Anda di halaman 1dari 2

Allah Datang Dengan Banyak Cara

saudara ku sekalian yang terkasih, kisah ini ku tuliskan sebagai bentuk keimanan ku pada Allah yang
Kudus dan bentuk kasih Bunda Maria yang sungguh menguatkan perjalanan kehidupan ku dalam
berkeluarga.
Saudaraku yang terkasih, dengan segala kerendahan hati saya mohon janganlah beranggapan bahwa
kesaksianku ini di anggap bentuk gaya-gayaan / bangga-banggaan pada diri saya, tetapi jauh dari pada
itu, semua ini adalah ujut shyukur ku pada Bapa di surga bahwasanya Ia selalu berada dekan pada
umatnya dan kasihnya melimpah bagi kita semua.
pada awal rencan perkawinan kami semua memang ada saja halangan hingga tertunda sampai hampir 2
tahun, setelah menikah kami tidak ber KB, dan 1 tahun pernikahan kami belum juga dipercaya Allah untuk
mendapatkan buah cinta kasih pernikahan kami. Akhirnya kami periksakan diri kami ke dokter di RS
MItra keluarga Jatinegara, dokter (dr. Fras Putuhena) menyarankan saya sebagai suami untuk tes
sperma, sedangkan istri saya harus menjalani HSG. Tiga hari berikutnya kami diminta datang untuk
membicarakan hasilnya, tepat tanggal 24 Desember 1999, sore menjelang kami akan menyambut
perayaan natal, dokter yang memeriksakan kami menyatakan ada masalah di tubuh istri saya, dokter
menyatakan bahwa kedua saluran tuba istri saya tertutup, sehingga sperma tidak dapat menuju tempat
pembuahan, bagai petir menyambar kepala istri saya, dia menangis meraung2 sejadi jadinya di ruang
dokter tersebut, saya mencoba memberi kekuatan padanya, walaupun pada akhinya dia dapat berhenti
menangis, tetapi perasaanya saat itu saya tahu pasti sangat hancur, mengapa disaat malam natal kami
harus menerima ini semua, jujur saja saat itu saya cukup dapat mengendalikan hati saya dengan cara
berpasrah pada Allah melalui bunda terkasih.
dr. Fras. saat itu memberikan beberapa alternatif dan peneguhan kepada kami sebagai umat katolik,
kebetulan beliau sendiri pemeluk katolik, beliau menyarankan untuk operasi dengan biaya sekitar 20
jutaan dengan hasil sekitar 20 % keberhasilan, lalu bisa juga dengan proses bayi tabung, yang biayanya
lebih mahal lagi dengan keberhasilan 20 %, tetapi itu dilarang sebagai pemeluk katolik (sungguh luar
biasa dr. itu, masih memikirkan masalah imam, dalam hati saya)
semua itu tidak ada yang kami jalani, karena sejak saat itu istri saya sudah tidak mau lagi menginjakan
kakinya ke rumah sakit manapun.
diusia pernikan kami yang ke 2,5 tahun, kami sempat berobat sejenis prana dengan peneguhan dalam doa
bersama Sr. Lucia (di Strada Pejaten) Sr. Lucia ini cukup menguatkan kami secara iman dan istri saya
terutama dapat kebesaran hati, melalui shering2 yang dilakukan dengan Sr. Luci, Sr. Luci sangat
memberi kami keyakinan bahwa Allah akan memberikan kepercayaan itu kepada kami berdua.
1 bulan, sebelum hari pernikahan kami yang ke tiga, secara tidak sengaja kami bertemu dengan Romo
Bintoro yang pernah membimbing kami untuk masalah pernikan kami dulu, beliau juga membesarkan hati
kami dengan mengatakan bahwa tanpa anak bukan berarti perkawinan yang dikuduskan melalui sakramen,
harus menjadi hancur . Beliau secara kusus akan mendoakan kami untuk perkara yang satu ini, dan saya
juga secara pribadi berdoa Novena kepada Ibu Maria, apa bila ibu berkenan memberi kepercayaan
padaku, saya akan mempersebahkan anak ini untuk kau pakai sebagai alatmu, demi kebahagian orang
banyak.
Cuma Allah yang dapat membuat ini semua terjadi.
2 minggu menjelang hari pernikahan kami yang ketiga Allah memberi hadiah ulang tahun perkawinan kami
dengan membuat seorang janin laki-laki dalam rahim istri saya, sungguh luar biasa, ini adalah hadih ulang
tahun perkawinan saya yang terindah, sekaligus hadiah paskah yang kuterima dari Allah.
Ditengah ketakjubpan kami atas yang diperbuat Allah pada kami, muncullah masalah baru, menjelang

malam paskah (usia kehamilan 6 minggu) istriku mengalami pendarahan hebat, saya Cuma dapat berdoa
Bapa apakah engkau akan memberi kabar menyakitkan seperti menjelang natal tahun 2 tahun lalu ke pada
istriku
Segera kami melarikan istriku ke RS Mitra, dan di sana ditangani dr. Frans dengan sangat cermat. Dan
menurut hasil USG ternyata janin yang ada dirahim istriku masih sangat aktif sekali, ini juga membuat
keheranan ke dua yang dialami dr. Frans. Dia cuma berkata Cuma Allah yang dapat membuat ini semua.
Akhirnya setelah ditangani secara medis, istriku boleh pulang kerumah tanpa harus rawat inap, tetapi
istriku harus menjalani badtres selama 6 bulan.
Puji Tuhan waktu kelahiran tiba 2 minggu lebih cepat dari perkiraan dari perkiraan 8 Desember, maju
menjadi 28 November.
Anakku lahir dengan operasi, karena setelah istriku bergulat dengan maut selama hampiar lebih dari 9
jam mengalami kontraksi dikamar bersalin, dokter memutuskan untuk operasi, dan ternyata memang si
bayi terlilit tali pusat.
Puji dan sembah kuhaturkan pada Mu Bapa atas kepercayaan ini, lengkapilah kekurangan kami dalam
membesarnya Anak Mu ini.
Bayi ini kuberi nama Natanael Prasanna Bintang Hendritama , harapan kami bayi kami ini akan
meneladani Rasul Natanae, dan Prasanna yang berarti Anak yang membahagikan orang banyak
(sangsekerta) Bintang pemberian yang utama. Yang kalau boleh kami artikan Anak yang akan
membahagiakn orang banyak diberikan Allah sebagai anak pertama kami. Semoga dan semoga.
Saudaraku yang terkasih, ini semua kiranya merupakan bahan refleksi bagi kami akan cintanya Allah Bapa
kepada semua umat manusia, karena rahmat yang diberikan Allah bagi siapa saja diberikan secara Cuma
Cuma, tinggal bagai mana kita menerima semua rahmat itu. Saya dengan segala kerendahan hati
mengajak semua saja yang membaca kisah ini untuk mensyukuri dengan kasih keilasan atas apa saja yang
telah diberikan Allah dalam kehidupan kita ini.
Dan marilah kita mendoakan Bapa Kami 1 x agar rahmat ini juga dapat dialami oleh setiap pasangan yang
sangat merindukan buah hati, serta untuk kebahagian kasih bagi anak anak yang terbuang dan
teraniyaya.
Teriring terima kasihku pada Romo Bintoro yang meneguhkan kami dalam pengharapan Sr. Luci yang
meneguhkan kepercayaan iman kami Dr. Frans Putuhena. Yang menangani kami secara medis Dr. Liliana
Sugiarto yang telah membesarkan hati kami Keluarga besarku yang penuh kasih memberikan keyakinan
pada istiku Teman dan sahabat yang tiada hentinya mendoakan kami Dan umat Alllah yang selalu dalam
pengharapan. Salam hormat kami untuk saudaraku sekalian.
Erik Hendrikus Yuniarto
Email: erik.yuniarto@atmajaya.ac.id