Anda di halaman 1dari 9

agito sudin

Selasa, 18 Januari 2011


BAHAN ALAM HAYATI

PENGUJIAN KANDUNGAN KARATENOID, STEROID,


TRITERPENOID, ALKALOID, KARBOHIDRAT, SENYAWA
FENOLIK, GARAM ALKALOID, ANTOSIANIN,
GLIKOSIDA, TANIN DAN SAPONIN PADA KULIT BUAH
SAWO (Achras sapota L.)
Analisis fitokimia, harus digunakan jaringan tumbuhan yang segar.
Beberapa menit setelah dikumpulkan, bahan tumbuhan itu harus diendapkan
kedalam alkohol mendidih. Kadang-kadang tumbuhan yang telah tidak
tersedia dan bahan mungkin harus disediakan oleh seorang pengumpulan
yang tinggal didunia lain. (Harborne, 2006)
Buah sawo (Achras sapota L.) cukup dikenal masyarakat di Indonesia
karena buahnya yang harum dan rasa buahnya yang manis. Rasa buah sawo
yang manis membuat buah ini banyak penggemarnya. Rasa manis ini
disebabkan oleh kandungan gula dalam daging buah yang kadarnya berkisar
antara 16-20%. Selain kaya gula, buah sawo juga mengandung zat gizi lain
seperti mineral, vitamin, karbohidrat dan serat pangan.
Buah sawo memiliki kandungan mineral yang ckup baik. Buah ini
merupakan sumber kalium yang baik, yaitu 193mg/100g. Di pihak lain,
memiliki kandungan natrium yang rendah, 12mg/100g. Perbandingan antara
kandungan kalium dan natrium yang mencapai 16:1, menjadikan sawo
sangat baik untuk jantung dan pembuluh darah. (Wikipedia, 2010)

Ekstraksi atau penyarian adalah kegiatan penarikkan zat aktif yang dapat
larut dari bahan yang tidak aktif yang dapat larut dengan pelarut cair. Hasil dari
ekstraksi adalah ekstrak yang merupakan sediaan kental yang diperoleh dengan

mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani dengan


menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua pelarut diuapkan
(Departemen Kesehatan RI, 1995).
Ragam ekstraksi yang tepat sudah tentu bergantung tekstur dan
kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa
yang diisolasi. Umumnya kita perlu membunuh jaringan tumbuhan untuk
mencegah terjadinya oksidasi enzim atau hidrolisis. Bila mengisolasi
senyawa

atau

jaringan

hijau,

keberhasilan

ekstraksi

dengan

alkohol

berikatan dengan seberapa jauh klorofil.


( Herborne, 2006 )
Karatenoid merupakan suatu zat yang sangat alami dan memiliki sifat larut dalam air
yang merupakan kelompok pigmen berwarna kuning, merah dan orange. Karatenoid merupakan
suatu triterpenoid C40, golongan pigmen yang dapa larut dalam lipid, tersebar luas dalam
tanaman dan buah-buahan serta tidak diproduksi oleh manusia. Dalam tanaman, karatenoid
terdapat dalam kloroplas atau klorofil daun dan batang tanaman berwarna ungu. Fungsinya
sebagai pigmen pembantu dalam fotosintesis selain sebagai pewarna dalam buah dan bunga.
Karatenoid tidak selalu berdampingan dengan kloroplas, akan tetapi klorofil selalu disertai
dengan karatenoid. Karatenoid memiliki karakteristik yang sensitif terhadap alkali dan sangat
sensitif pada udara dan suhu tinggi dari sinar matahari. Selain itu, karatenoid tidak larut dalam
gliserol dan propilenglikol. Karatenoid dapat larut dalam minyak makan pada suhu kamar.
Karatenoid alami (dikenal juga sebagai ekstrak karoten) secara alami memberikan warna pada
berbagai tumbuhan termasuk buah dan sayur.
(Ferlina, 2009)
Karatenoid terkenal sebagai hidrokarbon tak jenuh turunan likopema atau turunan
likopema teroksigenasi, yang dikenal juga sebagai xantofil. Struktur kimia likopema berupa
rantai panjang yang terdiri atas delapan satuan isoprema. Terangkai dari kepala sampai ekor
sehingga terbentuk sistem ikatan yang terkonjugasi lengkap. Rangkaian ini merupakan
kromoformnya yang menghasilkan warna. Pembentukan cincin warna atau likopema pada salah
satu ujung menghasilkan gamma-karotema. Sedangkan cincin yang terbentuk pada kedua
ujungnya membentuk hidrokarbon bisiklik berupa -karotema. Isomer -karotema hanya
berbeda pada letak ikatan rangkapnya dalam satuan yang siklik.

(Sastroamidjoyo, 1996)
Steroid

merupakan

senyawa

turunan

lemak

yang

berasal

dari

terpenoid yang tidak terhidrolisis. Steroid sendiri merupakan kelompok


senyawa yang penting dengan struktur dasar berupa sterana tak jenuh
dengan 17 atom karbon dan 4 cincin. Senyawa yang termasuk turunan
steroid misalnya kolesterol, egosterol, progesteron dan estrogen. Pada
umumnya steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur
dasar yang terdiri dari 17 atom karbon yang membentuk 3 cincin
sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu
dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh
keempat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin.
( Poedjiadi, 2006 )
Triterpenoid adalah senyawa metabolik sekunder yang kerangka
karbonnya berasal dari enam satuan isopren dan diturunkan dari hidrokarbon
C, 30 asiklik, yaitu skualena. Senyawa ini berbentuk siklik atau asiklik dan
sering memiliki gugus alkohol, aldehid atau karboksilat. Sebagian besar
senyawa triterpenoid mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol sehingga
dalam kehidupan sehari-hari banyak dipergunakan sebagai obat seperti
untuk pengobatan penyakit diabetes, gangguan menstrasi patukan ular,
gangguan kulit, malaria dan kerusakan hati. Sedangkan bagi tumbuhan yang
mengandung senyawa triterpenoid terdapat nilai ekologi karena senyawa ini
bekerja sebagai anti fungus, inteksida, anti pemangsa, anti bakteri dan anti
virus.
( Widiyati, 2006 )
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak
ditemukan dialam. Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuhantumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloid
mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa
dan dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin
heterosiklik. Hampir semua alkaloid yang ditemukan dialam mempunyai
keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula sangat
bermanfaat untuk pengobatan. Misalnya kinin, morfin, stiknin adalah alkaloid

yang terkenal dan mempunyai efek fisiologi dan psikologi. Alkaloid dapat
ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan
kulit batang. Alkaloid umumnya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus
dipisahkan dari campuran senyawa rumit yang berasal dari jaringan
tumbuhan
Karbohidrat

biasanya

berasal

dari

makanan

( Anggarita, 2010 ).
dan dalam tubuh

mengalami perubahan atau biasa disebut dengan nama metabolisme. Hasil


metabolisme karbohidrat antara lain glukosa yang terdapat dalam darah,
sedangkan glikogen adalah karbohidrat yang disintesis dalam hati dan
digunakan oleh sel-sel pada jaringan obat sebagai sumber energi. Berbagai
senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang
berbeda-beda

ukurannya,

yaitu

dari

senyawa

yang

sederhana

yang

mempunyai berat molekul 30 hingga senyawa yang mempunyai berat


molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam 3
golongan, yaitu golongan monosakarida, golongan disakarida, golongan
oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida dan beberapa disakarida
mempunyai sifat dapat mereduksi, terutama dalam suasana basa. Sifat
sebagai

reduktor

ini

dapat

digunakan

untuk

keperluan

identifikasi

karbohidrat maupun analisis kuantitatif. Sifat pereduksi ini disebabakan oleh


adanya gugus aldehida atau keton bebas dalam molekul karbohidrat.
( Poedjiadi, 2006)
Karbohidrat atau gula menempati kedudukan inti pada metabolisme tumbuhan sehingga
cara deteksi dan perkiraan kuantitatifnya sangat penting bagi ahli tumbuhan. Gula bukan saja
merupakan senyawa organik rumit pertama yang terbentuk dalam tumbuhan sebagai hasil
fotosintesis dan juga merupakan sumbet utama energi pernapasan. Mereka adalah sarana
penyimpanan energi (sebagai pati) dan penangkut (sebagai sukrosa) , serta pembangun dasar
dinding sel (sellulosa). (Harborne, 1987)

Senyawa fenolik atau polifenol merupakan sekelompok metabolit sekunder


yang mempunyai cincin aromatik terikat satu atau lebih. Substituen gugus hidroksil
(OH) yang berasal dari jalur metabolisme asam sikimat dan fenil propanoid.
Termasuk dalam kelompok senyawa fenolik / polifenol adalah fenol sederhana,

asam fenolat, kumarin, tannin, dan flavonoid. Dalam tanaman, senyawa-senyawa


ini biasanya berada dalam bentuk glikosida atau esternya.
(Rahman, 2007)
Istilah senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari
tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cinoin aromatik yang mengandung
satu atau dua penyulih hidroksil. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air
karena umumnya mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan
biasanya terdapat dalam vakuola sel. Peranan beberapa golongan senyawa fenol
sudah diketahui (misalnya lignin sebagai bahan pembangun dinding sel, antosianin
sebagai pigmen bunga).
Senyawa fenol dan asam fenolat lebih baik dibahas bersama karena
biasanya, pada analisa tumbuhan, mereka diidentifikasi bersama. Hidrolisis
jaringan tumbuhan dalam suasana asam membebaskan sejumlah asam fenolat yang
larut dalam eter, beberapa diantaranya umum penyebarannya. Senyawa asam
fenolat ada hubungannya dengan lignin terikat sebagai ester atau terdapat pada
daun di dalam fraksi yang tidak larut dalam etanol, atau mungkin terdapat di dalam
fraksinasi yang larut dalam etanol, yaitu sebagai glikosida sederhana.
(Harborne, 1987)
Fenil propanoid adalah senyawa fenol alam yang mempunyai cincin-cincin aromatik
dengan rantai samping terdiri atas tiga atom karbon. Secara biosintesis senyawa ini turunan asam
amino protein aromatik, yakni femlalanina dan fenil propanoid, dapat mengandung satu sisi C 6
C3 atau lebih. Yang paling tersebar luas adalah asam hidroksisinamat, suatu senyawa yang
penting, bukan saja sebagai bangunan dasar lignin tetapi juga berikatan dengan pengaturan tubuh
dan pertahanan terhadap penyakit. Yang termasuk fenil propanoid antara lain, hidroksikumarin,
fenil propena, dan lignan. Empat macam asam hidroksisinamat terdapat umum dalam tumbuhan
dan pada kenyataannya hampir terdapat dimana-mana. Keempat asam itu ialah asam fenolat,
sinapat, kafeat, dan p-kumarat.
(Harborne, 1987)
Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan yang berpembuluh tetapi beberapa kelas lebih
tersebar daripada yang lainnya. Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi dan
karena itu menunjukkan pita serapan kuat pada sprektum UV dan sprektum tampak. Flavonoid

pada umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon
falvonoid yang mana pun mungkin saja terdapat dalam satu tumbuhan dalam beberapa bentuk
kombinasi glikosida. Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka
diekstraksi dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan
eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambah
basa amonia, jadi mereka mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan.
(Harborne, 1987)
Tidak ada benda lain yang begitu mencolok dibandingkan flavonoid yang member
konstribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin akan
memberikan warna kuning atau jingga, antosianin akan member warna merah , ungu atau biru
yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi terkecuali warna hijau. Secara biologis, flavonoid
memainkan peranan penting dalam kaitannya dengan penyerbukan pada tanaman oleh serangga.
Sebagian flavonoid memiliki rasa yang pahit sehingga dapat menolak sejenis ulat tertentu.
(Sastroamidjoyo, 1996)
Pada saat mengidentifikasi pigmen dari sumber tumbuhan baru, harus diingat bahwa
hanya sedikit saja antrakuinon yang terdapat secara teratur dalam tumbuhan. Yang paling sering
dijumpai ialah emodin; sekurang-kurangnya terdapat enam suku tumbuhan tinggi dan dalam
sejumlah fungus. Untuk memisahkan campuran antrakuinon dan bentuk tereduksinya, yaitu
antron dan diantron yang terdapat dalam Rhamnus dan Cassia, penyerap yang berguna ialah
silika gel dicampur dengan Kiselgur G (1:6). (Harborne, 1987)
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam.
Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis
tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang bersifat basa dan
dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Alkaloid
dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti, biji, daun, ranting, dan kulit batang.
Alkaloid harus berasal dari campuran senyawa rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.
(Anggarita, 2010)
Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau
lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid sering
kali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol; jadi
digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tanpa warna, sering kali

bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan pada
suhu kamar. (Sastroamidjoyo, 1996)
Antosisnin adalah glikosida antosianidin, yaitu merupakan garam polihidroksiflavilium
(2-arilbenzopirilium). Sebagian besar antosianin alam adalah glikosida (pada kedudukan 3- atau
3,5-) dari sejumlah terbatas antosianidin. Amntosianidin ialah aglikon antosianin yang terbentuk
bila antosianin hidrolisis dengan asam. (Sastroamidjoyo, 1996)
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam
tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air adalah penyebab hampir semua
merah jambu, merah marak, merah, merh cenduduk, ungu, dan biru dalam daun bunga, daun, dan
buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu struktur
aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin dengan
penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosidasi.
(Harborne, 1987)
Glikosida merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam golongan
metabolit sekunder. Didalam tanaman, glikosida tidak lagi diubah menjadi senyawa lain, kecuali
bila memang ada mengalami penguraian akibat pengaruh yang berasal dari luar (misalnya udara
panas dan teroksidasi). Glikosida merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan dua senyawa,
yaitu gula dan bukan gula. Senyawa senyawa ini dihubungkan oleh suatu ikatan berupa jembatan
oksigen (O-glikosida dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida dioscin), jembatan sulfur (Sglikosida dioscin), jembatan belerang (S-glikosida sinigrin) maupun jembatan karbon (Cglikosida barbalein). Bagian gula biasa disebut glikom sedangkan bagian bukan gula disebut
aglikon atau genin. Apabila glikon dan aglikon saling terikat, maka senyawa ini akan disebut
glikosida. Apabila bagian aglikon dari suatu glikosida juga merupakan gula, maka glikosida ini
disebut sebagai hollosida, sedangkan kalau bukan gula disebut juga sebagai heterosida. (Sheeny,
2010)
Saponin adalah glikosida triperpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam lebih dari 90
suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta
dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah.
Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstraksi tumbuhan atau waktu memekatkan
ekstrak tumbuhan merupakan bukti adanya saponin. Bila dalam tumbuhan terdapat banyak
saponin, sukar untuk memekatkan ekstrak alkoholair dengan baik. (Harborne, 1987)

Saponin adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan
mempunyai sifat-sifat khas yang dapat membentuk larutan koloidal didalam air dan membuih
bila dikocok. Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan dapat menyebabkan bersin
dan sering bersifat iritasi karen aterdapat selaput lendir. Saponin juga bisa bersifat
menghancurkan butir-butir dalam darah lewat reaksi hemolisis. Saponin bila terhidrolisis akan
menghasilkan aglikogen yang disebut sapogenin. Ini merupakan suatu senyawa yang mudah
dipelajari dan dikristalkan lewat asetilasi sehingga dapat dipelajari dan dimurnikan lebih lanjut
lagi. (Shenny, 2010).
Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus
dalam jaringan kayu. Menurut batasannya, tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk
kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal
dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena
kemampuannya menyumbang silang protein.
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila
jaringan rusak, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih
sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataannya, sebagian besar tumbuhan yang
banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Secara
kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tanin
terkonderisasi hampir terdapat di dalam paku-pakuan dan gimnospermoe, serta tersebar luas
dalam angiospermoe, terutama pada tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tanin yang terhidrolisiskan
penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua. (Harborne, 1987

DAFTAR PUSTAKA
1. Anggarita, Anggun, 2010, Alkaloid, Diakses melalui website : http//anggun.anggarita.blogspot.com pada
tanggal 2 mei 2010
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan Galenik. Dirjen Jakarta : Pengawasan Obat
dan Makanan, hal 411
3. Harborne, J.B, 1987, Metode Fitokimia, ITB; Bandung
4. Poedjiadi, A, dkk, 1994, Dasar-Dasar Biokimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta,
5. Rahman, Abdul, 2007, Metode Kromatografi Untuk Analisis Makanan, Pustaka Pelajar; Yogyakarta
6. Sastriamidjoyo, Hardjono, 1996, Sintesis Bahan Alam, Gadjah Mada; Yogyakarta

7.

Sheeny, Mico. 2010. Glikosida. Diakses melalui website : http // mirensheeny.

8.

Blogspot. Com.
Widiyati, Emi, 2005. Penentuan Kadar Senyawa Triterpenoid dan Uji Aktivita
Biologis Pada Beberapa Spesies tanaman Obat Tradisional Masyarakat
Perdesaan Bengkulu. Bengkulu : Fakultas mipa, universitas Bengkulu, hal.

9.

116-117.
Wikipedia, 2010, Sawo Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas,
http://id.wikipedia.org/wiki/sawo, diakses pada tanggal 25 Oktober 2010