Anda di halaman 1dari 21

BAB II

LANDASAN TEORI
A.

Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan


1. Pengertian
Pernafasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung O2 ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak
mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan
udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. (Syaifudin,
1997. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC)
2. Fungsi Pernafasan
a. Mengambil O2 (oksigen) yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh
tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran.
b. Mengeluarkan CO2 (karbondioksida) yang terjadi sebagian sisa dari
pembakaran, kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang
(karena tidak berguna lagi bagi tubuh).
c. Menghangatkan dan melembabkan udara.
3. Organ-Organ Pernafasan
a. Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2
lubang (kavum nasi) dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi) di
dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring.
Lapisan hidung :
1) Bagian luar dinding, terdiri dari kulit
2) Bagian tengah, terdiri dari otot-otot dan tulang rawan
3) Bagian dalam, terdiri dari selaput lendir (konka nasalis)

Ada 3 konka, yaitu :

Konka nasalis inferior (karang hidung bagian bawah)

Konka nasalis media (karang hidung bagian tengah)

Konka nasalis superior (karang hidung bagian atas)

Fungsi hidung :
1) Bekerja sebagai saluran udara pernafasan
2) Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu
hidung.
3) Dapat menghangatkan udara pernafasan dalam mukosa.
4) Membunuh kuman-kuman yang masuk bersama udara pernafasan oleh
leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) hidung.
b. Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan makanan terdapat di
bawah dasar tenggorokan, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah
depan ruas tulang leher.
Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian, yaitu :
1) Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut
Nasofaring.
2) Bagian tengah yang sama tingginya dengan itsmus fausium disebut
Orofaring.
3) Bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.
c. Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan
suara, terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra
servikalis.

Laring terdiri dari 5 tulang rawan, yaitu :


1) Kartilago tiroid
2) Kartilago aritenoid
3) Kartilago krikoid
4) Kartilago epiglotis
d. Batang Tenggorokan (Trakea)
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin
yang terdiri dari tulang rawan berbentuk kuku kuda (huruf C) panjang
trakea 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh
otot polos.
e. Cabang Tenggorokan (Bronkus)
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada
ketinggian vertebra torakalis ke-4 dan ke-5. mempunyai struktur yang
berupa sama dengan trakea dan dilapisi oleh dinding sel yang sama.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri,
terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang
dan lebih ramping dari bronkus kanan, terdiri dari 9-12 cincin, mempunyai
2 cabang.
f. Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung-gelembung (gelembung hawa : alveoli). Gelembung ini terdiri
dari sel-sel epitel dan endotel. Paru-paru dibagi 2 bagian yaitu :
1) Paru-paru kanan
Terdiri dari 3 lobus : lobus pulmo dekstra superior, lobus media dan
lobus inferior. Tiap lobus terdiri dari 10 segmen.

2) Paru-paru kiri
Trdiri dari : pulmo sinester lobus superior dan lobus inferior.
Peru-paru terletak pada rongga dada datarannya menghadap ke
tengah rongga dada/kavum mediastinum.
Paru-paru dibungkus oleh selaput yang namanya pleura. Pleura
dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1)

Pleura viseral : selaput paru yang membungkus langsung paruparu

2)

Pleura parietal : selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.


Diantara keduanya terdapat cairan untuk pelicin dan melindungi

paru-paru yang disebut cairan leura.


Saluran pernafasan memiliki mekanisme pertahanan untuk
melindungi dari benda asing: diantaranya :
1) Reflek menelan / muntah
2) Mengangkat debu dan bakteri
3) Lapisan mukus immunoglobulis
4) Reflek batuk
5) Makrofag alveolar
Proses Pertukaran Gas
Pernafasan adalah peristiwa menghidup udara dari luar yang mengandung
O2 ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO 2
sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh (darah) secara osmose. Seterusnya O 2
dikeluarkan melalui traktus respiratorius (jalan pernafasan) dan masuk ke dalam
tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis, kemudian masuk ke serambi kiri
jantung (atrium sinistra) kemudian ke bilik kiri (ventrikel kiri) dan dipompakan

ke seluruh tubuh melalui aorta. Di seluruh tubuh terjadi oksidasi (pembakaran)


dan sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 (karbondiaksida) dan uap air (H2O)
Hasil oksidasi yang berupa CO2 dan H2O dibawa oleh darah mlalui
pembuluh darah vena / balik baik melalui vena kava superior dan inferior masuk
ke dalam serambi kanan (atrium dekstra) masuk ke dalam bilik kanan / ventrikel
dekstra. Dari ventrikel dekstra, darah dipompakan melalui arteri pulmonalis ke
paru-paru dan CO2 dan H2O dikeluarkan melaui traktur respiratorius dan
demikian seterusnya.
B.

Konsep Dasar Asma


1. Pengertian

Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon


trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan.

Asma adalah gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan


berbagai sel inflamasi.

Asma adalah keadaan klinik yang ditandai oleh masa penyempitan


bronkus yang reversibel, dipisahkan oleh massa dimana ventilasi relatif
mendekati normal.

Klasifikasi Asma :
a. Asma ekstrinsik / alergi / immunologik / atopik

Timbul sejak kanak-kanak

Keluarga ada yang menderita asma

Alergen jelas.

b. Asma instrinsik / non alergik / non immunologik

Pada usia lebih dari 35 tahun

Keluarga tidak ada yang menderita asma, alergen tidak jelas

Ada hubungan dengan pekerjaan / beban fisik.

Rangsangan fisik mempunyai peran untuk menimbulkan serangan


asma.

c. Asma campuran

Diawali oleh infeksi virus

Keluhan diperberat oleh faktor instrinsik-ekstrinsik.

2. Etiologi
Penyempitan dari bronkus disebabkan oleh :
a.

Spasme otot polos bronkus

b.

Edema mukosa bronkus

c.

Sekresi kelenjar bronkur meningkat

Faktor pencetus :
a. Alergen

Inhalan yang masuk dalam badan melalui alat pernafasan,


contohnya : debu, asap, serpihan kulit (anjing, kuda, kucing)

Ingestan yang masuk dalam badan melalui mulut, contoh makanan,


susu, telur, ikan, obat-obatan.

b. Virus / bakteri / infeksi.


c. Iritan : asap,bau-bauan,polutan,pabrik,kompor.
d. Perubahan cuaca (panas/dingin).
e. Zat-zat kimia : obat nyamuk, pwangi ruangan.
f. Buah-buahan (nanas, rmbutan,anggur).
g. Makanan yang gurih, mengandung zat pengawet dan zat warna.
h. Kegiatan jasmani yang berlebihan.

i. Lingkungan kerja.
j. Emosi.
3.Patofisiologi
4.Manifestasi klinik
Gejala asma yang klasik terdiri dari batuk,sesak, dan mengi(wheezing) dan
pada sebagian penderita disertai rasa nyeri di dada.Gejala tersebut tidak sama
pada semua pasien, ada penderita yang hanya batuk tanpa sesak,/sesak dan
mengi saja. Sehingga ada beberapa tingkat penderita asma adalah sebagai
berikut:
a. Tingkat 1, penderita asma sara klinik normal, tanpa kelainan
pemeriksaan fisis maupun kelainan pemeriksaan fungsi
parunya.
b. Tingkat 2, penderita tanpa kelainan dan keluhan pada
pemeriksaan fisisnya, tetapi fungsi parunya menunjukkan
tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
c. Tingkat 3, penderita tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan
fisisnya maupun pmeriksaan fungsi parunya menunjukkan
tanda obstruksu jalan nafas.
d. Tingkat 4, penderita asma yang paling sering dijumpai baik
dalam praktek sehari-hari maupun di RS. Penderita mengeluh
sesak nafas, batuk, dan nafas berbunyi. Pada pemeriksaan
fisis maupun pemeriksaan spiromtri akan ditemukan tanda
obstruksi jalan nafas.
5.Pemeriksaan penunjang
a. spirometri

Menunjukkan adanya obstruksijalan nafas reversible.

Dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerob (nebulizer)

golongan adenergik.
b. Tes provokasi bronchiale

Menunjukkan adanya hiperaktivitas bronkus

c.Pemeriksaan tes kulit


Menunjukkan adanya antibody Ig E yang spesifik dalam

HOH (serum).

d.Pemeriksaan radiologi
Dilakukn apabila ada kecurigaan terhadap proses patologi

diparu.
7. Komplikasi

Pneumothoraks

Pneumomedi astinum

Emfisema subcutis

Atelektasis

Apergitosis bronkopulmonal alergik

Gagal nafas

Bronkhitis

Fraktur iga

8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis
1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma.
2.Mencegah kekambuhan
3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.
4. Mengupayakan fungsi aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan
exercise.

5. Menghindari efek samping obat.


6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversible.
7. Dilakukan terapi yang meliputi:
a. Pemberian oksigen
b. pemberian bronkodilator
Agonis beta
Digunakan dalam mengobati asma karena agan ini mendilatasi otot-otot polos
bronkial.agen adenergik juga meningkatkan gerakan siliaris, menurunkan
mediator kimiawi anafilaktik dan dapat menggunakan efek bronkodilatasi dari
kortikosteroid.agen yang paling umum digunakan epineprin, albuterol,
metaproterenol, isoproterenol, isoetharine, terbutalin.agen ini diberikan secara
parenteral/inhalasi.

Metilsantin (aminofilin dan teofilin)


Digunakan karena mempunyai efk bronkodilator. Agen ini merilekskan otototot polos bronkus, menunjukkan gerakan mukus dalam jalan nafas dan
meningkatkan kontraksi diafragma. Aminofilin diberikan seara iv, teofilin
diberikan secara oral. Ada beberapa faktor yang dapat mengganggu
metabolisme metilsantin, terutama sekali teofilin, termasuk merokok, gagal
jantung, penyakit hepar kronik, kontraseptif oral, eritromisin, dan simetidin.

Anti kolinergik
Antikolinergik secara khusus mungkin bermanfaat terhadap asmatik yang
bukan kandidat untuk agonis beta dan metilsantin karena penyakit jantung
yang mendasari. Antikolinergik diberikan secara inhalasi.

Kortikosteroid
Kortikosteroid penting dalam pengobatan asma. Kortikosteroid diberikan
secara iv (hidrokortison), secara oral (prednison, prednisolon), atau malalui
inhalasi (beklomethason, deksametason). Kortikosteroid telah terbukti efektif
dalam

pengobatan

asma

dan

PPOM

penggunaan

kortikosteroid

berkepanjangan dapat mengakibatkan terjadinya fek samping yang serius,


termasuk ulkus peptikum, osteoporosis, supresi adrenal, miopati steroid dan
katarak.
Inhalasi set mask
Natrium kromolin, suatu inhalasi set mask adalah bagian integral dari
pengobatn asma. Medikasi ini diberikan melalui inhalasi. Medikasi ini
mencgah

pelepasan

mediator

kimiawi

anafilaktik,

dengan

demikian

mengakibatkan bronkodilatasi dan penurunan inflamasi jalan nafas. Natrium


kromolin dapat mengakibatkan pengurangan, penggunaan mediator lain dan
perbaikan menyeluruh dalam gejala.
b.Penatalaksanaan keperawatan
1.berikan posisi semi fowler/fowler.
2. tingkatkan intake cairan 3-4 liter/hari.
3. anjurkan klien untuk kontrol setiap bulan/ setiap obat habis.
4. anjurkan untuk mengindari faktor pencetus asma.
5. ajarkan klien tentang cara-cara mengatasi bila terjadi serangan asma.

C.

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Asma Bronkhial


1. Pengkajian
a.

Biodata

b.

Keluhan utama : sesak nafas

c.

Riwayat kesehatan : dahulu, sekarang, keluarga

d.

Data fisik
1) Aktivitas / Istirahat
Gejala : keletihan. Kelelahan, malaise, ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas,
ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk
tinggi, dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap
aktifitas / latihan.
Tanda

: keletihan, gelisah, insomnia, kelemahan umum/kehilangan


masa otot.

2) Sirkulasi
Gejala: Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda: Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia, distensi
vena leher, edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung,
bunyi jantung redup, warna kulit/membran mukosa normal/sianosis, kuku
tabuh dan sianosis perifer, pucat dapat menunjukkan anemia peningkatan
TD.
3) Integritas ego
Gejala: peningkatan faktor resiko, perubahan pola hidup
Tanda:ansietas, ketakutan, peka rangsang.
4). Makanan/cairan
Gejala: mual, muntah, anoreksia, ketidakmampuan untuk makan karena
distress pernafasan, penurunanBB (emfisema), peningkatan BB yang
menunjukkan edema (bronkitis).

Tanda: turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, penurunan BB,


penurunan masa otot/lemak subkutan (emfisema), palpitasi abdominal
dapat menyatakan hepatomegali (bronkitis).
5). Higiene
Gejala:

penurunan

kemampuan/peningkatan

kebutuhan

bantuan

melakukan aktifitas sehari-hari.


Tanda: kebersihan buruk, bau badan.
6). Pernafasan
Gejala: nafas pendek khususnya pad kerja, cuaca/episode berulang sulit
nafas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas,
penggunaan O2 pada malam hari,/terus menerus.
Tanda:Penggunaan otot bantu pernafasan, misal:meninggikan bahu,
retraksi fosa supraklavikula, melebarkan hidung.Dada: gerakan diafragma
minimal, bentuk dada barel.Ronkhi, mengi. Warna: pucat dengan sianosis
bibir dan dasar kuku, abu-abu keseluruhan.
7). Keamanan
Gejala: Riwayat reaksialergi/sensitif terhadap zat/faktor lingkungan,
adanya/berulangnya infeksi, kemerahan/berkeringat.
8). Seksualitas
Gejala: Penurunan libido
9).Interaksi sosial
Gejala: hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, kegagalan
dukungan

terhadap

pasangan/orang

lama/ketidakmampuan membaik.

terdekat,

penyakit

Tanda: keterbatasn mobilitas fisik, kelalaian hubungan dengan anggota


keluarga lain.
10). Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:

penggunaan/penyalahgunaan

obat

pernafasan,

kesulitan

menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan


untuk membaik.

2. Diagnosa Keperawatan
DX 1

: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi

sekret.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, bersihan jalan nafas klien

kembali efektif.
Kriteria Hasil :- irama nafas teratur
-

Wheezing (-)

Sputum (-)

Klien tidak menggunakan otot bantu pernafasan.

Intervensi :
1. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misal : mengi, krekels,
ronkhi.
R/: Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan
dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius.
2. Kaji/ pantau frekuensi pernafasan. Catat rasio inspirasi/ekspirasi.
R/: Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan/ selama stress/ adanya proses infeksi akut.
3. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misalnya posisi semifowler.

R/: Posisi semifowler dapat mempermudah fungsi pernafasan dan membantu


kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
4. Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya : debu, asap dan bulu
bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
R/: Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat mentriger episode akut.
5. Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
R/: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol
dispnea dan menurunkan jebakan udara.
6. Observasi karakteristik batuk, misal : menetap, batuk pendek, basah. Bantu
tindakan untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk.
R/: Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia
sakit akut, atau kelemahan.
7. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari. Memberikan air hangat.
Anjurkan masukan cairan antara sebagai makan.
R/: Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah
pengeluaran sekret.
8. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, bronkodilator.
R/: Merilekskan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan
produksi mukosa.
9. Kolaborasi humidefikasi tambahan, misalnya nebulizer.
R/:

Kelembapan

menurunkan

kekentalan

sekret

dan

mempermudah

pengeluaran sekret.
10. Kolaborasi dengan fisioterapi dada.
R/: Drainase portural dan perkusi jaringan bagian penting untuk membuang
banyaknya sekret dan memperbaiki ventilasi pada segmen dasar paru.
DX 2 : Gangguan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen.
Tujuan
efektif.

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan pertukaran gas klien kembali

Kriteria Hasil : - Sesak (-)


-

Wheezing (-)

Irama nafas teratur

Intervensi :
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.
R/: Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan atau kronisnya proses
penyakit
2. tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah
untuk bernafas.
R/: Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan
latihan nafas untuk menurunkan kolaps.
3. Dorong mengeluarkan sputum, penghisapan bila diindikasika.
R/: Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan
pertukaran gas pada jalan nafas kecil.
4. Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara atau bunyi
tambahan.
R/: Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara, adanya mengi
mengindikasikan spasme bronkus.
5. Palpasi fremitus
R/: Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara
terjebak.
6. Awasi tingkatkesadaran/ status mental. selidiki adanya perubahan
R/: Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia
7. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang.
R/: Selama distres pernafasan berat/ akut/ refraktori pasien scara total tak
mampu melakukan aktifitas sehari hari.
8. Awasi tanda tanda vital dan irama jantung
R/: Takikardi, disritmia, dan perubahan tekanan darah dapat menunjukan efek
hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

9. Kolaborasi pemberian O2 tambahan sesuai indikasi


R/: Dapat memperbaiki/ mencegah memburuknya hipoksia

DX 3 : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d produksi sputum


Tujuan : Setelah dilakuka tindakan keperawatan, nutrisi klien kembali adekuat
Kriteria Hasil : - Klien makan habis 1 porsi
- TTV dalam batas normal
TD: 120/80 mmHg
N : 80 100 x/menit
RR: 16 20 x/menit
S : 36,5 37,1C
- BB ideal
- lila: Normal W:24 25

P: 15 32

- Hb: Normal W: 12 - 14

P: 13 16

Intevensi :
1. Kaji kebiasaan diet, masukan makanansaat ini.
R/: Pasien distres pernafasan akut sering anoreksia karena dispepsia, produksi
sputum dan obat.
2. Auskultasi bunyi usus
R/: Penurunan/ hipoaktif bising usus menunjukan penurunan matilitas gaster
dan konstipai yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan,
pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas dan hipoksemia.
3. Berikan perawatan oral hgien

R/: Rasa tidak enak, bau, dan penampilan adalah pencegahan utama terhadap
nafsu makan .
4. Berikan makanan porsi kecil tapi sering
R/: Membantu menurunkan kelemhan selama waktu makan dan memberikan
kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total
5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat
R/: Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen
dan gerakan diafrakma, dan dapat meningkatkan dispnea.
6. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin
R/: Suhu ekstrem dapat mencetuskan/ meninkatkan spasme batuk.
7. Timbang BB sesuai indikasi
R/: Berguna untuk menentukan kalori, menyusun tujuan BB dan evaluasi
keadekuatan rencana nutrisi.
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan seimbang.
R/: Kebutuhan kalori didasarkan pada situasi/ kebutuhan individu untuk
memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal.
9. Kolaborasi pemeriksaan lab, misal albumin serum.
R/: Mengevaluasi/ mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan therapi
nutrisi.
DX 4 : Resti infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan utama (penurunan kerja silia,
menetapnya sekret)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil : - Suhu dan nadi dalam normal
S: 36,5 37,1C
N:80 100 x/menit
- Tanda tanda infeksi tidak ada
Tumor (-)

Dolor (-)
Kalor (-)
Rubor (-)
Fungtio laesa (-)
- Menyatakan pemahaman penyebab/ faktor resiko individu.
Intervensi :
1. monito suhu
R/: Demam dapat terjadi karena infeksi dan dehidrasi.
2. Kaji pentingnya latihan nafas, batuk efektif, perubahan posisi sering dan
masukan cairan adekuat.
R/: Meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk menurunkan
resiko terjadinya infeksi baru.
3. Tunjukan dan bantu pasien tentang pembuangan tisyu dan sputum
R/: mencegah penyebaran patogen melalui cairan
4. Awasi pengunjung, berikan masker sesuai indikasi.
R/: Menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius.
5. Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
R/: Memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi dan meningkatkan
penyembuhan.
6. Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
R/: Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi.
7. Kolaborasi pemberian anti microbial sesuai indikasi
R/: Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan
kultur dan sensitifitas/ diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi.
DX 5 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi pengobatan penyakitnya b.d
kurangnya informasi

Tujuan : Setelah dibrikan tindakan keperawatan, pengetahuan klien bertambah


Kriteria hasil : - Klien dapat menyatakan pemahaman tentang kondisi/ proses
penyakit
- Klien dapat mengidentifikasi hubungan tanda/ gejala yang ada
dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab
-

Klien dapat melakukan perubahan pola hidup


dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

Intervensi:
1. Jelaskan tentang prose penyakit dan dorong klien/ orang terdekat untuk
menanyakan pertanyaan
R/: Menurunkan asietas dan dapat menimbulka perbaikan partipasi pada rencana
pengobatan
2. Instruksikan rasional untuk latihan nafas dalam, batuka efektif dan latihan kondisi
umum
R/: Nafas bibir dan nafa abdominal/ diafrakmatik menguatkan otot pernafasan
membant meminimalkan kolabs jalan nafas kecil. Latihan kondisi umum
meningkatkan toleransi aktifitas, kekuatan otot dan rasa sehat
3. Dikusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tidakdiinginkan
R/: Memahami perbedaan efek samping mengganggu (obat dilanjutk) dan efek
sampin merugikan (obat mungkin dihentikan/ diganti)
4. Tunjukkan tehnik penggunaan dosis inhaler
R/: Pemberian yang tepat obat meningkatkan penggunaan dan keefektifan
5. Sistem alat untuk menatat obat intermiten/ penggunaan inhaler
R/: Menurunkan resiko penggunaan kelebiha dosis dasi obat
6. Anjurkan menghindasi agen sedatif anti ansietas kecuali diresepka oleh dokter
mengobati kandisi pernafasan

R/: Sedatif dapat menekan pernafasan dan melindungi mekanisme batuk


7. Diskusikan pentingnya menghindari orang sedang infeksi pernafasan aktif
R/: Mnurunkan pemajanan dan insiden mendapatkan enfeksi saluran atas
8. Tekankan pentingnya perawatan oral/ kebersihan gigi
R/: Menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat menimbulkan
infeksi saluran nafas atas.
9. Diskusikan faktor pencetus yang menyebabkan asma
R/: Faktor lingkungan ini dapat meningkatkan iritasi bronkhial menimbulkan
produksi skret dan hambatan jalan nafas
10. Kaji efek bahaya mrokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan
orang terdekat
R/: penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM
11. Berikan informai tentang pembatasan aktifitas dan aktifitas pilihan untuk
mencegah kelemahan
R/: Pengetahuan ini untuk menurunkan dipsnea, memaksimalkan tingkat aktifitas,
melakukan aktifitas yang diinginkan dan mencegah komplikasi
12. Diskusikan pentingnya mengikuti perawatan medik, foto dada periodik dan kultur
sputum
R/: pengawasan proses penyakit untuk membuat program therapi untuk
memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komlikasi
13. Kaji kebutuhan/ dosis O2 untuk pasien yang pulang daengan O2 tambahan
R/: Menurunkan resiko kesalahan penggunaan(terlalu kecil/ banyak) dan
komplikasi lanjut
14. Rujuk untuk evaluasi perawatan di rumah bila diindikasikan
R/: Memberikan kelanjutan perawatan. Dapat membantu menurunkan frekuensi
perawatan di rumah sakit.
IV IMLEMENTASI
Lakukan sesuai intervensi dan kondisi klien

V EVALUASI
!. Bersihan jalan nafas klien kembali efektif
2. Pertukaran gas klien kembali efektif
3. Nutrisi klien kembali adekuat
4. Infeksi tidak terjadi
5. Pengetahuan klin kembali bertambah