Anda di halaman 1dari 23

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016

MODUL

: Digester Anaerobik

PEMBIMBING

: Herawati Budiastuti, Ph.D

Praktikum

Pelaporan

Oleh :
Kelompok

Nama

Kelas

: 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
201

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan metode pengolahan untuk air
limbah yang mempunyai kandungan organik tinggi ( 2000 mg/L). Dengan tingginya kandungan
organik biasanya pengolahan secara aerobik tidak dapat berlangsung dengan efisien karena
waktu yang dibutuhkan untuk dekomposisi bahan-bahan organik terlalu lama dan ukuran reaktor
yang dibutuhkan terlalu besar. Pengolahan anaerobik juga ditujukan untuk menghasilkan biogas
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pengolahan anaerobik membutuhkan bakteri
anaerobik yang pertumbuhannya sangat lambatdan penjagaan kondisi kedap oksigen bebas yang
cukup ketat. Dengan demikian tahap persiapan penumbuhan bakteri anaerobik (tahap start-up)
merupakan salah satu kendala dalam implementasi pengolahan air limbah secara anaerobik.
Penjagaan kondisi kedap oksigen bebas membutuhkan penanganan khusus dan biaya yang tidak
murah. Maka dalam aplikasi di industri pengolahan anaerobik biasanya dikombinasikan dengan
pengolahan aerobik.

1.2 Tujuan
a. Menentukan konsentrasi kandungan organik (COD) effluent reaktor 1.
b. Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang mewakili
kandungan mikroorganisme dalam reaktor.
c. Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan bahan
organik dalam reaktor terhadap kandungan bahan organik mula-mula.
d. Menentukan total gas yang terbentuk pada reaktor.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengolahan Air Secara anaerob
Pengolahan air limbah secara biologi anaerob merupakan pengolahan air limbah dengan
mikroorganisme tanpa injeksi udara/oksigen kedalam proses pengolahan. Pengolahan air limbah
secara biologi anaerob bertujuan untuk merombak bahan organic dalam air limbah menjadi
bahan yang lebih sederhana yang tidak berbahaya. Disamping itu pada proses pengolahan secara
biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti gas CH4 dan CO2. Proses ini dapat diaplikasikan
untuk air limbah organic dengan beban bahan organic (COD) yang tinggi
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob terjadi empat (4) tahapan proses yang terlibat
diantaranya :
1. Proses hydrolysis : suatu proses yang memecah molekul organic komplek menjadi molekul
organic yang sederhana
2. Proses Acidogenisis : suatu proses yang merubah molekul organic sederhana menjadi asam
lemak
3. Proses Acetogenisis : suatu proses yang merubah asam lemak menjadi asam asetat dan
terbentuk gas-gas seperti gas H2, CO2, NH4 dan S
4. Proses Methanogenisis : suatu proses yang merubah asam asetat dan gas-gas yang
dihasilkan pada proses acetogenisis menjadi gas methane CH4 dan CO2

Keempat proses tersebut terjadi secara


berurutan, ke empat proses tersebut dapat
digambarkan seperti berikut

Berdasarkan model pertumbuhan mikroorganisme, pengolahan air limbah secara biologi


anaerob dibagi menjadi 2 (dua) model yaitu :
1. Model Pertumbuhan Mikroorganisme Tersuspensi
Model pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi, yaitu suatu model pertumbuhan
mikroorganisme yang tersuspensi (tercampur merata) didalam air limbah. Model pertumbuhan
mikroorganisme tersuspensi pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti gambar
berikut :

Tangki Digester
Pada tangki digester (anaerobic reactor) dilengkapi dengan pengaduk yang bertujuan
untuk mensuspensikan mikroorganisme dalam digester. Pada bagian atas tangki terdapat lubang
(man hole) agar manusia bisa masuk kedalam tangki digester untuk maintenance (pemeliharaan)
dan juga lubang kecil untuk pengukuran tekanan didalam tangki digester. Operasional
pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti terlihat dalam gambar berikut

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan model
pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi seperti berikut
Pembiakan mikroorganisme dalam tangki digester, dan lakukan pengadukan agar
mikroorganisme tersuspensi
Alirkan air limbah kedalam tangki digester, besarnya aliran air limbah diatur sesuai
dengan waktu tiinggal dalam tangki digester
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2 dan NH3, gas-gas ini akan memberikan tekanan pada tangki yang dapat
mengakibatkan pecahnya tangki digester akibat tekanan gas. Dalam rangka mengatasi
tekanan gas-gas tersebut, maka dibutuhkan pengeluaran gas-gas tersebut secara kontinyu
Air limbah yang telah diolah, dialirkan kedalam tangki clarifier yang bertujuan untuk
memisahkan antara air limbah hasil pengolahan dengan mikroorganismenya, air limbah
hasil pengolahan mengalir secara over flow dari bagian atas tangki clarifier sedangkan
mikroorganisme yang mengendap pada tangki clarifier dipompa dan dialirkan kembali
kedalam tangki digester.

Proses pengolahan dengan metode Anaerobic digestion dapat dioperasikan dengan multistage process yaitu dua (2) atau empat (4) tahapan tergantung pada hasil pengolahan yang akan
dicapai dan besarnya bahan organic dalam air limbah.

2.

Model Pertumbuhan Mikroorganisme Melekat

Model pertumbuhan mikroorganisme melekat, yaitu suatu model pertumbuhan


mikroorganisme yang melekat pada suatu media porous. Model pertumbuhan mikroorganisme
melekat pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti gambar berikut :
Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan model
pertumbuhan mikroorganisme melekat seperti berikut :
Pembiakan mikroorganisme dalam media trickling fliter, pembiakan mikroorganisme
dilakukan dengan mengalirkan mikroorganisme kedalam trickiling filter melalui
distributor, mikroorganisme akan mengalir dari bagian atas kebawah dan menempel pada
media porous, setelah mencapai ketebalan tertentu dan merata pada media porous aliran
mikroorganisme dihentikan.
Alirkan air limbah kedalam trickling filter melalui distributor, pastikan aliran air limbah
mengenai media porous secara merata agar terjadi kontak antara air limbah dengan
mikroorganismenya.
Air limbah yang telah berkontak dengan mikroorganisme akan keluar melalui bagian
bawah trickling filter, aliran air akan mengandung mikroorganisme dalam jumlah yang
kecil, mikroorganisme ini dipisahkan dalam tangki clarifier dan dialirkan kembali ke
dalam trickling filter, sedangkan air limbah hasil pengolahan akan mengalir secara over
flow dari bagian atas tangki clarifier.
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2, NH3, gas-gas ini dikeluarkan dari bagian atas tangki trickling filter.
Gas-gas yang dihasilkan pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti CH4
dan CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam operasional pengolahan air limbah secara
biologi anaerob ini adalah :
1) Laju alir air limbah masuk, laju alir air limbah yang masuk perlu dilakukan pengendalian
agar waktu kontak antara air limbah dan mikroorganisme terpenuhi, laju alir air limbah yang

terlalu besar dapat mengakibatkan lepasnya mikroorganisme yang telah melekat pada media
porous
2) Bahan media porous, bahan media yang dipergunakan harus porous agar mikroorganisme
dapat melekat dengan kuat dan tidak mudah lepas akibat aliran air limbah
3) Penyusunan media porous, penyusunan media porous akan mempengaruhi waktu kontak
antara air limbah dan mikroorganisme. Media porous disusun sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan waktu kontak yang agak lama.
Perbedaan mendasar pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan aerob adalah :

Pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob, bahan organic (COD) dikonversi
menghasil 90% menjadi gas CH4, dan CO2 dan 10% nya lumpur. Gas-gas yang dihasilkan dapat
dimurnikan dengan proses absorbsi gas CO2, sehingga dihasilkan gas CH4 murni yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Pada pengolahan air limbah secara biologi aerob, bahan organic (COD) dikonversi menghasil
50% panas (gas CO2) dan 50% nya lumpur. Ini menunjukan pada pengolahan air limbah secara
biologi anaerob akan menghasilkan lumpur jauh lebih kecil dibanding pengolahan secara biologi
aerob Waktu pengolahan air limbah secara biologi anaerob lebih lama dibandingkan dengan
pengolahan air limbah secara biologi aerob.

2.1.1

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Anaerobik


Lingkungan besar pengaruhnya pada laju pertumbuhan mikroorganisme baik pada
proses aerobik maupun anaerobik yaitu :

a. Temperatur
Pada proses anaerob, diperlukan temperatur yang lebih tinggi untuk mencapai laju
reaksi yang diperlukan. Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada
temperatur optimum. Semakin tinggi temperatur reaksi juga akan semakin cepat
tetapi bakteri akan semakin berkurang.
Proses pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur 30-40C, tapi dapat
juga terjadi pada temperatur rendah, 4C. Laju produksi gas akan naik 100-400%
untuk setiap kenaikan temperatur 12C pada rentang temperatur 4-65C.
b. pH (Keasaman) dan Alkalinitas
Proses anaerob yang memanfaatkan bakteri methanogen lebih sensitif pada pH dan
bekerja optimum pada kisaran pH 6,5 7,5. Sekurang-kurangnya, pH harus dijaga
pada nilai 6,2 dan jika konsentrasi sulfat cukup tinggi maka kisaran pH sebaiknya
berada pada pH 7 8 untuk menghindari keracunan H2S. Alkalinitas bikarbonat
sebaiknya tersedia pada kisaran 2500 hingga 5000 mg/L untuk mengatasi
peningkatan asam-asam volatil dengan menjaga penurunan pH sekecil mungkin.
Biasanya dilakukan penambahan bikarbonat ke dalam reaktor untuk mengontrol pH
dan alkalinitas.
c. Konsentrasi Substrat
Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan
perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-unsur di
atas harus ada pada sumber makanannya (substrat). Konsentrasi substrat dapat
mempengaruhi proses kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika
jumlah mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi substrat.
Kandungan air dalam substart dan homogenitas sistem juga mempengaruhi proses
kerja mikroorganisme. Karena kandungan air yang tinggi akan memudahkan proses
penguraian, sedangkan homogenitas sistem membuat kontak antar mikroorganisme
dengan substrat menjadi lebih intim.

Dalam pengolahan air limbah secara anaerobik mempunyai kelebihan dan


kekurangan bila dibandingkan dengan proses pengolahan lainnya. Kelebihan
pengolahan anaerob adalah efisiensi yang tinggi, mudah dalam konstruksi dan
pengoperasiannya, membutuhkan lahan/ruang yang tidak luas, membutuhkan energi
yang sidikit, menghasilkan lumpur yang sedikit, membutuhkan nutrien dan kimia
yang sedikit. Sedangkan kekurangan dari pada pengolahan anaerob: penyisihan
kandungan nutrient dan patogen yang rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk
start-up, menimbulkan bau (Metcalf and Eddy, 2003).
2.2 MLVSS
Mixed-liqour volatile suspended solids (MLVSS). Porsi material organik pada MLSS
diwakili oleh MLVSS, yang berisi material organik bukan mikroba, mikroba hidup dan mati, dan
hancuran sel (Nelson dan Lawrence, 1980). MLVSS diukur dengan memanaskan terus sampel
filter yang telah kering pada 600 - 6500C, dan nilainya mendekati 65-75% dari MLSS.
2.3 COD
Chemical oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel air
atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO 2 dan
H2O. Pada reaksi ini hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi CO 2 dan H2O
dalam suasana asam, sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak semua zat organik dapat
diuraikan oleh bakteri. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat- zat organik
yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut didalam air .
Mencari nilai COD :
COD

BEOksigen pengenceran
( mgL )= ( ab) ml N FAS 1000
mLsampel

BAB III
METODELOGI
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 1 Alat yang digunakan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Nama
Buret
Cawan Porselin
Corong Poreselim
Desikator
Furnace
Hack COD
Digester
Labu Erlenmeyer
Labu Takar
Neraca Analitik
Oven
Penjepit cawan
Pompa
Statif dan Klem
Tabung Hack

Spesifikasi
25 mL
30 mL

Jumlah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 set

250 mL
25 mL

2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 set
1 set
3 buah

Spesifikasi
Pekat

Jumlah

Whatman
0,1405 N

2 buah

Tabel 2 Bahan yang digunakan


No
1
2
3
4
5

3.1.1

Nama
Asam Sulfat
Kalium Bikromat
Kertas Saring
Larutan FAS
Sampel Air Limbah

Gambar Alat alat yang digunakan

Peralatan Anaerobik
Digester diengkapi
jaket

Peralatan Anaerobik
Digester

Hach COD
Digester

Neraca
Analitik

Dosimat untuk
titrasi

Oven

Tabung
Hach

Desikato
r

Furnac
e

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1

Penentuan Kandungan Organik (COD) dari sampel

Masukkan 1 mL sampel
ke dalam labu takar 25
mL, tambahkan aquades
hingga tanda batas.
Homogenkan larutan.

Masukkan 2,5 mL sampel


yang telah diencerkan ke
dalam tabung Hach

Tambahkan 1,5 mL
pereaksi kalium bikromat
dan 3,5 mL pereaksi
sulfat ke dalam tabung
Hach

Masukkan tabung Hach


pada Hach COD Digester
dan panaskan pada suhu
150 selama dua jam

Keluarkan tabung Hach,


dinginkan, tambahkan 2-3
tetes indikator ferroin

Titrasi dengan larutan


FAS hingga larutan
berubah warna dari hijau
menjadi coklat

3.2.2
Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Susupended Solids
(MLVSS)

Panaskan cawan pijar dalam


furnace selama satu jam
dengan suhu 600 Panaskan
kertas saring dalam oven
selama satu jam dengan suhu
105

Timbang berat cawan pijar (a)


dan kertas saring (b) hingga
konstan.

Saring 40 mL air limbah


dengan kertas saring yang
sudah diketahui beratnya

Masukan kertas saring


tersebut ke dalam cawan
pijar, lalu panaskan dalam
oven selama satu jam dengan
suhu 105 oC

Timbang berat cawan pijar


yang berisi kertas saring dan
endapan hingga konstan (c)

Panaskan cawan pijar yang berisi


kertas saring dan endapan tersebut
dalam Furnace selama 2 jam dengan
suhu 600 oC, lalu timbang beratnya
hingga konstan (d)

BAB IV
Hasil dan Data pengamatan
4.1 Data Pengamatan

Titrasi
[(NH4)2Fe(SO4)2] = 0,1405 N
Pengenceran = 10 kali
1) Data Perhitungan COD

Reaktor 1
Reaktor 2

Blanko
(a)
0,75
0,45

Sampel 1
(b1)
0,75
0,5

Sampel 2
(b2)
0,55
0,3

Rata rata
0.6
0.4

2) Data Perhitungan MLVSS

Reaktor 1
Reaktor 2

a
33,6980
31,4062

B
1,1969
1,2075

c
35,1118
32,8424

d
33,7012
31,4077

Keterangan:
a = Berat Cawan Pijar Konstan (gram)
b = Berat Kertas Saring Konstan (gram)
c = Berat Cawan Pijar + Kertas Saring Setelah di Oven (gram)
d = Berat Cawan Pijar + Kertas Saring Setelah di Furnace (gram)
3) Data penghitungan volume gas

Reakto
r
1
2

Tinggi tabung kosong (cm)


1.75
20.4

4.2 Hasil
Reaktor

COD akhir (mg/l)

MLVSS (mg/l)

COD awal
(mg/l)
100

674.4

5340

1700

224.8

5680

Efisiensi

Volume gas
0.514 L

86.77%

6.002 L

BAB V
PEMBAHASAN

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2013.

Pengolahan

Air

Limbah

Secara

Anaerobik

(online).

Tersedia

http://wiedeva.wordpress.com/seputar-tl/ diakses tanggal 22 Oktober 2013.


Budiastuti, Herawati. 2010. Jobsheet Pengolahan Limbah Industri Modul Pengolahan Air
Limbah secara Anaerobik. Politeknik Negeri Bandung.
JEMAI.1999.Pengetahuan Dasar pada Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Air. 2 nd ed.,
pp 188-206. JETRO.
Kim,M.,Ahn,Y.IL. Speece,R.E,.2002.Comparative Process Stability and Efficiency of
Anaerobic Gigestion.Water Research vol. 36. pp 4369-4385.
Metcalf & Eddy.1991.Waste Engineering. Treatment. Disposal and Reuse.3 rd ed.,pp 378-429,
Mc Graw Hill Book Co.Singapore.
Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah secara Biologi Anaerob (online) . Tersedia :
http://ketutsumada.blogspot.com/2012/04/pengolahan-air-limbah-secara-biologi_10.html
diakses tanggal 20 Oktober 2013.

LAMPIRAN

Penentuan kadar organik (Chemical Oxygen Demand/COD)


mg
CODawal
=
L

( )
mg
COD (
reaktor 1
L )

( ab ) ml N FAS 1000 BE Oksigen pengenceran


mL sampel

COD ratarata
CODratarata

COD

( mgL ) reaktor 2

( ab ) ml N FAS 1000 BE Oksigen pengenceran


mL sampel

CODratarata
CODratarata

N 1000 8 10
( mgL )= ( 0,750,6 ) ml 0,1405
2,5
( mgL )= 674.4 mg/l

N 1000 8 10
( mgL )= ( 0,450,4 ) ml 0,1405
2,5
( mgL )= 224.8 mg/l

Penentuan kadar Mixed Liquor Volatile Susupended Solid (MLVSS)


MLVSS Reaktor 1
( cab )
mg
6
TSS L = mL sampel 10

( )

TSS

) gram
10
( mgL )= ( 35.111833.6981.1969
40 mL

TSS

( mgL )=

5420 mg/l

(cdb)
mg
=
106
L
mL sampel

( )
mg (35.111833.70121.1969)gram
VSS (
=
10
L )
40 mL
mg
VSS (
= 5340 mg/l
L )
mg
FSS (
=TSSVSS
L )
mg
FSS (
= 5420-5340
L )
mg
FSS (
= 80 mg/l
L )
VSS

MLVSS Reaktor 2
( cab )
mg
TSS
=
106
L
mL sampel

( )

TSS

) gram
10
( mgL )= ( 32.842431,40621,2075
40 mL

TSS

( mgL )=

5720 mg/l

(cdb)
10
( mgL )= mL
sampel
mg (32,842431,40771,2075)gram
VSS (
=
10
L )
40 mL
mg
VSS (
= 5680 mg/l
L )
mg
FSS (
=TSSVSS
L )

VSS

( mgL )= 5720 5680


mg
FSS (
=40 mg/l
L )
FSS

Penentuan Efisiensi Reaktor


CODawal CODakhir
Efisiensi=
100
COD awal
Efisiensi=

1700224.8
100
1700
=86.77 %

Volume gas terbentuk


Reactor 1

13,69 cm

1
3,14 () 1.75 cm
2
Volume gas=
Volume gas=514.92 c m3
Volume gas=0.514 L

Reactor 2
13,69 cm2
1
3,14 () 20.4 cm
2
Volume gas=
Volume gas=6002c m3
Volume gas=6.002 L