Anda di halaman 1dari 45

Implementasi Penerapan Sekolah Aman dari

Bencana yang dilaksanakan Kemdikbud


17 Oktober 2015

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Tahun 2015

Sistematika Pemaparan
1.
2.
3.
4.
5.

Kondisi Daerah Rawan Bencana


Kerangka Regulasi
Menuju Sekolah AmanBencana
Program Sekolah Aman Tahun 2016
Tantangan Kedepan

Kondisi Daerah Rawan


Bencana

Peta Sekolah di Wilayah Rawan Bencana


Peta wilayah rawan bencana telah disusun oleh BNPB dan

ditumpangi dengan letak koordinat Sekolah telah menghasilkan Peta


Sekolah di Wilayah Rawan Bencana dengan letak sekolah yang
diketahui di wilayah yang resiko bencana Jnggi, sedang dan ringan.

Data Dapodik juga telah memuat kondisi sekolah/ruang kelas yang

rusak dengan klasikasi rusak berat, rusak sedang, rusak ringan dan
rusak total, jumlah peserta didik, tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan lainnya.

Dari Peta letak sekolah di wilayah rawan bencana dan data-data di

atas maka diketahui potensi sarana/prasarana dan jiwa komunitas


sekolah yang berisiko Jnggi, sedang, dan ringan terkena bencana.
Peta yang ditampilkan baru jenis bencana gempa bumi (yang sulit
diprediksi datangnya dan biasanya menimbulkan korban yang besar).

Peta Sekolah di Wilayah Rawan Bencana (1)


Peta Sekolah di Wilayah Rawan Bencana ini akan menjadi dasar bagi

penentuan prioritas program rehabilitasi, rekonstruksi dan


pembangunan unit sekolah baru (USB) dan menerapkan standar
Sekolah Aman terutama untuk sekolah yang terletak di wilayah
resiko Bnggi, untuk melindungi komunitas sekolah dan mengurangi
resiko bencana;
Peta Sekolah dengan Jngkat resiko berbeda juga dapat dipakai
untuk menentukan prioritas fasilitasi kepada Pemda, Dinas
Pendidikan, BPBD agar perencanaan anggaran disesuaikan dengan
kondisi alam tersebut. Memberi prioritas pelaJhan Sekolah Aman
kepada fasilitator, konsultan dan Sekolah yang terletak di wilayah
rawan bencana Jnggi.
Berbagai peta bencana peta temaJk menurut jenis bencana dan data
pendidikan yang mempunyai potensi berada di wilayah kabupaten
tertentu, dapat dijadikan dasar perJmbangan untuk lebih mendalami
bahan ajar yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Dll.

Kerangka Regulasi

Sekolah Aman: Mitigasi Bencana (UU 24/2007)


Skema Penanggulangan Bencana

Surat Edaran Mendikbud No. 70a/MPN/SE/2010 Tentang Pengarusutamaan Pengurangan Resioka Bencana (PRB) di Sekolah

Sekolah Aman: Mitigasi Bencana (UU 24/2007)


Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Sekolah
Pemberdayaan
peran
kelembagaan dan
kemampuan
komunitas sekolah

Meningkatkan kapasitas
lembaga maupun
komunitas sekolah
Membangun
pengetahuan dan
budaya sadar bencana
termasuk contohcontoh praktis
mengenai ancaman,
dan bahaya, bencana
Menguatkan
manajemen berbasis
sekolah (MBS)

Pembangunan
kemitraan dan
jaringan antar
berbagai pihak

Pengintegrasian
PRB ke dalam
kurikulum

Integrasi ke dalam
mapel pokok, sesuai
dengan karakteristik
bencana di daerah
setempat

membangun kemitraan dan


jaringan yang solid dalam:

Pertukaran informasi dan


kerjasama pendidikan PRB

Integrasi ke dalam
mapel mulok sesuai
dengan karakteristik
bencana di daerah
setempat

data dan informasi


pendidikan kebencanaan

dokumentasi hasil penelitian

kemitraan dan jaringan


informasi dengan dengan
BPBD dan organisasi nonpemerintah di tingkat provinsi
dan kabupaten/kota

Integrasi ke dalam
Ekstra-Kurikuler dengan
karakteristik bencana di
daerah setempat

Menuju Sekolah Aman

10

Tiga Pilar Sekolah Aman Komprehensif

1. Fasilitas Sekolah Aman


2. Pengelolaan Bencana di Sekolah
3. Pendidikan Ketahanan dan
Pengurangan Resiko Bencana

11

2001-2007

1. Kemdikbud menerbitkan panduan


p e n a n g g u l a n g a n b e n c a n a d i
pendidikan

2. Kemendikbud memperkenalkan
model konstruksi sekolah aman
yang berbasis masyarakat dan
membangun sekitar 4.900 sekolah
aman yang baru, 1.500 di antaranya
didanai oleh AusAID melalui
Australia Indonesia Basic EducaJon
Program (AIBEP) di 14 provinsi

12

Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan


3 Pilar Sekolah Aman
UU No. 24/2007
dan Rencana
Aksi Nasional
Pengurangan
Resiko Bencana
dan
Permendiknas
24/2007 tentang
Sarpras Sekolah
2007

Dana Abadi
1. Pemetaan Sekolah berbasis GIS
Pendidikan
2. Dana Alokasi Khusus (DAK)
disediakan bagi
2011 untuk rehab rusak berat
rehabilitasi dan
3. Sekretariat Nasional Sekolah
rekonstruksi sekolah
Aman dibentuk oleh mulJpihak
rusak akibat bencana
di Kemdikbud
4. model konstruksi sekolah yang
berbasis masyarakat

2008

Berdiri BNPB.
Disusun Model
kurikulum
kebencanaan.

2009

2010

2011

2012

1.

2.

AEPI membantu
Kemendikbud
dalam membuat
model konstruksi
sekolah berbasis
masyarakat di 28
provinsi
>25 ribu sekolah
model mulJpihak
dalam Direktori

2013

1. Rembuknas,
inventarisasi ruang kelas
1. Kemendiknas
rusak
mengeluarkan Surat
2. Peluncuran Perka BNPB
Edaran No.70a/2010
4/2012 Pedoman
untuk pengarusutamaan
Penerapan Sekolah/
pengurangan resiko
Madrasah Aman dari
bencana di sekolah
Bencana
2. Indonesia ikut dalam
3. PiloJng SMAB oleh
kampanye Satu Juta
mulJpihak di 210
Sekolah dan Rumah Sakit
sekolah penerima DAK di
Aman
Sumbar, Jabar, NTB,
NTT, dan Jateng

2014

1.
2.

Roadmap
Sekolah Aman
Jndakan awal
kolaborasi
BNPB dan
Kemdikbud
didukung KPB,
Bank Dunia,
Klaster
pendidikan PRB

2015

1. Integrasi bangunan
tahan gempa ke dalam
petunjuk teknis DAK
SMP
2. koordinasi insJtusi di
dalam Kemendikbud
terkait Sekolah Aman,
melalui Sekretariat di
Kemendikbud
13

Program Terkait Sekolah


Aman Tahun 2016

14

Proyeksi Kebutuhan Unit Sekolah Baru (USB) dan Ruang Kelas Baru (RKB)
Kebutuhan Ruang
Total
Pemenuhan Rasio Rombel dan ruang
Kenaikan APK di
Kebutuhan
Kelas (1:1)
Daerah Prioritas 1
Kebutuhan Target Kebutuhan
Ruang
Rombel
Ruang Kelas
Ruang
Kenaikan
Ruang

Satuan Pendidikan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

SD

1.174.826 858.900 315.926

4,90% 3.015 318.941

SMP

356.047 257.943 98.104

4,28% 15.051 113.155

SMA

139.179 118.449 20.730

15,79% 57.558 78.288

SMK

123.437 117.674 5.763

15,95% 59.681 65.444

SDLB/SMPLB/SMLB

5.067 2.995 2.072

0,53% 1.659 3.731

TOTAL

1.798.556 1.355.961 442.595

136.963 579.558

Konversi Kebutuhan Ruang

Jenjang

(1)

Total
Konversi ke Konversi ke
Kebutuhan
Unit Sekolah Ruang Kelas
Ruang
Baru (USB)
Baru (RKB)
(2)

(3)

(4)

Target Kenaikan APK


hanya untuk Daerah
Prioritas I agar APK
mencapai >75%
Alokasi Intervensi
Termasuk Untuk
Penanganan
Rekonstruksi Sekolah
Akbiat Bencana Alam

Intervensi
APBN 2015

RAPBN 2016

Sisa Kekurangan

USB

RKB

USB

RKB

USB

RKB

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

SD

318.941 96 318.367 15 2.995 15 2.025 66 313.347


SMP

113.155 1.132 106.366 130 2.700 156 1.759 846 101.907


SMA

78.288 783 73.590 70 2.054 222 4.500 491 67.036

SMK
SDLB/SMPLB/SMLB

65.444 654 61.517 75 3.122 316 5.662 263 52.733


3.731 187 2.611 29 140 24 120 134 2.351

TOTAL

579.558 2.851 562.452 319 11.011 733 14.066 1.799 537.375


Sumber: Dapodik, 2015

15

Proyeksi Kebutuhan Rehabilitasi Ruang Kelas


Kondisi Ruang Kelas
Satuan Pendidikan
(1)

Baik
(2)

Rusak Rusak
Ringan Sedang
(3)

(4)

Rusak
Berat

Jumlah

(5)

(6)

Rehab Rencana Sisa Ruang Kelas


2015
2016
Rusak Berat
(7)

(8)

(9=5-7-8)

SD

191.096 507.543 61.490 98.771 858.900 8.555

5.715

84.501

SMP

66.202 153.513 16.207 22.021 257.943 4.187 3.000

14.834

SMA

69.874 59.418 3.991 5.896 139.179 131 1.600

4.165

SMK

58.025 57.820 2.977 4.615 123.437 130 1.000

3.485

SDLB/SMPLB/SMLB/SLB

4.574 7.834 695 830 13.933 128

Jumlah

389.771 786.128

85.360 132.133 1.393.392

13.131

150
11.465

552
107.537

Sumber: Dapodik, Sept 2015


Skenario Penanganan Ruang Kelas Rusak :
1. Perbaikan Ruang Kelas Rusak Berat secara bertahap melalui APBN dan DAK
2. Perbaikan Ruang Kelas Rusak Sedang secara bertahap melalui DAK
3. Perbaikan Ruang Kelas Rusak Ringan secara bertahap melalui BOS

16

CONTOH RESPONSIF: KEMDIKBUD DALAM MENGATASI


DAMPAK BENCANA ASAP

17

CONTOH RESPONSIF: KEMDIKBUD DALAM MENGATASI


DAMPAK BENCANA ASAP

18

CONTOH RESPONSIF: KEMDIKBUD DALAM MENGATASI


DAMPAK BENCANA ASAP

19

Tantangan Ke Depan

20

Tantangan Kedepan
Ada 258,000 sekolah di Indonesia diperkirakan sejumlah 75%
sekolah berada di wilayah rawan bencana. Kebanyakan Sekolah SD
dibangun pada tahun 80an dimana aspek ketahanan terhadap
bencana belum diperhaJkan, terdapat 201 Sekolah yang
mempunyai Risiko Jnggi menurut pemetaan yang baru.
Pengarusutamaan dan pengintegrasian pengurangan risiko bencana
di sektor pendidikan merupakan tantangan dalam memenuhi
kerangka SDGs.
Komitmen dalam pelaksanaan Sekolah Aman belum diikuJ dengan
pelaksanaan secara nasional. Banyak kegiatan pilot yang sudah
dihasilkan perlu diintegrasikan dalam program yang ada.
Peningkatan parJsipasi masyarakat yang lebih luas, termasuk dunia
usaha dan dunia industri dan anak.

Tantangan Kedepan
Koordinasi antar pusat dan daerah perlu diBngkatkan.
Penguatan kemitraan dengan para stakeholders untuk pelaksanaan
Sekolah Aman terintegrasi dalam Gerakan Sekolah yang lebih Aman,
Inklusif, dan Ramah Anak mulai dengan pengajuan Peraturan
Presiden yang diinisiasi K/L dan mulJpihak

Langkah Sekolah Aman Ke depan


Mengelola agenda Sekolah Aman

Sekolah Aman diintegrasikan ke dalam Renstra Kemdikbud dan


Program yang terkait.

P e n g u a t a n S e k r e t a r i a t S e k o l a h A m a n a g a r d a p a t

mengkoordinasikan stakeholder lebih baik dalam pelaksanaan


Sekolah Aman dan sharing informasi pelaksanaan Sekolah Aman.
Diperlukan wadah untuk pertukaran informasi, mis. Website
Sekolah Aman.

Menyelesaikan penyusunan Roadmap Sekolah Aman sebagai dasar


dalam menentukan prioritas program

Langkah Sekolah Aman Ke depan


Mengelola agenda Sekolah Aman

Melanjutkan pelaksanaan program Fasilitas Sekolah Aman (Pilar 1) dengan

kegiatan: Memanfaatkan hasil pemetaan letak Sekolah di wilayah rawan


bencana untuk menentukan prioritas program rehabilitasi, rekonstruksi
sekolah dan pembangunan unit sekolah baru dan menyempurnakan pedoman
teknis untuk pelaksanaan rehab, rekon, dan pembangunan unit sekolah baru
yang sudah mengakomodasi indikator sekolah aman, serta menyempurnakan
modul pelaJhan dan pelaJhan TOT bagi fasilitator dan komunitas sekolah.

Melakukan perluasan bagi pelaksanaan manajemen bencana di Sekolah (pilar 2)

yang sudah banyak dilaksanakan pilot. Pendampingan dan fasilitasi penerapan


sekolah aman di sekolah, mulai dari perencanaan pengembangan sekolah
dengan jalur evakuasi, pembentukan komite bencana dan keselamatan sekolah,
pendalaman materi kebencanaan, simbol bencana yang terstandardisasi, dan
penerapan dan laJhan berkelanjutan dan periodik evakuasi bencana.

Rencana Langkah Sekolah Aman Ke depan


Mengelola agenda Sekolah Aman
Melanjutkan pendidikan pengurangan resiko bencana melalui
pengintegrasian PRB ke dalam kurikulum (Pilar 3) dengan penilaian
kurikulum dan pemetaan kualitas bahan ajar untuk seJap Jngkat
pendidikan (SD s/d SMA/SMK) dan mengevaluasi proses
pembelajaran dan suasana pembelajaran.
Memasukkan indikator sekolah aman ke dalam SPM Dikdasmen
Melakukan monitoring dan bantuan untuk pemenuhan hak
pendidikan anak di wilayah bencana
Menyempurnakan pusat data dan menyusun sisJm informasi yang
dapat memenuhi indikator SNI Sekolah Aman
Menyusun/menyempurnakan perangkat penilaian dan evaluasi
pelaksanaan sekolah aman dan memberikan serJkasi pengakuan.
Dalam jangka panjang dapat dimasukan dalam akreditasi sekolah.

Rencana Langkah Sekolah Aman Ke depan


Mengelola agenda Sekolah Aman
Mendiseminasikan peraturan, pedoman dan memberikan

penguatan kapasitas kepada pemerintah daerah


Melanjutkan pelaJhan kepada pemerintah daerah, fasilitator,
konsultan, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Peserta didik, PaniJa
Pembangunan Sekolah, tukang mengenai Sekolah Aman, terutama
untuk daerah-daerah non percontohan.

Rencana untuk Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Pembangunan Sekolah Baru

Rehabilitasi dan konstruksi Sekolah Baru


MemasJkan penerapan sekolah aman masuk ke dalam


pembangunan unit sekolah baru termasuk 50 SLB.

Kemendikbud merencanakan untuk membuat Gerakan Nasional


Rehabilitasi Sekolah pada tahun 2016.

Terima kasih

28

Pelaksanaan Gerakan
Sekolah Aman, Inklusif, dan Ramah Anak

1. Juni 2007: Kementerian Pendidikan Nasional telah menerbitkan No. 24/2007

tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah IbJdaiyah


(SD/MI) Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah
Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) yang mencakup pengaturan tentang
prosedur pemilihan lokasi sekolah, faktor keselamatan konstruksi dan tahan gempa,
penyediaan fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus.

2. Juli 2010: Kementerian Pendidikan diwakili Wakil Menteri Pendidikan turut dalam

Kampanye Sekolah Aman bersama dengan Kemenkes, BNPB yang dipimpin oleh
Kemenko Kesejahteraan Rakyat. Hadir juga perwakilan dari kementerian lainnya,
NGO, Mitra Pembangunan Internasional, para akademisi dan stakeholder lainnya

3. 2010: Kemdikbud meminta dukungan BNPB dan WB untuk pemetaan dan

perhitungan
cepat lokasi sekolah di wilayah rawan bencana, yang menghasilkan

sekitar 75% sekolah terletak di daerah rawan bencana.

Pelaksanaan Gerakan
Sekolah Aman, Inklusif, dan Ramah Anak
21) 2012-2013: Australia EducaJon Partnership with Indonesia (AEPI) membantu

Kemendikbud dalam membuat model konstruksi sekolah berbasis masyarakat dan


membangun 764 sekolah aman baru di 28 provinsi

22) 170 paket bansos PRB dan Penerapan sekolah aman di SMA/SMK dan SMLB dari
Direktorat PKPLK, Ditjen. Dikmen pada TA 2012.

23) Juknis Rehab Madrasah Kementerian Agama yang diterbitkan tahun 2012 disusun
merujuk pada Perka No. 4/2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman
dari Bencana dan kebijakan SRA

24) 2013 - sekarang: Beberapa provinsi sudah mulai menyusun rencana konJnjensi
pendidikan ataupun POS Penanggulangan Bencana bidang Pendidikan.

25) 2013-2014: Rangkaian Seminar terkait Sekolah Aman yang diadakan di Provinsi NTB,

DKI, dan pelaJhan di kabupaten yang bukan merupakan kabupaten percontohan, serta
Socialisasi mengenai Sekolah Aman terhadap semua Dinas Pendidikan provinsi/
kabupaten/ kota dalam Rakernas di Jakarta; demonstrasi kegiatan Sekolah Aman dalam
kegiatan bulan PRB tahun 2013.
30

Pelaksanaan Gerakan
Sekolah Aman, Inklusif, dan Ramah Anak
26) 2014: Peningkatan koordinasi insJtusi di dalam Kemendikbud terkait program Sekolah Aman
yang didukung oleh UNICEF.

27) 2014: Integrasi bangunan tahan gempa ke dalam pedoman teknis bagi rekonstruksi dan

membangun unit kelas baru di Jngkat sekolah menengah dengan menggunakan DAK.
Penyusunan drai pedoman bagi penanggulangan bencana

28) Penerbitan dummy panduan dan modul penanganan psikososial penyintas anak SMAN 1
Simpang Empat pasca erupsi Gunung Sinabung oleh PKLK didukung KerLiP, BNPB, UNICEF

29) 2015: Penyusunan modul standar Sekolah Aman yang Komprehensif yang mereeksikan

keJga pilar Sekolah Aman yang Komprehensif, diikuJ dengan penyusunan pedoman
fasilitator Sekolah Aman yang Komprehensif (sedang berjalan dan pelaJhan akan mulai
dilakukan per 2016).

30) 2015: Workshop dan PelaBhan bagi 36.000 SD dan SMP mengenai Sekolah Aman yang
Komprehensif, dipimpin oleh Direktorat SMP

Model berjenjang: TOT di Kemendikbud Dinas Pendidikan Provinsi Dinas Pendidikan


Kab/ Kota kepala sekolah, kepala tatau usaha, komite sekolah guru, peserta didik dan
pemangku kepenJngan (stakeholders) lain
Penyediaan poster, leaet serta rute dan rencana evakuasi
31

Pelaksanaan Gerakan
Sekolah Aman, Inklusif, dan Ramah Anak
31) 2015: Penyusunan Roadmap Sekolah Aman (rencana penyelesaian Sep15)
32) 2015: PelaJhan 30 guru dan murid SMK di Bandung oleh UNESCO bekerjasama dengan
Sekretariat Sekolah Aman

33) 2015: Perluasan inisiasi YES for Safer School yang dilaksanakan Disdik Provinsi Jawa Barat dan

KerLiP sejak 2011 dengan dukungan mulJpihak ke 790 sekolah inklusi, 1374 SMK dan SLB di
Jawa Barat.

34) 2015: Penyusunan naskah akademik Penyelenggaraan Sekolah Darurat, Buku Saku dan media
sosial YES for Safer School oleh PKLK Ditjen Dikdasmen Kemdikbud

35) 2015: Penyusunan naskah akademik Penyelenggaraan Sekolah Darurat, Buku Saku dan media
sosial YES for Safer School oleh PKLK Ditjen Dikdasmen Kemdikbud

36) 2015: Pameran pada Hari PRB Internasional di Surakarta, 16-18 Oktober 2015 oleh Kemdikbud
didukung KemPPPA, KemPUPR, Kemdagri, Bappenas, KLHK, Kemkes, BNPB, KerLiP, KPB, Planas
PRB, dan mulJpihak

37) 2015: Workshop dan PelaBhan Agen Sekolah Aman, inklusif dan ramah anak dalam LDK dalam
untuk 50 peserta didik ADEM Papua, dan Papua Barat oleh Dit PKLK Dikdasmen Kemdikbud

38) 2015: Bantuan kit-kit untuk sekolah terkait dengan Sekolah Aman, inklusif dan Ramah Anak

32

Pelaksanaan Gerakan
Sekolah Aman, Inklusif, dan Ramah Anak
UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan perlakukan
khusus terhadap sekolah yang berada di daerah rawan bencana (2003)
UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Rencana Aksi Nasional
PRB 2010-2012 yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu
prioritas (2007)
Permendiknas No. 24/2007 tentang Standar Sarana Prasana yang
merekomendasikan agar fasilitas sekolah dilengkapi dengan perangkat yang sesuai
untuk mengatasi keadaan darurat (2007)
Surat Edaran Mendiknas No. 70a/MPN/SE/2010 yang ditujukan kepada Gubernur
dan Kepala Daerah untuk melaksanakan strategi nasional PRB di sekolah yang
menjadi kewenangannya (2010)
Perka BNPB No. 4/2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/ Madrasah Aman
Bencana
Permeneg PPPA no. 8 tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak
33

1. Mengelola dalam jumlah yang besar! 240 juta penduduk (45%


berusia antara 0 24 tahun), 61 juta peserta didik, 3.9 juta guru dan
340.000 sekolah.
2. Perluasan penerapan sekolah aman desentralisasi pendidikan
memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten/ kota
untuk memiliki kendali terhadap kebijakan dan strategi pendidikan.
3. 75% sekolah berlokasi di daerah rawan bencana dan mayoritas
Sekolah Dasar dibangun pada tahun 1970/80-an, saat aspek
pengurangan risiko bencana belum diperBmbangkan.
4. Isu-isu mengenai kurangnya koordinasi di antara pemerintah pusat,
pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.
34

5. Kurangnya pemantauan dan evaluasi, mis: kepatuhan


terhadap peraturan sekolah aman. (Cat: peraturan sudah
tersedia di Jngkat nasional).
6. Lebih dari 25.620 sekolah percontohan sudah selesai
dibangun, namun untuk meningkatkan (scaling up) masih
menjadi tantangan besar. Evaluasi terhadap sekolah
percontohan sebaiknya dilakukan sebagai bahan perJmbangan
bagi serJkasi sekolah.

35

1.

2.

3.

Koordinasi dan sinkronisasi (internal: di dalam Kemendikbud dan external:


dengan K/L, dengan provinsi/ kabupaten/ kota with other gov ministries/
agencies, with Dinas Pendidikan Jngkat) masih dapat diJngkatkan
Anak-anak merupakan agen perubahan, mereka menyerap pengetahuan
dengan berbagai cara dan sekolah dianggap sebagai tempat terbaik untuk
menyebarkan pengetahuan K/L menggunakan sekolah untuk tujuan ini,
namun seringkali tanpa/ kurang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan
atau dengan Kemendikbud ke depannya, K/L harus taat terhadap UU No.
23/2014 tentang Pemerintahan Daerah sedang disiapkan Perpres
Gerakan Sekolah Ramah Anak dan YES for Safer School
Sumber daya tersedia namun Jdak tersebar (luas) dan/ atau Jdak dapat
diakses dengan mudah Sistem Manajemen Pengetahuan (yang
terkonsolidasi)
36

Roadmap Program
2015
1. Pelembagaan Sekretariat
Sekolah Aman:
Penyusunan basis data
pendukung dalam rangka
pengembangan
penyelenggaraan Sekolah
Aman yang Komprehensif
Pengintegrasian kebijakan
dan prakJk baik ke dalam
Perpres Gerakan SRA
Monitoring dan Evaluasi
2. Penyusunan Perencanaan
Manajemen
Penyelenggaraan SMAB
3. Implementasi
Penyelenggaraan Sekolah
Aman di Sekolah Rujukan
4. Penyusunan naskah
akademik sekolah darurat
5. Pelaksanaan YES for safer
School di sekolah piloJng
6. Pameran di Hari PRB
Internasional
7. Pengumpulan materi-materi
PRB
8. Pemutakhiran direktori
9. Penyusunan panduan
penilaian buku, sumber
belajar, dan sarana pra
sarana yang
mengintegrasikan PRB dan
SNI Sekolah Aman
10. Bina Remaja Nusantara 1

2016
Pengintegrasian Sekretariat
Sekolah Aman ke dalam
Sekretariat bersama
Implementasi penataan
sekolah aman bencana
a. Persiapan pelaksanaan
pekerjaan
b. Pengadaan infrastruktur,
Kurikulum dan materi
Edukasi-Sosialisasi
c. Penyelenggaraan sekolah
aman bencana di sekolah
inklusi dan SLB Pembina
d. Penilaian SMAB
Monitoring dan Evaluasi
Penyelenggaraan sekolah
aman bencana
Pelaksanaan YES for safer
School di seluruh sekolah/
madrasah di Indonesia
Anugerah Duta Anak, Guru,
keluarga, dan Sekolah
PANUTAN
Pengintegrasian ke dalam
instrumen evaluasi diri
sekolah
Penyusunan Sistem Informasi
Sekolah Aman SHIAGA

2017
Implementasi penataan
sekolah aman bencana
a. Persiapan pelaksanaan
pekerjaan
b. Pengadaan infrastruktur,
Kurikulum dan materi
Edukasi-Sosialisasi
c. Penyelenggaraan sekolah
aman bencana di sekolah
inklusi dan SLB Pembina
d. Penilaian SMAB
Pelaksanaan YES for safer
School di seluruh sekolah/
madrasah di Indonesia
Bina Remaja Nusantara 2
Monitoring dan evaluasi
penerapan sekolah aman
bencana mencakup
pemantauan :
a. Proses pelaksanaan
b. Status Kegiatan
c. Kemajuan yang
berlangsung

2018

2019

Pemeliharaan dan penguatan


sistem sekolah aman
bencana
Monev Implementasi
penataan sekolah aman
bencana

Pemeliharaan dan penguatan


sistem sekollah aman
bencana
Monev Implementasi
penataan sekolah aman
bencana

1. Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dengan


SNI Bangunan Tahan Gempa dan Sekolah Aman
2. Pengawasan bekerjasama dengan KemPUPR
dan Sekretariat Sekolah Aman
3. Pengembangan Sistem Manajemen
Pengetahuan yang baik dan parJsipaJf

38

1. Pemantauan berbasis sms dan website diperkuat


2. Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan secara
koordinaJf dengan memperharJkan penerapan UU
No 23/2014 tentang otonomi daerah
3. Penerbitan SerJkat Laik Fungsi dan IMB untuk
sekolah yang memenuhi SNI Sekolah Aman
4. Anugerah duta anak, guru, sekolah
5. Pemutakhiran direktori seJap 2 tahun

39

1. Penguatan pelembagaan sekretariat untuk


koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dengan
SNI Bangunan Tahan Gempa dan Sekolah Aman
2. Peningkatan parJsipasi anak dan keluarga
dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengelola pengetahuan Satu jam simulasi
evakuasi bencana seJap hari PRB internasional
di sekolah (YES for Safer School) dengan
dukungan K/L dan mitra kerja lainnya

40

(sumber : prakBk baik seknas sekolah aman didukung BEC-TF WB di NTB)

Display Buku Pra Bencana

Display Buku Pra Bencana

Pemenuhan Hak Pendidikan Anak saat Tanggap Darurat

3 Panduan

Proceeding
Pendampingan
Psikososial di
Sinabung

Sekolah Darurat

Penilaian
Pasca Bencana

Pendirian dan
Penyelenggaraan
Sekolah Darurat

Penanganan
Psikososial di
Sinabung