Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT DHF


(Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata kuliah
Keperawatan Anak )

Disusun oleh :
ABD. SAJJAD
AHMAD FARHAN
HARIYANTO
ANISUL UMAM
IMAM MUTTAQIN

AGUS EFENDI
FAUZAN
BAMBANG HERMANTO
DEWI NOVITA ROSIANA
GILANG ARI PRABOWO

UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP


FAKULTAS KESEHATAN / PRODI
S1 KEPERAWATAN
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapakan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis mampu menyelesaikan makalah yang
berjudul ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT DHF
dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Anak.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah
membantu terselesaikannya makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Zakiyah Yasin, S. Kep, Ns, M. Kep. selaku dosen PJMK

Keperawatan Anak
2. Ibu Sri Yunita Suraida Salat, S. ST., M. Kes. selaku dosen
Keperawatan Anak
3. Teman teman yang telah membantu menyempurnakan makalah ini

Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini.


Untuk itu penulis mohon maaf atas kesalahan penulis baik disengaja maupun
tidak. Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun guna
penyempurnaan makalah berikutnya.

Sumenep, 10 November 2015


Penulis

ii

DAFTAR ISI

cover
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................3
PENDAHULUAN...................................................................................................3
1.1 Latar belakang...........................................................................................3
1.2 RUMUSAN MASALAH..........................................................................4
1.3 TUJUAN PENULISAN............................................................................4
BAB II.....................................................................................................................5
PEMBAHASAN.....................................................................................................5
2.1 Definisi......................................................................................................5
2.2 Etiologi......................................................................................................5
2.3 Patofisiologi...............................................................................................5
2.4 Gambaran Klinis........................................................................................6
2.5 Diagnosis...................................................................................................8
2.6 Klasifikasi..................................................................................................9
2.7 Pemeriksaan Diagnostik............................................................................9
2.8 Diagnosa Banding...................................................................................10
2.9 Penatalaksaaan.........................................................................................10
2.10
Pencegahan..........................................................................................14
2.11
Komplikasi...........................................................................................15
BAB III..................................................................................................................16
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN...............................................16
3.1 Pengkajian Fokus....................................................................................16
3.2 Diagnosa Keperawatan............................................................................20
3.3 Fokus Intervensi......................................................................................21
BAB IV..................................................................................................................26
PENUTUP.............................................................................................................26
4.1 Kesimpulan..............................................................................................26
4.2 Saran........................................................................................................26
Daftar Pustaka......................................................................................................27

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang dapat terjadi
pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi
yang disertai ruam atau tanpa ruam ( soeparman,2006). DBD disebabkan oleh
arbbovirus (Arthropodborn virus ). Melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes
Albocpictus dan Aedes Aegepty). Tanda dan gejala penyakit DBD adalah:
meningkatnya suhu tubuh, nyeri pada otot seluruh tubuh , nyeri, sesak nafas, batuk,
epistaksis, nafsu makan menurun, mual, muntah, petakie, ekimosis, purpurna,
pendarahan gusi, hematemesis, hematuria masif, melana dan syok.
Penyebaran DBD sangat mudah dan dapat menjadi wabah disuatu
lingkungan tertentu. Demam berdarah dengue tersebar diwilayah asia tenggara,
pasifik barat, dan karibia. Indonesia merupakan wilayah edemis dengan sebaran
diseluruh wilayah tanah air. Insiden DBD di indonesia anatara 6 hingga 15 per
100.000 penduduk. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk
genus Aedes. Peningkatan kasus tiap tahunnya berkaitan dengan sinitasi lingkungan
dan tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu di bejana yang berisi air jernih.
Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di indonesia yang cenderung meningakat jumlah penderita dan
penyebaranya yang sejalan dengan arus trasfortasi dan kepadatan penduduk. Data
dari Depkes RI tahun 2010 mencantumkan penigkatan jumlah kasus DBD, pada
tahun 2008 137.469 kasus menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009 dan sekitar
140.000 kasus di indonesia pada tahun 2010. Peningkatan dan penyebaran kasus
DBD tersebut kemungkinan disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi,
perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan kepadatan

dan

distribusi penduduk serta faktor epidemiologi lainnya yang masih memerlukan


penelitian lebih lanjut ( Kementrian Kesehatan RI,2010)

1.2 RUMUSAN MASALAH


a) Bagaimana pencegahan penyebaran DBD ?
b) Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan penyakit DBD ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Tujuan umum
a) Memberikan gambaran secara umum asuhan keperawatan pasien dengan
penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD)
1.3.2 Tujuan khusus
a) Tujuan khusus laporan ini adalah memberikan gamabaran :
-

Mengenai konsep dasar Demam Berdarah Dengue

- Mengenai konsep asuhan keperawatan pada klien Demam Berdarag


Dengue.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD DHF (Dengue
Haemorrhagic fever) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/ nyeri sendi yang disertai lekopenia
tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995).
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit epidemik akut
yang disebabkan virus yang di transmisikan oleh Aaedes aegypti dan Aedes
albopictus. Penderita yang terinfeksi akan memiliki gejala berupa demam ringan
sampai tinggi, disertai dengan sakit kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian,
hinggu pendarahan sepontan ( WHO, 2010)
2.2 Etiologi
Demam beredarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk
dalam genus flavavirus merupakan virus dengan diameter 30nm terdiri dari asam
ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. Terdapat 4 serotipe virus
yaitu : DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan
demam dengue atau demam berdarah dengue. Ke 4 serotipe ditemukan di indonesia
dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.
2.3 Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ke tubuh penderita akan menimbulkan
veremia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan komplement sehingga terjadi
komplek imun antibodi- virus. Pengaktifan tersebut akan membentuk dan
melepaskan zat

Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah

meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah (kapiler), yang mengakibatkan


terjadinya perembesan atau kebocoran plasma, peningkatan permeabilitas dinding
kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma yang otomatis jumlah
trombosit

berkurang (trombositopenia), terjadinya hipotensi ( tekanan darah

rendah ) yang di karenakan kekurangan hemoglobin, plasma merembas selam


perjalanan penyakit mulai dari permulaan masa demam dan mencapai puncaknya
pada masa hemokonsentrasai ( peningkatan hematokrit > 20% ) bersamaan dengan
menghilangnya plasma melalui edotel dinding pembuluh darah. Meningginya nilai
hematokrit menimbulakn dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran
plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak. ( Sri rejeki
H.Hadinegoro, 2001). Hal pertama yang terjadi stelah virus masuk ke dalam tubuh
adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala,
mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada
kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti
pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran
limpa (Splenomegali).
2.4 Gambaran Klinis

Infeksi virus dengue


asimtomatik

differentiated

simtomatik

Dengue fever
syndrome

Without
haemorrahage

With
haemorrahage

Dengue fever

Dengue
hemorragic fever
No shock

DSS

DHF

Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik atau dapat
berupa demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau
sindrom syok dengue. Demam berdarah dengue ditandai oleh empat manifestasi
klinik mayor yaitu demam tinggi, manifestasi pendarahan (trutama kulit ),
hepatomegali, dan tanda kegagalan sirkulasi (WHO,1997). Yang membeakan DBD
dengan deman dengue (DD) adalah, pada DBD ditemukan permeabilitas pembuluh

darah yang tinggi, hipovolemia, hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemoragik.


Fase prarenjan diawali dengan nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi sempit,
hipotensi, ekstremitas dingin, gelisah dan berkeringat. Muntah dan nyeri abdomen
persisten meski tidak masuk kreteria WHO juga diperlu diwaspadai. Seringkali
terdapat perubahan dari demam menjadi hipotermia disertai keringat serta
perubahan status mental (samnolen atau iritabilitas).
2.4.1 Demam Dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan 2
atau lebih manifestasi klinis berikut :
-

Nyeri kepala

Nyeri retro orbital

Mialgia/atralgia

Ruam kulit

Manifestasi pendarahan (petekie/uji bendung positif)

Leukopenia dan pemeriksaan serologi dengue positif

2.4.2 Demam berdarah dengue


Berdasarkan kreteria WHO 1997 dagnosis DBD ditegakkan bila hal
dibawah ini dipenuhi :

Demam, riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik

Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :


-

Uji bendung positif

Petekie, ekimosis, purpura

Perdarahan mokusa

Hematemesis atau melena

Trombositopenia ( jumlah trombosit < 100.000/ul)

Terdapat minimal satu tanda-tanda kebocoran plasma sebagai berikut :


-

Peningkatan hematokrit > 20% dibandingkan standar usia dan jenis


kelamin

Penurunan hematokrit>20% setalah mendapat terapi cairan,


dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.

Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites atau


hipoproteinemia.

2.4.3 Dengue shock syndrom ( DSS)


Sindrom rejatan dengue (SRD) atau dengue shock syndrom (DSS)
adalah manifestasi renjatan yang terjadi pada penderita DBD derajat III dan IV
( WHO,1997). Kebanyakan pasien memasuki fase SRD pada saat atau setelah
demamnya turun yaitu antara hari

ke 3-7 setelah onset gejala. Pada saat

tersebut penderita dapat mengalami hipovolemi hingga lebih dari 30% dan
berlangsung selama 24-48 jam.
Disamping

ditemukannya

demam,

manifestasi

perdarahan,

trombositipenia, dan tanda perembasan plasma, pada penderita DBD yang


mengalami renjatan juga terdapat tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab
dan dingin, sianosis sirkumoral, nadai cepat dan lemah, tekanan nadi rendah,
hipotensi, serta penurunan status mental. Pada keadaan ini curah jantung
menurun dan menyebabkan iskemia jaringa, sehingga menimbulkan hipoksia
jaringan bersangkutan.
Matabolisme anaerob yang terjadi selanjutnya, mengakibatkan
akumulasi asam laktat

dan berujung pada keadaan asidosis metabolik.

Asidosis yang tidak segera mendapat koreksi akan segera memicu terjadinya
pembekuan intravasuler menyeluruh

( PIM) atau DIC ( Robbins dan

Kumar, 1995 ).
2.5 Diagnosis
Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai
berikut :
a) Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 7 hari kemudian turun secara lisis
demam disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, lemah, nyeri.

b) Manifestasi perdarahan :
1). Uji tourniquet positif
2). Petekia, purpura, ekimosis
3). Epistaksis, perdarahan gusi
4). Hematemesis, melena.
c) Pembesaran hati yang nyeri tekan, tanpa ikterus.
d) Dengan atau tanpa renjatan.
Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7
sakit ). Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis
buruk.
e) Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi
2.6 Klasifikasi
DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis
dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986) :
a) Derajat I
Demem mendadak 2-7 hari disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah tes toniquet positif
b) Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau perdarahan lain.
c) Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi ringan yaitu nadi cepat dan lemah tekanan
darah rendah, gelisah, sianosis mulut, hidung dan ujung jari.
d) Derajat IV
Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
a) Laboratorium
Terjadi trombositopenia (100.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang
dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih
dibandingkan nila hematokrit pada masa konvalesen.

Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan
hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF
dengan tepat. Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau
ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia
timbul karena berkurangnya limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali.
2.8 Diagnosa Banding
Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain
seperti :
a) Demam chiku nguya.
Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas
400C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot.
b) Demam tyfoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif,
adanya leukopenia, limfositosis relatif.
c) Anemia aplastik
Penderita tampak anemis, timbul juga perdarahan pada stadium lanjut, demam
timbul karena infeksi sekunder, pemeriksaan darah tepi menunjukkan
pansitopenia.
d) Purpura trombositopenia idiopati (ITP)
Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat menghilang,
tidak terjadi hemokonsentrasi.
2.9 Penatalaksaaan
a) Medis
Pada dasarnya pengoobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan suportif
1) DHF tanpa renjatan
Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien
dehidrasi dan haus. Pada pasien ini perlu diberi banyak minum, yaitu 1,5
sampai 2 liter dalam 24 jam. Dapat diberikan teh manis, sirup, susu, dan bila
mau lebih baik oralit. Cara memberikan minum sedikit demi sedikit dan
orang tua yang menunggu dilibatkan dalam kegiatan ini. Jika anak tidak mau

minum sesuai ang dianjurkan tidak dibenarkan pemasangan sonde karena


merangsang resiko terjadi perdarahan.
Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat anti piretik dan kompres
dingin. Jika terjadi kejang diberi luminal atau anti konfulsan lainnya.
Luminal diberikan dengan dosis : anak umur kurang 1 tahun 50 mg IM, anak
lebih 1 tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum berhenti lminal diberikan
lagi dengan dosis 3 mg/kg BB. Anak diatas 1 tahun diveri 50 mg, dan
dibawah 1 tahun 30 mg, dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital.
Infus diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila :
-

Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga


mengancam terjadinya dehidrasi.

Hematokrit yang cenderung meningkat.


Hematokrit mencerminkan kebocoran plasma dan biasanya mendahului
mnculnya secara klinik perubahan fungsi vital (hipotensi, penurunan
tekanan nadi), sedangkan turunya nilai trombosit biasanya mendahului
naiknya hematokrit. Oleh karena itu, pada pasien yang diduga menderita
DHF harus diperiksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari mlai hari ke-3
sakit sampai demam telah turun 1-2 hari. Nilai hematokrit itlah yang
menentukan apabila pasien perlu dipasang infus atau tidak.

2) DHF disertai renjatan (DSS)


Pasien yang mengalami renjatan (syok) harus segera sipasang infus
sebagai penganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Caiaran yang
diberikan bisanya Ringer Laktat. Jika pemberian cairan tidak ada respon
diberikan plasma atau plasma ekspander, banyaknya 20-30 ml/kgBB. Pada
pasien dengan renjatan berat diberikan infs harus diguyur dengan cara
membuka klem infus.
Apabila renjatan telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi
besar, tekanan sistolik 80 mmHg /lebih, kecepatan tetesan dikurangi 10
l/kgBB/jam. Mengingat kebocoran plasma 24-48 jam, maka pemberian infus
dipertahankan sampai 1-2 hari lagi walaupn tanda-tanda vital telah baik.

Pada pasien renjtan berat atau renjaan berulang perlu dipasang CVP
(Central Venous Pressure) untuk mengukur tekanan vena sentral melalui
vena magna atau vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU.
Trafusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal
yang berat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal berat dapat diduga
apabila nilai hemoglobin dan hematokrit menutun sedangkan perdarahanna
sedikit tidak kelihatan. Dengan memperhatikan evaluasi klinik yang telah
disebut, maka engan keadaan ini dianjurka pemberian darah.
b) Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan ialah bahaya kegagalan sirkulasi
darah, resiko terjadi pendarahan, gangguan suhu tubuh, akibat infeksi virus dengue,
gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
penyakit
3) Kegagalan sirkulasi darah
Dengan adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah ke dalam
jaringan ekstrovaskular, yang puncaknya terjadi pada saat renjatan akan
terlihat pada tubuh pasien menjadi sembab (edema) dan darah menjadi
kental.
Pengawasan tanda vital (nadi, TD, suhu dan pernafasan) perlu
dilakukan secara kontinyu, bila perlu setiap jam. Pemeriksaan Ht, Hb dan
trombosit sesuai permintaan dokter setiap 4 jam. Perhatikan apakah pasien
ada kencing / tidak. Bila dijumpai kelainan dan sebagainya segera hubungi
dokter.
4) Resiko terjadi pendarahan
Adanya

thrombocytopenia,

menurunnya

fungsi

trombosit

dan

menurunnya faktor koagulasi merupakan faktor penyebab terjadinya


pendarahan utama pada traktus gastrointestinal. Pendarahan grasto intestinal
didahului oleh adanya rasa sakit perut yang hebat (Febie, 1966) atau daerah
retrosternal (Lim, dkk.1966).

Bila pasien muntah bercampur darah atau semua darah perlu diukur.
Karena melihat seberapa banyak darah yang keluar perlu tindakan
secepatnya. Makan dan minum pasien perlu dihentikan. Bila pasien
sebelumnya tidak dipasang infuse segera dipasang. Formulir permintaan
darah disediakan.
Perawatan selanjutnya seperti pasien yang menderita syok. Bila terjadi
pendarahan (melena, hematesis) harus dicatat banyaknya / warnanya serta
waktu terjadinya pendarahan.
Pasien yang mengalami pendarahan gastro intestinal biasanya dipasang
NGT untuk membantu mengeluarkan darah dari lambung.
5) Gangguan suhu tubuh
Gangguan suhu tubuh biasanya terjadi pada permulaan sakit atau hari
ke-2-ke-7 dan tidak jarang terjadi hyperpyrexia yang dapat menyebabkan
pasien kejang. Peningkatan suhu tubuh akibat infeksi virus dengue maka
pengobatannya dengan pemberian antipiretika dan anti konvulsan. Untuk
membantu penurunan suhu dan mencegah agar tidak meningkat dapat
diberikan kompres dingin, yang perlu diperhatikan, bila terjadi penurunan
suhu yang mendadak disertai berkeringat banyak sehingga tubuh teraba
dingin dan lembab, nadi lembut halus waspada karena gejala renjatan.
Kontrol TD dan nadi harus lebih sering dan dicatat secara baik dan
memberitahu dokter.
6) gangguan rasa aman dan nyaman
Gangguan rasa aman dan nyaman dirasakan pasien karena penyakitnya
dan akibat tindakan selama dirawat. Hanya pada pasien DHF menderita lebih
karena pemeriksaan darah Ht, trombosit, Hb secara periodic (stp 4 jam) dan
mudah terjadi hematom, serta ukurannya mencari vena jika sudah stadium II.
Untuk megurangi penderitaan diusahakan bekerja dengan tenang
yakinkan dahulu vena baru ditusukan jarumnya. Jika terjadi hematum segera
oleskan trombophub gel / kompres dengan alkohol.

Bila pasien datang

sudah kolaps sebaiknya dipasang venaseksi agar tidak terjadi coba-coba


mencari vena dan meninggalkan bekas hematom di beberapa tempat. jika
sudah musim banyak pasien DHF sebaiknya selalu tersedia set venaseksi
yang telah seteril.
2.10 Pencegahan
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
a) Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan
melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus
DHF.
b) Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada
tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia
sembuh secara spontan.
c) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di
sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
d.Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi
penularan tinggi.
Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
a) Menggunakan insektisida.
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah
dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos
(abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion
ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos
(abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu
bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm
atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.

b) Tanpa insektisida Caranya adalah :

Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air


minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 10
hari).

Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.

Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan


benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

2.11 Komplikasi
Dalam penyakit DHF atau demam berdarah jika tidak segera di tangani akan
menimbulkan kompikisi adalah sebagai berikut :
a) Perdarahan
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan
jumlah

trombosit

(trombositopenia)

<100.000

/mm

dan

koagulopati,

trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya megakoriosit muda dalam


sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi perdarahan
terlihat pada uji tourniquet positif, petechi, purpura, ekimosis, dan perdarahan
saluran cerna, hematemesis dan melena.
b) Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2 7,
disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran
plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum, hipoproteinemia,
hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan berkurangnya aliran balik
vena (venous return), prelod, miokardium volume sekuncup dan curah jantung,
sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi
jaringan.
DSS juga disertai dengan kegagalan hemostasis mengakibatkan aktivity
dan integritas system kardiovaskur, perfusi miokard dan curah jantung menurun,
sirkulasi darah terganggu dan terjadi iskemia jaringan dan kerusakan fungsi sel
secara progresif dan irreversibel, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien
akan meninggal dalam 12-24 jam.
c) Hepatomegali

Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan


nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel sel kapiler.
Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan lebih banyak
dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody. 23

d) Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya
cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi dispnea, sesak
napas.

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian Fokus
a) Identitas pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia
kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
b) Keluhan utama
Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF datang ke rumah
sakit adalah panas tinggi dan pasien lemah.
c) Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai menggigil dan
saat demam kesadaran kompos mentis. Panas turun terjadi antara hari ke-3 dan
ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek,
nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri
otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta
adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau
hematemasis.
d) Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya
mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain.
e) Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
f) Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan
status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada faktor predisposisinya.
Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah,dan nafsu
akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai pemenuhan nutrisi

yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga
status gizinya menjadi kurang.

g) Kondisi lingkungan
sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan yang
kurang bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang di kamar).
h) Pola kebiasaan
Nutrisi dan metabolisme

: frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan

berkurang, dan nafsu makan menurun.


Eliminasi BAB

: kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi.

Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.


Eliminasi BAK

: perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau

banyak, sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
Tidur dan istirahat

: anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami

sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan kuantitas tidur
maupun istirahatnya kurang.
Kebersihan

: upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan

lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang


nyamuk aedes aegypti.
Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upa untuk menjaga
kesehatan.
i) Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik anak adalah :
-

Kesadaran : Apatis

Vital sign : TD : 110/70 mmHg00

Kepala : Bentuk mesochepal

Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata anemis

Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan


pendengaran

Hidung : ada perdarahan hidung / epistaksis Mulut : mukosa mulut kering,


bibir kering, dehidrasi, ada perdarahan pada rongga mulut, terjadi
perdarahan gusi.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada,
nyeri telan

Dada
Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
Perkusi : Sonor
Palpasi : taktil fremitus normal

Abdomen :
Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati (hepatomegali)
Auskultasi : bising usus 8x/menit
Perkusi : tympani
Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian atas

Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot, sendi


tulang

Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang kateter

j) Sistem integumen
Adanya peteki pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin
dan lembab. Kuku sianosis atau tidak.
-

Kepala dan leher


Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy),
mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade
27 II,III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi
perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami
hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingga (grade II, III, IV).

Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang sesak. Pada fhoto thorax terdapat
adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan, (efusi pleura), rales,
ronchi, yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.

Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali) dan asites.
Ekstremitas : akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

k) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan adanya infeksi
dengue adalah :
-

Uji rumple leed / tourniquet positif

Darah, akan ditemukan adanya trombositopenia, hemokonsentrasi, masa


perdarahan memanjang, hiponatremia, hipoproteinemia.

Air seni, mungkin ditemukan albuminuria ringan

Serologi
Dikenal beberapa jenis serologi yang biasa dipakai untuk menentukan
adanya infeksi virus dengue antara lain : uji IgG Elisa dan uji IgM Elisa

Isolasi virus.
Identifikasi virus dengan melakukan fluorescence anti body technique test
secara langsung / tidak langsung menggunakan conjugate (pengaturan atau
penggabungan)

Identifikasi virus
Identifikasi virus dengan melakukan fluorescence anti body tehnique test
secara langsung atau tidak langsung dengan menggunakan conjugate

Radiology .
Pada fhoto thorax selalu didapatkan efusi pleura terutama disebelah hemi
thorax kanan

3.2 Diagnosa Keperawatan


a) Defisit volume cairan berhubungan dengan berpindahnya cairan
intraseluler ke ekstraseluler (kebocoran plasma dari endotel)
Ditandai dengan:
- Hipotensi
- Takikardi
- Pengisian kapiler lambat
- Berkeringat
- Urin pekat atau menurun
b) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan cairan di rongga paru
(effusi pleura)
Ditandai dengan:
- Perubahan kedalaman dan kecepatan pernafasan
- Takipnea
- Sianosis
- Peningkatan kegelisahan, ketakutan dan laju metabolik
c) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai oksigen dalam jaringan
menurun
Ditandai dengan :
- Penurunan nadi perifer, pengisian kapiler lambat atau menurun
- Perubahan warna kulit
- Edema jaringan ekstremitas dingin
d) Hipertermi berhubungan viremia
Ditandai dengan:
- Peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari jangkauan normal
- Kulit kemerahan, hangat waktu disentuh
- Peningkatan tingkat pernafasan
- Takikardi
e) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubunggan dengan proses patologis
(viremia) Ditandai
dengan:
- Keluhan nyeri
- Perilaku yang bersifat hati-hati atau melindungi
- Wajah menunjukkan nyeri
- Gelisah
f) Intake nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia
Ditandai dengan:
- Konjungtiva dan membran mukosa pucat
- Menolak untuk makan
- Penurunan berat badan
- Turgor kulit buruk
g) Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan kadar trombosit dalam darah

Di tandai dengan:
- Akral dingin
- Tekanan darah menurun
- Nadi lemah
- Kesadaran menurun
(Nasrudin, 2005)
3.3 Fokus Intervensi
a) Devisit volume cairan berhubungan dengan berpindahnya cairan
intraseluler ke ekstraseluler
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan defisit volume cairan dapat
terpenuhi
KH :
- Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan perilaku yang, perlu
untuk memperbaiki defisit cairan
- Menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan oleh
haluaran urine adekuat, tanda-tanda vital stabil, membran mukosa
lembab, turgor kulit baik.
- Volume cairan cukup, input cukup, output tidak berlebih.
Rencana tindakan:
1) Kaji keadaan umum pasien (lemah pucat, tachicardi) serta tanda-tanda
vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien, untuk mengetahui dengan
cepat penyimpangan dari keadaan normalnya
2) Observasi adanya tanda-tanda syok.
Rasional : Agar dapat segera dilakukan t.indaka.n untuk menangani
syok yang dialami pasien.
3) Berikan cairan intravaskuler sesuai program dokter.
Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang
mengalami defisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk
karena cairan langsung masuk kedalam pembuluh darah.
4) Anjurkan pasien untuk banyak minum
Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah
volume cairan tubuh.
5) Kaji tanda dan gejala dehidrasi atau hipovolemik (riwayat muntah diare,
kehausan turgor jelek).
Rasional : Untuk mengetahui penyebab devisit volume cairan, jika
haluaran urine < 25 ml/jam, maka pasien mengalami syok
6) Kaji perubahan haluaran urine dan monitor asupan haluaran
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan dan tingkatan
dehidrasi.

b) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan cairan


dirongga paru (effusi pleura)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pola nafas menjadi
efektif atau normal
KH
: Menunjukkan pola nafas efektif dan paru jelas dan bersih.
Rencana tindakan:
1) Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Rasional : Kecepatan biasanya meningkat, dispnea dan terjadi peningkatan
kerja nafas.
2) Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas ronchi
Rasional : Ronchi menyertai obstruksi jalan nafas atau kegagalan
pernafasan.
3) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
Rasional : Duduk tinggi memungkinkan pengembangan paru dan
memudahkan pernafasan diafragma, pengubahan posisi meningkatkan
pengisian udara segmen paru.
4) Bantu pasien mengatasi takut atau ansietas.
Rasional : Perasaan takut dan ansietas berat berhubungan dengan
ketidakmampuan bernafas atau terjadinya hipoksemia
5) Berikan oksigen tambahan
Rasional : Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
c) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai oksigin dalam jaringan
menurun.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan suplai oksigen ke
jaringan adekuat.
KH
: Menunjukkan peningkatan perfusi secara individual misalnya
tidak ada sianosis dan kulit hangat.
Rencana tindakan:
1) Auskultasi frekuensi dan irama jantung cacat adanya bunyi jantung
ekstra.
Rasional : Tachicardia sebagai akibat hipoksemia kompensasi upaya
peningkatan aliran darah dan perfusi jaringan, gangguan irama berhubungan
dengan hipoksemia, ketidakseimbangan elektrolit. Adanya bunyi jantung
tambahan terlihat sebagai peningkatan kerja jantung.
2) Observasi perubahan status metal
Rasional : Gelisah
bingung
disorientasi dapat menunjukkan
gangguan aliran darah serta hipoksia.
3) Observasi warna dan suhu kulit atau membrane mukosa.
Rasional : Kulit pucat atau sianosis, kuku membran bibir atau lidah dingin
menunjukkan vasokonstriksi prifer (syok) atau gangguan aliran darah
perifer.
4) Ukur haluaran urine dan catat berat jeuis urine

Rasional : Syok lanjut atau penurunan curah jantung menimbulkan


penurunan perfusi ginjal dimanifestasi oleh penurunan haluaran urine
dengan berat jenis normal atau meningkat
5) Berikan cairan intra vena atau peroral sesuai indikasi.
Rasional : Peningkatan cairan diperlukan untuk menurunkan hiperviskositas
darah (Potensial pembentukan trombosit) atau mendukung volume sirlukasi
atau perfusi jaringan.
d) Hipertemi berhubungan dengan terjadinya veremia
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan temperatur suhu
dalam batas normal (36-37 C).
KH

:
-

Klien tidak menunjukkan kenaikan srihu tubuh.

Suhu tubuh dalam batas normal (36-37 C)

Rencana tindakan:
1) Kaji saat timbulnya demam
Rasional : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien
2) Observasi tanda-tanda vital
Rasional : Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien.
3) Tingkatkan intake cairan.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi asupan cairan
4) Catat asupan dan keluaran
Rasional : untuk mengetahui ketidakseimbangancairan tubuh
5) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu
tinggi.
e) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses patologis (viremia)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkurang/hilang
KH
: a. Rasa nyaman pasien terpenuhi
b. Nyeri berkurang atau hilang
Rencana tindakan:
1) Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien dengan skala nyeri (0 - 10), tetapkan
tipe nyeri yang dialami pasien, respon pasien terhadap nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui berat nyeri yang dialami pasien
2) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri. Rasional
: Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat
dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan masalah
klien.

3) Berikan posisi yang nyata dan, usahakan situasi ruang yang terang.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri .
4) Berikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari rasa
nyeri.
Rasional
: Dengan melakukan aktivitas lain, pasien dapat sedikit
melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.
5) Berikan kesempatan pada pasien untuk berkomunikasi dengan temanteman
atau orang terdekat.
Rasional
: Tetap berhubungan dengan orang-orang terdekat atau
teman membuat pasien bahagia dan dapat mengalihkan,
perhatiannya terhadap nyeri.
6) Berikan obat analgetik (Kolaborasi dengan dokter)
Rasional
: Obat analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri
pasien.
f) Intake nutrisi kurang dari, kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah ,
anoreksia
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi.
KH
: Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi
yang dibutuhkan atau diberikan .
Rencana tindakan:
1) Kaji keluhan mual dan muntah yang dialami oleh pasien
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
2) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual dan muntah
3) Jelaskan manfaat nutrisi bagi pasien terutama saat pasien sakit.
Rasional : Meningkatkan Pengetahuan pasien tentang nutrisi
sehingga motivasi pasien untuk makan meningkat.
4) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur dan dihidangkan saat
masih hangat.
Rasional : membantu
mengurangi
kelelahan
pasien
dan
meningkatkan asupan makanan.
5) Catat jumlah dan porsi makanan yang dihabiskan
Rasional : untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien.
6) Ukur berat badan pasien setiap hari.
Rasional : untuk mengetahui status gizi pasien

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD DHF (Dengue
Haemorrhagic fever) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/ nyeri sendi yang disertai
lekopenia tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995).
4.2 Saran
Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di indonesia yang cenderung meningakat jumlah penderita dan
penyebaranya yang sejalan dengan arus trasfortasi dan kepadatan penduduk. Maka
dari ituSeorang Perawat haruslah mengadakan sosialisasi dengan masyarakat
untuk menjaga lingkungan agar supaya tidak ada lingkungan nyang kotor karena
sangat di sukai oleh jentik nyamuk

Daftar Pustaka
Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ; Jakarta.
Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien DHF, EGC ; Jakarta.
Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, FKUI ; Jakarta.
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan, EGC ; Jakarta.