Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia

yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang


81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km (Dahuri, 2004).
Salah satu kekayaan hayati laut Indonesia adalah rumput laut.
Terdapat sekitar 18.000 jenis rumput laut di seluruh dunia dan 25
jenis

diantaranya

memiliki

nilai

ekonomi

tinggi.

Indonesia

terdapat 555 jenis rumput laut dan empat jenis diantaranya


dikenal sebagai komoditas ekspor, yaitu Euchema sp., Gracilaria
sp., Gelidium sp. dan Sargasum sp.
Salah satu jenis alga yang banyak dibudidayakan di
perairan

Indonesia

adalah

Gracilaria

sp.

yang

merupakan

penghasil agar. Namun, penggunaannya selama ini masih


terbatas untuk pemanfaatan produk makanan dan obat. Belum
ada upaya pengembangan lebih lanjut pada produk lain yang
punya nilai ekonomis lebih tinggi (Irwan, 2003).
Gracilaria

merupakan

salah

satu

jenis

rumput

laut

penghasil agar (agarofit) yang banyak terdapat di perairan


Indonesia.

Agar

mengandung

senyawa

hidrokoloid

bersifat

gelatin yang umum digunakan sebagai agen pengental pada

industri makanan (Anggadiredja et al., 2006). Rumput laut


Gracilaria sebagai salah satu komoditas unggulan, produksinya
terus dipacu di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat.
Masalah utama yang dihadapi industri pengolahan rumput laut
jenis Gracilaria di Indonesia adalah kualitas agar yang tidak
konsisten karena tekonologi budidaya dan pembibitan yang
dikembangkan oleh masyarakat maupun petani rumput laut
sampai saat ini masih tradisional dengan cara menyisihkan talus
hasil budidaya milik sendiri secara terus menerus dengan
keterampilan seadanya tanpa pengelolaan dan seleksi yang
terukur.
1.2
a.
b.
c.

Rumusan Masalah
Bagaimana klasifikasi dan morfologi rumput laut Gracilaria?
Bagaimana habitat rumput laut Gracilaria?
Apa saja syarat-syarat ekologis untuk pertumbuhan rumput laut

d.
e.
f.
g.

Gracilaria?
Apa saja Manfaat Rumput Laut Merah (Rhodophyta)?
Bagaimana metode budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa?
Bagaimana efek temperatur terhadap pertumbuhan Gracilaria verrucosa?
Bagaimana cara Polikultur Gracilaria dengan Ikan Bandeng atau

Udang?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui klasifikasi dan morfologi rumput laut
Gracilaria
b. Untuk mengetahui habitat rumput laut Gracilaria
c. Untuk mengetahui syarat-syarat ekologis untuk pertumbuhan
rumput laut Gracilaria.
d. Untuk mengetahui Manfaat Rumput Laut Merah (Rhodophyta)
e. Untuk mengetahui metode budidaya rumput laut Gracilaria

verrucosa
f. Untuk mengetahui efek temperatur terhadap pertumbuhan Gracilaria
verrucosa

g. Untuk

mengetahui

cara

Polikultur

Gracilaria

dengan

Ikan

Bandeng atau Udang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Gracilaria sp


Gracilaria

sp.

merupakan

tumbuhan

makroalga

yang

kebanyaan hidup dilaut dangkal. Gracilaria sp memiliki ciri umum


mempunyai

bentuk

thallus

silindris

atau

gepeng

dengan

percabangan mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit


dan rimbun, di atas percabangan umumnya bentuk thalli
(kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus
atau berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5 2 mm.
Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan Glacilaria tumbuh
di rataan terumbu karang dengan air jernih dan arus cukup
dengan salinitas ideal berkisar 20-28 per mil (Anggadiredja et al.
2006)

Gambar 1. Gracilaria sp.

Menurut Anggadiredja,.dkk (2006) klasifikasi Gracilaria


adalah sebagai berikut :
Divisio
Kelas
Bangsa
Suku
Marga
Jenis

: Rhodophyta
: Rhodophyceae
: Gigartinales
: Gracilariaceae
: Gracilaria
: Gracilaria sp

Menurut Aslan (1993) Gracilaria sp memiliki ciri sebagai


berikut : Thalli berbentuk silindris / gepeng dengan percabangan,
mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun.
Diatas percabangan umumnya bentuk thalli agak mengecil.
Perbedaan bentuk, struktur dan asal usul pembentukan organ
reproduksi sangat penting dalam perbedaan tiap spesies Warna
thalli beragam, mulai dari warna hijau-cokelat, merah, pirang,

merah-cokelat, dan sebagainya. Substansi thalli menyerupai gel


atau lunak seperti tulang rawan.

2.2 Habitat Gracilaria sp


Rumput laut Gracilaria, ditemukan tumbuh baik di perairan
payau maupun perairan pantai. Lebih dari 16 spesies rumput laut
ini, ditemukan dan tumbuh diberbagai belahan dunia, baik di
daerah beriklim tropis maupun temperate.
Secara alam, berdaasarkan habitatnya, beberapa spesies
rumput laut Gracilaria sp tumbuh pada areal pasang surut,
dengan ciri lahan pasir berlumput, perairan eutropik, temperatur
tinggi dan merupakan daerah sedimentasi.

2.3 Ekologi Gracilaria sp


Syarat-syarat ekologis untuk pertumbuhan rumput laut
meliputi dua karakteristik yaitu karakteristik fisika-kimia dan
karakteristik biologis.
Yang termasuk karakteristik fisika-kimia adalah sebagai
berikut.
1. Salinitas

Salinitas untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara


30 35 permil atau bisa lebih, bergantung pada jenis rumput
lautnya. Misalnya Gracylaria verrucosa kebanyakan infertil pada
daerah yang bersalinitas tinggi (30 35 permil). Gracilaria yang

berasal dari Atlantik dan Pasifik timur dapat tumbuh pada


salinitas dengan kisaran 15 38 permil, dan mengalami
pertumbuhan maksimum pada salinitias optimum 25 permil,
yang ditunjang kadar nitrogen dan fosfat yang rendah dan
berhubungan langsung dengan pasang surut dan curah hujan
(Aslan, 1993).

2. Zat Hara

Kadar nitrat dan fosfat mempengaruhi stadia reproduksi


alga bila zat hara tersebut melimpah diperairan. Kadar nitrat dan
fosfat di perairan akan mempengaruhi kesuburan gametofit alga
cokelat.

3. Gerakan Air

Gerakan-gerakan air laut disebabkan oleh beberapa faktor,


seperti

angin

yang

menghembus

diatas

permukaan

laut.

Pengadukan yang terjadi karena perbedaan suhu air dari dua


lapisan, perbedaan tinggi permukaan laut, pasang surut, dan
lain-lain. Gerakan air laut ini penting bagi berbagai proses dalam
laut, baik itu biologik maupun non biologik. Alga yang tumbuh
diperairan

yang

selalu

berombak

dan

berarus

kuat

akan

mempunyai sifat dan karakteristik spora yang berbeda dengan


alga yang berada di perairan yang tenang. Gerakan air laut
dikenal sebagai arus, gelombang, gerakan masa air permukaan
(upwelling) (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
6

a. Arus
Arus laut merupakan pencerminan langsung dari pola
angin dan gerakan bumi. Jadi arus permukaan digerakkan
oleh angin. Kecepatan arus yang dianggap cukup untuk
budidaya rumput laut sekitar 20 40 cm/detik. Dengan
kondisi seperti ini akan mempermudah penggantian dan
penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, tetapi
tidak

sampai

merusak

tanaman

(Romimohtarto

dan

Juwana, 2001).

b. Pasang Surut
Pasang surut (pasut) merupakan salah satu gejala laut
yang besar pengaruhnya terhadap biota laut khususnya di
wilayah pantai. Pada saat suhu terendah, kedalaman
perairan tidak boleh kurang dari 2 kaki (sekitar 60 cm),
sedangkan untuk pasang tertinggi kedalaman perairan
tidak boleh lebih dari 7 kaki (sekitar 210 cm) (Aslan, 1993).
c. Gelombang
Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin
diatas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan
tangensial

pada

partikel

air.

Angin

yang

bertiup

dipermukaan laut menimbulkan riak gelombang. Tinggi


gelombang yang cukup untuk pertumbuahan rumput laut
antara 10 30 cm (Aslan,1993).

4. Suhu
Aslan (1998) menyatakan bahwa suhu air yang diperlukan
oleh rumput laut untuk hidup dan tumbuh yaitu berkisar antara
20 280C, namun masih ditemukan rumput laut yang tumbuh
pada suhu 310C. Produksi spora akan dipengaruhi oleh musim,
misalnya produksi maksimal tetraspora dan karpospora Gracilaria
umumnya

terdapat

dimusim

panas.

Perkembangan

stadia

reproduksi beberapa jenis alga tergantung pada kondisi suhu dan


intensitas cahaya atau kombinasi diantara kedua parameter
tersebut.

5. Cahaya
Rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses
fotosintesisnya. Karena itu, rumput laut hanya mungkin tumbuh
diperairan dengan kedalaman tertentu dimana sinar matahari
sampai ke dasar perairan. Mutu dan kualitas cahaya berpengaruh
terhadap produksi spora dan pertumbuhannya. Spora Gelidium
dapat dirangsang oleh cahaya hijau, sedangkan cahaya biru
menghambat pembentukan zoospora. Pembentukan spora dan
pembalahan

sel

dapat

berintensitas

tinggi.

merangsang

pensporaan

dirangsang

Intensitas

oleh

cahaya

Prophyra,

cahaya

yang
tetapi

tinggi

merah
dapat

menghambat

pensporaan Eucheuma. Kebutuhan cahaya pada alga merah


agak rendah dibanding alga cokelat. Pensporaan Gracilaria

verrucosa misalnya berkembang baik pada intensitas cahaya 400


Lux, sedangkan Ectocarpus tumbuh cepat pada intensitas cahaya
antara 6500 7500 Lux (Aslan, 1993).

6. Derajat Keasaman (pH)


Derajat Keasaman (pH) air yang cocok untuk pertumbuhan
rumput laut yaitu antara pH netral (7) sampai basa (9)
(Aslan,1993)

7. Tingkat Kecerahan
Kondisi perairan pantai tempat tumbuh rumput laut tidak
boleh keruh, karena apabila kondisi perairannya keruh maka
akan dapat menghalangi proses fotosintesis dari rumput laut. Air
harus

jernih

sehingga

tidak

menghalangi

sinar

matahari

menembus air laut. Kejernihan air kira-kira sampai batas 5 meter


atau batas sinar matahari bisa menembus air laut (Aslan,1993).
Adapun Yang termasuk aspek biologi dalam budidaya
Gracilaria sp adalah sebagai berikut:
1. Predator (Hewan Pemangsa)
Hewan laut seperti molusca dan ikan dapat mempengaruhi
pensporaan alga. Hewan molusca dapat memakan spora dan
menghambat pertumbuhan stadia muda alga, sedangkan hewan
herbivora memakan alga sehingga merusak thalli dan akan
9

mengurangi jumlah spora yang dihasilkan oleh alga. Faktor


biologi utama yang menjadi pembatas produktivitas rumput laut
yaitu faktor persaingan dan pemangsa dan hewan herbivora.
Selain itu dapat juga dihambat oleh faktor morbiditas dan
mortilitas rumput laut itu sendiri. Morbiditas dapat disebabkan
oleh penyakit akibat dari infeksi mikroorganisme, tekanan
lingkungan perairan (fisik dan kimia perairan) yang buruk, serta
tumbuhnya tanaman penempel (parasit). Sementara mortalitas
dapat disebabkan oleh pemangsa yaitu hewan-hewan herbivor
(Aslan, 1993).
2. Rumput Laut Alami
Adanya jenis-jenis lokal merupakan petunjuk bahwa lokasi
perairan tersebut dapat dijadikan areal budidaya yang cocok
untuk jenis lokal dan sekaligus dapat digunakan sebagai bahan
cadangan sediaan bibit, sehingga tidak perlu mendatangkan bibit
dari luar, sehingga biaya operasional dapat ditekan (Aslan,
1993).

3. Dasar Perairan
Tipe dan sifat substratum atau dasar perairan dapat
menjadi indikator tentang keadaan oseanografi setempat yang
dapat digunakan untuk menentukan tingkat kemudahan dalam
pembangunan konstruksi budidaya yang digunakan. Daerah
perairan berkarang sangat terbuka bagi pengaruh ombak,

10

sehingga tidak tepat untuk dipilih sebagai lokasi budidaya


rumput laut, karena selain yang diusahakan terancam, juga
konstruksi budidaya akan mudah rusak dan akan banyak
ditemukan kesulitan dalam pemasangan instalasi budidaya
(Hidayat dkk, 1994 dan Aslan, 1993).

2.4 Manfaat Rumput Laut Merah (Rhodophyta)


Rumput

laut

merah

ini

di

kenal

sebagai

penghasil

karagenan dan agar. Karakteristik thalli mengandung figmen


ficobilin dari ficoerithrin yang berwarna merah dan bersifat
adaptasi

kromatik.

Proforsi

figmen

dapat

menimbulkan

bermacam-macam warna thalli seperti warna coklat, violet,


merah tua, merah muda, dan hijau. Dinding sel terdapat
sellulose, agar, karagenan, profiran, dan furselaran. Persedian
makanan dalam thalli berupa kanji (floridan starch). Rumput laut
merah mempunyai kandungan koloid utama adalah karagenan
dan agar. Karagenan diekstrak dari marga Eucheuma, Gigartina,
Rhodimenia dan Hypnea. Koloid agar diekstrak dari Gracilaria,
Gelidium, Gelidiopsis dan Gelidiella. Di dunia perdagangan
rumput laut merah ada dua kelompok yakni karagenofit dan
agaroflt. Karagenan lebih dikenal sebagai asam karagenik. Koloid
karagenan dalam bentuk derivat garam dinamakan karagenat
terdiri dari potasium karagenat dan calcium karagenat. Rumput
laut merah penghasil agar sering disebut sebagai asam sulfirik

11

atau asam agarinik. Bentuk derivat garam berupa calcium


agarinat, magnesium agarinat, potasium agarinat dan sodium
agarinat.
a. Kelompok Agaroflt yakni rumput laut merah penghasil
koloid agar dan asam agarinik, diperoleh dari marga utama
Gracilaria, Ahnfeltis, Acanthopeltis, Gelidium, Gelidiopsis
dan Gelidiella. Di dunia industri kelompok ini dimanfaatkan
sebagai bahan makanan. Di bidang kedokteran "Agar"atau
sering disebut "Agar Rose" jenis ini digunakan untuk media
biakan bakteri. Di sektor pertanian digunakan sebagai
media

tumbuh

sedangkan

di

jaringan
bidang

tanaman

kesehatan

desentri/diare dan anti gondok.


b. Kelompok karagenofit yakni

(tissue-culture),

sebagai
rumput

obat
laut

anti

merah

penghasil koloid karagenan, asam karagenik dan garam


karagenat. Koloid karagenan mempunyai fraksi iota dan
kappa. Fraksi iota kandungan koloid karagenan larut dalam
air dingin, dapat diperoleh dari jenis Eucheuma spinosum,
Eucheuma isiforme dan Eucheuma uncinatum. Fraksi kappa
kandungan koloid karagenan larut dalam air panas, dapat
diperoleh dari jenis Eucheuma cottonii, Eucheuma edule
dan

Acanthophora.

Karagenan

dari

kelompok

ini

dimanfaatkan dalam industri makanan. Karaginan dapat


dimanfaatkan seperti al-gin, sebagai bahan kosmetik,

12

farmasi, pasta gigi dan salep. Khasiat lain dari marga


Acanthophora dapat digunakan sebagai obat alami anti
mikroba dan anti kesuburan (WAHIDULLA et al. 1986).
2.5 Metode Budidaya Rumput Laut Glacilaria verrucosa
Metode penanaman rumput laut Gracilaria verrucosa pada
dasarnya disesuaikan dengan kondisi perairan pantai setempat.
Ada tiga macam metode penanaman rumput laut yaitu:
1. Metode Lepas Dasar (of bottom method)
Metode ini dilakukan dengan cara mengikat bibit pada tali
ris (ropeline) kemudian diikatkan pada patok kayu atau bambu di
dasar perairan. Sistem ini diterapkan pada lokasi yang dasar
perairannya

pasir

berbatu

karang

mati,

air

jernih,

dan

pergerakan arus kuat dan terus menerus. Sistem ini diterapkan di


Bali (Nusa Dua, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa
Pedina) dan di Lombok (Gerupuk Lombok Tengah) (Sulistijo,
2002). Sistem lepas dasar cocok digunakan pada daerah dengan
substrat

pasir

dengan

pecahan

karang,

dikelilingi

karang

pemecah gelombang (barrier reef) sehingga daerah tersebut


terlindung dari hempasan gelombang, dan kedalaman perairan
sekitar 0,5 m pada surut terendah dan 3 m pada saat pasang
tertinggi (Anggadiredja et al., 2006).

2. Metode Rakit Apung (floating rack method)

13

Metode ini dilakukan dengan cara mengikat bibit rumput


laut pada tali bentang, kemudian tali bentang tersebut diikatkan
ada rakit yang terapung dekat permukaan air. Sistem ini banyak
diterapkan di Lampung, Kepulauan Seribu, Madura, Banyuwangi,
Lombok Timur dan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi
Selatan (Sulistijo, 2002).

3. Metode Tali Rawai (longline method)


Metode ini dilakukan dengan cara mengikat bibit pada
seutas tali panjang (long line) dengan jarak ikatan tertentu.
Berdasarkan tiga metode penanaman rumput laut di atas,
budidaya rumput laut dengan sistem rakit bambu dan sistem tali
rawai lebih baik dibandingkan dengan sistem lepas dasar. Hal ini
disebabkan

pencahayaan

yang

diterima

untuk

proses

metabolisme pada lapisan dekat permukaan lebih besar dari


pada dekat dasar perairan. Selain itu, juga terjadi penumpukan
lebih banyak partikel yang menutupi rumpun rumput laut di
dekat dasar perairan sehingga membuat rumput laut menjadi
rusak (Sulistijo, 2002). Lebih jauh Sulistijo (2002) menyatakan
bahwa pada saat ini sistem tali rawai banyak digunakan untuk
budidaya rumput laut pada perairan dangkal di Indonesia, yang
sebenarnya sistem ini juga sama baiknya dengan sistem rakit
bambu, namun sistem tali rawai lebih efisien karena sistem ini

14

dapat menghemat kerangka rakit bambu yang harganya cukup


mahal dan terbatas jumlahnya.

2.6 Efek Temperatur terhadap Pertumbuhan Gracilaria verrucosa

Temperatur mempunyai peranan yang sangat penting bagi


kehidupan

dan

pertumbuhan

Gracilaria

(Aslan,

1991).

Temperatur perairan dapat berpengaruh terhadap beberapa


fungsi

fisiologis

Gracilaria

seperti

fotosintesis,

respirasi,

metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi.


Menurut

Sjafrie

(1990)

temperatur

optimum

yang

diperlukan untuk budidaya Gracilaria adalah 20-25 , sedangkan


menurut Kadi dan Atmadja (1988) bahwa temperatur air untuk
hidup rumput laut Gracilaria verrucosa berkisar antara 18-30 oC
dan yang paling ideal sekitar 20-28 oC. Menurut Anggadiredja et
al.,

(2006),

kisaran

temperatur

air

yang

optimal

bagi

pertumbuhan rumput laut Gracilaria verrucosa berkisar 20 30.

Kisaran

temperatur

di

tambak

tampaknya

mampu

menumbuhkan thallus rumput laut. Menurut Haslam (1995),


temperatur yang tinggi dapat mempengaruhi aktivitas proses
biokimia

dan

peningkatan

pertumbuhan
temperatur

thallus.

dapat

Hal

ini

disebabkan

menyebabkan

penurunan

kelarutan gas O2, CO2 N2, dan CH4 dalam air. Dwijoseputro
(1981) menyatakan pada umumnya tumbuhan didaerah tropis
tidak dapat melakukan fotesintesis pada temperatur lebih rendah

15

dari 5. Temperatur yang sangat rendah akan mematikan


Gracilaria, temperatur yang baik untuk Gracilaria berkisar antara
20-29

temperatur

sedangkan
diatas

Sarjito

35

akan

(1996)

mengatakan

menghambat

bahwa

pertumbuhan

Gracilaria. Menurut Santika (1985), kisaran temperatur 27-29


memberikan indikasi negatif terhadap pertumbuhan thallus, hal
ini sesuai dengan pengamatan dalam kisaran yang layak bagi
pertumbuhan rumput laut.

2.7 Polikultur Gracilaria dengan Ikan Bandeng atau Udang


Salah satu langkah memadukan aspek sosial, ekonomi dan
lingkungan,

adalah

dengan

melakukan

polikultur

Gracilaria

dengan bandeng dan udang. Masyarakat pesisir yang sudah


lama membudidayakan bandeng dan udang dan tambaknya
mengalami penurunan produksi bisa dikenalkan dengan sistem
polikultur yaitu pola budidaya dua atau lebih jenis biota yang
berkembang ditambak agar dapat menghasilkan manfaat sosial,
ekonomi dan lingkungan yang optimal bagi kehidupan.
Budidaya Gracilaria dapat dikombinasikan dengan bandeng
atau udang.
a. Gracilaria dapat berfungsi sebagai biofilter di tambak
bandeng atau udang.
b. Bandeng dapat memakan lumut yang menempel pada
Gracilaria, sehingga Gracilaria yang dibudidayakan
bersama bandeng atau udang akan bersih dari lumut dan
pertumbuhan lebih cepat.

16

c. Disamping hasil panen Gracilaria, panen bandeng atau


udang akan menjadi penghasilan tambahan.
Berdasarkan hasil riset dari Balai Riset Perikanan Budidaya
Air Paya (BRPBAP) Maros, polikultur Gracilaria di tambak yang
optimal adalah sebagai berikut:
a. Polikultur Gracilaria dengan bandeng pada lahan 1 ha
tambak idealnya digunakan rasio sebagai berikut 2 - 2, 2
ton bibit Gracilaria: 2000 - 2.500 ekor gelondongan ikan
bandeng.
b. Polikultur Gracilaria, bandeng, dan udang pada lahan 1 ha
tambak idealnya dealnya digunakan rasi sebagai berikut :
1,5 ton Gracilaria: 1.000 ekor gelondongan ikan bandeng :
5,000 ekor udang.
c. Masalah pada polikultur dengan bandeng adalah, apabila
bandeng yang dipelihara terlalu besar, maka bandeng akan
memakan Gracilaria dan bandeng akan berbau rumput laut
(Geosmin),

sehingga

biasanya

pembudidaya

tidak

menyukainya. Hal ini dapat disiasati dengan:


memindahkan bandeng yang telah berukuran 3 jari atau

1 kg berisi 5 ekor ke tambak khusus bandeng, atau


melakukan depurasi dengan memelihara bandeng yang
siap panen di tempat yang berbeda dengan sistem air
mengalir dan dengan penambahan pakan buatan. Lama
waktu depurasi adalah 1 minggu
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Gracilaria sp memiliki ciri umum mempunyai bentuk thallus

silindris atau gepeng dengan percabangan mulai dari yang

17

sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun, di atas


percabangan umumnya bentuk thalli (kerangka tubuh
tanaman)

agak

mengecil,

permukaannya

halus

atau

berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5 2


mm.
2. Rumput

laut

merah

ini

di

kenal

sebagai

penghasil

karagenan dan agar. Karakteristik thalli mengandung


figmen ficobilin dari ficoerithrin yang berwarna merah dan
bersifat adaptasi kromatik.
3. Ada tiga macam metode penanaman rumput laut yaitu:
Metode Lepas Dasar (of bottom method), Metode Rakit
Apung (floating rack method), dan Metode Tali Rawai
(longline method).
4. Temperatur
perairan

dapat

berpengaruh

terhadap

beberapa fungsi fisiologis Gracilaria seperti fotosintesis,


respirasi, metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi.
5. Sistem polikultur yaitu pola budidaya dua atau lebih jenis
biota

yang

berkembang

ditambak

agar

dapat

menghasilkan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan


yang optimal bagi kehidupan.
3.2 Saran

Demikian makalah ini kami buat, kami ucapkan banyak


terima

kasih

kepada

pihak

yang

telah

membantu

atas

terselesainya makalah ini. Kami menyadari makalah yang kami


buat ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mohon
kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar kami dapat
memperbaiki makalah kami selanjutnya.

18