Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS MODUL 3

(LESI JARINGAN LUNAK MULUT)

Stomatitis Aftosa Rekuren dengan Faktor Predisposisi Stres


Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi
Kepaniteraan Klinik pada Modul 3

Oleh:
PUTRI HANDAYANI
1010070110027

Dosen Pembimbing : drg. Abu Bakar, M. Med. Ed.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PAD AN G
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Illahi Rabbi, atas kehendak dan
ketetapan- Nya telah melimpahkan rahmat dan karunia sehingga penulisan laporan
kasus Stomatitis Aftosa Rekuren dengan Faktor Predisposisi Stres untuk
memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan kepanitraan klinik modul 3
(Lesi Jaringan Lunak Mulut) dapat diselesaikan.
Dalam penulisan laporan kasus ini penulis menyadari, bahwa semua proses
yang telah dilalui tidak lepas dari bimbingan Drg. Abu Bakar, M. Med. Ed. selaku
dosen pembimbing, bantuan, dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak
lainnya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu.
Penulis juga menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna
sebagaimana mestinya, baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya,
karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca.
Akhirnya kepada Allah SWT jualah semuanya penulis serahkan dan mudahmudahan laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Padang, Juni 2016

Putri Handayani

MODUL 3
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG

HALAMAN PENGESAHAN
Telah didiskusikan Laporan Kasus Stomatitis Aftosa Rekuren dengan Faktor
Predisposisi Stres guna melengkapi persyaratan Kepaniteraan Klinik pada Modul
3.

Padang, Juni 2016


Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg.
Bakar, M. Med. Ed )

Abu

ABSTRACT
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is an inflammatory condition of oral
mucosal ulceration with the characteristics of the recurrence and ulcer-free period
of days to weeks. These factors consist of trauma, stress, hormonal, genetic,
allergic, and infectious microorganisms or immunological factors. Reported 20year old female patient came to the RSGM Universitas Baiturrahamh with
complaints are canker sore on the lower lip inside since three days ago. The
patient is under stress. Based on the results of examination of patients diagnosed
with SAR Minor. Treatment of this case the elimination of predisposing factors
such as stress management, administration of topical corticosteroids for two days
to eliminate symptoms. Patients are also instructed to improve oral hygiene, drink
plenty of water, and eat a well-balanced diet that includes fruits and vegetables.
Patient had recovered. SAR minor patients had not recurrence and had recovered.
Keyword: RAS Minor, elimination of predisposing factors, topical corticosteroids.
ABSTRAK
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan suatu kondisi peradangan
mukosa rongga mulut dengan karakteristik ulserasi ulang kambuh dan masa bebas
ulkus selama beberapa hari hingga minggu. Faktor-faktor ini terdiri dari trauma,
stres, hormonal, genetik, alergi, dan infeksi mikroorganisme atau faktor
imunologi. Dilaporkan pasien perempuan berusia 20 tahun datang ke RSGM
Universitas Baiturrahmah dengan keluhan terdapat sariawan yang sakit pada bibir
bawah bagian dalam sejak 3 hari yang lalu. Pasien sedang mengalami stres.
Berdasarkan hasil pemeriksaan pasien didiagnosis SAR Minor. Perawatan kasus
ini eliminasi faktor predisposisi berupa pengendalian stres, pemberian
kortikosteroid topikal selama dua hari untuk menghilangkan gejala Pasien juga
diinstruksikan meningkatkan oral hygiene, banyak minum air putih, dan diet
seimbang mencakup buah-buahan dan sayuran. SAR minor pasien sudah tidak
kambuh lagi dan sudah sembuh.
Kata kunci : SAR minor, stres, eliminasi faktor predisposisi, kortikosteroid
topikal.

PENDAHULUAN
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan suatu kondisi peradangan
mukosa rongga mulut dengan karakteristik ulserasi ulang kambuh dan masa bebas
ulkus selama beberapa hari hingga minggu. SAR merupakan suatu kondisi yang
sangat umum dengan prevalensi sebesar 20% dari populasi dan prevalensi pada
kelompok anak-anak sebesar 5-10%1. SAR merupakan bentuk penyakit yang
sering ditemukan pada mukosa mulut. SAR dikenal juga sebagai seriawan,
stomatitis aftosa, recurrent aphthae, recurrent oral ulceration ataupun canker
sores2. Walaupun sudah sering dialami, tetapi hingga kini etiologi yang pasti dari
penyakit ini belum diketahui. Stomatitis aftosa rekuren merupakan self-limiting
disease yang melibatkan 1025% populasi. Penyakit ini dapat ditemukan pertama
kali pada anak-anak ataupun remaja. Penderitanya biasanya terlihat sehat, tidak
merokok. Di dalam mulut, lesi berupa erosi bulat yang nyeri dengan tepi
kemerahan3.
Etiologi dan patogenesis SAR belum diketahui pasti. Ulser pada SAR
bukan karena satu faktor saja tetapi terjadi dalam lingkungan yang memungkinnya
berkembang menjadi ulser. Faktor-faktor ini terdiri dari trauma, stres, gangguan
hormonal, genetik, gangguan imunologi, difisiensi hematinic dan infeksi
mikroorganisme. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada mahasiswa FKG
Universitas Sumatera Utara, prevalensi SAR 7,20% dan faktor pencetus SAR
terbanyak adalah trauma dan stres. Faktor pencetus stres dijumpai paling bnayak
yaitu 30,43%4. Walaupun SAR tidak mengancam kehidupan tetapi dapat
mengurangi kualitas kehidupan karena pada saat makan, menelan atau berbicara
akan menyebabkan rasa sakit5. Selain itu sifat SAR yang ulang kambuh sangat

mengganggu karena pasien sudah berusaha untuk mencari pengobatan pada


beberapa dokter6. SAR dapat terjadi pada semua kelompok umur tetapi lebih
sering ditemukan pada masa dewasa muda 5. SAR lebih cenderung pada wanita,
kelompok sosial ekonomi tinggi, penderitas stres, atau orang yang mempunyai
riwayat SAR pada keluarganya 6,7.
Sehubungan dengan etiologi penyakit ini tidak jelas, sukar untuk
menemukan suatu perawatan yang pasti dan perawatan-perawatan yang diarahkan
hanya untuk menghilangkan gejala5. Tata laksana SAR berupa identifikasi dan koreksi
faktor-faktor predisposisi9. Pada umumnya pasien SAR tidak memerlukan terapi karena
sifat penyakitnya yang ringan10. Terapi SAR memiliki tujuan menghilangkan rasa sakit
sehingga memungkinkan asupan makanan yang adekuat, mengurangi infeksi sekunder,
memicu penyembuhan ulkus sehingga mengurangi durasi dan mencegah rekurensi5,10.

LAPORAN KASUS
Perempuan berumur 20 tahun datang ke RSGM Universitas Baiturrahmah
dengan keluhan terdapat sariawan yang sakit pada bibir bawah bagian dalam.
Sariawan tersebut muncul sejak 3 hari yang lalu sehingga menyulitkan pasien
ketika makan terutama makanan pedas. Luka tersebut sering muncul tiba-tiba di
bagian bibir yang berbeda awalnya ukurannya kecil dan terkadang dalam
beberapa hari menjadi besar, namun dapat sembuh sendiri tanpa diobati.
Munculnya sariawan tidak disertai demam, hilangnya rasa nyeri atau kehilangan
sensasi lainnya. Dari anamnesa diketahui bahwa pasien seorang asisten rumah
tangga selama 3 tahun. Pasien merasa tertekan dan stres dengan sikap majikannya
yang terlalu keras dan suka memarahi pasien. Anggota keluarga pasien tidak ada
memiliki riwayat SAR yang sama dengan pasien. Pasien mengkonsumsi air putih

yang cukup namun sangat jarang memngkonsumsi sayur dan buah-buahan. Pasien
tidak memiliki riwayat penyakit dalam dan alergi obat-obatan tertentu.
Saat datang keadaan umum pasien terlihat agak sedikit lesu. Pemeriksaan
vital sign diperoleh hasilnya nadi 75x/menit, suhu tubuh 370C, dan pernafasan
20x/menit. Pemeriksaan ekstra oral wajah simetris, konjunctiva normal, limfonodi
submandibular tidak teraba dan tidak sakit. Pasien tidak memiliki kelainan TMJ.
Hasil pemeriksaan intra oral terdapat lesi putih berukuran 2mm dengan tepi tidak
teratur berwarna kemerahan [gambar 1]. Terdapat radix gigi 26 dan 36, karies
superfisialis gigi 15, 24, 44, dan 47. Kebersihan mulut pasien sedang.

Gambar 1
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan didapatkan diagnosis
untuk pasien tersebut adalah Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) Minor. Operator
menjelaskan kepada pasien bahwa SAR yang terjadi padanya dikarenakan adanya
faktor predisposisi stres, sehingga apabila pasien terus-menerus mengalami stres
maka SAR akan selalu timbul kembali. Oleh karena itu, operator mencoba untuk
menenangkan pasien hingga bisa mengendalikan stres tersbeut. Perawatan yang
dilakukan adalah pemberian kortikosteroid topikal (triamsinolone acetonide)
untuk mengurangi nyeri dan radang pada bibir pasien. Pasien juga diinstruksikan
untuk meningkatkan oral hygiene, banyak minum air putih, dan konsumsi sayur
serta buah-buahan. Setelah pemberian kortikosteroid topikal selama dua hari
pasien mengatakan rasa nyeri pada bibir sudah berkurang. SAR sembuh sempurna
setelah seminggu pengobatan [gambar 2].

Gambar 2
DISKUSI
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) adalah jenis yang lebih spesifik dari
stomatitis, muncul dengan ulkus yang dangkal dan nyeri yang biasanya ada di
bibir, pipi, gusi, atap atau dasar mulut. Rentang diameter ulkus ini dari bintik kecil
hingga 1 inchi (2,5 cm) atau lebih10. Walaupun penyebab SAR tidak diketahui,

yang menjadi faktor predisposisi SAR adalah genetik, trauma, infeksi virus dan
bakteri, gangguan hormonal, gangguan imunologi, difisiensi hematinic. Stomatitis
generalisata atau stomatitis kontak dapat terjadi akibat penggunaan berlebihan dari
alkohol, merica, makanan panas, atau produk tembakau. Sensitivitas terhadap obat
kumur, pasta gigi, dan lipstik, dapat mengiritasi lapisan mulut. Paparan terhadap
logam berat, seperti merkuri, timah, bismut, dapat menyebabkan stomatitis11.
Sariawan muncul tanpa didahului demam atau malaise, serta tidak
didahului oleh lenting. Hal ini penting untuk membedakan apakah sariawan yang
diderita merupakan lesi SAR atau lesi infeksi virus, karena lesi sariawan pada
infeksi virus diawali bentuk lenting dengan didahului demam atau malaise1.
Meskipun etiologi stomatitis aftosa rekuren tidak diketahui, namun ada
beberapa faktor predisposisi yang berkaitan dengan munculnya lesi dan dapat
mempermudah terjadinya lesi. Berbagai faktor predisposisi tersebut antara lain:
faktor genetik, trauma, gangguan hormonal, stres, gangguan imunologi,
defisisiensi hematinic12.
Stres merupakan respon tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan yang terjadi terus-menerus yang berpengaruh terhadap fisik dan
emosi. Stres dinyatakan salah satu faktor yang berperan secara tidak langsung
terhadap SAR. Aktifnya hormon glukokortikoid pada orang yang mengalami stres
dapat meneyebabkan meningkatnya katabolisme protein sehingga sintesis protein
menurun. Akibatnya metabolisme sel terganggu sehingga rentasan terhadap
rangsangan dan mudah terjadi ulser4.
SAR merupakan penyakit mukosa mulut yang dapat sembuh sendiri dalam
waktu 7-10 hari tanpa pengobatan dan dapat kambuh kembali7. Penatalaksanaan
SAR ditujukan untuk mengurangi rasa sakit, memperpendek masa perjalanan lesi,
atau mencegah munculnya lesi baru13. Untuk stomatitis aftosa rekuren,

penatalaksanaannya dibagi ke dalam dua tahap yaitu, pengendalian faktor


predisposisi kemudian pengobatan simtomatis dan perawatan suportif.
Faktor predisposisi dapat diketahui dengan cara mengumpulkan informasi
tentang: faktor genetik yang kemungkinan berperan, trauma yang terlibat, faktor
hormonal yang berperan, juga kondisi stres dan faktor imunologi. Dari faktor
sistemik perlu juga diperhatikan usia penderita, dalam usia pertengahan atau
lansia. Pada lansia kemungkinan adanya keterlibatan kondisi sistemik lebih besar
bila dibandingkan pasien di usia pertengahan. Dari faktor lokal perlu diperhatikan
adanya trauma ataupun faktor lain yang dapat mengiritasi mukosa, seperti tepi
gigi, karies ataupun tambalan yang tajam. Perlu dihindari makanan yang tajam
dan merangsang. Juga perlu diperhatikan untuk memperbaiki kondisi oral hygiene
14, 15

.
Tujuan dari pengobatan simtomatik yang dilakukan adalah: untuk

mengurangi rasa nyeri, mempersingkat perjalanan lesi, dan memperpanjang


interval

bagi kemunculan lesi. Obat yang dapat digunakan antara lain:

anestetikum (benzocaine 4% dalam borax glycerine), obat kumur antibiotika


(chlorhexidine gluconate 0,2%, larutan tetrasiklin 2%), anti inflamasi dan anti
udema (sodium hyaluronat), obat muko-adhesive dan anti inflamasi (bentuk
kumur atau gel), kortikosteroid topikal (triamcinolone in orabase).
Kortikosteroid tidak mempercepat penyembuhan lesi, tetapi dapat
mengurangi rasa sakit pada peradangan yang ada. Sedangkan pada triamcinolone
in orabase, kortikosteroid dicampur dengan media orabase yang dapat
membuatnya melekat pada mukosa mulut yang selalu basah. Jika pengolesan obat
ini dilakukan dengan tepat, maka orabase akan menyerap cairan dan membentuk
gel adesif yang dapat bertahan melekat pada mukosa mulut selama satu jam atau

lebih. Namun, pengolesan pada erosi/ulser agak sedikit sulit untuk dilakukan. Gel
yang terjadi akan membentuk lapisan pelindung di atas ulkus, sehingga pasien
akan merasa lebih nyaman. Kortikosteroid akan dilepaskan secara perlahan. Selain
itu obat ini juga memiliki sifat anti inflamasi 2. Adapun contoh resep yang dapat
diberikan yaitu :

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


YAYASAN PENDIDIKAN BAITURRAHMAH
Izin Dinkes : PPK.03.2186 V.2009
JL. Raya By Pass KM 14 Sungai Sapih Padang. Telp.0751-463871
Dokter
Tanggal

: drg. Abu Bakar, M. Med. Ed


:

R/ Kenalog in orabase tube No I


S2dd applic part dol
R/ Vit C tab 500 mg No. X
S1dd tab I p.c

Pro
Umur

: Fadjriati
: 18 tahun

Obat tersebut tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan Dokter

Perawatan suportif dapat dilakukan dengan pengaturan diet, pemberian


obat kumur salin hangat dan anjuran untuk beristirahat dengan cukup. Terapi
biasanya dilakukan secara empiris dan paliatif. Namun demikian, tidak ada satu
obatpun yang dapat benar-benar menghilangkan lesi dengan sempurna. Penderita
perlu diberi tahu bahwa kelainan tersebut tidak dapat diobati, tetapi dapat
diredakan dan biasanya dapat sembuh sendiri3.
Bagi klinikus yang telah berpengalaman dengan lesi-lesi SAR ini,
umumnya tidak mengalami kesulitan dalam hal menegakkan diagnosisnya. Tetapi
bagi yang belum berpengalaman, perlu memahami sungguh-sungguh tentang ciriciri dari lesi SAR ini, karena ada beberapa penyakit yang lesinya mempunyai
kemiripan dengan lesi SAR. Sehingga untuk memperoleh diagnosis yang tepat,
penyakit penyakit lain tersebut perlu disingkirkan terlebih dahulu. Diagnosa
banding dari SAR yaitu16.
Ulkus traumatikus
Ulkus dapat terjadi pada semua usia dan pada kedua jenis kelamin.
Lokasi ulkus traumatikus adalah mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, dan tepi
perifer dari lidah. Ulkus traumatikus dapat diakibatkan oleh bahan-bahan kimia,
panas, listrik atau gaya mekanik, dan seringkali diklasifikasikan menurut sifat
penyebabnya. Kadang-kadang bila terjadi trauma mekanis pada mulut berupa
benturan atau tergigit dapat timbul luka berupa ulkus dengan penampilan seperti
lesi SAR. Untuk lesi ini mudah ditegakkan melalui riwayat terjadinya atau dengan
menemukan faktor yang menyebabkan trauma17.
KESIMPULAN
Pada kasus didiagnosis pasien mengalami Stomatitis Aftosa Rekuren
(SAR) Minor karena ditemukan lesi putih berukuran 2mm dengan tepi keropeng

berwarna kemerahan. Pasien mengalami stres karena pekerjaannya. Terapi yang


diberikan pada pasien adalah eliminasi faktor predisposisi berupa pengendalian
stres pada pasien, pemberian kortikosteroid topikal selama dua hari untuk
menghilangkan rasa sakit dan mengurangi inflamasi. Diinstruksikan untuk
meningkatkan oral hygiene, banyak minum air putih, dan diet seimbang yang
mencakup buah-buahan dan sayuran.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.

5.
6.

7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.
14.
15.
16.

Wulandari, E.A.T., dan Setyawati, T. 2008. Tata Laksana SAR Minor untuk Mengurangi
Rekurensi dan Keparahan. Indonesian Journal of Dentistry Vol.15(2): 147-154.
Marwati, E. 2011. Penatalaksanaan Rasa Nyeri pada Stomatitis Aftosa Rekuren. Makalah.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta.
Cawson, R.A. and Odell, E.W. 2008. Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral
Medicine. Ed. ke-7. Curchill-Livingstone, Edinburgh : 220 - 224.
Banuarea, T. H. P. 2009. Prevalensi Terjadinya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) pada
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Berpengalaman SAR. Skripsi. FKG Universitas
Sumatera Utara, Medan.
McNally, I. M. Recurrent Aphtous Stomatitis and Perceived Stress: A Preliminary Study.
Dept. of psychology, University of Central Lancashire, Preston.
Harahap, A.O. 2006. Kesembuhan Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) Minor dengan
Pemberian Daun Pegagan (Centella asiaca). Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
FKG UPDM : 92-95.
Hartono, R. 1999. Seluk Beluk Sariawan dalam Mulut (Seri Stomatitis I). Dental Harison
Vol. 1(3).
Melamed, F. 2001. Aphtous Stomatitis. UCLA, California.
Scully, C. 2004. Oral and Maxillofacial Medicine. Elsevier Science, London.
Scully. C., and Porter, S. 2008. Oral Mucosal Disease: Reccurent Aphthous Stomatitis. Br J
Oral Maxilofac Sur. Vol. 48:198-206.
Prety, L., Mageth, K.T., Rajkumar, K., and Karhtik, R. 2011. Recurent Apthous Stomatitis. J
Oral Maxillofac Pathol. Vol. 15:252-6.
Yogasedana, M.A., Mariati, N.W., dan Leman, N.A. 2015. Angka Kejadian Stomatitis
Aphtosa Rekuren (SAR) Ditinjau dari Faktor Etiologi di RSGMP FK UNSRAT Tahun 2014.
Jurnal e-GiGi (eG) Vol.3(2): 278-284.
Kilic, S.S. 2004. Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) In Children. Jaypee Brothes
Publishers, New Delhi.
Lamey, P.J. and Lewis, M.A.O. 1991. Oral Medicine in Practice. BDJ Publisher, London.
Regezi, J.A., Sciubba, J.J. and Jordan, R.C. 2008. Oral Pathology. Clinical Pathologic
Correlations. Ed ke-5. Saunders Elsevier, St. Louis.

Sasanti, H. 1994. Gambaran Klinis dan Diagnosis Banding Stomatitis


Apftosa Rekuren. Makalah KPPIKG X Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia : Jakarta. Hal : 678-681

17.

Langlais, R.P. 1998. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim.
Hipokrates : Jakarta. Hal : 94