Anda di halaman 1dari 5

Bab I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebutuhan barang tambang mangan dewasa ini meningkat seiring dengan
peningkatan teknologi dan kebutuhan akan mangan. Mangan yang merupakan
logam yang digunakan untuk berbagai macam kebutuhan seperti campuran logam
untuk menghasilkan baja, campuran logam untuk kebutuhan baterai, dan untuk
berbagai kebutuhan logam lainnya.
Mangan merupakan salah satu dari 12 unsur terbesar yang terkandung
dalam kerak bumi. Mineral mangan yang diketahui ada sekitar 300 jenis. Namun
yang sering dijumpai dalam cebakan bijih komersial ada 13 jenis. Pirolusit dan
psilcmelan merupakan mineral yang umum menjadi cebakan utama bijih mangan.

Di Indonesia, cadangan mangan cukup besar namun tersebar di banyak


lokasi, yang secara individu umumnya berbentuk kantong atau lensa berukurang
kecil dengan kadar yang bervariasi. Cadangan mangan yang telah diketahui
sekitar 5,35 juta ton, sedangkan cadangan yang sedang ditambang berjumlah
4,90 ton saat ini, terdapat empat usaha pertambangan mangan yang telah
berproduksi. Salah satu diantaranya merupakan tambang mangan tertua yaitu PD
Kerta Pertambangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat,
sedang tiga perusahaan lainnya adalah swasta nasional.

Kegunaan mangan sangat luas, baik untuk tujuan metalurgi maupun nonmetalurgi. Untuk tujuan non-metalurgi, mangan digunakan untuk produksi baterai,
kimia, keramik dan gelas, glasir dan frit, pertanian, proses produksi uranium, dan

lainnya. Di Indonesia, industri hilir pemakai mangan adalah industri baterai,


keramik dan porselein, industri logam, dan industi korek api.

2. Geologi
Mula jadi
a.

Cebakan Terrestial
Menurut park (1956), cebakan mangan dibagi dalam 5 tipe yaitu :

Cebakan Hidrothermal.

Cebakan sedimenter, baik bersama-sama maupun tanpa affiliasi vulkanik

Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut

Cebakan metamorfosa

Cebakan laterit dan akumulasi residual

Dari kelima tipe cebakan tersebut, sumber mangan komersial berasal dari
cebakan sedimenter yang terpisah dari aktivitas vulkanik dan cebakan akumulasi
residual.
Cebakan sedimen laut mempunyai cirri khusus yaitu berbentuk perlapisan dan
lensa-lensa. Seluruh cebakan biji karbonat berasosiasi dekat dengan batuan
karbonat

atau

grafitik,

dan

kadang-kadang

mengandung

lempung

yang

menunjukkan adanya suatu pengurangan lingkungan pengendapan dalam cekungan


terdekat. Sebaliknya cebakan bijih oksida lebih umum dan berasosiasi dengan
sediment klasik berukuran kasar, dengan sedikit atau sama sekali bebas dari
unsure karbon organic. Cebakan bijih ini dihasilkan di bawah kondisi oksidasi yang
kuat dan bebas sirkulasi air.

Cebakan bijih oksida merupakan cebakan sedimenter yang sangat komersial


dengan kadar bijih 25-40% Mn, sedangkan cebakan bijih karbonat kadarnya
cenderung lebih kecil, yaitu 15-30% Mn.
b.

Nodul
Istilah Nodul mangan umum digunakan walaupun sebenarnya kurang tepat, karena
selain mangan masih terkandung pula unsure pasir, nikel, kobalt, dan molybdenum,
sehingga akan lebih sesuai bila dinamakan dengan nodul poli-metal.
Dasar samudra diperkirakan diselimuti lebih dari 3 triliyun ton nodul berukurang
kentang. Disamuidra pasifik sendiri, nodul yang terbentuk diperkirakan sebesar
10 juta ton per tahun. Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh USBM,
diketahui bahwa zona kadar tertinggi terdapat dalam cekungan sediment pasifik
bagian timur, yang terletak pada jarak 2.200 km sebelah tenggara Los Angeles,
Kalifornia. Di zc na ini, nodul mangan mangan terjadi dalam lapisan tunggal dan
tidak teratur.
Secara individu, nodul mempunyai kilap suram dengan warna coklat tanah hingga
hitam kebiruan. Tekstur permukaan dari halus hingga kasar. Setiap nodul
mengandung satu atau lebih sisa-sisa makhluk air laut. Pragmen batuan, atau
nodul lainnya. Nodul ini diliputi oleh lapisan mangan, besi, dan logam oksida
lainnya yang berbentuk konsentris namun tidak terus-menerus. Lapisan lempung
kemudian mengisi celah-celah diantara lapisan oksida tersebut secara tidak
beraturan dan biasanya dapat dijadikan patokan dalam perhitungan periode
pertumbuhan nodul bersangkutan.

Potensi dan cadangan di Indonesia


Potensi cadangan bijih mangan di Indonesia cukup besar, namun terdapat di
berbagai lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Potensi tersebut terdapat di

Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Menurut data statistic dari Central Bureau of Statistics memperlihatkan
bahwa konsumsi atau penggunaan mangan sangat besar dengan total 43,579.26
ton pada tahun 2002 dan meningkat pada tahun 2003 sebesar 52,242.67 ton
dengan konsumsi terbesar pada industri besi dan baja yang bisa mencapai 90%.

Tempat ditemukan

Aceh : Karang Igeuh (indikasi berupa rodhonit, proses hydrothermal) Lhok


Kruet, calang Aceh Barat (kontak metasomatik berupa pirolusit berasosiasi
dengan

bijih

besi)

kapi,

tenggara

Blankejeran

(psilomelan

didaerah

patahan/hydrothermal)

Sumatra utara : Pantai timur (kadar Mn3O4 = 7,9 % dalam bog iron, berupa
konversi dari besi rawa dengan kadar Mn3O4 = 13,5 20,1 %) 23 km sebelah
timur laut Natal (berupa bongkah oksida mangan berukuran sampai 50 cm, tanpak
berlapis dan terbentuk karena replacement batuan chert radiolarian)

Sumatra Barat : Mangani (proses hydrothermal dalam urat breksi berasosiasi


dengan Au dan Ag terdapat sebagai rhodokhrosit), ulis Ayer (proses
hydrothermal berupa urat kecil polianite dalam batuan diabas) S.lumut, singingi
Riau (proses hydrothermal, bijih Mn berupa sediment dalam breksi), Belang Beo
(proses hydrothermal ditemukan mangan oksida sebagai bongkah).

Sumatra Selatan : S.saelan, P. bangka (kadar MnO2 = 27,5 %).


Bengkulu : Gebang ilir, tambang sawah (kadar MnO2 = 44,05%), proses
hydrothermal, berasosiasi dengan Au, mineral berupa rhodonit, rhodokrosit,
psilomelan pirolusit bustanit dan inesit)

Lampung : G.Pesawarang Ratai (G.waja Kedondong, G.kasih) G.waja kadar = 60%,


kedondong Mn = 2-7 %, G.kasih Mn (45-50%).

Jawa barat : Cikotok kab.pandeglang (MnO2 = 9-32%), berasosiasi dengan Au


terdapat sebagai rhodonit, rhodokhrosit dan spartait, cibadong kab.sukabumi
(kadar MnO = 32-60% Terdapat dalam tufa dan breksi), daerah karangnunggal
kab.tasikmalaya (kadar MnO2 = 45-90%, Terdapat sekitar 13 lokasi mineralisasi),
cigembor Salopa kab.tasikmalaya (kadar Mn 54,68%; MnO 2 = 83,34 terdapat
berupah bongkah-bongkah limonit mengandung Mn); cikatomas kab. Tasikmalaya
(kadar Mn = 50-52,43%, MnO = 66-91%, mangan berupa bongkah-bongkah
terdapat pirolusit).

Jawa tengah : Karangbolong, kab.Bayumas (kadar MnO 2 = 60% terdapat sebagai


pirolusit dan psilomelan berupa gumpalan oolitik dalam batu gamping );
Ngargoretno, Salaman, Kab.Magelang (kadar MnO 2 = 80%, sebagai pirolusit
berbentuk lensa); Bapangsari, Purwerejo, Cengkerep Semanggung, Purwerejo.

Daerah Istimewa Jogyakarta : Kliripan dan Samigaluh kab.kulon Progo (kliripan


kadar Mn = 25%; Samigaluh Kab.kulon Progo (kliripan kadar Mn = 25% ;
Samigaluh MnO2 = 57,75% terdapat dalam bentuk pirolusit dan psilomelan)
daerah Gedad, Batuwarno, Eromoko Kab.Wonogiri ( Gedad, kadar MnO 2 =58,5%,
MnO2 = 92,10%, Baturetno kadar MnO2 = 82,74 %, kadar Mn total 49,48%
terdapat sebagai lensa diantara batu gamping dan farmasi Andesit Tua); daerah
G.Kidul (kadar MnO2 = 27,19%, kadar Mn total = 23,5%, terdapat di kepuh,
Ngepek,Ngaglik,Kutuan dan selonjono timur.

Kalimantan Barat : Lumar, kab.sambas (kadar Mn = 14,94

Ada yang kurang, NTT, potensi mangan di NTT sangat besar dan memiliki kualitas terbaik
no 2 di dunia