3 di Rumah Sakit
Berdasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 432 tahun 2007 bahwa
Organisasi K3 berada 1 tingkat di bawah direktur, bukan kerja rangkap dan merupakan unit
organisasi yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Rumah Sakit. Hal ini
dikarenakan organisasi K3 RS berkaitan langsung dengan regulasi, kebijakan, biaya, logistik
dan SDM di rumah sakit. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3 RS, yang dibantu
oleh unit K3 yang beranggotakan seluruh unit kerja di RS. Keanggotaan:
1.

Unit pelaksana K3 RS beranggotakan unsur-unsur dari petugas dan jajaran direksi RS. Akan

2.

sangat efektif bila ada yang berlatarbelakang pendidikan K3.


Unit pelaksana K3 RS terdiri dari sekurang-kurangnya ketua, sekretaris dan anggota.
Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota.

3.

Ketua unit pelaksana K3 RS sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di RS atau

sekurang-kurangnya manajemen dibawah langsung direktur RS.


4. Sedang sekretaris unit pelaksana K3 RS adalah seorang tenaga profesional K3 RS, yaitu
manajer K3 RS atau ahli K3 (berlatarbelakang pendidikan K3).
H. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit
1. Pengertian Manajemen K3 Rumah Sakit
Manajemen K3 RS merupakan upaya terpadu dari seluruh SDM RS, pasien, serta
pengunjung atau pengantar orang sakit untuk menciptakan lingkungan kerja RS yang sehat,
aman dan nyaman termasuk pemukiman masyarakat sekitarnya.
2. Sistem Manajemen K3 Rumah Sakit
SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen yang meliputi: struktur organisasi,
perencanaan, pelaksanaan, prosedur, sumber daya, dan tanggungjawab organisasi. Tujuan dari
SMK3 RS adalah menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat supaya tenaga kerja
produktif disamping dalam rangka akreditasi rumah sakit itu sendiri. Prinsip yang digunakan
dalam SMK3 adalah AREC (Anticipation, Recognition, Evaluation dan Control) dari metode
kerja, pekerjaan dan lingkungan kerja.
3. Langkah manajemen:
a. Komitmen dan Kebijakan
Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan mudah
dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan RS. Manajemen RS mengidentifikasi dan
menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan, tenaga K3 dan sarana untuk
terlaksananya program K3 di RS.
Kebijakan K3 di RS diwujudkan dalam bentuk wadah K3 RS dalam struktur organisasi
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
b.

RS. Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 RS, perlu disusun strategi antara lain :
Advokasi sosialisasi program K3 RS.
Menetapkan tujuan yang jelas.
Organisasi dan penugasan yang jelas.
Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 RS pada setiap unit kerja di lingkungan RS.
Sumberdaya yang harus didukung oleh manajemen puncak
Kajian risiko (risk assessment) secara kualitatif dan kuantitatif
Membuat program kerja K3 RS yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan.
Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala.
Perencanaan
Rumah sakit harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan
penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Perencanaan

meliputi:
1. Identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian faktor risiko.
Identifikasi sumber bahaya yang ada di RS berguna untuk menentukan tingkat risiko
yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK (penyakit akibat
kerja). Sedangkan penilaian faktor risiko merupakan proses untuk menentukan ada tidaknya

risiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko
kesehatan dan keselamatan. Pengendalian faktor risiko di RS dilaksanakan melalui 4
tingkatan yakni menghilangkan bahaya, menggantikan sumber risiko dengan sarana atau
peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah bahkan tidak ada risiko sama sekali,
administrasi, dan alat pelindung pribadi (APP).
2. Membuat peraturan. Peraturan yang dibuat tersebut merupakan Standar Operasional Prosedur
yang harus dilaksanakan, dievaluasi, diperbaharui, serta harus dikomunikasikan dan
disosialisasikan kepada karyawan dan pihak yang terkait.
3. Menentukan tujuan (sasaran dan jangka waktu pencapaian)
4. Indikator kinerja yang harus diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 dan sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 RS.
5. Program K3 ditetapkan, dilaksanakan, dimonitoring, dievaluasi dan dicatat serta dilaporkan.

c.

Pengorganisasian
Pelaksanaan K3 di RS sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan
petugas, terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan
K3. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas. Pola pembagian
tanggung jawab, penyuluhan kepada semua petugas, bimbingan dan latihan serta penegakkan

disiplin.
1) Tugas pokok unit pelaksana K3 RS
a) Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur RS mengenai masalah-masalah
yang berkaitan dengan K3.
b) Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan prosedur.
c) Membuat program K3 RS
2) Fungsi unit pelaksana K3 RS
a) Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang
b)

berhubungan dengan K3.


Membantu direktur RS mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3, pelatihan dan

c)
d)
e)
f)

penelitian K3 di RS.
Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3.
Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.
Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3RS.
Memberi nasehat tentang manajemen k3 di tempat kerja, kontrol bahaya, mengeluarkan

peraturan dan inisiatif pencegahan.


g) Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai kegiatannya.
h) Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru, pembangunan gedung dan
proses.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengeloalaan K3 di Rumah sakit penting artinya untuk meningkatkan lingkungan kerja
RS agar aman, sehat dan nyaman baik bagi karyawan, pasien, pengunjung ataupun
masyarakat di sekitar RS. Pengelolaan K3 di RS dapat berjalan dengan baik, bila pimpinan
puncak atau direktur RS punya komitmen yang tinggi terhadap jalannya pelaksanaan K3 di
RS. Selain itu perlu juga pemahaman, kesadaran dan perhatian yang penuh dari segala pihak
yang terlibat di RS, sehingga apa yang diharapkan terhadap penerapan K3 di RS bisa
tercapai. Untuk suksesnya pengelolaan K3 di RS, tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam
membina terhadap setiap proses tahapan K3 di RS. Bisa dari sudut legislasi ataupun dari
penyediaan pedoman-pedoman baik teknis K3 maupun strategi penerapan K3 di RS.
B. Saran
1. Agar ada peningkatan tentang manajemen program kesehatan, keselamatan kerja di rumah
sakit.
2. Supaya struktur organisasi di rumah sakit tentang K3 agar di tingkatkan, untuk menguranggi
tingkat kecelakaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Suardi, R., Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, PPM, Jakarta, 2005
2. Munijaya, A.A. Gde., Manajemen Kesehatan edisi 2, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2004
3. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di
Rumah Sakit. Viewed 24 october 2011
<http://www.depkes.go.id/downloads/Kepmenkes/KMK%20432-IV%20K3%20RS.pdf>