Anda di halaman 1dari 5

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya
maka penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan tema
Lingkungan dan Interaksi Sosial ini.
Makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Character Building. Dalam penyusunan
makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan kami yang masih
dalam tahap pembelajaran.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

Jakarta, Oktober 2016

Tim Penyusun

LINGKUNGAN DAN INTERAKSI SOSIAL

A. LATAR BELAKANG
Palang pintu perlintasan rel kereta api merupakan salah satu sarana prasarana
kereta api yang berfungsi sebagai simbol untuk melindungi dan memberikan
peringatan bahwa bahwa kereta api akan melintasi rel. Tetapi pada kenyataannya
banyak sekali pengendara yang melanggar aturan dengan menerobos perlintasan rel
kereta api sehingga tingkat kecelakaan kian meningkat.
Perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang ada contohnya. Hal ini
harus menjadi perhatian bagi lingkungan masyarakat di sekitar perlintasan rel.
Khususnya pada pemerintah agar lebih memperhatikan tentang bahaya dan resiko
terjadinya kecelakaan yang telah banyak memakan korban jiwa.
Seperti yang terjadi pada perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang
ada di Rawa Buaya. Padahal di perlintasan rel tersebut merupakan jalan utama yang
biasa masyarakat lintasi. Walaupun di sana tidak terdapat palang pintu, tetapi timbul
suatu usaha seseorang yang rela untuk memperhatikan keamanan serta keselamatan
pengendara. Penjaga perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu di stasiun Rawa
Buaya menjadi profesi yang dapat mengurangi tingkat kecelakaan pada perlintasan
rel kereta api, namun keberadaan mereka kurang dapat perhatian dari pemerintah,
bahkan pemerintah melarang tanpa mengusahakan solusi terbaik untuk masalah
sosial ini.
B. TUJUAN
Dalam penulisan ini kami selaku penyusun berniat untuk menambah
wawasan dan pengetahuan untuk menambah semangat hidup dan untuk melihat
bagaimana lingkungan serta interaksi sosial terhadap profesi yang kami observasi.
C. PROFIL PENJAGA PERLINTASAN REL KERETA API RAWA BUAYA
Bapak Heri atau yang sehari-hari berprofesi sebagai penjaga lintas rel kereta
api daerah Rawa Buaya yang hidup serba pas pasan, beliau berprofesi sebagai
penjaga lintas rel kereta api dari tahun 2013 hingga sekarang. Beliau dikaruniai 5
orang anak, diantaranya ada yang telah berkuliah yakni anak pertama dan kedua
(dengan biaya sendiri, karena telah bekerja), sedangkan anak ketiga beliau masih

duduk di bangku SMA, anak keempat masih duduk di bangku SMP, dan anak
terakhir beliau masih berumur 4 tahun.
Walaupun beliau hanya berprofesi sebagai penjaga palang pintu rel kereta
api, beliau mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan
hingga perguruan tinggi. Penghasilan Bapak Heri tidak menentu sekitar 60.000/hari.
Menurut beliau penghasilan tersebut harus dicukupkan untuk pemenuhan kebutuhan
hidup, karena memang tidak mudah mencari pekerjaan di Jakarta.
Sebelum bekerja sebagai penjaga perlintasan kereta api beliau bekerja
sebagai kuli bangunan. Beliau mulai bekerja dari jam 09.00 s.d 12.00 WIB. Beliau
banyak membantu orang menyeberang perlintasan rel kereta api. Kendala yang
beliau hadapi adalah ketika terdapat pengendara yang kadang kala tidak tertib dan
tetap nekat menerobos, susah diatur dan marah marah. Di usia senja beliau masih
bersemangat bekerja untuk menafkahi keluarganya.
1. PERANAN

PENJAGA

LINTAS

REL

KERETA

API

DALAM

LINGKUNGAN DAN INTERAKSI SOSIAL


Lingkungan sosial, konteks sosial, konteks sosiokultural, atau milieu,
adalah sesuatu hal yang didefinisikan sebagai suasana fisik atau suasana sosial
dimana manusia hidup didalamnya, atau dimana sesuatu terjadi dan
berkembang. Lingkungan sosial tersebut bisa berupa kebudayaan atau kultur
yang diajarkan atau dialami oleh seorang individu, atau juga manusia dan
institusi yang berinteraksi dengan individu tersebut (Barnett dan Casper, 2001:
91). Bila dikaitkan dengan hal ini peranan penjaga lintas rel kereta api dalam
lingkungan sosial adalah menimbulkan sebuah kebudayaan atau kebiasaan
masyarakat, bahwa peran mereka adalah sebagai sarana pengawas lalu lintas rel
kereta api pengganti palang pintu rel kereta api. Karena, belum adanya tindakan
dari pemerintah untuk membuat palang pintu kereta api dan tanda bunyi bila
adanya kereta yang akan melintas.
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut
hubungan antarindividu, antara individu dengan kelompok maupun antara
kelompok dengan kelompok lainnya(Kimball Young dan Raymond W. Mack).
Dalam hal ini penjaga lintas rel kereta api telah menciptakan sebuah hubungan

sosial antar individu maupun kelompok. Banyak masyarakat yang mendukung


keberadaan penjaga perlintasan rel kereta api ini, karena sebelum adanya
penjaga lintas rel kereta api banyak terjadi kecelakaan yang hampir setiap
minggu terjadi kecelakaan. Setelah adanya penjaga lintas rel kereta api, tingkat
kecelakaan menjadi berkurang dan terjadi timbal balik yang saling
menguntungkan. Masyarakat mendapat rasa aman sedangkan penjaga rel lintas
kereta api mendapatkan upah sukarela dari masyarakat. Namun, keberadaan
penjaga perlintasan kereta api ini sempat mengalami penolakan dari pemerintah
karena dianggap sebagai pungutan liar. Padahal jika dilihat dari segi manfaatnya,
seorang penjaga lintas rel kereta api ini sangatlah membantu bagi keselamatan
masyarakat, serta melancarkan arus lalu lintas pada rel kereta api tersebut.
2. HIKMAH YANG DIDAPAT
Perkerjaan sekecil apapun jangan pernah kita pandang sebelah mata.
Jangan meremehkan, karena setiap pekerjaan memiliki manfaat.

Pendidikan sangat penting.


Walaupun hanya berprofesi sebagai penjaga perlintasan rel kereta api
tetapi beliau mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan

tinggi.
Tanggungjawab terhadap keluarga. Walaupun pekerjaannya sangat
beresiko tinggi, demi menafkahi keluarga kita harus rela berkorban untuk
mencari nafkah, serta ikhlas dalam bekerja.

3. KESIMPULAN
Bapak Heri merupakan seorang penjaga perlintasan rel kereta api di
Rawa Buaya, Jakarta Barat. Perlintasan rel kereta api ini tidak memiliki palang,
sehingga sering terjadi kecelakaan. Saat proses wawancara bersikap ramah dan

menjelaskan dengan jelas dan beliau merupakan seorang pekerja keras serta
tekun terhadap pekerjaannya.
Dari hasil wawancara dan observasi, yang diperoleh dapat disimpulkan
bahwa penjaga perlintasan rel kereta api dalam lingkungan sosial masyarakat
adalah sebagai alat pengawas alternatif pengganti palang pintu rel kereta api,
selain itu dalam interaksi sosial penjaga rel kereta api disenangi oleh masyarakat
sekitar karena sangat membantu dan bermanfaat. Dari hasil temuan juga dapat
diketahui bahwa pemerintah sebagai suatu kelompok yang memiliki wewenang
dalam memberikan sarana prasarana bagi masyarakat cenderung tidak
melakukan tindakan apapun untuk mengatasi permasalahan tersebut.
4. SARAN
Untuk pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan kondisi saranaprasarana umum dalam hal ini adalah palang pintu perlintasan rel kereta
api di Rawa Buaya. Karena ini sangat membahayakan masyarakat yang

melintasi perlintasan tersebut.


Kemudian bagi pihak pemerintah sebaiknya mempekerjakan dan

memberikan upah yang layak bagi pekerja tersebut.


Mari saling menghargai setiap profesi yang ada jangan melihat seseorang
dari profesinya saja tapi lihatlah dari usaha yang mereka lakukan untuk
mensejahterahkan keluarganya.