Anda di halaman 1dari 4

Kasus Barings PLC

Barings Bank didirikan pada tahun 1762 oleh John dan Francis Baring. Baring PLC
terdiri dari Baring Brothers & Co, yaitu perusahaan perbankan, pasar modal dan keuangan;
Baring Asset Management yaitu perusahaan di bidang manajemen aset ; Barings Securities yang
mengendalikan bisnis modal perbankan internasional.
Pada tahun 1992, Ron Baker direkrut untuk memperbaiki kondisi yang diakibatkan
penurunan pendapatan operasi perusahaan. Unit tersebut berbasis di London dan membuka
kantor cabang di NewYork dan Asia. Pada awal tahun 1992, Baker mengirim Nicholas W.
Leeson , (seorang pekerja yang bertugas di bidang settlement pada back office di London) ke
Singapore untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang harus dilaporkan secara langsung
kepada kantor pusat yang ada di London.
Segera setelah tiba di Singapura, Leeson memulai untuk memperbaiki sistem settlement
(penempatan) untuk Barings Futures. Dalam waktu satu tahun, Leeson telah menjadi anggota
dari Tim Barings Trading di bursa SIMEX (Singapore International Monetary Exchange) dan
kemudian menjadi pimpinan tim trader tersebut. Selanjutnya dia memimpin Barings Futures
Singapore dan bertanggungjawab kepada Kantor Pusat Di London.
Tugas utama Leeson adalah melakukan tindakan arbritase terhadap kontrak Nikkei
Futures di Singapore dan Osaka, Jepang. Dia berhasil meraih kesuksesan dan pada tahun 1994
perusahaan memutuskan untuk mengizinkan dia melakukan trading dengan menggunakan akun
pribadinya. Hal tersebut memungkinkan perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari aktifitas
trading yag dilakukan oleh Leeson. Sepanjang tahun 1994 dia mendapatkan bonus lebih dari 1
juta dollar dalam satu tahun
Pada bulan Juli Tahun 1994, terdapat laporan Tim Audit Internal dari Barings Brothers &
Co yang melaporkan tentang adanya perangkapan fungsi yang dilakukan oleh Leeson sebagai
Chief Trader, dalam hal ini Leeson bertanggung jawab terhadap kedua operasi yaitu trading dan
settlement. Tim Audit merekomendasikan adanya pemisahan fungsi tersebut dan seharusnya
dipegang oleh individu yang berbeda. Barings Securities setuju dengan rekomendasi tersebut
namun tidak pernah mengimplementasikan hal itu.
Pada akhir tahun 1994, Leeson mulai melakukan tindakan yang beresiko tinggi terhadap
perusahaan dengan beralih dari seorang arbritase menjadi seorang spekulan. Dia membeli
kontrak berjangka tanpa melakukan hedging dengan menjual corresponding contract. Tindakan

tersebut dilakukan oleh Leeson dengan pertimbangan dia akan menjual kontrak tersebut di masa
yang akan datang dengan harga tinggi dengan asumsi kerusakan yang diakibatkan gempa di
Kobe akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan indeks saham Nikkei. Pada
kenyataannya kondisi pasar saham tidak mendukung sehingga memaksa Leeson untuk
melakukan tindakan put option dan call option untuk mendapatkan uang tunai, sementara kondisi
pasar terus mengalami penurunan. Hal ini menyebabkan Leeson menderita kerugian yang sangat
besar. Untuk menyembunyikan kerugian Nick membuat sebuah account yang disebut error
account 88888 dan tidak melaporkannya ke London.
Akhirnya kecurangan Leeson terbongkar dan dia mengajukan pegunduran diri kepada
Barings. Leeson ditangkap di Frankfurt dalam perjalanannya kembali ke Inggris. Kemudian
Pemerintah Jerman memutuskan mengekstradisi Leeson ke Singapura. Pengadilan Singapura
memutuskan dia bersalah dan dihukum 6,5 tahun penjara.
Pertanyaan:
1. Stakeholder : Pimpinan dan Pemegang saham perusahaan induk (Barings PLC) dan Klien,
2. Dalam melalukan transaksi trading perusahaan tersebut menggunakan dana dari klien,
sehingga yang menjadi prioritas utama adalah klien. Prioritas selanjutnya adalah Pimpinan
dan Pemegang saham Barings PLC. Barings Future merupakan unit usaha dibawah Barings
PLC sehingga dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan kebijakan dari Barings PLC.
Kinerja Barings Future tersebut harus berorientasi untuk memberikan keuntungan kepada
Barings PLC.
3. Adanya konflik internal di perusahaan juga punya andil dalam menyebabkan kejadian
tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa hasil audit dari Barings Brothers & Co melaporkan
tentang adanya perangkapan fungsi yang dilakukan oleh Leeson sebagai Chief Trade, namun
rekomendasi tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh pimpinan unit tersebut.
4. Ada beberapa pelanggaran etika yang dilanggar oleh Leeson, dia melakukan tindakan diluar
kewenangan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Barings PLC dengan berubah dari
seorang Arbitrager menjadi seorang Speculator. Leeson juga melakukan tindakan manipulasi
dengan memasukkan kerugian trading tersebut dalam error account 88888 dan tidak
melaporkannya ke London. Tindakan tersebut jelas melanggar prinsip utilitarian karena telah
merugikan orang lain dan lingkungan yang lebih luas demi kepentingan pribadinya. Tindakan
tersebut juga melanggar hak para manajer dan pemegang saham Barings PLC

5. Pihak yang menang dalam hal ini adalah Leeson. Dia melakukan tindakan diluar
kewenangannya dan melakukan tindakan manipulasi sehingga seolah-olah unit usaha yang
dipimpinnya meraih keuntungan besar sehingga dia mendapatkan bonus yang besar dari
perusahaan. Tindakan tersebut mengabaikan hak-hak dari para pemegang saham dan manajer
Barings PLC yang harus menanggung kerugian dari tindakan yang dilakukan oleh Leeson.
6. Pihak yang kalah dalam hal ini adalah para pemegang saham dan manajer Barings PLC. Pihak
Barings PLC harus menanggung akibat dari tindakannya yang memberikan kepercayaan
terlalu besar kepada Leeson, seorang trader yang juga berperan sebagai manajer pelaksana dan
pencatat settlement. Perangkapan jabatan tersebut memudahkan Leeson untuk melakukan
tindakan manipulasi laporan kepada pihak Barings di London. Tindakan manipulasi tersebut
menyebabkan pihak Barings PLC memberikan bonus kepda Leeson yang seharusnya tidak
diberikan dan pihak Barings PLC harus menanggung kerugian yang diakibatkan oleh Leeson.
7. Hasil yang didapat tentunya akan berbeda jika kondisi pasar saham di Jepang tidak mengalami
penurunan. Jika pasar saham di Jepang mengalamai kenaikan tentunya akan menghasilkna
keuntungan yang besar bagi Leeson dan pihak Barings. Namun pasar saham bersifat fluktuatif
dan penuh ketidakpastian. Tindakan Leeson melakukan trading tanpa hedging merupakan
tindakan yang beresiko tinggi. Sehingga tindakan Leeson tersebut dapat dikatakan sebagai
bom waktu yang sewaktu-waktu dapat terjadi kapan saja.
8. Tindakan-tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh Barings:
Barings harus menerapkan nilai-nilai etika perusahaan (profesionalisme, kejujuran,
objektivitas, keadilan, tanggung jawab, kompetensi, kerahasiaan, integritas, kredibilitas)
pada semua karyawannya baik di pusat maupun di semua unit usahanya.
Menetapkan prosedur dan kebijakan Sistem Pengendalian (SPI) yang efektif. Karena
apabila suatu SPI suatu perusahaan sudah efektif, akan memperkecil terjadinya kecurangan.
Prosedur dan kebijakan SPI ini antara lain adanya pemisahan fungsi. Dalam kasus Leeson
terdapat perangkapan fungsi yaitu sebagai manajer pelaksana dan pencatat settlement. Hal
ini
Manajer puncak juga harus memiliki pengetahuan tentang lini bisnis yang dilakukan setiap
anak perusahaannya.
Meningkatkan proses internal checking antara kantor pusat Barings dengan semua unit
usaha.