Anda di halaman 1dari 1

Asiyah binti Muazim hidup di masa nabi Musa.

Dia merupakan istri Raja Firaun


sekligus ibu angkat Nabi Musa a.s. Dia menyelamatkan Nabi Musa yang pada
zaman itu semua anak laki-laki Bani Israil harus dibunuh. Allah yang
menyelamatkan nabi musa dengan cara mengadopsinya sebagai anaknya. Allah
berfirman:
"Berkatalah istri Fir'aun, '(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.
Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita
atau kita ambil ia menjadi anak.' Sedang mereka tidak menyadari." (Al Qur,an
Surah Qoshosh Ayat 9)
Asiyah adalah contoh wanita yang begitu sabar menghadapi keburukan sikap
dari firaun dikarenakan Asiyah percaya bahwa Allah itu tuhan. Kemarahan Firaun
terhadap Asiyah semakin memuncak manakala Asiyah tetap pada pendiriannya
dan lebih memilih mempercayai aqidah yang dibawa Nabi Musa. Dari Abu
Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Sesungguhnya Firaun mengikat istrinya dengan besi sebanyak 4
ikatan, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Jika ia telah meninggalkan Asiyah
terbelenggu maka para Malikat menaunginya. Ketika itulah ia berdoa kepada
Allah. "Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan
selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari
kaum yang zhalim". (QS. At-Tahrim: 11).

Yukabad adalah ibu Nabi Musa. Ia adalah sososk ibu yang tawakal. Pada masa
Raja Firaun, semua anak laki-laki Bani Israil harus dibunuh. Ketika nabi Musa
lahir, Yukabad meyembunyikan anaknya agar tidak dibunuh. Setelah itu,
Yukabad mendapat ilham dari Allah agar menghanyutkan Musa di Sungai Nil.
Meskipun dia merasa sedih dan takut tetapi Yukabad tetap tawakkal, dia yakin
bahwa janji Allah tu pasti. Kemudian Musa diadopsi oleh Firaun dan istrinya.
Istrinya sangat senang tetapi Musa tidak mau minum air susu orang lain selain
ibunya. Atas izin Allah, Musa tetap disusui oleh ibunya sendiri. Allah berfirman :
"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).
Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami
akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul."

Istri Nabi Nuh tidak mempercayai adanya Allah. Padahal dia menikahi seorang Nabi Allah yang
menyeru orang-orang utntuk menyembah Allah. Dia merupakan seorang yang kafir. Begitu pula
istri Nabi Luth tidak mempercayai adanya Allah. Istri Nabi Nuh suka menceritakan kepada orangorang kafir tentang rahasia-rahasia Nabi Luth. Dia memberi tahu kaumnya tentang tamu-tamu
Nabi Luth agar mereka bisa berbuat fahisyah/liwath (homoseksual) dengan tamu-tamu tersebut.
Keduanya mengkhianati suami mereka dalam masalah agama. Keduanya enggan masuk ke
dalam agama suami mereka. Allah berfirman :