Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing

Oleh :

Putri Irianti Sintaman

120112150505

Renisa Handayani

120112150506

Moh Syafrizal Arifuddin A.

120112150513

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pelaporan Korporat
Dr. M. Nanny Dewi Tanzil
Evita Puspitasari, SE, Msi, Ak
Arie Pratamam SE, M.Ak

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demi memaksimalkan profit, sebuah entitas melakukan ekspansi. Ekspansi tersebut
dilakukan dengan cara membuka kantor-kantor cabang atau anak-anak perusahaan yang
disebar di wilayah lain. Selain membuka kantor-kantor cabang atau anak-anak perusahaan
di negara sendiri, entitas yang memiliki asset yang mumpuni membuka kantor-kantor
cabang atau anak-anak perusahaan di negara lain. Transaksi-transaksi di negara lain
tersebut bisa jadi menggunakan mata uang yang sama dengan perusahaan induk namun
tidak menutup kemungkinan juga menggunakan mata uang yang menyesuaikan mata
uang lokal di mana kantor cabang atau anak perusahaan tersebut beroperasi.
Dikarenakan adanya perbedaan mata uang yang digunakan pada saat bertransaksi,
muncul pertanyaan terkait mata uang mana yang digunakan? Bagaimana transaksi dan
aktivitas dalam mata uang asing pada suatu entitas? Lebih lanjut lagi, muncul pertanyaan
turunan yaitu bagaimana pelaporan keuangan yang harus dijabarkan oleh entitas apabila
mata uang yang digunakan merupakan mata uang yang berbeda dengan mata uang induk.
Dalam makalah ini kami ingin mencoba untuk mengajak pembaca untuk memahami
bagaimana pengaruh perubahan kurs valuta asing yang terjadi di entitas yang memiliki
kantor cabang atau anak perusahaan di negara lain.
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1. Mata uang mana yang digunakan oleh entitas terhadap perbedaan mata uang asing?
2. Bagaimana transaksi mata uang asing pada suatu entitas?

3. Bagaimana penjabaran laporan keuangan terkait transaksi menggunakan mata uang


asing?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui tentang mata uang yang digunakan saat terdapat perbadaan mata
uang
2. Untuk mengetahui transaksi mata uang asing pada suatu entitas
3. Untuk menjabarkan laporan keuangan terkait transaksi menggunakan mata uang asing

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
2.1.1 Mata Uang Fungsional
Mata uang fungsional adalah mata uang yang digunakan dalam transaksi
pengukuran. Mata uang fungsional juga sering disebut dengan mata uang pengukuran.
Transaksi pengukuran yang dimaksud adalah proses mencatat ayat jurnal dan akun-akun
buku besar.
Di dalam PSAK 10, entitas disyaratkan untuk mengukur transaksinya menggunakan
mata uang fungsionalnya dan membolehkan entitas untuk menyajikan laporan keuangan
menggunakan mata uang apa saja walaupun ditegaskan juga bahwa mata uang yang
digunakan untuk pelaporan di negara Indonesia adalah rupiah (hal ini diatur di PSAK 10
paragraf 38). Dalam menentukan mata uang fungsional PSAK 10 mensyaratkan entitas untuk
mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
1. Mata uang Utama yang mempengaruhi harga jual barang dan jasa
2. Mata uang Utama yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
Jika tumpang tindih, PSAK 10 menyatakan lebih lanjut untuk mempertimbangkan
hal-hal berikut:
1. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
2. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi

Dalam menentukan mata uang fungsional entitas anak atau entitas asosiasi di luar
negeri (dan operasi di luar negeri lainnya) dan menentukan apakah mata uang fungsionalnya
sama dengan mata uang fungsional entitas induk mempertimbangkan faktor-faktor tambahan
sebagai berikut (paragraph 11):
1. Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai perpanjangan entitas induk
2. Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi atau rendah
dengan aktivitas operasi di luar negeri
3. Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh secara langsung
terhadap arus kas entitas induk.
Apabila masih timpang tindih, manajemen menggunakan penilaiannya untuk
menentukan mata uang fungsional yang paling mencerminkan pengaruh ekonomi dari
transaksi, peristiwa dan kondisi (paragraph 12). Manajemen memberikan judgement
prioritas mata uang mana yang akan dipilih.
Di dalam PSAK 10 paragraf 13 lebih lanjut dijelaskan bahwa mata uang fungsional
boleh berubah asal alasannya karena aktivitas bisnis tersebut lebih sesuai untuk mata uang
tersebut.

2.1.2 Mata Uang Penyajian


Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan
keuangan. Jika mata uang penyajian berbeda dengan mata uang fungsional, maka entitas
harus melakukan translasi sesuai dengan mata uang penyajian.

2.2 Akuntansi untuk Transaksi dalam Mata Uang Asing


a. Pada saat pengakuan awal
Transaksi dalam mata uang asing harus dicatat sesuai dengan nilai tukar spot pada
tanggal transaksi. Diperbolehkan penggunaan kurs yang mendekati nilai tukar spot pada
tanggal transaksi.
b. Pada tanggal pelaporan

Pos-pos moneter dalam mata uang asing harus disajikan ulang menggunakan kurs
penutup

Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada biaya historis harus dilapokan menggunakan
kurs tanggal transaksi

Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada nilai wajar harus disajikan ulang menggunakan
kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan

Jurnal:
a. Pembelian barang menggunakan mata uang asing
Pembelian

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha

Rp xxx.xxx.xxx

b. Jurnal rugi kurs utang usaha


Rugi Kurs

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha

Rp xxx.xxx.xxx

Pos moneter adalah unit dari mata uang yang dipegang atau aset/liabilitas yang akan
diterima atau dibayarkan dala jumla mata uang yang tetap dan dapat dipastikan. Pos non
moneter adalah sebaliknya, tidak memiliki jumlah tetap dan tidak dapat dipastikan (contoh:
biaya/pendapatan diterima di muka, sekuritas ekuitas seperti saham, property investment dan
plant investment).
Dalam menangani selisih kurs, terdapat dua prespektif yang dapat dilakukan:
1. Perspektif satu transaksi.
Transaksi dagang dan pelunasan sebagai transaksi tunggal dan selisih kurs akan
disesuaikan dengan transaksi dagang
2. Perspektif dua transaksi
Transaksi dagang dan pelunasan sebagai dua transaksi berbeda dan selisih kurs akan
dicatat secara terpisah sebagai laba atau rugi selisih kurs.
PSAK 10 paragraf 28 mensyaratkan penggunaan perspektif dua transaksi.
Jurnal Perspektif Satu Transaksi:
a. Pada saat pembelian
Persediaan

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha Rp xxx.xxx.xxx


b. Pada saat pelunasan utang
Pembelian

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha Rp xxx.xxx.xxx


Kas

Rp xxx.xxx.xxx

Jurnal Perspektif Dua Transaksi:


a. Pada saat pembelian
Persediaan

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha Rp xxx.xxx.xxx

b. Pada saat mencatat selisih kurs


Rugi Kurs

Rp xxx.xxx.xxx

Utang Usaha Rp xxx.xxx.xxx

c. Pada saat pelunasan utang


Utang Usaha Rp xxx.xxx.xxx
Kas

Rp xxx.xxx.xxx

2.3 Translasi pada Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing


Translasi adalah proses mengubah mata uang fungsional entitas anak atau operasi di
luar negeri menjadi mata uang fungsional entitas induk.
Translasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Aset dan liabilitas ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal pelaporan

2. Transaksi ekuitas ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal transaksi


3. Pendapatan dan beban ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal transaksi, namun
dapat juga menggunakan kurs rata-rata (kurs terlalu fluktuatif)
4. Perbedaan yang timbul dari translasi diakui sebagai penghasilan komprehensif lain
5. Laporan arus kas ditranslasi menggunakan kurs pada tanggal transaksi, namun dapat
juga menggunakan kurs rata-rata
6. Sebagai catatan, penggunaan kurs rata-rata untuk pendapatan dan beban
diperbolehkan apabila fluktuasi kurs selama periode pelaporan keuangan cenderung
stabil.
Jika mata uang induk dan anak sama, maka dapat dilakukan translasi secara langsung.
Jika mata uang induk dan anak berbeda, maka harus dilakukan proses remeasurement
kemudian baru dilakukan proses translasi. Proses remeasurement adalah mengubah laporan
keuangan entitas anak/operasi di luar negeri menjadi mata uang fungsional.
PSAK 10 memperbolehkan suatu entitas untuk menggunakan mata uang penyajian
yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya. Jika mata uang penyajian entitas anak dan
entitas asosiasi sama dengan entitas induk, maka entitas induk hanya tinggal mengkonsolidasi
laporan keuangannya menurut PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasi dan PSAK 15:
Investasi dalam Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama. Namun jika mata uang pelaporan
entitas anak dan entitas asosiasi tidak sama dengan entitas induk, maka entitas induk harus:
1. Menjabarkan laporan keuangan entitas anak dan entitas asosiasi asingnya berdasarkan
PSAK 10
2. Mengkonsolidasi laporan keuangan berdasarkan PSAK 65 dan PSAK 15.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa sebagai berikut :
1. Dalam menentukan mata uang fungsional perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:
a. Mata uang Utama yang mempengaruhi harga jual barang dan jasa
b. Mata uang Utama yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
c. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
d. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi
e. Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai perpanjangan entitas induk
f. Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi atau rendah
dengan aktivitas operasi di luar negeri
g. Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh secara langsung
terhadap arus kas entitas induk.
h. Apabila masih timpang tindih, manajemen menggunakan penilaiannya untuk
menentukan mata uang fungsional yang paling mencerminkan pengaruh ekonomi dari
transaksi, peristiwa dan kondisi (paragraph 12). Manajemen memberikan judgement
prioritas mata uang mana yang akan dipilih.
2. Dalam akuntansi untuk transaksi mata uang asing, pada saat pengakuan awal transaksi
dalam mata uang asing harus dicatat sesuai dengan nilai tukar spot pada tanggal
transaksi. Sedangkan pada saat tanggal pelaporan Pos-pos moneter dalam mata uang
asing harus disajikan ulang menggunakan kurs penutup, Pos-pos nonmoneter yang
dicatat pada biaya historis harus dilapokan menggunakan kurs tanggal transaksi, Pospos nonmoneter yang dicatat pada nilai wajar harus disajikan ulang menggunakan

kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. Dalam penanganan selisih kurs,
entitas menggunakan perspektif dua transaksi.
3. Dalam pelaporan laporan keuangan, entitas wajib melakukan translasi antara
perusahaan induk dan anak perusahaan/operasi luar negeri. Apabila diperlukan,
diwajibkan untuk melakukan remeasurement terlebih dahulu sebelum melakukan
translasi.

Anda mungkin juga menyukai