Anda di halaman 1dari 12

Reka Loka

PWK - Itenas | No... | Vol...


[Agustus 2016]

Jurnal Online Institut Teknologi Nasional

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN


KRITIS BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
(SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,M.T.
Fitri Khairani Siregar
Email: khairegar@gmail.com
ABSTRAK

Pemanfaatan sumberdaya lahan secara optimal sesuai daya dukung lingkungan, berpengaruh
terhadap dinamika penggunaan lahan sesuai fungsinya. Dinamika pemanfaatan lahan yang tidak
terkendali dan terkonfirmasi terhadap arahan pemanfaatan yang ditetapkan berdampak
terhadap penurunan tingkat produktivitas dan kerusakan lingkungan yang besar. Tujuan utama
dari penelitian ini untuk merumuskan rekomendasi terhadap penanggulangan dan pemanfaatan
lahan kritis di kawasan budidaya dan kawasan lindung di Kabupaten Bandung Barat serta
membahas kaitannya dengan penataan pola ruang dalam RTRW. Adapun variabel yang
digunakan dalam pencapaian tujuan penelitian ini berupa data spasial dan non-spasial meliputi
kondisi penutupan lahan yang diperoleh dari cita Landsat tahun 2015, kondisi kemiringan lereng,
tingkat bahaya erosi, kondisi pengelolaan/ manajemen lahan dan tingkat produktivitas lahan.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan kriteria penentuan lahan kritis dari SK Dirjen RHL No.
041/Kpts/V/1998 dan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.32/MENHUT-II/2009 menunjukan
bahwa di Kabupaten Bandung Barat terdapat seluas 1.232,21 Ha atau 0,94% lahan yang sangat
kritis, 43.387,07 Ha atau 33,23% lahan kritis, 25.616,47 Ha atau 19,62% lahan agak kritis,
59.264,11 Ha atau 45,39% merupakan lahan potensial kritis dan seluas 1.077,54 Ha atau 0,83%
merupakan lahan dengan kondisi yang tidak kritis. Lahan kritis tersebut merupakan gambaran
bentuk inkonsistensi berupa penggunaan lahan yang tidak terkonfirmasi dalam penataan ruang
RTRW, kelas kemampuan lahan tidak sesuai dengan status kawasan hutan, dan penggunaan
lahan yang tidak sesuai dengan kelas kemampuan lahan.

Kata kunci: lahan kritis, kawasan lindung, kawasan budidaya, pola ruang
ABSTRACT
Utilization of resources land according to the environment support with optimally, influences the
dynamic of the landuse as its regional function. That uncontrolled and the unconfirmed landuse
towards its specified utilization have an impact against declining land productivity and
environmental degradation. The main purpose of this research was to formulate
recommendations and utilization according to a critical land both in conservation and cultivation
areas in West Bandung as well as to discuss its relation forward to the spatial pattern planning
of RTRW. Variables which used in this research contains both spatial and non-spatial data include
High Resolutions Landsat 7 in 2015, the slope conditions, erosion hazard, land management and
productivity. Based on the writers analysis by using the criteria of determination a critical land
from SK Dirjen RHL No. 041/Kpts/V/1998 and the regulation of the Minister of forestry No. P.
32/MENHUT-II/2009 shows that 0,94% land area is very critical, 33,23% in critical conditions,
19,62% rather critical, 45.39% of the lan is in critical with potential and 0,83% isnt in critical
conditions. The critical land area represent the inconsistency of the existing land towards spatial
pattern planning of RTRW and the unsuitable land of the landuse ability.
Keywords: critical land, conservation area, cultivation, spatial pattern planning
Reka Loka - 1

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Keberadaan lahan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya. Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, serta aktivitas pembangunan dalam
berbagai bidang tentu saja akan menyebabkan ikut meningkatnya permintaan akan lahan.
Permintaan akan lahan tersebut terus bertambah, sedangkan lahan yang tersedia jumlahnya
terbatas. Hal inilah yang mendorong terjadinya konversi atau perubahan lahan pertanian ke
nonpertanian. Persoalan tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan kerusakan hutan dan
lahan sehingga mengakibatkan lahan menjadi kritis. Lahan kritis adalah adalah lahan/tanah
yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak/kurang
memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga menimbulkan erosi,
kerusakan- kerusakan kimia, fisik, tata air dan lingkungannya (Soedarjanto dan Syaiful, dalam
Wirosoedarmo R, 2007). Lahan kritis terjadi akibat perubahan penggunaan lahan dari kawasan
lahan pertanian maupun lahan hutan menjadi lahan nonpertanian atau lahan terbangun
sehingga kawasan yang berfungsi sebagai resapan air semakin berkurang yang dapat
menyebabkan degradasi lahan, kekeringan atau kekurangan air bersih pada musim kemarau,
bencana tanah longsor dan bencana banjir pada musim penghujan.
Dari tahun 2006 sampai tahun 2010 jumlah luas lahan kritis di Indonesia mengalami
peningkatan dari 77.806.880,78 Ha pada tahun 2006 dan tahun 2010 bertambah menjadi
82.176.443,64 Ha, sebagian besar berada di luar kawasan hutan (65%) yaitu di lahan milik
rakyat dengan pemanfaatan yang sekedarnya atau bahkan cenderung diterlantarkan (Atmojo
SW, 2008). Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup di wilayah Bandung
Raya (Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat) lahan kritis
yang perlu dihijaukan luasnya di atas 60.000 hektar meliputi kawasan perbukitan dan daerah
aliran sungai (ANTARA, 2010).
Secara umum kondisi morfologi lahan kering Kabupaten Bandung Barat memiliki topografi
curam, curah hujan tinggi, dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi.
Akibat adanya penggunaan dan pengelolaan lahan yang tidak tepat maka keadaan ini
berpotensi tinggi terhadap terjadinya lahan kritis. Jika dibiarkan maka tidak menutup
kemungkinan terjadinya peningkatan terhadap luas lahan kritis dan akan berdampak buruk
pada peruntukan dan pemanfaatan lahan. Berdasarkan data Balai Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai (BPDAS), sebanyak 84.511 Ha dari 130.577 Ha luas keseluruhan termasuk pada
kategori lahan kritis (Distanbunhut Kab. Bandung Barat, 2012).
Untuk itu, lahan perlu diidentifikasi dan dipetakan. Identifikasi dan pemetaan lahan kritis
sangat berguna bagi perencana untuk menentukan daerah prioritas dalam rangka
pemanfaatan dan pengembangan wilayah. Tanpa adanya upaya pemanfaatan, konservasi dan
rehabilitasi pada lahan kritis, area lahan kritis akan banyak merugikan karena rentan bencana
alam dan tidak produktif. Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan arahan
pemanfaatan dan pengendalian dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di masa
mendatang sehingga terwujudya penutupan dan pemanfaatan lahan kritis di Kabupaten
Bandung Barat baik di kawasan budidaya maupun kawasan lindung dan dapat berfungsi
kembali sebagai penyangga kehidupan dalam hal pencegahan banjir, erosi, longsor dan
sebagainya.

Reka Loka - 2

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KRITIS BERBASIS SISTEM


INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

2.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif
kuantitatif merupakan suatu metode yang menguraikan, menjelaskan, menceritakan secara
kuantitatif, serta terdapat perbandingan, karakteristik, dan komposisi. Metode penelitian
kuantitatif merupakan metode yang lebih menekankan pada aspek pengukuran secara
obyektif. Proses pengumpulan data dalam penyusunan laporan ini terdapat 2 cara yaitu secara
primer dan sekunder.
1) Pengumpulan Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan
pengumpulan data secara langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Data dalam teknik ini dapat diperoleh dari hasil observasi lapangan. Perolehan data primer
dalam penelitian ini adalah observasi di lapangan, wawancara dan klasifikasi pada citra.
2) Pengumpulan Data Sekunder
Survei Data Sekunder Survei sekunder merupakan teknik pengumpulan data yang dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu survei instansi dantelaah dokumen
Mengacu pada SK.167v-Set2004 Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan
Perhutanan Sosial Tanggal: 22 September 2004, tahapan analisis dalam menentukan tingkat
kekritisan lahan meliputi dua tahap. Tahap pertama adalah menentukan fungsi kawasan yang
nantinya akan berpengaruh terhadap nilai bobot variabel penentu tingkat kekritisan lahan. Hal
ini disebabkan karena bobot untuk tiap fungsi kawasan berbeda. Tahap kedua adalah
menentukan tingkat kekritisan lahan berdasarkan faktor penentu lahan kritis.
1. Analisis Fungsi Kawasan
Tahap pertama dalam mengklasikafikan lahan kritis di wilayah adalah mengidentifikasi fungsi
kawasan lahan tersebut. Kriteria fungsi kawasan dalam penelitian ini berdasarkan pada SK
Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 dan Nomor: 683/KPTS/UM/8/1981 yang
terdiri dari tiga faktor, yaitu kelerengan lapangan, jenis tanah menurut kepekaan terhadap
erosi, dan intensitas hujan harian rata-rata. Metode analisis yang digunakan dalam penentuan
fungsi kawasan adalah skoring dan overlay.
Tabel 2.1

Nilai penetapan kriteria fungsi kawasan

Fungsi Kawasan
Total Nilai Skor
Kawasan Lindung Hutan
175
Kawasan Lindung diluar Kawasan Hutan Lindung
125-174
Kawasan Budidaya Pertanian dan permukiman
0-124
Sumber:SK Menteri Kehutanan No. 837/UM/11/1980 dan No.683/KPTS/UM/8/1981

2. Analisis Tingkat Kekritisan Lahan


Dalam menentukan tingkat kekritisan suatu wilayah maka perlu dilakukan cara untuk
mengetahui tingkat kekritisan lahan tersebut. Salah satunya adalah melalui analisis yang
dilakukan secara spasial dengan menggunakan indikator terkait seperti kondisi kerapatan
lahan/ vegetasi, kemiringan lereng, tingkat bahaya erosi, kondisi manajamen atau pengelolaan
lahan dan tingkat produktivitas lahan suatu daerah.

a) Kondisi Kerapatan lahan/ Vegetasi

Untuk mendapatkan suatu peta sebaran persentase vegetasi maka digunakan persamaan yang
diperoleh dari hubungan antara nilai indeks vegetasi dari NDVI (Normalized Difference
Vegetation Index) dengan persentase vegetasi. Adapun persamaan yang digunakan adalah:
[NIRRED]

= [NIR+RED]

atau

[BAND 3BAND 4]

= [BAND 3+BAND 4]

Reka Loka - 3

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

b) Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng adalah perbandingan antara beda tinggi (jarak vertikal) suatu lahan dengan
jarak mendatarnya. Besar kemiringan lereng dapat dinyatakan dengan beberapa satuan,
diantaranya adalah dengan % (persen) dan o (derajat). Data spasial kemiringan lereng dapat
disusun dari hasil pengolahan data ketinggian (garis kontur) dengan bersumber pada peta
topografi atau peta rupabumi.

c) Tingkat Bahaya Erosi

Tingkat erosi pada suatu lahan dalam penentuan lahan kritis di bedakan menjadi 4 kelas yaitu:
ringan, sedang, berat dan sangat berat. Analisis Tingkat bahaya erosi (TBE) secara kuantitatif
dapat menggunakan formula yang dirumuskan oleh Wischmeier dan Smith (1978) berupa
rumus Universal Soil Loss Equation (USLE) untuk mengetahui jumlah tanah yang hilang
maksimum yang akan terjadi pada suatu lahan dari wishchmeier dan smith (1978) dengan
persamaan sebagai berikut:
A=RxKxLxSxCxP
Dimana:
A
: Laju Erosi Tanah (ton/ha/tahun)
R
: Indeks Erosivitas
K
: Indeks Erodibilitas
L
: Indeks Panjang Lereng
S
: Indeks Kemiringan Lereng
C
: Indeks Penutupan Lahan/ Vegetasi
P
: Indeks Pengolahan Lahan/ Tindakan Konservasi Lahan

d) Kondisi Pengelolaan (Manajemen) Lahan

Manajemen merupakan salah satu kriteria yang dipergunakan untuk menilai kekritisan lahan
di kawasan hutan lindung, yang dinilai berdasarkan kelengkapan aspek pengelolaan yang
meliputi keberadaan pengamanan dan pengawasan lahan serta dilaksanakan atau tidaknya
kegiatan penyuluhan.

e) Produktivitas Lahan

Berdasarkan SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998, data produktivitas merupakan salah satu
kriteria yang dipergunakan untuk menilai kekritisan lahan di kawasan budidaya, lahan kritis
dinilai berdasarkan ratio terhadap produksi komoditi umum optimal pada pengelolaan
tradisional. Untuk menemukan nilai produktivitas lahan suatu daerah, dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
Pv = Y/LP
Dimana:
Y
: Besarnya produksi dalam setahun
LP
: Luas panen terhadap basis tahunan
Pv
: Produktivitas
Berdasarkan SK.167V-SET2004 Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan
Sosial Tanggal : 22 September 2004, menjelasakan bahwa tingkat kekritisan suatu lahan
ditetapkan berdasarkan jumlah skoring dan pembobotan untuk tiap jenis fungsi kawasan.
Dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) ArcGIS
dapat dilakukan overlay dengan mudah. Proses overlay ini dilakukan secara bertahap dengan
urutan sesuai kriteria penentu tingkat kekritisan lahan.

Reka Loka - 4

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KRITIS BERBASIS SISTEM


INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Berdasarkan analisis overlay terhadap variabel penentu kekritisan lahan maka akan diperoleh
nilai untuk menentukan tingkat kekritisan lahan berdasarkan fungsi kawasannya.
Tabel 2.2

Klasifikasi tingkat kekritisan lahan terhadap fungsi kawasan

Tingkat Kekritisan
Lahan
Sangat Kritis
Kritis
Agak Kritis
Potensial Kritis
Tidak Kritis

Kawasan
Lindung
120 180
181 270
271 360
361 450
451 500

Besarnya Nilai
Kawasan Lindung di luar
Kawasan Hutan Lindung
115 200
201 275
276 350
351 425
426 500

Kawasan Budidaya
Pertanian
110 200
201 275
276 350
351 425
426 500

Sumber: Peraturan Menteri Kehutanan No. P.32/MENHUT-II/2009

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Fungsi Kawasan Kabupaten Bandung Barat


Penentuan jenis fungsi kawasan yang mendominasi Kabupaten Bandung Barat yaitu kawasan
lindung diluar fungsi kawasan hutan seluas 50.331,65 Ha atau 38,65% dari total luas wilayah,
disusul dengan fungsi kawasan lindung hutan seluas 42.664,03 Ha atau 32,67% dari total luas
wilayah dan fungsi kawasan budidaya sebanyak 37.397,57 Ha atau 28,64% dari total luas
wilayah. Pembagian fungsi kawasan Kabupaten Bandung Barat dapat dilihat pada gambar 3.1
berikut:

Gambar 3.1

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta fungsi kawasan Kabupaten Bandung Barat

Reka Loka - 5

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

3.2 Analisis Tingkat Kekritisan Lahan Kabupaten Bandung Barat


a) Kondisi Kerapatan lahan/ Vegetasi Kabupaten Bandung Barat
Berdasarkan interpretasi citra satelit dengan menggunakan kombinasi band 432 didapatkan
hasil bahwa penutupan/ penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat didominasi oleh
hutan, ladang/ tegalan dan areal terbangun. Tipe penutupan lahan lain yang teridentifikasi
adalah sawah, semak belukar, lahan kosong dan tubuh air. Penutupan lahan dapat
digolongkan menjadi 5 kelas yaitu : penutupan yang sangat jarang (sangat buruk), penutupan
jarang (buruk), penutupan yang sedang, penutupan rapat (baik) dan penutupan sangat rapat
(sangat baik). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1

Klasifikasi kerapatan lahan di Kabupaten Bandung Barat


Klasifikasi Kerapatan
Persentase
Luas (Ha)
lahan
(%)
Sangat Buruk
6,427.41
4,92
Buruk
16.144,34
12,36
Sedang
37.960,18
29,07
Baik
49,545.22
37,94
Sangat Baik
20.500,24
15,70
Total
130.577,40
100%
Sumber: Hasil Analisis, 2016

Klasifikasi kerapatan kerapatan lahan berdasarkan fungsi kawasan di Kabupaten Bandung


Barat dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut:

Gambar 3.2

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta indeks kerapatan vegetasi Kabupaten Bandung Barat

Reka Loka - 6

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KRITIS BERBASIS SISTEM


INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

b) Kemiringan Lereng/ Topografi Kabupaten Bandung Barat


Kondisi kemiringan lereng di Kabupaten Bandung Barat bervariasi mulai dari kelerengan 0-3%
bahkan sampai dengan lebih dari 40%. Adanya variasi terhadap kelas kemiringan lahan pada
wilayah ini mengindikasikan dapat terjadi potensi gerakan tanah besar apabila faktor erosi
tinggi dan vegetasi yang rendah pada area tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar 3.3 berikut:
3%
8% 3%

Kemiringan Lahan
38%

14%

34%

Gambar 3.3

0-3%
3-8%
8-15%
15-25%
25-45%
>45%

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Diagram persentase luas Kabupaten Bandung Barat berdasarkan kelas
kemiringan lahan

Gambar 3.4

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta kondisi kemiringan lereng Kabupaten Bandung Barat

c) Tingkat Bahaya Erosi Kabupaten Bandung Barat


Tingkat bahaya erosi (TBE) adalah perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yang akan
terjadi pada suatu lahan. Tingkat bahaya erosi di Kabupaten Bandung Barat ditentukan dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan TBE.
Reka Loka - 7

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

Gambar 3.5

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta tingkat bahaya erosi Kabupaten Bandung Barat

d) Kondisi Pengelolaan Lahan (Manajemen) Kabupaten Bandung Barat


Data manajemen merupakan data atribut maka perlu dispasialkan dengan peta kawasan
hutan. Kemudian diberi skor sesuai dengan kelas manajemen dan dikonversi ke bentuk raster
selanjutnya dilakukan pembobotan. Kondisi pengelolaan lahan atau manajemen suatu lahan
dinilai berdasarkan usaha penerapan teknologi konservasi tanah pada setiap unit lahan,
pengamanan lahan di wilayah tersebut dan penyuluhan (usaha konservasi) yang dilaksanakan.
e) Produktivitas Lahan Kabupaten Bandung Barat
Produktivitas lahan dalam analisis kekritisan lahan disini dikategorikan menjadi 5 (lima) yaitu
kategori sangat tinggi dengan tingkat produktivitas diatas 80% ton/ha/thn produksi,
produktivitas tinggi yaitu lahan yang memiliki tingkat produktivitas antara 60% hingga 80%
ton/ha/thn produksi, produktivitas sedang adalah lahan yang memiliki tingkat produktivitas
antara 40% hingga 60% ton/ha/thn produksi, produktivitas rendah yaitu kondisi lahan yang
memiliki tingkat produktivitas lahan antara 20% hingga 40% ton/ha/thn produksi, dan yang
terakhir adalah produktivitas lahan dengan kategori sangat rendah, yaitu lahan yang memiliki
tingkat produktivitas dibawah 20% ton/ha/thn produksi. Masing-masing tingkat produktivitas
lahan diperoleh dari banyaknya produksi suatu komoditas unggulan (ton) dalam satuan tahun
terhadap luas panen (hektar) dalam satuan suatu lahan tahunan. Nilai persentase tingkat
produktivitas dinilai berdasarkan ratio terhadap jumlah komoditi umum optimal dalam hal ini
adalah komoditi dari sektor tanaman pangan.

Reka Loka - 8

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KRITIS BERBASIS SISTEM


INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Gambar 3.6

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta tingkat produkivitas lahan Kabupaten Bandung Barat

3.3 Lahan Kritis di Kab. Bandung Barat


Tingkat kekritisan lahan dibagi menjadi lima kelas, dimana lima kelas kekritisan lahan tersebut
digolongkan ke dalam dua kelompok utama, yaitu lahan yang tidak kritis dan lahan yang kritis.
Yang masuk ke dalam kelompok lahan yang tidak kritis adalah kelas tidak kritis (TK) dan
potensial kritis (PK), sedangkan kelas agak kritis (AK), kritis (K) dan sangat kritis (SK)
dimasukkan ke dalam kelompok lahan yang dinyatakan kritis. Lahan kritis di Kabupaten
Bandung Barat di klasifikasikan berdasarkan jenis fungsi kawasan, yaitu lahan kritis di kawasan
lindung, lahan kritis di kawasan lindung diluar fungsi kawasan hutan dan lahan kritis di
kawasan budidaya.
Lahan kritis di Kabupaten Bandung Barat di klasifikasikan berdasarkan jenis fungsi kawasan,
yaitu lahan kritis di kawasan lindung, lahan kritis di kawasan lindung diluar fungsi kawasan
hutan dan lahan kritis di kawasan budidaya. Adanya pengklasifikasian tingkat kekritisan lahan
berdasarkan fungsi kawasan tersebut di karena kan variabel yang digunakan untuk melihat
tingkat kekritisan lahan berbeda menurut masing-masing fungsi kawasan.

Reka Loka - 9

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

Gambar 3.7

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta tingkat kekritisan lahan berdasarkan fungsi kawasan

3.4 Sebaran Rencana Pola Tata Ruang Wilayah (RTRW) Terhadap Tingkat
Kekritisan Lahan Kabupaten Bandung Barat
Dalam Undang-undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pengembangan suatu
wilayah telah mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungan sesuai kondisi ekologisi,
sosial dan ekonomi wilayah tersebut. Rencana pola ruang suatu wilayah merupakan rencana
distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kota yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk
fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Bila ditinjau
pemanfaatan lahan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah, pada pasal 13 disebutkan bahwa (1) penggunaan dan pemanfaatan
tanah di kawasan lindung atau kawasan budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah. (2) Penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung
tidak boleh mengganggu fungsi alam, tidak mengubah bentang alam dan ekosistem alami. (3)
Pemanfaatan lahan di kawasan budidaya tidak saling bertentangan, tidak saling mengganggu,
dan memberikan peningkatan nilai tambah terhadap penggunaan tanah. Pada penelitian ini
perlu dijelaskan posisi RTRW Kabupaten Bandung Barat untuk rencana pola tata ruang
Kabupaten Bandung Barat dalam kaitannya dengan tingkat kekritisan lahan di kabupaten
tersebut. Sehingga dapat diberikan arahan dalam pemanfaatan dan pengendalian lahan
dengan mengetahui tingkat kekritisan dan kondisi lahan yang akan dialihfungsikan sesuai
pemanfaatannya dalam rencana pola tata ruang. Sebaran posisi dan luasan setiap kawasan
pada rencana pola tata ruang Kabupaten Bandung Barat terhadap tingkat kekritisan lahan
dapat dilihat pada gambar 3.8 berikut:

Reka Loka - 10

UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN KRITIS BERBASIS SISTEM


INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Gambar 3.8

Sumber: Hasil Analisis, 2016


Peta tingkat kekritisan lahan terhadap rencana pola ruang Kabupaten
Bandung Barat

4.

KESIMPULAN

Dalam penelitian tingkat kekritisan lahan di Kabupaten Bandung Barat, secara menyeluruh
dapat disimpulkan bahwa tingkat kekritisan lahan di Kabupaten Bandung Barat ditentukan
berdasarkan peruntukan fungsi kawasan lindung (lindung hutan dan lindung diluar fungsi
hutan) dan kawasan budidaya yang memiliki lima kelas yaitu tidak kritis, potensial kritis, agak
kritis, kritis dan sangat kritis. Luas lahan kritis di Kabupaten Bandung Barat yaitu seluas
70.235,75 Ha (53,79% dari total luas kabupaten) dengan klasifikasi lahan sangat kritis seluas
1.232,21 Ha atau 0,94%, lahan kritis seluas 43.387,07 Ha atau 33,23% dan lahan dengan
klasifikasi agak kritis seluas 25.616,47 Ha atau 19,62%. Lahan kritis ini di dominasi oleh
Kecamatan Sindangkerta dengan kondisi areal penggunaan lahan berupa hutan taman industri
dan pertanian lahan kering, namun direncanakan sebagai kawasan hutan lindung dan areal
perkebunan. Sementara lahan yang termasuk pada kondisi tidak kritis menyebar seluas
60.341,65 Ha atau 46,21% dari total luas kabupaten dengan klasifikasi lahan potensial kritis
seluas 59.264,11 Ha atau 45,39% dari total luas kabupaten dan lahan yang tidak kritis yaitu
seluas 1.077,54 Ha atau hanya terdapat 0,83%, yang di dominasi oleh kondisi penggunaan
lahan berupa sawah, perkebunan, pertanian lahan kering dan permukiman. Sehingga alokasi
pemanfaatan pola ruang pada wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman
pedesaan, perkebunan dan industri akan sesuai dengan peruntukkan dan kapasitasnya, sebab
kekritisan lahan disebabkan kondisi lahan yang terjadi karena tidak sesuainya kemampuan
lahan dengan penggunaan lahan, sehingga mengakibatkan kerusakan lahan secara fisik, kimia,
maupun biologis.
Reka Loka - 11

Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MT.


Fitri Khairani Siregar

5.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1999. Panduan Kehutanan Indonesia. Departemen
Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia. Jakarta
Departemen Kehutanan, 2003. Panduan Kehutanan Indonesia. Departemen
Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia. Jakarta
FAO. 1993. Guidelines for Land-Use Planning. Rome: FAO Soil Resources, Management and
Conservation Service.
Buhtari. 1997. Kajian Geomorfologi Untuk Evaluasi Lahan Kritis di Kecamatan Suruh Kabupaten
Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.
Firman Hadi, dkk. 2005. Analisis Spasial Lahan Kritis di Kota Bandung Utara Menggunakan
Open Source Grass, Dalam pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV Pemanfaatan
Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa, Surabaya
Kabupaten Bandung Barat Dalam Angka 2014-2015. BPS Kabupaten Bandung Barat
Kementrian Negara Lingkungan Hidup. 2009. Permen LH No.17 Tahun 2009
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung. Jakarta
Kurnia, Undang. 2002. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Sumatera Selatan: Thesis.
Peraturan Mentri Kehutanan No. P.32/MENHUT-II/2009. Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana
Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS). Jakarta.
Petunjuk Teknis Penyusunan Data Spasial Lahan Kritis. Dalam Lampiran Peraturan Direktur Jenderal
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan sosial Nomor: SK.167/v-set/2004 Tanggal: 22 september
2004.
Suharjo. 2003. "Rehabilitasi Lahan Kritis Berbasis Masyarakat Daerah Kecamatan Jenar Kabupaten
Sragen."
Surat Keputusan Menteri Pertanian No.837/KPTS/UM/11/1981 Tentang Kriteria Dan Tata Cara
Penetapan Hutan Lindung. Jakarta.
Soebiato, Poerwoko. 2014. "Gerakan Rehabilitasi utan dan Lahan; Mau Melangkah Kemana?" Pg: 3-4.
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Jakarta.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan

Reka Loka - 12