Anda di halaman 1dari 9

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI METODE

PENGAJARAN AKHLAK BAGI SANTRI DI PONDOK PESANTREN


AL ASROR PATEMON GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

PROPOSAL SKRIPSI
diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan

oleh
Angger Eko Prasetyo
3301412106

JURUSAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan sebagai gejala manusiawi sekaligus sebagai upaya sadar untuk
membantu seseorang dalam mengaktualisasi diri sepenuhnya dan selengkapnya.
Adanya pendidikan sama dengan adanya kehidupan manusia itu sendiri, dengan
perkembangan peradaban manusia, berkembang pula isi dan bentuk
penyelengaran pendidikan. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis
dalam kehidupan setiap individu, yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik,
daya jiwa (akal, rasa dan kehendak), sosial, dan moralitasnya. Sesuai yang telah
dicantumkan di UU RI No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3
yang berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yangberiman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan pernyataan undang-undang tersebut, maka dapat dijelaskan
bahwa pendidikan juga disebut sebagai proses pembentukan pribadi mandiri dan
proses pendewasaan diri. RifaI dan Anni (2009: 71) menyebutkan bahwa masa
dewasa merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru
dan harapan-harapan sosial baru. Diharapkan anak dapat berusaha mandiri dalam
menyelesaikan tugas-tugas tanpa bergantung dengan bantuan orang lain misalnya
dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tidak lagi menyontek teman, karena ia
sadar akan tanggung jawabnya adalah belajar dan mengerjakan tugas-tugas
dengan baik. Pendidikan sebagai proses pendewasaan diri juga bertujuan agar

individu dapat berpikir secara matang dan dewasa dengan kata lain adanya
perubahan sikap yang lebih baik, bisa mengatur dirinya sendiri, adanya sikap
tanggung jawab akan kewajiban-kewajiban yang harus dilakanakan, dan berani
menerima resiko dan sanksi apapun bila ia melanggar suatu aturan dan norma
tertentu.
Pendidikan sebagai proses pembelajaran dengan upaya seharusnya mampu
menghantarkan peserta didik kearah yang lebih baik sesuai dengan tujuan
pembelajaran, namun dalam kenyataannya masih banyak masalah dan kendala
dalam proses berlangsungnya pendidikan di Indonesia. Berbagai permasalahan
yang muncul sampai sekarang ini tampaknya masih terus mengancam Indonesia
sebagai negara bangsa. Katakan saja tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, dan
perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa, seperti perkelahian, perusakan,
perkosaan, minum-minuman keras, dan kekerasan adalah permasalahan yang
sampai saat ini belum bisa diatasi. Bahkan, bertambah berat tantangan yang
dihadapi bangsa ini seiring dengan arus globalisasi. Gencarnya arus global
tanpa disertai adanya filter dari masyarakat Indonesia, mengakibatkan
masyarakat mudah terbawa arus kebebasan dan indivudualisme, yang
bedampak langsung terhadap menurunnya kualitas moral bangsa. Adanya
penurunan kualitas moral bangsa saat ini, dicirikan dengan maraknya praktek
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), terjadinya konflik (antar
etnis,agama, politis, remaja), meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos
kerja, dan sebagainya (Megawangi, 2004:14). Lebih dari pada itu, krisis
moral ini pun melanda generasi muda dipersekolahan, hasil penelitian
Megawangi tentang ketidakjujuran siswa Sekolah Menengah Kejuruan Teknik
Informatika (SMK-TI) di Bogor, dimana hampir 81% siswanya sering

membohongi orang tua,30,6% sering memalsukan tanda tangan orang


tua/wali, 13% siswa sering mencuri dan 11% siswa sering memalak.
Diantara sekian banyak problematika yang terjadi salah satunya adalah
Demoralisasi, dimana proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan
moral dan budi pekerti hanya sebatas teks dan kurang mempersiapkan peserta
didik untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan dalam masyarakat.
Diakui atau tidak diakui saat ini terjadi krisis moral dalam kehidupan di
masyarakat. Krisis tersebut ditandai dengan meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, penyalahgunaan obat-obatan,
pornografi, pemerkosaan, dan masih banyak lagi masalah sosial yang menjadi
masalah sosial hingga saat ini belum dapat teratasi secara tuntas. Kondisi krisis
tersebut menandakan bahwa seluruh pengetahuan agama dan moral yang
didapatkan di bangku sekolah ternyata kurang berdampak efektif terhadap
perubahan perilaku dan watak manusia di Indonesia.
Salah satu penyebabnya dikarenakan pendidikan formal disekolah masih
menitikberatkan kepada pengembangan intelektual atau kognitif semata,
sedangkan hal-hal lain seperti pengendalian diri, kepribadian, tanggung jawab dan
akhlak mulia masih terpinggirkan. Hal tersebut masih dianggap kurang penting
bila dibandingkan dengan prestasi akademik disekolah. Padahal hal ini merupakan
karakter yag harus terbentuk dalam proses pembelajaran. Dikhawatirkan jika
karakter ini tidak terbentuk dan pendidikan masih berprospek pada aspek kognitif
saja, maka pendidikan akan melahirkan manusia yang pintar namun tidak
berkarakter yang baik.
Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti ingin melaksanakan sebuah
penelitian sejauh manakah peranan pondok pesantern dalam membangun karakter
pada setiap santri disamping peranan pendidikan formal di sekolah. Pondok

pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada pada lingkungan


masyarakat Indonesia dengan model pembinaan yang sarat dengan pendidikan
nilai, baik nilai agama maupun nilai-nilai luhur bangsa. Sehingga pesantren
menjadi sebuah lembaga yang efektif dalam pengembangan pendidikan karakter
peserta didiknya.
Pondok Pesantren merupakan sistem pendidikan agama Islam yang tertua
sekaligus merupakan ciri khas yang mewakili Islam tradisional Indonesia yang
eksistensinya telah teruji oleh sejarah dan berlangsung hingga kini. Pada mulanya
merupakan sistem pendidikan Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat
Islam di Indonesia. Munculnya masyarakat Islam di Indonesia berkaitan dengan
proses Islamisasi, dimana proses Islamisasi terjadi melalui pendekatan dan
penyesuaian dengan unsur-unsur kepercayaan yang sudah ada sebelumnya,
sehingga terjadi percampuran atau akulturasi. Saluran Islamisasi terdiri dari
berbagai cara antara lain melalui perdagangan, perkawinan, tasawuf, pondok
pesantren dan kebudayan atau kesenian (Kartodirjo,1983:120).
Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk kepentingan kekuasaan dan
keagungan duniawi tetapi mengutamakan kepada mereka, bahwa belajar adalah
semata-semata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan. Cita-cita pendidikan
pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri, membina diri agar tidak
menggantungkan kepada orang lain kecuali pada Tuhan (Muhtarom, 2002:44).
Fungsi pesantren untuk mendidik santri yang memiliki makna dan sebagai
usaha untuk membangun dan membentuk pribadi warga negara dan bangsa,
membentuk pribadi muslim yang tangguh, mampu mengatur kehidupan
pribadinya dan mengarahkan kehidupannya. Secara difinisi pesantren adalah
lembaga pendidikan tradisional Islam untuk belajar memahami, menghayati dan

mengamalkan ajaranajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral


agama sebagai pedoman hidup sehari-sehari dalam masyarakat. (Qomar,2005,78)
Lembaga pendidikan pesantren berbentuk asrama dibawah pimpinan kyai
dibantu seorang atau beberapa orang ulama atau ustadz yang hidup bersama
ditengahtengah para santri dengan masjid atau surau sebagai pusat kegiatan.
Pusatpusat pendidikan pesantren di Jawa dikenal dengan nama pondok
pesantren.. Rumahrumah kecil tempat menginap para santri itu yang di sebut
pondok, sedangkan pesantren artinya tempat santri. Santri adalah sebutan
dari pelajarpelajar tersebut, jadi pondok pesantren artinya tempat pendidikan
para santri (Warjosukarto, 1963:40).
Sebuah pesantren baik yang masih tradisional maupun yang sudah modern
sekalipun, tidak pernah meninggalkan pengajaran-pengajaran kitab-kitab Islam
klasik. Kitab-kitab Islam klasik merupakan literatur yang sangat penting dalam
pesantren dan telah dijadikan andalan bagi setiap pesantren. Tujuan utama dari
pengajaran tersebut adalah untuk mencetak atau untuk mendidik calon-calon
ulama. Para santri yang tinggal dipondok pesantren dalam waktu yang pendek
tidak bercita-cita menjadi ulama, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari
pengalaman yang lebih mendalam (Qomar,2005:8 )
Pengajaran kitab-kitab Islam klasik diberikan sebagai upaya untuk meneruskan
tujuan utama pesantren yaitu mendidik calon-calon ulama yang setia kepada
faham Islam. Keseluruhan kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan pesantren dapat
digolongkan kedalam delapan kelompok, yaitu Nahwu dan Sharof,Fiqh, Akhlak,
Hadist, Tafsir, Tauhid, Tasawuf dan cabang-cabang lain (Qomar,2005:5)
Kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan kepada para santri di pondok pesantren Al
Asror keseluruhanya merupakan jenis kitab-kitab Islam klasik yang berbahasa
Arab yang sebagian besar kitab ini tidak berharokat atau tanpa ada tanda bacanya.
Kitab kitab klasik tersebut yang untuk kalangan pesantren disebut kitab kuning.

Tabel 1
Kitab-kitab kuning sebagai bahan pengajaran di pondok pesantren Al Asror
N
o
1.

Nahwu

JurumiahSulam Sibyan Mutamimah

2.

Shorof

Amtsilah Tasrifiyah

3.

Fiqih

Safinatu Sholah, Safinatu Naja.

4.

Akhlak

Tafsir Kholaq

5.

Aqidah atau Ilmu Tauhid

Tijanu Darori

6.

Ilmu Hadits

Mihnatul Mughits

7.

Muhafadhoh

Amtsilah Tasrifiyah

8.

Qiroatul Kitab

Safinatu Sholah, Safinatu Naja

Tema Pengajaran

Nama Kitab

9. Ilmu Tajwid
Mstholahut Tajwid.
(Sumber: dokumen pondok pesantren Al Asror)
Peranan pengajaran akhlak di pondok pesantren yang begitu besar terhadap
pengembangan karakter peserta didik/santri, menjadi salah satu alasan penulis
untuk melakukan penelitian yang berjudul Implementasi Pendidikan
Karakter Melalui Metode Pengajaran Akhlak Bagi Santri Di Pondok
Pesantren Al Asror Patemon Gunungpati Kota Semarang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka
permaslahan yang menjadi bahan pengkajian dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.2.1
Bagaimana pola pengajaran akhlak dan pembentukan karakter
santri di pondok pesantren Al Asror?
2.2.1
Bagaimana implementasi pengajaran akhlak dalam membangun
karakter santri di pondok pesantren Al Asror?
3.2.1
bagaimana keterkaitan yang erat antara ajaran Islam di pondok
pesantren Al Asror dengan karakter yang dibutuhkan bangsa ini?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah sehingga rumusan masalah seperti diatas,
dapat dirumuskan tujuan yaitu:

1.2.1

Untuk mengetahui pola pengajaran akhlah dan pembentukan karakter

1.2.2

santri di Pesantren Al Asror


Untuk mengetahui implementasi pengajaran akhlak dalam membangun

1.2.3

karakter santri di pondok pesantren Al Asror


Untuk mengetahui adakah keterkaitan antara ajaran Islam di pondok

pesantren Al Asror dengan karakter yang dibutuhkan bangsa


1.3 Manfaat Penelitian
Terdapat dua manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini, yaitu manfaat
secara teoritis dan manfaat seacara praktis.
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.1.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
menambah sumbangan pemikiran ilmiah dan menambah ilmu
pengetahuan baru bagi penulis
1.4.1.2 Hasil penelitian ini juga dapat memberikan masukan baru bagi
pengebangan ilmu pengetahuan pada umumnya serta
pengembangan ilmu Pendidikan Pancasila dan
Kewaranegaraan pada khususnya
1.4.2
Manfaat Praktis
1.4.2.1 Bagi santri
Melalui penelitian ini diharapkan santri dapat memahami
pentingnya pembentukan karakter yang baik
1.4.2.2 Bagi guru pembimbing
Memberikan sumbangan pemikiran, informasi, dan evalusai
bagi guru dalam rangka mengembangkan pendidikan karakter
santri/siswa
1.4.2.3 Bagi peneliti
Penelitian ini diharapakan dapat menambah pengetahuan nanti
dalam melaksanakan tugas keseharian sebagai pendidik untuk
bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan kinerja yang
tinggi, sehingga akan mencapai hasil yang optimal
1.4 Batasan Istilah