Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Secara sederhana, ilmu ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari

ekosistem. Kata ekologoi berasal dari Oikos yang berari rumah atau tempat
tinggal dan logos yang berarti ilmu. Pertama kali kata ekologi diperkenalkan
oleh Ernst Haecckel (1866) dengan pengertian ; ekologi adalah disiplin ilmu
yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, suatu kajian mengenai hubungan
anorganik serta lingkungan organic disekitarnya yang kemudian pengertian ini
diperluas, menjadi kajian mengenai hubungan timbal balik antara makhluk
hidup dengan lingkungannya. Secara rinci ia juga bisa diartikan sebagai
sebuah studi terhadap hubungan timbal balik diantara organisme dengan
organisme lainnya serta benda-benda mati yang ada disekitarnya. Ekologi
sering disebut sebagai ilmu dasar lingkungan. Berdasarkan pengertian tadi,
sebenarnya ekologi meliputi studi tentang populasi tanaman dan binatang,
tanaman dan komunitas hewan dan ekosistem.
Ekosistem menggambarkan web atau jaringan hubungan antar organism
pada skala yang berbeda organisasi. Pemenuhan kebutuhan manusia dapat
terpenuhi

karena

adanya

pemanfaatan

lingkungan

yang

berbentuk

pengelolaan lingkungan hidup. Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi


hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Ini
berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi , terutama tentang konsep
hubungan timbal balik (inter related) antara lingkungan biofisik dengan
lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup,
maka konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan
hidup adalah permasalahan ekologi. Pada makalah ini, kita akan membahas
mengenai dasar-dasar ekologi yang mencakup pembagian ekologi, prinsipprinsip ekologi serta bagian-bagian dari ekosistem yang merupakan kajian
utama dari ilmu ekologi.
1.2.

RUMUSAN MASALAH
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa

masalah yang dapat kami rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini
adalah:
A. Apa pengertian dari ekologi dan ruang lingkup ekologi?
B. Bagaimana pendeskripsian tentang populasi, komunitas dan ekosistem?
1. Apa saja komponen ekosistem?
2. Apakah yang dimaksud dengan rantai makanan?

a. Bagaimana rantai makanan dan jaring makanan dalam hubungannya


dengan aliran energy dan transfer energy?
b. Bagaimanakah piramida ekologi dalam ekosistem?
c. Bagaimana siklus biogeokimia dalam ekosistem?
d. Apa pengertian suksesi ekologi dengan contohnya?
1.3. TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Dengan adanya makalah ini, penulis berharap agar pembaca dapat
menambah pengetahuan mengenai dasar-dasar ekologi. Selain itu, penulis
juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam
kehidupan sehari-hari.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan Khusus dari penyusunan makalah ini adalah :
a. Untuk memenuhi tugas dari Dosen
b. Menjelaskan pengertian dan ruang lingkup ekologi
c. Menjelaskan arti pemahaman tentang populasi,

komunitas,

dan

ekosistem (cirri, struktur, dinamika dan interaksi).


d. Menerangkan komponen-komponen ekosistem
e. Menjelaskan dan memahami rantai makanan dan jaringan makanan
dalam hubungan dengan aliran energy dan transfer energy.
f. Menjelaskan macam-macam piramida ekologi
g. Menjelaskan macam-macam siklus biogeokimia dalam ekologi
h. Menjelaskan pengertian suksesi ekologi dan contohnya
1.4. BATASAN MASALAH
Penulis membatasi makalah ini dalam beberapa batasan yaitu:
Pengertian ekologi dan ruang lingkup ekologi, pemahaman tentang populasi,
komunitas

dan

ekosistem

serta

komponen-komponen

ekosistem,

rantai

makanan dan jaringan makanan dalam hubungan dengan aliran energy dan
transfer energy, macam-macam siklus biogeokimia, piramida dalam ekologi
dan pengertian suksesi ekologi dan contohnya.

BAB II
PEMBAHASAN DASAR-DASAR EKOLOGI
2.1 PENGERTIAN EKOLOGI

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernnst Haeckel, seorang ahli
biologi bangsa Jerman, pada tahun 1869. Ekologi berasal dari bahasa Yunani
Oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal dan logos yang berarti ilmu /
telaah. Oleh karena itu, ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal)
makhluk hidup.
Secara lebih spesifik Haeckel mendefinisikan ekologi sebagai ilmu tentang
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan biotik dan
abiotiknya. Meskipun demikian, ahli ekologi menilai bahwa definisi ini masih
sangat luas. Oleh karena ada ilmu biologi lain yang berkaitan erat dengan
ekologi, yaitu genetika, fisiologi, perilaku dan evolusi. Maka perlu batasan yang
lebih spesifik dalam ekologi (Krebs 2001)(Leksono:1-2)
Charles Elton (1927) dalam bukunya animal ecology memberikan batasan
ekologi sebagai ilmu yang mempelajari sejarah alamiah (natural history)
makhluk hidup. Meskipun definisi ini menekankan pada asal usul atau latar
belakang berbagai persoalan ekologi, namun batasan Elton agak kabur. Definisi
ekologi klasik yang lain disampaikan oleh Oddum (1963), Oddum menyatakan
bahwa ekologi adalah kajian mengenai struktur dan fungsi alam.
Definisi

ekologi

yang

lebih

khusus

pertama

kali

disampaikan

oleh

Andrewarta (1961), menurutnya ekologi adalah kajian ilmiah mengenai


distribusi dan kelimpahan makhluk hidup. Definisi ini cendrung statis dan
meninggalkan ide utama Hubungan timbal balik sehingga definisi lain yang
berkembang dari ide ini. Salah satunya disampaikan oleh Krebs bahwa ekologi
adalah kajian ilmiah mengenai hubungan timbal balik yang menentukan
distribusi dan kelimpahan makhluk hidup (krebs, 2001) (Leksono: 1-2)

2.2 RUANG LINGKUP EKOLOGI


Ruang lingkup ekologi meliputi beberapa unit dalam spectrum biologi. Unitunit lingkup ekologi tersebut berturut-turut dari kecil ke besar adalah ekologi
individu, ekologi populasi, ekologi komunitas, ekologi ekosistem, ekologi
bentang alam, dan ekologi global (Reece, 327). Makhluk hidup (organism)
memiliki tingkat organisasi dari yang paling sederhana sampai ke tingkat yang
paling komplek.
2.2.1 Ekologi Individu (Ekologi Organismal)

Individu adalah satuan makhluk hidup dari satu jenis (species) tertentu.
Misalnya satu tumbuhan rumput, seekor belalang, seekor burung puyuh
atau seekor ular (Reece, 327)
2.2.2 Ekologi Populasi
Populasi adalah sekelompok individu dari satu species yang sejenis
pada suatu tempat dan waktu tertentu. Misalnya populasi rumput,
populasi belalang, populasi puyuh atau populasi ular (Reece, 327). Tiga
karakteristik fundamental suatu populasi adalah densitas, disperse dan
demografika (Reece, 354-356).
1. Densitas

: Jumlah individu per satuan luas atau volume misalnya


jumlah bakteri Escherecia coli per millimeter.

2. Dispersi

Pola penjarakan antara individu dalam perbatasan

populasi
3. Demografika: Bidang yang mempelajari statistika vital populasi dan
perubahan statistika tersebut seturut waktu.
Populasi bersifat dinamis, dimana kedinamisan suatu populasi sesuai
dengan waktu dan ruang. Populasi bisa mengalami peningkatan atau
malah mengalami penurunan tergantung oleh beberapa factor, yaitu :
1. Bergantung kepada kepadatan populasi itu sendiri
2. Tidak bergantung pada populasi itu sendiri

Dinamika Populasi
Karena terganggu oleh kondisi-kondisi lingkungan yang berubah
secara berkala semua populasi akan dan sudah menunjukkan fluktuasi
ukuran. Banyak populasi yang mengalami siklus naik turun dengan drastis
dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara factor-faktor biotik dan abiotik.
Sebuah metapopulasi adalah sekelompok populasi yang ditautkan oleh
imigrasi dan emigrasi, contohnya imigrasi dan emigrasi menautkan populasi
bajing tanah belding dengan populasi-populasi lain dari species tersebut
yang semuanya membentuk metapopulasi (Reece, 368).

Seperti halnya suatu individu, suatu populasi mempunyai cirri-ciri biologi,


antara lain:
1. Mempunyai struktur dan organisasi tertentu, yang sifatnya ada yang
konstan dan ada pula yang berfluktuasi dengan berjalannya waktu
(umur).
2. Ontogenetik,

mempunyai

sejarah

kehidupan

(lahir,

tumbuh,

berdiferensiasi, menjadi tua = senessens, dan mati)


3. Dapat dikenai dampak lingkungan dan memberikan respon terhadap
perubahan lingkungan
4. Mempunyai hereditas
5. Terintegrasi oleh factor-faktor hereditas oleh herediter (genetic) dan
ekologi (termasuk dalam hal ini adalah kemampuan beradaptasi,
ketegaran reproduktif dan presistensi). Persistensi dalam hal ini adalah
adanya kemungkinan untuk meninggalkan keturunan untuk waktu yang
lama.
Ciri-ciri statistic
Ciri-ciri

statistic

merupakan

cirri-ciri

kelompok

yang

tidak

dapat

diterapkan pada individu, melainkan merupakan hasil penjumpaan dari ciriciri individu itu sendiri, antara lain:
1. Kerapatan (kepadatan) atau ukuran besar populasi berikut parameterparameter utama yang mempengaruhi seperti natalitas, mortalitas,
migrasi, emigrasi dan imigrasi.
2. Sebaran (agihan, struktur) umur.
3. Komposisi genetic (gene pool=ganangan gen).
4. Dispersi ( sebaran individu intra populasi)
2.2.3 Ekologi Komunitas
Komunitas adalah sekelompok populasi dari sejumlah spesies yang
saling berinteraksi dalam suatu wilayah, seperti :
1. Komunitas padang rumput meliputi populasi rumput, populasi belalang,
populasi burung puyuh dan populasi ular.
2. Komunitas kolam meliputi populasi ganggang, populasi siput, populasi
ikan tertentu (Reece, 379)

Interaksi Antara Ekologi Komunitas


Beberapa hubungan kunci dalam kehidupan suatu organisme adalah
interaksinya dengan individu-individu dari berbagai spesies lain dalam
komunitas. Interaksi antara spesies mencakup kompetisi, predasi,
herbivore,

dan

simbiosis

(termasuk

parasitisme,

mutualisme,

dan

komensalisme) (Reece, 379-384)


1. Netral, Yaitu tidak saling mempengaruhi misalnya pada nyamuk dan
tikus.
2. Kompetisi
Adalah interaksi yang terjadi sewaktu individu-individu spesies
berbeda bersaing memperebutkan sumber daya yang membatasi
pertumbuhan (Reece, 380).
a. Ekslusi Kompetitif
Dua spesies yang berkompetisi memperebutkan sumber daya
pembatas yang sama tidak dapat hidup ditempat yang sama
karena

tanpa

menggunakan

keberadaan
sumber

gangguan,

daya

dengan

satu

lebih

spesies

efisien

akan

sehingga

bereproduksi secara lebih cepat dari pada yang lain. Bahkan sedikit
keunggulan reproduksi pun pada akhirnya akan menyebabkan
kemusnahan lokal pesaing yang lebih lemah, hasil yang disebut
eksklusi kompetitif (competitive exclusion). Contohnya: pada
tahun 1934, ahli ekologi Rusia, G.F. Gause menyelidiki dengan
menumbuhkan P.aurelia dan P.caudatum bersama-sama dalam satu
tempat akhirnya P.caudatum punah. Gause menyimpulkan bahwa
P.aurelia

memiliki

keunggulan

kompetitif

dalam

memperoleh

makanan (Reece, 380)


b. Relung Ekologis
Adalah total penggunaan sumber daya abiotik dan biotic suatu
spesies dalam lingkungannya. Misalnya relung sejenis kadal pohon
tropis terdiri atas antara lain kisaran suhu yang ditoleransinya
ukuran cabang tempat kadal bertengger, dan ukuran macammacam serangga yang dimakan. (Reece, 380)
Konsep relung ekologis dapat digunakan untuk menyatakan asas
eksklusi kompetitif : dua spesies tidak dapat hidup bersama-sama

secara permanen dalam komunitas jika relung keduanya identik,


kecuali ada satu atau lebih perbedaan signifikan dalam hal relung.
Diferensiasi relung yang memungkinkan spesies serupa untuk
hidup bersama-sama dalam satu komunitas disebut partisi sumber
daya (Reece, 380)
c. Penggantian Karakter
Kecendrungan karakteristik untuk berdivergensi lebih banyak pada
populasi simpatrik (tumpang tindih secara geografis) dua spesies
dari pada populasi alopatrik (terpisah secara geografis) dua spesies
itu disebut penggantian karakter.
Dalam beberapa kasus contoh penggantian karakter adalah variasi
ukuran paruh pada berbagai populasi finch Galapagos, merupakan
bukti tak langsung kompetisi masa lalu. Populasi alopatrik Geospiza
fuliginosa dan Geospiza fortis di pulau Los Hermanos dan Daphene
memiliki paruh yang mirip kemungkinan memakan biji yang
berukuran sama (Reece, 381)
3. Predasi
Adalah istilah untuk interaksi antara spesies yang salah satu spesiesnya
predator, membunuh dan memangsa spesies yang satu lagi, si mangsa
(Reece, 381).
4. Hebivori
Ahli ekologi menggunakan istilah hebivori untuk mengacu pada interaksi
dimana organism memakan bagian tumbuhan atau alga (Reece, 382383)
5. Simbiosis
Sewaktu individu dari dua atau lebih spesies hidup dalam kontak
langsung dan akrab dengan satu sama lain, hubungan mereka disebut
simbiosis. Sebagian ahli biologi mendefinisikan simbiosis secara sempit,
sebagai sinonim untuk mutualisme yaitu interaksi yang menguntungkan
kedua spesies (Reece, 381).
a. Parasitisme
Adalah interaksi simbiotik yang merugikan dengan satu organism
parasit memperoleh nutriendari organism lain sang inang yang
dirugikan dalam proses tersebut (Reece, 384).

Parasit yang hidup dalam tubuh inang, misalnya cacing pita, disebut
endoparasit. Parasit yang makan dipermukaan luar inang misalnya
tungau dan kutu disebut ektoparasit. (Reece, 384).
b. Mutualisme
Adalah interaksi antar spesies yang menguntungkan kedua spesies.
Interaksi

antara

rayap

dan

mikroorganisme

dalam

system

pencernaan serangga merupakan contoh mutualisme obligat.


Dalam mutualisme fakultatif seperti pada contoh akasia dan
semut, kedua spesies dapat sintas tanpa partnernya dalam simbiosis
itu. (Reece, 384).
c. Komensalisme
Adalah interaksi antara spesies yang menguntungkan yang satu
namun tidak merugikan atau membantu spesies yang satu lagi.
(Reece, 384-385).
2.2.4 Ekologi Ekosistem
Ekosistem adalah suatu kondisi hubungan interaksi (timbal balik) atau
interdepensi (saling ketergantungan) baik didalam lingkungan biotic
(komunitas) maupun antara komunitas dan lingkungan abiotiknya (fisik
dan kimiawi) pada suatu tempat dan waktu tertentu. Misalnya ekosistem
kolam, ekosistem pantai, ekosistem hutan rawa gambut. (Reece, 406).
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas
komponen biotic dan abiotik. Komponen biotic terdiri atas komponen
autotrof dan heterotrof yang dibedakan dari cara memperoleh energy dan
materinya. Autotrof (auto = sendiri, tropicos = menyediakan makan)
adalah organism yang mampu menyediakan makanan sendiri berupa
bahan organic dari bahan anorganik dengan bantuan energy, seperti
matahari dan kimia. (Leksono, 163 164).
Organism yang menggunakan energy cahaya untuk mengubah zat
anorganik

menjadi

menggunakan
kemoautotrof.

organic

energy

yang

Komponen

disebut

fotoautotrof.

didapat
autotrof

dari

reaksi

berfungsi

Organism
kimia

sebagai

yang

disebut
produsen,

contohnya tumbuh-tumbuhan dan alga. Heterotrof (Heteros = berbeda,


tropicos = makanan) merupakan organism yang memanfaatkan bahan
organic sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh
organism lain, yang tergolong heterotrof adalah konsumen, misalnya
manusia, hewan dan pengurai (decomposer).

Pengurai adalah organism heterotrof yang menguraikan bahan


organic yang berasal dari organism mati (bahan organic kompleks).
Organism pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan
melepaskan bahan-bahan yang sederhana dan dapat digunakan kembali
oleh produsen. Yang termasuk pengurai adalah bakteri dan jamur.
Sementara itu, komponen abiotik meliputi factor lingkungan dan sumber
daya yang dibutuhkan organism. Tempat ekosistem di lapisan bumi
disebut biosfer (Laksono 163-164).

2.2.5 Ekologi Bentang Alam


Bentang alam (landscape atau seascape) adalah mosaic ekosistemekosistem yang saling terkait (Reece, 327).
2.2.6 Ekologi Global
Biosfer yaitu ekosistem global-total dari semua ekosistem dan
bentang alam di planet ini. Menurut para ahli biosfer adalah system ekologi
global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan termasuk interaksinya
dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara).
(Reece, 327)

2.3 PENGERTIAN RANTAI MAKANAN


Rantai makanan adalah perpindahan energy dari sumbernya dalam
tumbuhan ke organism tingkat trofik diatasnya melalui peristiwa memakan dan
dimakan. Semua rantai makanan dimulai dari organism autotrof. Organism
dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan
dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organism pada
rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan. (Leksono, 173).
Rantai makanan berinteraksi membentuk jaring-jaring makanan. Beberapa
spesies memakan mangsa pada berbagai tingkatan trofik sehingga akan
terbentuk jalur aliran energy berganda. (Leksono, 174).

2.4 SIKLUS BIOGEOKIMIA


Materi yang menyusun tubuh organism berasal dari bumi. Materi yang
berupa unsure-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi
dasar makhluk hidup dan tak hidup.
Siklus biogeokimia atau siklus organic anorganik adalah siklus unsure atau
senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotic dan kembali lagi
ke komponen abiotik. Siklus unsure-unsur tersebut tidak hanya melalui
organism, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik
sehingga disebut siklus biogeokimia.
Siklus-siklus tersebut antara lain : siklus air, siklus oksigen, siklus karbon,
siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Disini hanya akan dibahas 3 macam siklus,
yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor dan siklus karbon.
1. Siklus Nitrogen (N2)
Nitrogen adalah salah satu unsure kimia utama lain dalam ekosistem.
Nitrogen ditemukan pada semua asam amino, yang merupakan penyusun
protein organism-organisme. Nitrogen tersedia bagi tumbuhan hanya dalam
bentuk dua mineral :NH4 (ammonium) dan NO3 (nitrat). Meskipun atmosfer
bumi hampir 80% nya terdiri atas nitrogen, unsure ini sebagian besar
terdapat dalam bentuk gas nitrogen (N 2) yang tidak tersedia bagi
tumbuhan.
Nitrogen memasuki ekosistem melalui dua jalur alamiah, yang
keutamaan relatifnya sangat bervariasi dari satu ekosistem ke ekosistem
yang lain. Yang pertama, deposit pada atmosfer, merupakan sekitar 5%
sampai 10% dari nitrogen yang dapat digunakan, yang memasuki sebagian
besar ekosistem. Dalam proses ini, NH 4 dan NO3, kedua bentuk nitrogen
yang tersedia bagi tumbuhan, ditambahkan ke tanah melalui kelarutannya
dalam air hujan atau melalui pengendapan debu-debu halus atau butiranbutiran

lainnya.

Beberapa

tumbuhan,

seperti

bromeliad

epifit

yang

ditemukan pada kanopi hutan hujan tropis, memiliki akar udara yang dapat
mengambil NH4 dan NO3 secara langsung dari atmosfer.
Jalur lain untuk masuknya nitrogen ke ekosistem adalah melalui fiksasi
nitrogen.

Hanya

mensintesis

prokariota

senyawa

tertentu

organic

yang

bernitrogen

dapat

digunakan

seperti

asam

untuk
amino.

Sesungguhnya prokariota merupakan mata rantai yang penting pada


beberapa titik dalam siklus nitrogen. Nitrogen difiksasi dalam ekosistem

terestrial oleh bakteri tanah yang hidup bebas (nonsimbiotik) dan juga oleh
bakteri simbiotik (Rhizobium) dalam nodul akar legume dan tumbuhan
tertentu

lainnya.

Beberapa

sianobakteri

memfiksasi

nitrogen

dalam

ekosistem akuatik. Organism yang memfiksasi nitrogen, tentunya, sedang


memenuhi kebutuhan metaboliknya sendiri, tetapi kelebihan ammonia yang
disebabkan oleh organism tersebut menjadi tersedia bagi organism lain.
Selain dari sumber alami nitrogen yang dapat digunakan ini, fiksasi nitrogen
secara industry dapat digunakan untuk pembuatan pupuk, yang sekarang
ini memberikan sumbangan utama dalam pool mineral bernitrogen dalam
ekosistem terrestrial dan akuatik. (Mitchell, 398-399)
2. Siklus Fosfor
Organism memerlukan fosfor sebagai bahan penyusun utama asam
nukleat, fosfolipid, ATP, dan pembawa energy lainnya, serta sebagai salah
satu mineral penyusun tulang dan gigi. Dalam beberapa hal, siklus fosfor
lebih sederhana dibandingkan dengan siklus karbon atau siklus nitrogen.
Siklus fosfor tidak meliputi pergerakan melalui atmosfer, karena tidak ada
gas yang mengandung fosfor secara signifikan. Selain itu, fosfor hanya
ditemukan dalam satu bentuk anorganik penting, fosfat (PO 44-), yang
diserap oleh tumbuhan dan digunakan untuk sintesis organic. Pelapukan
bebatuan secara perlahan-lahan menambah fosfat ke dalam tanah. Setelah
produsen

menggabungkan

fosfor

ke

dalam

molekul

biologis,

fosfor

dipindahkan ke konsumen dalam bentuk organic, dan ditambahkan kembali


ke tanah melalui ekskresi fosfat tersebut oleh hewan dan oleh kerja
pengurai bakteri dan fungsi pengurai pada detritus. Humus dan partikel
tanah mengikat fosfat, sedemikian rupa sehingga siklus fosfor cenderung
menjadi cukup terlokalisir dalam ekosistem. Akan tetapi, fosfor benar-benar
tergelontor ke dalam badan air, yang secara perlahan-lahan mengalir dari
ekosistem terrestrial ke laut. Erosi hebat dapat mempercepat pengurasan
fosfat.

Tetapi,

pelapukan

bebatuan

pada

umumnya

sejalan

dengan

hilangnya fosfat. Fosfat yang mencapai lautan secara perlahan-lahan


terkumpul dalam endapan, kemudian tergabung dalam batuan, yang
kemudian dapat menjadi bagian dari ekosistem terrestrial sebagai akibat
proses

geologis

yang

meningkatkan

dasar

laut

atau

menurunkan

permukaan laut pada suatu lokasi tertentu. Dengan demikian, sebagian


besar fosfat bersiklus ulang secara local diantara tanah, tumbuhan, dan
konsumen atas dasar skala waktu ekologis, sementara suatu siklus
sedimentasi secara bersamaan mengeluarkan dan memulihkan fosfor

terrestrial selama waktu geologis. Pola umum yang sama berlaku juga bagi
nutrient lain yang tidak memiliki bentuk yang terdapat di atmosfer.
(Mitchell, 399-400).
3. Siklus Karbon
Karbon adalah bahan penyusun dasar semua senyawa organic.
Pergerakannya melalui suatu ekosistem berbarengan dengan pergerakan
energy, melebihi zat kimia lain; karbohidrat dihasilkan selama fotosintesis
dan CO2 dibebaskan bersama energy selama respirasi. Dalam siklus karbon,
proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler menyediakan suatu
hubungan

antara

lingkungan

atmosfer

dan

lingkungan

terrestrial.

Tumbuhan mendapatkan karbon, dalam bentuk CO 2 dari atmosfer melalui


stomata daunnya dan menggabungkannya ke dalam bahan organic
tersebut kemudian menjadi sumber karbon bagi konsumen. Respirasi dari
semua organism mengembalikan CO2 ke atmosfer.
Meskipun CO2 terdapat diatmosfer dengan konsentrasi yang relative rendah
(sekitar 0,03%), karbon bersiklus ulang dengan laju yang relative cepat,
karena tumbuhan mempunyai kebutuhan yang tinggi akan gas ini. Setiap
tahun, tumbuhan mengeluarkan sekitar sepertujuh dari keseluruhan CO 2
yang terdapat di atmosfer; jumlah ini kira-kira diseimbangkan melalui
respirasi. Sejumlah karbon bisa dipindahkan dari siklus tersebut dalam
waktu yang lebih lama. Hal ini terjadi, misalnya, ketika karbon terakumulasi
didalam kayu dan bahan organic yang tahan lama lainnya. Perombakan
metabolic oleh detritivor akhirnya mendaur ulang karbon ke atmosfer
sebagai CO2, meskipun api dapat mengoksidasi bahan organic seperti itu
menjadi CO2 jauh lebih cepat. Akan tetapi beberapa proses dapat
mengeluarkan karbon dari siklus jangka pendeknya selam jutaan tahun;
dalam beberapa lingkungan, detritus terakumulasi jauh lebih cepat
dibandingkan dengan kecepatan detrivora merombak detritus. Dalam
kondisi tertentu, deposit tersebut membentuk batu bara dan minyak bumi
yang menjadi terkunci sebagai nutrient organic yang tidak tersedia
(Mitchell, 397).

2.5 PIRAMIDA EKOLOGI

Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida


ekologi. Ada tiga jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida
biomassa dan piramida energy (Elton, 1972)(Leksono, 175).
1. Piramida Jumlah
Organism dengan tingkat trofik masing-masing dapat disajikan dalam
piramida jumlah spesies. Pada ekosistem hutan hujan tropis, organism
ditingkat trofik

pertama

(produsen) biasanya

lebih

sedikit daripada

herbivore (konsumen tingkat 1). Pada ekosistem padang rumput organism


ditingkat trofik pertama (produsen) paling melimpah, sedangkan organism
ditingkat trofik kedua, ketiga dan selanjutnya semakin berkurang (Leksono,
175).
2. Piramida Biomassa
Sering kali piramida jumlah yang sederhana kurang membantu
dalam memperagakan aliran energy dalam ekosistem. Penggambaran yang
lebih realistis dapat disajikan dengan piramida biomassa. Biomassa adalah
ukuran berat materi hidup diwaktu tertentu. Untuk mengukur biomassa
pada setiap tingkat trofik maka rata-rata berat organism disetiap tingkat
harus diukur kemudian baru dijumlah dengan organism ditiap tingkat
perkiraan.
Piramida biomassa berfungsi menggambarkan perpaduan massa seluruh
organism dihabitat, biasanya hanya diambil sedikit sampel dan diukur
kemudia total seluruh biomassa dihitung. Dengan pengukuran seperti ini
akan diperoleh informasi yang lebih akurat tentang apa yang terjadi pada
ekosistem. (Leksono, 176)
3. Piramida Energi
Seringkali piramida biomassa tidak selalu member informasi yang
kita butuhkan tentang ekosistem tertentu. Lain dengan piramida energy
yang dibuat berdasarkan observasi yang dilakukan dalam waktu yang lama.
Piramida energy dapat memberikan gambaran paling akurat tentang aliran
energy dalam ekosistem.
Pada piramida energy terjadi penurunan sejumlah energy berturut-turut
yang tersedia ditiap tingkat trofik. Berkurangnya energy yang terjadi
disetiap trofik terjadi karena hal-hal berikut:
a. hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan dimakan oleh
tingkat trofik selanjutnya.
b. Beberapa makanan yang dimakan tidak dapat dicerna dan dikeluarkan
sebagai sampah.

c. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari tubuh


organism, sedangkan sisanya digunakan sebagai sumber energy.

2.6 SUKSESI EKOLOGI


Suksesi ekologi adalah proses perubahan komunitas yang disebabkan
tumbuh dan berkembangnya spesies baru seiring waktu. Proses yang terjadi
berupa urutan-urutan yang lambat, dan pada umumnya perubahan dapat
diramalkan, yakni dalam hal kekayaan dan komposisi spesies yang ada disuatu
tempat. Perubahan-perubahan ini dapat juga mengubah populasi yang
membentuk komunitas. (Leksono, 143).
Para ahli ekologi membedakan dua tipe suksesi, yakni suksesi primer dan
suksesi sekunder (Leksono, 143).
1. Suksesi Primer
Didalam suksesi primer organism mulai menempati wilayah baru
yang belum ada kehidupan sama sekali seperti sebuah pulau baru yang
terbentuk karena letusan gunung berapi. Contohnya didaerah bekas letusan
Gunung Krakatau mula-mula muncul tumbuhan pioneer berupa lumut kerak
serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan
kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada
daerah permukaan lahan sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila
tumbuhan perintis mati akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang
terbentuk karena aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan
lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya
ranah ini biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh subur, kemudian
rumput yang tahan kekeringan akan tumbuh. Bersamaan dengan itu
tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tumbuhan pioneer dengan
menaunginya. Kondisi seperti itu tidak menyebabkan pioneer tumbuh subur
tapi justru sebaliknya. Sementara itu rumput belukar dan akarnya yang
kuat terus mengadakan pelapukan lahan. Bagian tumbuhan yang mati
diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal.
Kemudian semak tumbuh dan menaungi rumput dan belukar hingga
terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian
pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat
itulah ekosistem disebut mencapai keseimbangan atau dikatan komunitas

mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga


tidak banyak mengubah komunitas itu. (Leksono, 143-144).
2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi setelah komunitas yang ada mengalami
gangguan yang besar, contohnya sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur
karena terjadinya kebakaran hutan, banjir, gelombang tsunami, angin
kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran
ladang rumput dengan sengaja namun gangguan tersebut tidak merusak
total organism sehingga substrat lama dan benih-benih tumbuhan lama
masih ada. Komunitas padang rumput dan bunga liar akan tumbuh pertama
kali. Selanjutnya diikuti oleh tumbuhan semak-semak, terakhir pohompohonan baru muncul kembali dan wilayah tersebut akan kembali menjadi
hutan hingga gangguan muncul kembali. (Leksono, 144).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian

dan

kesimpulan sebagai berikut :

pembahasan

diatas

penulid

dapat

menarik

1. Ekologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan


antara organism dan lingkungan.
2. Ruang lingkup ekologi dimulai dari populasi, komunitas, ekosistem, dan
biosfer.
3. Ekosistem adalah suatu kondisi hubungan interaksi (timbale balik) atau
interdepensi (saling ketergantungan) baik didalam lingkungan biotic
(komunitas) maupun antar komunitas dan lingkungan abiotiknya (fisik dan
kimiawi) pada suatu tempat dan waktu tertentu. Secara umum, komponen
ekosistem terbagi atas dua kelompok yakni biotic dan abiotik.
4. Aliran energy adalah transfer energy dari produsen ke konsumen melalui
rantai makanan. Daur materi/siklus biokimia terdiri atas : siklus Nitrogen
(N2), siklus fosfor, dan siklus karbon dan oksigen. Piramida ekologi terbagi
atas piramida jumlah individu, piramida biomassa dan piramida energy.
5. Suksesi yaitu proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung ke
satu arah secara teratur. Dilihat dari perbedaan kondisi habitat dan pada
awal proses suksesi itu terjadi, maka suksesi dibagi menjadi : suksesi
primer dan suksesi sekunder.
3.2

Saran
Kita sebagai makhluk hidup yang berakal, individu berilmu wajib

memelihara keseimbangan ekosistem karena sebagian besar kerusakan


lingkungan berasal dari manusia. Dengan melestarikan ekosistem-ekosistem
di lingkungan sangat berguna untuk masa depan kita. Sebaliknya dari
sekarang anak-anak mulai diajarkan tentang lingkungan agar mereka bisa
menjaga dan mencintai lingkungan sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA

Reece, Campbell. Dkk. 2002. Biologi Edisi kedelapan jilid 3. Jakarta : Erlangga
Mitchell, Campbell. Dkk. 2002. Biologi Edisi kelima jilid 3. Jakarta : Erlangga

Leksono Amin Setyo, M.Si, Ph.D. 2007. Ekologi. Malang : Bayumedia Publishing
Essensials of Biology
http://ekaazzuhraa.wordpress.com/2014/03/05/dasar-dasar ekologi

MAKALAH

DASAR-DASAR EKOLOGI

Dosen Pengampu DR. Nurhasan Syah

Disusun Oleh:
MUHAMMAD AFID, S.Hut
NIM. 15168009

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU LINGKUNGAN


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015