Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
AKG adalah jumlah zat-zat gizi yang hendaknya dikonsumsi tiap hari untuk jangka
waktu tertentu sebagai bagian dari diet normal rata-rata orang sehat. Oleh sebab itu, perlu
dipertimbangkan setiap faktor yang berpengaruh terhadapa absorpsi zat-zat gizi atau efisiensi
penggunaannya didalam tubuh. Angka kecukupan gizi berbeda dengan angka kebutuhan gizi
(dietary requirements). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang
dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi adekuat.
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances
(RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai
cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat di suatu negara. Kecukupan gizi
dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktivitas, berat dan tinggi badan, genetika, serta keadaan
hamil dan menyusui. Dalam perhitungan angka kecukupan gizi yang dianjurkan sudah
diperhitungkan faktor variasi kebutuhan individual, dimana kebutuhan yang dianjurkan sudah
mencakup hampir 97,5 % populasi, dan untuk ekcukupan beberapa zat gizi seperti vitamin,
mineral sudah diperhitungkan sampai cadangan zat gizi dalam tubuh. Sehingga perhitungan
kecukupan zat gizi sudah memperhitungkan penambahan sebesar dua kali simpang baku (standar
deviasi) dari kebutuhan rata-rata penduduk yang sehat.
AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing
kelompok umur, gender, dan aktivitas fisik. Dalam penggunaannya, bila kelompok penduduk
yang dihadapi mempunyai rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan yang digunakan,
maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu
kurus, AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya.AKG yang dianjurkan tidak digunakan
untuk perorangan.
Angka kecukupan gizi (AKG) berguna sebagai patokan dalam penilaian dan perencanaan
konsumsi pangan, serta basis dalam perumusan acuan label gizi. Angka kecukupan gizi
mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan Iptek gizi dan ukuran antropometri
penduduk. Setelah sekitar sepuluh tahun ditetapkan angka kecukupan energi (AKE) dan
kecukupan protein (AKP) bagi penduduk Indonesia, kini saatnya ditinjau ulang dan
disempurnakan. Kajian ini bertujuan merumuskan angka kecukupan energi (AKE), kecukupan

protein (AKP), kecukupan lemak (AKL), kecukupan karbohidrat (AKK) dan serat makanan
(AKS) penduduk Indonesia (Hartono, 2000).
Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan
fisiologis tertentu. Nilai asupan harian zat gizi yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan
gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisiologis tertentu
disebut dengan kebutuhan gizi. Kecukupan energi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur,
jenis kelamin, ukuran tubuh, status fisiologis, kegiatan, efek termik, iklim dan adaptasi. Untuk
kecukupan protein dipengaruhi oleh faktor-faktor umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, status
fisiologi, kualitas protein, tingkat konsumsi energi dan adaptasi (Lie, 2010).
Setiap orang dalam siklus hidupnya selalu membutuhkan dan mengkonsumsi berbagai
bahan makanan (Kartasa Poetra & Marsetyo, 2005). Menurut Departemen Gizi dan Kesehatan
Masyarakat FKM UI (2008), bahwa bahan makanan yang telah dikonsumsi tersebut akan
diuraikan menjadi zat gizi. Fungsi umum zat gizi tersebut adalah : (1) sebagai sumber
energi/tenaga (2) menyumbang pertumbuhan badan (3) memelihara jaringan tubuh dan
mengganti sel yang rusak (4) mengatur metabolism dan keseimbangan air, mineral dan asam
basa di dalam tubuh (5) berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit sebagai
antibodi dan antitoksin.
Untuk keperluan di Indonesia hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun
2004 menetapkan tiga standar gizi, yaitu angka kecukupan gizi (AKG), batas atas asupan (UL),
dan acuan label gizi (ALG). Angka kecukupan gizi (AKG) adalah nilai yang menunjukkan
jumlah zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat setiap hari bagi hampir semua penduduk
menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis, seperti kehamilan dan menyusui.
Konsep kecukupan energi kelompok penduduk adalah nilai rata-rata kebutuhan, sedangkan pada
kecukupan protein dan zat gizi lain adalah nilai rata-rata kebutuhan ditambah dengan 2 kali
simpangan baku(2 SD) (Miharjda, 2000).
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa,2007). Menurut
Suhardjo (1983), status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan,
dan penggunaan makanan. Makanan yang memenuhi gizi tubuh, umumnya membawa ke status
gizi memuaskan. Sebainya jika kekurangan gizi atau kelebihan zat gizi esensial dalam makanan

untuk jangka waktu yang lama disebut gizi salah. Manifestasi gizi salah dapat berupa gizi kurang
dan gizi lebih (Supariasa,2007).
Status gizi optimal adalah keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan zat gizi
yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Keadaan tubuh dikatakan pada tingkat gizi optimal,
jika jaringan tubuh penuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimal. Kondisi ini
memungkinkan tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang tinggi. Apabila
konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan
terjadi kesalahan gizi yang mencakup kelebihan dan kekurangan gizi (Supariasa,2007).
IMT dihitung sebgagai berat badan dalam kilogram (kg) dibagai tinggi badan dalam
meter dikuadratkan dan tidak terikat pada jenis kelamin. IMT secara sifnifikan berhubungan
dengan kadar lemak tubuh total sehinggadapat dengan mudah mewakili kadar lemak tubuh. Saat
ini, IMT secara internasional diterima sebagai alat untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan
dan obesitas (Hartono, 2000).
Penambahan berat badan terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah kalori
yang dikonsumsi dengan kebutuhan tubuh. Jika makanan yang dimakan memberikan kalori lebih
dari kebutuhan tubuh, maka kalori tersebut akan ditukar atau disimpan sebagai lemak. Pada
awalnya, hanya ukuran sel-sel lemak yang akan meningkat. Tetapi apabila ukuran sel-sel tersebut
tidak bisa lagi mengalami peningkatan, maka sel-sel akan menjadi bertambah banyak. Apabila
tubuh mengalami pengurangan berat badan, yang akan berkurang hanyalah ukuran sel-sel lemak,
bukan jumlahnya yang berkurang mengakibatkan lemak akan mudah terbentuk semula. Terdapat
banyak penyebab obesitas. Ketidakseimbangan asupan kalori dan konsumsi bervariasi bagi tiap
individu. Turut memainkan peranan dan berkontribusi adalah usia, jenis kelamin, genetik,
psikososial, dan faktor lingkungan (Antonio et al, 2008).
Energi yang dihasilkan tubuh digunakan untuk melakukan tiga kegiatan yaitu :
1.

Kerja internal
Kerja internal adalah energi yang diperlukan untuk mempertahankan hidup. energi untuk
kerja internal disebut energi metabolisme basal (EMB). Energi basal diukur pada saat istirahat,
tetapi tidak tidur, fisik dan emosi dalam keadaan rileks, kurang lebih 12-18 jam sesudah makan.
Energi basal ini dipengaruhi oleh luas permukaan tubuh, jenis kelamin, umur, komposisi tubuh,

kelenjar endoktrin, kehamilan dan laktasi, status kesehatan, koreksi tidur, suhu tubuh, tonus otot,
latihan olahraga dan faktor stress.
2.

Kerja eksternal
Kerja eksternal adalah energi yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan atau aktifitas
fisik seperti berjalan, berlari, berolahraga, menyapu menulis, berkebun, menjahit dan lain-lain.
Energi untuk kerja eksternal disebut energi aktivitas karena diukur melalui kegiatan yang kita
lakukan. Pengeluaran energi ini dipengaruhi oleh ukursn tubuh dan kebiasaan melakukan
kegiatan. Semakin banyak aktivitas fisik yang melibatkan fungsi otot, maka semakin
banyak energi aktivitas yang diperlukan.

3.

Menutup pengaruh makanan


Energi yang digunakan untuk menutup pengaruh makanan disebut spesifik Dynamic of
food atau spesifik Dynamic Action (SDA). SDA adalah banyaknya energi yang digunakan untuk
mencerna atau mengangkut makanan dalam tubuh. Penggunaan energi ini diperkirakan terjadi
sekitar 1-3 jam sesudah makan. setiap zat gizi dalam makanan dalam memberikan kebutuhan
SDA yang berbeda.
Zat gizi yang menghasilkan energi adalah karbohidrat, protein, dan lemak, sehingga
untuk istilah kebutuhan energi lebih banyak akan dibicarakan adalah kebutuhan ketiga zat gizi
tersebut. Energi yang terkandung dalam suatu makanan tergantung dari jumlah karbohidrat
protein dan lemak.
Tidak semua karbohidrat, protein dan lemak yang terkandung dalam makanan yang
dikonsumsi dapat digunakan oleh tubuh, karena sebelumnya harus dilakukan pencernaan dan
penyerapan. Sehingga benar-benar dapat digunakan oleh tubuh adalah sejumlah yang dapat
diserap. Dengan kata lain jumlah masing-masing zat gizi yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh
tergantung dari daya cernanya. Selain itu, khusus untuk protein, tidak semuannya diserap oleh
tubuh dapat dimanfaatkan oleh tubuh, dan kelebihannya akan dibuang melalui urine sebagai
urea.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
a. Aplikasi Nutrisurvey
b. Responden
c. Pewawancara
3.2 Prosedur
a. Lakukan wawancara terhadap responden untuk mengetahui makanan apa saja yang
dikonsumsi selama 24 jam yang lalu, sejak bangun tidur sampai malam hari atau mulai
dari saat dilakukan wawancara dihitung mundur kebelakang sampai 24 jam.
b. Catat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh responden dan masukkan
ke dalam Aplikasi Nutrisurvey
c. Maka diperoleh hasil perhitungan angka kecukupan gizi (AKG) responden tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL

4.2 PEMBAHASAN

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

5.2 SARAN

DAFTAR PUSTAKA
Irianto. 2004. Ilmu Gizi Masyarakat. Surabaya : Erlangga
Laksmi, widajanti. 2009. Survey Konsumsi Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP
Almatser, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC