Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Bismillahhirrahmanirrahim
Alhamdulillah puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT.
yang melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Fiqih Muamalah Syirkah Mudharabah ini
dengan baik kendatipun sangat sederhana.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan limpahkan keharibaan
junjungan kita Nabi Muhammad SAW. sebaik-baiknya insan lintang pemimpin
bagi umat manusia karena berkat beliaulah kita masih dapat merasakan nikmatnya
Islam.
Dalam makalah ini kami membahas tentang Fiqih Muamalah Syirkah
Mudharabah. Selanjutnya kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan karena tidak ada
kesempurnaan sedikitpun di dunia ini. Dengan ini kami mengharap kritik dan
saran untuk lebih memotivasi kami kedepan, terutama untuk dosen pembimbing
sebagai pembimbing kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua, Amin...

Belitang, 01 Oktober 2016

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah......................................................................
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................

BAB II

1
1
1

PEMBAHASAN
2.1 Syirkah.......................................................................................
2.2 Mudharabah................................................................................
2.3 Musaqah.....................................................................................
2.4 Muzaraah dan Mukhabarah.......................................................

2
4
7
10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................
3.2 Saran ..........................................................................................

12
12

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaan ini tercerminkan
ketentuan-ketentuan hukum Islam yang mengatur disemua lini kehidupan
manusia, mulai dari persoalan ibadah, munakahat hingga muamalah semuanya
tidak lepas dari sentuhan hukum Islam.
Produk hukum Islam menjelaskan detil terperinci dari suatu permasalahan
yang ada dalam kehidupan, semua itu bersumber dari dalil yang jelas, yakni AlQuran dan al-hadits.
1.2. Rumusan Masalah
1) Jelaskan tentang syirkah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
2) Jelaskan tentang mudharabah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
3) Jelaskan tentang musaqah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
4) Jelaskan tentang muzaraah dan mukhabara serta hal-hal yang berkaitan
dengannya!.
1.3. Tujuan Penulisan
Yaitu untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang fiqih muamalah,
khususnya tentang syirkah, mudharabah, musaqah, muzaraah dan mukhabarah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Syirkah
2.1.1. Definisi dan Dasar Hukum
Menurut bahasa, syirkah berarti perhimpunan (serikat / persekutuan),
sedangkan menurut syara yaitu kad yang menuntut adanya kepastian suatu hak
milik dua orang atau lebih untuk suatu tujuan dengan sistem bagi untung rugi
secara merata.
Dasar hukum syirkah yaitu firman Allah Taala yang artinya: ...Maka
mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat
olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat
(kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang
benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.....
(QS. An-Nisaa: 12)
Dan hadits qudsi Allah berfirman:



Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah
seorang dari mereka tidak menciderai rekannya. Ketika dia menciderai rakannya,
Aku keluar dari persekutuan di antara mereka berdua. (HR. Abu Daud dan AlHakim).
2.1.2.

Persyaratan Akad, rukun dan Macam-Macam Syirkah


Akad syirkah atau serikat sah hukumnya apabila di adakan oleh para pihak

telah baligh, berakal dan waras.


Rukun syirkah ada empat, yaitu sighat, pihak yang berakad, kekayaan dan
pekerjaan.
Syirkah terdiri atas empat macam, yaitu:
1) Serikat yang berkenaan dengan badan atau pekerjaan
Yaitu persekutuan dari para pemilik pekerjaan, dengan kesepakatan bahwa
hasil dari pekerjaan yang dilakukan mereka menjadi milik mereka secara merata,
baik mereka melakukan pekerjaan yang sama atau tidak. Misalnya, kerjasama

antara kuli angkut dalam memborong suatu pekerjaan yang upahnya akan dibagi
rata.
Menurut ulama Syafiiyah hukum serikat semacam ini batal, karena tidak
ada modal yang dihimpun didalamnya, dan ada unsur tindak penipuan. Sebab
masing-masing pihak tidak mengetahui rekanannya menghasilkan keuntungan
atau tidak.
2) Serikat Dagang
Yaitu serikat dengan ketentuan para pemilik saham memiliki hak dan
kewajiban yang sama, atau persekutuan beberapa orang dengan menerima hasil
dan tanggung jawab secara bersama-sama. Misalnya, barang yang dighashab
(rampas). Serikat semacam ini menurut ulama Syafiiyah hukumnya juga batal,
karena didalamnya ada kemungkinan terjadinya penipuan.
Sementara itu, ulama Hanafiyah dan Malikiyah memperbolehkannya,
karena serikat semacam ini hampir sama dengan mudharabah.
3) Serikat Wujuh
Yaitu persekutuan yang di adakan oleh beberapa orang dalam hal
keuntungan bisnis dari perniagaan mereka hingga masa tertentu. Serikat semacam
ini, menurut ulama Syafiiyah dan Malikiyah hukumnya juga batal, karena tidak
ada kekayaan yang terhimpun diddalamnya yang bisa ditarik kembali jika terjadi
pembatalan akad.
4) Serikat inan
Yaitu perserikatan beberapa orang dalam pengumpulan harta yang
dipergunakan untuk berdagang, atau masing-masing pihak membawa kekayaan
untuk dihimpun dengan kekayaan milik rekanannya. Menurut ijma ulama, serikat
semacam ini hukumnya boleh, hal ini sesuai dengan hadits yang telah
disampaikan dimuka.
2.1.3. Sistem Pembagian Keuntungan
Keuntungan dan kerugian dibagi secara merata sesuai dengan kadar
kepemilikan kekayaan tersebut. Karena keuntungan membuktikan adanya
perkembangan kedua kekayaan itu, sedangkan kerugian menandakan adanya
penurunan kekayaan tersebut. Oleh karena itu, keuntungan dan kerugian harus
disesuaikan dengan kadar harta tersebut.
2.2. Mudharabah
2.2.1. Definisi dan Dasar Hukum

Kata mudharabah merupakan istilah yang dipakai oleh penduduk Iraq,


karena masing-masing pihak yang mengadakan akad bergerak mengambil
keuntungan yang diperoleh, dalam hal ini umumnya mengandung unsur safar.
Sementara safar disebut pergerakan (dharb) dimuka bumi. Sedangkan menurut
bahasa penduduk Hijaz disebut qiradh, di ambil dari kata dasar al-qardh yang
artinya membagi, karena pemilik modal menanamkan sebagian kekayaannya
kepada pengusaha untuk mengelolanya dan memberikan sebagian keuntungannya.
Madharabah atau qiradh menurut syara adalah penanaman sejumlah modal
oleh pemilik kekayaan kepada seseorang (pengusaha) untuk kepentingan bisnis
dibidang perdagangan, dan laba yang diperoleh menjadi milik bersama di antara
mereka.
Dasar hukum pensyariatan mudharabah yaitu firman Allah SWT:

Artinya: Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil
perniagaan) dari Tuhanmu. ...... (QS. Al-Baqarah: 198)
Serta hadits Nabi SAW.:


Artinya: Rasulullah saw bersabda: Tiga hal yang di dalamnya terdapat
keberkahan, yaitu jual beli secara tangguh, muqaradhah (bagi hasil) dan
mencampur gandum putih dengan gandum merah untuk keperluan rumah bukan
untuk dijual. (HR. Ibnu Majjah)

2.2.2. Rukun dan Syarat Mudharabah

Secara umum rukun dan syarat-syarat sah mudharabah adalah sebagai


berikut:
1)

Orang yang berakad, yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola


(mudharib). Kedua belah pihak yang melakukan akad disyaratkan mampu
melakukan tasharruf atau cakap hukum, maka dibatalkan akad anak-anak
yang masih kecil, orang gila, dan orang-orang yang berada di bawah

2)
a.

pengampuan.
Modal atau harta pokok (mal), syarat-syaratnya yakni:
Berbentuk uang
Mayoritas ulama berpendapat bahwa modal harus berupa uang dan tidak

boleh barang. Mudharabah dengan barang dapat menimbulkan kesamaran, karena


barang pada umumnya bersifat fluktuatif. Apabila barang itu bersifat tidak
fluktuatif seperti berbentuk emas atau perak batangan (tabar), para ulama berbeda
pendapat. Imam malik dalam hal ini tidak tegas melarang atau membolehkan.
Namun para ulama mazhab Hanafi membolehkannya dan nilai barang yang
dijadikan setoran modal harus disepakati pada saat akad oleh mudharib dan
shahibul mal.
Contohnya, seorang memiliki sebuah mobil yang akan diserahkan kepada
mudharib (pengelola modal). Ketika akad kerja sama tersebut disepakati, maka
mobal tersebut wajib ditentukan nilai mata uang saat itu, misalnya Rp 90.000.000,
maka modal mudharabah tersebut adalah Rp 90.000.000.
b.

Jelas jumlah dan jenisnya


Jumlah modal harus diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara

modal yang

diperdagangkan dengan laba atau keuntungan dari perdagangan

tersebut yang akan dibagikan kepada dua belah pihak sesuai dengan perjanjian
yang telah disepakati.
c. Tunai
Hutang tidak dapat dijadikan modal mudharabah. Tanpa adanya setoran
modal, berarti shahibul mal tidak memberikan kontribusi apapun padahal
mudharib telah bekerja. Para ulama syafii dan Maliki melarangnya karena
merusak sahnya akad.
d. Modal diserahkan sepenuhnya kepada pengelola secara langsung
Apabila tidak diserahkan kepada mudharib secara langsung dan tidak
diserahkan sepenuhnya (berangsur-angsur) dikhawatirkan akan terjadi kerusakan
pada modal, yaitu penundaan yang dapat mengganggu waktu mulai bekerja dan

akibat yang lebih jauh mengurangi kerjanya secara maksimal. Apabila modal itu
tetap dipegang sebagiannya oleh pemilik modal, dalam artian tidak diserahkan
sepenuhnya, maka menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah, akad
mudharabah tidak sah. Sedangkan ulama Hanabilah menyatakan boleh saja
sebagian modal itu berada di tangan pemilik modal, asal tidak mengganggu
kelancaran usahanya.
3) Sighat (Ijab Qobul)
Melafazkan ijab dari pemilik modal, misalnya aku serahkan uang ini
kepadamu untuk dagang jika ada keuntungan akan dibagi dua dan kabul dari
pengelola.
4) Pembagian Keuntungan
a. Proporsi jelas. Keuntungan yang akan menjadi milik pengelola dan pemilik
modal harus jelas persentasenya, seperti 60% : 40%, 50% : 50% dan
b.

sebagainya menurut kesepakatan bersama.


Keuntungan harus dibagi untuk kedua belah pihak, yaitu investor (pemilik
modal) dan pengelola (mudharib).

2.2.3.
Kewajiban Mudharib
1) Tidak memberikan modal ke pihak lain tanpa seizin pemilik modal, karena tugas
yang di embannya berdasarkan izin.
2) Tidak berdagang kecuali perdagangan yang di izinkan pemilik modal, karena
pengusaha tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan tanpa lisensi
3)

dari pemilik modal.


Tidak membeli barang melebihi modal dasar, karena izin diberikan sesuai besaran
modal dasar.

2.3. Musaqah
2.3.1. Definisi dan Dasar Hukum Musaqah
Menurut bahasa, musaqah di ambil dari kata dasar as-saqyu (pengairan).
Menurut syara, musaqah adlah kerjasama perawatan tanaman, seperti
menyirami dan lain sebagainya dengan perjanjian bagi hasil atas buah atau
manfaat yang dihasilkan.
Dasar hukum musaqah adalah sabda Rasulullah SAW.:


Artinya: Ibn Umar r.a. berkata. Nabi Saw. menyerahkan sawah ladang dan tegal di
Khaibar kepada penduduk Khaibar dengan menyerahkan separuh dari
penghasilannya berupa kurma atau buah dan tanaman, maka Nabi SAW. memberi
isteri-isterinya seratus wasaq (I wasaq = 60 sha 1 sha' - 4 mud atau 2 1/2 kg),
delapan puluh wasaq kurma tamar, dan dua puluh wasaq sya'ier (jawawut).
Kemudian di masa Umar r.a. membebaskan kepada isten isteri Nabi SAW. untuk
memilih apakah minta tanahnya atau tetap minta bagian wasaq itu, maka di antara
mereka ada yang memilih tanah dan ada yang minta bagian hasilnya berupa
wasaq. A'isyah r.a. telah memilih tanah. (HR. Bukhari, Muslim).
2.3.2. Rukun dan Persyaratan Musaqah
Rukun-rukun musaqah menurut jumhur ulama ada lima :
1)
2)
3)

Sighat, (ungkapan) ijab dan qabul;


Al-aqidain, dua orang pihak yang melakukan transaksi;
Obyek al-musaqah, yang terdiri atas pepohonan yang berbuah baik
berbuahnya dalam bentuk tahunan atau juga setahun sekali, seperti padi,

jagung, dll;
4) Ketentuan mengenai pembagian hasil dari musaqah tersebut;
5) Masa kerja, hendaknya ditentukan lama waktu yang akan dipekerjakan.
Sedangkan menurut ulama Hanafiyah yang menjadi rukun dalam musaqah
itu hanyalah ijab dari pemilik tanah perkebunan dan qabul dari petani penggarap,
dan pekerjaan dari pihak petani penggarap.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing rukun
adalah:
1)

Ucapan yang dilakukan kadang jelas (sharih) dan dengan samaran (kinayah),
disyaratkan shigat itu dengan lafazd dan tidak cukup dengan perbuatan saja;

2)

Kedua belah pihak yang melakukan transaksi al-musaqah harus yang mampu

3)

dalam bertindak yaitu dewasa (akil baligh) dan berakal;


Dalam obyek al-musaqah terdapat perbedaan pendapat ulama fiqh. Menurut
Hanafiyah yang menjadi obyeknya adalah pepohonan yang berbuah, seperti
kurma, anggur dan terong atau pohon yang mempunyai akar ke dasar bumi.
Menurut ulama Malikiyah mengatakan bahwa obyeknya adalah tanaman
keras dan palawija, seperti kurma, anggur, terong dan apel, dengan syarat
bahwa: (a) Akad al-musaqah itu dilakukan sebelum buah itu layak panen; (b)
Tenggang waktu yang ditentukan harus jelas; (c) Akad dilakukan setelah
tanaman itu tumbuh; (d) Pemilik perkebunan tidak mampu untuk mengelola
dan memelihara tanaman itu. Menurut Hanabilah yang boleh dijadikan obyek
al-musaqah adalah tanaman yang yang buahnya boleh dikonsumsi, maka dari
itu al-musaqah tidak berlaku terhadap tanaman yang tidak berbuah.
Sedangkan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa yang boleh dijadikan obyek
itu adalah kurma dan anggur saja. Sebagaimana terlampir dalam hadist
Rasulullah SAW yang berbunyi :
Artinya : Rasulullah Saw. menyerahkan perkebunan kurma di Khaibar
kepada Yahudi dengan ketentuan sebagian hasilnya, baik dari buah-buahan

maupun dari biji-bijian menjadi mililk orang Yahudi itu;


4) Tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap setelah akad
5)

berlangsung untuk digarapi, tanpa campur tangan pemiliknya;


Hasil (buah) yang dihasilkan dari kebun itu merupakan hak mereka bersama,
sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat, baik dibagi menjadi dua, atau

6)

tiga, dsb;
Lamanya perjanjian itu harus jelas, karena transaksi ini hampir sama dengan
transaksi ijarah ( sewa menyewa ).

2.3.4. Perbedaan Al-Musaqah Dengan Al-Muzaraah


Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa ada perbedaan antara al-musaqah
dengan al-muzaraah, yaitu:
1)

Jika salah satu pihak dalam akad al-musaqah tidak mau melaksanakan halhal yang telah disetujui dalam akad, maka yang bersangkutan boleh dipaksa
untuk melaksanakan kesepakatan itu. Berbeda dengan akad al-muzaraah,
bahwa jika pemilik benih tidak mau kerjasama dalam menuaikan benih maka

ia tidak boleh dipaksa. Menurut jumhur ulama, akad al-musaqah itu bersifat
mengikat kedua belah pihak. Beda dengan al-muzaraah yang sifatnya baru
mengikat jika benih sudah disemaikan, apabila benih belum disemaikan,
maka pemilik boleh saja untuk membatalkan perjanjian itu. Berbeda dengan
pendapat Hanabilah yang mengatakan bahwa akad al-musaqah dan almuzaraah itu merupakan akad yang tidak mengikat kedua belah pihak, oleh
2)

karena itu boleh saja salah satu pihak yang melakukan akad membatalkan;
Menurut Hanafiyah penentuan waktu dalam al-musaqah itu bukanlah salah
satu syarat, penentuan lamanya akad itu berlangsung disesuaikan dengan adat
kebiasaan setempat. Sedangkan dalam akad al-muzaraah itu dalam penentuan
waktu, ada dua pendapat. Menurut Hanafi; pertama disyaratkannya tenggang

3)

waktu, dan kedua tidak disyaratkan;


Apabila tenggang waktu yang disetujui dalam akad al-musaqah berakhir,
akad dapat terus dilanjutkan tanpa ada imbalan terhadap petani penggarap.
Sedangkan dalam akad al-muzaraah bila tenggang waktu telah habis dan
tanaman belum juga panen, maka petani penggarap melanjutkan pekerjaannya

dengan syarat ia berhak menerima upah dari hasil bumi yang dipetik.
2.3.5. Berakhirnya Akad Al-Musaqah
Menurut para ulama berakhirnya akad al-musaqah itu apabila :
1)
2)
3)

Tenggang waktu yang disepakati dalam akad telah habis;


Salah satu pihak meninggal dunia;
Ada udzur yang membuat salah satu pihak tidak boleh melanjutkan akad.
Dalam udzur disini para ulama berbeda pendapat tentang apakah akad al-

musaqah itu dapat diwarisi atau tidak :


Ulama Malikiyah: bahwa al-musaqah adalah akad yang boleh diwarisi, jika
salah satunya meninggal dunia dan tidak boleh dibatalkan hanya karena ada udzur
dari pihak petani.
Ulama Syafiiyah: bahwa akad al-musaqah tidak boleh dibatalkan meskipun
ada udzur, dan apabila petani penggarap mempunyai halangan, maka wajib petani
penggarap itu menunjuk salah seorang untuk melanjutkan pekerjaan itu.
Ulama Hanabilah: akad musaqah sama dengan akad muzaraah, yaitu akad
yang tidak mengikat bagi kedua belah pihak. Maka dari itu masing-masing pihak
boleh membatalkan akad itu. Jika pembatalan itu dilakukan setelah pohon
berbuah, buah itu dibagi dua antara pemilik dan penggarap sesuai dengan
kesepakatan yang telah ada.

2.4. Muzaraah dan Mukhabarah


2.4.1. Definisi,

Perbedaan

dan

Ketentuan

Hukum

Muzaraah

dan

Mukharabah
Muzaraah adalah akad penggarapan tanah kosong produktif dengan sistem
bagi hasil yang disepakati bersama, yang benih tanamannya ditanggung oleh
pemilik tanah. Sebaliknya, jika benih tanaman ditanggung oleh penggarap ia
disebut mukhabarah.
Menurut pengikut Mazhab Syafii, hukum muzaraah dan mukhabarah
adalah batal, karena keduanya dilarang untuk dilakukan. Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah SAW.:




Artinya: ...Rafi' bin Khudaij berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang
muzara'ah.... (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majjah)
2.4.2. Dasar Hukum Muzaraah yang di Ikutsertakan dengan Masaqah
Para pengikut Mazhab Syafii secara bulat memperbolehkan akad
muazaraah yang di ikutsertakan dengan akad musaqah. Misalnya disekitar
tanaman kurma atau anggur ada tanah kosong, lalu akad mazaraah atas lahan
kosong dilakukan bersamaan dengan akad atas pohon kurma atau anggur tersebut
hukumnya sah. Sementara itu akad mukhabarah hukumnya batal secara mutlak.
Muzaraah yang di ikutsertakan dengan musaqah harus memenuhi lima
persyaratan berikut:
1)

Pelaksana tugas dalam akad kedua akad tersebut harus orang atau sekelompok
orang yang sama. Sehingga apabila pemilik mengadakan akad musaqah dengan

satu pihak dan akad muzaraah dengan pihak lain lagi, maka hukumnya tidak sah.
2) Kesulitan memisahkan perawatan pohon kurma atau anggur, dan mengolah lahan
kosng (muzaraah) karena adanya saluran air dalam tanah dan pengolahan tanah
sangat bermanfaat buat pohon kurma. Namun apabila keduanya dapat dipisah,
muzaraah tidak diperbolehkan karena tidak diperlukan lagi.
3) Kedua pihak yang berakad tidak memisahkan pelaksanaan kedua akad tersebut,
bahkan kedua akad itu harus dilakukan berkelanjutan agar sifat keikutsertaan
dapat terpenuhi.

10

4)

Pemilik tidak mengadakan akad muzarah lebih dahulu dai akad musaqah, karena
status muzaraah adalah mengikuti. Sesuatu yang mengikuti tidak boleh

5)

mendahului sesuatu yang di ikuti.


Harus menjelaskan jenis tanaman yang akan ditanam.

11

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari semua uraian di atas, dapat kita peroleh gambaran bahwa agama Islam
benar-benar merupakan tuntunan hidup yang sempurna, tiddak ada satu pun sendi
kehidupan yang lepas dari pengaturan Islam. Hal ini semakin menegaskan Islam
sebagai rahmatan lil alamin, karena ia benar-benar merupakan rahmat bagi
semesta.
Semua hukum dalam Islam hanya mencerminkan satu hal, yakni
kemaslahatan umat, walaupun terkadang di ingkari oleh orang-orang dungu
engikut hawa nafsu, namun itu tidak menutup atau menyembunyikan fakta yang
sebenarnya.
3.2. Saran
Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah taala, kami sebagai
manusia biasa tentulah tak lepas dari kekurangan, termasuk pula makalah yang
kami tulis ini. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dari semua pihak demi
perbaikan pada penulisan makalah kami di masa yang akan datang.

12

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad. Konstruksi Mudharabah dalam Bisnis Syariah. Edisi
1. Cet. 1. Yogyakarta: Bpfe-Yogyakarta, 2005
Muslich, Ahmad Wardi. Fiqh Muamalat. Edisi 1. Cet. 1. Jakarta:
Amzah, 2010.
Ghazaly, Abdul Rahman dan Ihsan, Ghufron dan Shidiq, Sapiudin.
Fiqh Muamalat. Edisi 1. Cet. 1. Jakarta: kencana Prenada
Media Group, 2010.
Al-bagha, Musthofa Dayb. al-Tadzhib fi adillah Matan al-Ghoyah wa altaqrib. Cet. 1. Malang: Mahad Sunan Ampel al-Ali Uin
Maulana Malik Ibrahim, 2013.
Naja, H.R. Daeng. Akad Bank Syariah. Cet. 1. Yogyakarta: pustaka
Yustisia, 2011.
Nawawi, Ismail. Fikih Muamalah Klasik dan kontemporer. Cet. 1.
Bogor: Ghalia Indonesia, 2012.
Sadique, Muhammad Abdurrahman. Essentials of Musharakah and
Mudharabah. Edisi 1. Internasional islamic University Malaysia:
IIUM Press, 2009.
Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah, Juz III, (Beirut: Dar al-fikr,
2006.
Sahrani, Sohari dan Abdullah, Rufah. Fikih Muamalah. Cet. 1.
Bogor: Ghalia Indonesia, 2011.

13