Anda di halaman 1dari 18

Laporan Akhir

PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

BAB 4.

ANALISIS KAWASAN
4.1

ANALSIS SOSIAL KEPENDUDUKAN

Jumlah penduduk eksisting di kawasan perencanaan meliputi sebagian penduduk di


Desa Bulili. Total jumlah penduduk di Kawasan Pantai Bulili yaitu

jiwa. Arahan

perkembangan

penambahan

wilayah

perencanaan

tidak

melakukan

proyeksi

penduduk sesuai rentang tahun perencanaan. Jumlah penduduk eksisting tersebut


yang akan menjadi dasar rencana pembangunan kawasan khusunya permukiman
untuk penempatan penduduk eksistingpada lokasi permukiman.Masyarakat diwilayah
perencanaan mayoritas beragama islam dan untuk mata pencaharian penduduk
umumnya sebagai nelayan, pedagang dan petani.
4.2

ANALISA EKONOMI PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR


DESA BULILI SEBAGAI KAWASAN WISATA BULILI

4.2.1

Pengembangan Wisata di Kawasan Permukiman Pesisir Desa Bulili

Perkembangan sektor pariwisata saat ini cukup dinamis dan menjadi obyek yang
mampu mengangkat perekonomian secara sektoral. Seiring pertumbuhan pariwisata
dengan

berbagai

menempatkan

inovasinya,

dirinya

sebagai

pada

tahapan

katalisator

berikutnya,

pelaksanaan

pariwisata

mampu

pembangunan

kepariwisataan itu sendiri yang mampu menggerakkan berbagai

dan

aktivitas ekonomi

dalam kehidupan bermasyarakat. Peranan sebuah obyek wisata sebagai bagian


aktivitas ekonomi harus berkemampuan menciptakan peluang aktivitas ekonomi baru
tidak sekedar menjadi media rekreasi tapi juga menjadi media produksi, distribusi, dan
konsumsi. Hal sama juga harus terjadi pada rencana pengembangan kawasan wisata
Bulili, keberadaannya harus mampu tidak sekedar menjadi media rekreasi baik remaja
ataupun keluarga, namun keberadaannya harus berkemampuan menciptakan peluang
produksi, distribusi, dan konsumsi. Tiga konsep dasar ekonomi modern yang tidak
dapat ditinggalkan, disamping tentu saja adalah produktivitas itu sendiri.

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Keberadaan kawasan pesisir Desa Buliliyang merupakan integrasi dari berbagai


pengembangan bentuk kawasan mulai pariwisata, bisnis, dan ekonomi akan menjadi
wisata andalan di Kabupaten Pohuwato, jika memiliki lima hal:
a. transportasi
b. akomodasi
c. kuliner
d. atraksi wisata
e. perbelanjaan
Faktor lain yang perlu untuk dipertimbangkan adalah obyek wisata itu sendiri, sarana
dan prasarana, promosi, dan layanan terhadap wisatawan. Faktor-faktor tersebut
merupakan faktor pendukung berhasilnya kawasan wisata Bulili. Selanjutnya, guna
pengembangan kawasan wisata Bulili perlu diperhatikan beberapa aspek seperti:
a. Adanya sumber daya yang mampu mewujudkan rasa senang, tenang, nyaman
dan aman
b. Adanya akseisbilitas yang tinggi untuk dapat sampai tempat yang dituju
c. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang tidak dimiliki wilayah yang lain
d. Adanya daya tarik yang tinggi (keindahan alam)
e. Lay out pengembangan wisata
f. Keterjangkauan atas kekuatan ekonomi masyarakat

Pada tahapan selanjutnya, pengembangan kawasan pesisir Desa Bulili disamping


untuk menjaga

eskistensi

dari

obyek

itu sendiri

juga

untuk

memunculkan

Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL), yang merupakan suatu konsep pembangunan


ekonomi yang mendasarkan pada pendayagunaan sumber daya lokal yang ada pada
suatu masyarakat dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya
alam. Pengembangan ekonomi lokal dipahami sebagai proses bersama oleh
pemerintah, usahawan, organisasi non pemerintah untuk menciptakan kondisi yang
lebih baik guna mewujudkan terciptanya pertumbuhan ekonomi dan penciptaan
lapangan kerja. PEL atas kawasan pesisir Desa Bulili

diharapkan mampu

mengembangkan Kabupaten Pohuwato sebagai andalan kawasan wisata. Seiring


dengan dinamika pembangunan yang ada, peningkatan kesejahteraan masyarakat

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

telah menumbuhkan aspirasi dan tuntutan baru dari masyarakat untuk mewujudkan
kualitas

kehidupan

yang

lebih

baik.

Yang

perlu

mendapat

prioritas

dalam

pengembangannya, ada 4 aspek yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kawasan


pesisir Desa Bulili ini agar dapat memiliki keberlangsungan dan keberlanjutan yang
mampu memiliki eksternalitas positif bagi masyarakat banyak:
a. Daya tarik (attraction)
b. Aksesbilias (accesability)
c. Fisilitas (amenities)
d. Kelembagaan (aneillary)

4.2.2

Analisa SWOT Dalam Pengembangan Kawasan

Dalam berbagai kajian, sering dipahami bahwa analisis SWOT lebih sebagai sebuah
upaya identifikasi atas berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi
sebuah aktivitas ekonomi. Analisis SWOT dapat dilakukan dengan membandingkan,
antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor
internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness). Analisis ini didasarkan pada
logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths)dan peluang (opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan
ancaman (threats). Dalam berbagai analisis, SWOT dilakukan dengan melakukan
pemetaan pada empat kuadran.
Kuadran 1: dipahami sebagai sebuah situasi yang sangat menguntungkan. Pada
kuadran ini sebuah unit kegiatan ekonomi memiliki peluang dan kekuatan, tentu saja
pada gilirannya yang diharapkan adalah dapat dimanfaatkannya peluang yang ada.
Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi seperti ini adalah dengan mendukung
kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy).
Kuadran 2: Meski menghadapi berbagai ancaman, unit kegiatan ekonomi masih
memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah
menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara
mengaplikasikan strategi diversifikasi (produk/pasar).
Kuadran 3: unit kegiatan ekonomi menghadapi peluang pasar yang sangat besar,
tetapi di lain pihak perusahaan menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal.

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Fokus strategi pada unit kegiatan ekonomi semacam ini adalah meminimalkan
masalah-masalah internal, sehingga dapat merebut peluang pasaryang lebih baik.
Kuadran 4: adalah sebuah situasi yang sangat tidak menguntungkan, unit kegiatan
ekonomi menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
Dengan mengaplikasikan

analisis SWOT,

kajian atas pengembangan Kawasan

Wisata Bulili, diharapkan dapat diketahui; kekuatan, kelemahan, peluang dan


ancamannya, sehingga dapat diketahui faktor yang mendukung dan menghambat
pengembangan

dengan

berbagai

spreat

effect-nya.

Analisis

SWOT

mempertimbangkan dan membandingkan hubungan antara faktor internal (kekuatan


dan kelemahan) serta faktor eksternal (peluang dan ancaman), sehingga hasil
analisisnya dapat diambil suatu keputusan strategis bagi pengembangan Kawasan
Wisata Bulili. Kotler (1996) mengungkapkan strategi alternatif adalah suatu strategi
yang dapat merumuskan program-program yang merupakan operasionalisasi dari
setiap strategi umum (grand strategy).
Dalam pengembangan Kawasan Wisata Bulili, perumusan strategi-nya dapat
diintegrasikan dalam kerangka kerja pengambilan keputusan 3 tahap. Berikut adalah
kerangka kerja alternatif dalam perumusan strategi yang dapat diberdayakan untuk
pengembangan Kawasan Wisata Bulili.
Diagram 1
Kerangka Kerja dalam Perumusan Strategi

Tahap 1
Input Stage
External Factor Evaluastion
(EFE)

Competitive Profile Matrix


(CPM)

Internal Factor Evaluation


(IFE)

Tahap 2
Matching Stage
Matriks SWOT

Strength
Weakness
Opportunities
Threats

Matriks SPACE
Strategic

Matriks BCG

Boston
Position
Consulting
Action
Group
Evaluation
Tahap 3

Matriks IE
Internal
Eksternal

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Decision Stage
Quantitative Strategic Planning Matrix
(QSPM)

Atas dasar kerangka kerja alternatif seperti ini, maka yang pertama akan mampu
memberikan informasi dasar dalam matriks di tahap pencocokan dan tahap keputusan
dalam merumuskan strategi. Selanjutnya, yang atas dasar ini semua, instrumen ini
bersandar pada informasi yang diturunkan dari tahap input untuk mencocokan peluang
dan ancaman eksternal dan dengan kekuatan dan kelemahan internal. Dan pada
tahapan terkahir, instrumen QSPM memungkinkan penyusunan strategi untuk
mengevaluasi alternatif strategi secara obyektif berdasar faktor keberhasilan kunci
internal dan eksternal yang telah diidentifikasi sebelumnya. Mengacu pada konsep
dasar kerangka analisis dalam perumusan strategis ini, maka kerangka kajiannya
dapat dirumuskan sebagai berikut.
Diagram 2 Kerangka Kerja dalam Perumusan Strategi Pengembangan Kawasan
Desa Bulili

Faktor Eksternal

KERANGKA KAJIAN

Faktor Internal

Peluang

Kekuatan

Sektor
Pariwisata
Semakin Berkembang

View, Keindahan laut,


pantai yang indah
Lay-out
sesuai
rancangan
desain,
menarik & unik
Aksesbililitas
ke
kawasan wisata dan
permukiman
Nyaman, aman, service,
kelengkapan
infrastruktur
Kawasan
wisata
merupakan
kawasan
andalan
Kabupaten
Pohuwato

Penyerapan
Kerja

Tenaga

Pelestarian Budaya
Technological
Progress
Opini Positif Pariwisata

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Ancaman

Kelemahan

Persaingan
antar
obyek pariwisata

Belum adanya souvenir


khas
Promosi
belum
maksimal

Bencana alam
Tingkat
penerimaan
masyarakat
Keterbatasan daya beli
masyarakat\
Potensi
pasar
setempat,
masih
mengharapkan
pendatang dari luar

Matriks IEdan Strategi


SO, WO, ST, WT

Kualitas
SDM
masyarakat
setempat
belum terlatih

Metode Analisis:
SWOT,
Matriks IFE, Matriks EFE

Strategi PengembanganKawasan Wisata Bulili

4.3
4.3.1

ANALISIS KONDISI FISIK TAPAK KAWASAN


Analisis Kontur/Topografi

Analisa kontur diperlukan dalam mengidentifikasi kemiringan lahan yang layak untuk
dijadikan sebagai kawasan terbangun dan non terbangun. Kelayakan dalam hal ini
adalah kemudahan dalam pengolahan dan kestabilan kontur lahannya, karena
pengolahan kontur yang mempunyai slope/kemiringan yang curam tentunya akan
membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama.
Kondisi kontur kawasan perencanaan menunjukkan kontur datar dan sedikit berbukit.
Kontur datar berada pada kawasan pantai yaitu sebelah Utara kawasan perencanaan
dengan kemiringan slope 0-20%. Sedangkan kontur berbukit dengan kemiringan slope

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

sampai dengan 40% berada di sebelah Utara kawasan perencanaan. Ditinjau dari
kondisi kemiringan konturnya, seluruh bagian tapak sebenarnya masih layak
digunakan untuk dibangun, namun demikian sebaiknya perencanaan tapak dilakukan
dengan menyesuaikan terhadap kondisi kontur agar tidak banyak melakukan grading
(urugan).Berdasarkan analisis kondisi kontur, semua bagian tapak layak untuk
dikembangkan karena kemiringan slopenya sekitar 0-20%. Namun demikian,
diupayakan agar penentuan batas fungsi-fungsi kegiatan tetap menyesuaikan dengan
karakteristik kontur untuk mendapatkan pola tapak yang mencirikan karakteristik kontur
di wilayah perencanaan. Untuk kondisi kontur yang sedikit berbukit, dapat
dikembangkan untuk kawasan ruang terbuka hijau. Analisis kondisi kontur dapat dilihat
pada Gambar berikut.
4.3.2

Analisis Aliran Air/Hidrologi (pola Aliran Air Permukaan)

Pada tapak yang berkontur, arah aliran air secara alamiah sangat dipengaruhi oleh
bentuk dan kemiringan kontur (slope). Air akan mengalir melalui permukaan tanah
menuju ke tempat yang lebih rendah dan akhirnya akan menggenang di tempat yang
paling rendah.
Berdasarkan sifat aliran

air permukaan ini, maka perencanaan pola saluran

pembuangan air akan disesuaikan dengan bentuk kontur dan kemiringannya.


Gambaran umum aliran alir secara alamiah di wilayah perencanaan adalah sebagai
berikut :

Air mengalir dari sisi Utara menuju ke Selatan (laut)

Namun, titik terendah ada di koridor jalan arteri hal ini tampak dari genangan air
di halaman kaveling permukiman di sepanjang koridor jalan. Untuk itu perlu
adanya pengurangan sudetan akan memanfaatkan lahan menjadi lingkungan
binaan

Selanjutnya setelah mengalir menuju Selatan, dari arah jalan mengalir menuju
ke arah timur, sehingga terjadi genangan pada daerah cekung.

4.3.3

Analisis Vegetasi

Analisa vegetasi merupakan analisa pemilihan dan penempatan vegetasi sesuai


dengan karakteristik kawasan seperti ada tidaknya tanaman endemik (tanaman khas)

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

di kawasan, kemampuan tanaman untuk dapat ditebang atau tidak, ada tidaknya nilai
estetika dan anatomi tanaman serta jenis tanaman yang potensi untuk dikembangkan.
Wilayah perencanaan adalah tanah tegalan yang ditumbuhi beberapa jenis pohon
yang tersebar di kawasan perencanaan. Sebagian besar pohon yang terdapat di
wilayah perencanaan mempunyai diameter batang lebih kecil dari 10 cm. Berdasarkan
teori (Rubenstein; 1993) vegetasi tanaman keras yang diameternya kurang dari 10 cm
masih bisa dipertimbangkan untuk ditebang dan diganti dengan vegetasi baru.
Perencanaan sebisa mungkin memperhatikan titik tumbuh sebaran vegetasi saat
menempatkan bangunan dan agar meminimalkan dampak pembangunan.
Dalam konteks wilayah perencanaan, vegetasi yang terkena rencana jalan atau
bangunan akan ditebang, tetapi vegetasi yang tidak terkena rencana tetap
dipertahankan, dan digunakan sebagai referensi untuk memilih jenis vegetasi yang
akan dikembangkan di wilayah perencanaan. Vegetasi yang sudah ada, peluang
hidupnya lebih besar dibandingkan jenis vegetasi baru yang masih memerlukan
adaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Di samping itu penggunaan vegetasi yang bisa
tumbuh dan hidup di wilayah perencanaan akan menghemat biaya penanaman dan
perawatannya.

Jenis vegetasi yang tumbuh di wilayah perencanaan, antara lain

adalah pohon kelapa, pohon tanjung, pohon bakau, dan lain-lain.


4.3.4

Analisis Orientasi Matahari

Pencahayaan alami sangat diperlukan dalam sebuah bangunan, agar tidak lembab
dan juga diperlukan untuk vegetasi. Namun kebutuhan cahaya matahari tidak serta
merta diperlukan, karena bisa juga dianggap mengganggu. Terutama pancaran sinar
matahari pada sore hari. Sehingga pengaruh cahaya matahari juga berdampak pada
orientasi massa bangunan. Dimana kecenderungan dalam mendirikan bangunan
menghindari orientasi arah Barat, karena dianggap panas dan dan menyilaukan pada
sore hari.
Bentuk tapak Kawasan Perencanaan memanjang ke arah Timur-Barat, dan sisi
terpendek berada pada arah Utara-Selatan. Orientasi terhadap lintasan matahari
digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan orientasi bangunan contohnya
lapangan olahraga.

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Orientasi massa bangunan yang dianggap ideal adalah arah Utara-Selatan, Timur dan
setidaknya apabila menghadap ke Barat memang perlu dilakukan penyelesaian khusus
seperti di beri vegetasi di depan rumah maupun dipasang sunscreen sebagai
penghalang sinar matahari masuk secara langsung ke rumah.
4.3.5

Analisis Arah Angin

Arah mata angin berpengaruh pada arah orientasi massa bangunan, dimana untuk
bangunan di pengembangan permukiman baru yang sifatnya horizontal dan vertical
idealnya mempunyai orientasi Utara-Selatan. Beberapa pertimbangan orientasi massa
bangunan Utara - Selatan yaitu :
1.

Budaya, sebagian besar arah harap bangunan utama di kawasan eksisting


dengan tipikal menghadap Utara-Selatan. Karena biasanya bagian Barat

2.

adalah merupakan Musholla/langgar.


Pergerakan arah matahari, dimana kecendrungan mendirikan bangunan akan
menghindari menghadap arah Barat, karena dianggap panas/silau pada sore
hari.

Karena bentuk tapak kawasan perencanaan adalah membujur ke Timur-Barat, maka


orientasi massa bangunan paling ideal juga berorientasi sama, untuk bangunan
diarahkan

menghadap ke selatan memerlukan penyelesaian misal dengan

memberikan vegetasi di depannya atau dengan pembuatan sun sreen.


Aliran angin mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama pada kualitas udara.
Dimana pergerakan udara akan membawa dampak baik positif maupun negative. Pada
kawasan perencanaan kecenderungan aliran udara dari arah selatan (laut) ke barat
(darat). Dampak positif adalah udara sejuk yang berasal dari ruang terbuka hijau, akan
sangat menguntungkan, karena akan menjaga kualitas udara yang bersih.
4.3.6

Analisa Main Entrance

Pada kawasan perencanaan terdapat dua kelas jalan yaitu Jalan Trans Sulawesi dan
jalan di dalam kawasan perencanaan. Main entrance kawasan perencanaan belum
dilengkapi dengan gerbang masuk dan gerbang keluar kawasan. Analisa untuk main
entrance kawasan didasarkan dari pertimbangan:
a. Pencapaian dari arah jalan raya, dari arah Kabupaten Pohuwato dan
Kecamatan disekitarnya.

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

b.
c.
d.

Kemudahan dikenali dari arah jalan raya;


Orientasi matahari;
Monumentalitas bangunan dari arah entrance;

Untuk itu main entrance kawasan perencanaan yaitu tetap pada gerbang masuk
kawasan wisata dengan pemberian sclupture pada gerbang kawasan sehingga dapat
menjadi landmark dan gate kawasan.
4.4

ANALISIS

PENGEMBANGAN

SIRKULASI

DI

DALAM

KAWASAN

PERENCANAAN
4.4.1

Analisis Pengembangan Sirkulasi

Kondisi eksisting :
Kondisi eksisting sirkulasi di dalam kawasan perencanaan, yaitu jalan di dalam
kawasan permukiman dengan kondisi baik, yang memiliki lebar 4 meter. Jalan ini
digunakan untuk pergerakan kendaraan roda 4, roda 2 dan pejalan kaki yang ingin
menikmati wisata Pantai Bulili. Selain jalan tersebut, belum terdapat sirkulasi lainnya.
Sedangkan di sisi Utara masih berupa tegalan, sehingga belum ada pergerakan di sisi
Utara kawasan.
Analisis :
Penampang geometrik jalan menggambarkan penampang jalan yang mencakup badan
jalan, median, trotoar, saluran dan daerah sempadan bangunan. Kondisi faktual tapak
masih berupa

lahan belum terbangun.

Karena lahan masih berupa lahan belum

terbangun, maka perencanaan geometrik jalan di dalam tapak

bisa disesuaikan

dengan kebutuhan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan,
jaringan jalan di dalam kawasan wisata masuk kategori jalan khusus. Ketentuan
mengenai jalan khusus diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
11/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Jalan Khusus. Ketentuan
mengenai jalan khusus adalah sebagai berikut :
a.

Definisi jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha,
perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri.

b.

Lebar badan jalan khusus minimal 3,50 meter.

10

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Lebar jalan di dalam kompleks permukiman, selain mempertimbangkan ketentuan


Peraturan Menteri Pekerjaan Umum juga dipertimbangkan terhadap kebutuhan
kawasan wisata pantai ini. Pada kawasan perencanaan ini untuk di sisi Utara
dikembangkan untuk kegiatan perdagangan jasa, cottage, ruang terbuka hijau pasif
dan permukiman penduduk sisi sebelah Barat dikembangkan untuk wisata kuliner, dan
cottage dan di sisi sebelah Timur dikembangkan area parkir pengunjung, dan wisata
kuliner dengan deretan PKL. Sehingga pemenuhan kebutuhan sirkulasi jalan untuk
kawasan tersebut sangat penting untuk kebutuhan sirkulasi kendaraan, sirkulasi
pejalan kaki, kebutuhan kendaraan pengangkut barang, truk pengangkut sampah, dan
kendaraan pengangkut kebutuhan kegiatan tersebut. Berdasarkan pertimbangan
tersebut, diperlukan jalan lingkungan untuk kendaraan bermotor. Jalan eksisting
selebar 4 meter di dalam kawasan perencanaan direncanakan untuk diperlebar
dengan median jalan ditengahnya. Sedangkan di pinggir pantai di rencanakan jalur
promenade untuk sirkulasi pejalan kaki yang pada beberapa titiknya terdapat plaza.
4.4.2

Analisis Sirkulasi Pejalan Kaki

Kondisi eksisting :
Pada kawasan perencanaan belum terdapat jalur pejalan kaki yang khusus. Jalur
pejalan kaki di dalam kawasan perencanaan menggunakan badan jalan dan ruangruang kosong.
Analisis:
Pedestrian dirancang untuk sirkulasi pejalan kaki yang aman dan nyaman, agar tidak
menimbulkan friksi atau konflik dengan kendaraan bermotor. Penyediaan pedestrian
harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum
No. 468/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Akesebilitas Pada Bangunan Umum
dan Lingkungan, sebagai berikut :
Penyediaan pedestrian harus dikembalikan ke fungsinya sebagai jalur pejalan
kaki termasuk penderita cacat tubuh, yang bisa memberikan rasa aman dan
nyaman bagi pengguna, dan lebarnya harus mencukupi. Minimal 120 cm untuk
jalur searah dan 160 cm untuk jalur dua arah. Menurut Standar Bina Marga untuk
Jalan Perkotaan Tahun 1987, lebar trotoar untuk kawasan perdagangan,
perkantoran dan sekolah, adalah 2 meter.

11

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Jalur pedestrian harus bisa dilewati penyandang cacat.


Jalur pedestrian harus bebas dari pohon, tiang rambu-rambu dan benda-benda
pelengkap jalan yang menghalangi.
Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak
licin. Hindari sambungan atau gundukan pada permukaan, kalaupun terpaksa
ada, tingginya harus tidak lebih dari 1,25 cm.
Persyaratan lainnya adalah : jalur pedestrian harus ramah dan nyaman bagi
pengguna jalan; antara lain : terlindung oleh keteduhan tanaman atau kanopi
bangunan dan estetis.
Penyediaan jalur sirkulasi pejalan kaki di dalam kawasan wisata didasarkan pada
konsep penyediaan jalur pejalan kaki yang aman, nyaman, estetis dan manusiawi.
Jalur pejalan kaki yang aman, membedakan dengan jelas antara jalur kendaraan
dan pejalan kaki sehingga tidak terjadi friksi atau konflik. Selain itu di atas jalur
pejalan kaki dilarang untuk kegiatan yang bukan bagi kepentingan pejalan kaki,
misalnya tempat parkir kendaraan.
Jalur pejalan kaki yang nyaman bisa membuat penggunanya tidak merasa takut
bertabrakan dengan pejalan kaki lain (lebar minimum 2,00 meter), tidak merasa
bosan dan kepanasan karena berada di bawah keteduhan tanaman atau kanopi
bangunan.
Jalur pejalan kaki yang estetis, perkerasan permukaan trotoarnya dirancang
dengan pola figuratif dan beraneka warna.
Jalur pejalan kaki yang manusiawi menempatkan pejalan kaki akrab dengan
bangunan dan lingkungan sekitarnya serta tidak membosankan.
Penyediaan jalur untuk pejalan kaki di dalam wisata terdiri dari :
1. Di pinggir pantai di tempatkan promenade

guna kenyaman dan keamanan

pengguna jalan untuk menuju kawasan wisata pantai Bulili. Jalur pejalan kaki
terpisah dari jalan kendaraan. Promenade dirancang dengan lebar 2 -3 meter;
promenade dibuat dari rabat beton yang permukaannya ditutup dengan terazo
atau paving block berpola estetis. Di bawah promenade ditempatkan saluran
drainase berupa saluran tertutup yang diberi lubang pemeliharaan. Promenade

12

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

memiliki

landscape

yang

amenities

guna

menunjang

keamanan

dan

kenyamanan pejalan kaki.


2. Jalur pejalan kaki di dalam kawasan wisata yaitu dengan menggunakan sirkulasi
jalur eksisting di dalam kawasan wisata. Jalur yang sebelumnya jalan tersebut
diperuntukan untuk kendaraan roda 4 dan roda 2 untuk ke depannya diarahkan
untuk jalur sirkulasi pejalan kaki. Jalur tersebut ditutup untuk kendaraan bermotor
namun dipertuntukan untuk pejalan kaki dan jalur sepeda. Lebar jalur sirkulasi
pejalan kaki yaitu 4 meter dengan ditanami vegetasi di sisi kiri/kanan jalan. Jalur
sirkulasi yang ada saat ini menggunakan aspal, perlu diarahkan untuk ganti
materoa; agar lebih indah dan sesuai denngan fungsi pedestrian.
Sedangkan untuk sirkulasi di masing-masing zona umumnya berpola culdesac
dengan lebar 2 meter dibuat dari paving block berpola estetis atau batu alam
agar tidak membosankan. Linatasan sirkulasi pejalan kaki di dalam zona dibuat
alamiah berupa lintasan lengkung yang disesuaikan dengan kondisi kontur dan
jenis kegiatannya.
4.4.3

Analisis Fasilitas Pelengkap Jalan

Kondisi eksisting :
Fasilitas pelengkap jalan di kawasan perencanaan hanya terdiri dari lampu
penerangan jalan umum dan rambu petunjuk menuju kawasan perencanaan.
Analisis:
Dengan kondisi bangkitan yang tinggi pada kawasan wisata, untuk itu diperlukan
beberapa fasilitas pelengkap jalan diantaranya :
1.

Lampu Kedip
Pada kawasan perencanaan belum terdapat lampu kedip atau lampu flash
digunakan untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan umum bahwa
pada spot tersebut terdapat kawasan wisata. Untuk pada kawasan wisata Bulili,
lampu kedip dapat ditempatkan di depan main entrance (gerbang masuk) dan
side entrance (gerbang keluar).

2.

Lampu Jalan
Pada kawasan perencanaan sudah terdapat lampu jalan di Jalan Trans
Sulawesi , begitu juga lampu di dalam kawasan wisata.
Persyaratan penyediaan lampu jalan adalah :

13

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Ditempatkan pada jarak maksimum 40 meter (Peraturan Umum Instalasi


Listrik Indonesia; 1987).
Tiang lampu dilarang untuk menempatkan reklame, selebaran, spanduk,
atau lainnya, yang sifatnya merusak keindahan lampu dan keindahan
lingkungan.
Tidak ditempatkan berdekatan dengan pepohonan agar cahayanya tidak
terhalang oleh kerimbunan pohon.
Sumber tenaga listrik lampu jalan dipisahkan dengan lampu bangunan.
Tinggi tiang lampu antara 6 sampai 7,5 meter.
Jenis dan tinggi tiang, serta jenis lampu dan cahaya lampu, seragam.
Penyediaan lampu jalan untuk kawasan perencanaan adalah sebagai berikut :
a.

Penyediaan lampu jalan di Jalan Trans ditempatkan pada setiap jarak 40


meter, berupa lampu berlengan tunggal dengan tinggi tiang 7,50 meter,
cahaya lampu berwarna kuning.

b. Penyediaan lampu jalan di dalam kawasan wisata : Penyediaan lampu di


sirkulasi pejalan kaki ditempatkan pada setiap jarak 20 meter; berupa
lampu berlengan ganda yang ditempatkan di taman median jalan; dengan
tinggi 7 meter, cahaya lampu berwarna kuning.
4.4.4

Analisis Fasilitas Perparkiran

Kondisi eksisting :
Tempat parkir yang direncanakan di dalam kawasan adalah off street parking, karena
pada dasarnya di dalam kawasan harus disediakan tempat parkir kendaraan, pola
parkir di kawasan ini berpola tersebar dan tidak teratur.
Analisa :
Dengan arahan bahwa sirkulasi di dalam kawasan perencanaan bebas dari kendaraan
bermotor maka tipe parkir untuk kawasan ini adalah tipe parkir off street. Adapun
analisa perparkiran untuk kawasan wisata Bulili yaitu :
Parkir dialokasikan di beberapa spot tertentu.

14

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Parkir dibuat sedekat mungkin dengan main entrance yaitu masuk melalui sisi
Timur kawasan. Parkir juga dibuat sedekat mungkin dengan pintu keluar side
entrance.
Tipe tempat parkir yaitu parkir pelataran bersama
Parkir pengunjung terpisah dari parkir service
Kapasitas parkir harus memperhitungkan volume pengunjung saat peak hour.
Kawasan Wisata Bulili yang akan ramai pada saat weekend dan hari libur
nasional.
Parkir juga harus memperhitungkan jenis kendaraan yang diwadahi.
Lokasi parkir dekat dengan objek wisata (jarak berjalan kaki dari tempat parkir
menuju objek wisata antara 200-400 m).

4.5

ANALISA DAYA TAMPUNG KAWASAN WISATA BULILI

Proyeksi daya tampung

kawasan wisata Bulili mengacu kepada arahan intensitas

pemanfaatan lahan dan studi kapasitas dari beberapa lokasi wisata sejenis.
Diharapkan dengan memperhitungkan proyeksi daya tampung optimalnya, maka dapat
direncanakan kebutuhan jenis dan daya dukung sarana serta prasarana penunjang
pariwisatanya. Walaupun umumnya realisasi pertumbuhan kunjungan wisata sangat
tergantung oleh pengembangan ragam fasilitas dan kualitas daya tarik atraksi wisata
yang ditawarkan serta pertumbuhan jumlah penduduk yang ada di Pohuwato dan
daerah sekitarnya sebagai pangsa pasar kawasan wisata ini, tetapi tentunya akan lebih
baik bila pertumbuhan kunjungan wisatawan bisa diantisipasi sedari awal.
Konsep pembagian blok didasarkan kepada spesifikasi aktifitas atau fungsi yang akan
diwadahinya. Kekhasan fungsi dan aktifitas ini disesuaikan dengan karakteristik dan
kecocokan tapaknya. Namun, arahan pemanfaatan itu juga perlu dikendalikan untuk
menjaga keberlanjutan lingkungannya. Arahan intensitas pemanfaatan lahan harus
memperhitungkan daya dukung lingkungan.
Kegiatan wisata aktif di pantai Bulili diasumsikan sekitar 90 jiwa per hektar, maka
estimasi kunjungan wisatawan untuk berkegiatan wisata aktif pada wilayah
perencanaan dengan luasan sekitar 5,52 Ha, diperkirakan dapat menampung sekitar
496 Jiwa secara bersamaan. Adapun untuk proporsi penggunaan bangunan adalah
70% dari total penggunaan lahan terbangun dan sisanya digunakan untuk sirkulasi,
parkir dan RTH.

15

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

4.6

ANALISIS INTENSITAS BANGUNAN

Analisa Tata Bangunan meliputi analisa KDB (Koefisien Dasar Bangunan), KLB
(Kofisien Lantai Bangunan) dan GSB (Garis Sempadan Bangunan). Analisa Bangunan
di dasarkan pada fungsi masing-masing sub blok di kawasan.
4.6.1

Analisis KDB

Kawasan perencanaan merupakan kawasan yang masih kosong. Dengan potensi yang
masih kosong dan kawasan termasuk dalam tingkat kepadatan kategori rendah, maka
dimungkinkan untuk dilakukan penataan bangunan baru dengan KDB maksimal 60%
untuk menghindari resiko kebakaran dan kekumuhan.
4.6.2

Analisis KLB

Pada kawasan perencanaan, rata-rata lantai bangunan yaitu 1 lantai. Pengembangan


ke depannya untuk perencanaan lantai bangunan pada kawasan adalah didasarkan
pada fungsi bangunannya, seperti kegiatan perdagangan dan jasa, resort, sport center,
amphiteater maksimal 2 lantai.
4.6.3

Analisis Pemunduran Bangunan

Arahan GSB untuk kawasan perencanaan baik pada jalan utama maupun pada
kawasan perencanaan adalah dari lebar jalan.
4.6.4

Analisis KDH

Dengan potensi kawasan yang masih kosong dan kepadatan yang rendah, maka
diarahka untuk KDH pada kawasan perencanaan adalah minimal 10% dan maksimal
disesuiakan dengan KDB pada masing-masing fungis bangunan.
4.7

ANALISA STREET FURNITURE

Kondisi Eksisting :
Perabot ruang luar yang diidentifikasikan di koridor perencanaan dan sekitarnya adalah
bak sampah, lampu jalan dan pot bunga.

16

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

Analisa :
Perabot ruang luar yang perlu disediakan di kawasan perencanaan adalah bak
sampah dan reklame. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi kondisi perabot ruang
luar yang ada di lapangan dengan kriteria empiris yag diadopsi dari literatur.
1. Bak sampah
Pada kawasan wisata terdapat bak sampah yang ditempatkan di beberapa
lokasi meskipun masih minim jumlahnya. Sebagai salah satu bagian dari street
furniture, kebutuhan akan persampahan pun juga harus di jaga. Penempatan
bak sampah harus rapai dan tertata Tempat Pembuangan Sampah Sementara
(TPS) sebaiknya hanya digunakan sebagai tempat pemindahan sampah dari
gerobak sampah ke kontainer, bukan untuk membuang sampah di pelataran
TPS. Hal ini dimaksudkan agar TPS tetap kering, bersih dan bau sampahnya
tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.
2. Reklame
Pada kawasan perencanaan belum terdapat reklame. Sebagai kawasan wisata
yang menimbulkan bangkitan tinggi, tentunya kedepannya akan tumbuh
reklame sebagai sarana untuk mempromosikan produk atau kegiatan baik yang
bersifat permanen maupun temporer. Untuk itu perlu diatur penataan serta
jumlahnya. Berdasarkan wujudnya, reklame terdiri dari reklame tiang, reklame
yang menempel pada bangunan, reklame bando, reklame tiga dimensi atau
ikon,

reklame

megatron,

penyelenggaraan

reklame

baliho,
untuk

spanduk,
kawasan

reklame

balon.

perencanaan

Tata

cara

mengikuti

ketentuanyaitu :
a. Reklame skala besar, yaitu reklame yang memenuhi salah satu kriteria :
- Ukuran reklame paling kecil 48 m2.
- Ketinggian reklame 6 meter di atas permukaan tanah.

17

Laporan Akhir
PEKERJAAN PRA DESIGN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR PANTAI BULILI

- Jenis reklame dengan ukuran 3 m2 yang bentuk dan isinya sama


terpasang pada suatu tempat dan lebih dari 25 titik pemasangan
reklame dalam wilayah daerah.
b. Reklame skala sedang, adalah jenis reklame yang salah satu kriterianya
adalah sebagai berikut :
- Ukuran reklame antara 12 m2 sampai dengan 47,99 m2 yang dipasang
di atas permukaan tanah.
- Ketinggian reklame 4-5,99 meter dari atas permukaan tanah.
- Reklame dengan ukuran di atas 3 m2 sampai dengan 47,99 m2 yang
bentuk dan isinya sama, dan terpasang di 10 sampai 24 titik
pemasangan reklame dalam wilayah daerah.
c. Reklame skala kecil, adalah jenis reklame yang salah satu kriterianya
meliputi semua jenis reklame yang tidak termasuk pada kriteria reklame
besar dan sedang.

18